Jurnal Manajemen Sumberdaya Lahan
Not a member yet
59 research outputs found
Sort by
Dampak Pengembangan Bandara Sultan Iskandar Muda Terahadap Alih Fungsi Lahan Sawah dan Nilai Lant Rent
Abstract: Development Activities Sultan Iskandar Muda Airport (SIM), leads to changes in land use change and land rent value of the agricultural land and non-farmers. This study aimed to determine changes in: (1) extensive wetland that has been converted; (2) differences in the economic value of wetland and settlement value; also (3) know the state of the local economy. The method used is descriptive method and field surveys. Compiling the data using interview techniques, questionnaire or interview schedule guide.The results showed (1) There was a rate increase each year over the land, especially rice area has decreased by 243.1 ha (5.6%) of the 816.1 ha (18.78%) in 1988 to 573.009 ha (13 , 19%) in the year 2010 of the total land area affected by the development of 4345.22 ha. (2) Value Land rent is Rp 100,642.60 settlement, - (m2 per year) is more profitable than paddy land rent value of Rp 1783.70, - (m2 per year). The ratio of land rent value fields and settlements is 1: 56.42. (3) There is peningkatnya income received by the publicAbstrak: Aktivitas Pengembangan Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM), menyebabkan terjadinya perubahan alih fungsi lahan dan nilai land rent terhadap lahan pertanian dan non petani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan yaitu (1) luas lahan sawah yang telah beralih fungsi; (2) perbedaannilaiekonomilahan sawah dan nilai pemukiman; juga (3) mengetahui keadaan ekonomi masyarakat. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dan survai lapangan.Pengumpulkan data mengunakan teknik wawancara,schedule questionerataupuninterview guide.Hasil penelitian menunjukkan (1) Terjadi penambahan laju alih fungsi lahan setiap tahunnya, khususnya luas sawah mengalami pengurangan sebesar 243,1 ha (5,6%) dari 816,1 ha (18,78%) pada tahun 1988 menjadi 573,009 ha (13,19%) di tahun 2010 dari keseluruhan luas lahan yang terkena pengembangan sebesar 4345,22 ha. (2) Nilai Land rent pemukiman sebesar Rp 100.642,60,- (m2 per tahun) lebih menguntungkan dibandingkan nilai land rent sawah yaitu Rp 1.783,70,- (m2 per tahun). Rasio nilai land rent sawah dan pemukiman adalah 1: 56,42. (3) Terdapat peningkatnya pendapatan yang diterima oleh masyarakat
Pengaruh Jenis Mulsa dan Intensitas Naungan Terhadap Perkembangan Penyakit Antraknosa dan Hasil Cabai (Capsicum annum)
Abstract: The research was conducted in Jurusen Village Pegasing Sub-district, Aceh Tengah Regency, Aceh Province started from February to December 2012. The factorial randomized block was used in the research consisted of two factors i.e. mulch type and shades intensity. The first factor was mulch types comprised:(1) non mulch, silver black plastic mulch, hull of rice mulch (10 ton.ha-1), and coffee bean skin mulch (40 ton.ha-1). The second factor was shade intensity consisted of four levels: non paranet, paranet 55%, paranet 65%, and paranet 75%. Variables observed in this research werethe anthracnoseattack percentage on leaf, the anthracnose attack percentage on fruit and weight of red pepper. The combination application of mulch type and the shade intensity could reduce the percentage of anthracnose attack both on leaves and fruits of red pepper. The hull of rice mulch suppressed the anthracnose disease, moreover the coffee bean skin mulch increase the production of red pepper. Without shading (non paranet) suppress the disease development on leaves, whereas the shade intensity of 55%, 65%, and 75% increase red pepper weight. Abstrak: Penelitian dilaksanakan diKampung Jurusen Kecamatan Pegasing Kabupaten Aceh Tengah Provinsi Aceh dimulai dari bulan Februari sampai dengan Desember 2012. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan polafaktorial, yang terdiri dari 2 faktor yaitu jenis mulsa dan persentase naungan. Faktor pertama jenis mulsa terdiri dari 4 jenis yaitu tanpa mulsa, mulsa plastik, mulsa sekam padi (10 ton.ha-1), dan mulsa kulit kopi (40 ton.ha-1). Faktor kedua intensitas naungan terdiri dari 4 taraf yaitu tanpa paranet, paranet 55%, paranet 65%, dan paranet 75%. Peubah yang diamati dalam penelitian ini adalah persentase serangan pada daun, persentase serangan pada buah dan bobot buah cabai. Jenis mulsa disertai intensitas naungan dapat mengurangi persentase penyakit antraknosa baik pada buah maupun pada tanaman cabai. Mulsa sekam padi dapat menekan persentase serangan pada tanaman, sedangkan mulsa kulit kopi dapat meningkatkan bobot buah cabai. Perkembangan penyakit pada daun dapat ditekan dengan tanpa naungan, sedangkan naungan 55%, 65% dan 75% dapat meningkatkan bobot buah cabai
Dampak Alih Fungsi Lahan Terhadap Nilai Ekosistem Mangrove Di Kecamatan Seruway Kabupaten Aceh Tamiang
