Journal of Urban Society's Arts
Not a member yet
155 research outputs found
Sort by
Power Relations in the Design and Development of Karangwaru Riverside Yogyakarta-Indonesia – Women's Perspective
The design and construction of riverbanks in Karangwaru is a community participation-based development program where stakeholders play a role in the preparation of development and its implementation. The involvement of women as one of the stakeholders is one of the positive efforts for gender equality programs. However, women's voices in percieving the results of such development have never been clearly explored. How women respond to the development process and how power relations are created in a built environment are yet to be revealed. This study aims to see how power relations are formed in the design and development of Karangwaru Riverside. Using the Foucauldian discourse analysis method, this study managed to find 7 (seven) constructs and discourses that surround them. The results show that women have only control over two discourses, namely ethical and social discourse. Desain dan pembangunan bantaran sungai di Karangwaru merupakan program pembangunan berbasis partisipasi masyarakat di mana pemangku kepentingan berperan dalam persiapan pembangunan dan pelaksanaannya. Keterlibatan perempuan sebagai salah satu pemangku kepentingan merupkan salah satu upaya positif bagi program penyetaraan gender dalam pembangunan. Meskipun demikian suara perempuan dalam melihat hasil pembangunan tersebut belum pernah dieksplorasi dengan jelas. Bagaimana perempuan menyikapi proses pembangunan dan bagaimana relasi kuasa yang tercipta dalam lingkungan terbangun masih belum terungkap. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana relasi kuasa yang terbentuk dalam desain dan pembangunan Karangwaru Riverside. Dengan menggunakan metode analisis diskursus Foucauldian, penelitian ini berhasil menemukan 7 (tujuh) konstruk dan diskursus yang melingkupinya. Hasilnya menunjukkan bahwa perempuan hanya memiliki kontrol pada dua diskurus yaitu diskursus etika dan sosial.
Black Struggles in I Can’t Breathe by H.E.R.: A Multimodal Discourse Analysis
The death of George Floyd’s in May 2020 has raised the popularity of the phrase “I can’t breathe” as a statement against racism. This phrase inspired musician H.E.R., to write a song called I Can’t Breathe, which raises the issue of not only police brutality but also racism against black people in general. The objective of this study is to analyze the ideological structures and visual components in the song and examine how these aspects contribute to the Black Lives Matter movement. The lyrics and music video will be analyzed using multimodal discourse analysis. The findings of the lyrics and video analysis indicate that white superiority and violence towards black people are the root cause of the continuing protests against black racism. By using multimodal discourse analysis, this study establishes a strong connection between I Can’t Breathe and Black Lives Matter. The song serves as a protest aligning with the Black Lives Matter movement. The context behind the racial issues and the values of the movement in tackling the issues are conveyed clearly through the ideological structures and visual components of the song. Perjuangan Kulit Hitam dalam Lagu I Can’t Breathe karya H.E.R.: Analisis Wacana Multimodal. Kematian George Floyd pada bulan Mei 2020 menimbulkan popularitas atas frasa “I can’t breathe” sebagai pertentangan rasisme. Frasa ini menginspirasi H.E.R., seorang musisi, untuk menulis lagu berjudul I Can’t Breathe, yang tidak hanya berbicara tentang isu kekerasan polisi, tetapi juga rasisme terhadap kulit hitam secara keseluruhan. Tujuan dari penilitian ini adalah untuk menganalisis struktur ideologi dan komponen visual dalam lagu tersebut, dan mengamati apakah gerakan Black Lives Matter didukung oleh aspek-aspek tersebut. Lirik dan video klip lagu ini akan dianalisis menggunakan analisis wacana multimodal. Berdasarkan analisis lirik dan video, ditemukan adanya indikasi bahwa dominasi dan kekerasan yang dilakukan orang kulit putih terhadap kulit hitam adalah masalah utama dari protes sosial yang ada. Dengan menggunakan analisis wacana multimodal, penelitian ini mendefinisikan hubungan yang kuat antara lagu I Can’t Breathe dengan gerakan Black Lives Matter. Lagu ini berperan sebagai sebuah protes yang mendukung Black Lives Matter. Konteks dari isu rasisme dan juga nilai-nilai sosial dari gerakan Black Lives Matter disampaikan dengan jelas melalui struktur ideologi dan komponen visual lagu tersebut
