Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Not a member yet
357 research outputs found
Sort by
ANALISIS FINANSIAL VARIETAS UNGGUL JAHE PUTIH KECIL DI JAWA BARAT
Meningkatnya permintaan ekspor yang belum terpenuhi merupakan peluang be-sar untuk pengembangan jahe. Seiring dengan itu, maka diperlukan peningkatan produktivitas dan kualitas jahe yang mampu memenuhi stan-dar ekspor. Budidaya jahe sampai saat ini ma-sih menggunakan benih lokal (belum meng-gunakan varietas unggul) yang menyebabkan produktivitas dan mutu tidak stabil. Untuk mendapatkan varietas unggul harus melalui uji-multilokasi dibeberapa sentra produksi dengan agro ekosistem yang berbeda. Bahan penelitian yang digunakan adalah jahe putih kecil (Ge-notipe C, E, F, G, H, K serta lokal 1 dan 2 se-bagai pembanding) yang terpilih untuk uji mul-tilokasi yang dilakukan di Kabupaten Garut, Majalengka, Sukabumi, Sumedang, pada tahun 2003/2005. Penelitian bertujuan untuk menge-tahui apakah varietas unggul jahe putih kecil yang di uji multilokasi layak dikembangkan se-cara teknis dan menguntungkan secara ekono-mis. Data yang dikumpulkan adalah faktor-fak-tor produksi, produksi dan harga jual. Penda-patan usahatani varietas unggul jahe putih kecil dianalisis dengan analisis pendapatan, sedang-kan kelayakan usahataninya dianalisis melalui pendekatan analisis Net Present Value (NPV), Benefit Cost Ratio (B/C Ratio) dan Internal Rate of Return (IRR). Jahe putih kecil yang te-lah diusulkan sebagai varietas unggul adalah JPK Genotip G untuk produktivitas rimpang di usulkan dengan nama Halina 1 dan JPK Geno-tipe K untuk produktivitas rimpang dan minyak atsiri di usulkan dengan nama Halina 2. Ke dua Genotipe ini dapat dijadikan sebagai varietas unggul, karena adaptif dan stabil di beberapa lokasi pengujian. JPK Genotip G adapatif dan stabil di Garut, Sukabumi dan Sumedang dan JPK Genotip K adaptif dan stabil di Garut, Ma-jalengka dan Sumedang. Hasil analisis finansial menunjukkan, bahwa usahatani varietas unggul JPK Genotip G dan K pada masing-masing lo-kasi, layak dilakukan secara teknis dan meng-untungkan secara ekonomis, hal ini ditunjuk-kan oleh NPV, B/C Ratio dan IRR masing-masing genotip pada tiap lokasi tersebut po-sitif (+), > 1 dan diatas tingkat suku bunga bank yang berlaku. Besarnya pendapatan, NPV; B/C Ratio dan IRR terendah, yaitu JPK Genotip G di Garut, masing-masing Rp 13.480.171,-; Rp 7.091.353,-/ha, 1,18 dan 2%/bulan. Sedangkan yang tertinggi, yaitu pa-da JPK Genotipe K di Sumedang, masing-ma-sing Rp 76.798.127,-; Rp 61.650.361,-/ha, 2,50 dan 11%/bulan. Hasil analisis sensitivi-tas menunjukkan, bahwa JPK Genotipe G di Garut mempunyai harga minimum tertinggi, yaitu Rp 5.294,-/kg (harga aktual Rp 6.000,-/kg) dengan produksi minimum 6.773 kg/ha (produksi aktual 7.677 kg/ha). Sedangkan JPK Genotipe K di Sumedang mempunyai harga minimum terendah, hanya Rp 2.487,- kg/ha (Harga aktual Rp 6.000,-/kg) dengan produksi minimum 6.977 kg/ha (produksi aktual 16.831 kg/ha). Ini berarti, bahwa jika harga dan pro-duksi masing-masing genotipe tersebut lebih rendah dari harga dan produksi minimumnya, maka usahatani masing-masing genotipe pada daerah yang bersangkutan secara finansial rugi. JPK Genotip G dan K layak dilakukan secara teknis dan menguntungkan secara eko-nomis di semua lokasi pengujian (Garut, Ma-jalengka, Sukabumi dan Sumedang), ditinjau dari segi produksi. JPK Genotipe G dan K se-baiknya dikembangkan di daerah Sumedang atau di daerah dengan ketinggian 800 m dpl. Tipe iklim A dan B (schmidt & Ferguson) dan jenis tanah latosol merah sangat gembur, memberikan produksi paling tinggi (10.758,44 dan 11.781,66 kg/ha) dan memberikan penda-patan paling besar (Rp 66.671.450,- dan Rp 76.798.127,-/ha) dengan produksi minimum paling tinggi (6.947 dan 6.977 kg/ha) dan harga minimum paling rendah (Rp 2.712,- dan Rp 2.487,-/kg).
