49971 research outputs found
Sort by
Potensi Penerapan Kebijakan Land Value Capture melalui Optimasi Peningkatan Pajak (Betterment Tax) dan Bonus Zoning (Zoning Bonuses) pada Sekitar Pembangunan Tol Akses Balikpapan - Ibu Kota Nusantara (IKN)
Penelitian ini mengkaji potensi penerapan kebijakan Land Value Capture (LVC) sebagai strategi fiskal inovatif untuk mendukung pendanaan pembangunan infrastruktur di sekitar kawasan Tol Akses Balikpapan – Ibu Kota Nusantara (IKN). Melalui pendekatan rasionalisme dan metode campuran (mixed-method), penelitian ini menyusun model LVC berbasis dua instrumen utama: pajak peningkatan nilai (betterment tax) melalui penyesuaian Nilai Jual Objek Pajak (NJOP), dan bonus zonasi (zoning bonuses) melalui kompensasi pelampauan Koefisien Lantai Bangunan (KLB). Analisis dilakukan terhadap variasi spasial harga tanah dengan metode regresi linier, identifikasi variabel penentu nilai lahan, dan pengumpulan konsensus melalui metode Delphi terhadap pemangku kepentingan. Secara kuantitatif, hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model LVC optimal mampu menghasilkan potensi tangkapan nilai kawasan sebesar Rp470,7 triliun hingga tahun 2033. Dalam skenario pembangunan 20% area tangkapan, LVC berpotensi menyumbang pendapatan daerah hingga Rp94,15 triliun, jauh lebih tinggi dibanding skenario non-optimasi (Rp53,4 triliun) dan tanpa kenaikan NJOP (Rp9,06 triliun). Proyeksi tahunan menunjukkan tren pertumbuhan dari Rp271,89 triliun pada tahun 2029 menjadi Rp639,16 triliun pada tahun 2033. Instrumen kompensasi KLB juga menunjukkan efektivitas dengan potensi kontribusi tunai hingga Rp7,67 triliun. Penelitian ini menegaskan bahwa kebijakan LVC tidak hanya berperan dalam menyeimbangkan manfaat ekonomi antara pemerintah dan pemilik lahan, namun juga mendorong pemanfaatan ruang kota yang lebih adil dan berkelanjutan. Temuan ini diharapkan menjadi referensi penting dalam perumusan kebijakan fiskal dan tata ruang, khususnya pada wilayah yang terdampak pembangunan infrastruktur strategis nasional.
=================================================================================================================================
This study investigates the potential implementation of Land Value Capture (LVC) as an innovative fiscal mechanism to finance infrastructure development surrounding the Balikpapan – Nusantara Capital City (IKN) Access Toll Road. Utilizing a rationalist framework and a mixed-methods approach, the research develops a dual-instrument LVC model, consisting of betterment tax via adjustment of the Sales Value of Tax Objects (NJOP) and zoning bonuses through compensation for exceeding the Floor Area Ratio (FAR). The methodology incorporates spatial analysis using the linier regression model to identify land value variation, regression-based assessment of influencing variables, and a stakeholder consensus analysis using the Delphi method. Quantitatively, the optimized LVC model demonstrates a cumulative potential land value capture of IDR 470.7 trillion by 2033. In a 20% development scenario, this model can generate up to IDR 94.15 trillion in local revenue, significantly outperforming the non-optimized (IDR 53.4 trillion) and baseline NJOP scenarios (IDR 9.06 trillion). Annual projections between 2029–2033 indicate an upward trajectory from IDR 271.89 trillion to IDR 639.16 trillion in LVC value. Furthermore, zoning bonus instruments—implemented via FAR exceedance compensation—offer a cash revenue stream projected to reach IDR 7.67 trillion. This study affirms LVC’s strategic relevance in balancing public-private economic benefits, fostering efficient land use, and enhancing the financial autonomy of local governments in managing spatial growth. The proposed LVC framework offers valuable insights for fiscal reform and spatial planning policy, particularly in rapidly transforming peri-urban contexts influenced by national strategic infrastructure projects
Analisis Niat Perilaku dan Perilaku Pengguna Bus Listrik dalam Transportasi Umum Massal di Kota Surabaya
Transportasi massal di Kota Surabaya dimulai sejak tahun 2018, namun menghadapi berbagai tantangan seperti rendahnya tingkat adopsi oleh masyarakat, kurangnya kenyamanan, serta isu keterlambatan dan ketersediaan yang tidak konsisten. Pemerintah Kota Surabaya berkomitmen menggunakan bus listrik sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan ini karena bus listrik menawarkan efisiensi energi, pengurangan emisi gas rumah kaca, dan peningkatan kualitas udara. Namun, masih ada beberapa hambatan yang dihadapi, terutama dalam memahami faktor-faktor yang memengaruhi penerimaan dan penggunaan bus listrik oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat penerimaan dan penggunaan bus listrik serta merumuskan rekomendasi strategis agar adopsi bus listrik lebih luas di Kota Surabaya. Metode yang digunakan adalah Unified Theory of Acceptance and Use of Technology 2 (UTAUT2), yang berfokus pada tujuh variabel utama: performance expectancy, effort expectancy, social influence, facilitating conditions, hedonic motivation, price value, dan habit. Data dikumpulkan dari pengguna transportasi umum di Surabaya dan dianalisis menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) dengan perangkat lunak SmartPLS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 12 hipotesis yang diuji, 7 diterima dan 5 ditolak. Faktor performance expectancy, effort expectancy, social influence, facilitating conditions, hedonic motivation, dan habit terbukti memiliki pengaruh signifikan terhadap niat dan perilaku penggunaan bus listrik. Sebaliknya, price value dan experience tidak menunjukkan pengaruh langsung yang signifikan terhadap adopsi. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa penerimaan dan penggunaan bus listrik di Kota Surabaya dapat ditingkatkan dengan memperbaiki fasilitas halte di lokasi strategis, mengembangkan aplikasi informasi rute yang lebih interaktif, meningkatkan kenyamanan layanan, serta menerapkan strategi promosi dan edukasi masyarakat. Implikasi manajerial ini diharapkan dapat membantu Pemerintah Kota Surabaya dalam meningkatkan adopsi bus listrik dan mempercepat transisi menuju transportasi umum yang lebih ramah lingkungan. Penelitian selanjutnya disarankan untuk menambah jumlah indikator dan responden agar model lebih representatif, melakukan studi di lokasi berbeda guna membandingkan perilaku pengguna, serta menggunakan sistem pengumpulan data offline guna meningkatkan respons dan akurasi data.
=================================================================================================================================
Mass transportation in Surabaya has been developed since 2018 but still faces several challenges, including low public adoption rates, lack of comfort, delays, and inconsistent availability. The Surabaya City Government is committed to promoting the use of electric buses as a solution to these issues, as they offer energy efficiency, reduced greenhouse gas emissions, and improved air quality. However, several barriers remain, particularly in understanding the factors that influence public acceptance and use of electric buses. This study aims to analyze the level of acceptance and usage of electric buses and to formulate strategic recommendations to support broader adoption in Surabaya. The research employs the Unified Theory of Acceptance and Use of Technology 2 (UTAUT2), focusing on seven main constructs: performance expectancy, effort expectancy, social influence, facilitating conditions, hedonic motivation, price value, and habit. Data were collected from public transportation users in Surabaya and analyzed using Structural Equation Modeling (SEM) with SmartPLS software. The results show that out of 12 hypotheses tested, 7 were supported and 5 were rejected. Factors such as performance expectancy, effort expectancy, social influence, facilitating conditions, hedonic motivation, and habit were found to significantly influence users’ intentions and actual behavior in using electric buses. In contrast, price value and experience did not show a significant direct effect on adoption. The findings suggest that acceptance and usage of electric buses in Surabaya can be enhanced by improving bus stop facilities in strategic locations, developing more interactive route information applications, enhancing service comfort, and implementing effective public promotion and education strategies. These managerial implications are expected to assist the Surabaya City Government in increasing electric bus adoption and accelerating the transition toward more environmentally friendly public transportation. Future research is recommended to expand the number of indicators and respondents to make the model more representative, conduct studies in different locations to compare user behavior, and utilize offline data collection methods to improve response rates and data accuracy
Dampak Program TJSL Bagendung Esensi PT PLN Indonesia Power UBP SLA terhadap Kesejahteraan Masyarakat di Kelurahan Bagendung Kota Cilegon
Masalah kemiskinan, pengangguran, dan pengelolaan sampah yang belum maksimal dalam penanganannya menjadi tantangan utama bagi Kota Cilegon. Salah satu kelurahan yang turut menghadapi permasalahan tersebut adalah Kelurahan Bagendung, yang terletak di Kecamatan Cilegon. PT PLN Indonesia Power UBP Suralaya, sebagai salah satu subholding dari PT PLN (Persero), melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Bagendung Esensi, menjadi pionir di Indonesia dalam pendirian pabrik BBJP Plant sebagai upaya untuk mengatasi permasalahan ini sekaligus mendorong pembentukan kegiatan lainnya melalui tiga subprogram yang inovatif, yaitu: Omah Sampah, Omah Kreatif, dan Omah Sehat. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi implementasi dari program Bagendung Esensi, dampak terhadap kesejahteraan masyarakat, dan strategi penguatan kerjasama antar pemangku kepentingan dalam memastikan keberlanjutan program TJSL Bagendung Esensi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap informan kunci, informan utama, dan informan pendukung, observasi lapangan, serta studi dokumentasi dan literatur. Teknik analisis data dilakukan dengan pendekatan analisis deskriptif melalui tiga tahap, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi program TJSL Bagendung Esensi berhasil memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat di Kelurahan Bagendung. Peningkatan kesejahteraan masyarakat terlihat dari adanya peningkatan pada akses sumber daya ekonomi, keberlanjutan lingkungan, dan akses layanan kesehatan. Kemudian, strategi penguatan kerjasama antar pemangku kepentingan terbukti sangat efektif dalam mendukung keberlanjutan Program TJSL Bagendung Esensi. Melalui aspek tujuan, interaksi, dan kepemimpinan, terlihat bahwa keterlibatan aktif serta kerjasama dari semua pihak seperti perusahaan pelaksana, pemerintah daerah, hingga masyarakat penerima manfaat sangat menentukan arah keberhasilan, dan keberlanjutan program.
