Bahtera Sastra: Antologi Bahasa dan Sastra Indonesia
Not a member yet
73 research outputs found
Sort by
INTERPRETASI MAKNA DAN POTENSI PELANGGARAN ETIKA BERBAHASA BERDASARKAN EPI DALAM IKLAN SAMPO
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya makna tersembunyi dan potensi pelanggaran etika berbahasa berdasarkan Etika Pariwara Indonesia (EPI) dalam video iklan sampo pada tahun 2019 s.d. 2021. Iklan sering menyembunyikan makna untuk memanipulasi publik agar mencapai tujuan iklan, yaitu agar masyarakat memiliki kepercayaan terhadap barang atau jasa yang diiklankan. Bahkan, iklan melanggar peraturan EPI untuk mencapai tujuan iklan sehingga berpotensi menimbulkan persaingan tidak sehat dan merugikan konsumen. Setiap iklan wajib mematuhi segala peraturan yang tercantum dalam kitab EPI. Namun, dalam praktiknya terdapat sejumlah iklan yang melanggar peraturan EPI. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan interpretasi makna dan potensi pelanggaran etika berbahasa berdasarkan EPI dalam video iklan sampo pada tahun 2019 s.d. 2021. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan teknik dokumentasi, simak, dan catat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat berbagai makna implisit di dalam video iklan sampo. Selain itu, terdapat empat iklan sampo yang berpotensi melanggar etika berbahasa berdasarkan EPI. Pelanggaran etika berbahasa tersebut meliputi (1) penggunaan kata superlatif berupa penggunaan frasa “nomor satu” tanpa disertai bukti berupa hasil survei atau riset dari lembaga independen dan kredibel yang dapat dipertanggungjawabkan, (2) eksploitasi kata “halal”, serta (3) penggunaan kata “hanya” tanpa disertai bukti yang dapat dipertanggungjawabkan
KESENIAN BRINGBRUNG DI KELURAHAN LEDENG, BANDUNG: KAJIAN STRUKTUR, KONTEKS PERTUNJUKAN, PROSES PENCIPTAAN, FUNGSI, DAN MAKNA
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena kesusastraan lisan budaya Sunda yang salah satunya dimiliki masyarakat Kelurahan Ledeng di Kota Bandung. Kesenian Bringbrung tercatat telah berdiri sekitar tahun 1914, yang dipelopori oleh leluhur dari Pak Saripin bernama Abah Enja. Pada tahun tersebut, Abah Enja menemukan alat musik beserta sebuah kitab di pemakaman Cidadap. Tujuan adanya mantra Bringbrung di tengah masyarakat Ledeng ialah untuk mengingat rezeki yang telah diberikan Tuhan atas hasil panen. Penelitian ini memiliki tujuan untuk memperoleh informasi berkenaan struktur mantra, konteks pertunjukan, proses penciptaan, fungsi, dan makna. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menempatkan peneliti sebagai instrumen utama untuk menemukan jawaban dari masalah. Hasil penelitian dari mantra Bringbrung versi pendek menunjukkan bahwa struktur mantra memiliki irama teratur, bunyi dominan dari mantra berupa bunyi-bunyi khusyuk serta liris, dan tema yang berkaitan dengan isu-isu lingkungan, kepercayaan, serta sosial. Konteks pertunjukan pada ketiga bait mantra menunjukkan adanya pembacaan terhadap situasi dan budaya dari kolektif pemilik. Proses penciptaannya bersifat terstruktur dengan pola pewarisan yang horizontal dan vertikal. Hal tersebut menunjukkan bahwa mulai terdapat keterbukaan dalam kolektif kesenian. Adapun fungsinya berkaitan dengan sistem proyeksi, alat pengesahan budaya dan pendidikan, alat untuk memberikan kedudukan, menegur seseorang, serta memprotes hal yang tidak adil. Makna mantra Bringbrung memiliki representasi terhadap tema-tema alam, kepercayaan, dan sosial yang memiliki peran penting dalam pengetahuan kolektif Bringbrung
