Journal of Urban Society's Arts
Not a member yet
155 research outputs found
Sort by
PARA HARIMAU YANG MENOLAK PUNAH: ESTETIKA DOKUMENTER TELEVISI DI ERA PASCAREFORMASI
ABSTRAKPara Harimau Yang Menolak Punah(Imanda Dea Sabiella dan Edho Cahya Kusuma, 2013) merupakan judul dokumenter televisi produksi Eagle Institutedengan ciri filmis berupa paduan antara gambar dan tuturan (wawancara). Dokumenter ini merupakan objek material yang menarik untuk diteliti dalam konteks kontinuitas dan perubahan estetika, selama era pasca reformasi dengan zaman Orde Baru sebagai pembanding. Jika pada masa orde baru, kampanye pelestarian lingkungan melalui media dokumenter notabene diproduksi oleh pemerintah melalui estetika sinematik yang bersifat propagandis, maka saat ini dokumenter produksi Eagle Institutejustru menggunakan estetika sinematik yang kritis sebagai konter bagi pemerintah. Fakta dan fiksi (faksi) menjadi istilah yang digunakan dalam penelitian ini sebagai bentuk kontinuitas dan perubahan dokumenter televisi Indonesia. Alasan pemilihan istilah ini adalah dunia fenomenal dalam banyak kasus, seperti yang terlihat dalam dokumenter, seakan berbeda dari "dunia nyata", meskipun dalam kenyataannya rekaman itu berasal dari “dunia nyata/realitas”. Penelitian ini menggunakan pendekatan film kognitif untuk mengamati sejauh mana Faksi beroperasi sebagai media kritik yang secara estetis merangkai dokumenter tersebut. Struktur mental digunakan untuk menjelaskan Faksi melalui petunjuk filmis hingga diperoleh kesimpulan tentang kritik yang ingin disampaikan melalui dokumenter. ABSTRACTPara Harimau Yang Menolak Punah (Imanda Dea Sabiella dan Edho Cahya Kusuma, 2013) is the title of a television documentary produced by Eagle Institute. The documentary has characters that specifically contains of expository shots. This documentary is an interesting material object to be examined in the context of continuity and aesthetic change, during the post-reform era with the New Order era as a comparison. During the new order era, environmental conservation campaigns through documentary media were produced by the government through propagandist cinematic aesthetics. Whereas, the post-reform documentary produced by Eagle Institute actually uses a critical cinematic aesthetic as a counter for the government. Fact and fiction (faction) became the term used in this study as a form of continuity and change of Indonesia documentary. The reason for choosing this term is the phenomenal world in many cases, as seen in the documentary, as though it were different from the "real world", even though in reality it came from "the real world". This study uses a cognitive film approach to observe the extent to which the Faction operates as a criticism medium which aesthetically assembles the documentary. The mental structure is used to explain the Faction through filmic clues to the conclusion of the criticism that the documentary wishes to convey.
Penciptaan Teater “Jaka Kembang Kuning”
Kesenian Wayang Beber yang terdapat di desa Kedompol, kecamatan Donorojo, kabupaten Pacitan Jawa Timur kurang mendapat sentuhan artistik, sehingga tidak mempunyai kepekaan terhadap konteks zamannya. Kondisi tersebut menjadikan masyarakat Pacitan khususnya, tidak mampu menikmati pertunjukan tersebut secara intens. Selain konteks dan selera yang berubah, pola kerjasama masyarakat juga bergeser dari semangat kebersamaan di pedesaan berubah menjadi pola kerja yang individualis seperti perkotaan. Hal tersebut menjadi salah satu penghalang bagi kesenian ini untuk berkembang sebab hanya dipertunjukkan dalam acara-acara ritual tertentu misalnya bersih desa atau selamatan saja.Untuk itu terobosan perlu dilakukan diantaranya adalah dengan menjemput penonton di ruang publik untuk menyaksikan pertunjukan tradisional ini. Selain itu perlu ada usaha-usaha tertentu untuk memperkenalkan kesenian ini agar tetap mengikuti konteks zamannya. Meskipun berlatarbelakang cerita masa lalu, namun harus mampu diterima oleh masyarakat sebagai bagian mereka sesuai zamannya dengan mengambil beberapa idiom serta peristiwa kekinian.Penciptaan teater Jaka Kembang Kuning adalah usaha untuk mengangkat kembali sebuah ide cerita yang semula disajikan dengan bertutur secara tradisional dalam bentuk pergelaran Wayang Beber yang memiliki berapa kelemahan terutama jika dilihat dari dinamika pertunjukannya yang lemah. Hal tersebut menjadikan kesenian ini tidak bisa menopang kehidupan kebutuhan hidup masyarakat pendukungnya dari sisi ekonomi maupun sosial. Untuk itu perlu adanya beberapa terobosan kreatifitas untuk mempertahankan eksistensinya, diantaranya adalah dengan membuka diri terhadap konteks pemirsanya.Beberapa usaha tersebut diantaranya