Jurnal MIPA
Not a member yet
355 research outputs found
Sort by
Pengujian Dua Pasang Primer Universal Untuk Amplifikasi Gen Cytochrome Oxidase I Copepoda
Copepoda merupakan zooplankton kaya manfaat dengan diversitas yang sangat tinggi dan terdiri dari banyak spesies kriptik. Identifikasi cepat, akurat, dan hemat dapat dilakukan dengan menggunakan teknik DNA Barcoding. Kesuksesan teknik tersebut sangat dipengaruhi oleh penggunaan primer yang tepat. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji kemampuan dua pasang primer universal, yakni LCO1490-HCO2198 dan FF2d-FR1d, mengamplifikasi gen COI Copepoda. Dalam penelitian ini, pasangan primer LCO1490-HCO2198 tidak berhasil mengamplifikasi gen target. Sekuens-sekuens hasil amplifikasi menggunakan pasangan primer FF2d-FR1d diidentifikasi melalui BLAST. Hasil yang diperoleh menunjukan bahwa sekuens-sekuens tersebut memiliki persentase kemiripan sebesar 92% dengan bakteri Pandoraea pnomenusa. Melalui hasil yang didapatkan disimpulkan bahwa kedua pasangan primer universal LCO1490-HCO2198 dan FF2d-FR1d tidak cukup spesifik untuk amplifikasi gen cytochrome oxidase I Copepoda.Copepoda is a very beneficial and highly diverse zooplankton with many cryptic species. A fast, reliable, and affordable identification can be done through DNA Barcoding. The success of this technique is affected by the usage of correct primers. The aim of this research was to test the ability of two universal primer pairs, which were LCO1490-HCO2198 and FF2d-FR1d, amplifying COI gene of Copepoda. In this research, LCO1490-HCO2198 primer pairs weren’t able to amplify COI gene of Copepoda. Sequences which were successfully amplified using FF2d-FR1d primer pairs were identified through BLAST. The result shows that the sequences are 92% similar to bacteria named Pandoraea pnomenusa. It can be concluded that both primer pairs are not specific enough to amplify cytochrome oxidase I gene of Copepoda
Uji Aktivitas Antikolesterol Ekstrak Etanol Daun Patikan Emas (Euphorbia prunifolia Jacq.) pada Tikus Wistar yang Hiperkolesterolemia
Telah dilakukan penelitian untuk menentukan aktivitas antikolesterol ekstrak etanol daun patikan emas pada tikus wistar yang hiperkolesterolemia. Tikus wistar jantan yang berusia 2-3 bulan sebanyak 20 ekor dibagi menjadi 4 kelompok perlakuan secara acak. Kelompok K diberi pakan beras jagung, sedangkan kelompok K-, P1, dan P2 diberi pakan aterogenik. Kelompok P1 dan P2 diberi ekstrak dengan dosis 10 dan 30 mg/kgBB. Pemeriksaan kadar kolesterol plasma ditentukan dengan metode biosensor amperometrik menggunakan alat ukur NESCO GCU dengan bantuan strip yang telah ditetesi darah. Darah tikus diperoleh dari bagian ekor yang telah dilukai. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan ANOVA satu arah (p<0,05). Hasil penelitian menunjukkan ekstrak etanol daun patikan emas dengan dosis 10 dan 30 mg/kgBB memiliki aktivitas antikolesterol dengan penurunan kadar kolesterol sebesar 12 dan 71% dibandingkan dengan kelompok K-.Research had been carried out to determine anticholesterol activity of ethanol extract gold patikan leaves. 20 Male wistar rats aged 2-3 months were divided into 4 groups randomly. K group with corn rice fed, while the K-, P1 and P2 with atherogenic fed. Group P1 and P2 are given with extract with doses 10 and 30 mg/kgBW. Examination of plasma cholesterol levels were determined by amperometric biosensor methods using a measuring instrument NESCO GCU with strip that had spilled blood. Blood was obtained from rats tail that had been injured. Data were analyzed using one-way ANOVA (p<0,05). The results showed that the ethanol extract of gold patikan leaves with doses 10 and 30 mg/kgBW decrease the anticholesterol activity with cholesterol levels by 12 and 71%, compared with K- group
Skrining Fitokimia dan Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Daun Patikan Emas (Euprorbia prunifolia Jacq.) dan Bawang Laut (Proiphys amboinensis (L.) Herb)
