Pusat Jurnal Ilmiah Universitas Pasir Pengaraian
Not a member yet
1713 research outputs found
Sort by
Pengendalian Mutu Agregat Kelas A Dan Kelas B Pada Pekerjaan Jalan Simpang Pir - Bono Tapung
Pengendalian mutu merupakan salah faktor penting yang dapat memberikan informasi sebagai tolok ukur, apakah suatu pekerjaan sudah sesuai dengan yang diinginkan. Ada beberapa pemeriksaan laboratorium yang perlu dikerjakan untuk mengetahui mutu agregat kelas A dan kelas B , yaitu Atterberg (pemeriksaan konsistensi tanah), analisa saringan, abrasi, percobaan pemadatan, CBR (California Bearing Ratio), dan pemeriksaan lapangan dengan metode sand cone test. Pengendalian mutu ini mengcu pada buku Spesifikasi Umum tahun 2018 (rev.2) yang diterbitkan oleh Kementrian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jendral Bina Marga Repubik Indonesia. Sedangkan objek penelitian ini dilakukan pada pekerjaan jalan Simpang Pir – Bono Tapung,yaitu pada pekerjaan lapis pondasi agregat kelas A dan lapis pondasi agregat kelas B sepanjang dari Sta 01+700 s/d sta 02 +083. Hasil yang diperoleh untuk material LPB, memperlihatkan semua titik berada pada nilai kadar air antara 5.0% s/d 5.50%, sesuai spesifikasi, kadar air berada pada rentang 3% dibawah kadar air optimum dan 1% diatas kadar air optimum yaitu antara rentang 3,3% - 7,3%. berat kering maksimum LPB, γd (lab) yang direncanakan 2,165 gc/cc dengan derajat kepadatan adalah 100%, hasil lapangan memberikan nilai kepadatan antara γd =101.15 gc/cc s/d 105.31 gc/cc.Unluk material LPA, ada 2 STA dengan kadar air diluar rentang kadar air 2,2% - 6,2%. yaitu STA 1+720 = 7%, STA 2+004 = 6,5%. Solusinya adalah dengan mengeringkan melalui sinar matahari dalam waktu tertentu maka kadar air lapangan akan turun sampai pada rentang yang disyaratkan. Berat kering maksimum LPA, γd (lab), direncanakan 2,197 gc/cc dengan derajat kepadatan adalah >=96%. Dari hasil lapangan memberikan nilai γd =96.22 gc/cc s/d 100.59 gc/cc
Pengaruh Penggunaan Carbon Fiber Reinforced Polymer Tipe Wrap Terhadap Perilaku Lentur Balok Beton Bertulang
Material perkuatan struktur beton adalah Carbon Fiber Reinforced Polymer. Penelitian ini dilakukan untuk meninjau pengaruh variasi pemasangan CFRP sebagai perkuatan eksternal terhadap kapasitas momen lentur maksimum. Sampel berupa balok beton bertulang berdimensi 10x13x100 cm3 berjumlah 5 dengan variasi berbeda yaitu balok kontrol dan empat lainnya merupakan balok variasi CFRP. Variasi dibedakan dari segi lebar dan jumlah lapisan CFRP, terdiri dari BV1 selebar 10 cm 1 lapis, BV2 selebar 10 cm 2 lapis, BV3 selebar 5 cm 1 lapis, dan BV4 selebar 5 cm 2 lapis. Hasil pengujian memperlihatkan bahwa semakin luas CFRP yang dipasang, semakin besar peningkatan kapasitas beban ultimitnya. Peningkatan beban ultimit pada balok variasi terhadap balok kontrol yaitu BV1 meningkat sebesar 69,66%, BV2 sebesar 106,16%, BV3 sebesar 43,70%, dan BV4 sebesar 54,88%. Pola keruntuhan pada balok variasi perkuatan CFRP adalah terjadinya debonding failure sebagai akibat dari adanya perbedaan nilai modulus elastisitas beton dan CFRP
Analisis Peran Pendamping Desa Dalam Pembangunan Infrastruktur Berkelanjutan di Rokan Hulu