=======================================================================================================================================
The issues of poverty, unemployment, and suboptimal waste management remain major challenges for the city of Cilegon. One of the urban villages affected by these issues is Bagendung, located in the Cilegon District. PT PLN Indonesia Power UBP Suralaya, a subholding of PT PLN (Persero), through its Social and Environmental Responsibility (TJSL) program Bagendung Esensi, has become a pioneer in Indonesia by establishing the BBJP Plant. This initiative aims to address these problems while fostering the development of other activities through three innovative subprograms: Omah Sampah (Waste House), Omah Kreatif (Creative House), and Omah Sehat (Healthy House). This study aims to explore the implementation of the Bagendung Esensi program, assess its impact on community welfare, and examine stakeholder collaboration strategies to ensure the program’s sustainability. The study adopts a qualitative research method using a case study approach. Data were collected through in-depth interviews with key, primary, and supporting informants, field observations, and document and literature reviews. Data analysis was conducted using a descriptive analytical approach through three stages: data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results of this study indicate that the implementation of the Bagendung Esensi TJSL program has successfully provided a positive impact on the welfare of the community in Bagendung Subdistrict. Improvements in community welfare can be observed through increased access to economic resources, environmental sustainability, and healthcare services. Furthermore, the strategy of strengthening collaboration among stakeholders has proven highly effective in supporting the sustainability of the Bagendung Esensi TJSL program. Through the elements of shared goals, effective interaction, and leadership, active engagement and cooperation among implementing companies, local government, and beneficiary communities were instrumental in directing the program’s success and long term sustainability
Rancang Bangun Alat Pengering Bunga Rosela (Hibiscus Sabdariffa L.) untuk Teh Herbal.
Bunga rosela (Hibiscus sabdariffa L.) memiliki potensi ekonomi yang tinggi di Indonesia, terutama sebagai bahan baku teh herbal. Rosela memiliki kadar air sekitar 86% saat proses pasca panen yang mana rentan mengalami penurunan kualitas pascapanen akibat kandungan air tinggi dan aktivitas mikroba. Pengeringan tradisional masih mengandalkan sinar matahari yang memakan waktu lama dan bergantung pada cuaca. Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan membangun alat pengering bunga rosela otomatis skala prototipe. Sistem menggunakan sensor termokopel tipe-K, sensor capacitive soil moisture, dan load cell dengan PTC air heater dan fan sebagai aktuator, dikendalikan dalam sistem loop tertutup. Validasi dilakukan melalui proses kalibrasi terhadap masing-masing sensor. Hasil kalibrasi menunjukkan error termokopel sebesar ±0,5%, error sensor capacitive soil moisture sebesar ±0,02%, dan error load cell sebesar ±1%. Sistem mampu meningkatkan suhu dari 28°C ke 80°C dalam 1800 detik dan mempertahankan kestabilannya di sekitar set-point. Kinerja sensor menunjukkan akurasi dan sensitivitas yang baik selama proses berlangsung. Alat ini mampu mempercepat proses pengeringan, menghasilkan rosela kering dengan mutu lebih konsisten dan sesuai standar pasar.