PENGARUH Indole Butyric Acid DAN Naphtaleine Acetic Acid TERHADAP INDUKSI PERAKARAN TUNAS PIRETRUM [Chrysanthemum cinerariifolium (Trevir.)Vis.] KLON PRAU 6 SECARA IN VITRO
Effects of Indole Butyric Acid and Naphtaleine Acetic Acid on the root-induction of pyrethrum [Chrysanthemum cinerariifolium (Trevir.)Vis.] clone Prau 6 in vitroPyrethrum is one of botanical pesti-cides producing plant that has beneficial va-lue to be improved as the substitution of syn-thetic pesticide, which is considered to be harmful for both of human and environment. In order to obtain a sufficient planting mate-rial, in vitro propagation had been performed. Rooted-shoots derived from in vitro cultured adapted better than that of un-rooted one, when transplanted into the field (acclima-tization). Therefore, in this research root in-duction of pyrethrum clone Prau 6-in vitro-shoots were conducted by applying Indole Butyric Acid (IBA) and Naphtaleine Acetic Acid (NAA). Experiment was arranged in a single factor Completely Randomized Design with 10 replications. The treatment tested was an application of synthetic auxins (IBA or NAA) into MS medium in 5 different level of concentrations (0.2; 0.4; 0.6; 0.8; 1.0 mg/l), and control (without auxin). The parameters observed were time to root-initiation, number and length of root, and root characteristic, at 6 weeks after subcultured. The results showed that application of IBA or NAA into MS me-dium significantly affected to the root initia-tion time, number of root, length and charac-teristic of the root, 6 weeks after subcultured. Induced-root on the medium containing 0.2 mg/l IBA showed a better characteristic as compared to others treatments with rounded-form, shorter initiation time (12.5 days), large amount of root (14.1) and longer (1.47 cm).
PENGARUH KEHALUSAN BAHAN DAN LAMA EKSTRAKSI TERHADAP MUTU EKSTRAK TEMULAWAK (Curcuma xanthorriza Roxb)
The Influence Of The Particle Size And Length Of Extraction On The Yield And Quality Of Curcuma Extract (Curcuma xanthoriza)The effect of suitable method condition to quality of Curcuma extract, was conducted in the Laboratory at Post Harvest Technology Labora-tory of Research Institute for Aromatic and Medi-cinal Crops Bogor from Mart to May 2006. The objective of this experiment to find out the suita-ble method condition to get quality Curcuma ex-stract. Randomized complete design with factorial was used and using 2 replications. The trearment divided 2 factors, they are material of particle size and duration of extraction. Two particles size inclu-ding 40 and 60 mesh, and three lengths of ex-traction including 4, 6 and 8 hours were tested. The result showed that the particle size influen-ced the extract yield, curcumin content, oil con-tent and xanthorizol content in the extract. Mean while, the length of extraction influenced the ex-tract and oil content. The highest Cur-cumin content is 2.88% obtained from 40 mesh particle size material, while Xanthorizol content is 14.25% obtained from material with 60 mesh of particle size.
BIOAKTIVITAS SEDIAAN BUAH BRUCEA JAVANICA SEBAGAI INSEKTISIDA NABATI UNTUK SERANGGA HAMA PERTANIAN
Uji hayati ekstrak buah Brucea java-nica di laboratorium Hama dan Penyakit Tum-buhan Fakultas Pertanian Universitas Tanjung-pura mulai Januari sampai dengan Juni 2007 telah dilaksanakan untuk mengevaluasi penga-ruh letal, penghambatan makan, penghambatan peneluran, dan penekanan pertumbuhan terha-dap serangga. Sebagai serangga uji digunakan Crocidolomia pavonana. Uji hayati sediaan dilakukan dengan metode residu pada daun. Ekstraksi menggunakan etanol dengan metode maserasi. Hasil pengujian menunjukkan bahwa ekstrak buah B. Javanica memiliki pengaruh letal yang kuat terhadap larva C. pavonana de-ngan LC50 0,12%. Ekstrak pada kisaran konsen-trasi 0,06 - 0,25% menghambat makan dan me-nurunkan laju pertumbuhan larva C. Pavonana, masing-masing sebesar 91,8 - 97,2% dan 28,8 - 72,8%. Pada kisaran konsentrasi ekstrak 0,12 – 3,0% menghambat peneluran imago C. pavo-nana sebesar 68,2 - 96,5%. Keseluruhan bio-aktivitas tersebut menambah keefektifan eks-trak buah B. javanica sebagai insektisida bota-ni.