KRITIK SOSIAL DALAM KUMPULAN PUISI NEGERI TERLUKA KARYA SAUT SITUMORANG
Permasalahan sosial tidak dapat kita dihindari. Permasalahan tersebut dapat berupa berbagai masalah di berbagai lini kehidupan, baik pendidikan, ekonomi, kejahatan, atau kesehatan. Permasalahan tersebut memunculkan kritik di masyarakat. Permasalahan mendasar lain adalah ketidaksesuaian antara harapan dan realitas cenderung memunculkan kritik di dalam masyarakat. Berbagai masalah di Indonesia dapat disampaikan melalui berbagai media. Salah satu media yang dapat digunakan adalah karya sastra. Hal tersebut disebabkan karya sastra lahir dari keadaan sosial budaya sehingga menjadi cerminan keadaan sosial yang sebenarnya. Oleh sebab itu, peneliti tertarik untuk mengkaji kumpulan puisi Negeri Terluka karya Saut Situmorang yang mengandung unsur kritik sosial. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan kritik sosial yang terkandung dalam kumpulan puisi Negeri Terluka karya Saut Situmorang. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif analisis. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sosiologi sastra. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah delapan puisi pada kumpulan puisi Negeri Terluka, yaitu (1) “potret Kota Medan”; (2) “banyak orang menebang hutan”; (3) “HARTO” (4) “aku adalah mayat”; (5) “PERINGATAN RAKYAT”; (6) “Negeri Terluka”; (7) “Matamu”; dan (8) “Apakah Kita Harus Diam Saja?!”. Data dikumpulkan dengan teknik dokumentasi. Setelah dianalisis, kumpulan puisi Negeri Terluka karya Saut Situmorang ditemukan kritik sosial berupa kritik sosial masalah lingkungan hidup, masalah birokrasi, masalah kependudukan, masalah pelanggaran norma-norma masyarakat, masalah kejahatan, dan masalah kemiskinan
PRAKTIK MOM SHAMING DALAM MEDIA SOSIAL INSTAGRAM
Fenomena mom shaming yang terjadi di media sosial tidak dapat dihindari. Penelitian ini, oleh karena itu, mengkaji bentuk-bentuk ujaran mom shaming di media sosial Instagram dan mencari tahu efek yang ditimbulkan dari ujaran tersebut menggunakan kajian pragmatik. Penelitian ini menggunakan metode observasi dan dokumentasi dengan teknik simak bebas libat cakap dan teknik catat. Penelitian deskriptif ini mengambil data dari kolom komentar akun Instagram selebritas Indonesia yang memiliki pengikut di atas sepuluh juta. Analisis dalam penelitian ini didasarkan pada teori tindak tutur, karena ujaran mom shaming di media sosial dalam pandangan banyak orang tidak hanya dianggap sebagai tulisan biasa karena signifikansinya bagi penulis dan pembaca. Tujuan penelitian ini ialah mengeksplorasi, menyelidiki, dan mendeskripsikan bentuk-bentuk ujaran mom shaming yang terdapat dalam media sosial Instagram dan efek yang ditimbulkannya. Penelitian ini dengan hati-hati memeriksa bagaimana maksud dari komentar mom shaming yang ditulis oleh pengguna Instagram untuk pengguna Instagram lainnya. Temuan mengungkapkan bahwa ujaran mom shaming yang terdapat dalam kolom komentar akun Instagram selebritas merupakan tindak tutur jenis asertif, direktif, dan ekspresif yang memiliki tujan menasihati, melarang, memohon, memerintah, mengkritik, menyatakan, dan menunjukkan seperti apa pengasuhan yang baik
FUNGSI PELESETAN ABREVIASI NAMA KAMPUS DI INDONESIA (KAJIAN SEMIOTIKA)