The Meaning of Gendhing Kodhok Ngorek in the Panggih Procession of a Traditional Javanese Wedding Ceremony
This article aims to understand the meaning of Gending Kodok Ngorek, as the music that accompanies wedding rituals (Panggih) in Java. The data were collected through observation, a literature review, and interviews. The problem was addressed using Clifford Geertz’s cultural interpretive concept, which argues that cultural facts exist in the mind (as knowledge), are manifested in models, and determine behaviour and action in life, and Yasraf Amir Pilliang’s semiotics of culture, which describes how meaning is formed through media and signs. The research concludes that the panggih ceremony, a procession in which the bride and bridegroom come together, can be interpreted philosophically, socially, and symbolically. Based on the musical pitches used, philosophically understood as a marker of a husband and wife who are making love. Its masculine character is manifested in the panunggul alit pitch (1), which symbolizes a male frog, while its feminine character is manifested in pitch nem (6), which symbolizes a female frog. Etymologically, Kodhok Ngorek means singing frog, of course in the water. Water is understood as a symbol of fertility, as a sign of the hope that the husband and wife will soon be blessed with offspring. Makna Gendhing Kodhok Ngorek Dalam Prosesi Panggih Upacara Pernikahan Adat Jawa. Artikel ini bertujuan untuk memahami Gending Kodok Ngorek sebagai musik pengiring upacara pernikahan (Panggih) di Jawa. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, studi literatur, dan wawancara. Masalah tersebut dianalisis dengan menggunakan konsep interpretasi budaya Clifford Geertz, yang berpendapat bahwa fakta budaya ada dalam pikiran (sebagai pengetahuan), diwujudkan dalam model, dan menentukan perilaku dan tindakan dalam kehidupan, dan semiotika budaya Yasraf Amir Pilliang, yang menggambarkan bagaimana makna dibentuk melalui media dan tanda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upacara panggih, sebuah prosesi di mana kedua mempelai bertemu, dapat dimaknai secara filosofis, sosial, dan simbolis. Berdasarkan nada musik yang digunakan, secara filosofis dipahami sebagai penanda kedua sejoli yang sedang bercinta. Sifat maskulinnya diwujudkan dalam nada panunggul alit (1) yang melambangkan katak jantan, sedangkan sifat femininnya diwujudkan dalam nada nem (6) yang melambangkan katak betina. Secara etimologi Kodhok Ngorèk berarti katak bernyanyi, sudah barang tentu di dalam air. Air dipahami sebagai simbol kesuburan, sebagai penanda harapan agar pasangan sejoli segera dikaruniai keturunan
The Human Soul as a Symbolic Message in Contemporary Arts in Malaysia: A Study of Daud Rahim’s Works
The objectives of this study are to describe the structure of the message and to interpret the meaning of the use of symbols which are the core of a message in the context of the soul through Daud Rahim’s series of paintings entitled “Jiwa” (2013). This study was carried out to approach, understand, and at the same time explain the human soul as a symbolic message in contemporary art in Malaysia concerning aspects of the structure, content, and function of messages from a number of works produced by Daud Rahim. An art study methodology that focuses on an in-depth and comprehensive explanatory system has been used based on an analysis model that has been developed from a relevant conceptual framework which is Human Spirit as a Symbolic Message in Fine Art. The results of the analysis show that the signs and symbols of Daud Rahim’s works want to express the symbolic message of a human phenomenon involving modern humans who are unable to control their passions, so they become egocentric figures who are obsessed and greedy with the material world so that it is difficult to activate feelings of love and affection. affection and slowly erodes the social relations around him. In conclusion, visual artwork is a nonverbal communication tool or media created by artists to convey messages to others regarding issues or problems of humanity, society, and culture, which are repackaged through the use of certain signs and symbols. Jiwa Manusia sebagai Pesan Simbolik dalam Seni Rupa Kontemporer di Malaysia: Kajian terhadap Karya-karya Daud Rahim. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur pesan dan memaknai penggunaan simbol-simbol yang menjadi inti pesan dalam konteks jiwa melalui lukisan seri Daud Rahim berjudul “Jiwa” (2013). Penelitian ini dilaksanakan untuk mendekati, memahami, dan sekaligus menjelaskan jiwa manusia sebagai pesan simbolik dalam seni rupa kontemporer di Malaysia menyangkut aspek-aspek struktur, isi, dan fungsi pesan dari sejumlah karya yang dihasilkan oleh Daud Rahim. Metodologi kajian seni memfokuskan pada sistem penjelasan yang bersifat mendalam dan menyeluruh telah digunakan berdasarkan pada model analisis yang telah dibangun dari konsep-konsep yang relevan yaitu kerangka konseptual spiritual manusia sebagai pesan simbolik dalam seni rupa. Hasil analisis menunjukkan bahwa tanda dan simbol dari karya-karya Daud Rahim mengungkapkan pesan simbolik dari sebuah fenomena kemanusiaan yang melibatkan manusia modern yang tidak mampu mengawal hawa nafsu sehingga menjadi sosok-sosok egosentris yang obsesif dan rakus dengan dunia material sehingga sulit mengaktifkan perasaan kasih dan sayang sehingga secara perlahan-lahan mengikis hubungan sosial di sekelilingnya. Kesimpulannya, karya seni visual ialah alat atau media komunikasi non-lisan yang diciptakan oleh seniman untuk menyampaikan pesan kepada orang lain mengenai isu atau masalah kemanusiaan, masyarakat, dan budaya yang dibentuk semula melalui penggunaan tanda dan simbol tertentu.
Semiotics of “Top Gun: Maverick” Film as an Inspiration for Indonesia to Rise up from the Covid-19 Pandemic
Leadership, integrity, and dedication can be a foundation in teamwork. Even integrity is very much needed to achieve a bigger vision and mission to defeat a common enemy. It takes a corps spirit or a sharing the same fate so that the chemistry in a work team becomes more solid. Semiotic analysis of the film Top Gun: Maverick can be appointed as a communicative art study to convey filmmakers’ messages to audiences. Qualitative methods with a construction representation perspective emphasize semiotics and discourse approaches more. The film Top Gun: Maverick as the object material is analyzed in a structured manner from the characterizations, film scenario, or story content in the scene, soundtrack, and cinematography. Cinematography in the film has its definition as a layered meaning. This presents the relationship between the visual signs in the film so that it can create a multi-layer entity. The construction of leadership values and moral messages here illustrates the importance of the spirit of war against a common enemy, shown from various places that can inspire efforts to recover conditions who are also struggling to face a common enemy in the era of the Covid 19 pandemic. During the Covid 19 pandemic, the common enemy took the form of the Coronavirus. which is also a threat to the entire nation and society. This requires an effective and efficient handling strategy. This film continues to inspire the creation of further works to make films the frontline in changing mindsets as an effort to develop human resources as viewers. It is hoped that Indonesian cinema will be able to use leadership strategies as a fundamental factor in realizing the efforts of individuals who have integrity. Semiotika Film TOP GUN: Maverick sebagai Inspirasi Indonesia Bangkit dari Pandemi Covid-19. Kepemimpinan, integritas, dan dedikasi dapat menjadi landasan dalam kerja sama tim. Bahkan integritas sangat dibutuhkan untuk mencapai visi dan misi yang lebih besar untuk mengalahkan musuh bersama. Dibutuhkan corps spirit atau berbagi nasib yang