Idea Nursing Journal
Not a member yet
388 research outputs found
Sort by
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPUTUSAN MASYARAKAT MEMILIH OBAT TRADISIONAL DI GAMPONG LAM UJONG
ABSTRAKPenggunaan obat tradisional semakin berkembang baik sebagai obat maupun untuk tujuan yang lain, terlebih dengan adanya anjuran untuk kembali ke alam. Permasalahan akan timbul apabila pemilihan obat tradisional tersebut adalah sebagai bentuk pelarian dari pelayanan medis. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi keputusan masyarakat memilih obat tradisional Di Gampong Lam Ujong. Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan pendekatan crossectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kepala keluarga di Gampong Lam Ujong Meunasah Manyang Kecamatan Krueng Barona Jaya Kabupaten Aceh Besar Tahun 2014 yang berjumlah 250 orang dengan sampel 72 orang. Metode pengambilan sampel dilakukan secara simple random sampling. Data yang digunakan adalah data skunder, pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan telah dilaksanakan pada tanggal 4 sampai 18 Juli 2014. Analisa data dilakukan dengan menggunakan uji chi-square dengan tingkat kemaknaan 95% ( = 0,05). Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa ada pengaruh antara sumber informasi (p-value=0,021), sosial budaya (p-value=0,037) dan pendapatan (p-value=0,046) terhadap keputusan masyarakat dalam memilih obat tradisional. Diharapkan kepada tenaga promosi kesehatan di Puskesmas agar dapat memberikan informasi kepada masyarakat untuk memeriksakan penyakitnya terlebih pada tenaga kesehatan, sehingga masyarakat dapat menggunakan obat tradisional secara lebih bijak dan sesuai kebutuhan yang diinginkan.Kata kunci: Pemilihan, Obat TradisionalABSTRACTThe use of traditional medicine is growing both as a medication and for other purposes, especially with the recommendation to return to nature. Problem arises when traditional medicine is used as a form of escapism from medical services. This research aimed to identify factors affecting societys decision on choosing traditional medicine in Gampong Lam Ujong.This is a descriptive analytic study with cross sectional approach. The population in this study were all patriarchs in Gampong Lam Ujong Meunasah Manyang Krueng Barona Jaya District of Aceh Besar in 2014, with the total 250 people and sample of 72 people. The sampling method is done by simple random sampling. The data used is secondary data, data collected by using questionnaire and was conducted on 4 to 18 July 2014. Data analysis was performed using chi-square test with significance level of 95% ( = 0.05).This study concluded that there is an influence of resources (pvalue = 0.021), sociocultural (p-value = 0.037) and income (p-value = 0.046) against the societys decision when it comes to choose traditional medicine. Health promotion workers in health centers are expected to provide information to the public in order to check their disease prior to health care, so that society can engage in traditional medicine in such a wiser way and depends on the needs desired.Keyword: Selection, traditional medicin
PERAWATAN PASIEN YANG MENJALANI PROSEDUR KATETERISASI JANTUNG
ABSTRAKPenyakit jantung koroner merupakan penyakit jantung yang diakibatkan oleh adanya stenosis pada arteri koroner. Derajat stenosis arteri koroner dapat dinilai dengan melakukan pemeriksaan diagnostik invasif yaitu kateterisasi jantung. Prosedur ini akan berjalan dengan baik apabila perawat maupun tim medis lain melakukan perawatan pasien mulai dari perawatan dan persiapan pasien sebelum, selama dan setelah menjalani prosedur kateterisasi jantung. