Jurnal Ilmu Kehutanan
Not a member yet
235 research outputs found
Sort by
The Importance of Unprotected Areas as Habitat for The Leopard Cat (Prionailurus bengalensis javanensis Desmarest, 1816) on Java, Indonesia
Protected areas play important roles for protecting many endangered species in Indonesia. However, very limited information regarding roles of protected areas and non-protected areas for supporting the habitat of less-concerned carnivores in Java, leopard cat (Prionailurus bengalensis javanensis). We aim to assess the relative roles of non-protected areas for the habitat of this cat on the highly fragmented and populated island of Java. We develop species distribution modelling, using Maxent by integrating various sources of presence data of this species and environmental data. Our finding confirms that leopard cat can life in various habitat types but mainly patchy forest areas. While most of the protected areas are suitable for the habitat of this smallest cat on Java, the non-protected areas provide much larger areas for its habitat (66.8 %). Our findings highlighted the importance of maintaining connectivity among habitat patches in non-protected areas, habitat protection using current government policy on high conservation value forest and essential ecosystems areas. Pentingnya Kawasan Non Lindung sebagai Habitat Kucing Hutan (Prionailurus bengalensis javanensis Desmarest, 1816) di Jawa, IndonesiaIntisariKawasan lindung memainkan peran penting dalam melindungi banyak spesies yang terancam punah di Indonesia. Walaupun demikian, informasi mengenai peran kawasan lindung dan kawasan non lindung untuk mendukung habitat karnivora yang kurang mendapat perhatian di Jawa, kucing hutan (Prionailurus bengalensis javanensis), sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menilai peran kawasan non lindung sebagai habitat kucing hutan di Pulau Jawa, pulau yang sangat terfragmentasi dan padat penduduk. Kami mengembangkan pemodelan distribusi spesies, menggunakan Maxent dengan mengintegrasikan berbagai sumber data kehadiran spesies kucing hutan dan data lingkungan. Temuan kami menegaskan bahwa kucing hutan dapat hidup di berbagai jenis habitat tetapi habitat utamanya adalah kawasan hutan yang agak terbuka. Meskipun sebagian besar kawasan lindung sesuai untuk habitat kucing terkecil di Jawa ini, kawasan non lindung justru menyediakan area yang jauh lebih besar untuk habitat kucing hutan (66,8 %). Temuan kami juga menyoroti pentingnya menjaga konektivitas antar habitat di kawasan non lindung dan perlindungan habitat dengan menggunakan kebijakan pemerintah saat ini tentang hutan Bernilai Konservasi Tinggi dan Kawasan Ekosistem Esensial
Partisipasi Masyarakat Lokal dalam Pengembangan Ekowisata
Kelompok tani hutan kemasyarakatan (HKm) Mandiri Kalibiru mengelola hutan lindung yang salah satu kegiatannya berupa usaha pengelolaan ekowisata. Keterlibatan masyarakat lokal menjadi pelaku wisata merupakan ciri menonjol dalam usaha jasa tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menyajikan jenis partisipasi masyarakat lokal dalam mengembangkan ekowisata, dan peran kelembangaan HKm dalam mendorong masyarakat lokal berpartisipasi dalam pengembangan ekowisata. Konsep partisipasi level perencanaan, pelaksanaan dan pemanfaatan digambarkan pada tiga periode perkembangan obyek wisata: periode ke-1 perintisan, periode ke-2 mulai berkembang dan periode ke-3 berkembang. Pengumpalan data menggunakan teknik wawancara mendalam (indept interview) dan kajian dokumen. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan proposisi teoritis. Terdapat perbedaan partisipasi masyarakat lokal pada ke tiga periode perkembangan obyek wisata tersebut. Partisipasi level perencanaan sangat bergantung pada pendamping selama periode ke-1 dan 2, namun ketika obyek wisata sudah berkembang perencanaan mampu dilakukan secara mandiri. Partisipasi level pelaksanaan pada periode ke-1 dan 2 dilakukan secara gotong royong, namun pada periode ke-3 pelaksanaan pembangunan menggunakan tenaga profesional. Partisipasi level pemanfaaatan dimulai pada periode ke-2 yang melibatkan anggota HKm dan tokoh pemuda secara terbatas, dan pada periode ke-3 masyarakat Kalibiru yang memanfaatkan peluang kerja dan usaha mencapai 85%. Tingginya partisipasi masyarakat tersebut tidak lepas dari peran pendamping, pemerintah dan aturan lembaga HKm dalam fasilitasi dan penyediaan ruang partisipasi bagi masyarakat lokal. Local Communities Participation in Ecotourism