===============================================================================================================================
Roselle flowers (Hibiscus sabdariffa L.) have high economic potential in Indonesia, especially as a raw material for herbal tea. Roselle contains approximately 86% water content after harvest, making it highly susceptible to post-harvest quality degradation due to microbial activity. Traditional drying methods still rely on sunlight, which is time-consuming and weather-dependent. This study aims to design and develop an automatic prototype-scale roselle flower dryer. The system employs a K-type thermocouple, capacitive soil moisture sensor, and load cell, with a PTC air heater and fan as actuators, controlled by a closed-loop system. Validation was conducted through a calibration process for each sensor. The results showed an error of ±0.5% for the thermocouple, ±0.02% for the capacitive soil moisture sensor, and ±1% for the load cell. The system was able to increase the temperature from 28°C to 80°C within 1800 seconds and maintain its stability around the set-point. The sensors performed with good accuracy and sensitivity throughout the process. This tool effectively accelerates the drying process, producing dried roselle with more consistent quality that meets market standards
Analisis Tutupan Lahan dengan Metode Extreme Gradient Boosting dan Prediksinya Menggunakan Simulasi Cellular Automata-Markov Chain (Studi Kasus: Kota Depok)
Abstrak—Kota Depok merupakan kota satelit dari Kota Jakarta yang mengalami urbanisasi masif sebagai dampak dari Kota Jakarta sebagai pusat perekonomian, sehingga berdampak pada alihfungsi lahan. Pada penelitian ini, dilakukan analisis tutupan lahan pada wilayah Kota Depok setiap tahun dari tahun 2017 sampai dengan tahun 2024 dalam 5 kategori: Lahan Terbangun, Vegetasi, Lahan Agrikultur, Lahan Kosong, dan Permukaan Air. Proses ini memanfaatkan algoritma Extreme Gradient Boosting pada citra satelit Sentinel-2 Level-1C pada rentang waktu tersebut. Selanjutnya dilakukan prediksi kondisi tutupan lahan Kota Depok pada tahun 2042 menggunakan simulasi Cellular Automata-Markov Chain yang memanfaatkan peta tutupan lahan historis yang telah dibuat sebelumnya serta faktor pendorong berupa jarak dari jalan raya, dan jarak dari fasilitas kesehatan dan pendidikan sebagai faktor pendorong perubahan tutupan lahan. Tahun 2042 dipilih karena bertepatan dengan berakhirnya produk hukum Perda Kota Depok Nomor 9 Tahun 2022 tentang Rencana Tata Ruang Kota Depok Tahun 2022-2042. Hasil akhir dari penelitian ini adalah peta tutupan lahan Kota Depok pada setiap tahun dari tahun 2017 sampai dengan tahun 2024, serta peta prediksi tutupan lahan Kota Depok pada tahun 2042. Dari penelitian ini, didapatkan bahwa dari tahun 2017 sampai 2024, luas kategori lahan terbangun mengalami tren kenaikan, sementara luas kategori tutupan lahan lainnya mengalami penurunan. Dalam prediksi tutupan lahan Kota Depok pada tahun 2042, dihasilkan luasan lahan terbangun sebesar 16441,05 hektar, luasan vegetasi sebesar 485,48 hektar, lahan agrikultur sebesar 2669,97 hektar, lahan kosong sebesar 193,9 hektar, dan permukaan air sebesar 204,26 hektar.
=================================================================================================================================
Depok City, a satellite city of Jakarta, is experiencing massive urbanization due to Jakarta's role as an economic center, leading to significant land-use change. This research analyzes land cover in Depok City annually from 2017 to 2024 across five categories: Built-up Land, Vegetation, Agricultural Land, Bare Land, and Water Bodies. This process utilizes the Extreme Gradient Boosting algorithm on Sentinel-2 Level-1C satellite imagery for the specified period. Subsequently, land cover conditions in Depok City for 2042 are predicted using a Cellular Automata-Markov Chain simulation, which leverages the previously generated historical land cover maps and driving factors such as distance from main roads, and distance from health and educational facilities as land cover change drivers. The year 2042 was chosen to coincide with the expiration of Perda Kota Depok Nomor 9 Tahun 2022 concerning the Depok City Spatial Plan 2022-2042. The final outputs of this research are land cover maps of Depok City for each year from 2017 to 2024, as well as a predicted land cover map of Depok City for 2042. From this research, it was found that from 2017 to 2024, the area of the built-up land category showed an increasing trend, while the area of other land cover categories experienced a decrease. In the prediction of land cover conditions of Depok City in 2042, the built-up land area is 16,441.05 hectares, the vegetation area is 485.48 hectares, the Agricultural Land is 2,669.97 hectares, the Bare Land is 193.9 hectares, and the water bodies is 204.26 hectares
Pemanfaatan Metode Adaptive Threshold Dan Citra Sentinel-1 Untuk Analisis Persebaran Tumpahan Minyak Pada Permukaan Laut (Studi Kasus : Laut Jawa Bagian Barat)
Fenomena tumpahan minyak salah satunya pada wilayah Perairan Laut Jawa Bagian Barat terjadi karena padatnya aktivitas industri minyak dan kemaritiman menyebabkan potensi kerentanan terhadap pencemaran minyak. Deteksi secara cepat persebaran tumpahan minyak perlu dilakukan guna meminimalisir dampak yang ditimbulkan. Dengan mengembangkan metode deteksi dini tumpahan minyak di Laut Jawa Bagian Barat menggunakan teknologi Synthetic Aperture Radar (SAR) dari Satelit Sentinel-1A menggunakan perangkat lunak SNAP dengan pendekatan Adaptive Threshold. Metode deteksi didasarkan pada prinsip bahwa minyak menyebabkan permukaan laut menjadi tenang sehingga nilai pantulan gelombang radar berkurang drastis. Hasil penelitian menunjukkan deteksi tumpahan minyak pada Juni 2023 dengan luas mencapai 73.823 km² dan tingkat akurasi 93,75% berdasarkan validasi confusion matrix. Penelitian ini juga mengintegrasikan analisis windfield untuk mendukung interpretasi citra radar, dengan hasil estimasi kecepatan angin 1-12 m/s dan arah dominan menuju barat laut hingga utara. Data windfield divalidasi menggunakan data reanalisis BMKG dan Copernicus Marine My Ocean Pro. Metode yang dikembangkan lebih baik dibandingkan citra optis dalam hal visualisasi dan kemampuan klasifikasi objek dalam area tumpahan. Temuan penelitian ini memberikan kontribusi penting untuk pengembangan sistem pemantauan dan respons efektif guna melindungi ekosistem laut, serta dapat menjadi dasar perencanaan mitigasi dampak lingkungan dari tumpahan minyak di wilayah tersebut.