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman dalam melakukan perawatan pada pasien sebelum dan setelah menjalani kateterisasi jantung.Metode penulisan artikel ini berupa tinjauan kepustakaan yang diperoleh dari berbagai sumber yang relevan. Diharapkan kepada perawat dan tim medis lain untuk melakukan perawatan pasien mulai dari persiapan pasien sebelum, selama serta setelah menjalani prosedur kateterisasi jantung dengan baik tanpa ada komplikasi selama dan setelah prosedur dilakukan.Kata kunci: perawatan, kateterisasi jantungABSTRACTCoronary heart disease is a heart disease caused by the presence of stenosis in coronary arteries. The degree of coronary artery stenosis can be assessed by examining the invasive diagnostic cardiac catheterization. This procedure will run well if nurses and other medical teams perform patient treatment start from the treatment and preparation of patient before, during, and after undergoing cardiac catheterization procedures. This study aimed to give knowledge and understanding the patient treatment before and after undergoing cardiac catheterization. This article is a literature review based on some relevant resources. It is recommended for nurses and others medical teams for doing good treatment for patient start from patient preparation before, during, and after undergoing cardiac catheterization procedure without complication during, and after the procedure. Keywords: treatment, cardiac catheterizatio
PENGARUH EFEKTIFITAS KONSELING TERHADAP DUKUNGAN SUAMI DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN KB DAN PEMILIHAN KONTRASEPSI
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh efektifitas konseling terhadap dukungan suami dalam pengambilan keputusan KB dan pemilihan kontrasepsi. Variabel independen dalam penelitian ini adalah pengaruh dari efektifitas konseling yang diberikan kepada suami dan variabeldependen adalah dukungan suami. Penelitian ini menggunakan desain quasi experimental, dengan Pretest-Postest non-Equivalent Control Group Design. Populasi dalam penelitian ini adalah para suami yang mempunyai istri dalam masa postpartum yang di rawat di RSUD Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. Jumlah sampel 62 orang, 31 orang kelompok intervensi dan 31 orang kelompok kontrol. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling dengan menggunakan rumus Slovin. Metode analisis yang digunakan untuk penelitian ini adalah Chi Square ()2 dan diolah dengan menggunakan software SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh dukungan suami sebelum dan setelah pemberian konseling pada kelompok intervensi P Value= 0,006, terdapat pengaruh dukungan suami antara sebelum dan setelah pemberian konseling pada kelompok intervensi P Value= 0,000, tidak ada pengaruh dukungan suami sebelum pemberian konseling pada kedua kelompok P Value= 0,611, tidak ada pengaruh dukungan suami setelah pemberian konseling pada kedua kelompok P Value= 0,192, ada perbedaan yang signifikan keikutsertaan KB antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol P Value= 1.000. Penelitian ini dapat digunakan sebagai sumber referensi bagi berbagai pihak untuk melaksanakan konseling secara efektif khususnya pada masyarakat yang masih menganggap KB adalah hal yang tabu untuk dibicarakan dan masih adanya pertentangan dalam budaya dan nilai agama.Kata Kunci : Konseling, dukungan suami, keputusan KB, kontrasepsiABSTRACTThe study aimed to know the effect of the effective counseling for the husband support in decision making and selection of contraceptive KB. The independent variable of this study is the impact of effective counseling which is provided for the husband and the dependent variable is the husband support. This study was used quasi experimental design, with Pretest-Posttest non-Equivalent Control Group Design. The population of this study is the husbands which had the postpartum wife and treated in RSUD Dr. Zainoel Abidin of Banda Aceh. The sample was 62 people, 31 people in the experimental group and 31 people in the control group. The samples were collected by using purposive sampling technique with using the Slovin formulate. Analysis method used in this study was Chi Square () 2 and it was processed by using SPSS software. The result of the study showed that there is an effect of the husband support before and after giving the counseling in the experimental group with P value= 0.006, there