IDENTIFIKASI KOMPONEN KIMIA AKSESI RUMPUT KEBAR (Biophytum petersianum) ASAL PAPUA DAN JAWA
Rumput kebar belum banyak dikenal orang, tetapi di Papua secara empiris digunakan sebagai penyubur kandungan. Senyawa aktif yang berperan sebagai obat maupun penyubur termasuk golongan steroid, saponin dan flavonoid. Bahan aktif merupakan metabolit sekunder, kandungannya bervariasi tergantung lingkungan tumbuh, waktu panen dan proses pengolahan. Tujuan penelitian adalah identifikasi mutu aksesi rumput kebar asal Papua, Jawa Barat dan Jawa Tengah untuk menghasilkan simplisia yang berkualitas. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Pengujian, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor pada tahun 2011. Bahan baku menggunakan rumput kebar asal Papua, Jawa Barat dan Jawa Tengah. Bagian tanaman yang diidentifikasi adalah secara keseluruhan. Rumput kebar dicuci bersih, ditiriskan, dikeringkan kemudian digiling. Serbuk yang diperoleh dianalisis mutunya dengan parameter meliputi : karakteristik mutu, skrining fitokimia, senyawa aktif, unsur mineral dan aktivitas antioksidan. Hasil penelitian menunjukkan, rumput kebar asal Papua, Jawa Barat dan Jawa Tengah mengandung kadar sari air lebih besar dibandingkan kadar sari alkohol. Jumlah kadar sari air berkisar antara 11,57-11,73% dan kadar sari alkohol 10,29-10,55%. Rumput kebar mengandung senyawa kimia golongan alkaloid, saponin, tanin, fenolik, flavonoid, triterpenoid, steroid dan glikosida. Jumlah senyawa kimia yang terdeteksi pada aksesi rumput kebar asal Papua adalah sebanyak 15 komponen dan dari Jawa 14 komponen. Kadar unsur mineral rumput kebar meningkat sebesar 0,00-51,15% setelah difermentasi. Rumput kebar asal Papua memiliki daya aktivitas antioksidan yang lebih tinggi dibandingkan Jawa Barat maupun Jawa Tengah. Nilai IC 50 (konsentrasi penghambatan 50%) asal Papua 27,74 ppm, Jawa Barat 45,93 ppm dan Jawa Tengah 38,13 ppm
KERAGAMAN HASIL DAN UKURAN RIMPANG LEMPUYANG WANGI (Zingiber aromaticum) PERTANAMAN ASAL BENIH
Lempuyang wangi termasuk family Zingiberaceae, yang biasa diperbanyak menggunakan rimpang. Tanaman lempuyang membentuk bunga, buah dan biji. Biji lempuyang dapat tumbuh walaupun membutuhkan waktu lama untuk berkecambah. Pada penelitian ini dilakukan penanaman lempuyang wangi yang diperbanyak dari biji. Biji lempuyang dipanen dari pertanaman lempuyang wangi yang berdekatan dengan areal penanaman lempuyang gajah. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui morfologi dan produksi rimpang lempuyang wangi dengan benih asal biji. Biji lempuyang dikecambahkan pada media arang sekam. Lima puluh semai yang tumbuh baik, kemudian ditanam dalam polybag. Pengamatan dilakukan terhadap morfologi tanaman, produksi rimpang dan karakteristik rimpang. Panen rimpang dilakukan umur 10 bulan setelah tanam. Hasil pengamatan menunjukkan morfologi tanaman, produksi rimpang, ukuran rimpang dan warna daging rimpang, beragam dengan tingkat keragaman tergolong luas. Secara visual sosok tanaman lebih kecil dari tanaman induk dengan jumlah anakan banyak (lebih kurang 30 anakan). Kisaran produksi rimpang per rumpun 20-450 g, lebih kecil dari rimpang lempuyang induk (300-1.200 g). Ukuran panjang rimpang 7-30 cm, lebar rimpang 3,5-18 cm dan jumlah propagul 2-37 buah. Warna dan aroma daging rimpang bervariasi, dari wangi lembut sampai langu. Perlu dilakukan penanaman ulang rimpang hasil panen pada generasi ke-2 untuk mengetahui apakah tanaman dapat berproduksi dan berukuran rimpang normal.
