49971 research outputs found
Sort by
Pengaruh Pengalaman Berbelanja Konsumen dalam Live Streaming Shopping Terhadap Perilaku Pembelian Impulsif Produk Kosmetik di Kalangan Gen Z
Transformasi perdagangan konvensional ke dalam ekosistem digital melalui fitur live streaming telah menciptakan peluang baru bagi pelaku bisnis untuk meningkatkan penjualan. Fenomena ini juga mendorong perilaku impulse buying, khususnya di industri kosmetik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh social presence dan sales promotion sebagai stimulus terhadap impulse buying behavior sebagai respons, dengan mempertimbangkan flow experience sebagai variabel organism sesuai dengan kerangka teori Stimulus Organism Response (SOR). Selain itu, penelitian ini juga mengeksplorasi peran moderasi dari time availability dan money availability. Data diperoleh dari 258 responden melalui kuesioner daring dan dianalisis menggunakan metode Covariance Based Structural Equation Modeling (CB-SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa social presence dan sales promotion berpengaruh signifikan terhadap flow experience. Selanjutnya, flow experience juga berpengaruh signifikan terhadap impulse buying behavior. Namun, time availability terbukti tidak signifikan dalam memperkuat hubungan antara flow experience dan impulse buying behavior, sementara money availability justru memperlemah hubungan tersebut. Temuan ini memberikan implikasi teoretis terhadap perkembangan perilaku konsumen dan implikasi praktis bagi pelaku bisnis kosmetik dalam merancang strategi pemasaran yang efektif di era digital.
======================================================================================================================================
The transformation of conventional commerce into the digital ecosystem through live streaming features has created new opportunities for businesses to increase sales. This phenomenon has also driven impulse buying behavior, particularly in the cosmetics industry. This study aims to examine the effects of social presence and sales promotion as stimuli on impulse buying behavior as a response, considering flow experience as the organism variable in accordance with the Stimulus Organism Response (SOR) framework. In addition, the study explores the moderating roles of time availability and money availability. Data were collected from 258 respondents through an online questionnaire and analyzed using Covariance Based Structural Equation Modeling (CB-SEM). The findings reveal that social presence and sales promotion have a significant effect on flow experience. Furthermore, flow experience significantly influences impulse buying behavior. However, time availability was found to be insignificant in strengthening the relationship between flow experience and impulse buying behavior, while money availability unexpectedly weakened this relationship. These findings provide theoretical implications for the development of consumer behavior and practical implications for cosmetic businesses in designing effective marketing strategies in the digital landscap
Pengembangan Animasi 3D Realistis Dengan Penerapan Metahuman Dan Motion Capture Menggunakan Unreal Engine 5
Metahuman adalah salah satu inovasi digital terbaru yang diperkenalkan oleh Unreal Engine 5 pada tahun 2021, yang dirancang khusus untuk mempermudah tim pengembang dalam menciptakan pembuatan karakter virtual dengan mudah dan cepat. Proses ini dilakukan melalui aplikasi berbasis website bernama MetaHuman Creator, dimana platform ini berjalan secara cloud-based yang memungkinkan pengembang menghasilkan karakter virtual dengan kualitas render yang tinggi tanpa membutuhkan syarat spesifikasi komputer yang berat. Teknologi ini memungkinkan tim pengembang untuk menciptakan sebuah karakter virtual sesuai dengan gaya keinginan mereka seperti gaya rambut, gender, kondisi fisik, dan baju dalam hitungan menit. Hal ini sangat berbanding terbalik pada proses penciptaan karakter virtual secara tradisional, dimana pengembang harus melakukan banyak proses bertahap yang menyita banyak waktu dan aset yang diperlukan. Melihat banyaknya peluang yang dapat diambil dari teknologi tersebut, penelitian Tugas Akhir ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan mengenalkan potensi Metahuman dengan mengintegrasikannya dengan teknologi motion capture untuk menghasilkan animasi 3D yang realistis dengan bantuan Unreal Engine 5. Proses yang dilakukan mencakup tahapan pengembangan animasi 3D, analisis pembuatan environment dan karakter digital, evaluasi terhadap efisiensi dan kualitas produksi, serta tolak ukur kerealistisan animasi yang dibuat.
