Arkhais - Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia
Not a member yet
140 research outputs found
Sort by
RELEVANSI SASTRA KANON DI ERA GLOBALISASI
Pembahasan tentang kanonisasi sastra sedang ramai dibicarakan. Adanya hal tersebut sebagai upaya untuk mengapresiasi karya penulis dengan mengelompokkan karya mereka pada satu kelompok yang dianggap abadi. Fenomena mengenai kanonisasi sastra ini akan dibahas dengan metode kualitatif deskriptif. Hasil dari pembahasan ini akan didapat suatu pemikiran yang lebih terbuka mengenai sastra kanon dimana bukan hanya berpaku pada dampak baik bagi perekonomian penulis, namu juga harus memerhatikan segi estetika dari masing – masing karya agar label abadi yang diberikan pada karya tersebut benar – benar menjadi kenyataan
ANALISIS KOMPARATIF PERPPU NO. 17 TAHUN 2017 DAN UU NO. 17 TAHUN 2013 TENTANG ORGANISASI KEMASYARAKATAN
Penelitian ini bertujuan mengkomparasikan antara Perppu No. 2 tahun 2017 dan UU No. 17 tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan yang mencakup: 1) aspek pilihan leksikon, 2) struktur leksikon, dan 3) perbandingan makna atas struktur leksikon yang menyusun kedua jenis perundang-undangan. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dan menggunakan tumpuan analisis wacana kritis yang di dalamnya mencakup penggunaan teori mood system dan apparaisal system. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya temuan leksikon dengan judgement dan appreciation yang bernilai negatif dan polaritas negatif dengan tendensi menjadikan organisasi kemasyarakatan (OK) sebagai anti-tesis yang dapat dihilangkan hak dasarnya tanpa proses hukum yang berlaku
PENGGUNAAN MAKIAN PADA KOLOM KOMENTAR AKUN TIKTOK DENISE CHARIESTA
Penelitian ini bertujuan untuk meneliti makian pada komentar akun Tiktok, yaitu akun Denise Chariesta. Penelitian ini akan mengkaji tentang bentuk lingual makian dan referensi makian pada komentar akun Tiktok Denise Chariesta. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah makian pada kolom komentar akun tiktok Denise Chariesta pada postingan video di akun tiktoknya. Tahapan penelitian pada penelitian ini adalah (1) melakukan pengamatan dengan tujuan untuk memilih data, (2) mengumpulkan data yang berkaitan dengan topik penelitian dengan teknik tangkap layar, (3) klasifikasi data berdasarkan skema yang sesuai dengan fokus penelitian, (4) melakukan analisis data. Penelitian ini menunjukkan hasil sebagai berikut. Pertama, bentuk satuan lingual makian yang ditemukan dalam penelitian ini yaitu makian berbentuk kata, makian berbentuk frasa, dan makian berbentuk klausa. Kedua, referensi makian yang ditemukan dalam penelitian ini yaitu keadaan, binatang, benda-benda, makhluk halus, dan kotoran manusia atau binatang
SISTEM PENILAIAN PERIKLANAN MUSEUM NASIONAL: STUDI KASUS PENGGUNAAN BAHASA DALAM MENINGKATKAN DAYA SAING PARIWISATA MUSEUM NASIONAL
