49971 research outputs found
Sort by
Identifikasi Kerentanan Tanah untuk Desain Pondasi pada Gardu Induk 500 KV Bangil Menggunakan Metode Mikrotremor
Proyek pengembangan jaringan transmisi listrik menjadi prioritas PT PLN dalam rangka memenuhi peningkatan kebutuhan listrik nasional, termasuk pembangunan Gardu Induk 500 kV Bangil. Proyek ini membutuhkan pondasi yang kuat dan stabil, yang sangat bergantung pada karakteristik tanah di lokasi pembangunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat kerentanan tanah sebagai dasar perencanaan pondasi gardu induk menggunakan metode mikrotremor yang didukung oleh data bor. Metode mikrotremor digunakan untuk mengukur getaran alami tanah yang mencerminkan tingkat kerentanannya, sedangkan data bor berfungsi memvalidasi hasil tersebut serta memberikan informasi fisik tanah pada kedalaman tertentu. Kombinasi kedua metode ini diharapkan mampu memberikan gambaran komprehensif mengenai kondisi bawah permukaan, sehingga dapat digunakan untuk merancang pondasi yang aman, stabil, dan efisien. Penelitian ini juga bertujuan meminimalkan risiko kegagalan struktur serta meningkatkan efisiensi dalam pembangunan gardu induk. Berdasarkan hasil analisis parameter seperti frekuensi dominan (0,94 – 3,89 Hz), amplitudo H/V (2,1 – 4,40 kali), indeks kerentanan tanah (1,10 – 12,90 s²/cm), dan kecepatan gelombang geser rata-rata (Vs30) sebesar (274 – 396 m/s), dapat disimpulkan bahwa wilayah penelitian relatif aman untuk pembangunan infrastruktur gardu induk.
===================================================================================================================================
The development of the national electricity transmission network is a top priority for PT PLN to meet the growing electricity demand, including the construction of the 500 kV Bangil Substation. This project requires a strong and stable foundation, which largely depends on the soil characteristics at the construction site. This study aims to identify soil vulnerability as a basis for foundation design using the microtremor method, supported by borehole data. The microtremor method is used to measure natural ground vibrations that reflect soil vulnerability, while borehole data serve to validate the results and provide physical information on subsurface layers at specific depths. The combination of these methods is expected to offer a comprehensive understanding of subsurface conditions, allowing for the design of a safe, stable, and efficient foundation. The study also aims to minimize the risk of structural failure and enhance construction efficiency for the substation project. Based on the analysis of parameters such as dominant frequency (0,94 – 3,89 Hz), H/V amplitude (2,1 – 4,40 times), soil vulnerability index (1,10 – 12,90 s²/cm), and average shear wave velocity (Vs30) of (274 – 396 m/s), it can be concluded that the study area is relatively safe for substation developmen
Analisis Sebaran Endapan Porfiri Berdasarkan Data Aeromagnetik, Suseptibilitas Magnetik Dan Mineralisasi Pada Prospek "X"
Endapan porfiri terbentuk melalui proses magmatik-hidrotermal yang berasosiasi dengan intrusi kompleks batuan berkomposisi intermediate hingga felsik. Endapan ini merupakan salah satu sumber utama logam dunia, khususnya tembaga, emas, dan molibdenum. Pembentukan endapan ini umumnya berasosiasi dengan busur magmatik, seperti pada busur Sunda bagian timur. Potensi mineralisasi di wilayah tersebut mendorong eksplorasi lanjutan, termasuk pada prospek 'X' yang dikelola oleh PT Bumi Suksesindo dan menjadi fokus dalam penelitian ini. Salah satu metode eksplorasi yang dapat digunakan yaitu metode magnetik dengan memanfaatkan variasi anomali magnetik. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui persebaran anomali magnetik berdasarkan pengukuran aeromagnetik serta mengidentifikasi persebaran endapan porfiri berdasarkan pemodelan suseptibilitas magnetik, kandungan mineral molibdenum (Mo) dan besi (Fe). Perangkat yang digunakan dalam pengambilan data aeromagnetik meliputi drone DJI Matrice 600 Pro, magnetometer base GSM-19/19F, serta magnetometer drone GSMP-35U dengan didapatkan sebanyak 405.601 data aeromagnetik. Kemudian, data suseptibilitas magnetik diperoleh dengan menggunakan alat suseptibilitas meter KT-10R S/C . Sementara itu, data geochemical assay Mo dan Fe didapatkan dari hasil uji laboratorium. Data aeromagnetik yang diperoleh kemudian dilakukan pengolahan menggunakan