JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan)
Not a member yet
    226 research outputs found

    BERAWAL DARI RUMAH: STUDI KORELASIONAL ANTARA POLA PENGASUHAN PENERIMAAN-PENOLAKAN DENGAN KECERDASAN MORAL REMAJA

    Full text link
    Abstrak Peningkatan fenomena kenakalan remaja yang mengindikasikan lemahnya pemahaman moral dan nilai sosial. Pengasuhan orang tua diyakini sebagai faktor penting dalam membentuk kecerdasan moral, karena melalui hubungan emosional dan pola asuh yang diterapkan, anak belajar membedakan antara perilaku yang benar dan yang salah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pengasuhan orang tua dengan kecerdasan moral remaja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan jumlah responden sebanyak 208 siswa dari dua sekolah menengah pertama negeri di Jakarta Timur. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling, sementara data dikumpulkan melalui kuesioner skala Likert dan dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara pengasuhan dengan kecerdasan moral remaja dengan nilai r=0,418 dan p=0,000 (p<0,01). Mayoritas responden (84%) mengalami pola pengasuhan dengan tingkat penerimaan tinggi, sementara 16% mengalami pola pengasuhan penolakan. Selain itu, seluruh dimensi kecerdasan moral, meliputi empati, hati nurani, kontrol diri, rasa hormat, kebaikan hati, toleransi, keadilan, dan kehangatan, berada pada kategori tinggi. Pola pengasuhan yang penuh kasih dan penerimaan emosional merupakan fondasi utama bagi pengembangan kecerdasan moral remaja. Implikasi penelitian ini menegaskan perlunya sinergi antara keluarga dan sekolah dalam memperkuat pendidikan karakter berbasis nilai moral serta pentingnya program parenting education yang menekankan pengasuhan positif dan humanistik. Abstract The increasing phenomenon of juvenile delinquency reflects a weakening of moral understanding and social values among adolescents. Parental upbringing is a crucial factor in shaping moral intelligence, as children learn through emotional bonds and parenting practices to distinguish between right and wrong behaviors. This study aims to analyze the relationship between parental parenting patterns and adolescents' moral intelligence. The research employed a quantitative correlational approach involving 208 students from two public junior high schools in East Jakarta, Indonesia. The sampling technique used was simple random sampling, while data were collected through a Likert-scale questionnaire and analyzed using the Pearson Product-Moment correlation test. The results revealed a positive and significant relationship between parenting and adolescents' moral intelligence, with a correlation coefficient of r=0,418 and a significance level of p=0,000 (p<0,01). The majority of respondents (84%) experienced a parenting pattern characterized by high acceptance, while 16% experienced parental rejection. Furthermore, all dimensions of moral intelligence, empathy, conscience, self-control, respect, kindness, tolerance, fairness, and warmth, were categorized as high. A parenting style grounded in affection and emotional acceptance provides the fundamental foundation for adolescents' moral intelligence. The implications of this study highlight the need for a collaboration program between families and schools to strengthen character education grounded in moral values, as well as the importance of parenting education programs that emphasize positive, humanistic parenting practices

