Research Report - Humanities and Social Science
Not a member yet
148 research outputs found
Sort by
PENDIRIAN INKUBATOR BISNIS – TEKNOLOGI UNPAR
UNPAR, sebagai salah satu institusi pendidikan tinggi, aktif ambil bagian dalam pemberdayaan kewirausahaan, melalui pendirian Center of Excellence (COE) Small and Medium Enterprises (SME) yang bertujuan menfasilitasi berbagai upaya pengembangan dan peningkatan kapasitas pelaku UMKM. Selain pendirian COE SME, pada dasarnya kontribusi UNPAR tercermin dari penyelenggaraan mata kuliah Kewirausahaan, Teknopreneurship dan Simulasi Bisnis di beberapa Jurusan yaitu Administrasi Bisnis, Manajemen, Teknik Kimia dan Teknik Industri. Melalui kuliah-kuliah tersebut terlahir pelaku usaha muda di berbagai bidang. Selama ini, orientasi mata kuliah tersebut hanya semata-mata berorientasi pada pengetahuan, sehingga kesinambungan bisnis yang sudah digagas dari para peserta tidak disiapkan secara terstruktur. Oleh karenanya dibutuhkan sebuah wadah untuk membantu mahasiswa yang betul-betul ingin menjalankan bisnisnya secara terstruktur dan profesional. Wadah ini disebut dengan Inkubator Bisnis Teknologi (IBT). Berbagai kegiatan dalam rangka pendirian IBT di tingkat universitas sudah dilakukan, dan diperoleh hasil berupa pendirian IBT di awal tahun 2016. Sebagai salah satu tindak lanjut dari program pengabdian ini adalah, pengajuan Proposal untuk Hibah Pengabdian kepada Masyarakat DIkti tahun 2016 guna mendukung operasional dari IBT yang dimaksud. Pengajuan co-worker space sebagai salah satu syarat pelaksanaan IBT akan diajukan kepada pihak universitas di awal tahun 2016. Perlunya sinergi antar program studi, terutama yang menyelenggarakan mata kuliah kewirausahaan mulai dilakukan lewat diskusi bersama dengan prodi yang dimaksud
TINJAUAN HISTORIS DAN FILOSOFIS TERHADAP PRINSIP-PRINSIP KOPERASI DAN CREDIT UNION
Kesadaran manusia akan kemampuan dan kekuatan akal budinya pada abad XVIII mendorong perkembangan ilmu pengetahuan. Perkembangan ilmu pengetahuan akhirnya menciptakan berbagai macam teknologi yang dapat mempermudah proses kehidupan manusia. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ini membawa dampak negatif juga bagi kehidupan sosial dan ekonomi manusia karena pemakaian teknologi di dunia industri memacu munculnya revolusi industri. Revolusi industri sangat mengunggulkan mesin-mesin industri sebagai pengganti tenaga-tenaga manual manusia. Revolusi industri membangkitkan sistem ekonomi kapitalisme liberal. Keuntungan ditempatkan di atas kemanusiaan. Sebagai kritik atas akibat yang terjadi, sistem ekonomi sosialisme lahir dengan mendasarkan diri pada pemikiran Marx.Di tengah persoalan sosial dan ekonomi akibat revolusi industri, gerakan koperasi lahir untuk menanggapi kebutuhan jaman. Gerakan koperasi tidak mendasarkan diri pada kapitalisme liberal sepenuhnya dan sosialisme sepenuhnya. Gerakan koperasi merupakan paduan kekuatan dari kedua sistem ekonomi ini. Gerakan koperasi ini diikuti oleh gerakan Credit Union. Gerakan Credit Union merupakan gerakan yang menterjemahkan prinsip-prinsip koperasi sebagai dasar kerjasama bidang keuangan. Tujuan gerakan ini adalah untuk melayani simpanan dan pinjaman para anggota yang tidak mempunyai akses ke bank. Sejarah membuktikan bahwa prinsip-prinsip koperasi yang menjadi dasar Credit Union dapat membantu para anggota untuk memperbaiki taraf kehidupan di tengah kesulitan sosial dan ekonomi yang melanda.Banyak sekali koperasi dan Credit Union telah berdiri di Indonesia