software pengolahan data magnetik untuk menghasilkan peta anomali regional dan peta analytic signal. Kemudian, untuk memetakan distribusi anomali magnetik bawah permukaan dilakukan proses inversi tiga dimensi. Sementara itu, data geochemical assay Mo dan Fe dimodelkan secara tiga dimensi menggunakan metode interpolasi Radial Basis Function (RBF) pada software pemodelan 3D sehingga dapat dilakukan korelasikan dengan hasil inversi 3D magnetik. Hasil penelitian ini, menunjukkan sebaran anomali magnetik tinggi berada pada area tengah lokasi penelitian yang menunjukkan bentuk batas melingkar atau disebut dengan circular feature. Anomali magnetik tinggi tersebut mengindikasikan adanya asosiasi dengan kandungan mineral magnetit yang terbentuk sebagai hasil dari alterasi hidrotermal dalam zona potasik yang terletak pada zona inti porfiri. Selain itu, berdasarkan hasil korelasi pemodelan 3D, section RS (area kanan) menunjukkan adanya korelasi kuat antara inversi 3D magnetik, suseptibilitas magnetik, dan kandungan Mo, meskipun model distribusi Fe pada section ini belum menunjukkan korelasi signifikan akibat terbatasnya data bor. Sedangkan, pada section VW (area kanan) dan XY (area kanan), hasil inversi 3D magnetik kurang menunjukkan adanya korelasi yang signifikan disebabkan kekosongan data pengukuran aeromagnetik. Hasil penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi signifikan dalam pengembangan strategi eksplorasi yang lebih efisien dan efektif berbasis distribusi endapan porfiri.
=================================================================================================================================
Porphyry deposits are formed through magmatic-hydrothermal processes associated with the intrusion of intermediate to felsic rock complexes. These deposits represent one of the world’s primary sources of metals, particularly copper, gold, and molybdenum. Their formation is generally linked to magmatic arcs, such as the eastern segment of the Sunda Arc. The mineralization potential in this region has driven continued exploration, including at the “X” prospect managed by PT Bumi Suksesindo, which is the focus of this study. One of the exploration methods employed is magnetic surveying, which utilizes variations in magnetic anomalies. This study aims to delineate the distribution of magnetic anomalies based on aeromagnetic measurements and to identify porphyry deposit distributions through modeling of magnetic susceptibility, and molybdenum (Mo) and iron (Fe) concentrations. The aeromagnetic data were acquired using a DJI Matrice 600 Pro drone, a GSM-19/19F base magnetometer, and a GSMP-35U drone magnetometer, yielding a total of 405,601 data points. Magnetic susceptibility data were obtained using a KT-10R S/C susceptibility meter. Meanwhile, geochemical assay data for Mo and Fe were derived from laboratory analysis. The aeromagnetic data were processed using magnetic data processing software to generate regional anomaly maps and analytic signal maps. Three-dimensional inversion was then conducted to map subsurface magnetic anomaly distributions. Additionally, geochemical assay data for Mo and Fe were modeled in 3D using the Radial Basis Function (RBF) interpolation method in 3D modeling software, enabling correlation with the 3D magnetic inversion results. The results indicate that high magnetic anomalies are concentrated in the central part of the study area, forming a circular feature. These high anomalies are interpreted to be associated with magnetite mineralization, likely formed due to hydrothermal alteration within the potassic zone, which represents the core of the porphyry system. Furthermore, based on 3D modeling correlations, the RS section (right area) exhibits a strong correlation among the 3D magnetic inversion, magnetic susceptibility, and Mo concentrations, although the Fe distribution model in this section does not show significant correlation due to limited drillhole data. In contrast, the VW (right area) and XY (right area) sections show weak correlation with the 3D magnetic inversion, likely due to gaps in aeromagnetic data coverage. This research is expected to contribute significantly to the development of more efficient and effective exploration strategies based on the distribution of porphyry deposits
Rancang Bangun Sistem Kontrol Temperatur pada Plant Pasteurisasi Susu Berbasis Gelombang Mikro dengan Metode High Temperature Short Time (HTST)