    KEPUASAN RESPON PENGGUNA TERHADAP KESESUAIAN DAN EFEKTIVITAS BUKU FAMILY LIFE EDUCATION SEBAGAI SUMBER BELAJAR

    Full text link
    Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kepuasan respon pengguna terhadap kesesuaian dan efektivitas buku ajar Family Life Education yang dikembangkan sebagai sumber belajar pada mata kuliah Ilmu Kesejahteraan Keluarga. Pengembangan buku ajar dilakukan dengan pendekatan model ADDE yang meliputi tahapan analisis kebutuhan, perancangan, pengembangan, dan evaluasi produk. Identifikasi kebutuhan dilakukan melalui observasi dan wawancara dengan dosen pengampu dan mahasiswa untuk memperoleh gambaran mengenai kekurangan media pembelajaran yang tersedia. Buku ajar yang dihasilkan memuat materi Family Life Education yang terintegrasi dengan nilai karakter, disusun secara sistematis sesuai capaian pembelajaran, serta dilengkapi dengan ilustrasi dan contoh aplikatif di kehidupan keluarga. Validasi ahli terhadap isi, kebahasaan, dan penyajian buku menunjukkan bahwa buku layak digunakan sebagai sumber belajar. Uji terbatas kepada mahasiswa menghasilkan persentase kepuasan rata-rata sebesar 94%, meliputi aspek kemudahan penggunaan, efektivitas dalam mendukung proses pembelajaran, relevansi materi, dan kualitas visualisasi. Mahasiswa menyatakan materi mudah dipahami, dapat membantu pembelajaran mandiri maupun diskusi, serta memberikan wawasan aplikatif tentang konsep Family Life Education. Saran perbaikan yang diajukan pengguna meliputi penambahan konten interaktif seperti QR Code dan penyederhanaan bahasa agar buku dapat diakses oleh kalangan non-akademik. Secara keseluruhan, buku ajar ini dinyatakan sangat sesuai dan efektif sebagai sumber belajar, dapat direkomendasikan untuk digunakan lebih luas, serta membuka peluang pengembangan selanjutnya guna meningkatkan kualitas dan pengalaman belajar mahasiswa serta penguatan pendidikan keluarga.   Abstract This study aims to evaluate user satisfaction regarding the suitability and effectiveness of the Family Life Education (FLE) textbook developed as a learning resource in the Family Welfare Science course. The textbook was developed using the ADDE model, which includes the stages of needs analysis, design, development, and product evaluation. Needs identification was carried out through observations and interviews with lecturers and students to gain insights into the shortcomings of available learning media. The resulting textbook contains Family Life Education material integrated with character values, systematically organized according to learning outcomes, and complemented by illustrations and practical examples from family life. Expert validation of the book’s content, language, and presentation showed that it is suitable for use as a learning resource. Limited trials with students yielded an average satisfaction rate of 94%, covering aspects such as ease of use, effectiveness in supporting the learning process, material relevance, and quality of visualization. Students reported that the material was easy to understand, helpful for independent and group learning, and provided practical insights into the concept of Family Life Education. Suggestions for improvement from users include adding interactive content such as QR Codes and simplifying the language so that the book can be accessed by non- academic readers as well. Overall, this textbook is deemed highly suitable and effective as a learning resource, is recommended for broader use

    MINDFULNESS, SOCIAL SUPPORT, AND ELDERLY QUALITY OF LIFE

    Full text link
    Abstract The quality of life of the elderly can be influenced by mindfulness which is a person's awareness to accept his life and social support from family, friends, and special people. This study aims to analyze the effect of mindfulness and social support on the quality of life of the elderly. The study involved 66 elderlies, consisting of 33 elderlies in Sindang Barang Village, Bogor City and 33 elderlies in Ciasmara Village, Bogor Regency. The study used a cross-sectional design with purposive sampling according to the research criteria, namely elderly widows who live with children. Mindfulness and social support of urban and rural elderly are categorized as low, while quality of life is categorized as good. There were no differences between urban and rural widowed elderly in mindfulness and social support, but there were differences in quality of life. Rural elderly has a better quality of life than urban. Correlation tests showed that family support was related to quality of life. Regression tests showed family support had a positive effect on quality of life. In widowed elderly, high family support will improve their quality of life. Abstrak Kualitas hidup lansia dapat diperngaruhi oleh mindfulness yang merupakan kesadaran seseorang untuk menerima hidupnya serta dukungan sosial dari keluarga, teman, dan orang spesial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh mindfulness dan dukungan sosial terhadap kualitas hidup lansia. Penelitian melibatkan 66 lansia, terdiri dari 33 lansia di Kelurahan Sindang Barang Kota Bogor dan 33 lansia di Desa Ciasmara Kabupaten Bogor. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan purposive sampling sesuai kriteria penelitian, yaitu lansia janda yang tinggal bersama anak. Mindfulness dan dukungan sosial lansia perkotaan dan pedesaan berkategori rendah, sedangkan kualitas hidup berkategori baik. Tidak ada perbedaan antara lansia janda di perkotaan dan pedesaan pada mindfulness dan dukungan sosial, namun terdapat perbedaan pada kualitas hidup. Lansia pedesaan memiliki kualitas hidup lebih baik daripada perkotaan. Uji korelasi menunjukkan dukungan keluarga berhubungan dengan kualitas hidup. Uji regresi menunjukkan dukungan keluarga berpengaruh positif terhadap kualitas hidup. Pada lansia janda, tingginya dukungan keluarga akan meningkatkan kualitas hidupnya