Abstract. The research aim was to study the impact of land use change on ecosystem values of mangrove in Seruway, Aceh Tamiang district. To identify the important index value at the level of trees, the measurement was done by creating plot transects, plot A covering areas of 20 m x 20 m, plot B covering areas of 5 m x 5 m and plot C covering areas of 2 m x 2 m. The calculation of economic values was measured through Direct Use Value, Indirect Use Value and Option Value by using Benefit Transfer, likewise the total economic values was measured by using contingent valuation method. The area of mangrove forests in the research site as large as 573.06 ha (19.26 %) compared to palm oil plantation as large as 1940.95 ha (62.25 %). The reduction in mangrove areas causing the ecological damages, such as : the wells water could not be maximally used by peoples due to the bad quality (bad smell), the decrease of fisheries harvest and the reduction of diversity of fish, the extinction of several fish species which has high economic values, the occurrence of abrasion and the loss of important species of mangrove. Economically, it clearly showed that the loss of value of the direct benefits, indirect benefit sand benefit options was occurred, as consequences the Total Economic Value lost from the mangroves was Rp. 11,593,728,000 /year.Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dampak alih fungsi lahan terhadap nilai ekosistem mangrove di Kecamatan Seruway Kabupaten Aceh Tamiang. Untuk mengetahui Indeks Nilai Penting pada tingkat pohon, maka dilakukan pengukuran dengan membuat petakan transek untuk plot A seluas 20 x 20 m, plot B seluas 5 x 5 m dan plot C seluas 2 x 2 m. Perhitungan nilai ekonomi diukur melalui Direct Use Value, Indirect Use Value dan Option Value dengan menggunakan Benefit transfer sementara nilai total ekonomi menggunakan metode penilaian kontingensi. Luas kawasan hutan mangrove di lokasi penelitian sebesar 573,06 ha (19,26%) hal ini berbanding jauh dengan luas perkebunan sawit sebesar 1.940,95 ha (62,25%) artinya lebih dari 50 % penggunaan lahan. Berkurangnya luasan mangrove ini berakibat pada kerusakan ekologi seperti ; air sumur warga yang tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal (berbau), burkurangnya hasil tangkapan dan jenis perikanan, langka dan punahnya beberapa spesies yang bernilai ekonomi, terjadinya abrasi dan hilangnya jenis tumbuhan mangrove penting. Secara ekonomi jelas terlihat kerugian dari nilai manfaat langsung, manfaat tidak langsung dan manfaat pilihan, sehingga nilai Total Economic Value yang akan hilang dari hutan mangrove adalah sebesar Rp. 11.593.728.000,-/tahun
Partisipasi Masyarakat Adat dalam Konservasi Sumberdaya Hutan di Kecamatan Kota Jantho Kabupaten Aceh Besar
Abstract: This study aimed to determine the level of indigenous peoples participation in the conservation of forest resources in Kecamatan Kota Jantho, Aceh Besar district. The qualitative supported by simple quantitative method was used in the research. The qualitative and multiple regression analysis was used to assess the level of peoples participation. The results showed that the level of local indigenous peoples was relatively low at 53%. This condition was not caused by their carelessness in preserving the forest resources, but due to various factors including age, education, occupation, income, experience (the duration of being a farmer), the intensity of extension, perception, motivation, incentives, and traditional institutions. The intervention that needed to improve the conservation of forest resources is strengthening and revitalizing the function of the existing traditional institutions. The government has to be as facilitator for implementation of conservation activities of forest resources. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat partisipasi masyarakat adat dalam konservasi sumberdaya hutan di Kecamatan Kota Jantho Kabupaten Aceh Besar. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dan didukung dengan metode kuantitatif sederhana. Untuk menguji tingkat partisipasi menggunakan analisa statistik regresi ganda dan selanjutnya dianalisa secara kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh gambaran bahwa tingkat partisipasi masyarakat adat tergolong rendah sebesar 53 %. Kondisi ini disebabkan bukan karena ketidak- pedulian mereka dalam melestarikan sumberdaya hutan, akan tetapi karena berbagai factor, diantaranya adalah faktor umur, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, pengalaman (lamanya menjadi petani), intensitas penyuluhan, persepsi, motivasi, insentif, lembaga adat. Adapun langkah yang perlu dilakukan dalam meningkatkan konservasi sumberdaya hutan adalah perlu adanya penguatan dan revitalisasi fungsi lembaga adat yang telah ada. Pemerintah perlu menjadi fasilitator bagi terselenggaranya kegiatan konservasi sumberdaya hutan berbasis kearifan tradisional
Pengaruh Jumlah Mata Tunas dan Mulsa Organik Terhadap Pertumbuhan, Produksi dan Efisiensi Pengendalian Gulma Pada Tanaman Kentang (Solanum tuberosum L.)