====================================================================================================================================
Metahuman is one of the latest digital innovations introduced by Unreal Engine 5 in 2021, designed to make it easier for team developers to create virtual characters easily and quickly. This process is done through a web-based application called Metahuman Creator, which is a cloud-based platform that allows the developers to produce virtual characters with high rendering quality without the need for heavy computer specifications. This technology allows the development team to create a virtual character according to their desired style such as hairstyle, gender, physical condition, and clothing in a matter of minutes. This is contrast due to traditional virtual character creation process where developers have to perform many step-by-step processes that take up a lot of time and assets. Seeing the many opportunities that can be taken from this technology, this Final Project research aims to explore and introduce the potential of Metahuman by integrating it with Motion Capture technology to produce realistic 3D animation with the help of Unreal Engine 5. The process includes the stages of developing 3D animation, analyzing the creation of digital environments and characters, and evaluating the efficiency and quality of production
Analisis Risiko Saham Perusahaan Market Capitalization Terbesar Menggunakan Value at Risk dengan Pendekatan Extreme Value Theory dan Conditional Value at Risk dengan Pendekatan Quantile Regression
Perekonomian suatu negara sering mengalami fluktuasi dan salah satu cara untuk menilai perkembangannya adalah melalui pasar modal. Pasar modal berperan penting dalam melakukan mobilisasi dana masyarakat untuk investasi, dengan tujuan utama meraih keuntungan meskipun terdapat ketidakpastian ekonomi. Investasi dapat dilakukan pada aset riil atau keuangan, dengan risiko yang menjadi faktor utama dalam pengambilan keputusan investasi. Diversifikasi investasi, khususnya pada saham perusahaan dengan market capitalization besar, dapat membantu mengurangi risiko. Saham sebagai instrumen investasi utama memiliki potensi keuntungan yang tinggi, namun disertai dengan risiko yang besar karena dipengaruhi oleh faktor ekonomi, politik, dan kinerja perusahaan. Oleh karena itu, pengukuran risiko menjadi hal penting, salah satunya menggunakan metode Value at Risk (VaR) dengan pendekatan Extreme Value Theory (EVT) yang dapat mengestimasi kerugian maksimal dan Conditional Value at Risk (CoVaR) dengan pendekatan Quantile Regression memberikan metode yang lebih akurat dalam mengukur risiko yang dipengaruhi oleh ketergantungan antar saham. Selain itu, penelitian ini juga menguji hubungan antar saham-saham perusahaan dengan market capitalization terbesar menggunakan Granger Causality Test. Hasil analisis statistika deskriptif menunjukkan bahwa data return saham tidak berdistribusi normal, dengan karakteristik leptokurtik dan skewness positif. Saham BYAN dan TPIA tercatat paling volatil, sementara BBCA dan BBRI cenderung stabil. Estimasi VaR dengan pendekatan EVT menunjukkan bahwa saham TPIA memiliki risiko kerugian terbesar, sedangkan BBCA paling rendah. Uji kausalitas Granger menyatakan hubungan signifikan antar sektor, dengan TLKM sebagai saham paling berpengaruh dan BBCA paling dipengaruhi. Estimasi CoVaR dengan pendekatan Quantile Regression mengonfirmasi bahwa TPIA memiliki risiko sistemik tertinggi, sedangkan BBCA paling rendah. Evaluasi model menunjukkan bahwa CoVaR dengan Quantile Regression lebih akurat dan valid dalam mengestimasi risiko dibandingkan model VaR dengan EVT, berdasarkan hasil Expected Shortfall dan Kupiec Test.
