Jurnal Agro
Not a member yet
    217 research outputs found

    Seleksi kacang tanah (Arachis hypogaea L.) lokal Bangka toleran cekaman salinitas

    Get PDF
    Seleksi cekaman salinitas kacang tanah dilakukan untuk mendapatkan tetua yang toleran terhadap salinitas dan memperbaiki sifat kacang tanah dalam kegiatan pemuliaan tanaman. Informasi genotip unggul kacang tanah toleran terhadap salinitas sangat diperlukan sebagai dasar pemilihan genotip tetua yang adaptif pada lahan salin. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh kacang tanah yang memiliki sifat toleran cekaman salinitas dan menentukan konsentrasi air laut yang dapat ditoleransi oleh tanaman. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan dan Penelitian, Jurusan Agroteknologi, Fakultas Pertanian Perikanan dan Biologi, Universitas Bangka Belitung, pada bulan Februari–April 2018. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola split plot dengan 2 ulangan. Petak utama adalah tingkat salinitas yaitu non-salin (kontrol), salinitas rendah, dan salinitas sedang. Anak petak adalah 5 genotip kacang tanah yaitu aksesi lokal (Belimbing dan Arung dalam) dan varietas nasional (Tuban, Kancil, dan Hypoma). Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas Hypoma memiliki karakter jumlah daun dan diameter batang yang paling baik, namun tidak toleran terhadap cekaman salinitas sedang. Aksesi Belimbing merupakan genotip toleran salinitas rendah berdasarkan nilai indeks toleransi cekaman salinitas. Selection of groundnut tolerant to salinity stress is carried out to obtain parent genotypes tolerant to salinity and improve the characteristics of groundnut in plant breeding program. The information of superior groundnut genotypes tolerant to salinity is necessary as the basic of genotypes selection adaptive in the saline area. The research aimed to obtain the groundnut tolerant to salinity stress and determine the concentration of seawater that can be tolerated by groundnut. This research was conducted at The Experiment and Research Field, Faculty of Agriculture Fisheries and Biology, University of Bangka Belitung, from February to April 2018. The research used Complete Randomized Design (CRD) split plot with two replications. Main plot was concentrations of seawater; non-saline (control), low salinity, and moderate salinity. The subplot was groundnut genotypes of local accessions (Belimbing and Arung Dalam) and national varieties (Tuban, Kancil, and Hypoma). The results of this research indicated that Hypoma has the best result for plant height and diameter of stem, but intolerant to moderate salinity stress. Belimbing was the genotype with low salinity tolerance based on score index of tolerant salinity stress

    Toksisitas ekstrak biji Barringtonia asiatica (Lecythidaceae) terhadap mencit putih (Mus musculus Strain DDY)

    Get PDF
    Salah satu tanaman yang berpotensi sebagai pestisida nabati adalah Bitung (Baringtonia asiatica) yang teruji mengandung terpenoid dan saponin. Penelitian ini bertujuan untuk  mengetahui toksisitas ekstrak kasar (B. asiatica) terhadap mencit putih (Mus musculus) dan potensinya sebagai rodentisida nabati. Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan rancangan percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Pengujian toksisitas B. asiatica terhadap mencit dilakukan secara oral dengan menghitung LD50 menggunakan metode analisis probit. Pengamatan perilaku mencit yang keracunan ekstrak B.asiatica dilakukan dengan menggunakan metode Wagner & Wolff.  Pengamatan perubahan fisiologis mencit yang teracuni ekstrak metanol biji B. asiatica dilakukan dengan menggunakan kandang metabolisme (Nalgane Metabolic Cages). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak biji B. asiatica bersifat toksik terhadap mencit putih (M. musculus) dengan nilai LD50 = 2022 ppm atau 0,2022% dan digolongkan ke dalam skala toksistas 3 yaitu senyawa dengan toksisitas sedang. Ekstrak B. asiatica mempengaruhi sistem syaraf pusat dan dapat mengakibatkan perubahan pada organ detoksifikasi. Ekstrak biji B. asiatica dapat meningkatkan produksi urin, menurunkan laju konsumsi dan produksi feses, dan menurunkan pertumbuhan bobot mencit. Dengan demikian ekstrak biji B. asiatica berpotensi untuk dikembangkan sebagai bahan aktif rodentisida. One of the plants that potentially as botanical pesticides is the Bitung (Baringtonia asiatica) which is tested contained of terpenoid and saponin. This research aimed was to determine the toxicity of crude extracts (B. asiatica) to white mice (Mus musculus) and their potential as botanical rodenticides. The research used an experimental method with complete randomized design. B. asiatica toxicity testing in mice was carried out orally by calculating LD50 using the probit analysis method. Observation of the behavior of B.asiatica extract poisoning mice was carried out using the Wagner & Wolff method. The physiological experience of mice which were poisoned by the methanol extract of B. asiatica seeds was carried out using a cage (Nalgane Metabolic Cages). The results showed that B. asiatica seed extract was toxic to white mice (M. musculus) with LD50 = 2022 ppm or 0.2022% and classified into toxicity scale 3, namely compounds with moderate toxicity. B. asiatica extract affects the central nervous system and in turn detoxifying organs. B. asiatica seed extract can increase urin production, reduce the rate of consumption and facial production, and reduce the weight level of mice. Therefore that B. asiatica seed extract potentially to be developed as an active ingredients of rodenticides