adalah adengan memasukkan aksi teatrikal, tembang serta musik, warna agar memberikan peluang yang lebih luas bagi munculnya imajinasi di penonton dan rasa ketertarikan mereka pada kesenian ini. Seluruh rangkain pertunjukan akan membentuk teks tersendiri dengan pemaknaan yang terbuka dan lugas. Peran aktif pemirsa sangat dibutuhkan agar tercipta sebuah jalinan yang erat antara seniman, karya cipta serta penikmatnya. Dibutuhkan usaha-usaha yang lebih radikal semisal mengajak penonton menjadi bagian dari sebuah karya seni yang utuh agar menumbuhkan rasa memiliki terhadap kesenian ini. Creation theater Jaka Kembang Kuning is an attempt to revive an original story idea presented in the form traditionally tells Wayang Beber performances that have how many flaws, especially when viewed from the dynamics of the show. Visually traditional Wayang Beber becomes unattractive when compared with the puppet, puppet show, or other stage plays. This is the reason why Wayang Beber need to get a good touch broadly on the form and meaning of the play contained therein.Theatrical action, song and music, color and composition are used as a means of said stories provide a wider opportunity for the emergence of imagination in the audience. The entire string of performances will form a separate text with an open and straightforward meaning. Active role of the viewer is needed in order to create a strong braid between the artist, the copyrighted work as well as the audience. It takes the efforts to invite more radical audience to be part of an artwork intact. Breakthroughs such as involving the viewer to enter into the process or the show can be a separate option in the lifestyles of people who are too lazy to visit the venue. Invites viewers into direct contact with the expected performances more intimate communication.
Fungsi Dan Upaya Pelestarian Tradisi Sorong Serah Aji Krama Di Desa Penujak Kabupaten Lombok Tengah
Tradisi Sorong Serah Aji Krama adalah peristiwa adat pada penyelenggarakan pernikahan dikalangan masyarakat bangsawan Sasak di Lombok Tengah, akan tetapi tradisi itu telah menjadi pedoman umum pernikahan pada masyarakat suku Sasak. Dewasa ini tradisi Sorong Serah Aji Krama mengalami kemunduran karena perkembangan gaya hidup, sehingga masyarakat tidak mampu mendapatkan referensi yang cukup untuk melaksanakannya. Memperhatikan melemahnya pemahaman masyarakat Sasak terhadap tradisi Sorong Serah Aji Krama itu digunakan sebagai pokok permasalahan, yaitu (1) bagaimana fungsi tradisi Sorong Serah Aji Krama, (2) apa upaya yang dilakukan oleh masyarakat suku Sasak untuk mempertahankan tradisi Sorong Serah Aji Krama. Penelitian ini menggunakan kualitatif dengan metode fungsional. Narasumber kunci penelitian ini pemangku adat dan pemuka masyarakat kalangan bangsawan Sasak. Hasil penelitian ini (A) Fungsi tradisi Sorong Serah Aji Krama meliputi (1) Religi dan (2) sosial, dan (B) upaya pelesatrian Sorong Serah Aji Krama meliputi (1) membangun organisasi pelaksana tradisi Sorong Serah Aji Krama, (2) pembinaan dan pelatihan pelaksanaan tradisi Sorong Serah Aji Krama pada generasi muda, (3) memasukan tradisi Sorong Serah Aji krama sebagai muatan lokal pelajaran sekolah, dan (4) ditampilkan sebagai atraksi pariwisata
Ekspresi Dominasi Melalui Karya Rupa dengan Material Sampah Plastik (Refleksi terhadap Permasalahan Lingkungan di Kawasan Ciroyom Kota Bandung)
Dari penelitian yang telah dilakukan di kawasan pemukiman Ciroyom Kota Bandung ditemukan permasalahan lingkungan yang ditimbulkan oleh sampah plastik.Permasalahan ini muncul karena perilaku masyarakat yang cenderung masih membuang sampah plastik tanpa ada upaya-upaya untuk mengolah terlebih dahulu.Dampak negatif yang muncul adalah semakin bertambahnya volume sampah plastik yang kemudian menimbulkan permasalahan lingkungan yang lebih luas lagi.Permasalahan ini menginspirasi penciptaan karya rupa dengan menggunakan material sampah plastik.Penggunaan sampah plastik sebagai material karya seni rupa bertujuan untuk menghasilkan citra visual yang dapat menyampaikan pesan mengenai permasalahan lingkungan. Proses penciptaan dilakukan melalui tahap-tahap informasi, elaborasi, sintesis, relisasi konsep dan penciptaan karya. Hasil karya berupa lukisan dengan teknik kolase yang menggunakan sampah plastik sebagai material utama. Kata kunci: ekspresi, karya rupa, sampah plastik There are environmental problems that are caused by plastic waste from the research that has been carried out in Ciroyom residential area of Bandung City. These problems arise because of the behavior of the people who tend to still throw plastic waste without any efforts to process it in advance. The negative impact that arises is the increasing volume of plastic waste which then causes wider environmental problems. This problem inspires the creation of visual art by using waste which then causes wider environmental problems. This problem inspires the creation of visual art by using plastic waste material. The use of plastic waste as a material of visual art aims to produce visual images that can convey messages about environmental problems. The creation process is carried out through the stages of information, elaboration, synthesis, conceptualization and creation of works. The art work is in the form of paintings with collage techniques that uses plastic waste as the main material. Keywords: expression, visual art, plastic wast