=====================================================================================================================================
The economy of a country often experiences fluctuations and a way to assess its development is through the capital market. The capital market plays a crucial role in mobilizing public funds for investment, with the primary goal of achieving profits despite economic uncertainties. Investments can be made in real or financial assets, with risk being a key factor in investment decision-making. Investment diversification, particularly in stocks of companies with large market capitalization, can help reduce risk. Stocks, as a primary investment instrument, offer high profit potential but are accompanied by significant risks due to economic, political, and company performance factors. Therefore, risk measurement becomes essential, including using the Value at Risk (VaR) method with the Extreme Value Theory (EVT) approach to estimate maximum losses and Conditional Value at Risk (CoVaR) with the Quantile Regression approach, which provides a more accurate method for measuring risk influenced by stock interdependencies. Additionally, this study examines the relationships between stocks of companies with the largest market capitalizations using the Granger Causality Test. The results of descriptive statistical analysis indicate that stock return data do not follow a normal distribution, exhibiting leptokurtic characteristics and positive skewness. BYAN and TPIA stocks are the most volatile, while BBCA and BBRI are more stable. Value at Risk (VaR) estimation using the Extreme Value Theory (EVT) approach shows that TPIA has the highest potential loss, whereas BBCA has the lowest. The Granger Causality Test reveals significant inter-sector relationships, with TLKM being the most influential stock and BBCA the most affected. CoVaR estimation using the Quantile Regression approach confirms that TPIA has the highest systemic risk, while BBCA has the lowest. The model evaluation shows that CoVaR with Quantile Regression is more accurate and statistically valid in estimating risk compared to the VaR model with EVT, as supported by the results of the Expected Shortfall and Kupiec Test
Studi Spektrum Gelombang di Laut Jawa bagian Barat dan Aplikasinya
Gelombang acak di laut direpresentasikan dalam bentuk spektrum gelombang yang tersusun dari berbagai komponen frekuensi. Dalam perancangan bangunan terapung, karakterisasi gelombang laut didasarkan pada model spektrum teoritis. Tidak banyak studi terkait kesesuaian model spektrum teoritis di perairan Indonesia, bahkan sejumlah studi yang melakukan studi spektrum gelombang di perairan Indonesia menunjukkan keragaman satu sama lain. Hal ini mendorong Penulis untuk melakukan kajian ulang terhadap keberlakuan model spektrum gelombang di Indonesia dengan kualitas data yang lebih baik dan prosedur kerja yang lebih terukur. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kesesuaian formulasi spektrum teoritis terhadap spektrum observasi, serta mengajukan nilai rekomendasi dan formula empiris dalam memperkirakan nilai koefisien bentuk pada model spektrum. Penelitian ini dibangun berdasarkan data profil gelombang time series, yang ditransformasikan ke dalam kurva power spectral density atau yang disebut sebagai kurva spektrum. Dari penelitian ini didapati bahwa spektrum JONSWAP menunjukkan kesesuaian terbaik dengan spektrum observasi. Dari sejumlah kurva spektrum observasi yang diperoleh, selanjutnya dilakukan penyesuaian nilai parameter kunci spektrum JONSWAP yaitu berupa Konstanta Phillips, α, dan Peak Enhancement Factor, γ. Hasil dari penelitian ini merekomendasikan α_0.99= 0.00943 dan γ_0.99=2.11 untuk diaplikasikan dalam perancangan bangunan laut serta α_0.5= 0.00163 dan γ_0.5=1.07 untuk diaplikasikan dalam kajian operasional. Penelitian ini juga berhasil menyajikan perbaikan formula untuk menaksir nilai α sebagai fungsi dari parameter gelombang H_s dan f_p. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan model spektrum gelombang yang lebih akurat dan aplikatif, khususnya dalam konteks desain struktur terapung dan studi dinamika gelombang laut di perairan Indonesia.
==================================================================================================================================
Random waves in the sea are represented in the form of a wave spectrum composed of various frequency components. In the design of floating structures, the characterization of sea waves is based on a theoretical spectrum model. There are not many studies related to the suitability of theoretical spectrum models in Indonesian waters, and even some studies related to wave spectrum studies in Indonesian waters show diversity from one another. This prompted the author to re-examine the applicability of wave spectrum models in Indonesia, using better-quality data and more measurable work procedures. This study aims to evaluate the suitability of theoretical spectrum formulations to observed spectra, as well as to propose recommended values and empirical formulas for estimating shape coefficients in spectrum models.