is an effect of the husband support before and after giving the counseling in the experimental group with P value= 0.000, there is no effect of the husband support before giving the counseling in both groups with P value= 0.192, there is significant different of the participation KB between the experimental and the control groups with P value= 1.000. This study can be used as the reference resource for all parties to do the effective counseling especially in the community which still think KB is taboo to talk, and there is still disagreement in the cultural and religious value.Keywords: Counseling, husband support, KB decisions, contraceptiv
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU DENGAN PERAWATAN LUKA EPISIOTOMI POST PARTUM DI RSIA
Banyak perempuan mengalami luka episiotomi setelah melahirkan, luka episiotomi membutuhkan perawatanyang baik agar mencapai kesembuhan yang maksimal dan tidak menimbulkan infeksi. Bila ibu memilikipengetahuan yang baik dan memiliki sikap yang positif terhadap perawatan luka maka luka akan sembuhpada hari ketujuh setelah persalinan, dan bila tidak dirawat dengan baik maka akan terjadi infeksi pada ibuPost partum. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dan sikap ibudengan perawatanluka episiotomi Post partum. Desain penelitian ini bersifat deskriptif korelasional danmenggunakan teknik pengambilan data dengan 51 sampel secara purposive sampling. Pengumpulan datadilakukan dari tanggal 4 September sampai dengan 4 Oktober 2012 di Rumah Sakit Ibu dan Anak PemerintahBanda Aceh Tahun 2012. Alat pengumpulan data dilakukan berupa kuesioner dalam bentuk skaladichotomos choise yang terdiri dari 7 pernyataan dan skala guttman yang terdiri dari 17 pernyataan, skalalikert yang terdiri dari 10 pernyataan. Didapatkan hasil bahwa ada hubungan antara tingkat pengetahuandengan perawatanluka episiotomi Post partum dengan p-value 0,009. Ada hubungan antara sikap denganperawatanluka episiotomi Post partum p-value 0,003. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, diharapkankepada tenaga kesehatan khususnya perawat agar dapat memberikan informasi secara akurat kepada ibu-ibunifas yang mengalami luka episiotomi tentang perawatanluka episiotomi Post partum terutama pada saat ibumau pulang kerumah.Kata kunci: pengetahuan, sikap, perawatan luka episiotomi
HANDOVER DALAM PELAYANAN KEPERAWATAN
ABSTRAKHandover yang tidak memadai dan tidak efektif sering sekali sebagai kegagalan pertama serta memiliki risiko tinggi dalam upaya menjaga keselamatan pasien. Handover (serah terima pasien) adalah proses pengalihan wewenang dan tanggung jawab utama untuk memberikan perawatan klinis kepada pasien dari satu pengasuh ke pengasuh yang lain, termasuk dokter jaga, dokter tetap ruang rawat, asisten dokter, praktisi perawat, perawat terdaftar, dan perawat praktisi berlisensi. Prinsip serah terima pasien, meliputi; kepemimpinan, pemahaman, peserta, waktu, tempat, dan proses serah terima pasien. Jenis serah terima pasien yang berhubungan dengan keperawatan, meliputi: serah terima pasien antar shift, serah terima pasien antar unit keperawatan, serah terima pasien antara unit perawatan dengan unit pemeriksaan diagnostik, serah terima pasien antar fasilitas kesehatan, dan serah terima obat-obatan. Pentingnya pemahaman perawat tentang serah terima pasien dalam pelayanan keperawatan dapat mencegah kerugian dalam keselamatan pasien yang disebabkan oleh kesalahan/hambatan karena faktor individu, kelompok, dan organisasi, maupun karena tatacara serah terima pasien yang tidak tepat.Kata kunci: Handover, Pelayanan Keperawatan.ABSTRACTHandover which is unadequate and inefective often occur as the first failure and high risk in maintaining patient safety. Handover is a major transfer of authority and responsibility to deliver clinical care for patient from one health service deliver to other health service delivers which include physician, WARD physician, physician assistants, nurse practitioners, registered nurses, nurse licensed practitioners. The handover