Jurnal Ilmiah PLATAX
Not a member yet
    481 research outputs found

    Morphology and Anatomy of Macroalgae Community in Rap Rap Coastal Waters, Tongkaina Village, Manado City

    Get PDF
    Macroalgae are low-level plants that generally grow attached to certain substrates such as corals, mud, sand, rocks, and other hard objects. Macroalgae are algae that have a macroscopic body shape and size. A community is a group of beings living together in the same place. Thus the macroalgae community is a group of lower plants that have macroscopic body sizes living together. The coastal area of Rap-Rap Beach is located in Tongkaina Village, Manado City, North Sulawesi Province. This location is one of the stable macroalgae habitats, meaning that there is still little habitat damage that occurs, so macroalgae can still be obtained directly from nature. This coast is also known as mangrove ecotourism and the path to Bunaken Island. The purpose of this study is to describe the morphology and anatomy of each macroalgae species. Data collection using the Line Transect method with a squared sampling technique was carried out at the lowest low tide. Temperature measurement using a thermometer and salinity using a refractometer, and for determination of substrate visually see the type of substrate. Keywords: morphology, anatomy, community, macroalgae, Rap Rap. Abstrak Makroalga merupakan tumbuhan tingkat rendah yang umumnya tumbuh melekat pada substrat tertentu seperti pada karang, lumpur, pasir, batu dan benda keras lainnya. Makroalga yaitu alga yang memiliki bentuk dan ukuran tubuh makroskopik. Komunitas adalah kelompok makhluk yang hidup secara bersama-sama dalam suatu tempat yang bersamaan. Dengan demikian komunitas makroalga adalah kelompok tumbuhan rendah yang memiliki ukuran tubuh makroskopik yang hidup bersamaan. Wilayah pesisir Pantai Rap-Rap terletak di Kelurahan Tongkaina, Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara. Lokasi ini merupakan salah satu habitat makroalga yang stabil artinya masih sedikit kerusakan habitat yang terjadi, sehingga makroalga masih dapat diperoleh secara langsung dari alam. Pesisir ini juga dikenal sebagai ekowisata mangrove dan jalur ke Pulau Bunaken. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan morfologi dan anatomi masing-masing spesies makroalga. Pengambilan data menggunakan metode Line Transect dengan teknik sampling kuadrat yang dilakukan pada saat surut terendah. Pengukuran suhu menggunakan Thermometer dan salinitas menggunakan Refraktometer, dan untuk penentuan substrat dilihat secara visual jenis dari substrat tersebut. Kata kunci: morfologi, anatomi, komunitas, makroalga, Rap Rap

    Vibriosis In Asian Seabass Lates calcarifer (Bloch, 1790):

    Get PDF
    Aquaculture production activities have been experiencing a significant increase. Various economically valuable fish commodities have been developed, including Asian seabass, barramundi, and giant seaperch. Asian seabass farming offers advantages such as relatively fast growth, ease of maintenance, and high tolerance to environmental changes. However, the sustainability of Asian seabass farming faces challenges, including vibriosis infection. This disease can lead to economic losses due to mortality and has been reported in several Asian seabass-producing countries. This review discusses information on the causative agents of vibriosis, clinical symptoms, vibriosis control, and prevention through immunostimulants, prebiotics, and vaccination in Asian seabass. The primary causative agents of vibriosis in Asian seabass include Vibrio anguillarum, V. harveyi, and V. alginolyticus. Clinical symptoms include anorexia, darkening of body coloration, lesions around the anus and fin bases, scale loss and muscle degradation, hemorrhaging throughout the body, particularly at fin bases, ulcers on the operculum, kidney congestion, and liver necrosis. Infections caused by V. anguillarum, V. harveyi, and V. alginolyticus can be effectively managed using medicinal plants, probiotics, and vaccination, which have shown promising results in Asian seabass. Keywords: Lates calcarifer; Vibriosis; Vibrio alginolyticus; Vibrio anguillarum; Vibrio harveyi.   Abstrak Produksi kegiatan akuakultur terus mengalami peningkatan yang signifikan. Berbagai komoditas ikan bernilai ekonomi telah dikembangkan salah satunya ikan kakap putih yang juga dikenal sebagai Barramundi, Asian seabass dan Giant seaperch. Budidaya kakap putih memiliki keunggulan, yaitu pertumbuhannya yang relatif cepat, mudah dipelihara dan mempunyai toleransi yang tinggi terhadap perubahan lingkungan. Namun, keberlanjutan budidaya kakap putih tidak terlepas dari berbagai kendala, salah satunya serangan penyakit vibriosis. Penyakit ini dapat mengakibatkan kerugian ekonomi akibat kematian dan telah dilaporkan pada pada beberapa negara produsen kakap putih. Ulasan ini membahas informasi mengenai agen penyebab vibriosis, gejala klinis, pengendalian vibriosis, serta pencegahan melalui pemanfaatan imunostimulan, prebiotik dan vaksinasi pada kakap putih. Agen utama penyebab vibriosis pada kakap putih adalah Vibrio anguillarum, V. harveyi, dan V. alginolyticus. Gejala klinis yang ditimbulkan adalah anoreksia, perubahan warna tubuh menjadi lebih gelap, lesi di sekitar anus dan pangkal sirip, kerontokan pada sisik dan degradasi otot, hemoragi di seluruh tubuh terutama di pangkal sirip, dan ulserasi di bagian operkulum, serta kongesti pada ginjal dan nekrosis pada hati. Infeksi V. anguillarum, V. harveyi, dan V. alginolyticus dapat dikendalikan dengan pemanfaatan tanaman obat, probiotik dan vaksinasi yang telah terbukti pada ikan kakap putih. Kata kunci: Lates calcarifer; Vibriosis; Vibrio alginolyticus; Vibrio anguillarum; Vibrio harveyi

