Jurnal Ilmu Kehutanan
Not a member yet
    235 research outputs found

    Tingkat Kesamaan Acacia mangium, Acacia auriculiformis, dan Hibridnya Berdasarkan Sifat Anatomi Akar, Batang, dan Daun

    No full text
    Persilangan antara Acacia mangium dan Acacia auriculiformis akan menghasilkan hibrid akasia, baik secara alami maupun buatan. Seperti induknya, jenis hibrid akasia dikembangkan untuk mendukung ketersediaan bahan baku industri pulp dan kertas. Secara morfologi, A. mangium, A. auriculiformis, dan hibridnya (A. mangium xA. auriculiformis) dapat dengan mudah dibedakan pada tingkat semai. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kesamaan antara A. mangium, A. auriculiformis, dan hibridnya berdasarkan perbedaan struktur anatomi mikroskopis pada akar, batang/ranting dan daun (filodia). Sampel akar, batang/ranting, dan daun (filodia) dibuat preparat semi permanen menggunakan teknik free-hand dan hasilnya diamati dengan image raster dan leaf clearing. Parameter yang diamati adalah ukuran jaringan penyusun akar, batang/ranting, dan daun(filodia) serta hubungan kekerabatan antara A. mangium, A. auriculiformis, dan hibridnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa antara A. mangium dan A. auriculiformis mempunyai tingkat kesamaan sebesar 55,26% dan hibrid A. mangium xA. auriculiformis mempunyai tingkat kesamaan dengan induk betina (A. mangium) lebih besar dibandingkan dengan induk jantan (A. auriculiformis), yaitu berturut-turut sebesar 60,53%-65,78% dan 52,63%-63,16%. Hibrid vigor mempunyai kekerabatan lebih dekat dengan hibrid intermediet dibandingkan dengan hibrid inferior, yaitu berturut-turut sebesar 78,95% dan 68,42%. Kemungkinan untuk mendapatkan hibrid unggul dengan persilangan dapat ditingkatkan dengan memilih pohon induk betina yang lebih unggul.Similarity Index among Acacia mangium, Acacia auriculiformis, and its Hybrid Based on the Anatomical Properties of Root, Stem, and LeafAbstractCrossing between Acacia mangium and Acacia auriculiformis will result Acacia hybrid whether naturally or artificially. Acacia hybrid, as its parents, was developed to support pulp and paper industries. Morphological characteristics of leaves among A. mangium, A. auriculiformis, and its hybrid (A. mangium x A. auriculifomris) were easily differentiated on nursery stage. This study was done to observe the anatomy of root, stem, and leaves of A. mangium, A. auriculiformis, and its hybrid for assessing their similarity. The samples of leaves, stems, and roots were made into semi-permanent object using freehand technique then the results were assessed using an image-raster and leaf clearing. The observed parameters were the anatomical structure in the root, stem, and leaves tissues as well as similarity index among A. mangium, A. auriculiformis, and its hybrid. The result showed that the similarity between A, mangium and A. auriculiformis was 55.26% and its hybrid were closer to A. mangium than A. auriculiformis with similarity index of 60.53%-65.78% and 52.63%-63-16%, respectively. Hybrid vigour showed a closer similarity to intermediate hybrid than inferior hybrid with similarity index of 78.95% and 68.42%. It is a great probability to obtain hybrid vigour by selecting good mother-trees due to the similarity index between hybrid and its mother tree

    Uji Fitokimia dan Aktivitas Antibakteri Tumbuhan Pranajiwa (Euchresta horsfieldii (Lesch.) Benn.)