tetapi tidak semuanya didasarkan pada prinsip-prinsip gerakan koperasi atau Credit Union. Dalam penelitian ini, peneliti berusaha untuk menelusuri secara historis dan filosofis prinsip-prinsip gerakan koperasi dan prinsip-prinsip gerakan Credit Union yang telah berkembang dalam sejarah. Dengan penelitian ini, peneliti berharap bahwa semakin banyak orang dapat mengenal prinsip-prinsip koperasi dan prinsip-prinsip Credit Union dan dapat menggunakannya untuk meningkatkan pendidikan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia
IDENTIFIKASI KEY SUCCESS FACTOR PADA INDUSTRI CLOTHING DI KOTA BANDUNG
Perusahaan Clothing lokal merupakan salah satu ciri khas dari kota Bandung yang merupakan kota kreatif. Saat ini, clothing company di kota Bandung menghadapi persaingan yang sangat berat, bukan hanya bersaing dengan perusahaan-perusahaan lokal, tetapi juga bersaing dengan brand luar negeri yang pangsa pasarnya sama, yaitu pangsa pasar kaum muda. Industri clothing/fesyen di kota Bandung sangat erat kaitannya dengan factory outlet, distribution store, serta clothing company (yang lebih mengacu kepada perusahaan yang menjual produk yang diproduksi secara terbatas dan biasanya hanya menjual ulang produk, tanpa memiliki brand sendiri). Sedangkan Local Clothing Company adalah perusahaan yang memproduksi pakaian jadi di bawah merek sendiri. Pakaian jadi ini sebagian besar adalah T-shirt yang kemudian berkembang ke berbagai perlengkapan yang menunjang gaya hidup seperti shirt, longpant, jacket, sweatshirt, bag, slingbag, polo shirt, kanvas bag, dan assesoris seperti gelang dan pin.Perusahaan clothing yang diteliti adalah perusahaan yang berbasis komunitas yang kontemporer yang menjadi karakter khas kota Bandung.Perusahaan Clothing lokal tersebut target pasarnya adalah golongan menengah ke atas dan berbasis komunitas adalah perusahaan yang relative bertahan lama, yang sampai dengan tahun 2015 ini masih banyak bertahan. Lokasi distro ataupun clothing shopnya terutama berada di Jalan Riau, Jalan Trunojoyo, dan Jalan Dago. Clothing company menjual produknya tidak hanya melalui distro tetapi juga menjual secara on line, sehingga konsumennya bukan hanya orang Bandung atau orang yang berwisata ke Bandung tetapi tersebar di berbagai kota.Struktur industrinya merupakan fragmented industry, karena perusahaan-perusahaan clothing lokal Bandung terdiri dari banyak usaha mikro, kecil dan menengah, tidak ada perusahaan clothing lokal yang mendominasi pasar, masing-masing perusahaan melayani segmen pasar tertentu yang relative kecil,dan industri ini mempunyai barrier to entry dan barrier to exit yang rendahStrategi bisnis perusahaan clothing lokal merupakan differentiation strategy dan focus competitive advantages karenaPerusahaan dikelola secara desentralisasi yang ketat (tightly managed decentralization). Perusahaan berusaha keras meningkatkan nilai tambah produk (increase value added) karena konsumen sulit membedakan produk suatu perusahaan dengan perusahaan lainnya.Untuk mencapai itu maka pengusaha selalu terlibat dan dekat dengan komunitasnya.Pengusaha mempunyai standar material, standar pengerjaan produk, kontrol kualitas produk.Perusahaan fokus pada segmen pasar tertentu, kesenangan, gaya hidup dan minat konsumennya, hal ini membantu perusahaan untuk menentukan tipe produk, harga dan tipe produk, tipe pesanan dan daerah geografi Untuk memperoleh margin yang tinggi maka perusahaan berusaha agar bekerja dengan efisien dan minimalisasi biayaDari penelitian didapat bahwa Key success factors agar perusahaan sukses adalah Brand image, Komunitas dan loyalitas komunitas, Design dan trend, Time to market serta HargaKata kunci: fragmented industry, business strategy, clothing local company, key success factors
