Jurnal Kesehatan Medika Saintika
Not a member yet
301 research outputs found
Sort by
THE EFFECTIVENESS OF CHEST PHYSIOTHERAPY IN INCREASING OXYGENATION SATURATION IN PATIENTS WITH CHRONIC OBSTRUCTIVE PULMONARY DISEASE AT THE WEST SUMATRA LUNG HOSPITAL
Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) merupakan masalah kesehatan global yang berdampak signifikan pada kualitas hidup dan kesejahteraan pasien. Salah satu komplikasi serius dari PPOK adalah rendahnya saturasi oksigenasi, yang berhubungan dengan peningkatan risiko morbiditas dan mortalitas. Fisioterapi dada telah diakui sebagai intervensi yang efektif dalam meningkatkan fungsi pernapasan dan saturasi oksigenasi pada pasien PPOK.Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas fisioterapi dada dalam meningkatkan saturasi oksigenasi pada pasien PPOK di Rumah Sakit Paru Sumatera Barat.Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi klinis acak terkontrol dengan dua kelompok. Kelompok intervensi menerima fisioterapi dada tambahan selain perawatan standar, sedangkan kelompok kontrol hanya menerima perawatan standar. Pasien yang memenuhi kriteria inklusi diikutsertakan dalam penelitian ini. Saturasi oksigenasi diukur sebelum dan setelah intervensi fisioterapi dada. Intervensi fisioterapi dada terdiri dari serangkaian teknik yang ditujukan untuk meningkatkan volume udara yang masuk ke paru-paru dan meningkatkan pernapasan.Hasil: Analisis data menunjukkan bahwa rata-rata saturasi oksigenasi pada kelompok intervensi meningkat secara signifikan setelah menerima fisioterapi dada, dengan rata-rata peningkatan sebesar 4,750 dan p-value = 0,046. Ini menunjukkan bahwa fisioterapi dada secara signifikan meningkatkan saturasi oksigenasi pada pasien PPOK dibandingkan dengan kelompok kontrol.Kesimpulan: Fisioterapi dada terbukti efektif dalam meningkatkan saturasi oksigenasi pada pasien PPOK. Hasil penelitian ini memberikan dasar yang kuat untuk memasukkan fisioterapi dada sebagai bagian dari protokol perawatan rutin untuk pasien PPOK di rumah sakit. Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi pada pengembangan protokol perawatan yang lebih efektif dan memberikan wawasan tambahan bagi praktisi kesehatan mengenai peran fisioterapi dada dalam manajemen PPOK.Kata Kunci : PPOK,fisoterapi dada,saturasi oksigenasi
Faktor Risiko Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kematian Covid-19 di RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2020-2022
Coronavirus merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit mulai dari gejala ringan hingga berat. Novel coronavirus yakni virus jenis baru yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya pada manusia. Penelitian menyebutkan bahwa SARS-CoV ditransmisikan dari kucing luwak ke manusia dan MERS-CoV dari unta ke manusia.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor risiko yang memengaruhi kejadian kematian Covid-19 di RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2020-2022. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan Case Control. Penelitian dilakukan pada bulan April-September 2023 di RSUP DR. M. Djamil Padang. Hasil : kejadian kematian Covid-19 yang paling dominan sebanyak 57,6% laki-laki, 63,6% kategori lansia, 88,1% memiliki komorbid dan 62,3% tidak vaksinasi. Ada hubungan antara jenis kelamin (p = 0,001), Usia (p = 0,000), Komorbid (p = 0,000) dan riwayat vaksinasi (p = 0,000) dengan kejadian kematian pasien Covid-19. Didapatkan komorbid merupakan variabel yang paling dominan (p = 0,000, OR = 32,300). Variabel jenis kelamin, usia, komorbid dan riwayat vaksinasi memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian kematian pasien Covid-19, dan variabel yang paling berhubungan adalah komorbid. Diharapkan adanya kerja sama dari berbagai pihak antara pihak rumah sakit dengan pemerintah untuk kesiapan menghadapi kejadian wabah Covid-19 yang terulang kedepannya dan meningkatkan kesadaran masyarakat terkait faktor risiko kematian Covid-19.