    ANALISIS MODAL SOSIAL DAN PENGARUHNYA TERHADAP KESEJAHTERAAN OBJEKTIF KELUARGA PADA PENGHUNI RUSUNAWA PENJARINGAN

    Full text link
    Abstrak Mayoritas penghuni Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Penjaringan memiliki penghasilan yang rendah dan tidak stabil, sehingga tingginya biaya hidup di perkotaan berdampak signifikan terhadap kesejahteraan keluarga, khususnya bagi kelompok ekonomi rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh modal sosial terhadap kesejahteraan objektif keluarga dengan menggunakan pendekatan kuantitatif asosiatif. Penelitian dilaksanakan pada Januari hingga Juli 2025 dengan teknik quota sampling terhadap 130 kepala keluarga yang tinggal di Rusunawa Penjaringan dan memiliki struktur keluarga lengkap. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner yang dibagikan langsung kepada responden, dan dianalisis menggunakan regresi logistik biner. Hasil analisis menunjukkan bahwa modal sosial berpengaruh signifikan terhadap kesejahteraan objektif keluarga (p = 0,002), dengan nilai Nagelkerke R Square sebesar 0,625 yang mengindikasikan bahwa 62,5% variasi kesejahteraan objektif dapat dijelaskan oleh modal sosial. Sebanyak 107 dari 130 responden tergolong sejahtera, yang didukung oleh tingginya modal sosial, terutama pada dimensi kepercayaan yang menjadi komponen tertinggi. Kepercayaan yang tinggi antarwarga berperan penting dalam memperoleh dukungan sosial dan membantu keluarga bertahan dalam kondisi ekonomi yang terbatas. Abstract Most residents in the Penjaringan Public Rental Housing have low and unstable incomes, making the high cost of living in urban areas a significant burden on family well-being, particularly among low-income groups. This study aims to analyze the influence of social capital on the objective well-being of families using a quantitative associative approach. The research was conducted from January to July 2025, employing quota sampling with a total of 130 household heads residing in Rusunawa Penjaringan who have complete family structures. Data were collected through questionnaires distributed directly to respondents and analyzed using binary logistic regression. The results indicate that social capital has a significant effect on the objective well-being of families (p = 0.002), with a Nagelkerke R Square value of 0.625, suggesting that 62.5% of the variation in objective well-being can be explained by social capital. A total of 107 out of 130 respondents were categorized as well-off, supported by high levels of social capital, particularly in the trust dimension, which emerged as the strongest component. High levels of trust among residents play a crucial role in accessing social support and enabling families to endure economic hardship

    POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP ANAK PASCA PERCERAIAN

    Full text link
    Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pola pengasuhan orang tua setelah perceraian serta menganalisis dampaknya terhadap kondisi emosional dan sosial anak. Latar belakang penelitian berangkat dari meningkatnya angka perceraian di Indonesia yang berdampak signifikan bagi anak sebagai pihak paling rentan secara psikologis maupun sosial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif untuk memahami secara mendalam dinamika pengasuhan anak dalam keluarga bercerai. Subjek penelitian dipilih secara purposive, yaitu empat anak dari keluarga bercerai yang tinggal di Surabaya dan Malang. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi selama dua minggu. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang mencakup reduksi, penyajian, serta penarikan kesimpulan data. Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi pola asuh yang diterapkan oleh orang tua pasca perceraian, yaitu otoritatif, otoriter, permisif, dan abai. Pola asuh otoritatif memberikan dampak positif berupa kestabilan emosi, rasa aman, serta dukungan sosial yang kuat bagi anak, sedangkan pola otoriter, permisif, dan abai cenderung menimbulkan kecemasan, kebingungan, serta jarak emosional antara anak dan orang tua. Meskipun demikian, sebagian anak menunjukkan kemampuan adaptasi, kemandirian, dan ketangguhan setelah perceraian. Temuan ini menegaskan pentingnya peran orang tua dalam memberikan dukungan emosional dan keterlibatan aktif meskipun hubungan pernikahan telah berakhir. Implikasi penelitian diharapkan dapat menjadi referensi bagi orang tua, pendidik, dan konselor dalam menerapkan pola asuh yang tepat untuk menjaga kesejahteraan psikososial anak pasca perceraian. Abstract This study aims to describe parenting patterns after divorce and analyze their impact on children's emotional and social well-being. The background of this study stems from the increasing divorce rate in Indonesia, which has a significant impact on children as the most psychologically and socially vulnerable group. This study uses a qualitative method with a descriptive approach to gain an in-depth understanding of the dynamics of child rearing in divorced families. The research subjects were selected purposively, namely four children from divorced families living in Surabaya and Malang. Data were collected through in-depth interviews, observations, and documentation over a period of two weeks. Data analysis used the Miles and Huberman model, which includes data reduction, presentation, and conclusion drawing. The results of the study show that there are variations in the parenting styles applied by parents after divorce, namely authoritative, authoritarian, permissive, and neglectful. Authoritative parenting has a positive impact in the form of emotional stability, a sense of security, and strong social support for children, while authoritarian, permissive, and neglectful parenting tends to cause anxiety, confusion, and emotional distance between children and parents. However, some children show adaptability, independence, and resilience after divorce. These findings emphasize the importance of the role of parents in providing emotional support and active involvement even after the marriage has ended. The implications of this study are expected to serve as a reference for parents, educators, and counselors in applying appropriate parenting styles to maintain the psychosocial well-being of children after divorce

    PENGARUH DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA TERHADAP KEMAMPUAN ADAPTASI MAHASISWA RANTAU DI UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

    Full text link
    Abstrak Penelitian bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh dukungan sosial keluarga terhadap kemampuan adaptasi mahasiswa rantau di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dengan menggunakan metode penelitian kuantitatif asosiatif. Lokasi penelitian dilakukan di Universitas Negeri Jakarta. Penelitian ini menggunakan intrument non-tes berupa kuesioner sebagai sumber data. Penelitian menggunakan instrumen The Sosial Provision Scale untuk dukungan sosial keluarga dan Student Adaptation to College Questionnaire untuk instrumen kemampuan adaptasi. Sampel berjumlah 152  mahasiswa yang memenuhi kriteria yang ditetapkan berdasarkan perhitungan Isaac & Michael dengan taraf kesalahan 5%. Penelitian ini dilakukan selama bulan Juni – Desember 2023. Hasil penelitian menunjukan terdapat pengaruh yang posistif dan signifikan antara dukungan sosial keluarga terhadap kemampuan adaptasi mahasiswa rantau di Universitas Negeri Jakarta. Berdasarkan hasil tersebut dapat diartikan bahwa semakin tinggi dukungan sosial yang diberikan oleh keluarga, maka akan semakin tinggi pula kemampuan adaptasi mahasiswa yang merantau. Dibuktikan juga dengan analisa regresi sederhana yang menunjukan statistika positif  = 73,960 + 0,501 X dan hasil koefisien determinasi variabel dukungan sosial keluarga terhadap kemampuan adaptasi berpengaruh dengan presentasi sebesar 26% dan sisanya sebesar 74% dipengaruhi oleh faktor lain. Perlunya sosialisasi serta pemahaman bagaimana dukungan sosial dari keluarga membantu mahasiswa rantau yang jauh secara fisik dari keluarga untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Abstract The study aims to determine how much influence family social support has on the adaptability of overseas students at Universitas Negeri Jakarta (UNJ) using associative quantitative research methods. The research location was at the State University of Jakarta. This study used a non-test instrument in the form of a questionnaire as a data source. The study used The Social Provision Scale instrument for family social support and the Student Adaptation to College Questionnaire for adaptability instruments. The sample amounted to 152 students who met the criteria set based on Isaac & Michael's calculation with an error rate of 5%. This research was conducted during June - December 2023. The results showed that there was a positive and significant influence between family social support on the adaptability of overseas students at the State University of Jakarta. Based on these results, it can be interpreted that the higher the social support provided by the family, the higher the adaptability of students who migrate. It is also proven by a simple regression analysis that shows positive statistics   = 73.960 + 0.501 X and the results of the coefficient of determination of the family social support variable on adaptability with a presentation of 26% and the remaining 74% is influenced by other factors. The need for socialization and understanding of how social support from the family helps adaptability

