Natural Science: Journal of Science and Technology
Not a member yet
282 research outputs found
Sort by
Keanekaragaman Suku Asteraceae Di Sekitar Danau Kalimpa’a Kawasan Taman Nasional Lore Lindu
Keanekaragaman Suku Asteraceae di Sekitar Danau Kalimpa’a Kawasan Taman Nasional Lore Lindu. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei sampai September 2016. Tujuan menyediakan informasi mengenai keanekaragaman jenis tumbuhan suku Asteraceae di sekitar Danau Kalimpa’a agar dapat menambah data ilmiah guna upaya konservasi. Metode yang digunakan yaitu teknik eksplorasi pada 7 titik lokasi penelitian. Identifikasi dilakukan di Laboratorium Biodiversitas Jurusan Biologi FMIPA UNTAD. Tumbuhan Asteraceae di sekitar danau Kalimpa’a berjumlah 12 jenis, 12 genus dan 4 tribe, yaitu: Acmella paniculata, Adenostemma viscosum, Ageratum conyzoides, Austroeupatorium inulaefolium, Bidens pilosa, Dicrocephala bicolor, Eclipta prostrata, Erigeron sumatrensis, Galinsoga parviflora, Sonchus arvensis, Synedrella nodiflora, dan Youngia japoni
Kelimpahan Relatif dan Preferensi Habitat pada Kepiting Mangrove (Uca spp.) di Kabonga Kecil, Donggala, Sulawesi Tengah
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan relatif dan preferensi habitat kepiting mangrove Famili Ocypodidae (Uca spp.)di zona intertidal di Kabonga Kecil, Donggala, Sulawesi Tengah. Koleksi sampel dilaksanakan pada bulan Januari 2017 menggunakan metode purposive sampling pada 4 stasiun. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 6 spesies kepiting genus Uca di Kabonga Kecil yaitu Uca annulipes,U. triangularis, U. perplexa, U. dussumieri, U. demani, dan U. vocans yang tersebar pada 3 tipe habitat yaitu substrat berlumpur, substrat berpasir dan substrat pasirberlumpur.Kelimpahan dari masing-masing spesies adalah U. dussumieri 75%; U. demani100%; U. demani 68,67%; dan 4: U. dussumieri 67,65% berturut-turut dari stasiun 1 sampai 4. Hutan mangrove di Kabonga Kecil memiliki suhu substrat yang berkisar antara 26ºC ‒ 30ºC sedangkan pH berkisar antara 5,0% ‒ 6,1%
Keanekaragaman Kumbang Antena Panjang (Coleoptera: Cerambycidae) pada Beberapa Perkebunan di Polokarto, Jawa Tengah
Kumbang antena panjang merupakan serangga penting dalam ekosistem karena ketergantungannya pada sumber makanan di berbagai spesies tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman kumbang antena panjang pada berbagai perkebunan di Polokarto, Jawa Tengah. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan perangkap cabang tumbuhan nangka (Artocarpus trap). Sebanyak 409 individu terkoleksi, terdiri dari 4 tribe, 5 genus dan 10 spesies. Spesies yang paling melimpah disetiap habitat adalah Sybra alternans (163 individu), kemudian diikuti oleh Pterolophia melanura (96 individu). Keanekaragaman tertinggi pada habitat kebun campuran (H= 1,846) kemudian diikuti pada kebun tebu (H= 1,723) dan paling rendah pada kebun jati (H= 1,51). Kesamaan komunitas berdasarkan indeks kesamaan Bray-Curtis, tertinggi antara habitat kebun campuran – kebun jati (0,795)
Uji Efektivitas Ekstrak Daun Kirinyuh (Chromolaena Odorata (L.) R. M. King Dan H. Rob) Sebagai Herbisida Alami Terhadap Perkecambahan Biji Kacang Hijau (Vigna Radiata (L.) R.Wilczek) Dan Biji Karuilei (Mimosa Invisa Mart. ex Colla)