Analisis Strategi Penjaringan Terduga TB Di Puskesmas Parak Karakah Dan Puskesmas Andalas
Pendahahuluan: Laporan Dinas Kesehatan Kota Padang tahun 2022 terdapat Puskesmas dengan angka penjaringan Terduga TB rendah dan belum mencapai target (100%) yaitu Puskesmas Dabok Tunggul Hitam 33,3%, Puskesmas Lubuk Begalung 31, 4%, dan Puskesmas Parak Karakah 6,5%. Dan penjaringan terdugan TB yang tinggi yaitu Puskesmas Andalas 98,7% dan Puskesmas Air Tawar 86,5%. Tujuan: Mengetahui informasi mendalam tentang pelaksanaan penjaringan terduga TB di Kota Padang tahun 2023 diantara Puskesmas dengan capain penjaringan terduga TB tinggi dan rendah. Metode: metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Informan dipilih berdasarkan teknik non-probability sampling dengan purposive sampling dan snowball. Informan berjumlah 11 orang. Instumennya pedoman wawancara dan lembar observasi dengan menggunakan Metode triangulasi sumber dan metode. Hasil: hal yang membedakan pelaksanaan penjaringan terduga TB di Puskesmas Andalas dan Parak Karakah terdapat pada Input, Proses. Pada Puskesmas Andalas kekurangan cartridge, sedangkan pada Puskesmas Parak Karakah sarana dan prasarananya belum memadai. Dalam proses penjaringan aktif di Puskesmas belum terlaksana dengan baik dikarenakan kekurangan SDM, dan terdapat stigma masyarakat mengakibatkan. Kesimpulan: Puskesmas Andalas sudah bagus dalam penjaringan TB, sedangkan di Puskesmas Parak Karakah masih belum maksimal, dikarenakan sarana dan Prasaran, SDM serta stigma dari Masyarakat mengenai TB
DOMINASI FAKTOR DETERMINAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN PENYAKIT ASAM URAT PADA MASYARAKAT USIA PRODUKTIF
Penyakit rematik seperti penyakit asam urat sangat ditakuti karena menyerang persendian dan sering terjadi pada orang tua. Desa Pauh Tinggi memiliki jumlah penderita tertinggi sebanyak 54 kasus, menurut survei awal yang dilakukan di Puskesmas Pelompek. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dominasi faktor determinan yang berkontribusi pada penyakit asam urat. Penelitian ini merupakan studi kuantitatif yang menggunakan metode observasi analitik dengan pendekatan cross-sectional yang dilakukan selama periode Mei hingga Juni 2022. Jumlah populasi adalah 587 orang, dan sampelnya adalah 94 orang. Analisis data meliputi analisis univariat, bivariat, dan multivariat dengan menggunakan uji chi-square dan regresi logistik untuk menentukan variabel yang dominan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 53,2% orang yang mengikuti penelitian menderita asam urat, 46,2% mengalami pola makan yang buruk, 34% tidak tahu banyak tentang subjek, 56,4% melakukan aktivitas fisik yang kurang, dan 46,2% mengalami kebiasaan istirahat yang buruk. Ada korelasi signifikan antara kejadian penyakit asam urat dan pola makan, tingkat pengetahuan, aktivitas fisik, dan kebiasaan istirahat. Variabel yang paling dominan dalam korelasi ini adalah kebiasaan istirahat. Untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan mencegah berbagai penyakit, orang diharapkan untuk mengikuti pola makan yang sehat, memperoleh pengetahuan yang cukup, berpartisipasi dalam aktivitas fisik, dan memiliki kebiasaan istirahat yang baik.Kata kunci: Asam urat, tingkat pengetahuan, pola makan, aktivitas fisik dan kebiasaan istirahat
Hubungan Faktor Perilaku dengan Kejadian Tuberkulosis di Kota Padang