    Indikasi perubahan iklim dan dampaknya terhadap produksi padi di Indonesia (Studi kasus : Sumatera Selatan dan Malang Raya)

    Get PDF
    Perubahan iklim telah terjadi di wilayah Indonesia. Perubahan iklim memengaruhi pertanian melalui dampaknya terhadap pertumbuhan, perkembangan, dan hasil tanaman. Penelitian indikasi perubahan iklim dan dampaknya terhadap produksi tanaman padi di Indonesia (Sumatera Selatan dan Malang Raya) pada tahun 2011-2013 telah dilakukan.  Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji adanya perubahan iklim dan bagaimana dampaknya terhadap produksi padi di Indonesia. Kajian ini menggunakan data dari temperatur, curah hujan, agroklimat, dan produksi tanaman padi serta data sosial ekonomi. Metodologi penelitian ini adalah deskriptif eksplanatori menggunakan konsep asesmen risiko dimana risiko (risk) merupakan fungsi dari bahaya (hazard) dan kerentanan (vulnerability). Hasil kajian menunjukkan bahwa di Indonesia telah terjadi perubahan iklim dengan indikasi peningkatan suhu, perubahan pola curah hujan, perubahan hitergraf, dan perubahan klasifikasi Oldeman.  Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pertanian sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim dengan indikasi level bahaya yang tinggi pada penurunan produksi padi sebagai akibat peningkatan suhu dan perubahan pola curah hujan.  Beberapa daerah di Sumatera Selatan maupun Malang Raya mempunyai risiko tinggi pada penurunan produksi tanaman padi.  Umumnya Indonesia mempunyai tingkat risiko tinggi pada penurunan produksi padi dengan rerata 1,37 % per tahun dan berpotensi menyebabkan penurunan produksi pangan nasional. Climate change has been occurred in Indonesia. Climate change affects agriculture through its impact on growth, development, and crop yield. Research on climate change indication and its impact on rice production in Indonesia (South Sumatra and Malang Raya) in 2011-2013 has been done. The study aimed to assess climate change and how it impacts rice production in Indonesia. This study used data of temperature, rainfall, agroclimate, and rice production and socioeconomic. The methodology of this research was descriptive explanatory using risk assessment concept where risk was a function of hazard and vulnerability. The results of the study indicated that in Indonesia has been ocurred climate change with indications of temperature increase, changes in rainfall patterns, changes in hitergraph, and changes in Oldeman classification. The results also show that agriculture is highly vulnerable to the impacts of climate change with an indication of high hazard levels in the decline of rice production due to rising temperatures and changes in rainfall patterns. Several areas in South Sumatra and Malang Raya have a high risk of decreasing the rice production. Generally Indonesia has a high risk level on the decrease of rice production with an average of 1.37% per year and potentially causes the decline of national food production

    Front Matter

    No full text

    Pengujian berbagai eksplan kentang (Solanum tuberosum L.) dengan penggunaan konsentrasi BAP dan NAA yang berbeda

