e-Jurnal Rekayasa dan Teknologi Budidaya Perairan
Not a member yet
194 research outputs found
Sort by
KANDUNGAN PROTEIN TOTAL (CRUDE PROTEIN) Brachionus plicatilis DENGAN PEMBERIAN PAKAN Nannochloropsis sp. PADA KONDISI STRESS LINGKUNGAN MIKRO (MICRO ENVIRONMENTAL STRESS)
Brachionus plicatilis merupakan zooplankton yang mudah dikultur secara massal dengan kandungan protein yang cukup tinggi dan digunakan sebagai pakan alami. Salah satu metode untuk optimalisasi kandungan nutrisi pakan alami dilakukan dengan stres lingkungan mikro atau MES (micro environmental stress). Penelitian bertujuan untuk mengetahui kepadatan dan kandungan protein total (crude protein) B. plicatilis setelah diberi pakan berupa Nannochloropsis sp. dengan perlakuan MES. Penelitian menggunakan 4 perlakuan yaitu perbedaan salinitas dan perbedaan persentase nitrogen berdasarkan dosis baku. Perlakuan tersebut adalah A (kultur B. plicatilis dengan pakan Nannochloropsis sp. pada salinitas 28-33 ppt dan nitrogen 100%), B (kultur B. plicatilis dengan pakan Nannochloropsis sp. pada salinitas 28-33 ppt dan nitrogen 50%), C (kultur B. plicatilis dengan pakan Nannochloropsis sp.pada salinitas 38-40 ppt dan nitrogen 100%)dan D (kultur B. plicatilis dengan pakan Nannochloropsis sp.pada salinitas 38-40 ppt dan nitrogen 50%) dan hasil dianalisis dengan Chi- square.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa MES dapat meningkatkan kepadatan B. plicatilis tetapi tidak berpengaruh terhadap kandungan protein total B. plicatilis. Kepadatan dan kandungan protein total tertinggi terletak pada kultur B. plicatilis dengan pakan Nannochloropsis sp.pada salinitas 38-40 ppt dan nitrogen 100%. Hubungan antara kepadatan dan kandungan protein total B. plicatilis adalah linier positif yang memungkinkan peningkatan produksi B. plicatilis dengan perlakuan salinitas dan dosis pupuk yang optimal
IMUNOGENISITAS HEAT KILLED VAKSIN INAKTIF Aeromonas salmonicida PADA IKAN MAS (Cyprinus carpio)
Aeromonas salmonicida merupakan bakteri penyebab penyakit furunculosis dan carp erytrodermatitis. Saat ini sudah dikembangkan vaksin inaktif A. salmonicida dengan formalin yang memiliki imunogenisitas yang cukup tinggi. Vaksin inaktif dengan metode lain perlu dilakukan, salah satunya inaktivasi dengan pemanasan (heat killed). Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui imunogenisitas heat killed vaksin A. salmonicida pada ikan mas (Cyprinus carpio). Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Oktober sampai Desember 2012, di Laboratorium Budidaya Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. Penelitian ini dilakukan dengan membandingkan antara pemberian vaksin dan tanpa pemberian vaksin. Bakteri A. salmonicida diinaktifasi dengan pemanasan pada suhu 100ºC selama 1 jam. Uji viabilitas dilakukan pada media GSP (Glutamat Starch Pseudomonas) untuk memastikan bakteri sudah inaktif. Konsentrasi vaksin diukur dengan spektofotometer ( =625 nm) dan dibandingkan dengan standar Mc Farland. Vaksinasi dilakukan dua tahap secara injeksi intraperitoneal, vaksinasi I dilakukan dengan konsentrasi 107 sel/ikan dengan volume 0,1 ml/ikan. Vaksinasi II dilakukan 8 hari setelahnya dengan konsentrasi yang sama. Pengambilan darah untuk pengamatan hematologi dilakukan sebelum vaksin, 7 hari setelah vaksinasi I, 7 hari setelah vaksinasi II. Ikan yang divaksinasi menunjukan adanya peningkatan imunogenisitas yang ditandai dengan peningkatan nilai titer antibodi, total leukosit, dan korelasi negatif antara total leukosit dengan hematokrit
Peningkatan Imunogenisitas Vaksin Inaktif Aeromonas salmonicida Dengan Penambahan Adjuvant Pada Ikan Mas (Cyprinus carpio)