DevelopmentAbstractThe community forest Mandiri Kalibiru manages of protected forests one of activities is ecotourism management. The involvement of local communities as ecotourism actors is a major feature in the service business. This study aims to present the type of local communities participation in developing ecotourism, and the role of HKm institution in encouraging the local communities to participate in ecotourism. The concept of participation at the planning, implementation and utilization level is illustrated in three periods of tourism development: the first period-pioneering, the second-developing and the third-developed. Data collection uses in-depth interview techniques and document review. Data analysis was performed descriptively and theoretical propositions. There are differences in local communities participation in the three periods. Participation in the planning level is very dependent on the companion during periods 1 and 2, but when the third period, the planning can be done independently. Participation in the implementation level in periods 1 and 2 was carried out cooperatively, but in the third period, the implementation of the development uses professional staff. Participation in utilization rates began in the second period involving limited HKm members and youth leaders, and the 3rd period the Kalibiru community involved took advantage of work and business opportunities which reached 85%. The high local communities participation is inseparable from the role of partners, government and HKm institutional regulations in facilitating and providing of participating space for local communities
Sifat Dasar Kayu Ganitri (Elaeocarpus sphaericus (Gaertn.) K. Schum.) dari Sukabumi dan Potensi Penggunaannya
Ganitri (Elaeocarpus sphaericus (Gaertn.) K. Schum.) adalah pohon cepat tumbuh yang banyak ditemukan di Sukabumi. Kayu ini tumbuh di hampir semua wilayah Indonesia. Tulisan ini menyajikan hasil pengujian sifat dasar (struktur anatomi, kimia, sifat fisis dan mekanis) kayu ganitri yang diambil dari hutan rakyat di daerah Sukabumi. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui potensi penggunan kayu ganitri berdasarkan sifat dasar dan penggunaan kayu oleh masyarakat sekitar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kayu ganitri memiliki kayu teras berwarna kuning dan kayu gubal berwarna putih. Corak kayu polos dan tekstur halus. Arah serat lurus sampai berpadu, kayu lunak, tidak mengkilap, dan tidak berbau. Berdasarkan nilai dimensi serat dan nilai turunannya, kayu ganitri termasuk ke dalam Kelas Mutu II. Kayu ganitri memiliki kadar holoselulosa dan selulosa yang tinggi (70,70% dan 54,58%), kadar sedang untuk lignin 21,60%, ekstraktif alkohol-benzena 3,47%, dan kadar abu 0,81%. Dengan berat jenis (BJ) kering udara 0,35 kayu ganitri termasuk ke dalam Kelas Kuat IV. Kayu tersebut disarankan untuk digunakan sebagai bahan bangunan konstruksi ringan, perkakas, furnitur, kayu lapis, papan sambung dan produk panel. Basic Properties of Ganitri Wood (Elaeocarpus sphaericus (Gaertn.) K. Schum from Sukabumi and Its Potential UsesAbsractGanitri (Elaeocarpus sphaericus (Gaertn.) K. Schum.) is a fastgrowing tree that is widely found in Sukabumi, West Java. It grows in all part of Indonesia. A research was carried out to investigate basic properties (anatomical, physical, mechanical, and chemical) of ganitri wood from the community forest of Sukabumi. The purpose of this study was to determine the potential use of ganitri wood based on its basic properties and local utilization. The results showed that the color of ganitri sapwood was white , and it was not clearly demarcated from the yellow, with fewer figure patterns. The texture was fine with straight to interlocked grain. The wood was soft, not lustrous, and no special odor. Based on the fibre dimensions and derivative values, the quality of ganitri wood fell in Class II as a raw material for pulp and paper. Ganitri had high holocellulose and cellulose levels (70.70% and 54.58%), moderate level in lignin (21.60%), and it contained 3.47% extractive soluble in alcohol-benzene, and 0.81% ash. Based on its air dry specific gravity (0,35), ganitri wood could be classified into wood Strength Class IV. The potential uses of ganitri are for lightweight construction material, tools, furniture, plywood, connecting boards, and other panel products
Potensi Pemanfaatan Ipomoea pes-caprae (L.) R. Br. di Hutan Pantai Petanahan Kebumen
