Jurnal Ilmiah PLATAX
Not a member yet
    481 research outputs found

    Gastropod Community An Vertical Distribution Pattern Of Littoraria Scabra (Linnaeus, 1758) In Mangrove Ecosystem, Tombariri District, Nort Sulawesi

    Get PDF
    The Coast water of Tombariri District is an area that has a main ecosystem like mangroves, seagrass, and reef.  This research is to aim to know the species various, the structure of the gastropod community, and the vertical distribution pattern of Littoraria scabra in the mangrove ecosystem in Tombariri District, North Sulawesi.  Process of gastropod sampling horizontally where transects were put horizontal coastline on every location including Mokupa, Elu, and Tambala.   Every transect long has 65 m and also has every transect has 15 quadrats where every quadrat is one-meter square. Therefore, every transect has 15 quadrats, so a total of 45 quadrats. Every quadrant was put systematic method, that is, at terrestrial closing mangrove of 5 quadrats, middle mangrove of 5 quadrats, and coast close mangrove of 5 quadrats.  Process of sampling particularly L.scabra where taking vertically, especially on microhabitats that is, roots, stems, branches, and leaves of mangroves. High measuring by meter unit,  conducted from the ground where L.scabra found at mangrove until the top vegetation.  Based on the result of observation on the identification of gastropod sampling found in the mangrove ecosystem, Tombariri District, North Sulawesi as many 235 of individuals consisting of 5 orders, 23 families, and 32 genera having 78 species.  The density of species on every location Mokupa, Elu and Tambala, that is, (D) = 4.60, 5.47, and 5.60 in ind/m2, index of diversity,(H) = 2.54, 3.07, and 3.51 and index of dominance, ID = 0.04, 0.07 and 0.13. Keywords: Microhabitat, density, diversity, and dominance Abstrak Perairan pantai Kecamatan Tombariri merupakan daerah yang memiliki ekosistim utama pesisir seperti mangrove, lamun, dan terumbu karang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis, struktur komunitas gastropoda dan pola distribusi vertikal spesies Littoraria scabra di ekosistem mangrove Kecamatan Tombariri, Sulawesi Utara. Proses pengambilan sampel gastropoda secara horizontal, di mana transek ditempatkan sejajar garis pantai pada setiap lokasi yakni di Mokupa, Elu, dan Tambala. Panjang setiap transek 65 m dan setiap transek memiliki 15 kuadrat di mana kuadrat berukuran 1 x 1 m.  Setiap transek punya 15 kuadrat sehingga total  kuadrat seluruh transek adalah 45 kuadrat. Penempatan kuadrat menggunakan metode sistematik yaitu di bagian darat 5 kuadrat, pertengahan 5 kuadrat  dan  mangrove pinggir  laut 5 kuadrat. Proses pengambilan sampel secara vertikal khusus Littoraria scabra, di mikrohabitat akar, batang, cabang dan daun mangrove,Sementara pengambilan sampel L.scabra diukur ketinggian di mana spesies Littoraria scabra ditemukan ldi pohon mangrove dengan menggunakan meteran, dimulai dari dasar sampai ke ujung pohon mangrove. Berdasarkan hasil pengamatan dan identifikasi sampel gastropoda yang ditemukan di ekosistem mangrove Kecamatan Tombariri, Sulawesi Utara ditemukan sebanyak 235 individu yang terbagi ke dalam 5 ordo, 23 famili dan 32 genera dari 78 spesies. Kepadatan Jenis pada masing-masing lokasi = 4,60, 5,47, dan 5,60 ind/m2. Keanekaragaman H’= 2,54, 3,07, dan 3,51. Dominansi C= 0,04, 0,07, dan 0,13. Kata Kunci : Mikrohabitat, Kepadatan, Keanekaragaman, Dominansi

