AdMathEdu : Mathematics Education, Mathematics, and Applied Mathematics Journal
Not a member yet
204 research outputs found
Sort by
MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA SMP
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Bagaimana peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa setelah diterapkannya Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) di SMP Negeri 12 Palembang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan rancangan Pretest and Posttest Group. subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII.2. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan tes dimana teknik analisis datanya menggunakan gain ternormalisasi. Berdasarkan hasil analisis uji N-Gain data tes awal (pretest) dan tes akhir (postest) diperoleh indeks gain 0,62 yang interpretasinya sedang dengan nilai rata-rata Pretest yaitu 55,64 dan nilai rata-rata Posttest yaitu 83,32. Maka dapat disimpulkan peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa setelah diterapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) di SMP Negeri 12 Palembang di katagorikan sedang
BEBERAPA IDENTITAS BARISAN FIBONACCI DAN LUCAS
Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki hubungan antara barisan Fibonacci dan Lucas, dan membuktikan identitas-identitas barisan Fibonacci dan Lucas. Barisan Fibonacci dan Lucas merupakan barisan rekursif yang mempunyai aturan yang sama namun memiliki nilai awal yang berbeda. Dalam penelitian ini, akan dibahas beberapa identitas yang melibatkan kedua barisan tersebut, serta satu identitas yang berkaitan dengan segitiga Pascal
GOOGLE SLIDE DAN QUIZIZZ DALAM PENGEMBANGAN BUKU AJAR ELEKTRONIK INTERAKTIF (BAEI) MATEMATIKA
This study aims to determine the attractiveness and feasibility and effectiveness of learning implemented using interactive electronic textbooks (BAEI) assisted by Google slides and quizizz on the matrix material. This research method is research and development (R&D) with the Borg and Gall development model. There are 10 stages in this development namely 1) Potential and problems, 2) Data collection, 3) Product design, 4) Design validation, 5) Design revision, 6) Product trial, 7) Product revision, 8) Trial usage. 9) Product revision, 10) Mass production. Data collection instruments used were questionnaires given to material experts and media experts to determine product viability, and were given to students to find out the attractiveness of products that had been developed as well as pretest and posttest test instruments. The results of data analysis obtained from material experts and media experts stated that teaching materials developed were feasible to be used by obtaining "Valid" criteria with an average score of material experts of 3.76 and media experts of 3.48. Then the students' response to the electronic textbook (BAEI) in small group trials and large group trials (field) obtained the criteria of "Very Attractive" with the average score on the small group trial of 3.28 and the average results the score of large groups (field) is 3.49. The results of the effectiveness test analysis using effect sizes on the pretest and posttest obtained an average score of 0.72 and included in the medium category
ANALISIS KEMAMPUAN KONEKSI MATEMATIS SISWA DALAM MENYELESAIKAN MASALAH PADA MATERI PERBANDINGAN
Koneksi matematis adalah kemampuan mengaitkan konsep-konsep matematika. Kemampuan tersebut membuat pengetahuan siswa lebih mendalam sehingga siswa dapat mengkaitkan konsep-konsep yang dapat digunakan dalam penyelesaian masalah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan koneksi matematis siswa SMP pada materi perbandingan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes dan wawancara. Sampel terdiri dari 22 siswa kelas VIIB SMP Negeri 2 Salo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa mampu menghubungkan topik-topik antar matematika dengan persetase sebanyak 90,91%, siswa mampu menggunakan matematika dalam pelajaran lain sebanyak 68,18%, dan siswa mampu menggunakan matematika dalam kehidupan sehari-hari sebanyak 81,82%. Kesimpulannya kemampuan koneksi matematis siswa kelas VII SMP tergolong tinggi. Implikasinya guru harus lebih kreatif merancang kegiatan pembelajaran yang dapat memfasilitasi kemampuan koneksi matematis siswa untuk lebih meninngkatkan memampuan koneksi matematis siswa pada setiap materi pembelajaran
PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN MATHEMATICAL HABITS OF MIND (MHM) TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA SMP
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh strategi pembelajaran Mathematical Habits of Mind (MHM) terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa SMP. Indikator kemampuan pemecahan masalah matematis berdasarkan tahap Polya adalah: (1) Mengetahui apa yang diketahui dan ditanyakan pada masalah (2) Menyederhanakan masalah, mampu membuat eksperimen dan simulasi, mampu mencari subtuju, dan mengurutkan informasi. (3) Mengartikan masalah dalam bentuk kalimat matematika, dan melaksanakan strategi selama proses dan penghitungan berlangsung. (4) Mengecek semua informasi dan penghitungan yang terlibat, mempertimbangkan solusi yang diperoleh logis, melihat alternatif penyelesaian yang lain, membaca pertanyaan kembali, dan bertanya kepada diri sendiri bahwa pertanyaan sudah terjawab. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan pendekatan kuantitatif. Dalam penelitian ini responden dikelompokan menjadi dua, terdiri dari dua kelas yaitu kelas VII A dan VII B dengan masing-masing kelas 22 siswa. Kelompok pertama adalah kelompok eksperimen, yaitu dengan menggunakan strategi pembelajaran MHM berbasis kemampuan pemecahan masalah. Kelompok kedua adalah kelompok kontrol yaitu dengan menggunakan strategi pembelajaran ekspositori. Pengujian hipotesis menggunakan uji t, hasil perhitungan diperoleh H0 ditolak. Sehingga diperoleh bahwa ada pengaruh strategi pembelajaran MHM terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis siswa SMP
KEMAMPUAN KONEKSI MATEMATIS SIAPA YANG LEBIH TINGGI: GURU KELAS VERSUS GURU MATAPELAJARAN?
