Arkhais - Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia
Not a member yet
140 research outputs found
Sort by
KOMPOSISI BERUNSUR ANGGOTA TUBUH DALAM NOVEL-NOVEL KARYA ANDREA HIRATA
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna dan hubungan makna-makna gramatikal leksem anggota tubuh yang ada di dalam Novel-Novel karya Andrea Hirata, antara lain; Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov. Yang akan difokuskan pada makna yang terkandung dalam tiap kata bentuk-bentuk komposisi (kata majemuk dan idiom).Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif.Fokus penelitian ini adalah komposisi dan bentuk-bentuk komposisi (kata majemuk dan idiom) berunsur anggota tubuh. Teknik analisis data yang terkumpul dianalisis dengan cara menjelaskan makna-makna yang terkandung dalam data komposisi berunsur anggota tubuh berdasarkan konteks kalimat kemudian menganalisis makna dan bentuk-bentuk komposisi berunsur anggota tubuh yang muncul dalam novel.Hasil penelitian ditemukan 217 kalimat penggunaan komposisi berunsur anggota tubuh dalam novel-novel tersebut. Dari keempat novel tersebut yang paling banyak menggunakan komposisi berunsur anggota tubuh di dalam kalimat adalah Laskar Pelangi yang berjumlah 90 dengan persentase 41,5%, Maryamah Karpov berjumlah 51 kalimat dengan persentase 23,5%, Edensor berjumlah 41 kalimat dengan persentase 18,9% dan di urutan paling sedikit penggunaan komposisi dalam kalimat ialah Sang Pemimpi berjumlah 35 kalimat dengan persentase 16,1%.Nama anggota tubuh yang paling banyak digunakan adalah kepala yang berjumlah 22 kalimat dengan persentase 16,8%.Lalu, pada urutan kedua adalah hati berjumlah 19 kalimat dengan persentase 14,5% dan terakhir di urutan ketiga adalah mata yang berjumlah 10 kalimat dengan persentase 7,6%. Anggota tubuh yang memiliki frekuensi terkecil dalam penggunaan komposisi beurnsur anggota tubuh adalah lambung, nadi, sendi, darah, dada, otak, gigi, lidah, kulit, lutut, dan badan yang ymasing-masing berjumlah 1 kalimat dengan persentase 0,8%. Dari 131 kata komposisi berunsur anggota tubuh, komposisi bentuk kata majemuk lebih banyak ditemukan dibandingkan dengan bentuk idiom. Kata majemuk ditemukan berjumlah 80 kalimat dengan persentase 61,5% dan idiom berjumlah 50 kalimat dengan persentase 38,5%. Komposisi bentuk kata majemuk dengan frekuensi kemunculan tertinggi adalah anggota tubuh berunsur kata kepala yang berjumlah 22 kalimat dengan persentase 16,8%, sedangkan komposisi bentuk idiom dengan persentase tertinggi adalah anggota tubuh berunsur kata hati yang berjumlah 19 kalimat dengan persentase 14,5%. Kata kunci: Anggota Tubuh, Komposisi, Semanti
VERBA PREDIKAT BAHASA REMAJA DALAM MAJALAH REMAJA
Abstrak
Bahasa remaja dapat dteliti berdasarkan aspek kebahasaannya, salah satunya adalah mengenai verba. Verba sangat identik dengan predikat. sebagaimana tugas predikat, yaitu menandai apa yang dinyatakan pembicara tentang subjek. Oleh karena itu, hampir sebagian besar predikat diisi oleh verba meski predikat juga dapat diisi oleh kelas kata lain, seperti nomina, adjektiva atau frasa preposisi. Berdasarkan analisis data yang dilakukan pada bahasa remaja dalam majalah remaja, diperoleh hasil penelitian: (1) Sembilan bentuk verba predikat, yaitu (a) verba dasar, (b) verba berprefiks, (c) verba bersufiks -an, (d) verba bersufiks -kan. (e) verba bersufiks -i, (f) verba bersufiks -in, (g) verba bereduplikasi, (h) verba berproses gabung, dan (i) verba majemuk. Berdasarkan kesembilan bentuk verba predikat tersebut, kemunculan terbanyak ialah verba berprefiks 100 data atau 28,17%. (2) Enam tipe verba predikat berdasarkan ketransitifannya, yaitu (a) dwitransitif, (b) transitif, (c) dwi-intransitif, (d) intransitif, (e) dwi-ekuatif, dan (f) ekuatif. Dari keenam tipe verba predikat itu kemunculan paling banyak adalah verba transitif, yakni sebanyak 197 data atau sebesar 55,49%. Banyaknya kemunculan ini menunjukan bahwa karakteristik verba predikat dalam bahasa remaja memiliki kecenderungan terhadap verba aktivitas yang memiliki sasaran. Kata Kunci: Verba, Verba Predikat, Ketransitifan, Remaja