Euphorbia prunifolia Jacq dan Proipys amboinensis (L.) Herb adalah dua jenis tanaman yang masih belum banyak dimanfaatkan oleh masyarakat karena kurangnya informasi mengenai kedua tanaman tersebut. Menurut informasi masyarakat tanaman patikan emas digunakan sebagai obat tradisioanal penurun kolestrol dan bawang laut digunakan sebagai obat anti kanker. Berdasarkan informasi tersebut dilakukan penelitian mengenai skrining fitokimia dan uji antioksidan dengan metode DPPH dari daun patikan emas dan daun bawang laut. Dari penelitian ini diperoleh hasil bahwa kedua tanaman tersebut mengandung senyawa metabolit sekunder. Untuk daun patikan emas mengandung fenolik, flavonoid dan steroid sedangkan daun bawang laut mengandung fenolik, flavonoid, steroid dan tanin. Pada penelitian ini juga dilakukan uji total kandungan flavonoid dan kandungan total fenolik dimana daun patikan emas mempunyai nilai lebih tinggi dari daun bawang laut. Untuk hasil pengujian aktivitas antioksidan dari daun patikan emas yaitu memperoleh nilai diatas 50% sedangkan bawang laut dibawah 50%.Euphorbia prunifolia Jacq and Proipys amboinensis (L.) Herb are two types of plants that are still not widely used by the community because of a lack of information about both of these plants. According to the information from society, gold patikan plant used as a cholesterol-lowering drug tradisioanal and sea onion used as an anti-cancer drug. Based on this information had been done the research about phytochemical screening and antioxidant testing by DPPH method of patikan gold leaf and scallions sea. This research showed that both of these plants contains secondary metabolites. For patikan gold leaf containing phenolic, flavonoids and steroids while scallions sea contains phenolic, flavonoids, steroids and tannins. In this research also tests the total flavonoid and total phenolic content which patikan leaf gold has a higher value than scallions sea. For the test results of antioxidant activity from gold patikan leaf obtaining a value above 50% and below 50% of sea onion
Analisis Fenolik Jerami Padi (Oryza Sativa) pada Berbagai Pelarut Sebagai Biosensitizer untuk Fotoreduksi Besi
Telah dilakukan analisis fenolik dalam Jerami Padi (Oryza sativa). Penelitian ini dilakukan beberapa tahap, meliputi : persiapan sampel; ekstraksi maserasi selama 1 x 24 jam dengan berbagai pelarut: akuades, metanol, etanol dan petroleum eter;  dievaporasi selama 1 jam dan dianalisis senyawa fenolik secara kualitatif menggunakan reagen Folin Ciocalteu 50% menghasilkan ekstrak akuades (EA); ekstrak metanol (EM); ekstrak etanol (EE) dan ekstrak petroleum eter (EPE), selanjutnya dianalisis secara kuantitatif menggunakan metode spektrofotometri ultra violet visible (UV-Vis) pada panjang gelombang 750 nm. Hasil analisis menunjukkan bahwa kandungan senyawa fenolik pada ekstrak jerami padi (JP), dengan berbagai pelarut:  akuades; metanol 40; 60 dan 80%; etanol 25; 50; 75 dan 100%; petroleum eter, secara berturut-turut, sebesar : 1,285; 2,39; 2,72; 2,59; 1,406; 1,470; 1,501 2,996 dan 1,177 mg as. galat/L ekstrak sampel. Konsentrasi fenolik pada reaksi fotoreduksi besi dengan sinar UV dalam kotak cahaya menghasilkan ekstrak JP tertinggi terdapat pada ekstrak EM-60%, sebesar 2,725 mg as. galat/L ekstrak sampel, sedangkan konsentrasi Fe+2 tertinggi yang terbentuk pada reaksi fotoreduksi besi ekstrak JP dengan pelarut metanol 60% sebesar 34,50 mg/L ekstrak sampel. Kandungan fenolik tertinggi terdapat pada ekstrak EE-100%, diikuti EM-60% dan terendah terdapat pada ekstrak EPE. Hal ini disebabkan senyawa fenolik bersifat semi polar dapat larut sempurna pada pelarut etanol bersifat polar sedangkan pelarut petroleum eter bersifat tidak polar. Reaksi fotoreduksi besi dalam kotak cahaya UV diperoleh ekstrak JP tertinggi pada