    No full text
    Euchresta horsfieldii merupakan tanaman obat yang dikenal di Nusa Tenggara Barat dan Bali sebagai pranajiwa. Pada penelitian ini telah dilakukan analisis fitokimia dan aktivitas antibakteri dari akar, batang, daun, dan biji pranajiwa. Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan terhadap bakteri Bacilus subtilis Inacc-B334, Staphylococccus aureus Inacc-B4, dan Escherchia coli Inacc-B5. Hasil analisis fitokimia menunjukkan bahwa alkaloid sebagai komponen senyawa yang paling dominan pada pranajiwa dan terdeteksi di setiap bagian tanaman. Bagian akar pranajiwa terdeteksi memiliki komponen senyawa yang paling bervariasi seperti alkaloid, tanin, flavonoid, saponin, dan terpenoid. Analisis GC-MS dari batang, akar, dan biji pranajiwa menunjukkan mome inositol, sophoridane, dan asam lemak seperti asam palmitat dan asam stearat sebagai komponen utamanya. Adapun uji aktivitas antibakteri pranajiwa menunjukkan bagian batang dan akar memiliki aktivitas antibakteri terhadap S. aureus Inacc-B4 dan E. coli Inacc B-5, sedangkan bagian biji memiliki aktivitas antibakteri terhadap B. subtilis Inacc-B-334 dan S. aureus Inacc-B4. Hasil-hasil penelitian tersebut dapat mendukung penelitian terkait potensi E. horsfieldii sebagai sumber alternatif obat antibakteri. Phytochemical Test and Antibacterial Activity of Pranawija (Euchresta horsfieldii (Lesch.) Benn.)AbstractEuchresta horsfieldii is a medicinal plant known in West Nusa Tenggara and Bali as pranajiwa. This study investigated phytochemical analysis and antibacterial activity of roots, stems, leaves, and seeds of E. horsfieldii. The samples were analyzed for their antibacterial activity against Bacilus subtilis Inacc-B334, Staphylococccus aureus Inacc-B4, and Escherchia coli Inacc-B5. The phytochemistry result indicated that alkaloids was the most dominant constituent of E. horsfieldii as it was detected in all parts of the plant. GC-MS analysis of the stems, roots, and seeds showed mome inositol, sophoridane, and fatty acids such as palmitic acid and strearic acid as the main components. The roots had the most varied constituents with detection of alkaloids, tannins, flavonoids, saponins, and terpenoids. Further, antibacterial activity assay showed that the stems and roots had antibacterial activity against S. aureus Inacc-B4 and E. coli Inacc B-5, whereas the seeds had antibacterial activity against B. subtilis Inacc-B-334 and S. aureus InaccB4. The result of the present study supports the investigation on potentiality of E. horsfieldii as alternative source for antibacterial agents

    Respon Komunitas Burung terhadap Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang, Bandung, Jawa Barat

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon komunitas burung terhadap keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Kamojang. Kami membandingkan keanekaragaman dan kekayaan jenis burung pada lokasi yang terdampak (DL) dan tidak terdampak (TL) di Wilayah Kerja Panas Bumi Kamojang, Cagar Alam Kamojang dan Taman Wisata Alam Kamojang di Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat. Lokasi yang terdampak berada di sekitar sumur produksi atau pembangkit listrik tenaga panas bumi (30 sampel) sedangkan lokasi yang tidak terdampak adalah dengan jarak 3.000 m sampai 9.000 m dari fasilitas tersebut (42 sampel). Pengumpulan data dilakukan selama dua musim; musim kemarau dan penghujan (2015-2016). Kami mengumpulkan data komunitas burung dan data habitat dengan metode point count yang ditempatkan secara sistematis di setiap lokasi. Kami menemukan 124 spesies burung yang terdiri dari 35 famili dan 16 spesies di antaranya adalah burung endemik di Pulau Jawa. Dua puluh tiga spesies dilindungi oleh undang-undang di Indonesia, sembilan spesies termasuk dalam daftar lampiran CITES dan lima spesies masuk dalam Daftar Merah Spesies Terancam IUCN tahun 2017. Terdapat perbedaan respon antara komunitas burung di lokasi terdampak dan tidak terdampak yang ditunjukkan dengan perbedaan rata-rata jumlah spesies, jumlah individu masing-masing spesies, indeks keanekaragaman ShannonWiener. Lokasi tidak terdampak memiliki nilai lebih tinggi pada parameter ini dibanding lokasi yang terkena dampak. Demikian juga, jumlah spesies, jumlah individu vegetasi dan indeks keanekaragaman hayati ShannonWiener pada lokasi TL memiliki nilai rata-rata lebih tinggi daripada lokasi DL. Hal ini membuktikan bahwa meskipun panas bumi dianggap sebagai energi ramah lingkungan namun dalam penggunaannya masih berdampak pada keanekaragaman hayati di sekitarnya terutama untuk jenis burung. Response of Bird Community to Kamojang Geothermal Power Plant, Bandung, West JavaAbstractThis study aimed to investigate the response of bird communities on the presence of geothermal power plant of Kamojang. We compared the bird diversity and richness of affected (DL) and not affected (TL) in Kamojang Geothermal Working Area, Kamojang Nature Reserve and Kamojang Nature Park in Bandung regency of West Java Province. The affected sites were surrounding production wells or geothermal power plants (30 samples) whereas not affected sites were with distance of 3,000 m to 9,000 m from those facilities (42 samples). The data collection was carried out during two seasons; dry and rainy season in (2015-2016). In each site, we collected bird community data and habitat data with the point count method which was placed systematically on each sites. We found 124 birds species belongs to 35 families with 16 endemic species in Java Island. Twenty three species are protected by Indonesian law, with nine species are in the CITES appendix list and five species are listed in the IUCN Red List of Threatened Species of 2017. There was a difference of responses between bird communities in the affected and not affected sites which is indicated by differences in the mean number of species, number of individuals in each species, and Shannon-Wiener's diversity index. The not affected sites had higher value on these parameters than the affected sites. Similarly, number of species, number of individual vegetation, and Shannon-Wiener biodiversity index in TL sites had higher mean values than DL sites. This proves that although geothermal is considered as environmentally friendly energy but in its utilization it still has an impact on the surrounding biodiversity especially for bird species