Vegetasi yang tumbuh di hutan pantai memiliki potensi ekonomi yang tinggi, salah satunya disebabkan oleh tingginya zat bioaktif yang memiliki sifat farmakologis. Salah satu spesies yang memiliki potensi tinggi sebagai sumber obat alam yaitu Ipomoea pes-caprae (L.) R. Br. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi pemanfaatan I. pes-caprae di habitat alaminya yaitu di hutan pantai Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen. Pengamatan dilakukan dengan metode kuadrat ukuran 1 x 1 meter yang ditempatkan secara sistematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan yang paling dekat dengan pantai memiliki biomassa I. pes-caprae yang paling tinggi, yaitu dengan rata-rata sebesar 235,01 gr/m2. Sebaran spesies tersebut dibatasi oleh kompetisi dan naungan. Dalam bidang farmakologis kandungan fitokimia dalam ekstrak Ipomoea pes-caprae memiliki potensi yang tinggi untuk dikembangkan sebagai bahan baku obat. Namun ketersediaannya di hutan pantai Kecamatan Petanahan masih terbatas sehingga belum dapat dikembangkan untuk menjadi bahan baku obat alam. Potential Utilization of Ipomoea pes-caprae (L.) R. Br. in the Coastal Forest Petanahan Kebumen DistrictAbstractVegetation that grows in coastal forests has high economic potential, one of which is caused by the high bioactive substances that have pharmacological properties. One species that has high potential as a source of natural medicine is Ipomoea pes-caprae (L.) R. Br. This study aims to examine the potential use of I. pes-caprae in its natural habitat in the coastal forest of Petanahan District, Kebumen Regency. Observations were made using the 1 x 1 meter quadratic method which was placed systematically. The results showed that the area closest to the coast had the highest biomass I. pes-caprae, with an average of 235.01 gr/m2. The distribution of these species is limited by competition and shade. In the pharmacological field, the phytochemical content in Ipomoea pes-caprae extract has high potential to be developed as a drug raw material. But its availability in the coastal forests of Petanahan District is still limited so it cannot be developed to become raw material for natural medicine
Peranan Semut di Ekosistem Transformasi Hutan Hujan Tropis Dataran Rendah
Deforestasi atau perubahan fungsi dari hutan menjadi non-hutan berperan dalam perubahan ekosistem dan spesies di dalamnya. Serangga sebagai salah satu fauna di dalamnya merupakan aspek yang menarik untuk dikaji khususnya semut. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi peranan-peranan dari genus semut yang ditemukan di ekosistem transformasi. Penelitian dilaksanakan di Desa Bungku, Kecamatan Bajubang, Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah membuat plot pengamatan secara purposive sampling. Plot pengamatan dipasang di empat eksosistem hutan dengan jumlah masing - masing ekosistem sebanyak empat plot. Setiap plot memiliki lima sub plot yang tersebar di empat eksosistem hutan untuk pemasangan pitfall trap. Teknik pengambilan sampel semut menggunakan pitfall trap di empat ekosistem. Empat ekosistem tersebut yaitu hutan sekunder, perkebunan kelapa sawit, kebun karet, dan hutan karet. Hasil penelitian ditemukan sebanyak 33 genus dari 6 subfamili. Selanjutnya dari 33 genus dikelompokkan berdasarkan peranannya. Berdasarkan peranannya terdapat 46% pencari makan , 36% predator, 3% semut tentara, 3% pemakan bangkai, dan 3% lainnya (semut pemanen/pemetik, omnivora, predator, dan pemakan bangkai). Camponotus sebagai genus dominan memiliki peranan pencari makan, dan Pheidole mempunyai peranan sebagai penghancur biji dan sebagian lainnya adalah omnivora. The Role of Ants in Lowland Tropical Rainforest TransformationAbstractDeforestation or changes functions from forest to non-forest play a role in changing ecosystems and the species within them. Insect as one of the fauna is an interesting aspect to study, especially ants. Aims of this study is to identify the roles of the genus of ants that found in the transformation ecosystem. This study was conducted in Bungku Village, Bajubang District, Batanghari Regency, Jambi. Method used in this study is to make a plot of observation by purposive sampling. Ant sampling techniques use pitfall traps in four ecosystems i.e.. secondary forest, oil palm plantation,rubber plantation, and jungle rubber. This study found 33 genera from 6 subfamilies. Furthermore, 33 genera are grouped based on their roles, i.e. (1) 46% foragers, (2) 36% for predators, (3) 3% for army ants, (4) 3% for scavengers, and (5) 3% for others (harvesting ants, omnivores, predators and scavengers too). Camponotus as the dominant genus has a role for foragers, and Pheidole has a role as a seed destroyer and the other part is omnivorous