Tiga Gaya Tari Rantak Kudo Berpotensi Sebagai Sajian Pariwisata Di Kawasan Mandeh Dan Sekitarnya
This article is part of the research (2017) to analyze the style of Pesisir Selatan dance in textual and contextual. The study focuses on the style of dance Rantak Kudo from Nagari Painan Timur, Laban, and Bayang. Textual analysis includes (a) Attitude of the body; (b) Transition type of motion; (c) the dimensions of motion; (d) Active moving parts of the body; And (e) Action and effort. Contextual analysis includes the geographical areas of dance, customs, and community life structures. Descriptive evaluative method by comparing the three areas of dance development, namely Rantak Kudo dance of Talaok (Bayang), Rantak Kudo dance of Painan Timur, and Rantak Kudo dance of Laban. The discovery found that Rantak Kudo dance of Talaok there is a tendency to make a humble movement to the earth, jerking feet rigidly to the ground closely related to the livelihood of the dominant community farming both fields and fields. Rantak Kudo dance of Painan Timur is more varied with patterned motion arrangement leads to artistic, expressing patterns of life and ways of thinking of a developing society. Rantak Kudo dance of Laban, with its close influence of the dance development area of the coast as well as the friendly and intimate style and attitudes of the people, is highly visible in the flexible or non-rigid motion style
Bahasa Visual dalam Sinetron Indonesia
Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pemetaan dan menganalisis kekurangefektektivan penerapan bahasa visual sinetron Indonesia. Permasalahan utama yang menjadi fokus penelitian ini adalah bagaimana efektivitas penerapan bahasa visual dalam sinetron Indonesia. Sampel penelitian ini adalah dua episode dari setiap judul sinetron yang tayang di semua stasiun TV swasta selama dua minggu antara tanggal 26 September 2016 sampai dengan 10 Oktober 2016. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan bahasa visual dalam sinetron masih belum efektif. Bentuk ketidakefektifan ini antara lain masih lebih banyaknya penggunaan bahasa verbal baik dalam penyampaian pikiran tokoh maupun penguatan action yang seharusnya bisa lebih berbahasa visual. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi masukan bagi para penulis scenario untuk meningkatkan kualitas program cerita televisi Indonesia. The Visual Language on Indonesian TV Series. This study aims to give a discourse and analysis on the ineffectiveness of the visual language application of Indonesian TV series. The main problem that becomes the focus of this research is how the effectiveness of the visual language application on Indonesian TV series. The samples of this study are two episodes of each title of the TV series that are broadcasted on all private TV stations for two weeks between September 26, 2016 until October 10, 2016. Based on the research, it can be concluded that the application of visual language on TV series is still not effective. A sample of this ineffectiveness is seen when there is still more verbal language usage both in the delivery of characters’ thoughts and the strengthening of the action figures in which it should be focusing more on the language visually. The result of this study is expected to be the input for the scenario writers to improve the quality of the programs of Indonesian television story
Male Gaze dan Pengaruhnya Terhadap Representasi Perempuan dalam Lukisan “Realis Surealis” Karya Zaenal Arifin
