Jurnal Transportasi
Not a member yet
512 research outputs found
Sort by
KAJIAN AWAL KELAYAKAN FINANSIAL INVESTASI JALAN REL
Abstract Staging of investment start from the bidding stage to the operational and maintenance stage. Each stage requires a fee to be prepared by the investor. This study aims to calculate the financial feasibility of the implementation of railway passengers. Calculations are based on simulation of the cost of investment, the number of passengers who use it and does not include the risk factors. Results of this study show that the railway project which is not financially feasible requires government support. The government support, such as policies to reduce the burden of the cost of construction and the government guarantee for the hogh uncertain risk could result in the project financial feasibility. Keywords: investment, financial feasibility, government support Abstrak Tahapan investasi diawali dari tahap penawaran sampai dengan tahap operasional dan pemeliharaan. Setiap tahapan memerlukan biaya yang harus dipersiapkan oleh investor. Penelitian ini bertujuan menghitung kelayakan finansial penyelenggaraan perkeretaapian penumpang. Perhitungan didasarkan simulasi biaya investasi, jumlah penumpang yang menggunakannya dan belum memasukkan faktor risiko. Hasil yang didapat dari penelitian ini adalah bahwa penyelenggaraan perkeretaapian yang tidak layak secara finansial membutuhkan dukungan pemerintah. Bentuk dukungan pemerintah seperti kebijakan untuk mengurangi beban biaya konstruksi dan penjaminan pemerintah untuk risiko ketidakpastian yang terlalu tinggi dapat menghasilkan kelayakan secara finansial. Kata-kata kunci: investasi, kelayakan finansial, dukungan pemerinta
PREFERENSI SIVITAS AKADEMIKA UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA TERHADAP MODA PENYEBERANGAN SURABAYA-MADURA
Abstract The Suramadu Bridge is a bridge that connects the island of Java in Surabaya with Madura Island in Kamal, Bangkalan, and that crosses Madura Strait. The Suramadu Bridge has a length of 5,438 meters, which is the longest bridge in Indonesia. The construction of the Suramdu Bridge wass intended to accelerate development in Madura Island which covers the economy and infrastructure in the Madura Region, which wass still relatively underdeveloped compared to other areas in East Java. Although the bridge has been serving people, many academicians of Trunojoyo University still choose feri services as a mode for crossing towards Madura and vice versa. This study aims to investigate the preferences of the academicians of Trunojoyo University in selecting transportation mode for traveling Surabaya-Madura. This study was conducted by interviewing some academicians who are traveling to Madura using the feri mode. The results show that there are some preference attribution which the academicians choose feri services namely security, closer location, higher accessibility, and comfort Keywords: preferences, crossing mode, attributes, feri service Abstrak Jembatan Suramadu merupakan jembatan yang menghubungkan Pulau Jawa di Surabaya dengan Pulau Madura di Kamal, Bangkalan, melintasi Selat Madura. Jembatan Suramadu memiliki panjang 5.438 meter dan merupakan jembatan terpanjang di Indonesia. Pembangunan Jembatan Suramadu ini dimaksudkan untuk mempercepat pembangunan yang ada di Pulau Madura, yang meliputi bidang ekonomi dan infrastruktur di Daerah Madura, yang secara relatif masih tertinggal dibandingkan dengan daerah lain yang ada di Jawa Timur. Meskipun Jembatan Suramadu telah difungsikan dan melayani masyarakat, banyak sivitas akademika Universitas Trunojoyo Madura masih memilih jasa penyeberangan kapal feri sebagai moda transportasi untuk melakukan penyeberangan menuju Madura atau sebaliknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui preferensi sivitas akademika Universitas Trunojoyo Madura terhadap moda penyeberangan Surabaya-Madura. Penelitian ini dilakukan dengan mewancarai beberapa orang sivitas akademika yang sedang melakukan perjalanan ke Madura dengan menggunakan moda penyeberangan kapal feri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa atribut yang menjadi preferensi sivitas akademika Universitas Trunojoyo Madura memilih moda penyeberangan kapal feri, yaitu keamanan, lokasi yang lebih dekat, kemudahan akses, dan kenyamanan. Kata-kata kunci: preferensi, moda penyeberangan, atribut, angkutan penyeberangan fer
