Jurnal Perikanan dan Kelautan
Not a member yet
258 research outputs found
Sort by
Arah Pergerakan Kapal dengan Sudut Kedatangan Gelombang yang Menghasilkan Amplitudo Rolling Minimum
Kapal perikanan memiliki bentuk dan ukuran yang berbeda. Kapal perikanan di Pelabuhan Perikanan Pantai Puger didominasi oleh kapal-kapal berukuran kecil yang berukuran <5 GT. Tujuan penelitian ini adalah menghitung besar amplitudo rolling minimum berdasarkan variasi arah kedatangan gelombang terhadap arah pergerakan kapal dan merekomendasikan arah keberangkatan kapal dan arah kepulangan kapal terhadap sudut kedatangan gelombang yang aman. Penelitian dilakukan terhadap kapal jukung berukuran p × l × t yaitu 12 × 1,3 × 1 m berbahan kayu. Metode penelitian yang digunakan adalah simulasi dengan variasi sudut encounter saat kapal keluar adalah 90o, 135o, 150o dan 165o, sedangkan variasi sudut encounter saat kapal masuk adalah 15o, 30o, 45o dan 90o. Berdasarkan hasil penelitian, sudut yang menghasilkan amplitudo rolling minimum pada saat kapal keluar dan masuk pelabuhan yaitu sudut 165o dan 15o dengan nilai amplitudo rolling sebesar 8,012o dan 12,287o. Rekomendasi dari penelitian ini adalah pada saat musim timur, kapal keluar dan masuk pelabuhan dengan sudut yang paling aman berhadapan dengan gelombang secara berurut adalah sudut 165o dan 15o
Karakteristik Pemanfaatan Ekstrak Rumput Laut (Kappaphycus alvarezii) dan Teh Hijau (Camellia sinensis) sebagai Sediaan Hydrating Toner
Penggunaan masker dalam kehidupan sehari-hari akibat wabah COVID-19 telah berjalan selama hampir tiga tahun. Akibat penggunaan masker dalam jangka waktu lebih dari 6 jam memunculkan reaksi kulit berupa jerawat. Kerusakan kulit tersebut dapat berujung pada kerusakan skin barrier. Kerusakan skin barrier dapat diatasi dengan mengaplikasikan hydrating toner pada kulit. Efektivitas hydrating toner dapat ditingkatkan dengan menggunakan kandungan bahan aktif. Rumput laut Kappaphycus alvarezii memiliki komponen biaoktif meliputi senyawa antioksidan, antibakteri, dan anti-inflamasi. Teh hijau merupakan tanaman yang kaya akan komponen bioaktif dan banyak digunakan dalam sediaan kosmetik untuk memperbaiki kondisi kulit. Penggunaan teh hijau dengan kombinasi ekstrak tanaman lain telah banyak digunakan dalam pembuatan kosmetika dan menghasilkan kosmetika dengan kandungan anti-inflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik dari sediaan hydrating toner yang dihasilkan dari rumput laut K. alvarezii dan teh hijau (C. sinensis). Pembuatan ekstrak menggunakan metode maserasi. Ekstrak K. alvarezii ditambahkan dalam formulasi dengan empat konsentrasi yang berbeda yaitu 0%, 5%, 10%, dan 15%. Parameter pengujian yang dilakukan yaitu kapasitas antioksidan metode DPPH, aktivitas antibakteri, uji pH, uji homogenitas, uji waktu kering, dan uji hedonik. Hasil penelitian menunjukkan persentase inhibisi DPPH sediaan hydrating toner berada pada kisaran 83,31±0,77-90,26±1,85%. Zona hambat yaitu 5,5±3,97-9,83±1,76 mm dengan daya antibakteri kuat sampai sedang. Nilai pH sediaan berada dalam kisaran 5,75-5,85 yang masih dalam rentang pH kulit normal. Seluruh sediaan hydrating toner tercampur dengan sempurna, menghasilkan aroma khas teh hijau, berwarna kuning kecoklatan, terkesan dingin, tidak lengket, dan terasa lembab. Lama waktu mengering sediaan yaitu 1 menit 2 detik sampai 1 menit 57 detik. Kata kunci: antiacne, makroalga, skin barrie
Rumput Laut dari Perairan Lontar: Jenis dan Potensi Pemanfaatannya
Perairan Lontar merupakan salah satu daerah penghasil rumput laut hasil budidaya di Provinsi Banten. Selain rumput laut yang dibudidayakan, di perairan ini juga terdapat rumput laut lainnya yang memiliki potensi untuk dimanfaatkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi jenis rumput laut yang ditemukan di Perairan Lontar. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menggambarkan potensi rumput laut liar yang ditemukan di Perairan Lontar. Penelitian ini menggunakan metode purposive random sampling dengan sampel yang berasal dari tiga titik yang telah ditentukan di Perairan Lontar. Sampel rumput laut kemudian diidentifikasi menggunakan literatur yang tersedia. Hasil penelitian menunjukkan terdapat lima jenis rumput laut yang terdapat di Perairan Lontar, yaitu Kappaphycus, Chaetomorpha, Gracilaria, Acanthophora dan Hypnea. Rumput laut yang ditemukan di Perairan Lontar ini memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan pangan, industri, atau kesehatan.