Tuberkulosis masih merupakan masalah kesehatan masyarakat baik di Indonesia maupun internasional sehingga menjadi tujuan SDGs. Pada tahun 2021 jumlah kasus tuberkulosis di Kota Padang adalah 1.656 kasus, angka kesembuhan menurun dari 1009 menjadi 457. Angka kematian meningkat dari 75 menjadi 93 kematian akibat tb. Tujuan: Menganalisis faktor kesehatan lingkungan dan perilaku yang berhubungan dengan tuberkulosis. Metode: Penelitian kuantitatif, desain comparative cross sectional study. Responden kelompok tuberkulosis adalah penderita tuberkulosis yang pernah tinggal serumah dengan penderita tuberkulosis (36 orang). Kelompok non tb adalah bukan penderita tb yang pernah serumah dengan penderita tb (36 orang). Instrumen yang digunakan yaitu kuesioner dan dianalisis dengan uji chi square dan regresi logistik. Penelitian ini dilakukan di 5 Puskesmas di Kota Padang dari Januari-Juli 2023Hasil: Penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyak 63,9% responden berpengetahuan, 51,4% responden cenderung bersikap baik dan 51,4% responden sudah melakukan tindakan yang baik terhadap pencegahan tuberkulosis. Terdapat hubungan antara pengetahuan (p=0,01), sikap (p=0,005) dan tindakan (p=0,000) dengan kejadian tuberkulosis. Variabel tindakan merupakan variabel yang paling dominan berhubungan dengan kejadian tuberkulosis di Kota Padang pada tahun 2023.Kesimpulan dan Saran: Variabel yang paling berhubungan dengan kejadian tuberkulosis adalah tindakan pencegahan tuberkulosis. Penelitian ini dapat dijadikan pertimbangan bagi perguruan tinggi untuk melakukan pengabdian masyarakat terkait pencegahan tuberkulosis agar dapat meningkatkan health literacy masyaraka
Analisis Pelaksanaan Penemuan Kasus Tuberkulosis Di Puskesmas Kota Sawahlunto Tahun 2023
Penelitian ini bertujuan mengevaluasi program penanggulangan TB menggunakan bukti-bukti untuk pengambilan keputusan dan kebijakan kesehatan. Metode penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus di Kota Sawahlunto. Sampel terdiri dari 11 informan yang dipilih secara purposive, termasuk Dinas Kesehatan Kota Sawahlunto dan beberapa puskesmas. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, telaah dokumen, dan observasi, dengan triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puskesmas di Kota Sawahlunto hanya mencapai 40,38% dari target penemuan kasus TB, yang seharusnya mencapai 95%. Kendala utama meliputi ketidakcukupan dan beban kerja petugas TB yang berlebihan, kurangnya kader dan peran mereka yang tidak maksimal, ketidakmerataan peningkatan kompetensi, serta sarana prasarana yang kurang memadai dan promosi kesehatan yang belum optimal. Penelitian menyimpulkan bahwa meskipun penemuan kasus TB di Kota Sawahlunto telah dilakukan, masih ada tantangan signifikan terkait sumber daya manusia dan stigma masyarakat. Disarankan agar Dinas Kesehatan Kota Sawahlunto meningkatkan pemenuhan SDM terkait penanggulangan TB dan puskesmas perlu meningkatkan efektivitas promosi kesehatan terkait TBPenelitian ini bertujuan mengevaluasi program penanggulangan TB menggunakan bukti-bukti untuk pengambilan keputusan dan kebijakan kesehatan. Metode penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus di Kota Sawahlunto. Sampel terdiri dari 11 informan yang dipilih secara purposive, termasuk Dinas Kesehatan Kota Sawahlunto dan beberapa puskesmas. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, telaah dokumen, dan observasi, dengan triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puskesmas di Kota Sawahlunto hanya mencapai 40,38% dari target penemuan kasus TB, yang seharusnya mencapai 95%. Kendala utama meliputi ketidakcukupan dan beban kerja petugas TB yang berlebihan, kurangnya kader dan peran mereka yang tidak maksimal, ketidakmerataan peningkatan kompetensi, serta sarana prasarana yang kurang memadai dan promosi kesehatan yang belum optimal. Penelitian menyimpulkan bahwa meskipun penemuan kasus TB di Kota Sawahlunto telah dilakukan, masih ada tantangan signifikan terkait sumber daya manusia dan stigma masyarakat. Disarankan agar Dinas Kesehatan Kota Sawahlunto meningkatkan pemenuhan SDM terkait penanggulangan TB dan puskesmas perlu meningkatkan efektivitas promosi kesehatan terkait TB
PERBEDAAN KADAR HEMOGLOBIN MELALUI PEMBERIAN MADU HUTAN JAMBI DAN DAUN KELOR (Moringa Oleifera) SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN ANEMIA PADA REMAJA
Remaja masih banyak sekali yang menderita anemia. Jika tidak diobati, penyakit ini akan menetap hingga dewasa dan secara signifikan meningkatkan angka kematian ibu, kelahiran prematur, dan berat badan lahir rendah. Ada kebutuhan mendesak untuk melakukan penelitian ini untuk mengobati anemia pada remaja putri dengan pengobatan alami (madu hutan dan daun kelor). Sebagai upaya untuk menghindari anemia pada remaja, tujuan penelitian ini adalah untuk mengamati kadar hemoglobin dengan pemberian daun kelor (Moringa oleifera) dan madu dari hutan Jambi. Metode penelitian dilakukan secara eksperimen dengan menggunakan Madu asli hutan Jambi dan tanaman obat daun kelor terdiri dari 2 kelompok yang diberi perlakuan (masing-masing kelompok diberi daun kelor kering dan madu hutan Jambi), sedangkan kelompok kontrol tidak diberi perlakuan, Kemudian hasil penelitian di analisa dengan menggunakan uji statistik Kruskal-Wallis. H. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan kadar Hb pada kelompok intervensi dengan kelompok kontrol dengan nilai p-value 0,009 (<0,05). Dengan demikian, pada masa depan penelitian ini mampu memberikan sumbangsih dalam mengoptimalkan Kesehatan remaja putri sebagai langkah awal mencegah terjadinya berbagai masalah kesehatan Kesehatan terutama mengatasi anemia dan memutus salah satu penyebab berat badan lahir rendah yang menjadi faktor resiko stunting
Systematic Review : Faktor Risiko Dari Ibu Dan Anak Pada Kejadian Stunting
Prevalensi stunting merupakan indikator penting dari status kesehatan dan gizi suatu populasi. Saat ini, 22,3% anak di bawah usia 5 tahun di seluruh dunia mengalami stunting, dengan mayoritas kasus terjadi di Asia (52%) dan Afrika (43%). Tujuan penelitian ini untuk menemukan bukti dari artikel-artikel yang telah dipublikasikan mengenai penyebab dan faktor risiko yang memengaruhi kejadian stunting pada ibu dan anak. Metode yang dilakukan systematic review menggunakan Framework PRISMA. Penelitian ini mengidentifikasi permasalahan berdasarkan elemen PICO dan melakukan pencarian artikel di database Pubmed dan Google Scholar. Hasil systematic review ini mengumpulkan 20 artikel yang relevan dengan kriteria inklusi dan eksklusi, terdiri dari 13 studi cross-sectional, 6 studi case control, dan 1 studi mixed method. Hasilnya menunjukkan bahwa faktor risiko dari ibu meliputi pekerjaan, pendidikan, usia, kelahiran prematur, tinggi badan, status gizi, dan pendapatan keluarga. Sementara faktor risiko dari anak mencakup usia, berat badan lahir rendah, pola makan, jenis kelamin, penyakit infeksi, status imunisasi, dan status gizi. systematic review ini mengidentifikasi sejumlah faktor risiko dari ibu dan anak yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita. Temuan ini diharapkan dapat mendukung perencanaan dan pelaksanaan program-program intervensi untuk mengatasi masalah stunting secara efektif