Abstract : In the effort to improve cultivation technique and weed control of potato crops, the research had been conducted with the aim to study the effect of tuber node number and organic mulch on growth, production and weed control efficiency in potato crops (Solanum tuberosum, L.). The research used the factorial randomized block design with two factors. The first factor was tuber node number consisted of 2, 4, and 6 nodes and the second factor was organic mulch consisted of without mulch, cogon grass mulch, coffee husk mulch and Tithonia mulch dosage 7 ton ha-1. The research conducted in MerahMunyang Village, AtuLintang District, Aceh Tengah Region.The result indicated that the treatment the two nodes tuber combined with organic mulch of cogon grass dosage 7 ton ha-1 could increase the yield of potato compared to without mulch, coffee husk mulch and Tithonia mulch by 1,16% ; 1,15 %; and 1,05 % respectively and also could improve the efficiency of weed control at potato crops. Abstrak : Dalam upaya memperbaiki teknik budidaya dan pengendalian gulma pada tanaman kentang telah dilaksanakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh jumlah mata tunas dan mulsa organik terhadap pertumbuhan, produksi dan efisiensi pengendalian gulma pada tanaman kentang (Solanum tuberosum. L.). Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok dengan dua faktor. Faktor pertama terdiri dari 2, 4 dan 6 mata tunas per umbi dan faktor kedua terdiri dari tanpa mulsa , mulsa alang-alang, mulsa kulit kopi dan mulsa Tithonia takaran 7 ton ha. Penelitian dilaksanakan di Kampung Merah Munyang Kecamatan Atu Lintang Kabupaten Aceh Tengah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan 2 mata tunas disertai dengan penggunaan mulsa alang-alang 7 ton ha mampu meningkatkan produksi kentang dibandingkan dengan kontrol, mulsa tithonia dan mulsa kulit kopi masing-masing 1,16%; 1,15 %; dan 1,05 %, serta dapat mengurangi laju pertumbuhan gulma
Kualitas Lahan Tambak dan Sosial Ekonomi Pada Budidaya Udang dan Ikan di Kecamatan Seunuddon Kabupaten Aceh Utara
Abstract: This study was aimed to assess the land quality of pond and social economy on shrimp and fish cultivation in Seunuddon, North Acehdistrict. Land quality parameters (soil and water) were analyzed to measure the physical, chemical and biological properties and compared with ideal condition (theory). The socio-economic data were collected by field observation and questioner assessment. Linear multiple regression was used to assess the relationship between ponds productivity and socio-economic parameters.The result showed that the land quality of pond namely soil texture was not suitable according to the quality standardof shrimp cultivation. The pond management and technology used was categorized as traditionally pluspondmanagement. The average production of shrimp was 178.54 kg ha-1.The average fish production was 295.87 kg ha-1. Partially the factors that affect the productivity of shrimp from socio-economicpoint of view were the capital and the largearea for cultivation, whereas the productivity of fish was only affected by the large area for cultivation.Abstrak: Penelitian deskriptif ini bertujuan untuk mengkaji kualitas lahan tambak dan sosial ekonomi pada budidaya udang dan ikan di Kecamatan Seunuddon Kabupaten Aceh Utara. Parameter kualitas lahan (tanah dan air) dianalisis dengan metode analisis parameter fisika, kimia dan biologi dan dibandingkan kondisi riil dengan kondisi ideal (teori). Untuk mendapatkan data sosial ekonomi dengan pengamatan di lapangan dan menggunakan kuisioner, selanjutnya untuk melihat hubungan produktivitas tambak dengan sosial ekonomi menggunakan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas lahan tambak yaitu tekstur tanah proporsi pasir tidak sesuai dengan baku mutu budidaya udang. Pengelolaan tambak dan teknologi yang digunakan termasuk pengelolaan tambak secara tradisional plus, tingkat produksi udang rata-rata 178.54 kg/ha dengan padat tebar 17.804.88 ekor/ha. Tingkat produksi ikan rata-rata 295.87 kg/ha dengan padat tebar 1.066.17 ekor/ha. Secara parsial faktor yang mempengaruhi produktivitas tambak dari sosial ekonomi untuk budidaya udang adalah modal dan luas lahan, sedangkan untuk budidaya ikan faktor yang mempengaruhi produktivitas adalah luas laha
Aplikasi Pupuk Guano dan Mulsa Organik Serta Pengaturan Jarak Tanam Untuk Meningkatkan Kualitas Tanah dan Hasil Tanaman Bawang Merah (Allium ascalonicum L.)