    Halaman Depan

    No full text
    Cover DepanHalaman RedaksiDaftar Is

    Pertumbuhan Tanaman Semusim dan Manglid (Magnolia champaca) pada Pola Agroforestry

    Get PDF
    Lahan kering yang kritis dapat direhabilitasi dengan menerapkan pola agroforestri. Lahan kering mempunyai masalah dengan kesuburan yang rendah serta rentan erosi. Agroforestri dapat meningkatkan keberhasilan penanaman sekaligus mendukung upaya swasembada pangan. Pemilihan jenis tanaman akan meningkatkan keberhasilan penanaman sekaligus memperoleh hasil antara bagi petani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produktivitas masing-masing jenis tanaman penyusun pada sistem agroforestri manglid. Pengamatan menggunakan eksperimental design dengan membuat plot percobaan penanaman manglid dan tanaman semusim jenis kedelai dan jagung. Penelitian menggunakan rancangan percobaan acak lengkap kelompok (RCBD) yang terdiri dari perlakuan jarak tanam manglid yaitu: 3 mx3 m (J1), 3 mx 4 m (J2), 3 mx 5 m (13), 3 mx 6 m (J4). Setiap perlakuan, terdiri dari 42 tanaman (7x6) serta 3 ulangan, sehingga total tanaman manglid sebanyak 504 tanaman. Tanaman kedelai ditanam selang-seling dengan jagung. Kedelai ditanam dilarikan manglid sedangkan jagung ditanam di antara tanaman manglid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan jarak tanam manglid belum memberikan perbedaan pertumbuhan sampai umur 9 bulan. Tanaman kedelai yang ditanam dalam larikan tanaman pokok masih mampu memberikan produktivitas 0,190-0,529 ton/ha, jagung yang ditanam di antara tanaman manglid mampu memberikan produktivitas tertinggi sebesar 1,224 ton/ha. Pola agroforestri yang memberikan pendapatan tertinggi bagi petani diperoleh pada pola tanam manglid+jagung manis+kedelai dengan jarak tanam 3m x 6m.Plant Growth of Crop and Manglid Species (Magnolia champaca) on the Agroforestry PatternAbstractCritical dry land can be rehabilitated by applying agroforestry patterns. Dry land has problems with low fertility and susceptible to erosion. Agroforestry can increase the success of planting as well as support food self-sufficiency efforts. Selection of crops will increase the success of planting as well as to obtain intermediate results for farmers. This study aimed to determine the productivity of each plant species on the manglid agroforestry system. The observations used experimental design by making experimental plots of manglid planting and crops of soybean and maize species. The study used a complete Randomized Block Design (RCBD) consisting of treatment of manglid spacing:3 mx3 m (J1), 3 mx 4 m (J2), 3 mx 5 m (53), 3 mx 6 m (14). Each treatment consisted of 42 plants (7x6) and 3 replications, yielding a total of 504 manglid plants. Soybean crops was planted alternately with corn. Soybeans were grown in manglid while corn was planted among manglid plants. The results showed that treatment of manglid plant spacing did not show a difference growth until the age of 9 months. Soybean crops grown in the staple of staple crops were still able to provide productivity of 0.190-0.529 ton/ha, maize grown among manglid crops was able to provide the highest productivity of 1,224 ton/ha. Agroforestry pattern that gives the highest income for farmers was obtained on the pattern of planting manglid + sweet corn+soybean with plant spacing of 3m x 6m