EM-60% dan konsentrasi Fe+2 tertinggi terdapat pada EM-60%. Hal ini disebabkan ekstrak EM-60% berpotensi sebagai biosensitizer terbaik bila dibandingkan dengan pelarut yang lain.An analysis of fenolics contained in straw (Oryza sativa) has been done. The research was performed in several steps, those were sample preparation employing aquadest, methanol, ethanol, and petroleum ether, evaporation of the extracts, qualitative analysis using Folin Ciocalteu 50%, and quantitative analysis using UV-vis spectrophotometry method at 750 nm. The results showed that aquadest, 40, 60, and 80% methanol, 25, 50, 75, and 100% ethanol, and petroleum ether generated fenolics concentrations of 1.285, 2.39, 2.72, 2.59, 1.406, 1.470, 1.501, 2.996, and 1.177 mg gallic acid/L, recpectively. Extract of 60% methanol gave the highest value of photoreduction and subsequently produced highest concentration of Fe2+ which was 34.50 mg/L
Karakterisasi dan Aktivitas Antioksidan Tepung Sagu Baruk (Arenga microcarpha)
Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari karakteristik kimia tepung sagu baruk yang mengandung senyawa fitokimia dan mempelajari aktivitas antioksidan dari ekstrak tepung sagu baruk. Tepung sagu baruk diekstrak dengan pelarut etanol 50% dengan cara maserasi selama 24 jam. Setelah itu, tepung sagu diuji proksimat, ekstrak dianalisis kandungan fitokimia fenolik, flavonoid dan tanin terkondensasi. Pengujian aktivitas antioksidan menggunakan radikal bebas DPPH dan daya reduksi dengan spektrofotometer UV/Vis. Hasil penelitian menunjukkan pada pengujian proksimat bahwa tepung tepung sagu baruk memenuhi syarat Standar Nasional Indonesia, tetapi berbeda dengan kadar serat kasar. Total kandungan fenolik dan flavonoid menunjukkan bahwa tepung sagu akuades (SA) lebih tinggi daripada tepung sagu komersial (TSBK). Hasil radikal bebas sagu tepung sagu SA lebih tinggi dari TSBK sama halnya dengan kemampuan daya reduksi SA jauh lebih tinggi dari TSBK. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa tepung sagu baruk memiliki kandungan fitokimia fenolik dan flavonoid yang dapat berpotensi sebagai antioksidan.Objectives of this research were to study the chemical characteristics of sago baruk flour containing phytochemicals and antioxidant activity of sago baruk flour extract. Sago baruk flour was extracted with 50% ethanol by maceration for 24 hours. Afterward, sago flour was tested for proximate and the extract was analyzed for phenolic, flavonoids, and condensed tanin. DPPH free radical was used to examine antioxidant activity and spectrophotometry method was used to determine the reduction ability. The result for proximate test showed that sago flour extract meets Indonesian Nasional Standard requirements. Total phenolic and flavonoid contents in the flour extracted with aquadest (SA) were higher than that in commercial flour (TSBK). Free radical scavenging activity of sago flour SA was higher than that of TSBK, as well as the reduction ability of SA that was much higher than of TSBK. It was concluded that sago baruk flour possess phytochemical content of phenolic and flavonoid which were potential as antioxidant
Aktivitas Fotokatalitik TiO2 – Karbon Aktif dan TiO2 – Zeolit pada Fotodegradasi Zat Warna Remazol Yellow
Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui aktivitas fotokatalitik dari modifikasi katalis dan adsorben TiO2 – karbon aktif dan TiO2 – zeolit pada degradasi zat warna remazol yellow. Penelitian ini menggunakan metode fotodegradasi dengan iradiasi sinar UV. Zeolit sintetis dibuat dari campuran larutan silikat dan larutan aluminat dan karbon aktif yang digunakan adalah arang komersil. Sintesis TiO2 – zeolit dibuat dengan melarutkan TiO2 dan zeolit dalam etanol absolut 99% kemudian dikalsinasi. Sintesis TiO2 – karbon aktif dilakukan dengan cara sonifikasi. Selanjutnya proses fotodegradasi oleh sinar UV terhadap