Hubungan Dukungan Sosial dengan Tingkat Kebahagiaan pada Lansia di RW 01 Kelurahan Batuang Taba Kota Padang Tahun 2023
Tingkat kebahagiaan pada lansia di Indonesia menjadi fokus utama karena seringkali lebih rendah dibandingkan dengan kelompok umur lainnya. Oleh karena itu, peran dukungan sosial sangat penting dalam mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan lansia, karena kebahagiaan di usia tua tidak hanya dipengaruhi oleh faktor lingkungan fisik, tetapi juga lingkungan sosialnya. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan hubungan antara dukungan sosial dan tingkat kebahagiaan pada lansia di RW 01 Kelurahan Batuang Taba Kota Padang pada tahun 2023. Metode penelitian menggunakan studi metode korelasi, dengan jumlah sampel 92 orang menggunakan metoda aksidential sampling. Penelitian dilaksanakan dari bulan Oktober hingga Maret 2023-2024. Data dikumpulkan melalui kuisioner OHQ (Oxford Happiness Questionnaire) untuk mengukur tingkat kebahagiaan dan MSPSS (Multidimensional Scale of Perceived Social Support) untuk menilai dukungan sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 59.8% responden memiliki tingkat dukungan sosial yang sedang, sementara 40.2% mengindikasikan tingkat kebahagiaan yang tidak terlalu tinggi. Analisis bivariat menggunakan korelasi Pearson Product Moment menunjukkan hubungan yang sangat kuat dan signifikan (p=0.000, r=0.803) antara dukungan sosial dan tingkat kebahagiaan pada lansia. Oleh karena itu, penting bagi keluarga, teman, dan kerabat lansia untuk meningkatkan dukungan sosial dalam berbagai aspek guna meningkatkan kebahagiaan lansia tersebut
ANALISIS KEBUTUHAN KONSELING PADA PASIEN HIV/AIDS
Penyakit HIV merupakan penyakit yang menyebabkan menurunnya kekebalan tubuh dan merupakan penyakit yang tidak bisa disembuhkan, walaupun pasien sudah memakan obat ARV seumur hidup . Hal ini tentunya akan menimbulkan kecemasan yang tinggi pada pasien yang menderita HIV. Banyak masalah yang dialami oleh pasien , baik berupa masalah fisik, psikologis ,sosial dan spiritual , adanya kecemasan akan kematian, adanya stigma di masyarakat, dan lain lain. Oleh karena itu diperlukan pelayanan bimbingan konseling yang diberikan oleh konselor profesional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kebutuhan konseling pada pasien HIVDesain penelitian ini adalah deskriptif observasional dengan sampel penelitian sebanyak 84 responden Populasi merupakan pasien HIV AIDS yang berobat ke poliklinik VCT RSUP Dr.M.Jamil Padang. Teknik pengambilan sampel adalah teknik purposive sampling. Kriteria inklusinya: sampel yang bersedia ikut dalam penelitian. Kriteria ekslusi adalah pasien yang sedang mengalami infeksi oportunistik yang berat dan sedang mengalami efek samping obat yang berat. Teknik pengumpulan data didapatkan dari hasil kuesiner dan wawancara dengan pasien HIV.Hasil Penelitian ini didapatkan bahwa 23 poin informasi yang dibutuhkan oleh pasien HIV saat melakukan konseling. Informasi konseling yang paling dibutuhkan pasien adalah bagaimana jika anak/bayi HIV positif (19.1%), bagaimana prosedur jika ODHA akan menjadi calon pengantin (11.9%) serta bagaimana jika sampel berhenti konsumsi ARV (10.7%).Berdasarkan hasi penelitian ini, diharapkan konselor dapat memberikan informasi dan konseling kepada pasien HIV sesuai yang dibutuhkannya.Kata Kunci : HIV AIDS; konselin