    Studi Ekologi Kuantitatif Hutan Pilan Sebagai Dasar Pengembangan Kebun Raya Gianyar

    No full text
    Penelitian ekologi kuantitatif diperlukan sebagai baseline dalam proses pembangunan dan pengembangan kebun raya di masa mendatang. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data vegetasi di kawasan hutan yang akan dibangun kebun raya dan menganalisisnya secara kuantitatif. Penelitian dilakukan dengan metode petak kuadrat (PU), dengan petak ukur 20 m x 20 m untuk pengamatan tingkat pohon dan tiang, serta 2 mx 2 m untuk pengamatan tingkat tumbuhan bawah. Analisis data dilakukan mengunakan indeks nilai penting, indeks keanekaragaman ShannonWiener, indeks similaritas, analisis kluster, dan analisis komponen utama (PCA). Komunitas tumbuhan di hutan Pilan didominasi oleh Magnolia montana (Blume) Figlar dan Arenga pinnata (Wurmb) Merr. pada tingkat pohon serta Daemonorops sp. pada tingkat tumbuhan bawah. Indeks keanekaragaman pada tingkat pohon dan tiang menunjukan nilai sedang dan rendah pada tingkat tumbuhan bawah, sementara indeks similaritas mayoritas kombinasi PU adalah rendah. Hasil kluster menunjukan terbentuknya dua subset pada kedua tingkat pertumbuhan, dimana PU VI berada di luar kluster sedangkan PCA menunjukan setiap PU mendukung jenis tumbuhan yang berbeda-beda. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa komposisi vegetasi hutan Pilan mendekati klimaks yang disebabkan karena statusnya sebagai hutan keramat sehingga relatif bebas dari gangguan. Faktor-faktor yang diduga mempengaruhi perbedaan komposisi tumbuhan di setiap PU adalah pH tanah, intensitas sinar matahari, jenis pohon yang dominan, efek tepi, dan persebaran bijioleh hewan.Quantitative Ecological Study of Pilan Forest as a Baseline for Development of Gianyar Botanic GardenAbstractQuantitative ecological research is needed as a baseline in the future construction and development of botanic gardens. This study aims to acquired the vegetation data in the forest area where a botanic garden will be established and analyse it quantitatively. The study was conducted using the quadrat plot (PU) method, with a plot measuring 20 m x 20 m for observation and tagging of all trees and saplings, as well as 2 mx2 m for observation of the understorey level. Data analysis was performed by utilising the importance value index, Shannon-Wiener diversity index, similarity index, cluster analysis, and principal component analysis (PCA). Plant communities in Pilan Forest were dominated by Magnolia montana(Blume) Figlar and Arenga pinnata(Wurmb) Merr. at the canopy level and Daemonorops sp. in the understorey level. The diversity index was moderate and low respectively, while the similarity index was mostly low. The clustering results showed the formation of two subsets in both growth rate as the PU VI was outside the cluster and the PCA indicated that each plot supports different plant species. The study results concluded that the composition of vegetation at Pilan forest is approaching the maximum diversity, and is relatively undisturbed due to its status as a sacred forest. Factors thought to affect the different composition of plants in each plot was the pH of the soil, the intensity of sunlight, dominant tree species, edge effects and distribution of seeds by animals