Salah satu pendekatan pembelajaran yang dapat dipilih oleh guru yang mengajarkan matematika pada kelas tinggi (kelas IV, V, dan VI) adalah dengan mengaitkan atau mengkoneksikan matematika. Koneksi matematis adalah keterkaitan antara topik matematika, keterkaitan antara matematika dengan disiplin ilmu lain, dan keterkaitan matematika dengan dunia nyata atau kehidupan sehari-hari. Pada penelitian ini dikaji kemampuan koneksi matematis yang dimiliki guru kelas tinggi pada topik aljabar yang diukur dengan soal kontekstual serta faktor yang mempengaruhinya. Populasi yang diteliti dalam penelitian ini adalah guru madrasah ibtidaiyah se-karesidenan Surakarta, baik negeri maupun swasta yang mengajar matematika pada kelas tinggi. Sedangkan sampel sejumlah 65 diambil secara acak dari populasi dengan menggunakan teknik penarikan sampel kluster. Teknik analisis statistika yang digunakan adalah statistika deskriptif dan eksploratif serta analisis regresi logistik ordinal. Pada kemampuan koneksi matematis dengan disiplin ilmu lain hampir separuh (43,6%) guru kelas mampu menjawab pada level tertinggi (jawaban lengkap). Jumlah yang jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan banyaknya guru matapelajaran/ mapel yang hanya kurang dari seperlimanya saja (17,4%). Peubah penjelas yang dimasukkan kedalam model, yaitu peubah status guru (guru kelas dan guru mapel) tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap level jawaban guru pada soal kemampuan koneksi matematis antar topik dan pada soal kemampuan koneksi matematis dengan dunia nyata atau kehidupan sehari-hari. Namun peubah penjelas status guru memberikan pengaruh yang signifikan terhadap level jawaban guru pada soal kemampuan koneksi matematis dengan disiplin ilmu lain. Berdasarkan hasil analisis regresi logistik ordinal diperoleh besar penduga rasio odds sebesar 0,275. Penduga odds bahwa jawaban guru kelas pada arah jawaban level rendah daripada arah jawaban level tinggi sebesar 0,275 kali penduga odds untuk guru mapel. Dengan demikian, jawaban guru kelas pada level rendah lebih sedikit jika dibandingkan jawaban guru mapel. Selanjutnya, berdasarkan selang kepercayaan 95% dari nilai rasio odds, dapat dijelaskan bahwa guru yang berstatus guru kelas mempunyai peluang lebih kecil (sebesar 0,103- 0,734 kali), jika dibandingkan dengan guru berstatus guru mapel untuk menjawab pada level rendah, pada soal yang mengukur kemampuan koneksi matematis dengan disiplin ilmu lain
ANALISIS KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA KELAS VIII PADA MATERI BANGUN RUANG SISI DATAR
Rendahnya kemampuan pemecahan masalah matematis siswa terlihat dari hasil ujian nasional SMP tahun 2018 pada mata pelajaran matematika yaitu 50,52%. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah matematika berdasarkan teori polya yang terdiri dari: (1) understanding, (2) planning, (3) solving, dan (4) checking. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif Teknik pengumpulan data dengan metole tes dan wawancara. Instrumen yang digunakan 2 soal yang merupakan masalah matematika yang terkait dengan luas permukaan dan volume bangun ruang sisi datar. Subjek yang diteliti adalah siswa kelas VIII sebanyak 23 orang. Hasil penelitian ini adalah pada kelompok siswa tinggi, sedang dan rendah memiliki rata-rata kemampuan pemecahan masalah berturut-turut pada tahap understanding yaitu 83%, 82% dan 75%, tahap planning 75 % , 08,5 % dan 58,5, tahap solving 67 % , 58,5 dan 41,5 % , tahap checking 50 %, 39 % dan 17 %. Pada siswa tinggi memiliki kemampuan pemecahan masalah sangat baik pada tahap understanding, planning dan solving, namun sebagian kecil siswa yang melakukan pada tahap pengecekan. Pada siswa sedang memiliki kemampuan pemecahan masalah baik pada tahap understanding dan planning, namun kesulitan dalam tahap solving dan pengecekan. Pada siswa rendah mengalami kesulitan pada tahap perencanaan, penyelesaian dan pengecekan. Hal ini disebabkan oleh sebagian siswa belum memahami konsep bangun ruang sisi datar. Diharapkan kepada guru untuk menggunakan media dan memberikan penekanan pada pemahaman konsep bangun ruang sisi datar pada saat proses pembelajaran berlangsung dan mengaitkannya dalam kehidupan sehari-hari
PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN POLA BILANGAN DENGAN MODEL PEMBELAJARAN IKRAR BERORIENTASI PENDIDIKAN KARAKTER UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH SISWA