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perangkat penilaian apa saja yang terdapat dalam video profil Museum Nasional. Video profil biasanya menampilkan visi dan misi lembaga. Video profil Museum Nasional mencoba merangkum koleksi dan kelebihannya dalam sebuah video profil yang dibatasi waktu dan dibuat semenarik mungkin sehingga membangkitkan gairah pemirsa untuk berkunjung ke Museum Nasional. Penelitian ini menggunakan teknik referensial matching dimana peneliti mencocokkan teks iklan yang dianalisis dengan mencocokkan klausa, frasa, dan kata dengan alat penilaian serta menganalisis sikap dan penilaian konten koleksi Museum Nasional dalam video profil. Data yang dianalisis kurang lebih 64 kalimat yang merupakan transkripsi video profil Museum Nasional. Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan, diperoleh hasil bahwa terdapat 24 kalimat apresiasi sikap, 5 kalimat penilaian sikap dan 11 kalimat sikap. Pada ranah pertunangan, terdapat 13 jenis heteroglos dan 3 monoglos. Dalam ranah kelulusan, ada 4 jenis angkatan kelulusan dan 4 jenis fokus kelulusan
IDEOLOGI PADA SAJAK “PROLOGUE” KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO
Artikel ini membahas ideologi pada sajak "Prologue" karya Sapardi Djoko Damono. Pembahasan ideologi difokuskan pada aspek-aspek tanda yang terdapat pada sajak tersebut. Pada penelitian ini, ideologi diejawantah berdasarkan relasi tanda yang muncul sebagai bagian dari representasi yang mewakili sesuatu yang lain. Tanda-tanda yang akan dianalisis mengacu pada teori Semiotika yang dikemukakan oleh Pierce, yakni dengan melihat ikon, indeks, dan simbol. Representasi terhadap tanda ini akan merujuk pada makna yang ada pada keseluruhan sajak. Selain itu, pembahasannya akan diperkuat dengan intertekstualitas yang terdapat pada sajak dengan melihat keterkaitannya dengan teks lain
FUNGSI DAN MAKNA TANDA DALAM PANTUN DAN CERITA RAKYAT BETAWI PASAR REBO PERSFEKTIF SEMIOTIK
Etnik Betawi menarik dan penting dikaji terkait kajian terhadap bahasa dan sastra karena etnik tersebut hidup dan berkembang di Jakarta yang merupakan Ibu Kota Negara.. Bahasa dan sastra Etnik tersebut amat berpengaruh terhadap bahasa dan sastra di seluruh Indonesia. Dengan demikian, kajian terhadap bahasa, sastra, dan budaya etnik tersebut dipandang penting. Adapun kajian dilakukan kali ini merupakan studi dokumen, studi pustaka, dan pengamatan lapangan. Berdasarkan penelitian, dapat diketahui bahwa pantun memiliki dua larik dan empat larik. Hanya saja, pada pantun Betawi ini banyak dijumpai pantun dua larik. Pada jenis pantun Pasar Rebo, sampirannya sama-sama menggambarkan tanda natural di seputar etnik tersebut berupa tanda natural maupun tanda budaya. Berdasarkan kajian dapat diketahui bahwa Pantun dan Cerita Rakyat Betawi mengandung fungsi dan makna tanda yang hidup dalam keseharian masyarakat Betawi. Pada cerita rakyat Betawi menampilkan cerita yang lebih dekat ke dunia nyata. Ada juga cerita tentang kehebatan tokoh, dan tentang kepahlawanan yang dekat kepada dunia nyata atau sejarah
PRONUNCIATION ERROR IN ED-ENDING: A CASE STUDY AMONG SCOOTER STUDENTS AT PARE KEDIRI
A common issue to imitate the native speaker is still being a trending discussion for the beginner of English foreign learner. They are very enthusiastic to reproduce how the native speaker speaks. It is natural that we are as foreign language learners cannot 100 % imitating native speakers’ pronunciation. It is proven by four students which pronounce the words ended by –ed ending. Beside of attempting native speakers’ pronunciation is quite hard especially for the beginner of EFL. It is also significant to identify that not all –ed ending can be produced as [-d or –ed] ending, it can be [t]. By conducting this research, it is shown that the level of students’ mastery in pronouncing –ed ending needs improvement. This study displayed that the difficult of –ed ending type was in special pronunciation. Meanwhile, the easiest one was –ed ending after a voiceless consonant apart from [t]