Kekerasan Negara dalam Konflik Pengelolaan Kawasan Konservasi di Indonesia : Perspektif Pemberitaan Media
Pemaksaan konservasi oleh negara kepada masyarakat melalui kekerasan disadari menimbulkan konflik yang berkepanjangan dalam pengelolaan kawasan konservasi di Indonesia. Oleh karena itu, penelitian ini memiliki tujuan untuk menyingkap dimensidimensi kekerasan negara tersebut dalam rangka untuk memahami dan mengelola konflik tersebut secara utuh. Penelitian ini akan melengkapi telaah-telaah sebelumnya yang lebih terfokus pada gejala-gejala permukaan, dan tidak menjangkau secara utuh tataran yang tidak kasat mata sebagai dimensi-dimensi kekerasan yang justru lebih menentukan.Penelitian ini menggunakan obyek analisis pemberitaan media dalam jaringan yaitu Kompas Online yang mewakili media umum dan Mongabay yang mewakili media lingkungan, yang memuat pemberitaan terkait konflik di kawasan konservasi periode 2011 - 2017.Pemberitaan media tersebut dipelajari menggunakan analisis isi untuk mengungkap dimensidimensi kekerasan negara. Analisis isi yang dilakukan dalam penelitian ini mengikuti kerangka kerja pada analisis isi yang disederhanakan dari Krippendorf (2004) dan Istania (2010) dengan tujuan melakukan analisis isi deskriptif yang dimaksudkan untuk menggambarkan suatu pesan atau teks tertentu (Rossy & Wahid2015), yang dalam hal ini difokuskan pada dimensi-dimensi kekerasan negara dalam pengelolaan kawasan konservasi.Dimensidimensi kekerasan negara dapat cukup utuh diuraikan melalui perspektif pemberitaan di media massa. Hal tersebut sangat membantu untuk lebih memahami konflik yang melibatkan hubungan antara negara dan masyarakat yang disebabkan penguasaan pengelolaan kawasan konservasi sebagai sumber daya alam.Untuk menangani konflik tersebut diperlukan dukungan untuk menemukan jati diri pengelolaan kawasan konservasi melalui pendekatan kultural sehingga membangun optimisme bahwa konflik dalam pengelolaan kawasan konservasi dapat ditangani dengan baik. State Violence in Indonesian Conservation Area Conflict Management: Perspectives from The MediaAbstractThe imposition of conservation areas by the state through violence caused prolonged conflict in the management of conservation areas in Indonesia. Therefore, the need to understand and manage conflict as a holistic process guides this research, in which the goal is to better understand the dimensions of state violence. This research complements previous studies that are more focused on superficial symptoms, which have not fully been able to uncover the invisible levelsthat make up the dimensions of violence.This study uses online media, namely Kompas Online, which represents the general media, as well as Mongabay, which represents environmental media, including news related to conflicts in conservation areas for the period of 2011 - 2017. State violence in the news is described in the dimensions of violence using content analysis. The content analysis is carried out in this study and follows a framework for simplified content analysis from Krippendorf (2004) and Istania (2010) with the aim of conducting descriptive content analysis intended to describe a particular message or text (Rossy and Wahid, 2015), which is focused on the dimensions of state violence in the management of conservation areas.The dimensions of state violence can be fairly intact through the perspective of news in the mass media. This is helpful for better understanding conflicts that involve relations between the state and local communities due to the control of the management of conservation areas as a natural resource. To address the conflict, support is needed to find the identity of conservation area management through a cultural approach so as to build optimism that conflicts in the management of conservation areascan be handled properly
Analisis Finansial Perkebunan Kayuputih Skala Kecil: Studi Kasus Pilot Project Pengembangan Kayuputih untuk Kelompok Tani di Kampung Rimbajaya, Distrik Biak Timur