EVALUASI PEMBENIHAN IKAN PATIN SIAM (Pangasianodon hypopthalmus) DI UPTD CURUG BARANG, PENDEGLANG, BANTEN
Ikan patin adalah komoditas ekonomi tinggi dan telah dibudidayakan di Unit Pelaksana Teknis Daerah Produksi Perikanan Budidaya Air Payau dan Laut (UPTD PPBAPL) Curug Barang, Pandeglang, Banten. Pembenihan ikan patin memiliki peran yang sangat penting dalam menjamin ketersedian benih untuk menunjang produksi budidaya ikan patin. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aspek teknis dari pembenihan ikan patin di UPTD PPBAPL Curug Barang. Penelitian dilakukan pada bulan Januari-Maret 2023, berupa pengambilan data berupa observasi dan wawancara. Kegiatan pembenihan ikan patin yang dilakukan di UPTD PPBAPL Curug Barang meliputi kegiatan seleksi induk, pemijahan, penetasan telur, pemeliharaan larva dan pemeliharaan benih. Lima pasang induk ikan patin yang matang gonad disuntik dengan ovaprim untuk menginduksi ovulasi dan spermiasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata fekunditas, derajat pembuahan dan penetasan telur pada penelitian ini secara berurutan adalah 128.571 butir/kg, 80,35±0,54% dan 80,84±3,02%. Sedangkan nilai pertumbuhan mutlak larva ikan patin adalah sebesar 40,77 mm dan nilai SR sebesar 80,52%. Nilai kualitas air pada media penetasan telur, pemeliharaan larva dan benih berada pada kisaran normal nilai kualitas air pada pemeliharaan ikan patin. Secara umum nilai fekunditas, penetasan telur dan SR larva ikan patin di UPTD PPBAPL Curug Barang masih dalam kategori baik karena masih sesuai dengan SNI pembenihan ikan patin
Identifikasi Kesesuaian Lokasi Penempatan Rumah Ikan di perairan Pulau Kalih Kabupaten Serang
Fish apartment is a hollow building composed of solid objects placed in waters which is intended to replace the ecological function of natural habitat for fish resources. Therefore, the placement of fish houses must be done taking into account certain criteria. The aim of this research is to determine the suitability of the location for placing fish apartment in the waters of Kalih Island, Serang Regency, Banten Province. Survey and data collection activities were carried out in November 2023. The data collected included oceanographic characteristics, water quality and existing utilization activities carried out by the community in the waters of Kalih Island. Location suitability analysis is carried out using a scoring method with certain criteria. The results show the waters of Kalih Island are not suitable for placing fish apartment with the final scores obtained being 210 and 220. Parameters that are less suitable include water brightness, substrate type, safety factors and low community participation
Analisis Derivatif Aspek Ekonomi dan Sosial Nilai Tambah Smart Fisheries Village Panembangan, Banyumas, Jawa Tengah
Smart Fisheries Village (SFV) atau kampung perikanan pintar merupakan program KKP RI yang kegiatan utamanya adalah usaha tani minapadi yang mempertimbangkan kearifan lokal yang bertujuan untuk mengatasi keterbatasan lahan dalam budidaya ikan dan penanaman padi, meningkatkan ketersediaan pangan dan protein hewani, meningkatkan gizi dan kesejahteraan keluarga. SFV diharapkan dapat mengubah wajah kampung perikanan menjadi lebih berdaya saing karena kegiatan ekonomi di dalamnya menjadi lebih beragam, seperti adanya spot wisata hingga produksi produk UMKM. Jenis ikan yang banyak dibudidayakan pada sistem minapadi khususnya di daerah Jawa Tengah yaitu ikan Nila (Oreochromis niloticus), Nilem (Osteochilus vittatus), Mas (Cyprinus carpio). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis turunan aspek ekonomi dan sosial nilai tambah minapadi di SFV Desa Panembangan Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dan kuantitatif. Metode kualitatif digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci sedangkan metode kuantitatif digunakan untuk mengolah data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budidaya minapadi yang dilakukan terdiri dari beberapa proses, yaitu pemilihan lokasi, persiapan lahan dan wadah, pemilihan benih padi dan ikan, persemaian benih padi, penanaman padi, penebaran benih ikan, pemupukan, penyiangan gulma, manjemen kualitas air, pemeliharaan ikan, pengendalian hama dan penyakit serta pemanenan. Hasil turunan nilai tambah sistem minapadi adalah benih ikan sisa yang diolah menjadi kripik ikan dan pakan ikan hias serta obyek wisata yang potensial. Minapadi dapat meminimalisir risiko hilangnya sumber pendapatan petani dan pembudidaya ikan
Analisis tingkat kesegaran ikan tongkol (Euthynnus sp.) yang dipasarkan di Pasar Antang Kota Makassar
