Bahtera Sastra: Antologi Bahasa dan Sastra Indonesia
Not a member yet
73 research outputs found
Sort by
WAWACAN SAPRI: KRITIK TEKS DAN TINJAUAN KANDUNGAN
AbstrakArtikel ini merupakan kajian terhadap naskah Wawacan Sapri yang ada di Desa Pasirhuni Kecamatan Cimaung Kabupaten Bandung. Metode yang digunakan ialah metode deskriptif analisis dengan menerapkan kritik teks naskah tunggal edisi standar. Kajian meliputi aspek teks naskah Wawacan Sapri dan tinjauan kandungan isi. Kajian teks menghasilkan edisi teks yang mudah dibaca dan terjemahan teks yang mudah dipahami serta terdapat refleksi kearifan lokal dalam bentuk pemakaian bendé. Terdapat pula kemiripan antara teks naskah Wawacan Sapri dengan Hikayat Indra Bangsawan versi Melayu dan versi Aceh. Bentuk teks naskah Wawacan Sapri berupa Pupuh (puisi terikat) yang sesuai dengan konvensi yang berlaku di masyarakat Sunda namun terdapat beberapa penyimpangan, yaitu penyimpangan guru wilangan pada beberapa pupuh.Kata kunci: Wawacan Sapri, pupuh, tinjauan kandunga
KAJIAAN SOSIOLINGUISTIK PADA STIKER KENDARAAN BERMOTOR RODA DUA DI KOTA BANDUNG
AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi oleh maraknya pengguna kendaraan bermotor roda dua yang menempelkan stiker, sehingga menimbulkan banyak respon dari pembaca. Tujuan penelitian untuk menentukanbentuk lingual, variasi bahasa, serta maksud dan tujuan petuturan. Metode yang digunakan adalah metode kualitalif. Teori yang melandasi adalah teori sosiolinguistik. Data penelitian berupa foto stiker hasil observasi. Hasil penelitian adalah bentuk lingual berupa kata, frasa, klausa, dan kalimat; variasi bahasa dari segi penutur dan keformalan; serta maksud dan tujuan petuturan yaitu ancanam, do’a, dan pemberitahuan. Kata Kunci: sosiolinguistik, stiker, dan kendaraan roda dua
WACANA LENGSERNYA MUHAMMAD MURSI DARI JABATAN PRESIDEN MESIR DALAM SURAT KABAR REPUBLIKA DAN KOMPAS (ANALISIS WACANA KRITIS MODEL THEO VAN LEEUWEEN)
AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi oleh terjadinya satu peristiwa politik besar di Timur Tengah, yakni pelengseran Muhammad Mursi dai jabatan kepresidenan Mesir. Penelitian ini mempertanyakan perbedaan sudut pandang antara harian Repbulika dan Kompas dalam memberitakan lengsernya Muhammad Mursi. Penelitian yang menggunakan metode deksriptif ini bertujuan meneliti perbedaan sudut pandang kedua media tersebut, dengan menggunakan analisis wacana kritis model Theo van Leeuween, yang berfokus pada analisis strategi pengeluaran (exclusion) dan pemasukan (inclusion) atas aktor yang terlibat dalam peristiwa. Berdasarkan pada peneltian atas yang dilakukan, dapat ditarik kesimpulan, yakni bahwa pada pemberitaan tanggal 5 Juli mengenai lengsernya Mursi, Republika cenderung lebih apa adanya dalam memberitakan peristiwa tersebut, yang dibuktikan dengan dominannya penggunaan strategi verba, sementara Kompas cenderung membela militer dan menydutkan para pendukung Mursi, yang dibuktikan dengan strategi-strategi nominalisasi dan pasivasi yang digunakan. Sementara pada pemberitaan 14 Agustus mengenai bentrokan pihak militer dengan pendukung Mursi, kedua media cenderung memberitakan negatif pihak militer dan menonjolkan kelompok pendukung Mursi. Kata Kunci: Analisis Wacana Kritis, Theo van Leeuween, Muhammad Mursi, Republika, Kompas