    Studi Mutu Kayu Jati di Hutan Rakyat Gunungkidul. VII. Ketahanan terhadap Rayap Tanah

    Get PDF
    Kayu jati telah digunakan untuk bermacam produk karena sifat ketahanan alami di atas rata-rata serta keindahan serat dan warna kayunya. Meski demikian, terdapat variasi untuk sifat ketahanan alami di antara pohon yang tumbuh di tempat tumbuh yang berbeda. Penelitian sebelumnya telah mendeskripsikan sifat kimia kayu jati tumbuh di zona ekologis yang berbeda (Nglipar, Panggang, dan Playen). Sebagai lanjutan, penelitian ini bertujuan menentukan sifat ketahahan alami terhadap rayap pada kayu jati yang tumbuh di hutan rakyat Gunungkidul dan mengeksplorasi faktor yang berkorelasi terhadap sifat tersebut yaitu sifat kimia dan warna kayu. Tujuan lainnya adalah membandingkan data yang diperoleh dengan data kayu yang tumbuh di hutan tanaman Perhutani (Randulatung). Uji pengumpanan tanpa pilihan menggunakan rayap tanah Coptotermes curvignathus terhadap sampel kayu dari tiga tempat tumbuh tersebut. Sifat warna tiap sampel diukur dengan sistem diukur menggunakan sistem CIELAB(L*, a*, b*). Data sifat kimia dan warna kemudian dihubungkan dengan kehilangan berat dan persen hidup rayap setelah 13 hari pengumpanan. Kayu gubal dan teras dari semua pohon menunjukkan aktivitas anti rayap. Perbedaan nyata diamati dalam persen hidup dalam interaksi faktor tempat tumbuh dan arah radial pohon. Sampel dari Panggang menunjukkan ketahanan alami yang lebih tinggi didasarkan persen hidup rayapnya. Selanjutnya, bagian teras dari sampel Playen dan Panggang menunjukkan aktivitas anti rayap yang lebih tinggi dibandingkan sampel dari Randublatung. Pengukuran warna menghasilkan tidak adanya beda nyata untuk kecerahan (L*) antara teras bagian luar dan dalam. Berdasar tempat tumbuhnya, sampel Playen memberikan warna kayu yang paling cerah. Apabila data di bagian teras dan gubal digabungkan, nilai kehilangan berat berhubungan positif dengan nilai kelarutan dalam air panas serta nilai kehilangan berat berhubungan negatif dengan nilai kadar ekstraktif etanol-toluena. Selain itu, nilai pH berkorelasi secara moderat dengan persen hidup rayap selama 8 hari pengamatan. Untuk sifat warna, diamati nilai kemerahan (a*) yang semakin tinggi diiringi oleh kenaikan kehilangan berat di bagian teras. Study of Teakwood Quality from Community Forests in Gunungkidul. VII. Natural Subterranean Termite ResistanceAbstractTeak wood has been used for various uses because of its excellent natural durability as well as beautiful grain and colour of its heartwood. However, variability in natural durability exists between trees of different geographical zones. The previous paper in this series reported on the chemical properties of teak wood from different zones (Nglipar, Panggang, and Playen). In this study, as a continuation, natural termite resistance of teak wood grown in community forests of Gunungkidul and the factors correlating to the termite resistance i.e. chemical and colour properties, were determined. Further, the data obtained here were compared with that of wood samples from Perhutani forest plantation (Randublatung site). No-choice termite feeding test by using a subterranean termite Coptotermes curvignathus were conducted on wood samples taken from three trees of three planted sites. The colour properties of each sample were measured using the CIELAB (L*, a*, b*) system. The chemical and colour characteristics results then were correlated with the mass loss of wood and survival rate of termites after 13 days of feeding. The heartwood and sapwood of all of the trees tested exhibited antitermitic activities. Significant differences were found in survival rate of termites due to interaction of the site and radial position. Samples from Panggang had larger termite resistance judging by its survival rate of termites. Further, the heartwood regions of Panggang and Playen sites exhibited higher antitermite activities than those of Randublatung samples. Measurements of colour showed that no significant differences were found between outer and inner heartwood parts. Samples from Playen showed the lightest on the basis of the sites. In the combined sapwood and heartwood data, mass loss was positively associated with hot-water solubility levels and negatively with ethanol-toluene extractive content. In addition, pH values moderately correlated with survival rate on 8-day observation. With regard to colour properties, it was measured that larger a* values (redness) induced larger mass loss of heartwood