Abstrac: The addition of organic matter into soil improves the chemical, physical and biological properties of soil and increases crop yields. The study wasaimed to determine the effect of guano fertilizer and organic mulch and plant spacing on soil quality and yield of onion (Alliumascalonocum L.). This research was conducted in the field by using split-split plot design consisted of three factors: the main plot factor is the spacing (15 x 15 cm and 20 x 20 cm), the sub-plot factor is organic mulch (skin of coffee bean mulch and Tithonia mulch), and the sub-sub plot factor is guano fertilizer (no fertilizer, 5 ton ha-1 and 10 ton ha-1). The results showed that the application of guano fertilizer, organic mulch and plant spacing had significant effect on soil chemical properties indicated by the increase of C-organic, soil pH, total N, available P and the total of soil microorganisms as well as the growth and yield of onion. The interaction effect was also found onsoil chemical properties and growth and yield of onion due to the application of guano, organic mulch and plant spacing. The combination application of guano fertilizer, organic mulch and spacing that provided the best effect on soil chemical properties acquired at plant spacing of 20 cm x 20 cm, skin of coffee bean mulch and fertilizer guano of 10 ton-1. The highest onion yield was obtained in the combination application of plant spacing of 15 cm x 15 cm, Tithonia mulch and guano of 10 ton-1.Abstrak: Penambahan bahan organik ke dalam tanah dapat memperbaiki sifat kimia, fisika dan biologi tanah serta dapat meningkatkan hasil tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk guano dan mulsa organik serta jarak tanam terhadap kualitas tanah dan hasil bawang merah (Allium ascalonicum L.). Penelitian ini dilakukan di lapangan dengan menggunakan rancangan petak terpisah terbagi dengan pola faktorial yang terdiri dari 3 faktor yaitu: faktor petak utama adalah jarak tanam (15 x 15 cm dan 20 x 20 cm), faktor anak petak adalah mulsa organik (mulsa kulit kopi dan mulsa Tithonia), faktor anak-anak petak adalah pupuk Guano (tanpa pupuk guano, 5 ton ha-1 dan 10 ton ha-1). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pupuk guano, mulsa organik dan pengaturan jarak tanam berpengaruh terhadap beberapa sifat kimia tanah yang ditunjukkan oleh meningkatnya C-organik, pH tanah, N-total, P-tersedia dan total mikroorganisme tanah serta pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah. Pemberian pupuk guano, mulsa organik dan pengaturan jarak tanam memberikan pengaruh interaksi terhadap beberapa sifat kimia tanah serta pertumbuhan dan hasil bawang merah. Kombinasi pemberian pupuk guano, mulsa organik dan pengaturan jarak tanam yang memberikan pengaruh terbaik terhadap sifat kimia tanah diperoleh pada pemberian jarak tanam 20 cm x 20 cm, mulsa kulit kopi dan pupuk guano 10 ton- 1 dan hasil bawang merah diperoleh pada pemberian jarak tanam 15 cm x 15 cm, mulsa tithonia dan pupuk guano 10 ton-1
Perubahan Sifat Fisika Tanah dan Pertumbuhan Kopi Arabika (coffea arabica L.) Akibat Kompos Tithonia dan Kompos Kulit Gelondong Kopi di Kecamatan Kebayakan Kabupaten Aceh Tengah
Abstract: This study was aimed to assess the changes in soil physical properties and plant growth of coffee due to the application of Tithonia compost and Coffee bean skin compost. The research was conducted in the Paya Tumpi village, Kebayakan of Aceh Tengah District at the altitude of 1300 m above mean sea level. The factorial randomized block design was used in the experiment, consisted of two factors i.e: (1) Tithonia compost and (2) Coffee bean skin compost, and replicated three times.The results of this study showed that the application of Tithonia compost and Coffee bean skin composthad significant interaction effect on aggregate stability