    GAMBARAN KESIAPAN PERNIKAHAN PEREMPUAN DEWASA AWAL YANG MENGALAMI KEKERASAN FISIK DAN PSIKOLOGIS DARI AYAH

    Full text link
    Abstrak  Kekerasan fisik dan psikologis yang dilakukan oleh ayah terhadap anak perempuan dapat meninggalkan dampak jangka panjang terhadap perkembangan emosional, sosial, dan relasional anak. Dampak tersebut berpengaruh pada kemampuan perempuan untuk membentuk hubungan intim dan kesiapan memasuki pernikahan pada masa dewasa awal. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kesiapan pernikahan perempuan dewasa awal yang mengalami kekerasan fisik dan psikologis dari ayah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan melibatkan dua partisipan perempuan dewasa awal yang mengalami kekerasan dari ayah, menyaksikan kekerasan serupa terhadap ibu, dan sedang mempersiapkan pernikahan. Partisipan dipilih menggunakan homogeneous purposive sampling, data dikumpulkan melalui wawancara semi terstruktur, dan dianalisis menggunakan analisis tematik dengan tahapan pengkodean, identifikasi tema, serta validasi melalui member checking. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua partisipan memiliki kesiapan finansial, tetapi menghadapi tantangan dalam aspek emosional dan sosial. Salah satu partisipan menunjukkan kesiapan pernikahan yang optimal melalui refleksi diri dan keterbukaan terhadap bantuan profesional, sedangkan partisipan lainnya belum mencapai kesiapan optimal akibat kecenderungan mengulang pola relasi tidak sehat dari pernikahan orang tuanya. Temuan ini menegaskan bahwa dukungan psikologis, konseling pranikah, serta intervensi berbasis refleksi diri dan pemulihan trauma penting untuk membantu perempuan korban kekerasan membangun relasi yang setara dan sehat. Selain itu, hasil penelitian ini memberikan kontribusi teoretis dalam memperluas pemahaman tentang pengaruh kekerasan keluarga terhadap kesiapan pernikahan.   Abstract Physical and psychological abuse perpetrated by fathers toward daughters can have long-term impacts on emotional, social, and relational development. Such experiences influence women’s capacity to form intimate relationships and their readiness for marriage in early adulthood. This study aims to describe the marriage readiness of young adult women who have experienced physical and psychological abuse from their fathers. A descriptive qualitative approach was applied, involving two young adult female participants who experienced paternal abuse, witnessed similar violence against their mothers, and were preparing for marriage. Participants were selected using homogeneous purposive sampling; data were collected through semi-structured interviews and analyzed using thematic analysis, consisting of coding, theme identification, and validation through member checking. The findings showed that both participants were financially ready but faced challenges in emotional and social aspects. One participant demonstrated higher readiness through self-reflection, emotional regulation, and openness to professional support, while the other showed limited readiness due to reproducing unhealthy relationship patterns from her parents’ marriage. These findings underline the importance of psychological support, premarital counseling, and trauma-informed interventions to assist women who have experienced familial violence in developing balanced, emotionally mature, and equitable relationships. Moreover, the study contributes theoretically by expanding understanding of how domestic violence influences marital readiness and relational development in early adulthood