PENINGKATAN KEMAMPUAN PENGELOLAAN USAHA PELAKU USAHA MIKRO Di SEKITAR UNPAR dengan PEMBERIAN KONSELING, PELATIHAN dan MEMBANGUN JEJARING
Pengabdian yang akan dilakukan pada tahun 2015 ini adalah pengabdian berkelanjutan dari program studi Manajemen terhadap warga disekitar UNPAR. Pengabdian kali ini menambahkan satu pengetahuan baru dalam pengelolaan usaha yaitu konseling.Pelatihan yang telah dilakukan pada program pengabdian selama ini adalah pelatihan pembukuan, pelatihan perhitungan harga pokok, diskusi tentang menabung dan investasi, pelatihan pemasaran, pemberian inspirasi tentang menjadi pelaku bisnis yang work smart, serta beberapa pelatihan yang berhubungan dengan peningkatan keahlian.Program pengabdian ini akan terus berbelanjutan dengan terus melihat perkembangan dari pihak warga yang dibina serta dari dari pihak program studi Manajemen yang juga terus bertambah pengetahuannya tentang UKM.Diharapkan kedepannya kegiatan ini terus berkesinambungan dan terus memberikan arti bagi kedua belah pihak, yaitu UNPAR dan masyarakat di RW 11. Sehubungan dengan terlibatnya banyak dosen program studi manajemen dalam pelatihan sebagai coaching UKM maka dipengabdian kali ini dimasukkan bahan baru yaitu coaching clinic bagi warga sekitar UNPAR. Selain itu diharapkan akan banyak pihak-pihak lain yang mau terlibat dalam kegiatan pengabdian ini, terutama pihak-pihak dari eksternal UNPAR, sehingga kegiatan ini dapat memunculkan banyak jejaring bagi semua pihak
PENDAMPINGAN ANAK JALANAN DALAM BIDANG PENDIDIKAN
Tujuan dari pengabdian kepada masyarakat ini ada empat. Pertama, mengurangi jam bekerja anak di jalan (anak jalanan). Kedua, meningkatkan praktek perlindungan hak anak seperti hak identitas dan hak pendidikan. Ketiga membangun rasa kepedulian akan masalah sosial dan meningkatkan minat penelitian kelompok akademisi (dosen dan mahasiswa) yang bermanfaat bagi penyelesaian permasalahan anak jalanan. Keempat, membangun network Program Studi Ilmu Administrasi Publik dengan berbagai pemangku kepentingan yang konsern pada perlindungan anak. Lokasi pengabdian ini terutama dipusatkan di Rumah Belajar Anak jalanan Yayasan Bahtera di Sukajadi, tetapi karena anak jalanan itu bersifat mobile maka kegiatan juga dilakukan di lapangan dimana mereka bekerja dan mengalami persoalan hukum (Lapas). Metode yang digunakan meliputi tujuh hal. Pertama, menciptakan berbagai kegiatan belajar dan bermain sehingga anak merasa senang dan mengurangi jam bekerja anak di jalan. Kedua, outreaching, yaitu menjangkau lebih luas anak anak yang masih di jalan. Ketiga, pendampingan anak (jalanan) di Lapas untuk membangun kesadaran dan mencegah mereka kembali ke setelah keluar lapas. Keempat, melibatkan anak jalanan dalam kegiatan inklusif, seperti berbagai perlombaan anak. Kelima, melibatkan anak jalanan dalam proses perencanaan pembangunan (Musrenbang) dan aktif sebagai stake holder kebijakan yang menyangkut anak. Keenam, membangun kemitraan dengan berbagai pihak yang peduli hak anak, memadukan sumberdaya untuk mencapai tujuan dalam memberdayakan anak jalanan. Melibatkan mahasiswa dalam pendampingan anak jalanan untuk hadir sebagai figur dan menginspirasi anak jalanan untuk bercita cita sekolah tinggi. Tujuan lain adalah, membangun karakter mahasiswa yang peduli dan peka terhadap permasalahan sosial