MANTRA SINGLAR: STRUKTUR, KONTEKS PENUTURAN, PROSES PENCIPTAAN, DAN FUNGSI DI DESA SUNDAMEKAR, CISITU, SUMEDANG
AbstrakPenelitian ini berjudul “Mantra Singlar: Struktur, Konteks Penuturan, Proses Penciptaan, dan Fungsi di Desa Sundamekar Cisitu Sumedang. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keinginan peneliti untuk meneruskan penelitian-penelitian sebelumnya dengan mengangkat pokok permasalahan: 1) struktur, 2) konteks penuturan, 3) proses penciptaan dan 4) fungsi, yang menekankan pada kelisanan teks. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Jenis Metode yang disajikan dalam penelitian ini adalah secara kualitatif. Penelitian ini lebih menekankan pada data alamiah yang dihubungkan dengan konteks keberadaannya di masyarakat pemiliknya. Objek penelitian ini adalah puisi mantra yang berupa mantra singlar yang berjumlah empat teks yaitu mantra untuk pengusir hama, mantra melahirkan, mantra pengusir makhluk halus/jin, dan mantra keluar rumah. Prosedur analisis yang digunakan adalah sebagai berikut: Pertama, menganalisis struktur teks yang terdiri atas formula sintaksis, formula bunyi (rima, aliterasi dan asonansi), formula irama, majas, dan tema. Komposisi tersebut akan mempelihatkan ciri sastra lisan.
SIKAP PEMERTAHANAN BAHASA SUNDA DALAM KONTEKS PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (KAJIAN SOSIOLINGUISTIK DI DESA SARIREJA, KECAMATAN JALAN CAGAK, KABUPATEN SUBANG)
AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi oleh kekhawatiran punahnya suatu bahasa yang akan terjadi hampir di seluruh dunia termasuk Indonesia apabila usaha pemertahanan tidak benar-benar dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) sikap bahasa anak-anak PAUD di Desa Sarireja, Kecamatan Jalan Cagak, Kabupaten Subang, terhadap bahasa Sunda, (2) frekuensi penggunaan bahasa Sunda, dan (3) faktor pendukung dan penghambat pemertahanan bahasa Sunda. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian ini memanfaatkan metode deskriptif kualitatif. Teori yang melandasi penelitian ini adalah sosiolinguistik, sikap bahasa, serta pemertahanan bahasa dan pergeseran bahasa. Data penelitian ini berupa berbagai peristiwa tutur bahasa Sunda yang dilakukan oleh anak-anak PAUD, baik tuturan lisan maupun tulisan, dan informasi mengenai faktor pendukung dan penghambat pemertahanan bahasa Sunda yang diberikan oleh responden orang tua siswa dan pengajar PAUD. Hasil penelitian ini adalah (1) sikap bahasa anak-anak PAUD di Desa Sarireja, Kecamatan Jalan Cagak, Kabupaten Subang, terhadap bahasa Sunda bersikap positif, (2) frekuensi penggunaan bahasa Sunda anak-anak PAUD cukup tinggi dibandingkan penggunaan bahasa Indonesia, dan (3) faktor pendukung pemertahanan bahasa Sunda di Desa Sarireja, Kecamatan Jalan Cagak, Kabupaten Subang meliputi: loyalitas terhadap bahasa ibu dan lingkungan keluarga. Sementara itu, faktor penghambat pemertahanan bahasa Sunda meliputi perpindahan penduduk, faktor ekonomi, dan faktor pernikahan antar etnis yang berbeda. Kata kunci: sikap dan pemertahanan bahas
KLASIFIKASI EMOSIONAL DALAM UNGKAPAN BAHASA INDONESIA YANG MENGGUNAKAN KATA HATI