    TINJAUAN KOMPREHENSIF TERHADAP GAYA PENYELESAIAN KONFLIK DALAM KELUARGA: IDENTIFIKASI STRATEGI YANG ADAPTIF

    Full text link
    Abstrak Konflik merupakan fenomena yang tidak terhindarkan dalam kehidupan keluarga. Konflik yang terjadi dalam satu domain relasi dapat meluas ke domain lainnya dan berpotensi diwariskan antar generasi. Gaya penyelesaian konflik memiliki implikasi yang beragam terhadap dinamika keluarga. Strategi penyelesaian yang bersifat destruktif atau tidak konsisten dapat berdampak negatif terhadap kesejahteraan keluarga serta perkembangan sosial dan emosional anak. Oleh karena itu, pemilihan gaya resolusi konflik yang sehat dan adaptif menjadi aspek krusial dalam manajemen konflik keluarga. Kajian literatur ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis gaya resolusi konflik, mengeksplorasi faktor-faktor kontekstual yang memengaruhi pemilihannya, serta mengevaluasi dampaknya terhadap kesejahteraan anggota keluarga. Penelitian ini menggunakan desain scoping review dengan meng-akses tujuh basis data akademik, yaitu Scopus, Springer, ScienceDirect, JSTOR, EBSCOhost, ProQuest, dan Emerald Insight. Kriteria inklusi yang digunakan meliputi: (1) artikel yang diterbitkan dalam rentang tahun 2015–2024; (2) artikel empiris yang meneliti konflik keluarga dan gaya resolusi atau manajemen konflik; (3) ditulis dalam bahasa Inggris atau Indonesia; (4) tersedia dalam format full-text; dan (5) bersifat open access. Dari hasil pencarian, diperoleh 20 artikel yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil analisis menunjukkan lima gaya resolusi konflik yang diklasifikasikan ke dalam dua kategori utama: gaya konstruktif (kompromi, mengalah, dan integrasi) serta gaya destruktif (menghindar dan mendominasi). Pemilihan gaya penyelesaian konflik dipengaruhi oleh sejumlah faktor kontekstual, seperti gaya keterikatan, kepribadian, gender, pola komunikasi keluarga, dan pola pengasuhan. Manajemen konflik yang adaptif dan konstruktif tidak hanya berfungsi untuk menyelesaikan konflik, tetapi juga berperan dalam memperkuat kualitas hubungan antar anggota keluarga. Abstract Conflict is an inevitable phenomenon within family life. Disputes arising in one relational domain can extend to others and may even be transmitted across generations. Conflict resolution styles have varying implications for family dynamics. Destructive or inconsistent resolution strategies can negatively impact family well-being and the socio-emotional development of children. Therefore, selecting healthy and adaptive conflict resolution styles is crucial in effective family conflict management. This literature review aims to identify various types of conflict resolution styles, explore contextual factors influencing their use, and evaluate their impact on the well-being of family members. The study employs a scoping review design, utilizing seven academic databases: Scopus, Springer, ScienceDirect, JSTOR, EBSCOhost, ProQuest, and Emerald Insight. The inclusion criteria are as follows: (1) articles published between 2015 and 2024; (2) empirical studies examining family conflict and conflict resolution or conflict management styles; (3) written in English or Indonesian; (4) available in full-text format; and (5) open access. The search yielded 20 articles that met the inclusion criteria. The review identified five conflict resolution styles, categorized into two main groups: constructive styles (compromising, obliging, and integrating) and destructive styles (avoiding and dominating). The choice of conflict resolution style is influenced by several contextual factors, including attachment style, personality traits, gender, family communication patterns, and parenting approaches. Adaptive and constructive conflict management not only facilitates conflict resolution but also strengthens family relationships