sama agar chemistry dalam sebuah tim kerja semakin solid. Analisis semiotika film Top Gun: Maverick dapat diangkat sebagai kajian seni komunikatif untuk menyampaikan pesan pembuat film kepada penonton. Metode kualitatif dengan perspektif representasi konstruksi lebih menekankan pendekatan semiotika dan wacana. Film Top Gun: Maverick sebagai bahan objek dianalisis secara terstruktur mulai dari penokohan, skenario film, atau isi cerita dalam adegan, soundtrack, dan sinematografi. Sinematografi dalam film memiliki pengertian yang berlapis-lapis. Hal ini menghadirkan hubungan antara tanda-tanda visual dalam film sehingga dapat menciptakan entitas yang berlapis-lapis. Konstruksi nilai kepemimpinan dan pesan moral di sini menggambarkan pentingnya semangat perang melawan musuh bersama, terlihat dari berbagai tempat yang dapat menginspirasi upaya pemulihan kondisi yang juga sedang berjuang menghadapi musuh bersama di era pandemi Covid-19. Selama pandemi Covid-19, musuh bersama berupa virus corona. yang juga merupakan ancaman bagi seluruh bangsa dan masyarakat. Hal ini membutuhkan strategi penanganan yang efektif dan efisien. Film ini terus menginspirasi penciptaan karya-karya selanjutnya untuk menjadikan film sebagai garda terdepan dalam mengubah pola pikir sebagai upaya mengembangkan sumber daya manusia sebagai penonton. Sinema Indonesia diharapkan mampu menggunakan strategi kepemimpinan sebagai faktor fundamental dalam mewujudkan upaya individu yang berintegritas
Vertical Video Trends Among Amateur Digital Platform Users as an Alternative for Film Production
The Vertical Video Syndrome expression adequately represents the spread of the production process and projection of amateur digital content in vertical format. For smartphone users, the vertical is the king. All components of digital life make users subconsciously hold their phones vertically on various occasions. Penetration after penetration is carried out, from flexibility and artificial intelligence, to private viewing rooms that move dynamically. As a new starting point in quite an extended period, the vertical video gives birth to a glimmer of hope in a film atmosphere that seems exclusive and rigid. However, problems have arisen as user demands have increased and smartphones have become sociocultural necessity over the last decade. With a vertical screen, people are used to spending time watching video shows, including recording all their activities. Because of that, there is a big challenge for filmmakers to see the opportunities that exist. The vertical format creates a narrow, elongated reading space. The camera movement, which used to use action from left to right, now switches from top to bottom. Subjects in vertical formats are also forced to submit to limited reading space. In conventional films, close-ups can isolate the field of view while at the same time emphasizing facial expressions. But not vertically because it will bring out a different density; what arises is not a close-up but a big close-up and even an extreme close-up. As a result, this gives motivation and a different meaning visually. It would be a lie if this didn't fall into the challenges to be solved. The field of view gets more complicated. The vertical concept encourages creators to get out of the conventional mindset. Likewise, with the actors involved, the vertical format provides a more challenging exploration of expressions and gestures. This research uses qualitative methods in collecting data and utilizes a lot of current literature. The research results are in the form of knowledge and recommendations regarding the packaging and distribution of film production in a vertical format. Tren Video Vertikal di Antara Pengguna Platform Digital Amatir sebagai Alternatif Produksi Film. Sindrom Video Vertikal, ungkapan itu cukup mewakili merebaknya proses produksi dan proyeksi konten digital amatir berformat vertikal. Bagi pengguna smartphone, vertikal adalah raja. Seluruh komponen kehidupan digital membuat pengguna secara alam bawah sadar memegang telepon secara vertikal dalam beragam kesempatan. Penetrasi demi penetrasi dilakukan, fleksibilitas, kecerdasan buatan, hingga