    Get PDF
    Rendahnya produksi kentang di Indonesia disebabkan oleh ketersediaan benih kentang bermutu hasil dari metode konvensional yang kurang memadai. Metode kultur jaringan mampu menghasilkan bibit bermutu dan bebas virus, dalam jumlah banyak serta waktu yang singkat. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi 6-benzylaminopurine (BAP) dan Naphthalene Acetic Acid (NAA) terbaik pada berbagai eksplan untuk pertumbuhan tunas meriklon kentang (Solanum tuberosum L.) Kultivar Atlantik secara in vitro. Percobaan dilaksanakan pada November 2016 sampai Februari 2017 di Laboratorium Kultur Jaringan Teknologi Benih Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran. Rancangan Acak Lengkap (RAL) digunakan sebagai rancangan percobaan yang terdiri dari dua unit percobaan terpisah yaitu unit eksplan meristem interkalar dan meristem apikal, masing-masing delapan perlakuan dan empat ulangan. Media Murashige and Skoog (MS) digunakan sebagai media dasar dengan penambahan BAP (0,0 mg L-1; 1 mg L-1; 1,5 mg L-1; 2 mg L-1) dan NAA (0,0 mg L-1; 0,5 mg L-1). Hasil menunjukkan konsentrasi BAP 1 mg L-1 merupakan perlakuan yang paling baik dalam menghasilkan jumlah tunas, cabang, daun dan buku pada eksplan meristem interkalar. Pada eksplan meristem apikal, penambahan BAP dan NAA belum mampu meningkatkan pertumbuhan eksplan. Meristem interkalar yang diberi auksin dan sitokinin berpotensi menjadi bahan alternatif eksplan meriklon kentang selain meristem apikal. The production of potato in Indonesia is low due to the limited number of high quality potato seeds produced from the conventional methods. The tissue culture methods can be used to produce high quality and virus-free seeds in more reliable number in a short time. Randomized Completely Design (RCD) was used as the experimental design consisted of two separate trial units namely intercalary meristem and apical meristem explants units with eight treatments and four replications of each. Murashige and Skoog (MS) was used as the base media added with BAP i.e. 0.0 mg L-1; 1 mg L-1; 1.5 mg L-1; 2 mg L-1 and NAA 0.0 mg L-1 and 0.5 mg L-1. Results showed that concentration of BAP 1 mg L-1 generated the best results on the number of shoots, branches, leaves and nodes on meristem intercalary explant. Meanwhile on apical meristem explant, the addition of BAP and NAA had not yet improved the explant growth. Intercalary meristem added with auxin and cytokinin is potential as alternative of mericlone explants material of potato besides the apical meristem

    Perubahan morfologis dan anatomis kelapa sawit pada rezim air dan salinitas berbeda

    Get PDF
    Salinitas tinggi dan genangan dapat terjadi pada tempat dan waktu yang sama; meskipun demikian pemahaman terhadap pengaruh kedua kondisi tersebut terhadap pertumbuhan, respon morfologis, dan anatomis kelapa sawit masih sedikit. Telah dilakukan penelitian dengan mengkombinasikan 2 aras salinitas (non salin dan salin) dan tiga taraf genangan (tanpa genangan, interval genangan 2 minggu, dan interval genangan 4 minggu). Penelitian dilakukan dalam pot selama 4 bulan dengan bahan tanam kelapa sawit berumur 4 bulan. Parameter pertumbuhan dianalisis dengan analisis varian dan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan pada jenjang nyata 5%. Pengamatan visual secara langsung dan pembuatan preparat melintang akar dilakukan untuk mengetahui perubahan morfologi dan anatomi tanaman. Hasil analisis menunjukkan salinitas tinggi dan genangan konsisten menurunkan parameter pertumbuhan kelapa sawit. Salinitas tinggi dan genangan tidak secara konsisten mengubah rasio luas masing-masing jaringan penyusun akar primer, sekunder, dan tersier. Kelapa sawit membentuk pneumatophore dan saluran aerenkima pada kondisi genangan, baik non salin maupun salin. Mekanisme adaptasi terhadap genangan tersebut dapat menurunkan pengaruh negatif cekaman salinitas tinggi. High salinity and waterlogging can occur at the same place and time; however, the effects of these two conditions on growth, morphological, and anatomical responses of oil palm was not fully understood. A research had been done by combining two levels of salinity (non saline and saline) and three levels of waterlogging (without waterlogging, two-week waterlogging intervals, and four-week waterlogging intervals). The study was conducted in pots for 4 months used 4 months old oil palm planting material. The growth parameters were analyzed by analysis variance continued by Duncan multiple-range test at 5% level of convidence. The morphological and anatomical changes of plants were observed trought direct observation and root cross section. The results showed that high salinity and waterlogging consistently decreased the oil palm growth parameter. High salinity and waterlogging did not consistently change the ratio of the area of each primary, secondary, and tertiary root tissue. Palm oil formed pneumatophores and aerenchyma under both non saline and saline waterlogging. Adaptation mechanisms to these waterlogging could reduce the negative effects of high salinity stress