    Length Increase and Survival Rate of Coral Isopora palifera which Transplanted on Concrete Block

    Get PDF
    Efforts to mitigate damage to coral reef ecosystems can be made by developing techniques for coral transplantation. The purpose is to know the survival rate of coral Isopora palifera and Measure the length increase of coral Isopora palifera using the Image-J application as the measurement. The research method was that artificial blocks made of concrete were used as containers for the installation of 27 colonies of coral Isopora palifera. Data collection in the field in the form of colonies that were successfully transplanted to artificial reef units will be explored using a camera from each concrete block which will take perpendicular pictures and colony portraits from each artificial reef unit. The results are then analyzed using the Image-J application. The transplantation results survival rate in Isopora palifera coral colonies in Paputungan village is 66.6% of 100%, while the Isopora palifera coral colony increase length was around 1.51 mm/5 months or 0.302 mm/month. Keywords: Coral, Isopora palifera, Transplant, Concrete block, North Sulawesi Abstrak Upaya penanggulangan kerusakan ekosistem terumbu karang dapat dilakukan dengan menggembangkan teknik transplantasi karang. Tujuan adalah Mengetahui tingkat ketahanan hidup karang Isopora palifera dan Mengetahui laju pertambahan karang Isopora palifera dengan menggunakan aplikasi Image-J sebagai pengukuran pertumbuhan. Metode penelitian yaitu balok buatan dari beton dijadikan wadah tempat pemasangan karang Isopora palifera sebanyak 27 koloni. Pengambilan data di lapangan berupa koloni yang berhasil ditransplantasi ke unit terumbu buatan akan didokumentasikan menggunakan kamera dari tiap-tiap balok diambil gambar tegak lurus dan memotret koloni dari masing-masing unit terumbu buatan.  Hasil pemotretan tersebut selanjutnya dianalisa menggunakan aplikasi Image-J. Proses transplantasi di desa Paputungan menghasilkan 66,6% dari 100% tingkat kelangsungan hidup pada koloni karang Isopora palifera, sedangkan untuk laju pertabahan koloni karang Isopora palifera berada disekitar 1,51 mm/5 bulan atau 0,302 mm/bln. Kata Kunci: Karang, Isopora palifera, Transplantasi, Balok beton, Sulawesi Utara

    Analysis Of The Effect Of El Niño La Nina And Sea Level Temperatures On Chlorophyll-A Concentrations In The Waters Of The Maluku Sea:

    Get PDF
    Global weather phenomena cannot be separated from the interaction between the ocean and the atmosphere. El Nino and La Nina are phenomena that were related to the interaction of the sea and the atmosphere which affects many aspects, including the fertility of waters. Indicators of the fertility of water could be determined from the distribution of sea surface temperature and chlorophyll-a concentration. This study aims to analyze variations in the distribution of sea surface temperature and chlorophyll-a in the Maluku Sea when the El Nino and La Nina phenomena are activated. The results showed that when the El Nino phenomenon was activated, there was a decrease in sea surface temperature and an increase in the concentration of chlorophyll-a from normal conditions. Besides, when the La Nina phenomenon was activated, there was an increase in sea surface temperature and a decrease in the concentration of chlorophyll-a from normal conditions. Spatial interpretation when El Nino and La Nina are activated showed low values with a distribution indicating the mixed proceed for the sea surface temperature parameter and showed higher values with an even distribution for the chlorophyll-a parameter. Keywords: Sea Surface Temperature, Chlorophyll-a, El Nino, La Nina. Abstrak Fenomena cuaca secara global tidak bisa lepas kaitannya dengan interaksi antara laut dan atmosfer. El Nino dan La Nina merupakan salah satu fenomena yang berkaitan dengan interaksi laut dan atmosfer yang berpengaruh terhadap banyak aspek termasuk kesuburan suatu perairan. Indikator kesuburan suatu perairan dapat ditentukan dari distribusi suhu permukaan laut dan konsentrasi klorofil-a. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa variasi distribusi suhu permukaan laut dan klorofil-a di perairan Laut Maluku saat fenomena El Nino dan La Nina aktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa saat fenomena El Nino aktif terjadi penurunan suhu permukaan laut dan peningkatan konsentrasi klorofil-a dari kondisi normal. Sebaliknya saat fenomena La Nina aktif terjadi peningkatan suhu permukaan laut dan penurunan konsentrasi klorofil-a dari kondisi normal. Interpretasi spasial saat El Nino dan La Nina aktif menunjukkan nilai yang rendah dengan sebaran yang menunjukkan proses mixing untuk parameter suhu permukaan laut, dan menunjukkan nilai yang lebih tinggi dengan sebaran merata untuk parameter klorofil-a. Kata kunci: Suhu Permukaan Laut, Klorofil-a, El Nino, La Nina

    Identification of Types and Weight of Marine Debris in Each Season at Ancol Gen Beach, Pesawahan, Teluk Betung Selatan, Bandar Lampung

    Get PDF
    The Ancol Gen Beach is one of the beaches located in the waters of Lampung Bay, offering a variety of activities in the surrounding aquatic environment. These activities have led to an increase in pollution, particularly in the form of marine debris. The distribution of non-submerged marine debris tends to drift and ultimately ends up along the shoreline. This research was conducted from December 2021 to June 2022 at Ancol Gen Beach, Pesawahan, Teluk Betung Selatan, Bandar Lampung. The study aimed to classify and identify the types and weights of marine debris most commonly found at Ancol Gen Beach. Sampling of marine debris was carried out using the line transect method spanning the coastline. The research results revealed that the dominant type of marine debris was single-use plastic, followed by recyclable plastics, textiles, rubber, paper, glass, wood, metal, and hazardous waste (B3). The highest density of marine debris occurred during the rainy season, with a count of 50,020 pcs/m² and a weight of 160,525 g/m². In contrast, the lowest density of marine debris was observed during the dry season, with 15,450 pcs/m² and a weight of 53,250 g/m². The accumulation of macro marine debris along Ancol Gen Beach is suspected to be transported by surface currents and river flows in the vicinity of the shoreline. Keywords: Ancol Gen, Macro-sized, Marine debris, and Seasson. Abstrak Pantai Ancol Gen merupakan salah satu pantai yang berada di perairan Teluk Lampung yang memiliki beragam aktivitas di sekitar perairan tersebut. Aktivitas-aktivitas yang ada menyebabkan peningkatan pencemaran salah satunya berupa sampah laut. Distribusi sampah laut yang tidak tenggelam ke dasar perairan akan hanyut dan berakhir di sepanjang pantai. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2021- Juni 2022 dan bertempat di Pantai Ancol Gen, Pesawahan, Teluk Betung Selatan, Bandar Lampung. Penelitian bertujuan untuk mengklasifikasi dan mengidentifikasi jenis-jenis serta berat sampah laut yang paling banyak ditemukan di Pantai Ancol Gen. Pengambilan sampel sampah laut menggunakan metode line transek yang membentang sepanjang pantai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis sampah laut didominasi oleh sampah jenis plastik sekali pakai, kemudian diikuti oleh sampah plastik daur ulang, tekstil, karet, kertas, kaca, kayu, logam, dan sampah B3. Kepadatan jumlah sampah laut paling tinggi berada di musim hujan sebanyak 50.020 pcs/ m² dan berat sampah laut sebesar 160.525 g/m², sedangkan kepadatan jumlah sampah laut terendah di musim kemarau sebanyak 15.450 pcs/m² dan berat sampah laut sebesar 53.250 g/m². Akumulasi sampah laut makro yang tersebar di sepanjang Pantai Ancol Gen diduga terbawa oleh arus permukaan laut dan aliran sungai yang berada di sekitar pantai tersebut. Kata Kunci : sampah laut, makro, musim, pantai Ancol Gen