    Evaluation of 16S rRNA Gene Sequence for DNA Barcoding of Tuna Fish

    Get PDF
    For fish product authentication, DNA barcoding has been a reliable tool. This is due to its requirement of a small amount of tissue sample in order to conduct a full analysis for species identification. This research aimed to conduct an assessment for the use of 16S rRNA gene sequence for tuna fish identification through DNA barcoding. Previous in silico studies using the COI gene and CYB gene were conducted using the same tuna fish specimens. A comparison of 16S rRNA gene sequence between Bluefin tuna (five species), Yellowfin tuna (three species), and another group of tuna (five species) showed the reliability of this gene in differentiating all species represented by the respective specimens. The multiple sequence alignment of 1695 bp in this research is reliable for accurate identification. All specimens of Thunnus (Bluefin group and Yellowfin group) were able to be differentiated with other genera (Auxis, Euthynnus, and Katsuwonus) group in 27 sites. The other tuna fish genera group members are similar in 27 sites and the member Thunnus group has a polymorphism in the same location. The similarity among the Bluefin group is 99.3% to 99.8%. The similarity among Yellowfin group is 99.6% to 99.9%. The similarity among the other group is 97.5% to 99.5%. In conclusion, the 16S rRNA gene is a reliable marker for DNA barcoding of tuna fish.Keywords: DNA barcoding; 16S rRNA gene; tuna fishAbstrakUntuk kepentingan autentikasi produk-produk dari ikan, DNA barcoding merupakan perangkat yang dapat diandalkan. Ini disebabkan karena metode ini hanya membutuhkan sedikit sampel jaringan untuk analisis identifikasi spesies. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan asesmen penggunaan sekuens gen 16S rRNA untuk identifikasi ikan tuna melalui DNA barcoding. Studi in silico sebelumnya untuk gen COI dan gen CYB dilaksanakan menggunakan spesimen ikan tuna yang sama. Perbandingan sekuens gen 16S rRNA antara kelompok ikan tuna Bluefin (lima spesies), kelompok ikan tuna Yellowfin (tiga spesies), dan kelompok ikan tuna jenis lain (lima spesies) menunjukkan kemampuan gen ini dalam membedakan semua spesies. Dari hasil yang diperoleh, penjajaran multisekuens dari 1695 bp dapat diandalkan untuk indentifikasi yang akurat. Semua spesimen genus Thunnus (kelompok Bluefin dan kelompok Yellowfin) dapat dibedakan dengan spesimen lainnya pada 27 titik nukleotida. Kelompok tuna jenis lain juga memiliki nukleotida yang seragam di 27 lokasi dibandingkan dengan yang dari genus Thunnus. Tingkat kesamaan antar spesimen kelompok tuna Bluefin yaitu 99,3% sampai 99,8%. Tingkat kesamaan antar spesimen kelompok tuna Yellowfin yaitu 99,6% sampai 99,9%. Tingkat kesamaan antar kelompok tuna jenis lain yaitu 97,5% sampai 99,5%. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa gen 16S rRNA merupakan gen yang dapat diandalkan untuk DNA barcoding ikan tuna.Kata-kata kunci: DNA barcoding; gen 16S rRNA; ikan tun

    Meristic And Morfometric Characteristics Of Scad Mackerel Decapterus macarellus (Cuvier, 1833)