This research is based on time series wave profile data, which is transformed into a power spectral density curve, also known as a spectrum curve. From this research, it was found that the JONSWAP spectrum shows the best fit with the observed spectrum. From the observed spectrum curves obtained, adjustments were made to the key parameters of the JONSWAP spectrum, namely the Phillips Constant, α, and the Peak Enhancement Factor, γ. The results of this study recommend α_0.99= 0.00943 and γ_0.99=2.11 for application in marine structure design, and α_0.5= 0.00163 and γ_0.5=1.07 for application in operational studies. This study also successfully presents an improved formula for estimating the value of α as a function of the wave parameters H_s and f_p. The results of this study are expected to contribute to the development of more accurate and applicable wave spectrum models, particularly in the context of floating structure design and studies of ocean wave dynamics in Indonesian waters
Analisis Kekuatan Anchor Chain New Floating Storage and Offloading (FSO) Conversion pada Single Point Mooring (SPM)
Penelitian ini menganalisis kekuatan dan respon gerakan struktur pada New Floating Storage and Offloading (FSO) Conversion yang terhubung melalui sistem Single Point Mooring (SPM) tipe CALM (Catenary Anchored Leg Mooring). FSO berfungsi sebagai fasilitas apung untuk penyimpanan dan transfer hidrokarbon dari fasilitas lepas pantai ke kapal tanker. Untuk memastikan kestabilan dan keamanan operasi, diperlukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem tambat, khususnya pada anchor chain yang mengalami beban siklik akibat pergerakan enam derajat kebebasan dari struktur apung. Analisis dilakukan menggunakan metode elemen hingga (Finite Element Method) untuk mengevaluasi tegangan maksimum dan deformasi yang terjadi pada rantai jangkar baik sebelum maupun setelah konversi FSO. Simulasi dilakukan dalam kondisi lingkungan yang ditetapkan, termasuk beban gelombang, angin, dan arus. Respon gerakan FSO dan SPM dianalisis melalui pendekatan ranah waktu (time domain), dengan mempertimbangkan Response Amplitude Operator (RAO) dan Load Case berdasarkan kondisi operasional dan ekstrem. Hasil penelitian memberikan informasi teknis terkait performa struktur dan sistem mooring, serta menjadi acuan untuk menentukan batas operasional yang aman sesuai standar internasional (API RP 2SK dan OCIMF). Penelitian ini diharapkan menjadi referensi dalam mendesain dan mengevaluasi sistem mooring FSO agar tetap handal dalam berbagai kondisi lingkungan.
Kata kunci: Floating Storage and Offloading (FSO), Single Point Mooring (SPM), Analisis Elemen Hingga.
=====================================================================================================================================
This study analyzes the structural strength and motion response of a New Floating Storage and Offloading (FSO) Conversion, which is moored using a Single Point Mooring (SPM) system of the CALM (Catenary Anchored Leg Mooring) type. The FSO serves as a floating facility for hydrocarbon storage and offloading from Offshore production to shuttle tankers. To ensure operational safety and stability, a comprehensive assessment of the mooring system is required, particularly focusing on the anchor chains subjected to cyclic loads due to six degrees of freedom motion. The analysis is conducted using the Finite Element Method (FEM) to evaluate maximum Stress and deformation on the anchor chain, both before and after the FSO Conversion. Simulations are carried out under defined environmental conditions, including wave, wind, and current loads. The motion response of the FSO and SPM system is analyzed in the time domain, considering the Response Amplitude Operator (RAO) and various load cases under operational and extreme sea states. The results provide technical insights into the structural behavior and mooring performance, serving as a reference for determining safe operational limits in accordance with international standards (API RP 2SK and OCIMF). This research aims to support the design and evaluation of mooring systems for FSO units to ensure long-term reliability under varying environmental conditions.
Keywords: Floating Storage and Offloading (FSO), Single Point Mooring (SPM), Finite Element Analysis
Klasifikasi Tokoh Protagonis Dan Antagonis Pada Cerita Rakyat Nusantara Menggunakan Struktur Bahasa
Cerita rakyat merupakan bagian dari warisan budaya Indonesia yang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pembelajaran yang menyampaikan nilai moral dan etika. Dalam cerita rakyat, tokoh utama (protagonis) dan tokoh penentang (antagonis) memainkan peran penting dalam membangun alur cerita. Seiring dengan perkembangan teknologi, pengolahan bahasa alami (Natural Language Processing) telah memungkinkan pengembangan model untuk mengidentifikasi tokoh dalam teks menggunakan teknik Named Entity Recognition (NER). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasikan tokoh dalam cerita rakyat berbahasa Indonesia berdasarkan jenisnya, yaitu protagonis, antagonis, dan tokoh lainnya. Kajian terhadap penelitian terdahulu menunjukkan bahwa berbagai pendekatan telah digunakan dalam identifikasi tokoh dalam teks naratif, seperti pemanfaatan model peringkat, analisis fitur linguistik, serta teknik berbasis machine learning. Penelitian ini menerapkan metode yang disesuaikan dengan karakteristik cerita rakyat Indonesia. Penelitian ini menggunakan 222 cerita rakyat Indonesia. Tahapan pertama dimulai dengan membentuk data ground truth melalui metode pseudolabeling. Setelah itu, dilakukan proses klasterisasi untuk mengelompokkan tokoh-tokoh beserta aliasnya, yang kemudian dijadikan acuan dalam penelitian. Langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi tokoh berdasarkan ciri-ciri struktur bahasa, lalu menentukan tipe masing-masing tokoh. Seluruh rangkaian proses ini bertujuan menghasilkan sebuah metode yang dapat mengidentifikasi tokoh dan model yang mampu mengklasifikasikan tokoh ke dalam kategori tipenya. Berdasarkan hasil penelitian ini, metode identifikasi tokoh menggunakan struktur bahasa mendapatkan nilai f1-score sebesar 0,513. Metode klasifikasi jenis tokoh dievaluasi menggunakan metrik precision, recall, f1-score, serta accuracy dan mendapatkan nilai sebesar 0,8438, 0,8281, 0,8311, 0,8408 menggunakan model Support Vector Machine (SVM) dengan embedding TF-IDF.