Susu sapi mentah pada umumnya memiliki kontaminasi bakteri yang berasal dari lingkungan maupun sapi itu sendiri. Bakteri coliform merupakan salah satu kelompok bakteri yang digunakan sebagai indikator sanitasi produk pangan, termasuk sanitasi pada susu. Berdasarkan SNI 7388 tahun 2009, batas cemaran maksimum untuk jenis mikroba coliform di dalam susu segar mentah yaitu sebesar 20 koloni/ml. Salah satu cara untuk meminimalisir cemaran mikroba dalam susu segar mentah agar susu tersebut tidak melebihi batas cemaran maksimum yaitu dengan menerapkan pasteurisasi. Pada proyek akhir ini berhasil dibuat prototipe plant pasteurisasi susu dengan sistem kontrol temperatur yang memanfaatkan gelombang mikro. Plant pasteurisasi susu akan dibuat dengan memodifikasi microwave sebagai pemanas dielektrik. Metode pasteurisasi yang akan digunakan pada plant pasteurisasi susu ini adalah HTST (High Temperature Short Time) dengan pemanasan susu pada temperatur 72˚C selama 15 detik. Performa sistem kontrol temperatur menunjukan nilai error sebesar 0,750303% dan akurasi sebesar 99,2497%. Variasi power yang direkomendasikan adalah variasi power high yang memiliki dengan nilai rise time sebesar 421 detik (7 menit) dan settling time sebesar 527 detik (8,78 menit), yang merupakan nilai paling singkat dibandingkan dengan variasi lainnya. Plant pasteurisasi susu berbasis gelombang mikro dengan metode HTST yang dilengkapi sistem kontrol temperatur dan HMI berbasis LabVIEW mampu menghilangkan cemaran coliform yang terkandung di dalam susu sapi mentah sehingga susu aman untuk dikonsumsi.
==================================================================================================================================
Raw cow's milk generally has bacterial contamination that comes from the environment and the cow itself. Coliform bacteria are one group of bacteria used as indicators of food product sanitation, including sanitation in milk. Based on SNI 7388 of 2009, the maximum contamination limit for coliform microbes in raw fresh milk is 20 colonies/ml. One way to minimise microbial contamination in raw fresh milk so that the milk does not exceed the maximum contamination limit is by applying pasteurisation. In this final project, a prototype of milk pasteurisation plant with a temperature control system utilising microwaves is successfully made. The milk pasteurization plant will be made by modifying the microwave as a dielectric heater. The pasteurization method to be used in this milk pasteurisation plant is HTST (High Temperature Short Time) by heating milk at 72˚C for 15 seconds. The suggested power variation is the high power variation which has a rise time value of 421 seconds (7 minutes) and a settling time of 527 seconds (8.78 minutes), which is the shortest value compared to other variations. Microwave-based milk pasteurization plant with HTST method equipped with temperature control system and LabVIEW-based HMI is able to eliminate coliform contamination contained in raw cow's milk so that the milk is safe for consumptio
Analisis Kekuatan dan Stabilitas Stone Dike Pada Proyek Pembangunan Pelabuhan Patimban Fase 1-2 Paket 5
Pelabuhan Patimban merupakan pelabuhan yang dibangun diatas lahan baru yang merupakan hasil reklamasi. Untuk membatasi area reklamasi dan menahan material yang digunakan, maka akan dibangun stone dike sebagai struktur penahan. Stone dike dibangun menggunakan susunan batu kelas 1 dengan ukuran 10 - 200 kg. Struktur penahan ini diharapkan mampu memberikan stabilitas di dasar laut, karena dibagian atas struktur penahan dan material reklamasi akan terdapat sand fill, asphalt, dan material lain yang akan dimanfaatkan sebagai suatu terminal dalam pelabuhan. Pada penelitian ini, penulis akan melakukan analisis kekuatan dan stabilitas stone dike yang dimanfaatkan sebagai struktur penahan yang fondasinya diperkuat dengan metode Cement Deep Mixing (CDM). Analisis yang diperhitungkan adalah kekuatan dan tabilitas struktur pada saat proses konstruksi yaitu dengan beban excavator yang digunakan untuk membentuk susunan batu, kekuatan dan stabilitas struktur dalam menahan beban setelah proses konstruksi dan pengaruh jenis fondasi. Berdasarkan hasil analisis, struktur dinyatakan stabil dalam kondisi saat proses konstruksi dan setelah proses konstruksi jika menggunakan perkuatan fondasi. Struktur akan mengalami kegagalan atau keruntuhan jika menggunakan fondasi tanpa perkuatan atau fondasi dengan tanah asli.