Penggunaan pelesetan dalam bahasa Indonesia sering digunakan masyarakat sebagai bentuk realitas dalam komunikasi. Hal tersebut dapat dilihat dari pelesetan singkatan nama kampus di Indonesia. Pada awalnya, pelesetan singkatan nama kampus hanya dibuat sebagai kejenakaan biasa yang bertujuan untuk menghibur. Namun, pada perkembangannya mulai muncul pelesetan-pelesetan yang bekerja sebagai sindiran secara tidak langsung kepada situasi atau orang tertentu. Penelitian ini menggunakan teori semiotika dengan pendekatan kualitatif dan metode deskriptif. Data penelitian ini adalah pelesetan singkatan nama kampus di Indonesia. Data penelitian ini bersumber dari penggunaan pelesetan abreviasi nama kampus yang berasal dari Twitter dan Kaskus. Tujuan penelitian ini adalah memaparkan fungsi pelesetan yang terkandung dalam pelesetan singkatan nama kampus di Indonesia. Temuan penelitian ini adalah sebagai berikut. Temuan tentang fungsi pelesetan singkatan nama kampus di Indonesia. Temuannya meliputi dua hal, yaitu fungsi humor dan fungsi sindiran. Terdapat 30 fungsi humor pelesetan singkatan nama kampus di Indonesia yang terungkap melalui (1) identitas kampus, (2) lokasi kampus, (3) tampilan dan bentuk fisik kampus, (4) stereotip kampus, (5) kegiatan kampus, serta (6) biaya kuliah kampus yang murah. Selanjutnya, terdapat 20 fungsi sindiran pelesetan singkatan nama kampus di Indonesia yang terungkap melalui (1) kondisi kampus dan (2) biaya kampus yang mahal. Kesimpulannya adalah fungsi humor dalam pelesetan abreviasi nama kampus di Indonesia memiliki jumlah yang dominan dibandingkan fungsi sindiran dalam pelesetan abreviasi nama kampus di Indonesia
IDEOLOGI MARXIS SERTA LATAR EKSPRESIF DALAM CERITA MERAH KARYA LIEM KHING HOO
Proses penciptaan sebuah karya sastra tak terlepas dari hal-hal yang melatarbelakangi, segala faktor lingkungan dan ideologi penulis ataupun ideologi etnis seringkali menjadi faktor penting yang dapat mendorong lahir dan terciptanya sebuah karya sastra. Liem Khing Hoo tentu mempunyai sebuah ideologi pribadi yang menjadi landasan fundamental dalam menjalankan hidupnya, serta Liem Khing Hoo mempunyai ideologi bersama sebagai ras peranakan Cina di tengah masyarakat melayu yang bersuku-suku. Dalam cerita Merah karya Liem Khing Hoo perjuangan kelas sangat kentara. Buruh- buruh pabrik rokok yang tidak mendapatkan haknya melakukan aksi tuntutan terhadap tuan pabrik. Adanya pengumpulan massa sehingga tercipta suatu kekuatan massa yang berawal dari solidaritas karena merasa tertipu oleh seorang tuan pabrik, menimbulkan gejolak perlawanan terhadap sesuatu yang lebih superior. Penelitian ini berjenis dekriptif kualitatif. Pada cerita Merahkarya Liem Khing Hoo terdapat nilai-nilai marxismyang terlihat dalam filsafat materialisme, kritik ekonomi politik, doktrin perjuangan kelas dan unsur kesemestaan. Sedangkan dalam latar ekspresif dapat diketahuo bahwa Liem Khing Hoo adalah seorang dengan konsep lokalitas yang kental, beruapaya melakukan propaganda ekonomi sosialis, menentang stratifikasi kelas. Segi kesemestaan dalam cerita ini merujuk pada tahun 1937 di mana terdapat banyak pabrik rokok pada masa itu
STRATEGI PRAGMATIK TUTURAN PERINGATAN PELANGGARAN LALU LINTAS DI KOTA BANDUNG