====================================================================================================================================
Folktales are a part of Indonesia’s cultural heritage that serve educational purpose on top of entertainment. As educational pieces, folktales can be a platform for conveying moral and ethical values. Folktale stories are consisted of main characters (protagonist) and opposing characters (antagonist), that each holds crucial roles in developing the storyline. With the advancement of technology, Natural Language Processing has opened the path of identifying characters in folktales using Named Entity Recognition (NER) techniques. This research aims to identify and classify characters in Indonesian folktales based on their roles as protagonist, antagonist, and supporting character. Previous studies show that various methods have been developed for character identification in texts, including ranking models, linguistic feature analysis, machine learning techniques, and coreference-based methods. This study applies a method that is able to identify characters using the characteristic of Indonesian folktales.
This study utilizes 222 Indonesian folktales. The initial stage involves constructing ground truth data using a pseudolabeling method. Following that, a clustering process is carried out to group characters and their aliases, which then serve as the ground truth reference for the research. The next phase focuses on identifying characters based on linguistic structure, followed by determining each character’s type. The outcome of this entire process is a method to identify character and a model capable of automatically classifying characters into their respective types. Based on the results of this study, the character identification method using language structure obtained an f1-score value of 0,513. The character type classification method was evaluated using precision, recall, f1-score, and accuracy metrics and obtained the best values of 0,8438, 0,8281, 0,8311, 0,8408 using the Support Vector Machine (SVM) model with TF-IDF embedding
Studi Komparasi Performa Dinding Geser Beton Bertulang dan Dinding Geser Pelat Baja pada Gedung Perkuliahan 12 Lantai
Gempa bumi besar yang baru terjadi di Indonesia masih menimbulkan tingginya jumlah korban jiwa dan kerusakan infrastruktur meskipun telah dilakukan studi dan evaluasi terhadap gempa-gempa sebelumnya. Gaya lateral akibat gempa bumi adalah beban yang paling menentukan dalam perencanaan bangunan tahan gempa. Penting untuk menerapkan sistem struktur yang mampu menahan gaya lateral seperti sistem ganda (dual system) yaitu kombinasi dari sistem dinding geser dan rangka pemikul momen yang bekerja bersama. Di Indonesia, sistem dinding geser yang umum digunakan adalah dinding geser beton bertulang atau reinforced concrete shear walls (RCSW). Salah satu sistem dinding geser yang sedang berkembang adalah dinding geser material baja, yang dikenal dengan diding geser pelat baja atau steel plate shear walls (SPSW). Pada penelitian ini akan dilakukan studi komparasi antara sistem dinding geser beton bertulang dan sistem dinding geser pelat baja pada bangunan perkuliahan beton bertulang 12 lantai di Surabaya. Struktur akan dianalisis berdasarkan SNI 1726:2019 untuk diamati perbandingan periode struktur, base shear, dan story drift. Selanjutnya struktur dianalisis menggunakan analisis pushover untuk mengetahui tingkat kinerja struktur berdasarkan ASCE 41-17. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur sistem SPSW lebih fleksibel dan memikul gaya lateral yang lebih sedikit dengan periode struktur lebih besar 4% pada arah X dan 17% pada arah Y, base shear lebih kecil 14% pada arah X dan 27% pada arah Y, serta story drift lebih besar pada lantai bawah dibandingkan dengan struktur eksisting dinding geser beton bertulang. Dari segi tingkat kinerja struktur, struktur sistem SPSW dan sistem dinding geser beton bertulang mencapai tingkat kinerja yang sama yaitu Immediate Occupancy (IO) pada gempa BSE-1E dan BSE-2E.