index and plant height. The single application of Tithonia compost had significant effect on soil bulk density, permeability, porosity, aggregate stability index, slow drainageporosity, rapid drainageporosity, water availableporosity,and plant height at the age of 11 and 14 months. The single application of Coffee bean skin compost had significant effect on soil bulk density, permeability, porosity, aggregate stability index, slow drainageporosity,water availableporosity, plant height and leaves area at the age 11 and 14 months. The optimum dosage of Tithonia compost and coffee bean skin compost was 3.75 kg plant-1.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perubahan beberapa sifat fisika tanah dan pertumbuhan tanaman kopi akibat pemberian kompos Tithonia dan kompos kulit kopi. Penelitian dilaksanakandi Desa Paya Tumpi Kecamatan Kebayakan Kabupaten Aceh Tengah dengan ketinggian tempat + 1300 m dpl.Percobaan dengan tiga ulangan, menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) pola faktorial. Ada 2 faktor yang dicobakan yaitu kompos Tithonia dan kompos kulit kopi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kompos Tithonia dan kompos kulit kopi terdapat interaksi terhadap indeks stabilitas agregat dan tinggi tanaman. Faktor tunggal pemberian kompos Tithonia berpengaruh terhadapbobot isi, permeabilitas, porositas, indeks stabilitas agregat, pori drainase lambat, pori drainase cepat, pori air tersedia, tinggi tanaman pada umur 11, 12, 13, dan 14 bulan, dan terhadap luas daun pada umur 11 dan 14 bulan. Faktor tunggal pemberian kompos kulit kopi berpengaruh terhadap bobot isi, permeabilitas, porositas, indeks stabilitas agregat, pori drainase lambat, pori air tersedia, tinggi tanaman pada umur 11 dan 14 bulan, dan luas daun pada umur 11 dan 14 bulan. Pemberian kompos Tithonia dan kompos kulit kopi yang terbaik adalah dengan perlakuan 3,75 kg/tanaman
Aplikasi Biochar Dan Kompos Kulit Kopi Untuk Meningkatkan Hasil Kentang Pada Andisol Atu Lintang Kabupaten Aceh Tengah
Abstract: The use of organic ameliorant like appropriate biochar and compost can improve the soil quality and plant yield. This research aims to know the using dose of appropriate biochar and compost in improving potatoes of Granola variety at Andisol. The experiment was arranged according to a group randomized design in a 3 x 4 factorial pattern with three replications. The Factors of biochar dose consisted of three levels, namely: 0, 10, and 15 t ha-1, whereas the compost dose factor was consisted of four levels, namely: 0, 10, 15, and 20 t ha-1. The using compost was made from the red coffee skin with a composting way, whereas the biochar was come from rice husk ash. The experiment was conducted in the field on soil types of Typic Hapludand with the place altitude 1,650 m above sea level. With the plot size is 2 x 2 m. The result of research showed that a biochar application and the compost of coffee skin could to increase amount and potato tuber weight per clump on the Andisol ground so as could increase the potato production dari 20,43 t ha-1 to be 40,95 t ha-1. The combination that giving the highest result was gained at biochar application 15 t ha-1 and compost 20 t ha-1.Abstrak: Penggunaan amelioran organik seperti biochar dan kompos yang tepat dapat memperbaiki kualitas tanah dan hasil tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis penggunaan biochar dan kompos yang tepat dalam meningkatkan hasil kentang varietas Granola pada Andisol. Percobaan ditata menurut Rancangan Acak Kelompok dalam pola faktorial 3 x 4 dengan tiga ulangan. Faktor dosis biochar terdiri atas tiga taraf yaitu : 0, 10, dan 15 t ha-1, sedangkan Faktor dosis kompos terdiri atas empat taraf yaitu : 0, 10, 15, dan 20 t ha-1. Kompos yang digunakan dibuat dari kulit kopi merah dengan cara pengomposan, sedangkan biochar berasal dari abu sekam padi. Percobaan dilaksanakan di lapangan pada jenis tanah Typic Hapludand dengan ketinggian tempat 1.650 m dpl. dengan ukuran plot adalah 2 x 2 m. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi biochar dan kompos kulit kopi mampu meningkatkan jumlah dan bobot umbi kentang per rumpun pada tanah Andisol sehingga dapat meningkatkan produksi kentang dari 20,43 t ha-1 menjadi 40,95 t ha-1. Kombinasi yang memberikan hasil tertinggi diperoleh pada aplikasi biochar 15 t ha-1 dan kompos 20 t ha-