    DUKUNGAN SOSIAL SEBAGAI FAKTOR PENENTU KESEJAHTERAAN SUBJEKTIF GURU DI LINGKUNGAN SEKOLAH DASAR ISLAM

    Full text link
    Abstrak Guru memiliki peran sentral dalam menentukan mutu pendidikan di sebuah sekolah. Di lingkungan Sekolah Dasar Islam, guru dituntut untuk menyampaikan materi pelajaran umum sekaligus pendidikan agama secara bersamaan. Untuk menjalankan tugas tersebut secara optimal, guru memerlukan tingkat kesejahteraan subjektif yang memadai. Kesejahteraan subjektif yang tinggi memungkinkan guru bekerja secara profesional dan menunjukkan kompetensi yang baik. Namun, kenyataannya banyak guru menghadapi tantangan dalam mencapai kesejahteraan subjektif yang ideal. Salah satu faktor yang dapat mendukung kesejahteraan tersebut adalah adanya dukungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sejauh mana dukungan sosial berpengaruh terhadap kesejahteraan subjektif guru di salah satu Sekolah Dasar Islam. Penelitian melibatkan 30 guru sebagai sampel, yang merupakan keseluruhan populasi guru di sekolah tersebut. Pengumpulan data dilakukan menggunakan dua skala pengukuran, dan analisis data menggunakan metode regresi non-linear eksponensial. Hasil analisis menunjukkan bahwa dukungan sosial memberikan pengaruh sebesar 79,1% terhadap kesejahteraan subjektif guru, dengan tingkat signifikansi 0,000 (< 0,05) dan model persamaan Y = 22,193+0,008x. Temuan ini mendukung hipotesis bahwa dukungan sosial memiliki kontribusi signifikan terhadap kesejahteraan subjektif guru di Sekolah Dasar Islam. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dukungan sosial merupakan aspek krusial dalam meningkatkan kesejahteraan subjektif guru. Oleh karena itu, pihak sekolah dan pemangku kebijakan pendidikan perlu memperhatikan dan memperkuat sistem dukungan sosial di lingkungan kerja guru, baik melalui hubungan antar rekan kerja, dukungan dari pimpinan sekolah, maupun keterlibatan komunitas dan orang tua siswa. Dengan meningkatnya kesejahteraan subjektif, guru akan lebih mampu menjalankan peran mereka secara optimal, yang pada akhirnya berdampak positif terhadap kualitas pembelajaran dan perkembangan siswa. Abstract Teachers play a central role in determining the quality of education in a school. In Islamic elementary schools, teachers are required to deliver both general academic subjects and religious education simultaneously. To carry out this dual responsibility effectively, teachers need an adequate level of subjective well-being. High subjective well-being enables teachers to work professionally and demonstrate strong competence. However, in reality, many teachers face challenges in achieving optimal levels of subjective well-being. One of the factors that can support this well-being is social support. This study aims to examine the extent to which social support influences the subjective well-being of teachers in an Islamic elementary school. The research involved 30 teachers as participants, representing the entire teaching population at the school. Data were collected using two measurement scales, and analyzed using a non-linear exponential regression method. The results indicate that social support has a significant influence on teachers' subjective well-being, accounting for 79.1% of the variance, with a significance level of 0.000 (< 0.05) and a regression equation of Y = 22.193 + 0.008x. These findings support the hypothesis that social support contributes significantly to the subjective well-being of teachers in Islamic elementary schools. The results of this study highlight that social support is a crucial factor in enhancing teachers' subjective well-being. Therefore, school administrators and educational policymakers should pay greater attention to strengthening social support systems within the school environment. This can be achieved through fostering collegial relationships among teachers, providing support from school leadership, and encouraging active involvement from the community and parents. By improving teachers' subjective well-being, they will be better equipped to fulfill their roles effectively, ultimately leading to improved learning quality and student development