    Pemanfaatan Bacillus subtilis dan Pseudomonas fluorescens dalam pengendalian hayati Ralstonia solanacearum penyebab penyakit layu bakteri pada tomat

    Get PDF
    Salah satu penyakit penting pada produksi tomat di Indonesia adalah layu bakteri yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum. Alternatif untuk mengendalikan penyakit layu bakteri adalah dengan menggunakan Bacillus subtilis dan Pseudomonas fluorescens. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kemampuan B. subtilis dan P. fluorescens dalam mengendalikan penyakit layu bakteri yang disebabkan R. solanacearum serta mekanisme penghambatannya. Penelitian ini terdiri dari 5 tahap, yaitu perbanyakan inokulum R. solanacearum, uji virulensi dan uji hipersensitif  R. solanacearum, uji antagonis B. subtilis dan P. fluorescens terhadap R. solanacearum pada media agar, uji jenis antibiosis, penelitian di rumah kaca, dan analisis total fenol. Hasil penelitian uji antagonis menunjukkan bahwa semua isolat B. subtilis dan P. fluorescens memiliki potensi menghambat R. solanacearum dengan tipe antibiosis bakteriostatik. Hasil analisis kadar fenol menunjukkan bahwa terjadi peningkatan total fenol secara signifikan pada tanaman tomat yang diaplikasikan isolat B. subtilis UB-ABS6, P. fluorescens UB-PF5 dan P. fluorescens UB-PF6. Penelitian di rumah kaca menunjukkan bahwa semua tanaman tomat yang diaplikasikan agens hayati mengalami penundaan masa inkubasi dibandingkan dengan kontrol. Isolat B. subtilis UB-ABS2, B. subtilis UB-ABS6, P. fluorescens UB-PF5 dan P. fluorescens UB-PF6 secara signifikan menekan kejadian penyakit layu bakteri berturut-turut 50%, 30%, 60%, dan 60%. B. subtilis dan P. fluorescens dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan layu bakteri pada tomat yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum. One of important disease that infects tomato production in Indonesia is bacterial wilt disease caused by Ralstonia solanacearum. Alternative on controlling bacterial wilt is using Bacillus subtilis and Pseudomonas fluorescens. Goal of the research was to find out ability of B. subtilis and P. fluorescens to control R. Solanacearum and mechanism of the inhibition. This research divided into 5 stages, i.e. propagation of R. solanacearum, virulence and hypersensitive tests of R. Solanacearum, antagonist test of B. subtilis and P. fluorescens against R. solanacearum on agar medium, antibiosis type test, research in greenhouse, and total phenol analysis. The result showed that all isolates of B. subtilis and P. fluorescens have potential to inhibite R. solanacearum by bacteriostatic antibiosis type. The total phenol level showed significant increase of phenol on tomato along with the application of isolates B. subtilis UB-ABS6, P. fluorescens UB-PF5 and P. fluorescens UB-PF6. Research in the greenhouse showed that all tomatoes, which had been given bioagent, did delay on the incubation than the control. Isolates of B. subtilis UB-ABS2, B. subtilis UB-ABS6, P. fluorescens UB-PF5, and P. fluorescens UB-PF6 had significantly inhibited the bacterial wilt disease 50%, 30%, 60%, and 60%, respectively. Therefore, B. subtilis and P. fluorescens can be used to control bacterial wilt diseases on tomato caused by Ralstonia solanacearum