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peran Pendamping Desa TeknikInfrasturktur (PDTI) dalam menjalankan tugasnya sebagai pendamping desa menurutpersepsi Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPMPD)Kabupaten Rokan Hulu. Metode penelitian dilakukan dengan cara wawancara dankuesioner sebanyak 21 responden dari pihak dinas DPMPD Kabupaten Rokan Hulu. Data kuesioner di uji dengan rumus indeks kepentingan dan uji data statistik denganrumus korelasi produk moment dan rumus Crosbach Alpha. Kesimpulan akhir daripenelitian yaitu bahwa peran PDTI dalam pembangunan infrastruktur berkelanjutandi Kabupaten Rokan Hulu menurut persepsi dinas DPMPD memiliki nilai kinerjayang BAIK. Peran PDTI yang harus ditingkat kedepannya adalah sebagai berikut : (1) Melaporkan semua masalah yang timbul dan upaya penanganannya; (2) Koordinasimenjalin hubungan baik dengan birokrasi dan tokoh masyarakat; (3) Membantupenanganan masalah yang berhubungan dengan kegiatan infrastruktur desa; (4)Membimbing pembuatan RAB infrastruktur desa
Klasifikasi Kanker Paru-Paru berdasarkan Data Citra CT-Scan: Berbasis Gray Level Co-Occurrence Matrix dan Extreme Learning Machine
Kanker merupakan salah satu penyakit paling mematikan di dunia, dengan 1,796,144 jiwa meninggal akibat kanker paru-paru pada tahun 2020, menjadikannya jenis kanker dengan tingkat kematian tertinggi, yaitu 18% dari total kematian akibat kanker. Mengingat pentingnya diagnosis akurat, klasifikasi kanker paru-paru memerlukan konfirmasi histologi dari kondisi pasien. Penelitian ini memanfaatkan 1097 citra CT-Scan paru-paru manusia dari 110 kasus, yang dikumpulkan oleh spesialis IQ-OTH/NCCD dan diunggah oleh Aditya Mahimkar. Untuk mengklasifikasikan kondisi paru-paru menjadi normal, jinak (benign), dan ganas (malignant) , digunakan metode Gray Level Co-occurrence Matrix (GLCM) untuk ekstraksi fitur tekstur citra CT-Scan. Selanjutnya, Extreme Learning Machine (ELM) diterapkan untuk klasifikasi. Model yang dikembangkan berhasil mencapai akurasi tertinggi sebesar 79% saat diuji dengan dataset citra CT-Sca
Students\u27 Decision-Making in Solving Mathematical Word Problems Based on Adversity Quotient
This study aims to describe students’ decision-making processes in solving mathematical word problems based on their Adversity Quotient (AQ). A qualitative research method was employed. Data were collected through AQ questionnaires, decision-making tests, and interviews. The data analysis techniques included data reduction, data presentation, verification, and conclusion drawing. The findings revealed the presence of 2 climber-type students, 5 students transitioning from camper to climber, 16 camper-type students, and 4 students transitioning from quitter to camper; no students were identified as quitters. The results show that climber-type rational students fulfilled all indicators of decision-making. Rational students transitioning from camper to climber fulfilled all indicators except for recalling the relationship between the problem, known information, and the decision made. Heuristic students in this category were unable to present or recall that relationship. Camper-type students with intuitive and rational decision-making styles were able to identify problems and goals, find alternative solutions, solve the problems, evaluate the alternatives, and make decisions. Students transitioning from camper to quitter with an intuitive style could identify problems, find alternative solutions, solve the problems, and make decisions. Meanwhile, those with a rational style could only find alternative solutions, solve the problems, and make decisions
No gender differences in mathematical problem-solving ability: A study with mathematics anxiety control