GANGGUAN FONOLOGI KELUARAN WICARA PADA PENDERITA AFASIA BROCA DAN AFASIA WERNICKE: SUATU KAJIAN NEUROLINGUISTIK
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menemukan bunyi-bunyi konsonan apa saja yang terjadi kesalahan pengucapan pada penderita afasia Broca dan afasia Wernicke yaitu pada kasus kesalahan kata yang diucapkan pada tipologi tunggal. Selanjutnya menyimpulkan persamaan dan perbedaan kesalahan bunyi konsonan pada kedua penderita afasia tersebut. Penelitian ini dilakukan pada semester akhir bulan Januari 2014 – Mei 2014 di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo. Fokus penelitian ini pada gangguan fonologi pengucapan bunyi konsonan yang diujarkan pasien penderita afasia Broca dan afasia We rnicke, terutama pada penggantian tipologi bunyi-bunyi tunggal. Gangguan fonologi terdiri dari tiga aspek, yaitu penghilangan, penambahan, dan penggantian bunyi konsonan. Objek penelitian yang diteliti adalah tuturan 2 penderita afasia Broca dan 2 penderitan afasia Wernicke yang mengalami kesulitan berbicara disaat pengucapan bunyi konsonan sehingga pasien mengalami gangguan fonologi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan mendeskripsi dan menganalisis berdasarkan rangkuman analisis yang diturunkan dari teori fonologi bahasa Indonesia. Instrumen pada penelitian ini adalah peneliti sendiri dibantu dengan tabel analisis data, yaitu TADIR untuk mengetahui jenis afasia apa yang diderita pasien dan hasil Tes Pemeriksaan Kemampuan Wicara untuk mengetahui kesalahan fonologi yang telah diderita pasien. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa gangguan fonologi pada penderita afasia Broca sebanyak 151 kata, antara lain: penghilangan bunyi konsonan 50 data dengan rata-rata 44,73, penambahan bunyi konsonan 18 data dengan rata-rata 50,44, penggantian bunyi konsonan 83 data dengan rata-rata 29,55. Pada afasia Wernicke sebanyak 208 kata, antara lain: penghilangan bunyi konsonan 69 data dengan rata-rata 36,49, penambahan bunyi konsonan 22 data dengan rata-rata 29,89, penggantian bunyi konsonan 117 data dengan rata-rata 29,40. Persamaan gangguan fonologi dari dari kedua pasien tersebut sebanyak 32 data dan perbedaan dari gangguan fonologi tersebut sebanyak 13 data yang dihasilkan afasia Broca dan sebanyak 24 data yang dihasilkan afasia Wernicke. Kata Kunci: Neurolinguistik, Afasia Broca, Afasia Wernicke, dan Gangguan Fonolog
ALIH KODE DAN CAMPUR KODE PADA PROGRAM ACARA THE LADY WHO SWINGS DI RADIO HARD ROCK FM JAKARTA
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan alih kode dan campur kode pada program acara The Lady Who Swings di radio Hard Rock FM Jakarta. Subjek penelitian ini adalah bahasa yang digunakan penyiar dan bintang tamu pada program acara The Lady Who Swings di radio Hard Rock FM Jakarta. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan teknik analisis isi. Penelitian ini difokuskan pada alih kode dan campur kode, yang mencakup jenis, bentuk, serta penyebabnya. Objek penelitian ini adalah siaran The Lady Who Swings di radio Hard Rock FM Jakarta yang ditranskripsikansebanyak enam rekaman siaran. Kemunculan jenis alih kode terbanyak adalah alih kode ekstern sebanyak 118 data ujaran (100%). Penguasaan bahasa asing memengaruhi penyebab alih kode dengan kemunculan terbanyak, yaitu alih kode karena penutur sebanyak 65 data (45,2%). Selain itu ditemukan pula hal lain penyebab alih kode, yaitu alih kode karena keharusan menyebut nama acara, produk, dan fitur dengan 24 data (16,3%) dan alih kode karena keinginan mengajak penutur lain dengan 1 data (0,8%). Sementara untuk campur kode ditemukan bahwa campur kode ekstern merupakan jenis campur kode dengan kemunculan terbanyak, yaitu 340 data ujaran (99,4%). Kata merupakan bentuk campur kode yang paling banyak muncul, yaitu sebanyak 218 data (53,3%). Kemudian untuk penyebab campur kode yang yang paling banyak muncul ialah penyebab karena motif prestis, yaitu sebanyak 223 data (57,9%). Pada campur kode juga ditemukan hal lain yang dapat menyebabkan campur kode terjadi, yaitu campur kode karena keharusan menyebut nama acara, fitur, produk, dan musik 78 data (20,3%), dan campur kode karena keharusan menyapa 37 data (9,6%). Kata Kunci: Kode, Alih Kode, Campur Kode, Program Acara, Sosiolinguistik