ABSTRAKPedagang yang menjual ikan tongkol di Pasar Antang Makassar masih kurang memperhatikan cara menjaga ikan agar tetap segar. Uji organoleptik dapat digunakan untuk mengetahui tingkat kesegaran ikan. Studi ini bertujuan untuk menentukan tingkat kesegaran ikan yang dijual di Pasar Antang Makassar. Penelitian ini dilakukan dari bulan April hingga Mei 2024. Sampel ikan tongkol segar diambil di Pasar Antang, Kota Makassar tiga kali, setiap hari pada pukul 07.00, 12.00, dan 17.00 WITA. Kemudian, sampel diuji organoleptik dan pHnya. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis deskriptif. Penelitian dilakukan sekitar dua minggu menunjukkan bahwa ikan tongkol yang dijual di Pasar Antang, Kota Makassar pada pukul 07.00 pagi masih dalam kondisi segar, tetapi ikan yang dijual dari pukul 12.00 hingga 17.00 telah mengalami kemuduran mutu yang signifikan. pH daging ikan diperkirakan berada di antara 5,57-6,57, yang menunjukkan bahwa masih dalam kisaran normal untuk ikan segar. Berdasarkan hasil ini, dapat disimpulkan bahwa ikan yang dijual di Pasar Antang, Kota Makassar pada pagi hari masih segar, tetapi mulai mengalami kemunduran mutu setelah sore hari.Kata kunci: Ikan tongkol, Organoleptik, Pasar Antang, Tingkat kesegaran ikan ABSTRACTTraders who sell tuna at the Makassar Antang Market still pay little attention to how to keep the fish fresh. Organoleptic tests can be used to determine the level of freshness of fish. This study aims to determine the level of freshness of fish sold at the Makassar Antang Market. This research was conducted from April to May 2024. Fresh tuna samples were taken at the Antang market in Makassar three times, every day at 07.00, 12.00 and 17.00 WITA. Then, the samples were tested for organoleptics and pH. The data obtained was analyzed using descriptive analysis. Research conducted for about two weeks shows that the tuna sold at the Antang market in Makassar at 07.00 am is still fresh, but the fish sold from 12.00 to 17.00 has experienced a significant decline in quality. The pH of fish flesh is estimated to be between 5.57-6.57, which indicates that it is still within the normal range for fresh fish. Based on these results, it can be concluded that the fish sold at the Antang Makassar market in the morning is still fresh, but the quality begins to decline after the afternoon.Keywords: Kawakawa, Organoleptic, Antang market, Fish freshness level
Proses pengasapan ikan tuna asap berdasarkan cara pengolahan pangan yang baik (CPPB) Desa Singa, Bulukumba
Pengasapan ikan tersebar dikalangan masyarakat Desa Singa yang dijadikan sebagai usaha. Sebagian penduduk melakukan usaha pengasapan ikan sebagai mata pencaharian yang dilakukan secara turun temurun. Proses pengasapan yang dilakukan masih tradisional dengan menggunakan rumah pengasapan (tungku). Namun pada proses pengasapan ikan yang dilakukan sering kali tidak sesuai dengan prosedur yang baik sehingga menghasilkan kualitas ikan asap yang tidak bertahan lama. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi proses pengasapan ikan tuna di Desa Singa berdasarkan prinsip-prinsip CPPB, serta mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dari metode pengasapan yang diterapkan, khususnya dalam aspek kebersihan, kontrol proses, dan kualitas produk akhir. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan observasi langsung dan wawancara mendalam dengan para pengolah ikan tuna di Desa Singa. Evaluasi dilakukan terhadap seluruh tahapan proses pengasapan, mulai dari persiapan bahan baku, pengasapan, hingga pengemasan akhir. Penilaian dilakukan berdasarkan standar CPPB yang mencakup aspek kebersihan, kontrol suhu, dan pengemasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan CPPB dalam proses pengasapan ikan tuna telah berhasil meningkatkan kebersihan dan kontrol suhu selama pengasapan, yang berkontribusi pada peningkatan kualitas produk akhir. Namun, masih terdapat kekurangan signifikan dalam kualitas pengemasan, yang mempengaruhi umur simpan dan daya tarik produk di pasar. Pengasapan dengan kontrol suhu yang lebih baik menghasilkan ikan tuna dengan rasa dan aroma yang lebih konsisten
Preference Level and Iron Content of Analog Rice Combination of Seaweed Flour (Sargassum sp.) and Commercial Beneng Taro Flour
It is hoped that making analog rice from a combination of seaweed flour (Sargassum sp.) and commercial beneng taro can become an alternative food to overcome the problem of anemia in Indonesia. The aim of this research is to determine the best combination treatment for making analog rice based on the iron content and hedonic test. The experimental design used a completely randomized design with four combination treatments of seaweed flour (Sargassum sp.) and commercial taro beneng, namely: A (0%:100%), B (5%:95%), C (10%:90 %), and D (15%:85%). The results of the research showed that treatment C was the best treatment with the product hedonic level being preferred and had iron content of 4.13 mg/100 grams