============================================================================================================================================
Patimban Port is a port built on new land which is the result of reclamation. To limit the reclamation area and hold the materials used, a stone dike will be built as a retaining structure. The stone dike is built using a class 1 stone arrangement with a size of 10 - 200 kg. This retaining
structure is expected to provide stability on the seabed, because on the top of the retaining structure and reclaimed material there will be sand fill, asphalt, and other materials that will be used as a terminal in the port. In this study, the author will conduct an analysis of the strength
and stability of the stone dike which is used as a retaining structure whose foundation is reinforced with the Cement Deep Mixing (CDM) method. The analysis that is taken into account is the strength and stability of the structure during the construction process, namely with the excavator load used to form the stone arrangement, the strength and stability of the structure in holding the load after the construction process and the influence of the type of foundation. Based on the results of the analysis, the structure is declared stable under conditions during the construction process and after the construction process if using foundation reinforcement. The structure will fail or collapse if using a foundation without reinforcement or a foundation with native soil
Penerapan Framework COBIT 2019 Dalam Manajemen Risiko Dan Keamanan Informasi Berbasis Subdomain BAI11, APO12 Dan BAI04 (Studi Kasus: PT. Telkom Akses Area Balinusra)
Penelitian ini membahas implementasi tata kelola teknologi informasi di PT Telkom Akses area BALINUSRA menggunakan framework COBIT 2019. COBIT 2019 dipilih karena kemampuannya dalam mengevaluasi dan menyelaraskan strategi teknologi informasi dengan tujuan bisnis. Penelitian ini dilakukan dengan landasan COBIT 2019 yang dimana menghasilkan tiga subdomain BAI11 : Managed Projects, APO12 : Managed Risks dan BAI04 : Managed Availability & Capacity.
Metodologi yang digunakan meliputi studi literatur, pengumpulan data lapangan, peni- laian kondisi, evaluasi, dan penyusunan rekomendasi. Penelitian ini mengidentifikasi kesen- jangan pada aspek manajemen risiko, keamanan data, dan keselarasan IT dengan bisnis, serta memberikan rekomendasi untuk perbaikan. Studi literatur mendukung pemahaman yang komprehensif terhadap COBIT 2019 terkhusus pada tiga subdomain subdomain BAI11 : Managed Projects, APO12 : Managed Risks dan BAI04 : Managed Availability & Capacity.
Hasil analisis menunjukan kondisi saat ini pada subdomain BAI11 : Managed Projects ( Level 3), APO12 : Managed Risks ( Level 2 )dan BAI04 : Managed Availability & Capacity ( Level 3 ) dan terdapat satu gap level pada masing-masing subdomain. Untuk mengoptimalkan manajemen risiko dan keamanan informasi ditawarkan solusi dan rekomendasi aksi untuk mengoptimalkan celah yang ada. Audit dan evaluasi rutin harus dilakukan secara berkala untuk meninjau efektivitas pelaksanaan rekomendasi serta pelatihan keamanan informasi dan tata kelola risiko harus diperluas kepada seluruh unit kerja, khususnya tim TI dan manajemen proyek, agar penerapan framework COBIT 2019 merata dan konsisten.
======================================================================================================================================
This research discusses the implementation of IT governance at PT Telkom Akses, BAL- INUSRA area, using the COBIT 2019 framework. COBIT 2019 was chosen for its ability to evaluate and align IT strategies with business objectives. The study is based on COBIT 2019 and focuses on three subdomains BAI11: Managed Projects, APO12: Managed Risks, and BAI04: Managed Availability & Capacity.