    No full text
    Fish are cold-blooded vertebrates, whose body movements and balance are mainly using fins, breathing through gills, and living in an aquatic environment. Most vertebrates in the world are fish covering 48.1%, mammals (10.8%), reptiles (14.4%), amphibians (6.0%), and birds (20.7%). One of the fish consumed in North Sulawesi is scad mackerel locally called malalugis. This research focused on the meristic and morphometric characteristics of blue scad. The samples were caught in Makalehi waters and then landed in Manado Bay. Meristic observations (related to the number) included the number of spines and soft dorsal fin, pectoral fin, pelvic fin, anal fin (anal), and caudal fin. There were 9 spines on the first dorsal (D1), 2 spines and 30-37 soft rays on the second dorsal (D2), 3 spines and 24-31 soft rays on the anal fin (A), and 1,327 linea lateralis (LL). The morphometric observations cover total length, standard length, fork length, head length, tail stem length, eye width, body width, pectoral fin length, and anal fin length (anal). The total length ranged from 180 mm to 303 mm with a mean of 223 mm and a standard deviation of 25 mm.Keywords: fin, linea lateralis, Makalehi waters.AbstrakIkan merupakan hewan vertebrata berdarah dingin, yang pergerakan dan keseimbangan tubuhnya terutama menggunakan sirip dan umumnya bernapas dengan insang serta hidup dalam lingkungan air. Spesies hewan vertebrata terbanyak di dunia adalah ikan dengan persentase 48,1 persen dari keseluruhan hewan vertebrata yang ada, pada mamalia memiliki presentase 10,8 persen, reptile memiliki 14,4 persen, amfibi hanya 6,0 persen dan spesies burung 20,7 persen. Salah satu ikan yang dikenal dan dikonsumsi di Sulawesi Utara adalah ikan layang biru atau disebut ikan malalugis. Penelitian ini mengenai karakteristik meristik dan morfometrik ikan layang biru. Penelitian sampel ikan layang biru yang ditangkap di Perairan Makalehi dan kemudian didaratkan di Teluk Manado. Pengamatan meristik (berkaitan dengan jumlah) meliputi jumlah jari-jari keras dan jari-jari lemah pada sirip punggung, sirip dada, sirip perut, sirip anal (dubur) dan sirip ekor. Terdapat 9 duri sirip pada dorsal pertama (D1), 2 duri dan 30-37 sirip lemah pada dorsal kedua (D2); 3 duri dan dan 24-31 sirip lemah pada anal (A), dan 13-27 linea lateralis (LL). Pengamatan morfometrik (berkaitan dengan ukuran antara lain panjang total, panjang standar, panjang garpu,panjang kepala, panjang batang ekor, lebar mata, lebar badan, panjang sirip dada, panjang sirip anal (dubur). Panjang total berkisar 180-303 mm dengan rerata 223 mm dan standar deviasi 25 mm.Kata kunci: Sirip; Linea lateralis; perairan Makalehi.Â

    Community Structure of Hard Coral (Scleractinia) in the Walenekoko Reef Flat, Pasir Panjang, Bitung City

    Get PDF
    Coral reefs are one of the potential good water resources in Indonesian marine waters. Ecologically, coral reefs can only develop in tropical climates. Hard coral is one of the important components as a constituent of coral reef ecosystems and plays an important role for marine biota. The research was conducted at the reef flat of Walenekoko Village, Pasir Panjang Village, South Lembeh District, Bitung City. The research covers the species, family and life form composition, and ecological indices (diversity, species equitability, and dominance indices). The research was carried out with an Underwater Photo Transect (UPT) method. The results obtained 18 types of hard corals belonging to 5 families. Montipora samarensis was the most abundant coral in the area with 43% of the community composition. The Faviidae family and Acroporidae (33%) had the largest percentage in all transects. The form of coral growth consisted of Acropora Submassive (ACS) 53%, Coral Massive (CM) 30%, and for Acropora Branching (ACB) 16%. The highest diversity value is at point 3 of 1.64, and point 1 of 1.60, while the lowest is at point 2 of 0.56. The evenness index obtained at point 1 is 0.70, and at point 2 is 0.30. The dominance values obtained ranged from 0.25 to 0.52.Keywords: Community Structure; Hard Coral; Reef FlatAbstrakTerumbu karang merupakan salah satu potensi sumberdaya perairan yang baik di perairan laut Indonesia. Secara ekologis terumbu karang hanya dapat berkembang di wilayah beriklim tropis. Karang keras merupakan salah satu komponen penting sebagai penyusun ekosistem terumbu karang dan berperan penting bagi biota laut. Penelitian ini dilakukan di rataan terumbu Desa Walenekoko, Desa Pasir Panjang, Kecamatan Lembeh Selatan, Kota Bitung. Penelitian meliputi komposisi spesies, famili, dan bentuk kehidupan, serta indeks ekologi (keanekaragaman, keseragaman spesies, dan indeks dominasi). Penelitian dilakukan dengan metode Underwater Photo Transect (UPT). Hasil penelitian diperoleh 18 jenis karang keras yang termasuk dalam 5 famili. Montipora samarensis adalah spesies yang paling banyak ditemukan di daerah tersebut dengan persentase 43%. Famili Faviidae dan Acroporidae (33%) memiliki persentase terbesar di semua transek. Bentuk pertumbuhan karang terdiri dari: Acropora Submassive (ACS) 53%, Coral Massive (CM) 30%, dan untuk Acropora Branching (ACB) 16%. Nilai keanekaragaman tertinggi yaitu pada titik 3 sebesar 1,64, dan titik 1 sebesar 1.60, sedangkan yang termasuk rendah yaitu pada titik 2 sebesar 0,56. Indeks kemerataan diperoleh pada titik 1 sebesar 0,70, dan pada titik 2 sebesar 0.30. Nilai dominasi diperoleh berkisar antara 0.25 hingga 0.52.Kata kunci: Struktur Komunitas; Karang Keras; Rataan Terumbu

