Jurnal Elementer
Not a member yet
    185 research outputs found

    Pengaruh Panjang Segmen Video pada Dynamic Adaptive Streaming over HTTP (DASH) terhadap Kualitas Pengiriman Video H.265

    Full text link
    Saat ini sudah muncul video coding terbaru yaitu H.265 atau dikenal dengan nama High Efficiency Video Coding (HEVC). Dalam penerapan layanan video streaming menggunakan MPEG-DASH, representasi tingkat kualitas video yang terdapat pada Media Presentation Description (MPD) disusun oleh beberapa segmen video. Permasalahan yang muncul saat pengaturan panjang segmen video tersebut adalah pengaruh kualitas video yang diterima pada klien pada saat segmen video tersebut dikirimkan menggunakan MPEG-DASH. Penelitian ini menggunakan video H.265 untuk dikirimkan menggunakan MPEG-DASH yang dicampur dengan trafik background dari server FTP pada jaringan WLAN. Hasil penilitian ini menunjukkan video H.265 dapat digunakan untuk pengiriman secara adaptif menggunakan MPEG-DASH. Panjang segmen video yang semakin kecil akan menghasilkan nilai PSNR yang semakin besar. Segmen video yang semakin besar berdampak positif terhadap processor usage karenamenghasilkan nilai yang semakin kecil.Kata kunci: HEVC, MPEG-DASH, H.265, PSNR, segme

    Perancangan dan Implementasi Gerakan Hover pada Tricopter

    Full text link
    Sistem kendali banyak memegang peranan penting dalam ilmu pengetahuan, teknologi maupun industri. Penelitian yang ditujukan untuk pengembangan sistem kendali sampai sekarang masih terus dilakukan untuk menjawab kebutuhan akan sistem kendali yang semakin kompleks. Tricopter merupakan salah salah satu jenis multirotor yang memiliki 3 buah rotor pada ujungujung frame. Untuk menggerakkan tricopter, yang harus dilakukan adalah mengatur kecepatan putaran tiap motor. Secara teori tricopter dapat terbang melayang pada satu titik, kegiatan ini dinamakan hover. Untuk menghasilkan gerakan hover pada tricopter, kecepatan motor harus dikendalikan pada daerah kecepatan nominal. Tricopter ini tidak hanya dapat hovering, tetapi juga dapat bergerak sesuai kendali dari operator. Tricopter dikontrol dengan menggunakan remote control sebagai pengirim sinyal gelombang radio secara wireless. Tricopter ini juga menggunakan sensor 3 axis Gyroscope yang berfungsi untuk sensor keseimbangan dan kecepatan. Tricopter dapat terbang selama 10 menit dengan kondisi baterai terisi penuh. Dan faktor angin berpengaruh pada saat take off dan hovering.Kata kunci: Tricopter, Remote Control, Hover, GyroscopeSistem kendali banyak memegang peranan penting dalam ilmu pengetahuan, teknologi maupun industri. Penelitian yang ditujukan untuk pengembangan sistem kendali sampai sekarang masih terus dilakukan untuk menjawab kebutuhan akan sistem kendali yang semakin kompleks. Tricopter merupakan salah salah satu jenis multirotor yang memiliki 3 buah rotor pada ujungujung frame. Untuk menggerakkan tricopter, yang harus dilakukan adalah mengatur kecepatan putaran tiap motor. Secara teori tricopter dapat terbang melayang pada satu titik, kegiatan ini dinamakan hover. Untuk menghasilkan gerakan hover pada tricopter, kecepatan motor harus dikendalikan pada daerah kecepatan nominal. Tricopter ini tidak hanya dapat hovering, tetapi juga dapat bergerak sesuai kendali dari operator. Tricopter dikontrol dengan menggunakan remote control sebagai pengirim sinyal gelombang radio secara wireless. Tricopter ini juga menggunakan sensor 3 axis Gyroscope yang berfungsi untuk sensor keseimbangan dan kecepatan. Tricopter dapat terbang selama 10 menit dengan kondisi baterai terisi penuh. Dan faktor angin berpengaruh pada saat take off dan hovering.Kata kunci: Tricopter, Remote Control, Hover, Gyroscop