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh cara petugas Dinas Perhubungan Kota Bandung ketika memperingati pelanggar lalu lintas melalui Area Traffic Control System (ATCS) lewat pengeras suara dan terhubung CCTV. Cara petugas menegur pelanggar terbilang kreatif sehingga menimbulkan gelak tawa dari pengendara lainnya. Hal ini menandakan bahwa bahasa dimanfaatkan petugas sebagai alat komunikasi dalam menginisiasi pelanggar yang semaksimal mungkin tidak menyinggung perasaan para pelanggar, tetapi tetap memberikan efek jera. Oleh sebab itu, peneliti tertarik untuk meneliti tuturan petugas tersebut menggunakan kajian ilmu pragmatik dengan kerangka analisis tindak tutur (speech act) dan implikatur. Adapun metode penelitian ini adalah kualitatif yang bersifat deskriptif dengan teknik simak, catat, dan studi dokumentasi. Tujuan penelitian ini ialah sebagai berikut: (1) mengklasifikasi dan mendeskripsikan tuturan petugas Dinas Perhubungan Kota Bandung ketika memperingati pelanggar lalu lintas berdasarkan jenis tuturan, (2) mendeskripsikan cara bertutur petugas Dinas Perhubungan Kota Bandung ketika memperingati pelanggar lalu lintas, dan (3) mendeskripsikan efek perlokusi petugas Dinas Perhubungan Kota Bandung ketika memperingati pelanggar lalu lintas terhadap pelanggar lalu lintas. Dari 24 data tuturan petugas Dishub Kota Bandung ketika memperingati pelanggar lalu lintas menghasilkan tiga bentuk tindak tutur, yaitu tidak tutur direktif, asertif, dan ekspresif dengan verba performatif yang berbeda. Jenis implikatur dibagi menjadi tiga jenis, yaitu tuturan dengan implikatur (1) konvensional, (2) nonkonvensional, serta (3) konvensional dan nonkonvensional. Adapun fungsi tuturannya sama, yaitu untuk memerintah, meskipun dalam penyampaian maknanya dilakukan secara tersurat dan tersirat. Selain itu, efek perlokusi tuturan petugas terbagi menjadi tujuh macam tingkah laku yang berbeda sebagai respons dari para pelanggar
PENGGUNAAN AKRONIM DALAM VARIASI BAHASA GAUL SEBAGAI WUJUD KREATIVITAS REMAJA DI DUNIA MAYA (KAJIAN SOSIOLINGUISTIK)
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh terdapatnya penggunaan akronim dalam variasi bahasa gaul di kalangan remaja masa milenial di dunia maya. Terjadinya variasi bahasa yang disebabkan oleh penuturan yang heterogen, dan aktivitas interaksi sosial yang sangat beragam. Hal ini juga mempengaruhi komunikasi antar remaja, yang terlihat pada penggunaan akronim dalam variasi bahasa gaul yang digunakan pada media sosial. Penelitian ini menarik untuk dikaji karena penelitian ini menghadirkan bukti nyata dari perkembangan bahasa yang terus beraneka ragam dan sebagai bukti wujud kreativitas remaja yang bervariasi. Adanya perbedaan diakronis dalam variasi bahasa gaul inilah yang membuat akronim-akronim di masa milenial berbeda dengan akronim di masa yang akhirnya. Tujuan penelitian ini adalah (1) menjelaskan bentuk akronim; dan (2) makna akronim. Teori yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah teori Kridalaksana yang menjelaskan mengenai bentuk dan makna akronim dalam variasi bahasa. Objek kajian dalam penelitian ini adalah akronim dalam variasi bahasa gaul di kalangan remaja di dunia maya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif dengan sosiolinguistik sebagai pendekatan teoretisnya. Hasil dari penelitian ini ditemukan 80 data bentuk akronim yang termasuk dalam teori Kridalaksana, dan 40 data penambahan bentuk baru pada akronim variasi bahasa gaul sebagai wujud kreativitas remaja
PENGGAMBARAN PEREMPUAN DI DUNIA SIMBOLIK DALAM NOVEL TANGO & SADIMIN KARYA RAMAYDA AKMAL: KAJIAN PSIKOANALISIS