The methodology used includes literature review, field data collection, condition assessment, evaluation, and the formulation of recommendations. The study identifies gaps in risk management, data security, and IT-business alignment, and provides recommendations for improvement. The literature review supports a comprehensive understanding of COBIT 2019, particularly in the three subdomains BAI11: Managed Projects, APO12: Managed Risks, and BAI04: Managed Availability & Capacity.
The analysis results show the current conditions for the subdomainsBAI11: Managed Projects, APO12: Managed Risks, and BAI04: Managed Availability & Capacity., each having a one-level gap. To optimize risk management and information security, solutions and recommended actions are proposed to address the existing gaps. Regular audits and evaluations must be conducted periodically to review the effectiveness of recommendation implementation, and information security and risk governance training should be expanded to all work units, especially the IT team and project management, to ensure consistent and widespread adoption of the COBIT 2019 framework
Optimalisasi Suhu Air Keluaran Pada Sistem Water Cooling Menggunakan Thermoelectric Cooler Tipe (TEC1-12706)
Tanaman hidroponik seperti stroberi, sawi, pakcoy merupakan komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi yang potensial untuk dikembangkan, terutama di daerah dataran tinggi. Namun, pertumbuhan tanaman tersebut di dataran rendah memerlukan perhatian khusus terhadap suhu, kelembapan, dan sistem penyiraman, agar dapat menghasilkan produk yang berkualitas. Penelitian ini fokus pada pengoptimalan suhu air keluaran berbasis TEC1-12706 dengan Mikrokontroler Arduino Uno untuk mendukung budidaya tanaman secara hidroponik. Melalui pemantauan suhu air yang tepat, diharapkan pertumbuhan tanaman hidroponik dapat berlangsung optimal pada kisaran suhu 22-18.5°C, sehingga dapat meningkatkan hasil panen. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai alternatif sistem penyiraman yang ramah lingkungan dan efisien untuk dijadikan pengaplikasian sistem penyiraman tanaman-tanaman yang membutuhkan suhu air dibawah suhu ruang dapat tumbuh secara optimal meskipun dibudidayakan di wilayah dataran rendah.
========================================================================================================================================
Hydroponic crops such as strawberries, mustard greens, and pakcoy are high-value horticultural commodities with strong development potential, particularly in upland areas. However, cultivating these crops in lowland regions requires special attention to temperature, humidity, and irrigation systems in order to produce high-quality yields. This research focuses on optimizing water output temperature using a TEC1-12706 Thermoelectric Cooler controlled by an Arduino Uno microcontroller to support hydroponic cultivation. By properly monitoring water temperature, it is expected that hydroponic crops can grow optimally within the temperature range of 22°C to 18.5°C, thereby improving crop productivity. The results of this research are expected to provide insight into alternative irrigation systems that are both environmentally friendly and efficient, serving as a potential solution for maintaining sub-room temperature water conditions necessary for optimal crop growth in lowland environments
Deteksi Botnet Spam dengan Cascade Learner dan Ensemble Feature Selection
Botnet merupakan jenis malware yang menginfeksi banyak perangkat dan dikendalikan oleh seorang botmaster untuk menjalankan aktivitas berbahaya, termasuk pengiriman spam. Deteksi botnet, khususnya dalam membedakan lalu lintas normal, botnet non-spam, dan botnet spam, tetap menjadi tantangan utama dalam bidang keamanan siber. Penelitian sebelumnya umumnya berfokus pada klasifikasi lalu lintas jaringan menjadi dua kelas: normal dan botnet. Namun, eksplorasi mengenai klasifikasi multikelas, terutama dalam membedakan botnet spam, masih terbatas dan belum banyak dikaji secara mendalam. Studi ini mengusulkan kerangka kerja klasifikasi cascade learner dua tahap yang dikombinasikan dengan metode seleksi fitur ensemble menggunakan agregasi peringkat untuk meningkatkan akurasi deteksi. Metode seleksi fitur ensemble ini mengintegrasikan berbagai teknik, seperti SelectKBest (Chi-Squared, ANOVA F-Test, Mutual Information), Variance Threshold, Backward Elimination, Recursive Feature Elimination, dan SelectFromModel (berbasis pohon keputusan), dengan hasil peringkat digabungkan menggunakan metode Borda count. Proses klasifikasi dilakukan dalam dua tahap: Tahap 1 membedakan antara lalu lintas normal dan botnet, sedangkan Tahap 2 mengklasifikasikan lebih lanjut lalu lintas botnet menjadi botnet non-spam dan botnet spam. Model ini dievaluasi menggunakan tiga dataset yang umum digunakan, yaitu CTU-13, NCC, dan NCC-2. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa penggunaan algoritma Random Forest pada kedua tahap klasifikasi serta sepuluh fitur teratas yang dipilih menghasilkan performa yang sangat tinggi. Model ini mencapai rata-rata nilai macro Precision sebesar 99,77%, Recall 98,87%, F1-score 99,29%, dan F2-score 99,04%, dengan akurasi sebesar 99,93%. Pendekatan yang diusulkan menunjukkan performa terkini (state-of-the-art), khususnya dalam mendeteksi botnet spam, jika dibandingkan dengan penelitian terdahulu.