    Antibacterial Activity of Stylissa carteri Sponge Extract from Manado Bay, North Sulawesi

    Get PDF
    Marine sponges contain secondary metabolites with unique chemical structures and very interesting pharmacological activities, such as antibacterial, anticancer, antiviral and others to be developed as candidate drugs. The presence of bioactive metabolites in sessile nature such as sponges also reflects the ecological adaptation formed during a long evolutionary process as a defense mechanism of this organism with its environment in the form of resistance to predation, competition and infection factors against pathogenic bacteria, so this study aims to examine the antibacterial activity of extracts and fractions of Stylissa carteri sponge fractions as well as testing the Minimum Inhibitory Concentration (MIC) and Minimum Bactericidal Concentration (MBC) values. The method used in testing the antibacterial activity is the agar diffusion method (Disc Diffusion Kirby Bauer Method). The presence of antibacterial activity was indicated by the formation of a clear zone around the paper disc after incubation for 24 hours. The results showed that antibacterial activity of S. carteri sponge extract tested on Bacillus megaterium DSM32T bacteria revealed to be the strongest inhibition zone of 21 mm. Further testing on the extract fraction of S. carteri showed that the semipolar fractions showed strong activity against the B. megaterium while the polar fraction was categorized as moderate action, the non-polar fraction showed no activity against the bacteria. The determination of the MIC and MBC values was obtained at 500 ppm and 1000 ppm respectively

    The Effect of Bait Type on Total Catch of Skipjack Tuna (Katsuwonus Pelamis) by Using Hand Line

    Get PDF
    A hand line is one type of fishing gear that is often used by traditional fishermen to catch fish. Hand lines are categorized as active fishing gear and are also environmentally friendly. The operation of the equipment is relatively simple, it does not use a lot of auxiliary equipment such as fishing trawls and ring trawls.  This research was conducted in March and April 2022 in the Alo village, District Rainis, Talaud Islands Regency. The purpose of this study was to determine the best type of bait for catching skipjack tuna (Katsuwonus pelamis) with hand lines and to identify other types of fish caught. The method used in this research is a descriptive and participatory method, namely collecting data on catches in the fishing ground. Data analysis used a Randomized Block Design. The three types of bait used are artificial bait (silk), live fish bait, and chicken feathers. During this research, totally caught as many as 57, that is skipjack tuna (Katsuwonus pelamis) 31 (54.39%), mackerel tuna (Euthynnus affinis) 17  (29.82%), and mahi-mahi (Coryphaena hippurus) 9 (15.79). Based on the data analysis, the treatment of the type of hand line bait did not affect to catch.Keywords: skipjack; hand line; bait; catch. Abstrak        Pancing ulur merupakan salah satu jenis alat penangkapan ikan yang sering digunakan oleh nelayan tradisional untuk menangkap ikan di laut dan termasuk alat penangkapan ikan yang aktif dan juga ramah lingkungan. Penelitian ini dilakukan pada Maret dan April 2022 di desa  Alo, Kecamatan Rainis, Kabupaten Kepulauan Talaud. Tujuan penelitian adalah mengetahui jenis umpan yang terbaik untuk menangkap ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) dengan pancing ulur dan mengetahui jenis ikan lainnya yang tertangkap.  Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dan partisipatif, yaitu pengambilan data hasil tangkapan di daerah penangkapan (fishing ground). Analisis data menggunakan Rancangan Acak Kelompok.Tiga jenis umpan yang digunakan adalah umpan tiruan (kain sutera), umpan ikan hidup dan bulu ayam. Selama penelitian, total ikan yang tertangkap sebanyak 57 ekor ikan yang terdiri dari cakalang (Katsuwonus pelamis) sebanyak 31 ekor (54,39%), tongkol (Euthynnus affinis) sebanyak 17 ekor (29,82%) dan lemadang (Coryphaena hippurus) sebanyak 9 ekor (15,79%). Berdasarkan analisis data, perlakuan jenis umpan pancing ulur tidak berpengaruh terhadap hasil tangkapan.Kata kunci : cakalang, pancing ulur, umpan dan hasil tangkapan