    Evaluasi variasi nilai electrical conductivity terhadap pertumbuhan tanaman selada (Lactuca sativa L.) pada sistem hidroponik NFT

    Get PDF
    Tanaman selada di Indonesia umumnya dikonsumsi dalam bentuk segar. Evaluasi pengaturan nilai electrical conductivity (EC) sesuai umur tanaman selada diperlukan sebagai upaya menjaga kualitas produk (berat segar, tampilan visual) dan meningkatkan efisiensi penggunaan nutrisi. Penelitian ini dilakasanakan pada September-Oktober 2017 bertempat di Kecamatan Banjaran. Percobaan yang dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap terdiri dari 4 taraf dan diulang 6 kali. Perlakuan yang diberikan merupakan kombinasi nilai  EC fase vegetatif awal (VI) dan fase vegetatif akhir (VII)  perlakuan A=(VI = 1,5; VII = 2,0); B=(VI = 1,6; VII = 2,2);C=(VI = 1,7; VII = 2,4);D=(VI = 1,8; VII = 2,6) mS cm-1. Aplikasi nilai  EC (VI = 1,7; VII = 2,4) mS cm-1 memberikan pertumbuhan tertinggi (tinggi tanaman, luas daun, bobot segar tanaman). Berdasarkan hasil berat segar tanaman pengaturan nilai EC dapat meningkatkan efisiensi penggunaan nutrisi hidroponik. Lettuce is commonly consuming as a fresh vegetable in Indonesia. The evaluation of electrical conductivity adjustment by lettuce plant age is an effort to achieve quality product (fresh weight, visual appearance) and improve nutrient efficiency. This research conducted in September-October 2017 at Banjaran District. This experiment used a completely randomized design with 4 level treatments and replicated six times. Application of combination EC value phase vegetative I and vegetative II, respectively: A=(VI = 1.5; VII = 2.0); B=(VI = 1.6; VII = 2.2);C=(VI = 1.7; VII = 2.4);D=(VI = 1.8; VII = 2.6) mS cm-1. This research showed that application nutrient with EC value (VI = 1.7; VII = 2.4) mS cm-1 affect plant growth higher (plant height, leaf area, fresh weight). Based on the results of the plant’s fresh weight parameter EC value improved the efficiency of using hydroponic nutrient

    Aplikasi pupuk organik limbah rumah potong hewan untuk meningkatkan kesuburan tanah dan produktivitas padi

    Get PDF
    Limbah Rumah Potong Hewan (RPH) berpotensi digunakan sebagai pupuk organik. Teknologi yang dapat direkomendasikan untuk pemanfaatan limbah Rumah Potong Hewan adalah pengomposan. Penelitian bertujuan untuk mengkaji pengaruh pupuk organik limbah RPH terhadap kesuburan tanah dan produktivitas padi. Penelitian dilaksanakan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi Tasikmalaya dari Mei sampai September 2017.  Percobaan menggunakan Rancangan acak kelompok 10 taraf perlakuan diulang 3 kali. Perlakuan kombinasi dosis N,P, K dan pupuk organik (PO), yaitu: A= Dosis N,P,K; B= dosis N,P,K + 2,5 t ha-1 PO; C=Dosis N,P,K + 5 t ha-1 PO; D= Dosis N,P,K + 7,5 t ha-1 PO; E= ¾ dosis N,P,K   + 2,5 t ha-1 PO; F= ¾ dosis N,P,K + 5,0 t ha-1 PO; G= ¾ dosis N,P,K + 7,5 t ha-1 PO; H= ½ dosis N,P,K + 2,5 t ha-1 PO; I= ½ dosis N,P,K + 5,0 t ha-1 PO;  J= ½ dosis N,P,K + 7,5 t ha-1 PO. Dosis rekomendasi N, P dan K:  urea 300  kg ha-1, SP 36 150  kg ha-1, dan KCl 100 kg ha-1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi pupuk organik 2,5 t ha-1 dan ¾ dosis N, P dan K menghasilkan gabah lebih tinggi dan meningkatkan kesuburan tanah. Slaughterhouse waste is potential to be used as organic fertilizer. The technology recommended for the usage of slaughterhouse waste is composting. This research was aimed to study effect of organic fertilizer slaughterhouse waste on soil fertility and rice productivity. The research was conducted in the experiment site of Agricultural Faculty, Universitas Siliwangi Tasikmalaya from May to September 2017. Randomized block design was used with ten level treatments and replicated three times. The treatment was combination dosage N,P, K and organic fertilizer (OF), namely : A= (N,P,K recommendation dose), B= (N,P,K dose + 2.5 t ha-1 OF), C= (N,P,K dose + 5 t ha-1 OF), D= (N,P,K dose + 7.5 t ha-1 OF), E= (3/4 dose of N,P,K + 2.5 t ha-1 OF), F= (3/4 dose of N,P,K + 5 t ha-1 OF), G= (3/4 dose of N,P,K + 7.5 t ha-1 OF), H=(1/2 dose of N,P,K + 2.5 t ha-1 OF), I= (1/2 dose of N,P,K + 5 t ha-1 OF), J= ( ½ dose of N,P,K + 7.5 t ha-1 OF). The recommendation dose of N, P and K, respectively: urea 300 kg ha-1, SP 36 150 kg ha-1, and KCl 100 kg ha-1. The results showed application organic fertilizer 2,5 t ha-1 dan ¾ dose of N, P, K fertilizer increased yields grain higher and improve soil fertility