REPRESENTASI MODERNISME ISLAM DALAM NOVEL SANG PENCERAH KARANGAN AKMAL NASERY BASRAL: PERSPEKTIF SEMIOTIK ROLAND BARTHES
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk merepresentasikan modernisme dalam novel Sang Pencerah karangan Akmal Nasery Basral. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, yaitu dengan menjabarkan gambaran cerita secara lengkap. Dalam penelitian ini, peneliti juga melakukan studi mendalam untuk mencaritahu representasi modernisme Islamyang berkembang pada masa K.H. Ahmad Dahlan yang dapat dirasakan responsif dan membumi di tanah Indonesia. Penelitian ini merupakan kajian pustaka dengan objek analisis novel Sang Pencerahkarangan Akmal Nasery Basral melalui kajian semiotika Roland Barthes.Perjalanan sejarah Islam di Indonesia sudah berjalan cukup unik, dari mulai Islam yang begitu mudah dan cepat untuk diikuti oleh masyarakat sampai setelah pertempuran pemikiran Islam dimasukkan ke dalam ruang yang lebih luas. Banyak sekali kontribusi konseptual diharapkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dari pemikir Islam, bahkan oleh pemuda Muslim. Menghasilkan pola pemikiran Islam berdasarkan studi besar Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan membentuk Muhammadiyah dengan tujuan mendidik umat Islam agar berpikir maju sesuai dengan perkembangan zaman. Menurut ajaran Islam perubahan merupakan sebagian dari sunnatullah serta salah satu sifat asasi manusia dan alam raya secara keseluruhan. Pada pemikiran munculnya modernisme dalam agama Islam, K.H. Ahmad Dahlan membawa pengaruh pemikiran pembaruan Muhammad Abduh. Dalam kaitan ini organisasi pembaruan Muhammadiyah bergerak di bidang syariat, sosial, dan pendidikan.Berdasarkan analisis yang dilakukan dalam penelitian ini ditemukan bahwa representasi modernisme dalam novel Sang Pencerah perspektif semiotika Roland Barthes inibukan lagi merupakan penanda belaka. Modernisme Islam kekinian merupakan modernisme Islam yang bersiap dalam menghadapi tantangan zaman tanpa melupakan identitasnya. Kata Kunci: Representasi, Modernisme, dan Muhammadiyah
ILOKUSI DAN PERLOKUSI DALAM TAYANGAN INDONESIA LAWAK KLUB
Abstrak. Tujuan penelitian ini adalah untuk memaparkan perwujudan ilokusi dan perlokusi dalam tayangan Indonesia Lawak Klub.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif yang difokuskan pada penggunaan ilokusi dan perlokusi dalam tayangan Indonesia Lawak Klub, dilihat berdasarkan jenis ilokusi dan perlokusi dalam tayangan Indonesia Lawak Klub.Penelitian ini dilakukan pada semester ganjil tahun ajaran 2014/2015.Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri dibantu dengan tabel analisis perwujudan ilokusi dan perlokusi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari tujuh episode tayangan Indonesia Lawak Klub terdapat 1.750 tuturan dan ditemukan tindak ilokusi yang terdiri atas jenis ilokusi yang meliputi ilokusi asertif sebanyak 1.174 tuturan (67%), ilokusi direktif sebanyak 467 tuturan (26%), ilokusi komisif sebanyak 11 tuturan (1,5%), ilokusi ekspresif sebanyak 45 tuturan (2,5%), dan ilokusi deklaratif sebanyak 53 tuturan (3%). Tindak ilokusi yang banyak digunakan ialah ilokusi asertif karena banyak digunakan kalimat pernyataan yang digunakan oleh panelis melanggar prinsip-prinsip pragmatik yang menimbulkan kelucuan. Perlokusi yang terdiri atas jenis perlokusi yang meliputi perlokusi verba sebanyak 1.720 tuturan (98,3%) dan perlokusi nonverba sebanyak 30 tuturan (1,7%). Tindak perlokusi yang banyak digunakan panelis ialah perlokusi verba.