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik perangkat pembelajaran IKRAR berorientasi pendidikan karakter serta mendeskripsikan kualitasnya dari segi validitas, kepraktisan dan efektifitasnya untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa dan sikap kerja keras. Jenis penelitian ini adalah penelitian desain dengan prosedur pengembangan oleh Plomp yang terdiri dari 3 fase, yaitu Fase Preliminary Research, Fase Prototyping, dan Fase Assessment. Subjek penelitian adalah siswa kelas VIII di SMP Negeri 8 Denpasar tahun ajaran 2018/2019. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan berupa buku siswa dan buku petunjuk guru. Buku siswa yang dimaksud adalah buku matematika yang membahas materi pola bilangan. Penyajian materi disesuaikan dengan langkah-langkah model pembelajaran IKRAR yaitu Inisiasi, Konstruksi-rekonstruksi, Aplikasi, dan Refleksi. Buku petunjuk guru mempunyai komponen-komponen berupa petunjuk penggunaan buku, persiapan mengajar, dan sajian bahan ajar. Data validitas perangkat didasarkan pada pendapat pakar menggunakan lembar validasi perangkat. Data kepraktisan perangkat didasarkan pada data keterlaksanaan perangkat pembelajaran, respon siswa, dan respon guru. Sedangkan data keefektifan perangkat pembelajaran dikumpulkan menggunakan tes kemampuan pemecahan masalah matematika. Data yang telah dikumpulkan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran yang dikembangkan telah memenuhi kriteria validitas, kepraktisan, dan efektivitas yang diharapkan. Hasil dari penelitian menggunakan perangkat pembelajaran tersebut menunjukkan peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika pada materi pola bilangan. Karakteristik pada buku siswa antara lain: (1) pada setiap pokok bahasan mengedepankan adanya pembelajaran konstruktivis yang didasarkan atas langkah-langkah IKRAR yaitu inisiasi, konstruksi-rekontsruksi, aplikasi, dan refleksi, (2) pada buku siswa ini, memuat pertanyaan-pertanyaan efektif yang dapat membantu siswa dalam proses pemecahan masalah matematika, (3) pada setiap tahapan pembelajaran menekankan pada karakter kerja keras. Sedangkan buku petunjuk guru memiliki karakteristik: (1) pada setiap pokok bahasan memuat instruksi langkah-langkah pembelajaran yang dapat memudahkan guru dalam pencapaian tujuan pembelajaran, (2) pada buku ini, memuat alternatif-alternatif tindakan serta dilengkapi alternatif penyelesaian
PENDUGAAN PARAMETER MODEL HIDDEN MARKOV DISKRIT
Model Hidden Markov Diskrit dengan waktu diskrit (Elliott et al. 1995) merupakan model pasangan penyebab kejadian dan proses observasi. Model ini mengasumsikan penyebab kejadian sebagai rantai Markov waktu diskrit, yang diamati secara tidak langsung. Proses observasi berskala diskrit dan kejadian yang akan datang dipengaruhi oleh penyebab kejadian saat ini. Parameter model ini adalah matriks probabilitas transisi penyebab kejadian, vektor c dan vektor σ dari proses observasi; parameter tersebut diduga dengan menggunakan metode Maximum Likelihood dan pendugaan ulang dengan metode Expectation Maximization yang melibatkan perubahan ukuran. Kedua metode tersebut menghasilkan algoritma pendugaan parameter model
DESAIN SOAL MATEMATIKA MODEL PISA PADA KONTEN SPACE AND SHAPE UNTUK MENGETAHUI KEMAMPUAN PENALARAN SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA
Peringkat PISA matematika Indonesia terus menurun. Peringkat terendah diperoleh Indonesia pada tahun 2012, yaitu peringkat 64 dari 65 negara yang berpartisipasi dalam PISA matematika. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan siswa Indonesia dalam hal literasi matematika masih rendah, termasuk kemampuan penalaran matematis. Salah satu cara untuk mengetahui kemampuan penalaran matematis adalah melalui soal-soal matematika model PISA. Tujuan dari penelitian ini untuk menghasilkan soal PISA konten space and shape yang valid untuk mengetahui kemampuan penalaran matematis siswa sekolah menengah pertama. Subjek penelitian adalah siswa SMP Negeri 4 Lubuklinggau kelas IX yang berumur maksimal 15 tahun. Penelitian ini dibatasi hanya sampai tahap one-to-one. Dalam penelitian ini dihasilkan prototipe I soal PISA konten space and shape untuk mengetahui kemampuan penalaran matematis siswa sekolah menengah pertama