Produksi minyak kayuputih dari Kepulauan Maluku dan Pulau Jawa saat ini masih jauh di bawah permintaan kayuputih dalam negeri. Ekstensifikasi perkebunan kayuputih skala kecil yang dikelola oleh masyarakat dengan menggunakan benih unggul dapat menjadi solusi untuk meningkatakan produksi minyak kayuputih di Indonesia. Tulisan ini dimaksudkan untuk mengetahui tingkat kelayakan finansial dari usaha perkebunan kayuputih skala kecil dengan menggunakan data dari pilot project pengembangan industri kayuputih skala kecil di Kampung Rimbajaya, Distrik Biak Timur seluas 5 ha. Kelayakan finansial dilihat dari kriteria investasi yang umum digunakan yaitu net present value (NPV), internal rate of return (IRR), benefit-cost ratio (BCR) dan payback period. Hasil analisis finansial menunjukkan bahwa kebun kayuputih unggul skala kecil layak untuk diusahakan dengan NPV untuk jangka waktu 25 tahun pada discount rate 9,2% adalah sebesar Rp 757.171.972,00 (Rp 151.434.394,32 per hektar), IRR sebesar 72,74%, BCR sebesar 1,77 dan payback period setelah 2 tahun 3 bulan. Secara finansial perkebunan kayuputih yang menggunakan benih unggul lebih layak diusahakan dibandingkan dengan komoditas bambu, sengon, sawit dan kopi. Financial Analysis of a Small Scale Cajuput Plantation: A Case Study of A Pilot Project for A Farmer Group in Rimbajaya Village, East Biak DistrictAbstractProduction of cajuput oil from the Moluccas and Java Island is currently far below the domestic demand for the oil. Extensification of small-scale cajuput plantations managed by community using improved seeds is expected to increase cajuput oil production in Indonesia. This study investigates the financial feasibility of a 5 ha-cajuput plantation using data collected from a pilot project for a farmer group in Rimbajaya Village, East Biak District. Financial feasibility was assessed by calculating four investment criteria: net present value (NPV), internal rate of return (IRR), benefit-cost ratio (BCR) and payback period. The analysis showed that a small-scale cajuput plantation was financially feasible with NPV (25 years) at a 9.2% discount rate was IDR 757,171,972.00 (IDR 151,434,394.32 per hectare), IRR of 72.74%, BCR of 1.77 and payback period after 2 years and 3 months. Investation in a cajuput plantation planted with improved seeds is more feasible than that in bamboo, sengon, palm oil and coffee plantations
Sifat Papan Partikel Bambu Petung (Dendrocalamus asper) dan Bambu Wulung (Gigantochloa atroviolacea) dengan Perlakuan Ekstraksi
Bambu memiliki kandungan ekstraktif dengan persentase yang berbeda antar jenis bambu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan ekstraksi pada jenis bambu yang berbeda terhadap sifat papan partikel. Dua jenis bambu digunakan yaitu Bambu Petung (Dendrocalamus asper) dan Bambu Wulung (Gigantochloa atroviolacea). Perlakuan ekstraksi digunakan pada partikel bambu sebelum proses pembuatan papan partikel yaitu tanpa ekstraksi, ekstraksi air dingin dan ekstraksi air panas. Papan partikel dibuat dalam ukuran 25 cm x 25 cm x 0,7 cm, target kerapatan 0,9 g/cm3, jumlah asam sitrat 30%, serta kondisi pengempaan suhu 180°C selama 10 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi perlakuan ekstraksi dan jenis bambu hanya berpengaruh signifikan pada sifat penyerapan air dan keteguhan rekat internal, sedangkan jenis bambu berpengaruh signifikan pada nilai kadar air, modulus patah dan modulus elastisitas. Semua papan partikel yang dihasilkan memenuhi standar Japanese Industrial Standard (JIS) A 5908 tipe 13. Pada penelitian ini, papan partikel dari bambu wulung tanpa perlakuan ekstraksi mempunyai nilai yang memenuhi standar tipe 18 dan berpotensi sebagai bahan baku untuk produk furnitur eksterior. Perlakuan ekstraksi dapat meningkatkan secara signifikan nilai keteguhan rekat internal papan partikel bambu petung, walaupun secara umum dengan jumlah asam sitrat 30% perlakuan tersebut tidak diperlukan pada papan partikel bambu Properties of Particleboard made from Petung Bamboo (Dendrocalamus asper) and Wulung Bamboo (Gigantochloa atroviolacea) Particles with Extraction TreatmentAbstractBamboo has extractives, which the percentage of extractive was different based on bamboo species. This research aimed to investigate the effect of extraction treatment at different bamboo species on the particleboard properties. Two types of bamboo were used, i.e. Petung bamboo (Dendrocalamus asper) and Wulung bamboo (Gigantochloa atroviolacea). Three extraction treatments were conducted to the bamboo particles before the particleboard manufacture, i.e. unextracted, cold-water extraction, and hot-waterextraction. The particleboard was made in the size of 25 cm x 25 cm x 0.7 cm, target density of 0.9 g/cm³, citric