Kata kunci: pragmatik, tindak tutur, ilokusi, perlokusi, dan Indonesia Lawak Klub
KEKERABATAN BAHASA BATAK TOBA DAN BAHASA BATAK ANGKOLA SUATU KAJIAN LINGUISTIK HISTORIS KOMPARATIF
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kekerabatan antara Bahasa Batak Toba dan Bahasa Batak Angkola, dengan melakukan perbandingan antara Bahasa Batak Angkola dan Bahasa Batak Toba berdasarkan 200 kata Morris Swadesh. Penelitian ini juga meneliti bagaimana penggunaan bahasa, kegiatan berbahasa, dan sikap berbahasa oleh beberapa masyarakat yang ada di desa asal kedua bahasa tersebut. Penelitian ini dilaksanakan di Sumatera Utara pada bulan Februari 2015. Objek penelitian merupakan enam informan yang memenuhi kriteria, masing-masing bahasa baik itu Bahasa Batak Toba dan Bahasa Batak Angkola mengambil sampel tiga informan. Fokus penelitian adalah kedua bahasa itu sendiri yaitu Bahasa Batak Toba dan Bahasa Batak Angkola. Instrumen penelitian adalah peneliti sendiri dibantu dengan tabel analisis kerja daftar 200 kata Leksikostatistik Morris Swadesh dan tabel angket pemakaian bahasa, sikap bahasa, dan kegiatan berbahasa informan. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Bahasa Batak Toba dan Bahasa Batak Angkola memiliki hubungan kekerabatan dilihat dari 200 kosakata dasar Morris Swadesh yang telah dibandingkan, melalui hasil perbandingan terdapat 114 kata yang berkerabat yang terdiri dari 89 kata yang berkerabat identik dan 25 kata yang berkerabat namun mengalami perubahan bunyi baik bunyi vokal maupun bunyi konsonan. Tingkat hubungan kekerabatan antara Bahasa Batak Toba dengan Bahasa Batak Angkola ini dikategorikan sedang karena dari hasil presentase yang dihitung terdapat 57% dari 200 glos yang diperoleh. Tahun pisah kedua bahasa tersebut dari sebuah bahasa induk terjadi pada tahun 681 M. Hasil Angketpun membuktikan informan sangat menjunjung tinggi bahasa daerah mereka. Kata Kunci: Kekerabatan Bahasa, Bahasa Batak Toba, Bahasa Batak Angkola, Penggunaan Bahasa, Kegiatan Berbahasa, Sikap Berbaha
KESANTUNAN BERBAHASA SEBAGAI UPAYA MERAIH KOMUNIKASI YANG EFEKTIF
Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan mengenai kesantunan berbahasa yang dapat dijadikan sebagai upaya dalam meraih komunikasi yang efektif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan melakukan penggambaran dan penyajian data yang berhubungan dengan masalah penelitian yakni kesantunan berbahasa dan komunikasi efektif. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah percakapan antara dosen dan mahasiswa yang diambil dari media sosial. Kemudian dalam menganalisis data, penelitian ini menggunakan teori strategi kesantunan berbahasa Brown dan Levinson dan 5 hukum komunikasi yang efektif. Hasil dari penelitian ini mengungkapkan bahwa ketidaksantunan berbahasa dapat menyebabkan komunikasi menjadi tidak efektif. Oleh karena itu, delapan strategi kesantunan berbahasa Brown dan Levinson dapat digunakan sebagai upaya meraih komunikasi yang efektif.