principle includes leadership, undertanding, trainees, time, location, and handover process. Type of handover regards nursing involving handover of patients between shifts, handover of patients between nursing units, handover of patients between diagnostic examination units, handover of patients between health care facilities and handover of patients between medicine. It is important that nurses understanding of handover of patients may prevent disadvantage in patient safety which caused by misatake/barrier factors owing to individual, group, organization and procedure unappropriate of patients handover. Keywords: Handover, Nursing care
HUBUNGAN TERAPI RELIGIUS DENGAN STRESS PSIKOSOSIAL PADA LANJUT
ABSTRAKFaktor psikososial pada lanjut usia dapat menimbulkan permasalahan dan berpengaruh terhadap gangguan fisik, sosial, dan mental. Perubahan kondisi psikososial mengakibatkan terjadinya stress psikososial. Terapi religius adalah salah satu teknik yang dikembangkan untuk mengatasi stress yang dikenal dengan psikoreligius. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan terapi religius; bimbingan rohani; doa dan zikir; dan keyakinan dengan stress psikososial pada lanjut usia di UPTD Panti Sosial Meuligoe Jroh Naguna Banda Aceh 2010. Desain penelitian ini adalah deskriptif korelatif. Pengumpulan data mulai tanggal 29 Juni sampai dengan 2 Juli 2010. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling melalui pendekatan Cross Sectional Study dengan jumlah sampel 41 orang lansia. Alat pengumpulan data berupa kuesioner dalam bentuk skala likert. Analisa data dilakukan dengan univariat dan bivariat melalui uji statistik Chi-square test ( ). Hubungan terapi religius untuk bimbingan rohani dengan stress psikososial kategori baik (70,70%) (P value=0,029), doa dan zikir dengan stress psikososial katagori baik (63,4 %) (P value=0,038), keyakinan dengan stress psikososial katagori baik (69,5%) (P value=0,017), sehingga didapatkan nilai P value 0,05. Kesimpulan terdapat hubungan antara terapi religius (bimbingan rohani,doa dan zikir, keyakinan) dengan stress psikososial pada lanjut usia di UPTD Panti Sosial Meuligoe Jroh Naguna Banda Aceh. Kepada instansi terkait disarankan agar dapat mengoptimalkan keperawatan khususnya di bidang gerontik yang berkaitan dengan terapi religius terhadap lansia yang mengalami stress psikososial.Kata kunci: Terapi religius, stress psikososial, bimbingan rohani, doa dan zikir, keyakinan.ABSTRACTPsychosocial factor in elderly may create problems and affect to mental, social and physical disturbances. Psychosocial change results in psychosocial stress. Religious therapy is one of techniques which developed to overcome stress which known as psychoreligious. The study aims to identify relationship of religious therapy, spiritual guidance, dua and zikir and faith with psychosocial stress in elderly in UPTD Panti Sosial Meuligoe Jroh Naguna Banda Aceh 2010. The study design was correlative descriptive. Data were collected between 29th June and 2nd July 2010. Sampling technique was used purposive sampling method with cross sectional study approach and the number of sample was 41 elderly. Data collection tool used questionnaire in Likert scale. Data analysis was implemented by univariate and bivariate by means of Chi-square test ( ) statistics test. Relationship of religious therapy in spiritual guidance with psychosocial stress was in good category (70,70%) (P value=0,029), dua and zikir with psychosocial stress was in good category (63,4 %) (P value=0,038), faith with psychosocial stress was in good category (69,5%) (P value=0,017) thus P value 0,05. The conclusion shows relationship between religious therapy (spiritual guidance, dua and zikir, and faith) with psychosocial stress in elderly in UPTD Panti Sosial Meuligoe Jroh Naguna Banda Aceh. It is recommended that the institution optimizing nursing particulary in gerontic subject regards religious therapy for elderly facing psychosocial stress. Keywords: Religious therapy, psychosocial stress, spiritual guidance, doa and zikir, faith