Penelitian ini melihat kecenderungan dan pengaruh male gaze dalam konstruksi citraan dan seksualitas dalam lukisan, dan cara si pelukis melihat atau merepresentasikan perempuan dalam lukisannya. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi lapangan di Tahunmas Art Room Yogyakarta, wawancara mendalam dengan pelukis, serta didukung dengan kajian pustaka. Analisis lukisan realis surealis karya Arifin dilakukan melalui empat tahap yaitu: deskripsi, analisis, interpretasi, dan penilaian. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa lukisan menjadi salah satu media ungkap dan ekspresi diri sang seniman dalam menyampaikan dan menyematkan setiap ide dan gagasannya secara artistik. Namun, ketika perempuan dijadikan objek dalam lukisan dan diwujudkan dengan memberikan kesan yang mengarah pada pencitraan gender, tentu ini menarik untuk ditafsirkan. Male Gaze and It’s Influence towards the Female Representation on a Painting of "Realistic Surrealist" by Zaenal Arifin. This study observes the trend and effect of male gaze in the construction of imagery and sexuality in a painting, and the ways the painter sees or represents the woman in his paintings. Data collection was done by doing the field observation in Tahunmas Art Room Yogyakarta, in-depth interview with painters, and supported by literature review. The analysis of Arifin's surrealist realist painting is done through four stages: description, analysis, interpretation, and assessment. Based on the research, it can be concluded that the painting becomes one of the expression media and self-expression of the artist in conveying and embedding every idea and thoughts artistically. However, when a woman becomes the object in the painting and is embodied by giving an impression that leads to gender imaging, this is certainly interesting to interpret
Kapital dan Strategi Garin Nugroho dalam Proses Produksi Film
Penelitian ini menganalisis struktur sosial Garin Nugroho sebagai sineas yang dilakukan berdasarkan paradigma sosial-kultural Pierre Bourdieu dengan pendekatan strukturalisme genetik. Teori strukturalisme genetik bertumpu pada empat konsep utama, yakni habitus, arena, kapital, dan strategi. Kajian ini diharapkan dapat melihat realitas sosial seorang sineas ketika memproduksi sebuah film. Data penelitian diperoleh dari dokumentasi media massa, katalog film, hasil wawancara narasumber, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dialektika internalisasi pada habitus Garin Nugroho yang menuntunnya untuk berani menutup luka lama kemudian membuka luka baru pada masa transisi budaya global. Dengan demikian, hubungan antara seni dan teknologi menjadi arena yang dipilih Garin Nugroho dalam memperjuangkan kreativitasnya. Dari arena perjuangan itu, ia memiliki beberapa jenis modal yang dipertukarkan dalam struktur sosialnya. Strategi yang diterapkan Garin Nugroho dalam menghadapi era digital adalah konsisten dalam menggunakan kecanggihan teknologi sebagai alat bantu untuk mewujudkan kreativitas melalui media film. Capital and Garin Nugroho’s Strategy on the Process of Film Production. This study analyzes the social structure of Garin Nugroho as a filmmaker that has been conducted based on the socio-cultural paradigm of Pierre Bourdieu with the genetic structuralism approach. The genetic structuralism theory rests on four main concepts, namely habitus, arena, capital, and strategy. This study is expected to be able to see the social reality of a filmmaker when a film is produced. Data were obtained from the documentation of mass media, film catalogues, informant interviews, and literature. The results of this research show that there is a dialectic of internalization in Garin Nugroho’s habitus which leads him to dare to close the old wounds then opens the new ones in the transition period of global culture. Therefore, the relationship between art and technology has been a chosen field by Garin Nugroho in struggling for the creativity. From the field of the struggle, Garin Nugroho has some kind of capitals that are exchanged in the social stucture. The strategy that is applied by Garin Nugroho in facing the digital era is consitent in using the power of technology as a tool to realize any creativity throgh the media of film
Membaca Pasar Film Indie Lewat Film “SITI” Karya Edi Cahyono
Penelitian ini bertujuan untuk memahami strategi pemasaran film independen. Sebagai studi kasus dipilih pemasaran film produksi Fourcolors Yogyakarta. Perkembangan film independen di Indonesia, khususnya di Yogyakarta tidak terlepas dari pergerakan dan perkembangan komunitas-komunitas film dan sekolah-sekolah film. Fourcolors yang kali pertama berangkat sebagai sebuah komunitas film independen, lewat film “Siti” karya sutradara Edi Cahyono mencoba memberikan warna baru dalam peta perfilman independen di tanah air. Sebagai sebuah film yang tumbuh dari berbagai festival, baik nasional maupun internasional, film “Siti” akhirnya mampu menembus pasar film mainstream lewat prestasinya sebagai pemenang Festival Film Indonesia. Hal ini menjadi sebuah kejutan dan mematahkan sekian banyak mitos bahwa film independen sulit untuk menembus pasar mainstream. Ketepatan memilih jalur distribusi melalui festival