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masalah ketidakadilan gender yang masih dialamiperempuan hingga saat ini. Masalah tersebut diangkat lewat konflik-konflik yang dialami kelima tokoh utama perempuan dalam novel Tango Sadimin karya Ramayda Akmal. Menurut psikoanalisis feminisme Lacan, opresi yang dialami perempuan berasal dari kegagalan perempuan menjadi phallus. Akibatnya, perempuan terpinggirkan di dunia Simbolik. Kegagalan tersebut juga menimbulkan rasa kekurangan dan hasrat. Oleh karenaitu, permasalahan yang berusaha diangkat dalam penelitian ini adalah hasrat dan penggambaran tokoh perempuan di dunia Simbolik dalam novel Tango Sadimin karya Ramayda Akmal. Karena konflik batin dan perwatakan tokoh perempuan lebih menonjol, teks dikaji dengan pendekatan psikologi sastra dan feminisme psikoanalisis dan feminismepostmodernisme. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran perempuan di duniaSimbolik berdasarkan hasrat tokoh utama perempuan dalam novel Tango Sadimin karyaRamayda Akmal. Hal ini bertujuan untuk mengetahui ketidakadilan gender dilihat dari segipsikis tokoh perempuan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka. Teknik pengolahan data dilakukan dengan analisis struktur menggunakan teori Tzvtan Todorov, analisis hasrat menggunakan psikoanalisis Lacan, analisis penggambaran perempuan di dunia Simbolik menggunakan pembacaan dekonstruksi. Adapun hasil penelitian ini adalah: 1) hasrat tokoh utama pere mpuan didominasi oleh fantasi anaklitik aktif dari tatanan YangReal dan hasrat narsisitik dari tatanan Yang Simbolik; 2) terdapat dua representasi perempuan di dunia Simbolik yaitu perempuan yang melawan aturan Simbolik yang represif (tergambar melalui tokoh Nini Randa, Nah dan Sipon) dan perempuan yang ter- represi oleh aturan Simbolik (tergambar melalui tokoh Tango dan Nyai Pertama); 3) kegagalan perempuan menjadi phallus tidaklah bersifat kodrati dan dapat diubah dengan cara perempuan menyadari bahwa ia dapat memilih yang terbaik untuk hidupnya dan bertanggungjawab atas pilihannya tersebut
PUISI BERGAYA HAIKU DALAM CYBER SASTRA INDONESIA DI ERA MILENIAL (2018-2019)
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh era digital yang umumnya menyentuh berbagai aspek kehidupan serta lapisan masyarakat. Secara khusus dalam dunia kesusastraan Indonesia, perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) telah mendukung kegiatan-kegiatan berbasis digital. Hal ini pun terlihat pada keberadaan puisi yang terdapat di cyber sastra. Artinya, bidang kesusastraan memanfaatkan ruang teknologi yang tercipta. Seiring dengan perkembangan IPTEK, puisi pun turut mengalami perkembangan yang dinamis. Perkembangan ini dapat diamati dari kemunculan produk karya sastra di ruang cyber, yaitu puisi haiku bergaya Indonesia. Media cyber ini berdampingan dan melekat dengan generasi milenial yang notabene tidak terlepas dari aktivitas digital. Berdasarkan pengamatan peneliti, keberadaan puisi haiku bergaya Indonesia dengan puisi haiku di Jepang memiliki perbedaan yang kontras. Perbedaan tersebut berdampak pada eksistensi puisi haiku itu sendiri sehingga mengalami pergeseran. Hal tersebut terlihat dari hasil penelitian yang menunjukkan bahwa generasi milenial cenderung menulis puisi haiku dengan konsep, tema, dan bentuk yang berbeda dari puisi haiku di Jepang. Oleh karena itu, penelitian ini berfokus pada pemanfaatan media cyber khususnya Instagram yang relevan dengan topik penelitian. Adapun proses analisis dilakukan dengan mengkaji struktur puisi melalui teori haiku kemudian dikaji dengan ilmu semiotika