    Keragaman genetik dan heritabilitas karakter komponen hasil dan hasil ciplukan (Physalis sp.)

    Get PDF
    Ciplukan (Physalis sp.) merupakan salah satu tumbuhan yang potensial untuk dikembangkan sebagai sumber biofarmaka dan buah di Indonesia. Peningkatan produksi ini dapat dilakukan melalui penyediaan varietas-varietas unggul ciplukan dengan meningkatkan kapasitas genetik melalui program pemuliaan tanaman. Pemuliaan tanaman akan berhasil jika terdapat keragaman genetik yang luas dan heritabilitas tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari keragaman genetik dan heritabilitas pada karakter komponen hasil dan hasil ciplukan. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok dengan 34 aksesi ciplukan sebagai perlakuan diulang tiga kali. Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Areng-Areng, Kecamatan Junrejo, Kota Batu pada bulan Mei - September 2017. Karakter pada tanaman ciplukan ada yang mempunyai keragaman luas dan ada yang mempunyai keragaman sempit. Keragaman yang luas terdapat pada tinggi batang, jumlah bunga per tanaman, bobot per buah tanpa kelopak, bobot per buah dengan kelopak, jumlah buah per tanaman, jumlah buah segar per tanaman, bobot buah per tanaman dan bobot buah segar per tanaman. Keragaman yang sempit terdapat pada karakter diameter batang, jumlah cabang tersier, jumlah bunga per cabang tersier, panjang tangkai buah, panjang kelopak, diameter kelopak, panjang buah, diameter buah, dan kemanisan buah. Nilai heritabilitas pada semua karakter termasuk kriteria tinggi. Hal ini menunjukkan pengaruh genetik lebih besar dibandingkan dengan faktor fenotip pada penampilan karakter tanaman ciplukan. Ciplukan (Physalis sp.) is one of the potential plant to be developed as a source of medical plant and fruit in Indonesia. Increase production of this plant can be done through the provision of improved varieties of ciplukan by increasing the genetic capacity through plant breeding programs. Plant breeding will be successful if there is high genetic variability and heritability. This study aimed to study genetic variability and heritability on the character of yield component and yield in Physalis. The experiment used a randomized block design with 34 accessions of ciplukan as treatment repeated three times. The research was conducted in Areng-Areng sub-district, Junrejo District, Batu City from May until September 2017. Characters in ciplukan plants have wide and narrow variability. Characters that have a wide variability are stem height, number of flower per plant, number of fruits per plant, number of fruits per plant, weight per fruit without husks, weight per fruit with husk, weight of fruit per plant, and weight of fresh fruit per plant. Characters that have narrow variability are stem diameter, number of tertiary branching, number of flower per tertiary branching, length of fruit stalk, husk length, husk diameter, fruit length, fruit diameter, and sweetness. All characters have high heritability. This shows a greater genetic influence compared to phenotypic factors on the appearance of ciplukan characters. Physalis, genetic variablity, heritabilityKey words :Â

    199

    full texts

    217

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Agro
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