=================================================================================================================================
Oil spill phenomena, particularly in the West Side of Java Sea, occur due to the dense oil industry and maritime activities causing potential vulnerability to oil pollution. Rapid detection of oil spill distribution needs to be conducted to minimize the resulting impacts. By developing an early detection method for oil spills in the Western Java Sea using Synthetic Aperture Radar (SAR) technology from Sentinel-1A Satellite using SNAP software with an Adaptive Threshold approach. The detection method is based on the principle that oil causes the sea surface to become calm, resulting in a drastic reduction in radar wave reflection values. Research results show oil spill detection in June 2023 with an area reaching 73,823 km² and an accuracy level of 93,75% based on confusion matrix validation. This research also integrates windfield analysis to support radar image interpretation, with wind speed estimation results of 1-12 m/s and dominant direction toward northwest to north. Windfield data was validated using BMKG reanalysis data and Copernicus Marine My Ocean Pro. The developed method is superior to optical imagery in terms of detection visualization and object classification capability within the spill area. The findings of this research provide important contributions to the development of effective monitoring and response systems to protect marine ecosystems, and can serve as a basis for planning environmental impact mitigation from oil spills in the region
Studi Kasus: Analisis Data Hasil Penjualan Produk Distributor Perusahaan dan Penggunaan Web Scraping dan Analisis Data untuk Analisis Pasar Digital
Kibar, yang berarti "Kita melakukannya bersama-sama," dimulai dengan para pendirinya yang berfokus pada pertumbuhan bisnis dengan memanfaatkan keahlian mereka dalam teknologi, pemasaran, dan penjualan. Dalam beberapa tahun, PT. Kibar Produk Nusantara telah membangun beberapa lini bisnis yang menguntungkan, baik secara nasional di bidang teknologi interaktif maupun regional di Jawa Timur untuk distribusi ritel. Kini, PT. Kibar Produk Nusantara berupaya untuk bersaing dalam skala nasional, regional, dan global sebagai bagian dari strategi ekspansi bisnisnya yang sedang berjalan. Visi, PT. Kibar Produk Nusantara Menjadi perusahaan yang mengintegrasikan teknologi, ritel, distribusi, dan layanan komunikasi pelanggan dalam ekosistem elektronik dengan fokus pada layanan O2O Online ke Offline. Misi, PT. Kibar Produk Nusantara Mengembangkan produk dan layanan yang secara optimal sesuai dengan permintaan pasar dan preferensi pelanggan di bidang teknologi, distribusi, dan ritel, serta komunikasi konsumen dan bidang terkait lainnya. PT. Kibar Produk Nusantara secara konsisten meningkatkan kepercayaan pelanggan dan pasar dengan menawarkan layanan dan produk terbaik dalam hal kinerja, keamanan, skalabilitas, keramahan pengguna, dan efisiensi biaya. Layanan pendukung operasional PT. Kibar Produk Nusantara telah memberikan manfaat bagi lebih dari 1300 TV Cabang di kantor cabang BCA. Layanan ini memudahkan pengoperasian berbagai aplikasi seperti sistem antrean, kuotasi mata uang dan bunga, serta iklan TV Cabang. Lebih jauh lagi, PT. Kibar Produk Nusantara terkenal karena terus menawarkan layanan terbaik untuk sistem papan display dan platform di Bursa Efek Indonesia, Jakarta untuk Aula Utama, Galeri Multimedia, dan lorong Kios di Galeri Pendidikan.