remazol yellow yang dibuat dengan variasi konsentrasi 2, 4, 6, 8, 10, 20, 30, 40, dan 50 ppm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TiO2 – karbon aktif mendegradasi remazol yellow dalam jumlah yang lebih banyak dibandingkan TiO2 – zeolit. Persentasi remazol yellow terdegradasi oleh TiO2 – zeolit yang tertinggi sebesar 83% pada konsentrasi awal 20 ppm dan untuk TiO2 – karbon aktif mampu mendegradasi sampai 95% pada konsentrasi awal 30 ppm.A research has been conducted to determine photocatalytic activities of photocatalyst and adsorbent modifications of TiO2 - Activated Carbon (TiO2-AC) and TiO2 - Zeolite . This study was done using photodegradation methode by UV light irradiation. Synthetic zeolite was made from mixture of silicat solution and aluminat solution and activated carbon used was obtained from commercial charcoal. The synthesis of TiO2 – zeolite was made by dissolving TiO2 and zeolite in absolute ethanol 99% and then calcinated. The synthesis of TiO2 – activated carbon was made by sonification. The following process was photodegradation by UV light irradiation on remazol yellow dye with various concentration of 2, 4, 6, 8, 10, 20, 30, 40, and 50 ppm. The results showed that TiO2-AC was capable of degradating remazol yellow more than TiO2 – Zeolite could do. The highest percentage of remazol yellow degradated by TiO2 – Zeolite was 83% on initial concentration of 20 ppm, whereas TiO2-AC could do 95% on initial concentration of 30 ppm
Aktivitas Antioksidan dari Akar Bawang Daun (Allium fistulosum L.)
Tujuan dari penelitian ini untuk menentukan aktivitas antioksidan yang terdapat dalam akar bawang daun. Penelitian dimulai dengan mendestilasi sampel akar bawang daun yang sudah dikering anginkan menggunakan cara destilasi uap dengan pelarut akuades, selanjutnya ditentukan kandungan total fenolik, flavonoid, tanin serta aktivitas penangkal radikal bebas DPPH. Hasilnya menunjukkan ekstrak fenolik dari akar bawang daun kering memiliki kandungan total fenolik, flavonoid dan tanin serta aktivitas penangkal radikal bebas yang paling baik untuk menangkal radikal bebas DPPH diikuti dengan ekstrak fenolik dari akar bawang daun segar.Objective of this research were to determine the antioxidant inside the onion root. The study was start with distilling the leek roots sample that have wind-dried using steam distillation with the solvent distilled water, and then determined the content of total phenolics, flavonoids, tannins and free radical prophylactic activity of DPPH. The results showed that the phenolic extract of the dried leaves of onion roots have total content of phenolic, flavonoid and tannin as well as the activity of free radical scavengers that are best to counteract free radical DPPH, this can be seen in free-radical scavengers activity test using DPPH test that phenolic extracts of onion root dry leaves is higher than the value percentage of phenolic extracts from fresh leaves of onion root
Kualitas Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis) Presto pada Beberapa Hari Penyimpanan
Telah dilakukan penelitian tentang kualitas ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis) melalui proses presto pada beberapa hari penyimpanan. Ikan presto merupakan ikan yang direbus pada suhu dan tekanan tinggi sehingga menghasilkan ikan dengan duri yang lunak dan mudah untuk dikonsumsi. Pengolahan ikan dilakukan dengan menggunakan bumbu dan tanpa bumbu. Lama penyimpanan bergantung pada kerusakan ikan. Kualitas ikan yang diukur adalah kadar protein, kadar air, kadar malondialdehid (MDA), dan Total Plate Count (TPC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar protein ikan cakalang presto pada semua perlakuan, mengalami peningkatan setelah melalui proses presto. Kadar air dan nilai TPC pada semua perlakuan dan kadar MDA pada pemberian bumbu, belum melewati batas mutu, sedangkan kadar MDA