    Keragaman Kandungan Lemak Nabati Spesies Shorea Penghasil Tengkawang dari Beberapa Provenans dan Ras Lahan

    No full text
    Buah tengkawang merupakan salah satu hasil hutan bukan kayu bernilai tinggi dan merupakan salah satu komoditi eksporsebagai bahan baku lemak nabati, industri kosmetik, dan substitusi lemak coklat. Indonesia memiliki sekitar 13 spesies pohon penghasil tengkawang yang tersebar di Kalimantan dan sebagian kecil di Sumatera, namun sebagian besar telah masuk dalam kategori terancam punah. Untuk tindakan konservasi dan meningkatkan kandungan lemak nabati tengkawang, perlu diketahui potensi kandungan lemak dan sifat fisiko kimia dari setiap spesies dan provenan. Buah tengkawang dikoleksi pada saat musim panen raya spesies shorea penghasil tengkawang pada tahun 2010 di Kalimantan dan Jawa. Analisis kandungan lemak nabati tengkawang dilakukan terhadap empat spesies shorea penghasil tengkawang (S. macrophylla, S. gysbertsiana, S. stenoptera, S. pinanga) yang berasal dari empat provenans dan ras lahan (Gunung Bunga dan Sungai Runtin-Kalimantan Barat, Bukit Baka-Kalimantan Tengah, Haurbentes-Jawa Barat). Sebelas kombinasi spesies-provenan diambil sampel buahnya untuk diekstrasi guna mengetahui kandungan lemak dan sifat fisiko kimia tengkawang (kadar air, bilangan asam, dan kadar asam lemak bebas). Terdapat keragaman yang tinggi di antara kombinasi spesiesprovenans tengkawang untuk empat parameter yang diuji, termasuk kandungan lemak dan kadar air biji tengkawang. Kandungan lemak tertinggi dengan kadar air terendah dihasilkan oleh S. stenoptera dari Haurbentes (Jabar) dan S. pinanga dari Bukit Baka (Kalimantan Tengah). Kedua kombinasi spesies-provenan tersebut direkomendasikan sebagai materi genetik untuk dikembangkan dalam program konservasi eks-situ dan program pemuliaan tanaman hutan dalam pembangunan sumber benih unggul pada kondisi lingkungan yang hampir sama dengan kedua provenans dan ras lahan tersebut.Variation in Illipe Nut's Fat Yield of Tengkawang-producing Shorea from Several Provenances and Land RacesAbstractIllip (tengkawang) nut is a non-wood forest product which has a high economic value and one of export commodities as raw material for illipe nut's fat, cosmetics, and substitution of chocolate fat. Indonesia has 13 species of tengkawang-producing shorea distributed in Kalimantan and some small parts of Sumatra. Most of them are categorized as threatened species. To conserve and improve the species for illip nut's fat, it is important to assess the potential of fat yield and physical-chemical properties for each species and provenance. Fruit collection was conducted during fruit season in Kalimantan and Java in 2010. The fruits were collected from four species of tengkawangproducing shorea (i.e. S.macrophylla, S. gysbertsiana, S. stenoptera, S. pinanga) originated from 4 provenances and land races (Gunung BungaWest Kalimantan, Sungai Runtin-West Kalimantan, Bukit Baka-Central Kalimantan, and Haurbentes-West Java). Fruit samples from eleven combinations of species-provenances were extracted to assess fat yield and physical-chemical properties (i.e. moisture content, acid number and free fatty acid). Variation between species-provenances combination was high for all parameters tested, including the illipe nut's fat yield and moisture content. The highest fat yield with lowest moisture content was found in S. stenoptera from Haurbentes (West Java) and S. pinanga from Bukit Baka (Central Kalimantan). Both species-provenance combinations are recommended as genetic material to be developed in the program of ex-situ conservation as well as tree improvement program for the establishment of best seed sources in the same environment condition as the respected provenances