Equality, including gender, is an essential principle in school mathematics education and learning. Previous research findings, however, have yielded mixed results in terms of students’ mathematics proficiency, particularly mathematical problem-solving abilities. Furthermore, mathematics anxiety is frequently related to a decline in these abilities. As a result, the purpose of this study is to examine gender disparities in students’ mathematical problem-solving abilities while accounting for the influence of students’ mathematics anxiety. This study used a survey method with 96 students chosen by cluster sampling from a public junior high school in an urban area. This study included two instruments: a mathematical problem-solving abilities test and a mathematics anxiety scale. The findings of this study show that: (1) there is no significant difference in students’ mathematics anxiety based on gender, (2) gender has no significant effect on students’ mathematical problem-solving abilities after controlling for mathematics anxiety, and (3) mathematics anxiety has a significant effect on mathematical problem-solving abilities after controlling for gender. These findings highlight the need for strategies for reducing mathematics anxiety in children. Comprehensive assistance from the learning environment, including the responsibilities of parents, teachers, and friends, as well as a positive learning environment, is intended to assist students in overcoming mathematics anxiety. Thus, this study has significant implications for the development of inclusive and successful mathematics learning strategies
Technology Integration in Problem-Based Culturally Responsive Mathematics Learning: A Systematic Literature Review in the Era of Industry 5.0
The Industry 5.0 era demands mathematics learning models that are not only technology-enhanced but also culturally responsive and competence-oriented. This systematic literature review investigates the integration of technology-supported problem-based learning (PBL) with culturally responsive teaching (CRT) in mathematics education. Following the PRISMA 2020 protocol, 24 records were retrieved from Scopus, ScienceDirect, and Google Scholar; five met the inclusion criteria and were thematically analyzed. Results show that PBL supported by technology improves students’ problem-solving skills, mathematical literacy, motivation, and self-regulated learning. However, explicit integration of CRT within these models remains limited. Compared to conventional approaches, a combined PBL-CRT-technology framework holds greater potential to promote meaningful, inclusive, and future-oriented mathematics learning. This review recommends the development of a comprehensive instructional model that aligns cultural relevance, digital innovation, and inquiry-based learning. Implications for research and practice are outlined to support mathematics education in diverse and digitally connected learning environments
ANALISIS PERENCANAAN RUMAH LAYAK HUNI MELALUI PROGRAM KLINIK RUMAH SWADAYA DESA SUKA MAJU KECAMATAN RAMBAHAN RAMBAH
Abstrak
Pada tahun 2023 Tim Klinik Rumah Swadaya (KRS) dari Balai P2P Sumatera III sudah melakukan kerjasama dengan Desa Suka Maju Kecamatan Rambah untuk melakukan sosialisasi layanan KRS kepada masyarakat di Desa Suka Maju. Hasilnya menunjukkan masih banyak rumah masyarakat yang termasuk kategori rumah tidak layak huni. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk merencanakan desain rumah layak huni di Desa Suka Maju dan anggaran biaya dengan tipe 36 m² dan tipe 45 m² yang sesuai standar klinik rumah swadaya. Metode analisis dalam perencanaa rumah layak huni itu mengacu kepada standar prinsip membangun rumah layak huni program Klinik Rumah Swadaya dan Keputusan Bupati Rokan Hulu Nomor 43 tahun 2023 tentang Standarisasi Satuan Harga Barang Dan Jasa Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2024. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa : rencana anggaran biaya untuk rumah tipe 36 m² adalah Rp 94.000.000, dan rumah tipe 45 m² adalah Rp110.400.000. Selisih biaya antara rumah tipe 36 m² dan tipe 45 m² adalah berkisar Rp16.400.000.