    Variations of Marine Debris In Manado Bay and its environs

    Get PDF
    Nowadays, Indonesia is facing an increasing crisis of debris pollution. Through rivers, city drainage, marine activities, and tourists, garbage can enter the sea. The existence of this debris is a new threat that has a terrible impact on the marine ecosystem and the socio-economic sustainability of the community. Based on this, the Government of Indonesia has issued a regulation in Presidential Regulation no. 83 of 2018 concerning Marine Debris Management. One of the achievement points is the compilation of baseline data and publication of marine debris in all coastal areas of Indonesia every year. This study aimed to identify the types of marine debris found in macro and meso sizes and to analyze the composition and density of marine debris on the coast of Manado Bay and its environs during ebb and flood tide. Sampling was carried out on five beaches in Manado Bay and its environs using the Marine Debris Monitoring Guidelines by the Ministry of Environment and Forestry (KLHK) 2020. Based on the data collection, it was found that nine types of marine waste materials and types of plastic waste were the most dominant types of waste found (about 70-86%). Of the five research sites, Sindulang Beach is the location with the highest solid waste density of 8.28 items/m2 (during flood tide) and 15.31 items/m2 (during ebb tide). Overall, the amount of marine debris found during ebb tide conditions was more than during flood tide conditions, and the amount of macro-sized trash was more than meso-size. White and transparent colors were the dominant color.Keywords: Composition; Density; Macro and Meso-Marine debris; Manado Bay; Color of debrisAbstrakSaat ini Indonesia sedang menghadapi krisis pencemaran sampah yang kian meningkat Sampah dapat masuk ke laut melalui aliran sungai, drainase kota, aktivitas laut maupun dari para wisatawan Keberadaan sampah tersebut menjadi ancaman baru yang sangat berdampak buruk terhadap ekosistem laut dan keberlangsungan sosial ekonomi masyarakat. Berdasarkan hal tersebut, Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan suatu regulasi dalam Peraturan Presiden No. 83 Tahun 2018 tentang Penanganan Sampah Laut. Salah satu poin capaiannya yaitu tersusunnya baseline data dan publikasi sampah laut di seluruh wilayah pesisir Indonesia setiap tahunnya. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengidentifikasi jenis sampah laut ukuran makro dan ukuran meso yang ditemukan dan menganalisis komposisi serta kepadatan sampah laut di pesisir Teluk Manado dan sekitarnya saat kondisi pasang dan surut. Pengambilang sampel dilakukan pada 5 pantai di Teluk Manado dan Sekitarnya dengan menggunakan Pedoman Pemantauan Sampah Laut oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Tahun 2020. Berdasarkan hasil pendataan, didapatkan 9 jenis bahan sampah laut dan jenis sampah plastik merupakan jenis sampah yang paling dominan ditemukan (sekitar 70-86%). Dari kelima lokasi penelitian, Pantai Sindulang merupakan lokasi dengan kepadatan sampah tertinggi yaitu sebesar 8,28 item/m2 (saat kondisi pasang) dan 15,31 item/m2 (saat kondisi surut). Secara keseluruhan, jumlah sampah laut yang ditemukan saat kondisi surut lebih banyak dibanding saat kondisi pasang dan jumlah sampah ukuran makro lebih banyak dibandingkan sampah ukuran meso. Warna putih dan bening merupakan warna sampah yang dominan.Kata kunci: Kepadatan; Komposisi; Sampah laut makro dan meso; Teluk Manado; Warna sampah