ikan Cakalang presto tanpa pemberian bumbu, sudah melewati batas mutu yang ada.Studies about the quality of Cakalang fish (Katsuwonus pelamis) through presto process on several days storage has been carried out. Presto fish is a fish boiled at high temperature and pressure to produces spines fish that soft and easily consumed. Fish processed by using seasoning and without seasoning. The storage time depends on the desstruction of fish. Fish quality that measured are protein content, water content, malondialdehid (MDA) content, and Total Plate Count (TPC). The results showed that the protein content of Cakalang presto of all treatmens increased through the presto process. Water content and TPC value of all treatments and MDA content of seasoning treatment yet to pass the quality line, while MDA content of Cakalang presto without seasoning treatment has passed the existing quality line
Analisis Beberapa Asam Organik dengan Metode High Performance Liquid Chromatography (HPLC) Grace Smart Rp 18 5µ
Metode HPLC fase terbalik dengan kolom Grace Smart RP 18 5µ dapat digunakan untuk memisahkan dan menentukan konsentrasi asam-asam organik. Metode ini diaplikasikan suhu kolom 40 oC dan dideteksi pada panjang gelombang 210 nm dengan kalium dihidrogenfosfat (pH 2,8) sebagai fase gerak. Metode ini telah digunakan untuk menentukan asam-asam organik seperti asam malat, asam askorbat, asam laktat, asam asetat, asam sitrat, asam piroglutamat, dan asam fumarat.Reverse phase HPLC method using Grace smart RP 18 5µ can used to separating and calculating concentration of organic acid. This method did on 40 0C column temperature and detected on wavelength 210 nm with potassium dihydrogen phosphate (pH 2.8) as mobile phase. Determining of organic acids such as malic acid, ascorbic acid, lactic acid, acetic acid, citric acid, pyroglutamic acid and fumaric acid
Karakterisasi Minyak Ikan dari Pemurnian Limbah Ikan Tuna dengan Zeolit Secara Kromatografi Kolom
Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui kandungan DHA dan EPA yang terdapat dalam minyak ikan hasil dari pemurnian limbah ikan tuna menggunakan zeolit alam dan mengidentifikasi senyawa kimia pada minyak ikan. Kajian yang dilakukan meliputi pengambilan limbah ikan secara acak dari pasar tradisional, ekstraksi minyak ikan dengan cara refluks, pemurnian minyak ikan dengan kromatografi kolom menggunakan zeolit dan karakterisasi senyawa kimia dari minyak ikan sebelum dan sesudah pemurnian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa warna dan bau dari minyak ikan sebelum pemurnian yaitu coklat kehitaman dan amat menyengat dan setelah pemurnian warna dan bau minyak ikan yaitu coklat kekuningan dan tidak menyengat. Minyak ikan tuna memiliki rendemen dan kadar air yakni sebelum pemurnian sebesar 4,73% dan 3,36% serta sesudah pemurnian 2,34% dan 1,34%. Sedangkan untuk hasil GC-MS dari minyak ikan sebelum permunian yaitu 26 puncak dan sesudah pemurnian yaitu 31 puncak.A research to find DHA and EPA content in fish oil obtained by purification of tuna fish waste using natural zeolite and to identify chemical compounds in fish oil has been done. Steps included were obtaining tuna fish waste randomly from traditional market, extraction of fish oil by reflux, purification of the oil by column chromatography using natural zeolite, and characterization of chemical compounds in the oil before and after purification. The results showed that odor of the oil before purification was very pungent and its color was blackish and, on the other hand, it was not pungent and its color turned yellowish brown after the purification. In addition, the yield and water content before purification were 4.73% and 3.36%, respectively, and were 2.34% and 1.34%, respectively, after purification. Analysis using GC-MS spectrometry showed 26 peaks in oil before purification and 31 peaks in oil after purification