AbstrakPenelitian dilatarbelakangi oleh banyaknya makna ungkapan di dalam bahasa Indonesia berklasifikasi emosional yang merujuk pada suatu perasaan dan pikiran-pikiran khasnya. Ungkapan tidak hanya sekedar rangkaian kata, tetapi hasil perenungan dan pengamatan terhadap aneka gejala alam, kondisi sosial, dan tingkah laku manusia di dalam kehidupan sehari-hari. Terkadang ungkapan dipergunakan oleh seseorang sebagai kata ganti untuk mengibaratkan sesuatu hal atau keadaan. Kini, istilah hati yang berfungsi sebagai tempat menyimpan perasaan batin dapat dijadikan sebuah ungkapan yang unik baik dari segi bentuk, makna, dan penggunaannya. Selanjutnya, tujuan dalam penelitian ini: (1) mengkaji bentuk lingual dan (2) mengklasifikasikan emosional berdasarkan teori Goleman. Metode yang digunakan adalah deskriptif dan analisis kualitatif yang didasarkan pada studi kepustakaan. Teori yang melandasi penelitian ini, yaitu bentuk lingual berdasarkan teori Ramlan (2001: 27) dan emosional berdasarkan teori Goleman (1999: 411- 413). Data penelitian berupa ungkapan-ungkapan yang menggunakan kata hati dalam bahasa Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bentuk lingual didominasi oleh kata majemuk sebanyak 81 data ungkapan. Selain itu, pengklasifikasian data ungkapan terdapat 6 klasifikasi emosional yang lebih mengena dengan data ungkapan penggunaan kata hati, di antaranya: (1) marah, (2) kesedihan, (3) takut, (4) kenikmatan, (5) jengkel, dan (6) rasa cinta dan kasih. Adapun 4 klasifikasi tambahan, di antaranya (1) rasa semangat, (2) rasa jujur, (3) rasa sabar, dan (4) rasa keinginan. Kata kunci: klasifikasi emosional, ungkapan, hat
FUNGSI DAN MAKNA MANTRA TANDUR DI DESA KARANGNUNGGAL KECAMATAN CIBEBER KABUPATEN CIANJUR
Abstrak Artikel ini merupakan kajian terhadap mantra tandur (tanam padi) yang ada di Desa Karangnunggal Kecamatan Cibeber Kabupaten Cianjur. Pengkajian dilakukan terhadap tiga varian mantra dengan tujuan mendapatkan deskripsi mengenai bentuk mantra tandur, fungsi dan maknanya. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode deskriptif analisis dengan pendekatan folkor yang bersifat holistik. Berdasarkan analisis yang dilakukan, didapati hasil bahwa struktur mantra tandur terdiri atas pola-pola tertentu yang menandakan bahwa yang diutamakan dalam mantra tersebut adalah tujuan penerima dan keadaan tanama padi yang subur dan menghasilkan padi yang berkualitas baik. Fungsi mantra tandur ialah sebagai alat pendidikan, sistem proyeksi dan sebagai pengesah kebudayaan. Makna mantra tandur ialah sebagai permohonan manusia untuk memperoleh kesejahteraan dalam hidup. Kata kunci: mantra tandur, fungsi, makn
KRITIK TEKS DAN TELAAH FUNGSI NASKAH WAWACAN BIDAYATUSSALIK
Abstrak Penelitian ini mengangkat objek penelitian berupa naskah (manuskrip) yang berjudul Wawacan Bidayatussalik (WBS). Latar belakang penelitian ini didasari oleh keberagaman budaya Nusantara yang mengemban isi sangat kaya. Keberagaman tersebut dapat ditemukan pada teks naskah sebagai dokumen kesusastraan lampau yang mencatat perihal perkembangan sejarah, sosial, budaya dan tradisi di masyarakat. Dalam mengungkap berbagai aspek permasalahan pada naskah, penelitian ini menggunakan kajian filologis berupa kritik teks dengan penerapan metode edisi naskah standar. Kajian filologis menekankan pada aspek kajian fisik dan isi teks untuk menghasilkan edisi teks WBS. Pembahasan dilanjutkan dengan tinjauan kandungan teks dan fungsi berdasarkan edisi teks baru WBS. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi kepada masyarakat ihwal naskah sebagai dokumen budaya, dan berkontribusi bagi bidang ilmu lain sejarah, budaya, dan agama.Kata Kunci: filologi, naskah keagamaan, edisi teks, tinjauan kandungan isi, fungsi teks, dan wawacan Bidayatussalik