    Study of Viola Jones Face Detection on Color Image based on Skin Pigmentation Level

    Full text link
    Automatic face detection has been very complex and challenging research topic due to the complexity of faces’ characteristics that is not rigid object. There have been many works on proposing robust algorithm on image detection. Many researcher use Viola Jones algorithm as their initial point and benchmark. The Viola-Jones face detection itself is the most popular and recent applicable algorithm that has been developed since 2004 by Paul Jones from Microsoft R&D and its co-inventor, Michael J. Jones from Mitsubishi R&D. Many previous works present the study on the Viola Jones algorithm subject to frontal face with no consideration on the skin pigmentation level. This paper presents study on The Viola Jones performance on color image that consider skin pigmentation level. To indicate the skin pigmentation level, the L* element on CIELAB color space is used. The skin pigmentation level is clustered into dark skin, brown skin and fair skin. The simulation result show that the Viola Jones performance tends to decrease when the skin pigmentation getting high (dark skin). Some hypotheses test had been done to support the claim.Metode deteksi wajah secara otomatis menjadi sebuah tantangan tersendiri dalam dunia penelitian. Hal ini mengingat representasi wajah yang tidak sederhana karena bukan merupakan sesuatu hal yang bersifat tegas. Banyak penelitian yang mengarah pada pengajuan algoritma baru untuk melakukan deteksi wajah otomatis. Algoritma Viola Jones seringkali dijadikan tolok ukur dikarenakan algoritma ini dianggap titik awal algoritma deteksi wajah otomatis yang efisien. Algoritma Viola Jones dikembangkan oleh Paul Jones dari Microsoft R&D dan Michael J.Jones dari Mitsubishi R&D sejak tahun 2004. Bebrapa publikasi ilmiah sebelumnya telah banyak menyajikan studi mengenai performa algoritma Viola Jones dengan beberapa kriteria gambar wajah. Akan tetapi, belum pernah ada yang mebahas bagaimana performa algoritma Viola jones berdasarkan pigmentasi kulit wajah yang dideteksi. Tulisan ini menyajikan studi atas algoritma Viola Jones dengan kriteria pembatas jenis pigmentasi kulit wajah. Untuk mengindikasikan pigmentasi kulit wajah, digunakan elemen L* pada ruang warna CIELAB. Pigmentasi kulit wajah diklasifikasikan menjadi gelap, coklat dan terang. Hasil simulasi dan uji statistic menunjukkan bahwa performa algoritma Viola Jones cenderung menurun ketika mendeteksi wajah dengan nilai pigmentasi tinggi (kulit gelap). Beberpa uji hipotesa dilakukan untuk memberikan validasi pada hasil simulasi.Kata kunci: Computer Vision, Face detection, Viola Jones Algorithm, L* on CIELA

    Mesin Penjual Softdrink Otomatis Berbasis ATMega8535

    Full text link
    Vending Machine merupakan mesin penjual minuman softdrink dengan menggunakan koin atau uang kertas sebagai transaksinya. Pada tulisan  disajikan rancangan sebuah alat penjualan softdrink otomatis berbasis mikrokontroler ATMega8535. Komponen yang digunakan adalah TCS3200, Motor DC, Pushbutton, 7-Segment, dan Motor Servo. Sensor akan mendeteksi mata uang kertas untuk menentukan besar nilainya mata uang. Motor DC digunakan sebagai aktuator pada penarikan uang. Kemudian untuk masukan dari mesin ini menggunakan Pushbutton berfungsi sebagai tombol pemilihan minuman. Pada mesin terdapat penunjukan jumlah minuman. Sedangkan sistem kerja penjatuhan minuman menggunakan motor servo setiap slot minuman. Untuk uang Rp5.000 hanya dapat melakukan sekali transaksi sedangkan uang Rp10.000 melakukan dua transaksi karena alat tidak menerima kembalian. Pengujian dilakukan pada pendeteksian mata uang, penarikan uang, dan pengeluaran minuman. Dari hasil pengujian didapat rata rata persentase keberhasilan vending machine dengan uang Rp5.000 sebesar 96.6% dan ketika uang Rp10.000 persentase keberhasilannya mencapai 93.2