    PENGARUH KETERLIBATAN TUGAS DOMESTIK DAN TINGKAT STRES DUAL EARNER COUPLE TERHADAP KUALITAS PENGASUHAN ANAK

    Full text link
    Abstrak Di era saat ini, fenomena pasangan bekerja (dual-earner couple) semakin lazim terjadi di Indonesia. Namun, pasangan ini kerap menghadapi ketidaksetaraan dalam pembagian tanggung jawab domestik yang dapat menimbulkan stres dan memengaruhi kualitas pengasuhan anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Partisipan berjumlah 251 responden yang diperoleh melalui teknik purposive sampling dengan kriteria dewasa muda (20–40 tahun), pasangan suami-istri yang bekerja, memiliki anak berusia minimal 6 tahun, dan berdomisili di wilayah Jabodetabek. Instrumen yang digunakan meliputi kuesioner keterlibatan tugas domestik, kuesioner stres pengasuhan untuk mengukur tingkat stres saat mengasuh anak, serta kuesioner perilaku pengasuhan dengan enam dimensi, yaitu kehangatan emosional, disiplin hukuman, rasa cemas terhadap anak, dukungan otonomi, disiplin permisif, dan disiplin demokratis. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh signifikan antara keterlibatan tugas domestik dan stres orang tua terhadap keenam dimensi kualitas pengasuhan secara simultan (F=11,578; p<0,001). Kedua variabel independen berkontribusi sebesar 25,2% terhadap kehangatan emosional, 16,2% terhadap disiplin hukuman, 15,4% terhadap dukungan otonomi, 11,4% terhadap kecemasan, 5,6% terhadap disiplin demokratis, dan 2,4% terhadap disiplin permisif. Temuan ini mengimplikasikan bahwa rendahnya keterlibatan tugas domestik dan tingginya tingkat stres pada pasangan dual earner berdampak negatif terhadap kualitas pengasuhan anak. Oleh karena itu, dibutuhkan kebijakan dan program yang mendukung kesetaraan peran domestik, seperti jam kerja fleksibel, family-friendly policy, serta edukasi mengenai pembagian peran dan manajemen stres keluarga. Abstract In today’s era, the phenomenon of couples who work for a living (dual-earner couples) has become increasingly common in Indonesia. However, these couples often face inequality in the division of domestic responsibilities, which can lead to stress and affect the quality of parenting. This study employed a quantitative approach. Participants consisted of 251 respondents selected using purposive sampling, with the criteria of young adults (aged 20–40 years), married working couples, having at least one child aged six years or older, and residing in the Greater Jakarta area. The instruments used included a domestic task involvement questionnaire, a parenting stress questionnaire to measure stress levels while caring for children, and a parenting behavior questionnaire comprising six dimensions: emotional warmth, punitive discipline, anxiety toward the child, autonomy support, permissive discipline, and democratic discipline. The results showed a significant contribution of domestic task involvement and parental stress to the six dimensions of parenting quality simultaneously (F=11,578; p<0,001). Both independent variables contributed 25,2% to emotional warmth, 16,2% to punitive discipline, 15,4% to autonomy support, 11,4% to anxiety, 5,6% to democratic discipline, and 2,4% to permissive discipline. These findings imply that low involvement in domestic responsibilities and high stress levels among dual-earner couples negatively affect the quality of parenting. Therefore, policies and organizational programs that promote gender equality in domestic roles, such as flexible working hours, family-friendly policies, and public education on role sharing and family stress management are essential to enhance parenting quality

    216

    full texts

    226

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    JKKP (Jurnal Kesejahteraan Keluarga dan Pendidikan)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