Penelitian uji efektivitas daun kirinyuh (chromolaena odorata (L.) R. M. King & H.Rob) sebagai herbisida alami terhadap perkecambahan biji kacang hijau (Vigna radiata (L.) R. Wilczek) dan biji karuilei (Mimosa invisa Mart. Ex Colla) dilaksanakan pada bulan Juli sampai September 2016, di Laboratorium Bioteknologi Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Tadulako. Penelitian ini disusun berdasarkan model Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari 6 perlakuan dan 3 kali pengulangan dengan konsentrasi ekstrak P0 = 0% P1 = 15% P2 = 20% P3 = 25% P4 = 30% P5 = 35%. Variabel pengamatan meliputi daya kecambah (persentase perkecambahan), laju perkecambahan, panjang hipokotil dan berat basah. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pemberian ekstrak daun kirinyuh Chromolaena odorata berpengaruh dalam menghambat perkecambahan biji kacang hijau Vigna radiata dan biji karuilei Mimosa invisa. Pengambatan perkecambahan biji karuilei M. invisa dan kacang hijau V. radiata dimulai dari konsentrasi 15% sampai 35%. Hasil skrining fitokimia daun C. Odorata positif mengandung senyawa metabolit sekunder, yaitu saponin, tanin, flafonoid, alkaloid dan fenilok
Aktivitas Gastroprotektif Ekstrak Etanol Daun Gedi Hijau (Abelmoschus manihot (L.) Medik) Terhadap Tikus Putih Jantan (Rattus norvegicus L.) Yang Diinduksi Dengan Aspirin
Gedi hijau (Abelmoschus manihot (L.)Medik ) mengandung flavonoid, alkaloid, tannin, dan saponin yang mampu melindungi mukosa lambung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas gastroprotektif serta untuk mengetahui dosis efektif ekstrak etanol daun gedi hijau dalam pemberian efek gastroprotektif terhadap tikus putih jantan yang diinduksi dengan aspirin. Ekstrak diperoleh dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Sampel terdiri dari 24 ekor tikus putih jantan (Rattus norvegicus L.) dibagi dalam 6 kelompok. Perlakuan diberi per oral selama 3 hari meliputi: Kelompok kontrol normal diberi 0,5% Na-CMC; kelompok kontrol negatif diberi 0,5% Na-CMC + Aspirin 600 mg/kg BB; kelompok kontrol positif diberi suspensi Sukralfat 360 mg/kg BB + Aspirin 600 mg/kg BB; kelompok dosis uji 1 diberi ekstrak etanol daun gedi hijau 100 mg/kg BB + Aspirin 600 mg/kg BB; kelompok dosis uji 2 diberi ekstrak etanol daun gedi hijau 200 mg/kg BB + Aspirin 600 mg/kg BB; kelompok dosis uji 3 diberi ekstrak etanol daun gedi hijau 300 mg/kg BB + Aspirin 600 mg/kg BB. Pada hari ke 3, tikus dibedah 4 jam setelah pemberian aspirin, diambil organ lambung untuk dilakukan perhitungan indeks ulser dan persen inhibisi. Data dianalisis menggunakan uji statistik Kruskal Wallis dan uji statistik Mann Whitney dengan α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun gedi hijaudapat mencegah kerusakan mukosa lambung tikus yang dipapar aspirin dengan dosis efektif adalah 300 mg/kg BB yang sebanding dengan sukralfa
Analisis Efektifitas Biaya Pengobatan Kombinasi Amlodipin Furosemid Dibandingkan dengan Kombinasi Amlodipin Bisoprolol pada Pasien Hipertensi Rawat Jalan di Rsud Undata Palu Periode Agustus-Oktober Tahun 2014
"> Penelitian ini dirancang untuk menganalisis efektivitas biaya pengobatan kombinasi amlodipin-furosemid dibandingkan dengan kombinasi amlodipin-bisoprolol pada pasien hipertensi rawat jalan di RSUD Undata Palu periode bulan Agustus-Oktober 2014 dengan melihat efektivitas pengobatan dan efektivitas biaya antara kedua kombinasi obat tersebut. Metode yang digunakan adalah deskriptif yang dikerjakan secara prospektif dari baseline hingga evaluasi pada bulan pertama (sekitar 30-40 hari) dengan mengumpulkan data primer berupa wawancara dan data sekunder berupa rekam medik terhadap pasien hipertensi yang menjalani rawat jalan di RSUD Undata Palu periode Agustus-Oktober 2014. Efektivitas pengobatan yang diukur yaitu berdasarkan rata-rata selisih penurunan tekanan darah sisitolik dan diastolik mencapai target yaitu <140/90 mmHg (terkontrol) selama sekitar 30-40 hari setelah terapi, sedangkan efektivitas biaya dilihat berdasarkan nilai ACER (Average Cost Effectiveness Ratio) dan ICER (Incremental Cost Effectiveness Ratio). Hasil penelitian menunjukkan efektivitas pengobatan berdasarkan rata-rata selisih penurunan tekanan darah sistolik maupun diastolik untuk kelompok amlodipin-bisoprolol berturut-turut sebesar 13,91 mmHg dan 3,48 mmHg dan kelompok amlodipin-furosemid