    Mapping Benthic Habitat Distribution and Coral Reef Health Index in Ternate Island and Tidore Island, North Maluku

    Get PDF
    Coral reefs are underwater marine organisms whose coverage can be identified using remote sensing technology utilizing satellite imagery. The benthic habitats classification and coral reef health index analysis were carried out on the Ternate and Tidore islands in June 2021. This study aims to map the distribution of benthic habitat as well as calculate the value of the coral reef health index. The processing of satellite imagery data from Landsat 8, using ENVI 5.3 and ArcGIS 10.1 software. The "depth invariant index" algorithm is used in the image sharpening process (Lyzenga, 1981). The maximum likelihood classification technique is used to identify substrate type, with a confusion matrix used to test its accuracy. The coral reef health index assessment is based on the condition of live coral cover, resilience level, and reef fish biomass. The results from water column image classification showed that there were four classes of habitat, i.e. coral, seagrass, sand, and rubble with an overall accuracy value of 85.86% and kappa coefficient of 0.80605. The total area of classified coral reefs is 1152.85 hectares. The coral reef health index values ranged from 2 to 8 with an average of 5, which translates to a moderate percentage of live coral cover, high resilience, and low fish biomass. Keywords: coral reefs, benthic habitat, health index, Landsat 8 images.   Abstrak Terumbu karang merupakan objek tutupan bawah air laut yang dapat diidentifikasi menggunakan teknologi penginderaan jauh yakni memanfaatkan citra satelit. Klasifikasi habitat bentik dan analisis indeks kesehatan terumbu karang telah dilakukan di pulau Ternate dan pulau Tidore pada bulan Juni 2021. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan sebaran habitat bentik serta mengetahui nilai indeks kesehatan terumbu karang. Pengolahan data citra Landsat 8 dengan perangkat lunak ENVI 5.3 dan ArcGIS 10.1. Proses penajaman citra menggunakan algoritma “depth invariant index” (Lyzenga, 1981). Teknik klasifikasi maximum likelihood digunakan untuk identifikasi objek dasar perairan dan uji akurasi menggunakan confusion matrix. Penilaian indeks kesehatan terumbu karang berdasarkan kondisi tutupan karang hidup, tingkat resiliensi dan biomassa ikan karang. Hasil klasifikasi citra kolom air mendapatkan empat kelas habitat yaitu karang, lamun, pasir dan pecahan karang mati (rubble) dengan nilai akurasi keseluruhan sebesar 85,86 % dan koefisien kappa sebesar 0,80605. Total luasan area terumbu karang hasil klasifikasi adalah 1152,85 ha. Nilai indeks kesehatan terumbu karang berkisar antara 2 sampai 8, dengan rata-rata 5 yang menggambarkan persentase tutupan karang hidup sedang, tingkat resiliensi tinggi dan biomassa ikan rendah. Kata kunci: terumbu karang, habitat bentik, indeks kesehatan, citra Landsat 8

    Development Of Marine Tourism Potential In East Likupang Waters, North Minahasa District