    Mapping of Fishing Areas and Fish Catches by Purse Sine KM. Rebert

    Get PDF
    The division of Indonesian waters into several fisheries management areas illustrates very different habitat characteristics and has a diversity of biological resources that may vary. WPPNRI 716 is a management area in Indonesian waters which includes the waters of the Sulawesi Sea and the northern part of Halmahera Island. This research was carried out by the purse seiner KM. Rebert carried out fishing operations in the waters of the Sulawesi Sea at WPPNRI 716. Data collection was carried out for 4 months, namely from October 2021 - to January 2022, with the aim of knowing the distribution area of catching and KM. Rebert catches. KM. Rebet catchment area based on the GPS point is located at WPPNRI 716, which is 81.5 miles from the fishing base (Tumumpa Beach Fishery Port). The number of catches in October (trip 1) was 6350 kg, in October (trip 2) was 4807 kg, in November (trip 3) was 10245 kg, in December (tip 4), was 4234 kg, in December (trip 5) as much as 4280 Kg, in January (trip 6) as many as 2645, and in January (trip 7) 4350 Kg. Judging from the type of catch during the research, there was 13265 kg of mackerel scad (Decapterus sp), then 12953 kg of skipjack tuna (Katsuwonus pelamis L), 4884 kg of yellowfin tuna (Thunnus albacares), and 4100 kg of mackerel tuna (Euthinnus affinis). Selar fish (Selaroides sp) as much as 904 Kg, jackfish (Caranx sp) as much as 500 Kg, rainbow runner fish (Elagatis bipinnulatus) as much as 350 Kg, and the lowest is bullet tuna (Auxis rochei) fish as much as 55 Kg.Keywords: Mapping; KM. Rebert; Purse SeinerAbstrakPembagian wilayah perairan Indonesia ke dalam beberapa kawasan pengelolaan perikanan menggambarkan karakteristik habitat yang sangat berbeda dan memiliki keanekaragaman sumberdaya hayatinya yang dapat saja berbeda. WPPNRI 716 merupakan wilayah pengelolaan di perairan Indonesia yang meliputi perairan Laut Sulawesi dan sebelah Utara Pulau Halmahera.Penelitian ini dilaksanakan kapal pukat cincin (purse seiner) KM. Rebert yang melakukan operasi penangkapan ikan di perairan Laut Sulawesi pada WPPNRI 716.  Pengambilan data dilakukan selama 4 bulan yaitu pada bulan Oktober 2021 - Januari 2022, dengan tujuan untuk mengetahui daerah sebaran penangkapan dan hasil tangkapan KM. Rebert. Daerah penangkapan KM. Rebet berdasarkan titik GPS berada pada WPPNRI 716 yang berjarak dari fishing base (Pelabuhan Perikanan Pantai Tumumpa) ± 81,5 mil. Jumlah hasil tangkapan pada bulan bulan Oktober (trip 1) sebanyak 6350 Kg, bulan Oktober (trip 2) sebanyak 4807 Kg, bulan November (trip 3) sebanyak 10245 Kg, bulan Desember (tip 4), sebanyak 4234 Kg, bulan Desember (trip 5) sebanyak 4280 Kg, bulan Januari (trip 6) sebanyak 2645, dan bulan Januari (trip 7) 4350 Kg. Dilihat dari jenis tangkapan selama penelitan adalah ikan layang (Decapterus sp) sebanyak 13265 Kg, kemudian ikan cakalang (Katsuonus pelamis L) sebanyak 12953 Kg, ikan tuna sirip kuning (Thunnus albacares) sebanyak 4884 Kg, ikan tongkol (Auxis rochei) sebanyak 4100 Kg ikan selar (Selaroides sp) sebanyak 904 Kg, ikan kuwe (Caranx sp) sebanyak 500 Kg, ikan sunglir (Elagatis bipinnulatus) sebanyak 350 Kg, dan yang paling rendah adalah ikan tongkol (Auxis rochei) sebanyak 55 Kg.Kata Kunci:Pemetaan; KM. Rebert; Pukat Cincin.Â

    Comparison of Catch and Fish Interest in Surface LED Lights and Underwater LED Lights at FADs around Rafts in Manado Bay