PRODUKSI FLAVONOID DAUN KEMUNING (Murraya paniculata L. Jack) PADA DOSIS PUPUK ORGANIK DAN INTERVAL PANEN YANG BERBEDA
Kemuning (Murraya paniculata) telah digunakan secara tradisional sebagai tanaman obat karena mengandung metabolit sekunder yang memiliki berbagai fungsi. Pemupukan dengan pupuk organik dan interval panen dapat meningkatkan produksi metabolit sekunder, terutama flavonoid. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh kombinasi dosis pupuk organik dan interval panen yang berbeda terhadap produksi flavonoid daun kemuning. Penelitian dilaksanakan sejak Juni 2014 sampai Februari 2015 di Kebun Percobaan Organik IPB, Cikarawang, Bogor. Percobaan disusun berdasarkan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan faktor (1) pupuk organik menggunakan 8 kombinasi dosis pupuk kandang ayam (PA) dan abu sekam (AS) yaitu kontrol; 0 kg PA + 3 kg AS; 7 kg PA + 0 kg AS; 7 kg PA + 3 kg AS; 14 kg PA + 0 kg AS; 14 kg PA + 3 kg AS; 21 kg PA + 0 kg AS; 21 kg PA + 3 kg AS pertanaman dan (2) 3 interval panen (2, 3, dan 4 bulan). Data dianalisis menggunakan uji F dan taraf DMRT 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kombinasi dosis pupuk organik dengan berbagai dosis yang berbeda tidak memberikan pengaruh nyata (P>0,05) terhadap semua parameter yang diamati. Perlakuan interval panen nyata meningkatkan produksi daun berupa berat basah dan kering daun total pada interval panen 4 bulan masing-masing sebesar 914,92 g tanaman-1, 258,53 g tanaman-1. Perlakuan interval panen memberikan pengaruh terhadap produksi senyawa flavonoid total, antosianin, protein, klorofil total, dan aktivitas antioksidan. Interval panen 2 bulan menghasilkan klorofil total tertinggi sebesar 1,72 mg g BB-1.Interval panen 4 bulan menunjukkan aktivitas enzim PAL (7,915 x 10-5 mg CA eq g BB-1), produksi protein (7,96 mg tanaman-1), flavonoid total (682,82 mg tanaman‑1), antosianin (1,17 mg tanaman-1), dan aktivitas antioksidan (76,51%) tertinggi. Tidak ada interaksi antara pemberian pupuk organik dengan interval panen semua parameter pengamatan
SIMULASI PENENTUAN SKALA EKONOMI DAN EKOLOGI SISTEM USAHATANI TERPADU SERAIWANGI DAN SAPI PERAH DI LEMBANG JAWA BARAT
Pengembangan keterpaduan subsektor pertanian merupakan upaya untuk mewujudkan usahatani yang berkelanjutan. Integrasi tanaman seraiwangi dan sapi perah berpotensi untuk dikembangkan di tingkat petani peternak rakyat. Tujuan penelitian adalah untuk simulasi menentukan skala usahatani terpadu seraiwangi dan sapi perah rakyat yang memenuhi kelayakan ekonomis dan kelayakan ekologis di Lembang Jawa Barat. Studi dilaksanakan sejak April sampai Oktober 2014. Responden berasal dari pengelola dan staf Kebun Percobaan Manoko serta peternak rakyat. Metode analisis menggunakan analisis deskriptif dan analisis dinamika sistem. Berdasarkan simulasi penghitungan skala usahatani terpadu seraiwangi dan sapi perah rakyat, skala usahatani yang layak secara ekonomi maupun ekologi berdasarkan kecukupan pupuk kandang adalah dengan luas minimum lahan tanaman seraiwangi seluas 3.000 m2 dan kepemilikan sapi perah sebanyak 3 ekor. Usahatani terpadu seraiwangi dan sapi perah tidak menggunakan pupuk dan pestisida kimia. Usahatani terpadu seraiwangi dan sapi perah memiliki nilai positif karena mampu meminimalisir pencemaran lingkungan dan mengurangi ketergantungan input dari luar
KARAKTERISTIK POHON INDUK GAMBIR (Uncaria gambir (Hunter) Roxb.) DI SENTRA PRODUKSI SUMATRA BARAT DAN RIAU