ruang tonton privasi yang bergerak dinamis. Sebagai titik pijak baru dalam kurun waktu yang cukup panjang, video vertikal melahirkan secercah harapan dalam suasana perfilman yang terkesan eksklusif dan kaku. Namun, persoalan pun muncul, di kala tuntunan pengguna semakin tinggi dan smartphone menjadi kebutuhan sosiokultural sejak satu dekade terakhir. Dengan layar vertikal, orang terbiasa menghabiskan waktu untuk menonton tayangan video termasuk merekam segala aktivitasnya. Karena itulah, muncul tantangan besar bagi pembuat film guna melihat peluang yang ada. Format vertikal mencipta ruang baca yang menyempit memanjang. Memindahkan pergerakan kamera yang terbiasa memanfaatkan pergerakan dari kiri ke kanan, kini beralih dari atas ke bawah. Subjek pada format vertikalpun dipaksa untuk tunduk pada ruang baca yang terbatas. Pada film konvensional, close-up sudah mampu mengisolasi ruang pandang sekaligus mempertegas ekspresi wajah. Namun tidak pada vertikal karena akan memunculkan kepadatan yang berbeda, yang timbul bukan close-up melainkan big close-up bahkan extreme close-up. Alhasil ini memberi motivasi dan makna yang berbeda secara visual. Suatu kebohongan jika ini tidak masuk dalam kategori tantangan yang harus dipecahkan. Ruang pandang menjadi sedikit lebih rumit. Konsep vertikal benar-benar mendorong kreator untuk keluar dari pola pikir konvensional. Begitu pula dengan aktor yang terlibat, format vertikal memberikan tantangan eksplorasi yang lebih pada ekspresi dan gerak tubuh. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dalam mengumpulkan data dan memanfaatkan banyak literatur saat ini. Hasil penelitian berupa pengetahuan dan rekomendasi tentang pengemasan dan distribusi produksi film dalam format vertikal
Advocating the Role of Disabled Artists from the Artistic Ecosystem to the Spectrum of Karawitan Performances
This article is an output of MUSAKACANKARA's research as part of the Belmawa 2023 PKM-RSH, aimed at uncovering the experiences of individuals with disabilities within the spectrum of karawitan. Their contributions are highlighted through captivating performances at the Yogyakarta Gamelan Festival 2022. Disabled friends successfully presented works that express and actualize their roles within society, including within the artistic ecosystem. The research aims to explore the experiences interpreted by disabled individuals from the Candrika Adikara Art Studio. We chose a case study as the primary approach for the qualitative method that underlies this research. The case study involved observing the Candrika Adikara Art Studio and engaging in dialogue with key figures involved in the intersection of the art world and disability issues in Yogyakarta and its surroundings. Our study was expanded by exploring the realms of literary and visual arts and reclaiming performing arts with a fresh discourse on self-equality. The participants' perspectives become a significant force of value that is unveiled and presented to the readership and the academic community. The articulation of the artistic experiences of our disabled friends becomes a manifestation of the creation of a new paradigm that prioritizes their needs for existence and recognition in various aspects of life. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap pengalaman penyandang difabel pada spektrum seni pertunjukan karawitan. Kiprah mereka disorot melalui penampilan memukau di panggung Yogyakarta Gamelan Festival 2022. Teman-teman difabel sukses menyuguhkan karya yang mengekspresikan dan mengaktualisasikan peran mereka di tengah masyarakat, termasuk di dalam ekosistem berkesenian. Riset ini berfokus untuk menggali pengalaman yang dimaknai oleh teman-teman difabel dari Sanggar Seni Candrika Adikara. Kami memilih studi kasus sebagai pendekatan utama dari metode kualitatif yang memayungi riset ini. Studi kasus dilakukan dengan mengobservasi Sanggar Seni Candrika Adikara dan berdialog dengan sejumlah sosok penting yang berkiprah dalam pertautan dunia seni dan persoalan disabilitas di Yogyakarta dan sekitarnya. Perluasan studi kami lakukan dengan mengeksplorasi wilayah sastra, seni rupa, dan menangkap kembali seni pertunjukan dengan kebaruan wacana tentang kesetaraan diri mereka. Perspektif pelaku menjadi kekuatan nilai yang penting diungkap dan digulirkan kepada khalayak pembaca, begitu juga kepada dunia akademik. Penuangan pengalaman berkesenian teman-teman difabel menjadi manifestasi atas terciptanya paradigma baru yang mengedepankan kebutuhan mereka untuk bereksistensi dan diperhitungkan di berbagai bidang kehidupan