PENERAPAN AKUPRESUR PADA TITIK P6 DAN ST36 UNTUK MENURUNKAN MUAL MUNTAH AKIBAT KEMOTERAPI PADA PASIEN KARSINOMA NASOFARING
ABSTRAKKanker merupakan salah satu penyakit yang insidennya meningkat setiap tahun, termasuk karsinoma nasofaring. Salah satu terapi yang dilakukan pada karsinoma nasofaring adalah kemoterapi dan sering sekali diberikan berupa kemoterapi kombinasi Cisplatin dengan obat kemoterapi lainnya. Efek samping yang sering muncul pada pemberian kemoterapi adalah mual muntah. Mual muntah merupakan hal yang membuat stress bagi pasien dan sering sekali menjadi alasan bagi pasien untuk memilih menghentikan siklus kemoterapi. Jika mual muntah tidak diatasi dengan benar, maka akan dapat menimbulkan dehidrasi, gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit serta resiko aspirasi peneumonia. Terapi farmakologis antiemetik biasa diberikan untuk mengatasi mual dan muntah, namun banyak pasien yang masih merasakan mual dan muntah. Oleh karena itu, perlu diberikan intervensi keperawatan atau terapi non farmakologis untuk meminimalkan mual muntah, yaitu akupresur. Studi ini bertujuan untuk memaparkan penerapan akupresur untuk meminimalkan mual muntah akibat kemoterapi pada pasien karsinoma nasofaring yang mendapatkan regimen kemoterapi kombinasi Cisplatin dan 5 Fluoroacil. Jumlah responden yang dikelola sebanyak 5 orang. Metode dalam studi adalah evidence based nursing practice dengan mengaplikasikan akupresur pada titik P6 dan St36 pada waktu 25 menit sebelum pemberian kemoterapi, selanjutnya diulangi setiap 8 jam, mulai hari pertama sampai hari kelima pemberian kemoterapi. Hasil penerapan terapi ini menunjukkan terjadi penurunan yang bermakna mual muntah setelah dilakukan akupresur bila dibandingkan pada siklus yang tidak dilakukan akupresur (t hitung = 2,53 t tabel = 2,30 pada = 0,05) . Disarankan kepada para perawat untuk mempelajari akupresur dan manajemen rumah sakit, untuk mempertimbangkan akupresur sebagai salah satu intervensi keperawatan untuk meminimalkan mual muntah akibat kemoterapi.Kata Kunci: akupresur, mual-muntah, kemoterapiABSTRACTCancer is one of diseases which insidence higher annually including nasopharyng carcinoma. One of therapies which implemented for nasopharyng carcinoma is chemotherapy and oftenly given chemotherapy combination Cisplatin with other chemotherapy drugs. Side effect occuring oftenly on chemotherapy intervention is nausea and vomit. nausea and vomit make stressful for patinets and be reason for patient to stop chemotherapy cyclus. If nausea and vomit are not well handled, it can occur dehydration, electrolyte and fluid balance disturbance and risk of pneumonia aspiration. Antiemetic farmacologic therapy usually given to overcome nausea and vomit, however many patients keep having nausea and vomit. Hence, it needs giving nursing intervention or non farmacologic therapy to decrease nausea and vomit i.e. accupressure. The study aims to explain accupressure application to decrease nausea and vomit of chemotherapy effect for patient with nasopharyng carcinoma that obtain chemotherapy regiment combination of Cisplatin and 5Fluoroacil. The number of respondents was 5 people. The method in the study is evidence based nursing practice by implementing accupressure on P6 and St36 25 minutes pre chemotherapy and afterwards repeatedly each 8 hours between the first day and the fifth day of chemotherapy implementation. The result of the therapy shows that significant decrease of nausea and vomit after accupressure application compared cycle which not obtained accupressure application (t hitung = 2,53 t table = 2,30 on = 0,05). It is recommended for nurses to learn accupressure and for hospital management to consider that accupressure as one of nursing interventions to decrease nausea and vomit of chemotherapy effects. Keywords: accupressure, nausea vomit, chemotherap
PENGARUH STRES, DUKUNGAN KELUARGA DAN MANAJEMEN DIRI TERHADAP KOMPLIKASI ULKUS KAKI DIABETIK PADA PENDERITA DM TIPE 2