==================================================================================================================================
Kibar, which means “We do it together,” began with its founders focusing on business growth by leveraging their expertise in technology, marketing, and sales. Over the years, PT. Kibar Produk Nusantara has developed several profitable business lines, both nationally in the field of interactive technology and regionally in East Java for retail distribution. Today, PT. Kibar Produk Nusantara is striving to compete on a national, regional, and global scale as part of its ongoing business expansion strategy. Vision: PT. Kibar Produk Nusantara aims to become a company that integrates technology, retail, distribution, and customer communication services within an electronic ecosystem, with a focus on O2O (Online to Offline) services. Mission, PT. Kibar Produk Nusantara To develop products and services that optimally align with market demand and customer preferences in the fields of technology, distribution, and retail, as well as consumer communication and related areas. PT. Kibar Produk Nusantara consistently enhances customer and market trust by offering the best services and products in terms of performance, security, scalability, user-friendliness, and cost efficiency. PT. Kibar Produk Nusantara's operational support services have benefited over 1,300 TV Branches at BCA branch offices. These services simplify the operation of various applications such as queue systems, currency and interest rate quotations, and TV Branch advertisements. Furthermore, PT. Kibar Produk Nusantara is renowned for continuously offering the best services for display board systems and platforms at the Indonesia Stock Exchange in Jakarta for the Main Hall, Multimedia Gallery, and Kiosk Corridor in the Education Gallery.Translated with DeepL.com (free version
Desain Pabrik Garam Farmasi Dari Garam Olahan Dengan Metode Teknologi Membran Nanofiltrasi dan Rekristalisasi Berkapasitas 2000 Ton/Tahun
Garam farmasi merupakan garam yang memiliki kemurnian NaCl >99,8%. Pemanfaatan dari garam farmasi digunakan sebagai bahan baku penyedia infus, produksi tablet, pelarut vaksin, sirop, oralit, cairan pencuci darah, dan lain-lain. Berdasarkan data dari BPS tahun 2024, keperluan garam di Indonesia selalu mengalami kenaikan serta pemasok garam farmasi sebagian besar berasal dari hasil impor. Pembangunan garam farmasi diharapkan dapat memenuhi kebutuhan garam farmasi di Indonesia. Bahan baku produksi garam farmasi adalah garam olahan dengan kemurnian lebih dari 90% dari PT Garam. Metode yang digunakan untuk proses produksi diseleksi menggunakan metode AHP dan metode yang dipilih adalah metode Rekristalisasi dengan pre-treatment menggunakan membran nano-filtrasi. Pabrik Garam Farmasi ini akan dibangun di Manyar, Gresik berdekatan dengan sumber bahan baku, yaitu PT Garam. Proses produksi dimulai dengan proses pemurnian menggunakan larutan Na2CO3 dan NaOH sehingga menghasilkan endapan CaCO3 dan Mg(OH)2 yang dapat dipisahkan dari larutan garam. Dilanjutkan dengan proses pemisahan ion sulfat dan kalium di membran nano filtrasi sehingga larutan garam dapat memenuhi standar. Kemudian, larutan dialirkan ke dalam reaktor kristalisasi jenis Circulating Magma Vacuum Crystalizer untuk meningkatkan kemurniannya. Larutan hasil kristalisasi dialirkan ke dalam centrifuge untuk memisahkan slurry dan mother liquor. Slurry yang terpisah masuk ke dalam proses pengeringan menggunakan rotary dryer untuk dipisahkan kandungan airnya sehingga terbentuk kristal garam. Dilanjutkan dengan proses pengecilan ukuran menggunakan Hammer mill hingga pada ukuran 50 mesh dengan kemurnian NaCl 99,9 %. Pabrik garam farmasi ini memiliki kapasitas produksi 2000 ton/tahun dengan waktu operasi kerja 330 hari per tahun. Diperlukan total biaya Fixed Capital Investment (FCI) sebesar Rp 36.046.709.014,18; Working Capital Investment sebesar Rp 6.355.842.899,23; Total Capital Investment (TCI) Rp 42.402.551.913,41; Total Production Cost (TPC) Rp 32.340.251.358,67. Nilai estimasi penjualan pada tahun pertama diperoleh sebesar Rp 46.201.977.038,01 dan pada tahun kedua hingga seterusnya sebesar Rp 77.003.295.063,35, diperoleh nilai IRR sebesar 14,19% dengan waktu Pay Out Time (POT) selama 5,83 tahun, dan NPV sebesar Rp 14.782.979.704,74 yang menunjukkan bahwa pabrik garam farmasi ini layak untuk didirikan.