POLA PENYUKUKATAAN DALAM BAHASA SUMBAWA: Pendahuluan
Tulisan ini bermaksud menjelaskan pola penyukukataan dalam bahasa Sumbawa, baik konsonan maupun vokal. Untuk menjelaskan permasalahan tersebut telah dilakukan pengumpulan data menggunakan metode wawancara dan kepustakaan. Data-data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan menggunakan metode padan intralingual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam bahasa Sumbawa ditemukan empat pola penyukukataan. Pertama, pola morfem bersuku tunggal memiliki lima tipe, yaitu V, KV, KVK, KKV, dan KKVK. Kedua, pola morfem bersuku dua memiliki empat belas tipe, yaitu V-V, V-VK, V-KV, V-KVK, VK-KV, VK-KVK, KV-V, KV-VK, KV-KV, KVK-KV, KVK-KVK, KKV-KV, KKV-KVK, dan KKVK-KVK. Ketiga, pola morfem bersuku tiga memiliki sepuluh tipe adalah KV-V-V, KV-V-KV, KV-KV-KVK, KV-KV-KV, KV-KV-KVK, KV-KV-VK, KV-KVK-KVK, KVK-KV-V, KKV-KV-V, dan KVK-KKV-V. Keempat, pola morfem bersuku empat memiliki tiga tipe, yaitu KV-KV-KV-KV, KV-KV-KV-KVK, dan KVK-KV-KV-KVK. Dengan demikian, dalam bahasa Indonesia enam struktur suku kata, yaitu V, KV, VK, KVK, KKV, dan KKVK
KONTRIBUSI KEMAMPUAN MEMBACA APRESIATIF TEKS CERPEN TERHADAP KETERAMPILAN MENULIS TEKS CERPEN SISWA KELAS VII SMP NEGERI 5 KAPUR IX
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kontribusi kemampuan membaca apresiatif teks cerpen terhadap keterampilan menulis teks cerpen siswa kelas VII SMP Negeri 5 Kapur IX. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri 5 Kapur IX dengan sampel 30 orang. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode deskriptif dan kontribusi desain penelitian. Data penelitian adalah skor keterampilan membaca cerpen apresiatif dan skor tes teks cerpen. Data diperoleh melalui dua jenis tes, yaitu tes objektif yang digunakan untuk mengumpulkan data untuk memahami pembacaan cerpen dan tes kinerja yang digunakan untuk mengumpulkan data kemampuan menulis cerpen. Berdasarkan hasil analisis dan diskusi data, peneliti menyimpulkan tiga hal berikut; Pertama, skor rata-rata keterampilan membaca apresiatif dalam membaca teks cerpen siswa di kelas VII SMP Negeri 5 Kapur IX dalam kualifikasi yang baik (82,01). Kedua, skor rata-rata siswa dalam menulis teks cerpen siswa kelas VII SMP Negeri 5 Kapur IX berada dalam kualifikasi yang baik (79,17). Ketiga, ada kontribusi yang signifikan antara kemampuan membaca teks cerpen siswa dengan keterampilan menulis cerpen siswa kelas VII SMP Negeri 5 Kapur IX sebanyak 84,82%
KRITIK SOSIAL DALAM CERPEN LANGIT MAKIN MENDUNG KARYA KIPANJIKUSMIN: TINJAUAN SOSIOLOGI SASTRA
Sastra merupakan cerminan sosial masyarakat yang oleh pengarang melalui proses kreatif di konversikan menjadi sebuah karya sastra. Maka, karya sastra sering dijadikan medium kritik sosial dalam masyarakat. Pada cerpen Langit Makin Mendung karya Kipanjikusmin, sarat akan kritik sosial di dalamnya. Maka, tujuan penelitian ini meneliti tentang kritik sosial yang terdapat dalam cerpen tersebut. Metode yang dilakukan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan sosiologi sastra yang dikemukakan oleh Alan Swingewood. Adapun dalam penelitian ini ditemukan dua kritik sosial yaitu : kritik terhadap pemerintahan orde lama dan kritik terhadap masyarakat