    Get PDF
    Manado Bay waters is one of the water areas in North Sulawesi that has potential fishery resources, with fishing efforts using rafts mounted on surface electric lights. For high FAD usefulness, the light used must be able to collect fish that are at great distances both horizontally and vertically. The purpose of this study was to obtain the composition of the fish caught and how much the fish was determined to be when the raft was without lights in the water and when the raft was equipped with lights in the water. The method used was an experiment using 2 (two) types of lights, namely electric surface lights and LED lights in water, and 3 (three) types of fishing gear, namely fishing rods, ring seines and nets). The types of fish caught were dominated by selar fish (Selaroides sp), moonfish (Lampris guttaus), Trevally fish (Caranx sp) and squid (Loligo sp). The fish's interest in the light was observed since the first 15 minutes the lights were turned on, and were around 4 to 6 meters and the longer they were getting closer to the lights for about 1 hour the fish would cluster around the raft for about 2-4 meters. Keywords: FAD, Underwater lamp, Manado Bay. Abstrak Perairan Teluk Manado merupakan salah satu kawasan perairan di Sulawesi Utara yang memiliki sumberdaya perikanan yang potensial, dengan usaha penangkapan ikan dengan alat bantu rakit yang dipasang lampu listrik permukaan. Untuk daya gunanya rumpon yang tinggi, maka cahaya yang digunakan harus mampu mengumpulkan ikan yang berada pada jarak yang jauh baik horisontal maupun vertikal. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan komposisi hasil tangkapan ikan dan berapa dalam ketetapan ikan saat rakit tanpa lampu dalam air dan saat rakit dilengkapi lampu dalam air Metode yang digunakan adalah experimen dengan menggunakan 2 (dua) tipe lampu yakni lampu listrik permukaan dan lampu LED dalam air, dan 3 (tiga) jenis alat tangkap yakni pancing, pukat cincin dan jaring). Jenis ikan yang tertangkap didominasi berturut-turut oleh ikan selar (Selaroides sp), ikan moonfish (Lampris guttaus), ikan bobara (Caranx sp) dan cumi-cumi (Loligo sp). Ketertarikan ikan pada cahaya lampu teramati sejak 15 menit pertama dinyalakan lampu, dan berada di sekitar 4 sampai 6 meter dan semakin lama akan semakin mendekat ke lampu kira kira selama 1 jam ikan akan bergerombol di sekitar rakit sekitar 2 – 4 meter. Kata Kunci:  Rakit, Lampu Dalam AIr, Teluk Manado

    Length-Weight Relationship and Condition Factor of Siganus Lineatus around Kareko waters, Lembeh Strait

    Get PDF
    AbstractThis study aims to determine the relationship between length and weight and condition factors of Siganus lineatus around Kareko waters, Lembeh Strait. Sampling was carried out in March 2021 from fishermen's catch using net fishing gear. There were 31 individuals collected with a length range of 169.95-345.69 mm and a weight range of 94-939 grams. The relationship between length and weight of male (b= 0.3018), female (b= 0.3631) and total (b= 0.3287) showed a negative allometric growth pattern. Mean condition factors of the male, female and total were 0.106, 0.075, and 0.091, indicating that rabbitfish are in poor condition.Keywords: rabbitfish; allometric; fishermen.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan panjang berat dan faktor kondisi Siganus lineatus di perairan sekitar Kelurahan Kareko, Selat Lembeh. Pengambilan sampel sepanjang bulan Maret 2021 dari  hasil tangkapan nelayan yang menggunakan alat tangkap jaring. Jumlah ikan yang terkumpul sebanyak 31 individu dengan kisaran panjang 169,95-345,69 mm dan berat 94-939 gram. Hubungan panjang berat ikan beronang jantan (b= 0,3018), betina (b= 0,3631) dan total (b= 0,3287) menunjukkan pola pertumbuhan alometrik negatif. Faktor kondisi rata-rata ikan beronang jantan, betina dan total yaitu 0,106, 0,075 dan 0,091, hal ini menunjukkan ikan beronang dalam kondisi kurang baik karena memiliki nilai kurang dari satu.Kata kunci : ikan beronang; alometrik; nelayan

    459

    full texts

    481

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmiah PLATAX
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