IMPLEMENTASI PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG NOMOR 4 TAHUN 2011 TENTANG PENATAAN DAN PEMBINAAN PEDAGANG KAKI LIMA
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif untuk mengukur keberhasilan implementasi dari PERDA No. 4 Tahun 2011 dalam perspektif kepatuhan (compliance). Dengan menggunakan teori kepatuhan berdasarkan pada Weaver dan di kombinasikan dengan teori implementasi kebijakan publik yang lainnya(Van Meter dan Van Horn, Bridgman & Davis, Howlett and Ramesh, Lindblom, Patton & Sawicki, Linder and Peters), maka tingkat kepatuhan kelompok target (target group) dari kebijakan penataan dan pembinaan Pedagang Kaki Lima diukur dengan menggunakan 6 indikator. Enam indikator tersebut adalah yaitu (1) Pemberlakuan Insentif dan Sanksi yang lemah, (2) Permasalahan Pengawasan, (3) Keterbatasan Sumberdaya, (4) Kurangnya Kemandirian Kelompok Sasaran dalam Pengambilan Keputusan (5) Keterbatasan Informasi serta (6) Perilaku dan Nilai. Hasil yang diharapkan dari penelitian ini berupa rekomendasi kebijakan yaitu evaluasi dan evolusi (reshape dan redesign) kebijakan penataan dan pembinaanPKL bagi Pemerintah Daerah Kota Bandung
PENGARUH MODERNISASI DAN GLOBALISASI TERHADAP PEMAKNAAN NASIONALISME DI KALANGAN GENERASI MUDA KATOLIK
Modernisasi dan globalisasi merupakan dua fenomena sekaligus realitas sosial-kultural yang tak terelakkan, yang mesti dihadapi oleh setiap individu, dari semua generasi manusia yang ada di muka bumi ini, tak terkecuali masyarakat Indonesia. Kemajuan di bidang teknologi informasi dan komunikasi memberikan dampak luar biasa terhadap perubahan yang terjadi dalam masyarakat di dalam semua aspek kehidupan manusia, tak terkecuali dalam aspek nilai secara politik-historis, yaitu berupa semangat berkebangsaan dan berkenegaraan atau yang secara gampang disebut nasonalisme. Patut diduga bahwa telah terjadi pergeseran pemaknaan maupun praksis berbangsa dan bernegara yang lebih berorientasi pada berbagai aspek yang berciri global. Modernisasi dan globalisasi di satu sisi dipandang sebagai anugerah tak terelakkan bagi kemajuan dan kemuliaan manusia, tetapi di sisi lain dipandang sebagai ancaman bagi pertumbuhan rasa dan semangat berbangsa dan bernegara bagi masyarakat di sebuah negara. Tidak sedikit individu, termasuk di Indonesia, yang mengidentikkan dirinya dengan nilai-nilai maupun kultur global. Hal yang paling mengkhawatirkan bahwa ancaman tersebut paling terasa menerpa atau menyergap kesadaran generasi muda Indonesia. Merekalah generasi yang paling rentan terpapar pengaruh modernisasi dan globalisasi, baik langsung maupun tidak langsung. Sementara di pundak merekalah terletak masa depan bangsa dan negara Indonesia. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengemukakan atau membuktikan asumsi bahwa modernisasi dan globalisasi telah memainkan peran yang signifikan dalam mempengaruhi merosotnya nasionalisme, terutama di kalangan generasi muda. Hasil penelitian ini membuktikan hipotesis bahwa modernisasi dan globalisasi memainkan peranan dalam mempengaruhi pergeseran pemaknaan dan praksis nasionalisme di kalangan generasi muda Katolik, berdasarkan studi kasus atas generasi muda Katolik Paroki St. Martinus, tidak cukup kuat signifikansinya. Artinya, ada pengaruh terhadap pemaknaan nasionalisme, tetapi pengaruh tersebut sangat kecil dan belum terwujud dalam bentuk sistem keyakinan atau praksis hidup masing-masing individu. Responden