PUISI SAWÉR TURUN TANAH DI KECAMATAN RAJADESA KABUPATEN CIAMIS (STRUKTUR, PROSES PENCIPTAAN, KONTEKS PENUTURAN, FUNGSI, DAN MAKNA)
AbstrakPuisi sawér turun tanah (PSTT) merupakan puisi sawér yang terdapat di kecamatan Rajadesa Kabupaten Ciamis. PSTT dianalisis berdasar lima aspek, yaitu struktur, proses penciptaan, konteks penuturan, fungsi dan makna. Penelitian ini menggunakan metode kuatitatif deskriptif-analisis dan pendekatan Lord atau teori formula. Analisis struktur dilakukan untuk mengetahui pola-pola teks puisi sawér yang saling berkaitan, meliputi analisis formula sintaksis, formula bunyi, formula irama, majas, dan isotopi. Analisis proses penciptaan pada teks puisi sawér turun tanah dilakukan untuk mengetahui bagaimana proses penciptaan teks sawér pada saat teks sawér dituturkan dan sebelum teks sawér dituturkan. Analisis konteks penuturan teks puisi sawér turun tanah dilakukan untuk mengetahui bagaimana situasi dan kondisi pada saat teks sawér dituturkan, meliputi waktu penuturan, orang-orang yang terlibat pada saat teks dituturkan, struktur penuturan, dan tempat penuturan teks. Analisis fungsi puisi sawér turun tanah dilakukan untuk mengetahui fungsi apa saja yang terdapat pada teks sawér. Analisis makna puisi sawér turun tanah dilakukan untuk mengetahui makna yang terkandung dalam teks sawér tersebut pada saat penutur menuturkannya. Kata Kunci: Folklor; Struktur teks; Proses penciptaan; Konteks penuturan; Fungsi; Makna
CARITA MAUNG PADJAJARAN: STRUKTUR, PROSES PENCIPTAAN, KONTEKS PENUTURAN, FUNGSI, DAN MAKNA
AbstrakCarita Maung Padjajaran (CMP) merupakan versi cerita Prabu Siliwangi yang terdapat di Kecamatan Surade dengan karakteristik yang khas. Kekhasan tersebut disebabkan adanya kaitan CMP dengan tempat-tempat di sekitar Surade. CMP dianalisis berdasar lima aspek, yaitu struktur, proses penciptaan, konteks penuturan, fungsi dan makna. Analisisnya dengan metode deskriptif kualitatif dan pendekatan kritik sastra lisan. Hasil penelitian tiga versi CMP menunjukkan struktur intertektual CMP berwujud ekspansi dan konversi, Hal tersebut ditunjukkan melalui alur, tokoh dan latarnya. Proses penciptaan didasarkan pada pola skema. Artinya, dalam proses penciptaanya tercipta tiga pola utama yakni bagian awal, tengah, dan akhir. Konteks penuturan disesuaikan dengan kedudukan cerita serta kondisi masyarakat Surade. Secara umum konteks penuturan menggambarkan kaitan CMP dengan masyarakat Surade. Fungsi yang terdapat dalam CMP terutama fungsi pendidikan moral serta pemaksa norma di masyarakat yang berhubungan dengan pelestarian alam. Makna yang terdapat dalam CMP umumnya tentang kearifan hidup, diantaranya mengenai hubungan manusia dengan manusia yang digambarkan melalui para tokoh dalam CMP. Kata Kunci: cmp, struktur, proses penciptaan, konteks penuturan, fungsi, makna, skema, surade