memiliki peran yang cukup penting dalam menentukan target penonton dan kualitas yang akan dicapai. Reviewing the Market of Indie Film through the Film of “SITI” by Edi Cahyono. This study aims to understand the strategy of independent film marketing. The marketing of film production of Fourcolors Yogyakarta is chosen as a case study of this study. The development of independent films in Indonesia, especially in Yogyakarta is inseparable from the movement and development of film communities and film schools. Fourcolors that firstly sets out as an independent film community, through the film of "Siti" by director Edi Cahyono tries to give new colors in the map of independent film in this country. As a film that grows from various festivals, both nationally and internationally, the film of "Siti" is finally able to break through the mainstream film market through its achievements as the winner of the Indonesian Film Festival. It comes to a surprise and breaks the myths that the independent films are difficult to penetrate the mainstream market. The accuracy of choosing the distribution channels through the festival has a significant role in determining the target audiences and the quality to be achieved
Imaji Pop Surealisme Figur Gendut Dalam Lukisan
Tulisan ini mengangkat figur gendut sebagai ide dasar penciptaan seni lukis dengan menggunakan gaya pop surealisme. Penggabungan antara daya imajinasi tentang figur gendut dengan berbagai permasalahan yang bisa diangkat dari figur merupakan sebuah jalan dalam menciptakan karya-karya yang unik, terkadang satir, serta jenaka. Bentuk-bentuk kartunal yang digunakan dalam membuat figur gendut dan figur-figur lainnya merupakan satu tujuan khusus agar karya yang disampaikan memiliki unsur yang informatif terhadap para apresian. Menjadi gendut bagi setiap manusia yang mengalaminya sebenarnya bukan sebuah keinginan. Melalui berbagai perjalanan masa atau era yang bergulir hingga saat ini, persoalan tentang tubuh telah menuju pada bentuk yang indah dan ideal. Kecantikan dan ketampanan pada saat ini juga diukur pada orang-orang yang memiliki bentuk tubuh yang “normal” dan ramping. Bagi orang-orang yang memiliki kelebihan berat badan, tentunya jika diukur pada hal tersebut sangatlah tidak cocok. Figur gendut saat ini seperti diposisikan pada ruang yang sulit untuk mengeluarkan rasa percaya dirinya dalam menampik tentang apa yang diungkapkan di atas. Faktor kaum kapitalis dalam mendorong hadirnya pemikiran baru untuk hidup sehat tanpa menjadi gendut, juga semakin mengecilkan semangat orang-orang yang bertubuh gendut. Jika dilihat dari segi kesehatan, mungkin gendut terkesan seperti orang yang suka tidur, malas bekerja, dan sebagainya. Gendut berbeda dengan obesitas, karena obesitas merupakan penyakit kelebihan lemak di atas rata-rata yang membuat tubuh tak mampu mencerna makanan dalam berskala besar serta asupan makanan yang dikonsumsinya memiliki kalori yang sangat besar, sedangkan gendut merupakan kelebihan berat badan. Di sisi lain gendut memiliki banyak kelebihan yang berguna dalam memajukan hidupnya dan mewujudkan cita-citanya. The Images of Pop Surealism: Fat Figures on Painting. This paper elevates the fat figures as the basic idea of painting creation by using pop surrealism style. The merging of the imagination of the fat figure with the various problems that can be lifted from the figure is a way to create unique works, sometimes satire, and funny. The cartoonous forms used in making fat figures and other figures are a special purpose for the work being delivered to have an informative element on the apresians. Being overweight for every human being is absolutely not anyone’s desires. Through a variety of era of the rolling period to the present time, a matter of the body shape has led to a beautiful and ideal shape. Nowdays, beauty and good looks are a standard measured for people with "normal" and slim body. For people who are overweight, of course, this standard is not suitable. The current fat figure is positioned in a space where it is difficult to expend his confidence in dismissing what is described above. The capitalist factor encourages the emergence of new ideas for healthy living without becoming fat, also further discourages the people of the fat body. Being viewed in terms of health, the obese people seem like those who like to sleep, lazy to work, and so forth. Fat is different from obesity, because obesity is a disease of excess fat above the average that makes the body is unable to digest food in a large scale and intake of food has a very large calories, while the fat is overweight. On the other hand, fat has many useful advantages in advancing his life and realize his ideals