KAJIAN MODEL PEMBEBANAN JARINGAN DENGAN FUZZY SYSTEM
AbstrakFaktor utama dalam model pembebanan jaringan transportasi jalan adalah persepsi pengguna jalan terhadap biaya perjalanan. Persepsi ini sebenarnya kurang realistik jika diasumsikan dengan sebuah nilai yang bersifat tetap atau acak (random), seperti pada User Equilibrium (UE) Trip Assignment Model yang memformulasikan persepsi biaya perjalanan bersifat tetap, dan random number yang digunakan pada Stochastic User Equilibrium (SUE) untuk menggambarkan distribusi persepsi pengguna individu terhadap biaya perjalanan. Pada kondisi riil pembuat perjalanan tidak akan pernah mendapatkan informasi yang tepat tentang biaya perjalanan ini, tetapi seringkali mengatakan bahwa waktu perjalanan dari A ke B “sekitar 10 menit”, atau mengatakan bahwa “Jalan C macet”, terlihat bahwa “sekitar” atau “macet” merupakan persepsi yang bersifat linguistik dan tidak dapat diukur dengan tepat (tak tertentu).Pendekatan baru dengan Fuzzy System yang memiliki kemampuan untuk memecahkan permasalahan yang bersifat uncertainty mulai diterapkan untuk model pembebanan jaringan. Fuzzy System merupakan sebuah sistem yang digunakan untuk penalaran dalam kondisi yang tak tertentu. Rangkaian penalaran ini dimulai dari sebuah masukan (input) tak tertentu yang dipetakan kedalam sebuah himpunan fuzzy (fuzzy set) dengan menggunakan fungsi keanggotaan fuzzy (fuzzy membership function), kemudian dengan rangkaian logika fuzzy (fuzzy logic) input tersebut dipetakan ke dalam ruang keluaran (output) tertentu. Pada kasus model pembabanan jaringan, input yang bersifat tak tertentu adalah berupa persepsi pengguna terhadap biaya perjalanan dan ruang output-nya adalah rute-rute yang akan dipakai dalam melakukan perjalanan.Pada makalah ini akan dikaji tentang penelitian-penelitian penggunaan Fuzzy System untuk model pembebanan jaringan yang pernah dilakukan, terutama untuk merepresentasikan ruang input-nya yang berupa persepsi pembuat perjalanan terhadap biaya perjalanan. Hasil kajian diharapkan dapat memberikan masukan bagi pengembangan pemodelan transportasi pada umumnya dan khususnya pada pengembangan model pembebanan jaringan transportasi.Kata-kata kunci: model pembebanan jaringan, fuzzy syste
EVALUASI KEBIJAKAN PELAYANAN ANGKUTAN PERDESAAN DI KABUPATEN GUNUNGKIDUL
Abstrak Penelitian ini bertujuan mengevaluasi implementasi, kendala, dampak yang dirasakan oleh pengguna angkutan perdesaan dan efektitivitas kebijakan serta mengusulkan upaya peningkatannya. Metode penelitian yang digunakan adalah observasi terhadap 3 route yang tidak terlayani secara penuh dan penyebaran kuesioner kepada operator dan pengguna angkutan. Analisis dilakukan dengan menggunakan statistika deskriptif dan tabulasi silang terhadap respon kelompok target kebijakan. Usulan rekomendasi kebijakan dan peningkatan pelayanan angkutan perdesaan, menggunakan metode analisis Strength, Weakness, Opportunity, dan Threats (SWOT) dengan mengidentifikasikan dan memformulasikan berbagai faktor internal dan eksternal secara sitematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan daerah Kabupaten Gunungkidul belum sepenuhnya berpedoman pada kebijakan pusat. Pelayanan angkutan umum perdesaan tidak konsisten dengan jaringan trayek yang ditetapkan, serta terdapat deviasi wilayah pelayanan dan panjang layanan trayek rata-rata sebesar 40,4% dan 41,7%.Terdapat penyalahgunaan peruntukan kendaraan, yaitu pengangkutan penumpang umum yang menggunakan mobil penumpang tidak umum dan mobil barang. Persepsi pengguna terhadap pelayanan dan kinerja angkutan perdesaan menggambarkan kebijakan yang ada saat ini belum memberikan kemudahan bagi pengguna, khususnya kaum wanita. Terdapat 6 kendala utama implementasi kebijakan, sehingga diperlukan strategi pencapaian tujuan kebijakan dimaksud.Kata-kata kunci: kebijakan, pelayanan, angkutan perdesaa