=================================================================================================================================
A botnet is a type of malware that infects multiple devices and operates under the control of a botmaster to carry out malicious activities, including spamming. Detecting botnets, especially distinguishing between normal traffic, non-spam botnets, and spam botnets, remains a critical challenge in cybersecurity. Previous research has primarily focused on classifying network traffic as benign or botnet-related. However, there has been limited exploration of multiclass classification, particularly in distinguishing spam botnets, with relatively few in- depth studies on this subject. This study proposes a two-stage cascade learner classification framework combined with ensemble feature selection using rank aggregation to enhance detection accuracy. The ensemble feature selection method integrates multiple techniques, including SelectKBest (Chi-Squared, ANOVA F-Test, Mutual Information), Variance Threshold, Backward Elimination, Recursive Feature Elimination, and SelectFromModel (tree- based), with rankings aggregated using the Borda count method. The classification process follows a two-stage approach: Stage 1 differentiates between normal and botnet traffic, while Stage 2 further classifies botnet traffic into non-spam botnets and spam botnets. The model was evaluated on three widely used datasets: CTU-13, NCC, and NCC-2. Experimental results show that using Random Forest (RF) in both classification stages and the top ten selected features yields exceptional performance. The model achieves an average macro Precision of 99,77%, recall of 98,87%, F1-score of 99,29%, and F2-score of 99,04%, with 99,93% accuracy. The proposed approach demonstrates state-of-the-art performance, particularly in spam botnet detection, compared to previous studies
Peningkatan Kinerja Bongkar Muat Batu Bara pada Terminal Bongkar Muat dengan Konsep Lean Thinking
Industri logistik pertambangan batu bara di Indonesia memiliki peran strategis sebagai penghasil batu bara terbesar dunia, dengan kontribusi signifikan terhadap penerimaan negara. PT XYZ adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang logistik, khususnya sebagai terminal bongkar muat batu bara. Kondisi operasional PT XYZ menunjukkan target peningkatan volume bongkar muat dari 4,39 juta metrik ton pada tahun 2023 menjadi 6,41 juta metrik ton pada 2026. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kendala utama, pemborosan yang terjadi, serta usulan perbaikan dalam proses bongkar muat batu bara di PT XYZ guna meningkatkan efisiensi dan produktivitas melalui pendekatan lean thinking. Metodologi penelitian ini mencakup pendekatan kualitatif melalui value stream mapping dan kuantitatif menggunakan fishbone diagram untuk menghasilkan analisis yang komprehensif. Selanjutnya, analisis dilakukan melalui pemetaan aktivitas proses (process activity mapping), penyusunan current state map, dan perancangan future state map untuk memberikan usulan perbaikan. Pada hasil penelitian, didapatkan beberapa rekomendasi perbaikan dari hasil analisis pada aktivitas pembongkaran atau pemuatan batu bara yang termasuk Value Added (VA) ataupun Necessary but Non-Value Added (NNVA). Usulan perbaikan tersebut seperti penerapan metode pembongkaran double crossing, digitalisasi proses administrasi, dan penggunaan teknologi drone untuk mempermudah proses inspeksi fisik di lapangan. Apabila usulan tersebut dapat diterapkan, didapatkan peningkatan efektivitas waktu pada kegiatan bongkar muat batu bara sebesar 14,20%, dengan rincian kegiatan pembongkaran mengalami peningkatan 25,30% atau dari 1.004 menit menjadi 750 menit, dan kegiatan pemuatan batu bara sebesar 3,10% atau dari 3.067 menit menjadi 2.972 menit.