Abstract
In 2023, the Self-Help Home Clinic (KRS) Team from Balai P2P Sumatra III has collaborated with Suka Maju Village, Rambah District to socialize KRS services to the community in Suka Maju Village. The results show that there are still many people\u27s houses that are categorized as uninhabitable houses. The aim of this research is to plan a livable house design in Suka Maju Village and budget costs for the 36 m² type and 45 m² type according to self-help home clinic standards. The analytical method in planning livable houses refers to the standard principles for building livable houses in the Self-Help Home Clinic program and Rokan Hulu Regent Decree Number 43 of 2023 concerning Standardization of Unit Prices for Goods and Services in Rokan Hulu Regency in 2024. The results of this research conclude that: budget plan The cost for a 36 m² type house is IDR 94,000,000, and a 45 m² type house is IDR 110,400,000. The cost difference between a 36 m² type house and a 45 m² type house is around IDR 16,400,000
ANALISIS TINGKAT KESEHATAN BANK MENGGUNAKAN METODE RGEC (RISK PROFILE, GOOD CORPORATE GOVERNANCE, EARNING, CAPITAL) PADA PERBANKAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA PERIODE 2020-2023
Penelltian ini bertujuan untuk menganalsis dan mengetahui Kesehatan bank dengan menggunakan metode RGEC (Risk Profile, Good Corporate Governance, Earnings dan Capital) perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2020-2021.Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari annual report dari masing-masing bank yang menjadi sampel penelitian. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 47 bank. Sampel yang digunakan dalam penelitian iniberjumlah 20 bank diperoleh melalui metode pengambilan sampel purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat Kesehatan bank yang terdaftar di BEI periode 2018-2020 menggunakan metode RGEC dikategorikan Sangat Sehat, Sehat, Cukup Sehat, dan Kurang Sehat. Terdapat enam bank yang mendapatkan Peringkat Komposit 1 (PK-1) dengan kategori Sangat Sehat selama empat tahun berturut-turut yaitu Bank BBCA, BBMD, BBRI, BMRI, MEGA, dan NISP. Terdapat empat bank yang mendapatkan Peringkat Komposit 2 (PK-2) dengan kategori Sehat selama empat tahun berturut-turut SDR, BSIM, BNBA dan BBTN Terdapat tiga bank yang mendapatkan Peringkat Komposit 3 (PK-3) dengan kategori Cukup Sehat selama empat tahun berturut-turut yaitu Bank ARTO, dan BACA. Serta MAYA pada tahun 2020, 2021, dan 2022. Serta Terdapat satu bank yang mendapatkan Peringkat Komposit 4 (PK-4) dengan kategori Kurang Sehat yaitu Bank MAYA tahun 2023
Implementasi Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 Tentang Pencegahan Tindak Pidana Kekerasan Seksual Terhadap Anak di Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Pekanbaru. : Implementasi Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 Tentang Pencegahan Tindak Pidana Kekerasan Seksual Terhadap Anak di Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Pekanbaru.Â
Tingginya kasus kekerasan seksual di Pekanbaru perlu mendapatkan perhatian serius. Metode penelitian yang digunakan adalah hukum sosiologis. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa, implementasi undang-undang kekerasan seksual oleh dinas pemberdayaan perempuan, perlindungan anak dan pemberdayaan masyarakat belum berjalan secara maksimal. Hambatan yang dihadapi kurangnya pemahaman masyarakat terkait pentingnya edukasi kekerasan seksual dan dipengaruhi oleh lingkungan yang tidak bagus sehingga memicu terjadinya tindak pidana kekerasan seksual. Upaya yang dilakukan dengan caramelibatkan masyarakat, keluarga, peranguru dan instansi-instansi peremrintah lain dalam berpartisipasi mensosialisasikan pencegahan kekerasan seksual terhadap anak agar tersebar secara menyeluruh terkait bahayanya kekerasan seksual bagi anak, sosialisasi melalui media sosialagar seluruh masyarakat dapat mengetahuinya. Serta dari pihak PPAPolresta Pekanbaru dengan lebih gencar lagi dalam mensosialisasikan undang-undan