Sumatra Barat, Riau dan Sumatra Selatan merupakan sentra produksi gambir di Indonesia. Sumatra Barat dan Riau telah dipilih populasi terbaik untuk dijadikan pohon induk. Keragaman populasi terpilih di sentra produksi belum banyak diketahui, oleh karena itu dila-kukan karakterisasi untuk mengetahui kera-gaman pohon induk di sentra produksi gambir di Sumatra Barat dan Riau. Karakterisasi di-lakukan langsung di lapang dan dilaksanakan di lahan petani gambir di Sumatra Barat yaitu di Kabupaten Lima Puluh Kota (Gunung Ma-lintang, Harau dan Tanjung Gadang), Kabu-paten Pesisir Selatan (Siguntur dan Barung-Barung Belantai) dan di kabupaten Kampar-Riau (Tabing, Tanjung, Muara Takus, Gunung Bungsu, Gunung Malelo, Tanjung Alai dan Ba-lung). Karakterisasi dilakukan terhadap 31 po-pulasi gambir terpilih. Pengamatan dilakukan terhadap karakter kualitatif dan kuantitatif ya-itu ranting, daun, bunga dan buah. Untuk ka-rakter produksi daun pengamatan dilakukan selama 5 kali panen berturut-turut. Data hasil pengamatan ditabulasi dan kemudian dilakukan analisa kluster untuk melihat kekerabatan antar aksesi dan pengelompokannya berdasarkan Taxonomic Average Distance menggunakan program NTSYSpc ver. 2.1 (exeter sofware). Hasil penelitian menunjukkan berdasar karak-ter panjang dan lebar daun, tipe Cubadak cen-derung lebih panjang dan lebar dibandingkan tipe Udang dan tipe Riau, demikian pula de-ngan panjang ruas ranting. Sebaliknya, jumlah polong buah per tangkai dan jumlah biji per po-long pada tipe Cubadak lebih sedikit. Kluster berdasarkan sifat kuantitatif terlihat bahwa an-tar tipe tidak mengelompok dalam kluster yang berbeda, melainkan berbaur, aksesi dari daerah lokal yang sama umumnya berada pada anak kluster yang sama. Hasil analisis kluster berda-sarkan sifat kualitatif tidak memisahkan aksesi berdasarkan basis geografi daerah asal Riau atau Sumatra Barat, tapi memisahkan tipe Udang dengan tipe lainnya (Cubadak dan Riau). Berdasarkan sifat produksi aksesi me-ngelompok ke dalam 2 kluster utama. Kluster 1 terdiri dari tanaman yang berproduksi getah tinggi (>1000 kg) yaitu UTG, UGB, CSG, CTA, USG, UBL, UMT, RTG, RTJ dan CTB. Sedang pada kluster ke-2 membagi ke dalam 3 anak kluster, namun demikian produksi ge-tah tertinggi berada dalam anak kluster ter-sendiri yaitu terdiri dari UGM, UGO, UTB, UHR, UTA dan UTB. Berdasarkan total ka-rakter (baik karakter kualitatif maupun kuantitatif), kombinasi tipe dan daerah lokal asal tanaman tercermin dalam kluster. Gambir tipe udang mengelompok dalam anak kluster tersendiri, walaupun ada yang out kluster seperti aksesi UBB dan USG. Aksesi dari dae-rah asal yang sama cenderung berada pada anak kluster yang sama.
STATUS PENGUSAHAAN MINYAK ATSIRI DAN FAKTOR-FAKTOR TEKNOLOGI PASCA PANEN YANG MENYEBABKAN RENDAHNYA RENDEMEN MINYAK
The Enterprise Status of Essential Oil and The Factors of Post Harvest Technology That Caused Its The Low of Oil RendementIn generally, essential crops were cul-tivated by farmer with limited of capital, large area and using a simple destilation, with the result that quality and rendement still lower. The research aimed to known status of essential oil enterprise and the factors that caused its rende-ment of oil still low. The research was conducted on April - July 2004 in 7 Provinces of producti-on centra of essential oil with make use of case study methods. The result indicated that conditi-on of destilation in 7 Provinces in generally still used the simple processing technology, which a kettle of its destilation made from waste drum or iron plate, except in Province of Banten, West Java, and Central Java have already make use of the good technology of destilation (patchouly and cananga). The factors that caused the low of oil rendement and quality are materials contruc-tion of destilation tools, preparations of raw materials and destilation process.