    Halaman Depan

    No full text
    Cover DepanHalaman RedaksiDaftar Is

    Understanding the Impacts of Recurrent Peat Fires in Padang Island – Riau Province, Indonesia

    Get PDF
    Padang Island in Riau Province of Indonesia has been severely impacted by recurrent fires in 2014 and 2015, leading to severe peat ecosystem degradation and people´s livelihood. Therefore, analyzing the peat fires should not be isolated from socio-economic and local political context. Much has been written about peat fires  especially the magnitude of the fires, however the linkages between ecological and livelihood system of peatland ecosystem gained only scant attention. This paper analyzes how the drivers of peat fires are causing a steady decline in Padang Island and aims to provide more holistic understanding on how the drivers interplay and continue to feed the process of peatland degradation with its associated impacts on local economic development and people’s livelihood. Multidisciplinary approach was applied in this study. This includes remote sensing data analysis, analysis on related documents such as historical documents and regulations. Intensive fieldwork was conducted in the island in which series of FGDs and interviews were executed. We found that the global demands for agricultural commodities have led to massive peat drainage for monoculture farming on peat lands. The high dependency on global commodity market and monoculture farming has created livelihood vulnerability, especially because of the price fluctuation of agricultural products at global market. Moreover, the monoculture farming on peat lands tends to be unsustainable since it demands peat drainage, provides less options for sources of income and tends to marginalize indigenous knowledge about farming on peatland (paludiculture) which have been practiced for centuries in the island. Memahami Dampak Kebakaran Lahan Gambut yang Berulang di Pulau Padang-Provinsi Riau, IndonesiaIntisariPulau Padang yang terletak di Provinsi Riau, Indonesia mengalami kebakaran lahan gambut cukup parah dan berulang pada tahun 2014 dan 2015 yang mengakibatkan degradasi ekosistem gambut dan kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, seharusnya analisis kebakaran lahan gambut tidak dapat dapat dipisahkan dari konteks sosial ekonomi dan politik lokal. Sudah banyak tulisan yang menganalisis tentang kebakaran lahan gambut terutama terkait dengan besarnya kebakaran, tetapi sangat sedikit yang menganalisis hubungan antara sistem ekologi dan sistem kehidupan masyarakat. Artikel ini menganalisis bagaimana faktor-faktor penyebab kebakaran lahan gambut juga mengakibatkan degradasi yang terusmenerus di Pulau Padang dan bertujuan untuk berkontribusi pada pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai bagaimana faktor-faktor tersebut bekerja, saling terkait, dan secara terus-menerus mempengaruhi proses degradasi lahan gambut serta dampaknya terhadap pembangunan ekonomi lokal dan kehidupan masyarakat. Penelitian ini menerapkan pendekatan multi-disiplin yang meliputi analisis data penginderaan jauh, dokumen sejarah dan peraturan terkait. Penelitian lapangan dilakukan secara intensif di Pulau Padang, meliputi serial diskusi kelompok terfokus dan wawancara. Kami menemukan bahwa permintaan pasar global akan komoditas pertanian berkontribusi terhadap drainase lahan gambut skala besar untuk pertanian monokultur pada lahan gambut. Tingginya ketergantungan terhadap pasar global komoditas dan pertanian monokultur telah menciptakan kehidupan masyarakat yang rentan. Hal ini terutama karena besarnya fluktuasi harga komoditas pertanian di pasar global. Di samping itu, pertanian monokultur pada lahan gambut cenderung tidak berkelanjutan karena mensyaratkan pengeringan lahan gambut dengan drainase, menawarkan pilihan sumber penghasilan masyarakat yang lebih sedikit dan meminggirkan pengetahuan lokal tentang paludikultur yang sudah dipraktekkan selama berabad-abad di Pulau Padang

    148

    full texts

    235

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmu Kehutanan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