ABSTRAKDiabetes Melitus (DM) tipe 2 merupakan salah satu penyakit kronis yang terjadi akibat pankreas tidak mampu memproduksi insulin atau ketika tingkat sensivitas tubuh terhadap insulin menurun. Penderita DM tipe 2 beresiko mengalami komplikasi sehingga penderita DM tipe 2 cenderung mengalami permasalahan- psikologis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh stres,dukungan keluarga dan manajemen diri terhadap komplikasi ulkus kaki diabetik pada penderita DM tipe 2. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan desain case control yang bersifat retrospektif, dan dilaksanakan di RSUD. Dr. Pirngadi Medan. Sampel penelitian adalah pasien DM tipe 2 dengan dan tanpa komplikasi ulkus kaki diabetik yang berjumlah 80 orang pasien( 40 orang kasus dan 40 orang kontrol) yang diambil dengan teknik purposive sampling dan menggunakan kuesioner sebagai instrumen penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat pengaruh stres (p value= 0,000), dukungan keluarga (p value= 0,007) dan manajemen diri (p value= 0,000) terhadap komplikasi ulkus kaki diabetik pada penderita DM tipe 2. Sedangkan variabel yang paling mempengaruhi terjadinya komplikasi ulkus kaki diabetik pada penderita DM tipe 2 adalah stres yang tinggi dengan OR 7.757, CI 95% ( 2.590-22.151). Diharapkan dengan adanya penelitian ini perawat hendaknya memberikan dukungan untuk menghindari stres, menjaga kestabilan gula darah, meningkatkan manajemen diri sehingga terhindar dari komplikasi ulkus kaki diabetik.Kata Kunci : DM tipe 2, ulkus kaki diabetik, stres, dukungan keluarga, manajemen diriABSTRACTDiabetes Melitus Type 2 are risky to have some complication that they tend wich have a psychological problem, such as stress which can influence their abilities to manage themselves that stress management family support are needed to improve self management to prevent some complication related to diabetes and maintainance their life quality. The objectivitas of research are to find out the influences of stress, family support and self management toward complication of diabetic foot ulcer of sufferers of DM type 2. The research is a quantitative with a retrospective case contolled design carried out in RSUD Dr. Pirngadi Medan. The sample is 80 sufferers ( 40 case and 40 controled) of DM type 2 with or without any complication of diabetic foot ulcers determined by purposive sampling and questionnaires as the research instrumens. The research result show there are influences of stress (p value= 0,000, family support (p value= 0,007) and self management ( p value= 0,000) towards the complication of diabetic foot ulcer of sufferers of DM type 2. The most influential variables that cause the complication of diabetic foot ulcer ofsufferers of DM type 2 are stres with OR 7.575, CI 95% ( 2.590-22.151). Hopefully with this research nurses should continue to provide support to patients to avoid stress conditions , maintain stable blood sugar levels , improve management themselves , so avoid the complications of diabetic foot ulcers.Keywords: DM type 2, diabetic foot ulcers, stress, family support, self managemen
HUBUNGAN STIGMA, DEPRESI DAN KELELAHAN DENGAN KUALITAS HIDUP PASIEN HIV/AIDS DI KLINIK VETERAN MEDAN
ABSTRAKKualitas hidup pada pasien HIV/AIDS sangat penting untuk diperhatikan karena penyakit infeksi ini bersifat kronis dan progresif sehingga berdampak luas pada segala aspek kehidupan baik fisik, psikologi, sosial maupun spiritual. Stigma dan diskriminasi terhadap ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) masih menjadi masalah di dalam upaya pengendalian HIV/AIDS di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan stigma, depresi dan kelelahan dengan kualitas hidup pasien HIV/AIDS. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional, populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penderita HIV/AIDS yang datang berkunjung ke Klinik Veteran yang berjumlah 78 orang dan sampel sebanyak 78 responden.Pengambilan data dilakukan oleh peneliti menggunakan kuisoneryang dibantu oleh petugas dari Klinik Veteran, LSM dan petugas lapangan (konselor)atau pendamping pasien yang sebelumnya dilatih terlebih dahulu untuk pengisian kuisioner, Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengukur kualitas hidup adalah WHOQOL-HIV BREF yang telah dimodifikasi, untuk mengukur stigma menggunakan skala Berger, sedangkan depresi diukur dengan kuisioner The Center For Epidemiologycal Studies Depression Scale (CES-D) dan fatigue (kelelahan) diukur dengan menggunakan kuisioner dari skala fatigue yang dimodifikasi dari HIV-Related Rating Fatigue Scale (HRFS). Analisa data pada analisis bivariat menggunakan uji korelasi Pearson, sedangkan analisis multivariat menggunakan uji korelasi berganda (regresi linear berganda). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan berjumlah 47 orang (60,3%), berpendidikan tinggi yaitu 50 orang (64,1%), memiliki pekerjaan wiraswasta berjumlah 37 orang (47,4%), berstatus menikah lebih banyak yaitu 46 orang (59%), dan mayoritas lama menderita HIV/AIDS responden 2 tahun yaitu 29 orang (37,2%). Pada analisa korelasi didapatkan adanya hubungan yang bermakna antara stigma, depresi, kelelahan dengan kualitas hidup (p=-0,59, p=-0,59, p=-0,39). Selanjutnya hasil uji regresi linier menunjukkan bahwa variabel depresi yang paling dominan terhadap kualitas hidup dengan coefisien correlation = 0,40. Kesimpulan dari penelitian ini terdapat hubungan yang signifikan antara stigma dan depresikelelahan dengan kualitas hidup pasien HIV/AIDS dengan kekuatan sedang pada stigma dan depresi sedangkan pada kelelahan memiliki kekuatan lemah denganarah korelasi negatif, yang berarti semakin tinggi stigma, depresi dan kelelahan maka semakin rendah kualitas hidup.Variabel depresi adalah variabel yang paling berpengaruh terhadap kualitas hidup pasien HIV/AIDS dengan nilai koefisien korelasi 0,63.Rekomendasi dari penelitian ini adalah perlu dilakukan pendekatan pada tokoh-tokoh adat dan tokoh-tokoh agama untuk memberikan penjelasan yang baik terkait stigma yang masih dirasakan oleh pasien HIV/AIDS agar masyarakat bisa menerima ODHA dengan baik serta perlu dilakukannya intervensi keperawatan secara mandiri dan kolaboratif pada pasien yang mengalami depresi seperti terapi cognitive-behavior (untuk meningkatkan harga diri pasien dengan cara memberikan harapan tentang hal-hal yang masih dapat dilakukan pasien.Kata kunci: stigma, depresi, kualitas hidup HIVABSTRACTQuality of life of patients with HIV/AIDS has to be headed since this infectious diseases is chronic and progressive so that it widely spread to all physical, psychological, social, and spiritual aspects life. The stigma and discrimination toward ODHA (people life with HIV/AIDS) is still the problem in handling HIV/AIDS in Indonesia. The objective of the researchwas to determine the relationship of stigma, depression, and fatigue with quality of life among HIV/AIDS patients, population in this study were all HIV/AIDS patients who come to visit the Veterans Clinic totaling 78 people and a sample of 78 respondents. Data were collected by researchers using questionnaire assisted by officers from the Clinic Veteran, NGOs and field personnel (counselors) or escort patients who previously trained prior to filling the questionnaire, research instrument used to measure the quality of life is WHOQOL-HIV BREF has been modified, using a scale to measure stigma Berger, whereas depression was measured by questionnaire Epidemiologycal The Center For Studies Depression Scale (CES-D) and fatigue (tiredness) were measured using a questionnaire of fatigue modified scale of HIV-Related Fatigue Rating Scale (HRFS). Analysis of data on bivariate analysis using Pearson correlation test, whereas multivariate analysis using multiple correlation test (multiple linear regression). The research used cross sectional design. The samples consisted of 78 respondents. He result of the research showed that 47 respondents (60,30%) were females, 66 respondents (84,6%) were senior high school graduates, 37 respondents (47,40%) were