Kata Kunci : Kesantunan Berbahasa, Komunikasi Efekti
EKUIVALENSI LEKSIKAL DALAM WACANA NOVEL PERAHU KERTAS KARYA DEWI ‘DEE’ LESTARI: SUATU KAJIAN WACANA
Abstrak
Penelitian ini betujuan untuk mengetahui kemunculan ekuivalensi leksikal dalam wacana novel Perahu Kertas karya Dewi "Dee‟ Lestari. Penelitian ini dilakukan di Jakarta mulai Februari hingga Juni 2014, dengan wacana novel Perahu Kertas sebagai objeknya. Peneliti sendiri sebagai instrumen dibantu dengan tabel analisis kerja. Fokus penelitian ini adalah pemarkah kohesi leksikal ekuivalensi leksikal. Ekuivalensi leksikal yang diteliti meliputi ekuivalensi leksikal yang mengalami proses afiksasi dan bersifat derivasi, dan ekuivalensi leksikal yang mengalami proses afiksasi dan bersifat infleksi. Ekuivalensi leksikal yang mengalami proses afiksasi dan bersifat derivasi terdiri dari 9 proses, yaitu prefiks-prefiks, sufiks-prefiks, konfiks-prefiks, klofiks-prefiks, prefiks-sufiks, prefiks-konfiks, klofiks-konfiks, prefiks-klofiks, dan sufiks-klofiks. Ekuivalensi leksikal yang mengalami proses afiksasi dan bersifat infleksi juga terdiri dari 9 proses, yaitu prefiks-prefiks, konfiks-prefiks, prefiks-sufiks, sufiks-sufiks, klofiks-sufiks, prefiks-konfiks, konfiks-konfiks, prefiks-klofiks, dan klofiks-klofiks. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deksriptif kualitatif dengan teknik analisis isi. Hasil penelitian ini enunjukkan di dalam wacana novel PerahuKertas yang terdiri dari 17 bab, terdapat 68 paragraf, 262 kalimat, 200 pasangan kalimat, dan100 pemarkah kohesi leksikal ekuivalensi leksikal. Kemunculan ekuivalensi leksikal yang mengalami proses afiksasi dan bersifat infleksi lebih banyak yaitu 68 kemunculan, kemunculan terbanyak adalah prefiks-prefiks 34 kemunculan, dan tersedikit muncul adalah prefiks-sufiks, klofiks-sufiks, prefiks-konfiks, dan prefiks-klofiks masing-masing 1 kemunculan. Kemunculan ekuivalensi leksikal yang mengalami proses afiksasi dan bersifat derivasi lebih sedikit yaitu 32 kemunculan, dengan yang terbanyak muncul adalah sufiks-prefiks 10 kemunculan, dan tersedikit muncul adalah klofiks-konfiks dan prefiks-klofiks masing-masing 1 kemunculan. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah kemunculan ekuivalensi leksikal dalam wacana novel Perahu Kertas yang mengalami proses afiksasi dan bersifat infleksi lebih banyak dibandingkan dengan kemunculan ekuivalensi leksikal yang mengalami proses afiksasi dan bersifat derivasi. Kata Kunci :Ekuivalensi Leksikal, Wacana Novel Perahu Kertas
REPRESENTASI KELAS BAWAH PADA TOKOH PUNAKAWAN DALAM KOMIK KARYA TATANG S.
Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk merepresentasikan kelas bawah pada tokoh Punakawan dalam komik karya Tatang S. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yaitu menjabarkan gambaran cerita secara lengkap. Sema banyak dua puluh buah judul komik penelitian ini coba menafsirkan tanda- tanda kekelasbawahan yang ada di dalamnya. Dengan menggunakan konsep- konsep teoritis yang mencakup pola fungsi aktan, representasi dalam kajian budaya, pendekatan semiologi Rolland Barthes, konsep kelas bawah dalam tokoh Punakawan. Skripsi ini mengajukan kesimpulan bahwa peranperan tokoh punakawan dalam komik Tatang merupakan representasi konstruksi kelas bawah dalam kondisi masyarakat dimana komik tersebut dibuat. Penelitian ini menemukan beberapa ciri kelas bawah yang ditandai dalam beberapan hal yang terkategorisasi pada pola kemunculan hantu, kisah asmara, kisah kepahlawanan, dan humor yang ditawarkan dalam cerita.
Kata kunci: Representasi, Kelas Bawah, Punakawan.Tatang S