================================================================================================================================
The coal mining logistics industry in Indonesia plays a strategic role as the world’s largest coal producer, contributing significantly to state revenue. PT XYZ is a company operating in the logistics sector, specifically as a coal unloading terminal. The operational performance of PT XYZ indicates a target increase in coal unloading volume from 4.39 million metric tons in 2023 to 6.41 million metric tons by 2026. Therefore, this study aims to analyze the main operational constraints, types of waste, and improvement opportunities in coal loading and unloading activities at PT XYZ to enhance process efficiency and productivity through the application of lean thinking. This research adopts a qualitative approach using value stream mapping and a quantitative approach utilizing the fishbone diagram to produce a comprehensive analysis. The analysis was conducted through process activity mapping, current state map construction, and future state map design to generate improvement proposals. Based on the results, several improvement recommendations were formulated for coal loading and unloading activities categorized as Value Added (VA) or Necessary but Non-Value Added (NNVA). These recommendations include the implementation of the double crossing unloading method, administrative process digitalization, and the use of drone technology to facilitate physical inspection activities in the field. If implemented, these improvements are projected to increase operational effectiveness by 14.20%, consisting of a 25.30% improvement in unloading activities (from 1,004 minutes to 750 minutes) and a 3.10% improvement in loading activities (from 3,067 minutes to 2,972 minutes)
Perancangan dan Analisis Algoritma Pembangkit Struktur Graf Kaktus pada Permasalahan: Studi Kasus E-Olymp 9582 - Cactus Revenge
E-Olymp merupakan situs penilaian kode daring yang menyediakan berbagai soal algoritma dan struktur data dengan beragam tingkat kesulitan. Pengguna dapat mengirimkan solusi dalam bentuk program untuk dievaluasi secara otomatis. Tugas akhir ini mengkaji studi kasus dari soal E-Olymp dengan kode 9582 berjudul “Cactus Revenge”.
Permasalahan ini berfokus pada graf kaktus, yaitu graf di mana setiap dua siklus sederhana berbagi paling banyak satu vertex. Dalam kasus ini, masukan berupa jumlah vertex dan konfigurasi derajat masing-masing vertex. Tujuannya adalah membentuk graf yang memenuhi properti graf kaktus sesuai dengan derajat yang telah ditentukan. Penyelesaian dilakukan dengan pendekatan yang merujuk pada sifat dasar graf kaktus. Strategi disusun secara iteratif melalui tahapan validasi derajat, pemisahan antara kasus tanpa siklus dan dengan siklus, serta konstruksi graf secara bertahap.
Metode pengujian pada tugas akhir ini dilakukan untuk mengevaluasi kebenaran solusi, yaitu dengan mengirimkan kode sumber dari implementasi algoritma ke sistem penilaian daring E-Olymp. Berdasarkan hasil pengujian, algoritma yang dirancang berhasil menyelesaikan seluruh uji kasus dengan waktu rata-rata eksekusi 1 milidetik dan penggunaan memori sebesar 0,49 MB pada sepuluh pengujian. Hasil ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis properti graf kaktus dapat menyelesaikan studi kasus secara tepat dan efisien sesuai dengan batasan sistem.
======================================================================================================================================
E-Olymp is an online code judge site that offers various algorithm and data structure problems with different levels of difficulty, which users can solve by submitting code. This undergraduate thesis examines a case study based on problem 9582 titled “Cactus Revenge”.
The problem focuses on the cactus graph, a graph in which any two cycles share at most one vertex. Given the number of vertices and desired degrees for each vertex. The goal of this case study is to generate a graph that adheres to the properties of a cactus graph and satisfies the specified degree constraints. The solution is done with an approach that refers to the basic properties of cactus graphs. The strategy is developed iteratively through the stages of degree validation, separation between cases without cycle and with cycle, and gradual graph construction.