================================================================================================================================
Pharmaceutical salt is defined as salt with a purity of >99.8% NaCl. The utilization of pharmaceutical salt is employed as a raw material for infusion providers, tablet production, vaccine solvents, syrup, oralit, blood washing fluids, and others. Based on data from BPS in 2024, there has been a consistent increase in salt requirements in Indonesia, with the majority of pharmaceutical salt suppliers being imported. It is anticipated that the advancement of pharmaceutical salt will satisfy the requirements of the Indonesian pharmaceutical industry. The raw material utilized for the production of pharmaceutical salt is processed salt with a purity of more than 90%, sourced from PT Garam. The production process was designed using the AHP method, with the recrystallization method and pre-treatment with nano-filtration membranes selected as the optimal approach. The pharmaceutical salt factory is to be constructed in Manyar, Gresik, in close proximity to the source of raw materials, PT Garam. The production process commences with a purification procedure utilising Na₂CO₃ and NaOH solutions, which facilitate the generation of CaCO₃ and Mg(OH)₂ precipitates that can be subsequently separated from the salt solution. Subsequently, the process of separating sulfate and potassium ions via nanofiltration membrane filtration is employed to ensure that the salt solution meets the requisite standards. Subsequently, the solution is conveyed into a crystallization reactor of the Circulating Magma Vacuum Crystalizer type, with the objective of enhancing its purity. The crystallized solution is then conveyed to a centrifuge, where the slurry and mother liquor are separated. The separated slurry is subjected to a drying process utilizing a fluidized bed dryer, which facilitates the removal of water content, thereby facilitating the formation of salt crystals. This is followed by a size reduction process employing a hammer mill, resulting in a product with a mesh size of 50 mesh and a NaCl purity of 99,9%. The total Fixed Capital Investment (FCI) required is Rp 36.046.709.014,18; Working Capital Investment is Rp 6.355.842.899,23; Total Capital Investment (TCI) is Rp 42.402.551.913,41; and Total Production Cost (TPC) is Rp 32.340.251.358,67. The estimated sales revenue for the first year is Rp 46.201.977.038,01 and for the second year onwards, it is Rp 77.003.295.063,35. The project achieves an IRR of 14,19% , a Pay Out Time (POT) of 5,83 years, and an NPV of Rp 14.782.979.704,74 indicating that this pharmaceutical-grade salt plant is feasible to establish
Pengembangan Bisnis Model Untuk Mengintegrasikan BMT Dengan Lembaga Pendidikan Bisnis Dan E-Comerce Lokal
Transformasi digital mendorong pertumbuhan ekonomi global, termasuk Indonesia, dengan e-commerce sebagai sektor paling berkembang. Namun, hal ini tidak dapat dimanfaatkan oleh UKM yang tergabung di dalam komunitas untuk mengembangkan bisnis, khususnya dalam komunitas BMT yang menyebabkan juga sulitnya organisasi ini untuk menaikan kapasitas bisnisnya. Penelitian ini mengembangkan model bisnis yang mengintegrasikan BMT (Baitul Maal wat Tamwil), lembaga pendidikan bisnis, dan platform lokal guna membangun bisnis model dengan Value Proposition yang menciptakan efek saling menguntungkan dan menaikan kapasitas bisnis di komunitas BMT. Pendekatan Business Model Canvas (BMC) dan Design Thinking digunakan untuk merancang solusi inovatif berbasis kebutuhan stakeholder. Hasil penelitian menemukan rancangan bisnis model baru dengan layanan berupa marketplace lokal O2O yang terintegrasi dengan jaringan komunitas, program pendampingan, logistik terjangkau, permodalan & pergudangan murah, dashboard monitoring digital untuk karyawan BMT, serta program loyalitas komunitas. Rancangan model bisnis ini, dapat menjadi salah satu solusi bagi BMT untuk menaikan kapasitas bisnis dan menciptakan efek yang saling menguntungkan di dalam komunitas
=====================================================================================================================================
Digital transformation is driving global economic growth, including in Indonesia, with e-commerce as the fastest growing sector. However, this cannot be utilized by SMEs within communities to develop their businesses, especially in the BMT community, which also makes it difficult for these organizations to increase their business capacity. This study develops a business model that integrates BMT (Baitul Maal wat Tamwil), business education institutions, and local platforms to build a business model with a Value Proposition that creates a mutually beneficial effect and increases business capacity in the BMT community. The Business Model Canvas (BMC) and Design Thinking approaches are used to design innovative solutions based on stakeholder needs. The results of the study found a new business model design with services in the form of a local O2O marketplace integrated with the community network, a mentoring program, affordable logistics, low-cost capital & warehousing, a digital monitoring dashboard for BMT employees, and a community loyalty program. This business model design can be one solution for BMT to increase business capacity and create mutually beneficial effects within the communit
Kebijakan Pengendalian Persediaan Material Utama Untuk Operasional Jaringan Distribusi Listrik