acid content of 30%, and pressing temperature of 180°C for 10 min. The results showed that the interaction between extraction treatment and bamboo species significantly affected on the water absorption and internal bond strength, however bamboo species affected significantly on the moisture content, modulus of rupture, and modulus of elasticity. All of particleboards could met the requirement of the 13 type of Japanese Industrial Standard (JIS) A 5908. In this research, particleboards made from wulung bamboo particles without extraction treatment have properties that met the requirement of the 18 type and the products have potential to be as exterior materials for furniture. In general, an extraction treatment was not an important step on the manufacturing of bamboo particleboard using citric acid 30% as adhesive. However, the extraction treatment could increase significantly the internal bond strength of particleboard made from petung bamboo
Pembuatan dan Analisis Karbon Aktif dari Cangkang Buah Karet dengan Proses Kimia dan Fisika
Penggunaan karbon aktif di Indonesia semakin meluas sejalan dengan meningkatnya kebutuhan tehadap karbon aktif tersebut, sehingga perlu terus diupayakan pencarian bahan baku dan metode pembuatan karbon aktif untuk menghasilkan karbon aktif yang berkualitas. Salah satu bahan baku yang dapat digunakan untuk menghasilkan karbon aktif adalah cangkang buah karet karena keberadaannya tidak termanfaatkan dengan baik. Pada penelitian ini dilakukan pembuatan karbon aktif dari cangkang buah karet masing-masing dengan metode aktivasi steam pada suhu 650°C, aktivasi dengan kalium hidroksida 10% dan aktivasi dengan asam fosfat 10%. Karbon aktif yang terbentuk kemudian dianalisa menggunakan metode SNI 06-3730-1995 dengan parameter kadar air, kadar abu, kadar zat terbang, kadar karbon terikat, daya jerap iod, daya jerap biru metilen dan daya jerap benzena. Gugus fungsi, kristalinitas dan morfologi karbon aktif dianalisa masing-masing menggunakan FTIR, XRD dan SEM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kadar air, kadar abu, kadar zat terbang, kadar karbon terikat, daya jerap iod, daya jerap biru metilen dan daya jerap benzena masing-masing sebesar 1,83-3,74%; 2,86-8,14; 7,36-13,55; 82,8-89,78%; 355,21-569,39 mg/g; 10,34-17,61 mg/g; 8,09-19,26%. Hasil FTIR menunjukkan bahwa gugus fungsi yang terdeteksi pada karbon aktif adalah gugus OH, CH alifatik, CH aromatik, C=O, C-C, C=C dan C-O, sedangkan kristalinitas karbon aktif berkisar antara 11,34-30,78% dengan ukuran pori sebesar 5-9 μm. Karbon aktif dengan aktivator KOH dapat menjerap senyawa iod dan metilen biru lebih baik sedangkan karbon aktif aktivasi steam memiliki daya jerap terbaik pada adsorpsi senyawa benzena. Manufacture and Analysis of Activated Carbon from Rubber Fruit Shell with Chemical and Physical ProcessingAbstract The utilization of activated carbon in Indonesia is increased, which is in line with the increase of activated carbon needs, therefore it is necessary to search the raw materials and methods continuously for good quality activated carbon. One of the raw materials that can be used to produce activated carbon is a rubber fruit shell because it is not properly utilized. In this research, activated carbon was made from rubber fruit shells by the steam activation method at a temperature of 650°C, 10% potassium hydroxide, and 10% phosphoric acid activation. The activated carbon was then analyzed using SNI 06-3730-1995 methods with parameters of water content, ash content, volatile matter content, fixed carbon content, iod adsorption, methylene blue adsorption, and benzene adsorption. The functional groups, crystallinity, and morphology of activated carbon also analyzed using FTIR, XRD, and SEM respectively. The results shows that the water content, ash content, volatile matter content, fixed carbon content, iod adsorption, methylene blue adsorption, and benzene adsorption are 1,83-3,74%; 2,86-8,14; 7,36-13,55; 82,8-89,78%; 355,21-569,39 mg/g; 10,34-17,61 mg/g; 8,09-19,26%, respectively. The FTIR results from activated carbon are contain of several functional groups, like OH; CH aliphatic, CH aromatic, C=O; C-C; C=C and C-O, meanwhile the degree of crystallinity from activated carbon formed are ranged 11,34-30,78% with 5-9 μm of pore size. The activated carbon with KOH activator has good adsorption in iod and methylene blue compound meanwhile activated carbon from steam activation can be a good adsorbent on the benzene compound