    Get PDF
    This research aims to determine the potential for marine tourism in East Likupang Waters, determine the suitability of developing marine tourism in East Likupang Waters, and recommend marine tourism management, collecting primary data through observation and in-depth interviews directly with the community. Secondary data through studies of research results, scientific publications, the Minahasa Regency Maritime and Fisheries Service, and the North Minahasa Regency Maritime and Fisheries Service. Biophysical data is as follows. Observation of coral conditions using Line Intercept Transect (LIT). b) Observation of fish using Underwater Fish Visual Census (UVC). Water quality using a water quality checker (Horiba brand). Apart from that, data analysis uses a matrix of suitability for marine tourism areas, and beach tourism and provides weighting. The results of this research show that the potential that exists in East Likupang Waters and its surroundings includes physical and non-physical potential that has the potential and can be developed into a marine tourism attraction. Carrying capacity and beach recreation Surabaya Beach beach area 2000 (m²) 533 people/day Pulisan Beach 2000 (m²) 533 people/day c) Paal Beach 1000 (m²) 267 people/day Kalinaun Beach 3000 (m²) 800 people/day, It was found that the percentage of coral cover in East Likupang Waters was 47.04%, with a marine tourism suitability index value of 62, which means that the suitability of the East Likupang Waters marine tourism area is included in the conditionally appropriate criteria. Keywords: Potential, Marin Tourism, East Likupang Waters Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi wisata bahari di Perairan Likupang Timur, mengetahui kesesuaian pengembangan wisata bahari di Perairan Likupan Timur dan merekomendasikan pengelolaan wisata bahari, pengumpulan data primer melalui observasi dan wawancara mendalam langsung kepada masyarakat. Data sekunder melalui kajian hasil penelitian, publikasi ilmiah, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Minahasa, dan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Minahasa Utara. Data biofisik adalah sebagai berikut. Pengamatan kondisi karang menggunakan Line Intercept Transect (LIT). b) Pengamatan ikan menggunakan Underwater Fish Visual Census (UVC). Kualitas air menggunakan alat pemeriksa kualitas air (merek Horiba). Selain itu analisis data menggunakan matriks kesesuaian kawasan wisata bahari, dan wisata pantai serta memberikan pembobotan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi yang ada di Perairan Likupang Timur dan sekitarnya meliputi potensi fisik dan non fisik yang mempunyai potensi dan dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata bahari. Daya dukung dan rekreasi pantai Pantai Surabaya Luas pantai 2000 (m²) 533 orang/hari Pantai Pulisan 2000 (m²) 533 orang/hari c) Pantai Paal 1000 (m²) 267 orang/hari Pantai Kalinaun 3000 (m²) 800 orang/hari, Diketahui persentase tutupan karang di Perairan Likupang Timur sebesar 47,04% dengan nilai indeks kesesuaian wisata bahari sebesar 62 yang berarti kesesuaian kawasan wisata bahari Perairan Likupang Timur termasuk dalam kriteria layak bersyarat. Kata Kunci: Potensi; wisata bahari; Perairan Likupang Timur

    Macroalgae Diversity in Seagrass Ecosystem at Ranowangko Dua Village Beach

    Get PDF
    This research aims to provide information on the types, and diversity of macroalgae in seagrass ecosystems and water conditions in the waters of Ranowangko Dua Village Beach, Kombi District, Minahasa Regency. Observations of macroalgae in seagrass ecosystems were carried out using the quadrant transect method (1x1m) along 100 meters with an observation distance of every 10 meters per quadrant using 3 transect lines with a distance of 10 meters. The results found 12 species of macroalgae namely Halimeda Macroloba, Ulva intestinalis, Caulerpa Lentillifera, Neomeris Annulata, Halimeda Incrassata, Codium Arabicum, Turbinaria Ornata, Padina Minor, Acanthophora Spicifera, Amphiroa Fragillisima, Galaxaura Rugosa, and Mastophora Rosea. The diversity values of transects 1, 2, and 3 are 1.745; 1.378, and 1.294, respectively, included in the medium category. The absolute density value was highest in transect 2 (12.1), and lowest in transect 3 (7.5). The uniformity values of transects 1, 2, and 3 were 0.702; 0.555, and 0.521, respectively, including moderate (0.50 and less than 0.75). The dominance values of transects 1, 2, and 3 are 0.228; 0.348, and 0.362 respectively, which fall into the stable category or there is no dominating species. The results of physical and chemical parameters show the temperature value of 31.14°C, pH 8.99 is stable, and Dissolved Oxygen 7.62 mg/l is not polluted. In contrast, the salinity value of 35.14 ppt is not optimal, the brightness is in the low category of 0.38 m, and the turbidity value of 103 NTU is in the high category. Keywords: Seagrass ecosystem, macroalgae, ecological index, physical parameters, chemical parameters. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang jenis, keanekaragaman makroalga pada ekosistem padang lamun dan kondisi air di perairan Pantai Desa Ranowangko Dua Kecamatan Kombi Kabupaten Minahasa. Pengamatan makroalga pada ekosistem lamun dilakukan dengan metode transek kuadran (1x1m) sepanjang 100 meter dengan jarak pengamatan setiap 10 meter per kuadran menggunakan 3 line transek dengan jarak 10 meter. Hasil yang ditemukan 12 species makroalga yaitu Halimeda Macroloba, Ulva Intestinalis, Caulerpa Lentillifera, Neomeris Annulata, Halimeda Incrassata, Codium Arabicum, Turbinaria Ornata, Padina Minor, Acanthophora Spicifera, Amphiroa Fragillisima, Galaxaura Rugosa, dan Mastophora Rosea. Nilai keanekaragaman transek 1, 2 dan 3 masing-masing 1,745; 1,378 dan 1,294 termasuk dalam kategori sedang. Nilai Kepadatan mutlak tertinggi pada transek 2 (12,1), dan terendah pada transek 3 (7,5). Nilai keseragaman transek 1, 2 dan 3 masing-masing 0,702; 0,555 dan 0,521 termasuk sedang (0,50 dan kurang 0,75). Nilai dominansi transek 1, 2 dan 3 masing-masing 0,228; 0,348 dan 0,362 dimana masuk dalam kategori stabil atau tidak ada jenis yang mendominasi. Hasil parameter fisik dan kimia menunjukkan nilai suhu 31,14°C, pH 8,99 tergolong stabil, Oksigen Terlarut 7,62 mg/l tidak tercemar, sedangkan nilai salinitas 35,14 ppt tidak optimal, kecerahan dalam kategori rendah 0,38 m, dan nilai kekeruhan 103 NTU dalam kategori tinggi. Kata kunci : Ekosistem lamun, makroalga, indeks ekologi, parameter fisik, parameter kimi