Adaptation and Representation of Narcissistic Desires of Calon Arang's Text in Bali
Rangda and Barong appear a lot in performing art, paintings, and tattoos in Bali. The sacred rituals involving the two creatures always attract attention—likewise forms of performances and crafts for tourists. Historically the existence of Rangda and Barong started from the text of Calon Arang, which initially came from the island of Java in Indonesia. This fact shows how the Balinese people attach themselves to myths and then develop them in creative works. The relationship between the narrative text and visualization will be the material to see what desires are behind their consciousness and unconsciousness in understanding the Calon Arang. There is an antagonistic offer on the characterizations and the creative process that perceives Calon Arang's story. The process of studying the object uses a qualitative method. In a time, observe and be directly involved in the Rangda and Barong ceremonies, see these figures' performances, visit markets and art galleries, and interview Balinese artists and cultural figures. This process concludes that the continuous adaptation process based on the Calon Arang text involves the spiritual and creative power of the Balinese people as part of their narcissistic and analytic desires. Rangda and Barong always provide new phenomena in creative works with antagonistic ideas. Analyzing this data is very important to understand the concepts created, outcomes, and the spirituality of the interwoven in the development of Balinese art. Adaptasi dan Representasi Hasrat Narsis Teks Calon Arang di Bali. Rangda dan Barong merupakan figur yang sering terlihat pada pertunjukan seni, lukisan, dan tato di Bali. Agenda ritual sakral yang melibatkan keduanya selalu menarik perhatian. Demikian juga ketika ia muncul dalam bentuk pertunjukan dan kerajinan untuk wisatawan. Secara historis keberadaan Rangda dan Barong tidak bisa dilepaskan dari teks Calon Arang yang pada walnya berasal dari Pulau Jawa di Indonesia. Kenyaaan ini menunjukkan bagaimana keterikatan masyarakat Bali dengan mitos dan kemudian mengembangkannya dalam karya kreatif. Relasi teks naratif dan visualisasnya akan menjadi bahan untuk melihat hasrat apa yang ada di balik kesadaran dan ketidaksadaran mereka dalam menghayati Calon Arang. Terlihat adanya tawaran antagonistik pada penokohan dan proses kretif yang merpersepsi cerita Calon Arang. Proses pengkajian objek di atas menggunakan metode kualitatif. Selain mengamati dan terlibat langsung dalam upacara Rangda dan Barong, melihat pertunjukan yang melibatkan figur tersebut, mengunjungi pasar dan galeri seni, juga wawancara dengan beberapa seniman dan budayawan Bali. Proses ini memberikan simpulan bahwa proses adaptasi yang berkenajutan berdasar teks Calon Arang melibatkan daya spiritual dan kreatif masyarakat Bali sebagai bagian dari hasrat narsistik dan anaklitik. Rangda dan Barong selalu memberikan fenomena baru dalam karya kreatif dengan berbagai gagasan yang antagonistik. Menganalisis data ini sangat menarik untuk memahami gagasan penciptaan, keberlanjutan karya, dan jalinan spiritualitas dalam perkembangan seni Bali hingga saat ini
Education Park Concept on Green Open Space Planning through Historical and Cultural Approach