Pengaruh Lereng dan Pupuk Organik Terhadap Kehilangan Hara Pada Areal Tanaman Kentang (Solanum tuberosum L.) di Kecamatan Atu Lintang Kabupaten Aceh Tengah
Abstract : This study was conducted in Atu Lintang Sub-district Aceh Tengah Regency. The purpose of this study was to investigate the effect of slope and organic fertilizer application on nutrient lossesin potatoes plant area. The measurement of nutrient losses was conducted in slope 8 12% and 12 16% and the application organic fertilizer by using compost, coffee bean skin compost and non-fertilizer. The treatments were placed in the standard erosion plots. The result of the study showed that in slope of 8 12%, the nutrients losses on compost treatment were total organic C 517,67 kg ha-1, total N 39,79 kg ha-1, available P 0,0051 kg ha-1, and exchangeable K 0,710 kg ha-1, the nutrients losses on coffee bean skin compost treatment were total organic C 621,43 kg ha-1, total N 44,40 kg ha-1, available P 0,0082 kg ha-1, and exchangeable K 1,094 kg ha-1, and the nutrients losses onnon-fertilizerwere total organic C 653,63 kg ha-1, total N 48,23 kg ha-1, available P 0,0039 kg ha-1, and exchangeable K 0,852 kg ha-1. In the 12 16% slope,the nutrients losses on compost treatment were total organic C 678,05 kg ha-1, total N 51,55 kg ha-1, available P 0,0174 kg ha-1, and exchangeable K 1,736 kg ha-1, the nutrients losses oncoffee bean skin compost treatment were total organic C 798,92 kg ha-1, total N 60,21 kg ha-1, available P 0,0201 kg ha-1, and exchangeable K 2,275 kg ha-1, and the nutrients losses onnon-fertilizerwere total organic C 886,95 kg ha-1, total N 67,11 kg ha-1, available P 0,0146 kg ha-1, and exchangeable K 1,857 kg ha-1.Abstrak : Penelitian ini dilakukan di Balai Benih Induk (BBI) Hortikultura Kecamatan Atu Lintang Kabupaten Aceh Tengah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh kelerengan dan pemberian pupuk organik terhadap kehilangan hara pada sareal tanaman kentang. Pengukuran kehilangan hara dilakukan pada kelerengan 8 - 12 % dan 12 16 % dan pemberian pupuk organik dengan menggunakan pupuk kompos, kompos kulit merah kopi dan tanpa pupuk dengan membuat petak baku Wischmeier. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelerengan 8 12 % kehilangan hara pada perlakuan pupuk kompos yaitu C organik 517,67 kg ha-1, N total 39,79 kg ha-1, P tersedia 0,0051 kg ha-1, dan K dapat dipertukarkan 0,710 kg ha-1, kehilangan hara pada perlakuan kompos kulit merah kopi yaitu C organik sebesar 621,43 kg ha-1, N total 44,40 kg ha-1, P tersedia 0,0082 kg ha-1, dan K dapat dipertukarkan 1,094 kg ha-1 dan kehilangan hara pada perlakuan tanpa pupuk adalah C organik 653,63 kg ha-1, N total 48,23 kg ha-1, P tersedia 0,0039 dan K dapat dipertukarkan 0,852 kg ha-1. Pada kelerengan 12 16 % kehilangan hara pada perlakuan pupuk kompos yaitu C organik 678,05 kg ha-1, N total 51,55 kg ha-1, P tersedia 0,0174 kg ha-1, dan K dapat dipertukarkan 1,736 kg ha-1, kehilangan hara pada perlakuan kompos kulit merah kopi yaitu C organik sebesar 798,92 kg ha-1, N total 60,21 kg ha-1, P tersedia 0,0201 kg ha-1, dan K dapat dipertukarkan 2,275 kg ha-1 dan kehilangan hara pada perlakuan tanpa pupuk adalah C organik 886,95 kg ha-1, N total 67,11 kg ha-1, P tersedia 0,0146 dan K dapat dipertukarkan 1,857 kg ha-1