======================================================================================================================================
The recent major earthquake in Indonesia, despite previous studies and evaluations, still caused significant fatalities and infrastructure damage. The most determining loads in designing earthquake-resistant structures are lateral forces due to earthquakes. Therefore, it is essential to implement a structural system that can withstand lateral forces, such as a dual system, which combines a shear wall system and moment-resisting frames. In Indonesia, the commonly used shear wall system is reinforced concrete shear walls (RCSW). One of the shear wall systems currently developed is a shear wall made of steel material, also known as steel plate shear walls (SPSW). This research presents a comparative study of reinforced concrete shear wall systems and steel plate shear wall systems in a 12-story reinforced concrete university building in Surabaya. The analysis of the structure is based on SNI 1726:2019 to compare the structural period, base shear, and story drift. Furthermore, to determine its structural performance level, the structure will be analyzed using pushover analysis based on ASCE 41-17. The results showed that the SPSW system is more flexibel and withstands less lateral load with a larger structure period of 4% in the X direction and 17% in the Y direction, a smaller base shear of 14% in the X direction and 27% in the Y direction, and larger story drift in lower stories compared to the reinforced concrete shear walls structure. In terms of structural performance level, both the SPSW system structure and reinforced concrete shear walls system structure reached the Immediate Occupancy (IO) level in the BSE-1E and BSE-2E earthquakes
Perencanaan Alternatif Timbunan Dengan Tanah Dan Mortar Busa Pada Jalan Tol Probolinggo – Banyuwangi Sta 45+300 – Sta 46+000
Jalan tol merupakan salah satu infrastruktur penting yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan akan akses yang cepat dan nyaman. Jalan Tol Probolinggo Banyuwangi dibangun untuk meningkatkan konektivitas dan mobilitas masyarakat dan logistik sehingga mempercepat pembangunan ekonomi di wilayah Jawa Timur. Pada proyek Jalan Tol Probolinggo Banyuwangi STA 45+300 hingga STA 46+000 direncanakan menggunakan timbunan tanah dengan tinggi timbunan 5 meter yang terletak di atas tanah lunak dengan N-SPT kurang dari 10 hingga kedalaman 8 meter. Tanah lunak ini memiliki daya dukung rendah dan berpotensi mengalami settlement besar, serta laju pemampatan berpotensi tidak memenuhi persyaratan Ditjen Bina Marga. Tugas akhir ini bertujuan membandingkan material dan metode timbunan. Pada tugas akhir ini direncanakan timbunan dengan kombinasi ketebalan material tanah timbunan dan mortar busa 100% tanah, 25% mortar busa 75% tanah, 50% mortar busa 50% tanah, 75% mortar busa 25% tanah, dan 100% mortar busa, dengan Prefabricated Vertical Drain (PVD) atau Replacement serta direncanakan perkuatan geotextile atau cerucuk bila diperlukan. Hasil yang diketahui adalah semakin tebal tanah memampat, semakin besar pemampatannya, semakin tebal mortar busa semakin kecil pemampatannya, dan semakin tebal replacement semakin kecil pemampatannya. Diketahui juga timbunan mortar busa lebih stabil lerengnya, serta timbunan mortar busa lebih mahal daripada timbunan tanah. Biaya timbunan yang dipilih paling mahal sebesar Rp48,623,807,754.05.
=====================================================================================================================================
The toll road is one of the essential infrastructures aimed at meeting the need for fast and convenient access. The Probolinggo–Banyuwangi Toll Road is being constructed to improve connectivity and mobility for both the public and logistics, thereby accelerating economic development in the East Java region. In the Probolinggo–Banyuwangi Toll Road project from STA 45+300 to STA 46+000, an embankment with a height of 5 meters is planned, located on soft soil with an N-SPT value of less than 10 to a depth of 8 meters. This soft soil has low bearing capacity and the potential for significant settlement, with the compression rate potentially failing to meet the requirements of the Directorate General of Highways. This thesis aims to compare embankment materials and methods. The embankment is planned using a combination of soil and foam mortar layers: 100% soil, 25% foam mortar and 75% soil, 50% foam mortar and 50% soil, 75% foam mortar and 25% soil, and 100% foam mortar, with the addition of Prefabricated Vertical Drains (PVD) or Replacement, and geotextile or pile reinforcement if necessary. The results show that the thicker the compressible soil, the greater the settlement; the thicker the foam mortar, the smaller the settlement; and the thicker the replacement, the smaller the settlement. It is also found that foam mortar embankments have more stable slopes and are more expensive than soil embankments. The most expensive embankment option selected costs Rp48,623,807,754.05