BIAYA PERJALANAN FUZZY UNTUK PEMBEBANAN LALULINTAS
Abstract The main factor in trip assignment models is the perception of trip makers about their travel costs. In real condition, trip makers usually do not obtain accurate information to estimate their travel costs. Travel costs are usually expressed using a linguistic term, such like “travel time from A to B is about 10 minutes”, which can not be measured precisely (values with a specific range). Using fuzzy method, the ”about” condition can be formulated in the term of fuzzy set with a value having lower-bound and upper-bound boundaries. The set is called fuzzy-travel-cost. In this paper, the trip assignment using fuzzy-travel-cost is compared with that using the deterministic travel cost. The result shows that fuzy-travel-cost model gives a better result than the deterministic travel cost model.Keywords: trip assignment model, fuzzy-travel-cost, fuzzy-shortest-pat
KINERJA ANGKUTAN UMUM BIS DAMRI DI BANDAR LAMPUNG
Abstract The public transport service is very important for people who live in a city. The service is, therefore, to be maintained to satisfy the public transport users. This study aims to investigate the performance of bus service in the city of Bandar Lampung. The indicators used to measure the performance are those of the World Bandk. The results suggest that, in general, routes investigated have met the accessibility standards of the Worls Bank.Keywords: bus service, bus performance, and performance indicator
EVALUASI KINERJA ANGKUTAN UMUM DI KABUPATEN SIDOARJO
Abstract Public transportation is very important to support community activities in a city. The Lapindo mud disaster in Sidoarjo has impacts on community activities and public transportation travel patterns in the area. The performance of public transportation services in Sidoarjo is currently quite poor, with an average frequency of less than 6 vehicles/hour, an average headway of greater than 10 minutes, a load factor of less than 70 %, an average speed less than 30 km/hour, and an average travel time of less than 60 minutes. The low load factors could result in decreasing the revenue of public transportation operators which implies a decrease in welfare. In the field, around 20 % of public transportation vehicles are not operating in accordance with the route. In addition, some fleets are not in operation, especially on the route that led to the Porong area, because of the declining number of passengers as a result of the Lapindo mud disaster. For that reason, it is necessary for public transportation route network to adapt to impact map of the Lapindo mudflow and the development of the road network in Sidoarjo. Key words: public transportation, performance evaluation, load factor, headway, route Abstrak Angkutan umum sangat penting untuk mendukung aktivitas masyarakat di suatu kota. Bencana lumpur Lapindo di Sidoarjo berdampak pada aktivitas masyarakat dan pola perjalanan angkutan umum di daerah tersebut. Kinerja layanan angkutan umum di Kabupaten Sidoarjo saat ini kurang baik, dengan frekuensi rata-rata kurang dari 6 kendaraan/jam, waktu antara rata-rata lebih besar dari 10 menit, faktor muat kurang dari 70 %, kecepatan rata-rata kurang dari 30 km/jam, serta waktu tempuh perjalanan rata-rata kurang dari 60 menit. Faktor muat yang rendah berakibat menurunnya penghasilan operator angkutan umum yang berimplikasi pada penurunan kesejahteraan. Hal yang terjadi di lapangan adalah bahwa sekitar 20 % angkutan umum beroperasi tidak sesuai dengan ijin trayeknya. Selain itu beberapa armada tidak beroperasi, khususnya pada trayek yang menuju ke daerah Porong, karena menurunnya jumlah penumpang akibat bencana lumpur Lapindo. Untuk itu, diperlukan jaringan trayek angkutan umum yang disesuaikan dengan peta dampak lumpur Lapindo dan pengembangan jaringan jalan di Sidoarjo. Kata-kata kunci: angkutan umum, evaluasi kinerja, faktor muat, waktu antara, traye