    Robot Pemain Piano

    Full text link
    Piano adalah sebuah instrumen musik atau alat musik akustik yang berbunyi karena senar atau dawai yang dipukul oleh palu. Robot pemain piano merupakan suatu teknologi yang dapat bermain piano secara otomatis, yang dapat dipadukan dengan alat-alat musik atau instrument yang lainnya. Robot pemain piano ini adalah sebuah robot yang mengabungkan antara teknologi dengan seni yang bertujuan untuk menyampaikan kepada masyarakat bahwa bermain piano itu tidaklah sulit dan juga sebagai alat hiburan bagi masyarakat. Alat ini bisa memainkan alat musik piano secara otomatis sesuai dengan nada-nada yang diinginkan operator. Pada robot pemain piano ini mengunakan 24 tuts pada piano (2 oktaf) yang ditekan oleh solenoid. Nada – nada yang dimainkan oleh robot pemain piano ini adalah C-D-Dm-EEm-F-G-A-Am-B-Bm, dimana untuk membunyikan Piano ini yaitu dengan menggunakan solenoid untuk setiap tuts yang digunakan pada piano. Mikrokontroller ATmega8535 digunakan untuk menyimpan program dan mengatur kerja solenoid sesuai dengan output mikro yang diatur melalui program sehingga bunyi yang dihasilkan sesuai dengan yang diprogramkan. Program yang dibuat berfungsi untuk mengatur kerja solenoid untuk menekan tuts pada piano. Pengujian yang dilakukan pada robot pemain piano ini adala pengujian program untuk proses penekanan pada tuts piano, pengujian kesesuaian bunyi robot piano dan pengujian mengunakan yang berbeda. Dari hasil pengujian didapatlah kesimpulan yaitu dari 10 kali percobaan terdapat 10 % persentase error yang terjadi pada beberapa solenoid yang digunakan dan robot pemain piano dapat memainkan piano sesuai dengan program yang telah dibuat pada mikrokontroller ATmega8535 dan dapat bermain dengan mengunakan jenis – jenis keyboard yang berbeda.Kata kunci: Piano, Mikrokontroler, Solenoid, Robot Pemain PianoPiano adalah sebuah instrumen musik atau alat musik akustik yang berbunyi karena senar atau dawai yang dipukul oleh palu. Robot pemain piano merupakan suatu teknologi yang dapat bermain piano secara otomatis, yang dapat dipadukan dengan alat-alat musik atau instrument yang lainnya. Robot pemain piano ini adalah sebuah robot yang mengabungkan antara teknologi dengan seni yang bertujuan untuk menyampaikan kepada masyarakat bahwa bermain piano itu tidaklah sulit dan juga sebagai alat hiburan bagi masyarakat. Alat ini bisa memainkan alat musik piano secara otomatis sesuai dengan nada-nada yang diinginkan operator. Pada robot pemain piano ini mengunakan 24 tuts pada piano (2 oktaf) yang ditekan oleh solenoid. Nada – nada yang dimainkan oleh robot pemain piano ini adalah C-D-Dm-EEm-F-G-A-Am-B-Bm, dimana untuk membunyikan Piano ini yaitu dengan menggunakan solenoid untuk setiap tuts yang digunakan pada piano. Mikrokontroller ATmega8535 digunakan untuk menyimpan program dan mengatur kerja solenoid sesuai dengan output mikro yang diatur melalui program sehingga bunyi yang dihasilkan sesuai dengan yang diprogramkan. Program yang dibuat berfungsi untuk mengatur kerja solenoid untuk menekan tuts pada piano. Pengujian yang dilakukan pada robot pemain piano ini adala pengujian program untuk proses penekanan pada tuts piano, pengujian kesesuaian bunyi robot piano dan pengujian mengunakan yang berbeda. Dari hasil pengujian didapatlah kesimpulan yaitu dari 10 kali percobaan terdapat 10 % persentase error yang terjadi pada beberapa solenoid yang digunakan dan robot pemain piano dapat memainkan piano sesuai dengan program yang telah dibuat pada mikrokontroller ATmega8535 dan dapat bermain dengan mengunakan jenis – jenis keyboard yang berbeda.Kata kunci: Piano, Mikrokontroler, Solenoid, Robot Pemain Pian

    150

    full texts

    185

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Elementer
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