The testing method was conducted to evaluate the correctness of the solution by sending the source code of the algorithm implementation to the E-Olymp online assessment system. Based on test result, the solution successfully completed the problem within 1 millisecond and used 0.49 MB of memory in ten tests, complying with the constraints set by the E-Olymp online judge
Analisis Kelayakan Bisnis Dengan Sistematika Kerjasama Pemerintah Dan Badan Usaha Studi Kasus Proyek Gedung Xyz
Pemindahan Ibu Kota Negara Republik Indonesia ke Nusantara merupakan langkah strategis untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi DKI Jakarta, seperti kemacetan, kepadatan penduduk, dan penurunan kualitas lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan investasi dan alternatif skema kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU) dalam pembangunan gedung XYZ yang dirancang sebagai hunian bagi aparatur sipil negara (ASN) di IKN. Dengan proyeksi populasi yang terus meningkat, kebutuhan akan perumahan yang efisien dan berkelanjutan menjadi sangat mendesak. Di sisi lain, pembangunan besar membutuhkan biaya yang besar. Keterbatasan anggaran untuk pendanaan atau funding gap pada APBN, memerlukan alternatif skema pembiayaan KPBU. Metode penelitian ini meliputi analisis finansial dengan menghitung Net Present Value (NPV). Internal Rate of Return (IRR), Return on Invesment (ROI). Penelitian ini juga membahas batasan sensitivitas investasi dalam skema pembiayaan KPBU, serta membandingkan 3 skema lingkup proyek KPBU yaitu Design-Build-Finance-Operate-Maintenance (D-B-F-O-M), Design-Build-Finance-Maintenance (D-B-F-M), dan Design-Build-Finance-Operate (D-B-F-O). Hasilnya penelitian menunjukkan skema DBFOM merupakan pilihan investasi paling tepat bagi badan usaha pelaksana dengan nilai NPV tertinggi dibandingkan skema DBFM dan DBFO lainnya. Skema DBFOM menghasilkan AP sebesar Rp.618.716.161.027 pertahun dan NPV sebesar Rp.180.524.597.576, tingkat Internal Rate of Return (IRR) sebesar 12,94%, serta Return on Invesment (ROI) sebesar 5,21%. Selain itu, skema ini juga memberikan konstribusi positif kepada pemerintah. Dalam analisa sensitivitas perubahan biaya capex dan opex maksimal + 5%, sedangkan untuk perubahan pengurangan AP maksimal di - 4%. Dengan demikian, penelitian ini dapat mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan dan merata di Indonesia.
===================================================================================================================================
The relocation of the Capital City of the Republic of Indonesia to Nusantara represents a strategic initiative aimed at addressing the challenges faced by DKI Jakarta, such as traffic congestion, population density, and declining environmental quality. This study aims to analyze the investment feasibility and alternative schemes of public-private partnership (PPP) in the development of Building XYZ, designed as housing for civil servants (ASN) in the new capital. With a continuously increasing population projection, the demand for efficient and sustainable housing has become critically urgent. Conversely, large-scale development requires substantial funding. The limitations of the budget for financing or the funding gap in the state budget necessitate alternative PPP financing schemes. The research methodology includes financial analysis through the calculation of Net Present Value (NPV). This study also examines the sensitivity limits of investments within the PPP financing scheme and compares three project scope schemes: Design-Build-Finance-Operate-Maintenance (D-B-F-O-M), Design-Build-Finance-Maintenance (D-B-F-M), and Design-Build-Finance-Operate (D-B-F-O). The research results show that the DBFOM scheme is the most appropriate investment choice for the implementing business entity, with the highest Net Present Value (NPV) compared to the DBFM and DBFO schemes. The DBFOM scheme yields an Availability Payment (AP) of Rp 618.716.161.027 and NPV of Rp.180.524.597.576, an Internal Rate of Return (IRR) of 12.94%, and a Return on Investment (ROI) of 5.21%. Additionally, this scheme provides a positive contribution to the government. In the sensitivity analysis, the maximum increase in capital expenditure (Capex) and operational expenditure (Opex) is +5%, while the maximum decrease in AP is -4%. Thus, this research can promote sustainable and equitable growth in Indonesia