entrepreneurs, 46 respondents (59%) were married, and 29 respondents (37,2%) underwent HIV/AIDS more than 2 years. He result of correlation test showed that these was significant correlation of stigma, depression, and fatigue with quality of life (p=-0,59, -0,59, -0,39). The result of linear regression analysis showed that the variable of depression had the most dominant correlation with quality of life at coefficient correlation =0,40. The conclusion of this study there is a significant relationship between stigma and depression fatigue with the quality of life of patients with HIV/AIDS with the power being on stigma and depression while on the fatigue strength is weak with the direction of the correlation is negative, which means the higher the stigma, depression and fatigue, the lower quality of life. Depression variables are variables that most affect the quality of life of patients with HIV / AIDS with a correlation coefficient of 0.63. Recommendations from this study is necessary to approach the traditional leaders and religious leaders to give a good explanation related to the stigma that is still felt by patients with HIV / AIDS so that people can accept people living with HIV are well and need to do the nursing interventions independently and collaboratively on patients with depression such as cognitive-behavioral therapy (to improve the self-esteem of patients by giving hope about things that can still be done the patient.Keyword : stigma, depression, quality of life HIV
PERSEPSI NILAI PROFESIONAL PASIEN RAWAT INAP DENGAN LOYALITAS BERKUNJUNG KEMBALI
ABSTRAKNilai profesional sangat penting dalam memenuhi peningkatan jumlah pasien yang berkunjung ke rumah sakit, karena merupakan salah satu indikator loyalitas pasien untuk kembali di sebuah rumah sakit. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji korelasi antara profesional pasien rawat inap dengan loyalitas berkunjung kembali. Sampel penelitian adalah 98 orang pasien rawat inap yang diambil dengan cara konsekutif sampling. Instrumen yang digunakan kuisioner data demografi, nilai profesional dan loyalitas pasien berkunjung kembali. Uji hipotesis dengan menggunakan Chi-square. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh bahwa persepsi nilai profesional rumah sakit berada pada kategori baik (85,7%), dan untuk loyalitas pasien berkunjung kembali mayoritas loyal (80,6%). hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara nilai profesional pasien rawat inap dengan loyalitas pasien berkunjung kembali dengan nilai p-value 0,000. Semakin baik nilai profesional pasien rawat inap maka akan semakin tinggi pula tingkat loyalitas pasien untuk berkunjung kembali. Disarankan kepada pihak rumah sakit untuk mengevaluasi pelayanan yang diberikan kepada pasien dan membuat kebijakan dalam pemberian pelayanan sehingga pasien merasa puas dan loyal untuk berkunjung kembali.Kata kunci: nilai profesional, loyalitasABSTRACTProfessional value is very important in fulfilling the increase in the number of patients who visit a hospital because it is one of the indicators in motivating patients to revisit a hospital. The objective of the research was to verify the correlation between inpatients professional values and loyalty to revisit. The samples were 98 inpatients, taken by using consecutive sampling technique. The instruments were questionnaires of demographic data, professional values and loyalty to revisit. The result of the research showed that the hospital professional was in good category (85,7%), and inpatients loyalty to revisit was in loyalty category (80,6%). This indicated that there was the correlation between inpatients professional and their loyalty to revisit at p-value = 0,000. The better the inpatients professional values were the higher their loyalty to revisit. It is recommended that the management of the hospital evaluate the service to patients and make a policy in providing service for patients in order that they will be satisfied and loyalty to revisit.Keywords: Loyalty, Professional Value