berturut-turut sebesar 12,00 mmHg dan 2,92 mmHg. Sedangkan efektivitas biaya berdasarkan nilai ACER pada kelompok amlodipin-furosemid dan kombinasi amlodipin-bisoprolol secara berurutan adalah Rp. 306,37 dan Rp.1.081,16 sedangkan nilai ICER adalah Rp. –34.494,75. Dapat disimpulkan bahwa untuk efektivitas pengobatan, kombinasi amlodipin-bisoprolol yang memiliki pengobatan paling efektif dari pada kombinasi amlodipin-furosemid sedangkan untuk efektivitas biaya, kombinasi amlodipin-furosemid yang memiliki biaya paling efektif dari pada kombinasi amlodipin-bisoprolol
Penentuan Lokasi Berpotensi Longsor Dengan Menggunakan Metode Analytycal Hierarchy Process (AHP) Di Kecamatan Kulawi Kabupaten Sigi
Penelitian tentang lokasi berpotensi terjadi bahaya longsor dengan menggunakan Metode Analytycal Hierarchy Process (AHP) telah dilakukan di Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi Propinsi Sulawesi Tengah. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan faktor-faktor penyebab bahaya longsor di Kecamatan Kulawi melalui AHP dan memetakan lokasi yang berpotensi bahaya longsor berdasarkan analisis spasial. Pada penelitian ini digunakan 5 data faktor penyebab longsor yaitu data kemiringan lereng, curah hujan, jenis tanah, penggunaan lahan, dan kondisi geologi. Kemudian dilakukan perhitungan bobot setiap parameter penyebab longsor menggunakan Metode AHP dan besar pengaruh dari setiap parameter terhadap kejadian longsor. Hasil perhitungan diperoleh bobot dari setiap parameter penyebab bencana longsor yaitu bobot kemiringan lereng 52%, bobot curah hujan 25%, bobot kondisi geologi (batuan) 12%, bobot jenis tanah 6% dan bobot penggunaan lahan 5%. Data-data penyebab longsor tersebut kemudian ditumpang susun (overlay) dengan peta yang ada dan menghitung nilai hazard (bahaya longsor). Berdasarkan hasil analisis spasial diperoleh, lokasi yang berpotensi longsor di Kecamatan Kulawi diklasifikasikan menjadi tidak bahaya, kurang bahaya, sedang, bahaya, dan sangat bahaya dengan luas daerah berturut-turut 25,13 (2,23%), 418,71 (37.17%), 560,78 (49,8 %), 103,78 (9,2%), dan 17,93 (1,96%). Kejadian longsor di Kecamatan Kulawi dipengaruhi oleh keadaan lahan yang dibuka masyarakat untuk areal perkebunan dan ladang pada kawasan yang derajat kemiringannya cukup tinggi
Keanekaragaman Hymenoptera pada Kebun Kakao di Lembah Napu, Sulawesi Tengah, Indonesia
Salah satu daerah di Indonesia yang menjadi sentra produksi kakao nasional adalah Sulawesi. Peningkatan produktivitas kakao berfokus pada pengendalian hama dan penyakit, optimalisasi penerapan teknologi budidaya, penggunaan jenis tanaman tertentu atau peremajaan tanaman yang telah tua, namun belum mempertimbangkan agen yang membantu dalam proses penyerbukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis lebah pada kebun kakao di Lembah Napu, Sulawesi Tengah. Koleksi Hymenoptera dilakukan pada siang dan malam hari menggunakan sweep net dan light trap. Ditemukan sebanyak 4 spesies Hymenoptera yang termasuk dalam 2 famili yaitu Apis cerana., Apis dorsata, Ceratina sp., Champsomeris sp. Kelimpahan individu tertinggi di plot 2 yaitu 53 individu (49.07%), diikuti plot 1 yaitu 37 individu (34.26%) dan plot 3 dengan kelimpahan terendah yaitu 18 individu (16.67%). Keanekaragaman serangga tertinggi di Plot 2 yaitu H'=1.19, diikuti plot 1 yaitu H'=1.12 dan plot 3 dengan nilai terendah H'=0.98. Kemerataan serangga tertinggi di plot 3 dengan nilai E=0.34, diikuti plot 1 dengan nilai E=0.31, dan plot 2 dengan nilai terendah E=0,30. Lebah yang memiliki ukuran tubuh kecil yaitu Ceratina sp. dengan ukuran 8-10 mm. Namun dari segi perilaku kunjungan, Ceratina sp. tidak mengunjungi bunga kakao, sehingga lebah tersebut belum dapat disimpulkan sebagai lebah penyerbuk kakao yang potensial, meskipun memiliki ukuran yang kecil