Green Open Space Planning (RTH) for urban areas needs to support ecological functions, education facilities, and social interaction facilities for urban communities and regional identity. As green open spaces, Complex Elementary Park and Reading Park in Palopo, South Sulawesi have not yet fulfilled their functions and benefits optimally. The two parks that are located in the heritage area become a unique/distinctive potential to show the historical connotation of the location in its design. This study aims to provide landscape design recommendations by exploring the potential of the location through the historical and cultural approach of the Luwu Kingdom. The research was conducted using a descriptive qualitative method that refers to the landscape planning of Seymour M. Gold through the stages of preparation, inventory, analysis, synthesis, and planning. The results of this study resulted in an Education Park site plan that elaborated the physical and philosophical characteristic of three cultural heritages, namely the Datu Luwu Palace Complex, the Jami' Mosque, and the Post and Giro Office. Konsep Taman Edukasi pada Perencanaan Ruang Terbuka Hijau melalui Pendekatan Sejarah dan Budaya. Perencanaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kawasan Perkotaan perlu menunjang fungsi ekologis, wadah pendidikan, sarana interaksi sosial masyarakat urban dan identitas daerah. Sebagai RTH, Taman SD Kompleks dan Taman Baca di kota Palopo, Sulawesi Selatan belum menunjukkan terpenuhinya fungsi dan manfaatnya secara optimal. Kedua taman yang berada dalam kawasan heritage menjadi potensi khas/unik untuk menunjukkan historical connotation lokasi dalam desainnya. Penelitian ini bertujuan membuat rekomendasi desain lanskap dengan mengeksplorasi potensi lokasi melalui pendekatan sejarah dan budaya Kerajaan Luwu. Penelitian dilakukan menggunakan metode kualitatif deskriptif yang mengacu pada perencanaan lanskap Seymour M. Gold melalui tahapan persiapan, inventarisasi, analisis, sintesis dan perencanaan. Hasil penelitian ini menghasilkan siteplan Taman Edukasi yang mengelaborasi karakter fisik dan filosofis tiga cagar budaya yaitu Kompleks Istana Datu Luwu, Masjid Jami’ dan Kantor Pos dan Giro
Legal Protection of the Exclusive Rights of Painting Works
The purpose of this study is to examine how artists’ exclusive rights are protected by law. The empirical legal method was used for the research. The study found that if a law or regulation regulates the protection of a creation’s exclusive rights, it is certain that there will also be legal remedies for violations of the problem of using other people’s creations without permission. These legal remedies can be taken in either litigation or non-litigation. If the effort is made through litigation, namely by filing a lawsuit to the commercial court or can be prosecuted criminally, this is already included in the Copyright Law, or by a resolving. In light of the conversation above with respect to legitimate security of the select privileges of makers of compositions, the public authority ought to have the option to make sense of additional explicitly in the items in the Intellectual property Regulation in regards to canvases that poor person has been made sense of top to bottom, and there ought to be more effort to the public so that individuals are all the more endlessly figure out the presence of lawful security for work or creation. Perlindungan Hukum Hak Eksklusif Karya Lukis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji bagaimana hak eksklusif seniman dilindungi oleh hukum. Metode hukum empiris digunakan untuk penelitian ini. Kajian ini menemukan bahwa jika suatu peraturan perundang-undangan mengatur tentang perlindungan terhadap hak eksklusif suatu ciptaan, maka dapat dipastikan juga akan ada upaya hukum atas pelanggaran terhadap masalah penggunaan ciptaan orang lain tanpa izin. Upaya hukum ini dapat ditempuh baik secara litigasi maupun non litigasi. Apabila upaya tersebut dilakukan melalui litigasi, yaitu dengan mengajukan gugatan ke pengadilan niaga atau dapat dituntut secara pidana, hal tersebut sudah termasuk dalam Undang-Undang Hak Cipta, atau dengan cara penyelesaian. Sehubungan dengan percakapan di atas sehubungan dengan keamanan yang sah dari hak pilih pembuat komposisi, otoritas publik harus memiliki pilihan untuk menjelaskan secara lebih eksplisit dalam item dalam Peraturan Kekayaan Intelektual tentang kanvas yang dibuat oleh orang miskin. dimaklumi dari atas ke bawah, dan harus ada upaya yang lebih kepada masyarakat agar setiap individu semakin mengetahui adanya jaminan hukum atas suatu karya atau ciptaan.