Sistem Penerjemah Bahasa Isyarat Berbasis Mediapipe Hand Landmark dan Deep Neural Network
Bahasa isyarat adalah sebuah bentuk bahasa yang tidak menggunakan komunikasi verbal, bahasa isyarat memungkinkan orang yang memiliki keterbatasan bicara atau mendengar dapat tetap berkomunikasi. Akan tetapi ada masalah, yaitu terbatasnya orang yang dapat menggunakan bahasa isyarat, khususnya orang normal yang terbiasa menggunakan bahasa verbal. Berdasarkan hal itu, ditawarkan solusi berupa sistem pengenalan bahasa isyarat berbasis mediapipe yang memungkinkan seseorang dapat mengerti bahasa isyarat. Penelitian ini bertujuan mengembangkan solusi untuk menerjemahkan salah satu bahasa isyarat yang digunakan di Indonesia , yaitu Sistem Isyarat Bahasa Indonedia (SIBI). Sistem akan dapat mengenali hingga 20 kata dalam bahasa isyarat SIBI. Sistem yang digagas bertujuan untuk mengenali dan mengklasifikasikan bahasa isyarat dengan input gambar, kemudian hasil dari terjemahan ini dikeluarkan dalam bentuk output gambar dan teks. Untuk melakukan klasifikasi pada penelitian ini, digunakan model pengenalan tangan mediapipe yang dikembangkan oleh Google dalam mengekstrak fitur landmarks dari gambar tangan, landmarks hasil ini kemudian diproses dalam model DNN untuk mendapatkan hasil dari klasifikasi. Hasil dari akurasi pelatihan yang dibuat menggunakan model CNN buatan penulis, didapatkan tingkat akurasi sebesar 98%. Sedangkan tingkat latensi dari model dikembangkan memiliki nilai paling kecil di angka 4.54 ms pada percobaan menggunakan perangkat Poco M6 Pro. Setelah melakukan pengujian pada beberapa perangkat android, didapat nilai total latensi paling kecil dengan lama waktu 201.28 ms. Setelah melakukan pengujian pada responden, didapatkan hasil tingkat akurasi rata-rata sebesar 92.5%.
==================================================================================================================================
Sign language is a form of language that does not use verbal communication. Sign language allows people with speech or hearing impairments to continue communicating. However, there is a problem, namely the limited number of people who can use sign language, especially normal people who are accustomed to using verbal language. Therefore, a solution is offered in the form of a MediaPipe-based sign language recognition system that allows people to continue to understand sign language. This research aims to develop this solution to translate one of the sign languages used in Indonesia, namely the Indonesian Sign Language System (SIBI). The system will be able to recognize up to 20 words in SIBI sign language. Using a machine learning method based on deep neural networks, a system was created for this solution. The proposed system aims to recognize and classify sign language using image input, with the translation results output in both image and text formats. For classification in this study, the MediaPipe hand recognition model developed by Google was used to extract landmark features from the hands. The accuracy of the training model, developed using a CNN model created by the author, achieved an accuracy rate of 98%. The latency level of the developed models has the smallest value at 4.54 ms when tested on the android device of Poco M6 Pro. After testing on several Android devices, the smallest total latency value was obtained with a duration of 201.28 ms. After testing on respondents, the average accuracy rate was found to be 92.5%
Perencanaan Ulang Pengolahan Sampah di TPS 3R KSM Bintang Timur 380, Kecamatan Pamekasan, Kabupaten Pamekasan
Kecamatan Pamekasan merupakan salah satu dari 13 kecamatan yang ada di Kabupaten Pamekasan dengan luas wilayah 26,47 km2. Kecamatan ini terdiri dari sembilan desa dan sembilan kelurahan dengan jumlah penduduk di tahun 2024 sebanyak 92.623 jiwa. Pengelolaan sampah perlu ditingkatkan menyesuaikan dengan timbulan sampah. Timbulan sampah Kabupaten Pamekasan pada tahun 2023 adalah 101.156,10 ton dengan reduksi sebesar 15,24% dan penanganan sampah sebesar 45,64%. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk (1) mengevaluasi kondisi eksisting TPS 3R, (2), menentukan potensi pengembangan pengelolaan sampah di TPS 3R, dan (3) merencanakan pengembangan pengolahan sampah di TPS 3R.