Ketersediaan material merupakan komponen penting dalam proses bisnis penjualan energi listrik karena berkaitan dengan jaringan distribusi ke lokasi konsumen. Tesis ini menggunakan kasus di sebuah unit usaha distribusi tenaga listrik (PLN UP3 X) yang memasok kebutuhan listrik di dua kabupaten. Untuk melayani kebutuhan pada area yang belum terdapat jaringan distribusi atau memerlukan peningkatan kapasitas, perusahaan harus berinvestasi untuk membangun jaringan dan penggantian material distribusi utama. Kekurangan persediaan dan keterlambatan pemenuhan kebutuhan material sering terjadi. Sementara itu, terdapat target waktu penyelesaian permohonan konsumen yang harus dicapai. Masalah ini disebabkan oleh kompleksitas dalam pengadaan dan pengendalian material yang melibatkan multi stakeholder, tidak adanya stok pengaman, ketidakpastian permintaan material, pengiriman material oleh supplier yang tidak stabil, periode pengadaan yang terbatas, dan pembatasan alokasi pemesanan. Untuk mengatasi permasalahan yang melibatkan interaksi dari berbagai elemen dan ketidakpastian yang ada, maka kebijakan persediaan harus dirancang menggunakan pendekatan sistem, di mana penelitian ini menerapkan simulasi sistem dinamik. Model simulasi dibangun untuk memahami kondisi eksisting, interaksi yang terjadi, dan memberikan usulan perbaikan dalam kebijakan pengendalian persediaan. Usulan kebijakan yang diuji adalah perubahan mekanisme permintaan material yang melibatkan koordinasi internal, kebijakan continuous review (s,S) dengan dua opsi nilai parameter, dan keterlibatan perbaikan di sisi supplier. Hasil simulasi menunjukkan kebijakan koordinasi tanpa continuous review memberikan efisiensi 26% dari sisi biaya, tapi tidak memberikan perbaikan pada kinerja sistem yang lain. Penerapan continuous review tanpa melibatkan perbaikan di sisi supplier tidak memberikan nilai positif dan memberikan nilai penggunaan anggaran yang berlebih hingga mencapai 162%. Kebijakan continuous review dengan melibatkan perbaikan di sisi supplier memberikan peningkatan servicel level tertinggi hingga 26,12% pada kategori material cable power & conductor, penurunan total durasi hari layanan hingga 2 bulan pada kategori material LA, dan penggunaan anggaran yang mencapai 81%. Kebijakan ini menjadi pilihan terbaik yang dapat diimplementasikan pada perusahaan. Opsi nilai parameter (s,S) dengan menggunakan data permintaan terkini menunjukkan hasil yang lebih baik dalam menghadapi kenaikan permintaan pada periode mendatang dengan service level rata-rata mencapai 92%, penghematan penggunaan anggaran 0,53% daripada opsi (s,S) 2, dan total biaya terkait persediaan yang lebih rendah. Rencana implementasi kebijakan ini dapat dilakukan dengan menyusun perbaikan prosedur pada stakeholder terkait.
=======================================================================================================================================
Material availability is an important component in the business process of selling electricity because it is related to the distribution network to consumer locations. This thesis uses a case in an electricity distribution business unit (PLN UP3 X) that supplies electricity in two districts. To serve the needs in areas that do not yet have a distribution network or require increased capacity, the company must invest in building networks and replacing the main distribution materials. Inventory shortages and delays in fulfilling material needs often occur. Meanwhile, there is a target time for completing consumer requests that must be achieved. This problem is caused by the complexity of material procurement and control involving multiple stakeholders, the absence of safety stock, demand uncertainty, unstable material delivery by suppliers, limited procurement periods, and restrictions on order allocation. To overcome problems involving the interaction of various elements and existing uncertainties, inventory policies must be designed using a systems approach, where this research applies dynamic system simulation. A simulation model is built to understand existing conditions, interactions that occur, and provide suggestions for improvements in inventory control policies. The proposed policies tested are changes in the material demand mechanism involving internal coordination, a continuous review (s,S) policy with two parameter value options, and involvement in improvements on the supplier side. The simulation results show that the coordination policy without continuous review provides 26% efficiency in terms of costs, but does not provide improvements in other system performance. The implementation of continuous review without involving supplier improvement does not show positive impact and provides an excess budget usage value up to 162%. The continuous review policy involving supplier improvement provides the highest service level increase up to 26.12% for the power cable & conductor category, a decrease in the total duration of service days up to 2 months in the LA category, and budget usage up to 81%. This policy is the best choice that can be implemented in the company. The parameter value option (s,S) using the latest demand data shows better results in dealing with increased demand in the upcoming period with an average service level of 92%, budget savings of 0.53% compared to option (s,S) 2, and lower total cost related to inventory. The implementation plan for this policy can be carried out by preparing procedural improvements for related stakeholders