mengakui bahwa mereka masih cukup setia dengan tradisi lokal, meskipun sebagian dari mereka menyatakan lebih memiliki orientasi pada hal-hal yang bersifat modern. Sebagian besar responden menyatakan bahwa modernisasi dan globalisasi tidak sampai mempengaruhi cara pandang atau cara berpikir mereka terhadap nasionalisme serta sikap maupun prilaku hidup mereka sebagai warga negara Indonesia. Sebagan besar juga menyatakan bahwa peran mereka sebagai generasi muda dalam memaknai nasionalisme harus selalu ditumbuhkan dan ditingkatkan demi mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia
PENDAMPINGAN PENCATATAN AKUNTANSI BAGI YAYASAN SAUNG ORGANIK LASCING
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh tim dosen program Studi S1 Akuntansi – FE Unpar pada tahun 2015 merupakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang menitikberatkan pada pencatatan akuntansi bagi yayasan saung organik lascing. Mitra kami berupa produsen pupuk lascing berlokasi di Cigugur yang tergabung dalam yayasan saung organik lascing. Tim dosen dari program Studi S1 Akuntansi bermaksud untuk memberikan pendampingan pencatatan akuntansi bagi karyawan administrasi yayasan saung organik lascing. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan yayasan saung organik lascing dapat melakukan pencatatan akuntansi dengan lebih akurat sehingga dapat menyajikan informasi akuntansi yang handal dan berguna untuk pengambilan keputusan.Kegiatan pendampingan pencatatan akuntansi ini dimulai dengan penyusunan alur informasi akuntansi, pembenahan dokumen, dilanjutkan dengan penyusunan standard operating procedure, simulasi transaksi serta pendampingan pencatatan akuntansi
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU MENABUNG MASYARAKAT BERPENGHASILAN RENDAH
Definisi tabungan sebagai sisa pendapatan yang tidak dibelanjakan memastikan teori ekonomi yang menyatakan bahwa tabungan sangat dipengaruhi oleh pendapatan. Meskipun demikian, bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), ditemukan bahwa pendapatan bukanlah satu-satunya faktor yang mempengaruhi perilaku menabung. MBR juga diketahui menabung bahkan tidak signifikan dipengaruhi oleh pendapatannya. Berawal dari temuan tersebut, penelitian kali ini mencoba mengkaji apa saja yang menjadi motivasi MBR untuk menabung, dan bagaimana pola menabung mereka.Kata Kunci: Perilaku Menabung, Kelompok Masyarakat Berpenghasilan Rendah
Pengembangan UMKM Di Desa Kepuhsari Wonogiri Melalui Kegiatan Assessment dan Bina Desa
UMKM memiliki peran strategis dalam pembangunan ekonomi nasional.UMKM berperan dalam pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja serta dalam pendistribusian hasil-hasil pembangunan. UMKM dipandang memiliki prospek masa depan yang baik. Terbukti ketika Indonesia mengalami krisis ekonomi beberapa waktu lalu, banyak usaha berskala besar mengalami stagnasi bahkan berhenti aktivitasnya, sementara sektor UMKMterbukti lebih tangguh. Dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015 sektor UMKM di Indonesia pelu mendapatkan pembinaan lebih lanjut. Salah satunya adalah UMKM industri wayang kulit dan pengembangan destinasi wisata yang berkembang di Desa Kepuhsari, Wonogiri. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberikan pelatihan dan pendampingan kepada UMKM di Desa Kepuhsari, Wonogiri dengan cara menyelenggarakan assessment potensi warga serta pelatihan manajerial kewirausahaan agar mereka memiliki daya saing dan mampu mengelola usahanya dengan lebih baik