Bakteri Aeromonas salmonicida dapat menyebabkan penyakit carp erytrodermatitis pada ikan mas (Cyprinus carpio). Salah satu cara untuk mencegah penyakit ini adalah dengan vaksinasi. Adjuvant diketahui dapat meningkatkan imunogenisitas vaksin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat imunogenesitas vaksin inaktif A. salmonicida dengan penambahan beberapa jenis adjuvant yang berbeda. Vaksin diinaktifasi dengan formalin 1% dan diinkubasikan selama 24 jam pada suhu ruang. Penelitian ini terdiri dari 5 perlakuan yaitu tanpa vaksinasi, vaksinasi tanpa adjuvant , dan vaksinasi dengan penambahan 3 jenis adjuvant yang berbeda (6 ppm Aluminum hidroksida (Al(OH)3), 6 ppm Alumunium Potasium Sulfat (KAl(SO4)2), dan Freud’s Incomplete adjuvant (FIA) (1:1 v/v)). Vaksin diujikan pada 10 ekor ikan mas/perlakuan (berat ±30 gr) dengan cara suntik melalui intra peritoneal (107 sel/ikan). Booster dilakukan dengan metode dan dosis yang sama dengan vaksinasi pertama pada 7 hari setelah vaksinasi (hsv). Pengamatan titer antibodi setiap perlakuan diukur dengan metode mikroaglutinasi pada saat sebelum vaksinasi, 7 (hsv), 14 (hsv) (7 hari setelah booster), dan 30 (hsv). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan adjuvant mampu meningkatkan imunogenisitas vaksin inaktif A. salmonicida yang ditunjukkan dengan nilai rata-rata titer antibodi yaitu 25 untuk FIA dan KAl(SO4)2 , 24 untuk Al(OH)3 dan vaksin tanpa adjuvant, sedangkan hasil titer antibodi terendah pada perlakuan tanpa pemberian vaksin maupun adjuvant sebesar 2
Keragaman Karakter Morfologi Antara Trichodina nobilis dan Trichodina reticulata pada Ikan Komet (Carrasius auratus)
Infeksi parasit dapat menyebabkan kerugian pada usaha budidaya dan konsumen penggemar ikan hias. Kota Bandar Lampung merupakan salah satu pusat penjualan ikan hias air tawar yang potensial secara ekonomi. Penelitian dilakukan untuk mengidentifikasi spesies parasit Trichodina dari ikan komet (Carassius auratus) yang berasal dari 5 toko ikan hias yang berada di Kota Bandar Lampung. Penelitian ini menggunakan sampel ikan komet sebanyak 250 ekor. Identifikasi spesies dilakukan dengan mempelajari perbedaan karakter morfologi dari setiap Trichodina yang ditemukan pada ikan komet. Hasil penelitian menunjukkan terdapat dua spesies yang teridentifikasi sebagai Trichodina nobilis dan Trichodina reticulata. Keragaman karakter morfologi yang membedakan kedua spesies Trichodina adalah variasi bentuk, jumlah dan ukuran beberapa parameter tubuh. Teridentifikasinya dua spesies Trichodina yang berbeda menunjukkan potensi penyebaran spesies parasit yang tinggi bagi ikan hias air tawar yang diperjualbelikan di Kota Bandar Lampung karena sebagian besar kebutuhan ikan hias air tawarnya berasal dari Bogor atau Jakarta
PENGARUH METIL METSULFURON TERHADAP JARINGAN INSANG PATIN SIAM (Pangasius hypopthalmus)
Patin siam (Pangasius hypopthalmus) merupakan jenis ikan air tawar yang dapat dibudidayakan pada kolam tanah dari lahan sawah. Patin siam yang dipelihara dengan cara tersebut kemungkinan dapat terpapar senyawa kimia akibat penggunaan herbisida yang tidak terkontrol. Metil metsulfuron merupakan bahan aktif herbisida yang sistemik untuk gulma. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai tingkat konsentrasi metil metsulfuron (0; 15,6 dan 39 ppm) terhadap perubahan jaringan insang patin siam. Hasil pengamatan terhadap jaringan insang menunjukkan terjadi kerusakan berupa hiperplasia lamella insang, deskuamasi, kongesti dan hemoragik. Konsentrasi metil metsufuron yang semakin tinggi menyebabkan tingkat kerusakan jaringan insang yang beragam