    Organic Carbon Dynamics In Mangrove Sediments Of North Minahasa, Indonesia

    Get PDF
    This study aimed to investigate the carbon content in mangrove sediments within the North Minahasa District Marine Conservation Area and to understand the factors affecting organic carbon dynamics. It is revealed that the carbon content is significantly varied. Carbon content ranged from 13.874 to 132.65 Mg C ha-1 across different sampling locations, with an overall stored carbon content estimated at approximately 645.19 Mg C ha-1. Soil density and depth were identified as key factors influencing carbon storage, with thicker soil density associated with higher carbon reserves. These findings highlight the importance of understanding local sediment characteristics for effective blue carbon ecosystem management and conservation strategies. Keywords: carbon, sediment, mangrove, North Minahas

    Study of Microzoobenthos diversity in the Barambang River, Siantar Marihat District, Pematangsiantar City, Noth Sumatera Utara

    Get PDF
    This study aims to; identify the diversity, uniformity, and dominance of Macrozoobenthos in the Bah Biak River area, Pematangsiantar City, North Sumatra Province. This study used a combination of two transect methods, namely line transects and quadrat transects. Determination of the research location using Purposive sampling techniques. Data analysis using qualitative and quantitative analysis. The results of the study showed that there were 3 species of Macrozoobenthos consisting of 2 classes with a total of 67,35% individuals. The diversity of Macrozoobenthos in the Bah Barambang River, Pematangsiantar City, North Sumatra Province is classified as moderate with a diversity index of H' = 0,71 – 0,73, the evenness index is classified as low ranging from 0,51 – 0,53 and the dominance index is classified as low. Keywords:  Macrozoobenthos, River, Diversity Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk; Untuk mengidentifikasi keanekaragaman, keseragaman dan dominansi Makrozoobenthos pada kawasan Sungai Barambang Kota Pematangsiantar Provinsi Sumatera Utara. Penelitian ini menggunakan kombinasi dua metode transek yaitu transek garis dan transek kuadrat. Penentuan lokasi penelitian menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data menggunakan analisis kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian diketahui bahwa terdapat 3 spesies Makrozoobenthos yang terdiri dari 2 kelas dengan jumlah keseluruhan 67,35% individu. Keanekaragaman Makrozoobenthos di Sungai Bah Barambang Kota Pematangsiantar Provinsi Sumatera Utara tergolong sedang dengan indeks keanekaragaman H' = 0,71 – 0,73, indeks keseragaman rendah berkisar antara 0,51 – 0,53 dan indeks dominansi rendah. Kata Kunci: Makrozoobentos, Sungai, Keanekaragaman

    459

    full texts

    481

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmiah PLATAX
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