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan data timbulan, komposisi sampah, densitas sampah, dan kesetimbangan massa sebagai pertimbangan lokasi perencanaan. Timbulan sampah diketahui dengan mengukur volume gerobak sampah dan cakupan pelayanan. Komposisi sampah diukur mengacu pada SNI 19-3964-1994 dengan membagi sampah menjadi sembilan jenis. Data timbulan, komposisi, dan densitas sampah digunakan untuk menganalisis kesetimbangan massa dan merencanakan fasilitas pengolahan sampah di TPS 3R. Aspek finansial dilakukan dengan menghitung Bill Of Quantity (BOQ) dan Rencana Anggaran Biaya (RAB), biaya operasional dan pemeliharaan TPS 3R, serta potensi pendapatan untuk menentukan kelayakan finansial. Data primer didapatkan dari hasil perhitungan timbulan sampah, komposisi sampah, observasi lapangan, dan wawancara. Data sekunder bersumber dari kondisi fisik wilayah, data penduduk, dan peraturan terkait persampahan yang berlaku.
Kondisi eksisting menunjukkan TPS 3R KSM Bintang Timur 380 memerlukan perbaikan pada pengelolaan sampah, administrasi, dan partisipasi masyarakat. Laju timbulan sampah yang masuk ke TPS 3R sebesar 0,79 kg/orang.hari dengan densitas sampah sebesar 118,42 kg/m3. Sampah biodegradable mendominasi komposisi sampah sebesar 83,92% dan 16,08% berupa sampah non-biodegradable. Potensi reduksi sampah pada akhir tahun perencanaan dengan cakupan pelayanan 50% sebesar 57,45%. Perencanaan pengolahan sampah biodegradable sejumlah 3195,98 kg/hari menggunakan metode windrow dan pengolahan sampah plastik sejumlah 153,11 kg/hari direncanakan dengan pencacahan. Perlu direncanakan pembangunan hanggar baru untuk lahan pengomposan. Pengembangan TPS 3R memerlukan biaya investasi sebesar Rp1.415.320.812,00 dengan biaya operasional dan pemeliharaan sebesar Rp718.064.832,00. Estimasi pendapatan dari penjualan produk sampah dan iuran pelanggan sebesar Rp2.431.252.800,00. Hasil analisis finansial dengan NPV dan B/C menunjukkan nilai >1, sehingga dapat disimpulkan bahwa perencanaan ini layak untuk dijalankan.
========================================================================================================================================
Pamekasan Subdistrict is one of the 13 subdistricts in Pamekasan Regency with a total area of 26.47 km². The subdistrict consists of nine villages and nine urban villages, with a population in 2024 of 92,623 people. Solid waste management needs to be improved to adjust to the solid waste generation. The total solid waste generation in Pamekasan Regency in 2023 was 101,156.10 tons, with a reduction rate of 15.24% and waste handling of 45.64%. The objectives of this study were to (1) evaluate the existing condition of the TPS 3R, (2) determine the potential for developing waste management at the TPS 3R, and (3) plan the development of waste processing at TPS 3R.
This study used a quantitative method with data on solid waste generation, solid waste composition, solid waste density, and mass balance as considerations for redesigning the location. Solid waste generation was determined by measuring the volume of solid waste carts and service coverage. Solid waste composition was measured referring to SNI 19-3964-1994 by dividing waste into nine types. The data on solid waste generation, composition, and density were used to analyze mass balance and plan solid waste processing facilities at the TPS 3R. The financial aspect was conducted by calculating the Bill of Quantity (BOQ) and Budget Plan, operational and maintenance costs of the TPS 3R, as well as potential revenue to determine financial feasibility. Primary data were obtained from solid waste generation calculations, solid waste composition, field observations, and interviews. Secondary data came from physical conditions of the area, population data, and applicable solid waste management regulations.
The existing condition showed that TPS 3R KSM Bintang Timur 380 required improvements in solid waste management, administration, and community participation. The solid waste inflow rate to TPS 3R was 0.79 kg/person/day with a solid waste density of 118.42 kg/m³. Biodegradable solid waste dominated the solid waste composition at 83.92%, while the remaining 16.08% was non-biodegradable solid waste. The potential solid waste reduction at the end of the planning year with 50% service coverage was 57.45%. The plan for biodegradable waste processing was 3195.98 kg/day using the windrow composting method, and plastic waste processing of 153.11 kg/day was planned with shredding. A new hangar for composting land needed to be planned. The development of TPS 3R required an investment cost of Rp1.415.320.812,00, with operational and maintenance costs of Rp718.064.832,00. Estimated revenue from waste product sales and customer fees amounted to Rp2.431.252.800,00. Financial analysis using NPV and B/C showed values greater than 1, thus it was concluded that the plan was financially feasible to implement