KARYA DOSEN Fakultas Sastra UM
Not a member yet
    77 research outputs found

    Nilai Moral dalam Novel Ranah 3 warna karya Ahmad Fuadi

    No full text
    ABSTRAK Dzulqoidah, Annisa. 2014. Nilai Moral Dalam Novel Ranah 3 Warna Karya Ahmad Fuadi. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Maryaeni, M.Pd, (II) Musthofa Kamal, S.Pd., M.Sn Kata kunci: karya sastra, nilai moral. Pada masa ini, bangsa Indonesia sedang mengalami degradasi moral. Wujud dari hal tersebut dapat dilihat dengan maraknya pergaulan bebas di kalangan remaja, tawuran antarpelajar, penyalahgunaan narkoba, ketidakpatuhan anak kepada orang tuanya, dan lain sebagainya. Munculnya beragam peristiwa tersebut salah satunya merupakan akibat dari menurunnya moralitas yang ada pada masyarakat saat ini. Karya sastra sebagai sebuah karya kreatif yang lahir dari pemikiran dan pengalaman pengarangnya sering mencerminkan pandangannya dalam melihat sebuah kehidupan. Pengalaman tersebut ditulis sebagaimana adanya untuk dimaknai sebagai bentuk implementasi dari pengungkapan pikiran maupun perasaan yang ada pada diri manusia. Sebagai sebuah karya kreatif, karya sastra tidak hanya mengandung unsur keindahan, karya sastra sering mencerminkan nilai-nilai moral dalam kehidupan bermasyarakat. Salah satu novel yang mengandung nilai moral adalah novel Ranah 3 Warna karya Ahmad Fuadi.  Dalam novel Ranah 3 Warna, pengarang berusaha menyajikan nilai moral sebagai salah satu nilai yang akan dipaparkan kepada pembaca. Pengarang tidak hanya ingin mengekspresikan pengalaman jiwanya saja tetapi secara implisit juga mempunyai dorongan untuk memengaruhi pembaca agar lebih memahami, menghayati, dan menyadari masalah serta ide yang diungkapkan. Selain itu, pengarang juga menyampaikan pandangan-pandangannya tentang kehidupan yang dapat memberi faedah kepada pembacanya. Oleh sebab itu, pembaca bisa mengambil pelajaran yang terdapat di dalam karya sastra tersebut dengan penuh kesadaran sehingga dapat dijadikan sebagai bahan renungan dalam kehidupan sehari-hari. Identifikasi nilai-nilai moral yang terdapat dalam novel Ranah 3 Warnadidasarkan pada teori etika Bertens.Teori etika yang dikemukakan oleh Bertens digunakan sebagai landasan dalam mengidentifikasi perilaku tokoh dalam cerita yang mengandung nilai-nilai moral. Penelitian ini secara rinci bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai moral dalam novel Ranah 3 Warna karya Ahmad Fuadi yang meliputi, (1) nilai moral individu, (2) nilai moral sosial, dan (3) nilai moral ketuhanan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif. Data penelitian berupa dialog dan narasi antartokoh yang mengandung nilai moral. Pengumpulan data dilakukan dengan membaca berulang-ulang. Untuk menjaga keabsahan temuan, peneliti menggunakan teknik berdiskusi dengan teman sejawat dan melakukan pendalaman materi dengan cara membaca berulang-ulang. Teknik analisis data dalam penelitian ini mencakup tiga tahapan, yaitu (1) reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) verifikasi data. Pertama, reduksi data dilakukan dengan identifikasi, klasifikasi, dan kodifikasi data.Kedua, tahap penyajian data. Pada tahap ini, data disajikan dalam bentuk yang sudah disesuaikan dengan rumusan masalah yang akan diteliti. Terakhir, tahap verifikasi data. Verifikasi data dilakukan dengan cara mengaitkan data dengan teori yang telah dijadikan dasar penelitian atau teori utama.     Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh tiga simpulan terkait nilai moral dalam novel Ranah Tiga Warna karya A. Fuadi, yaitu nilai moralindividu, nilai moral sosial, dan nilai moral ketuhanan.Pertama, nilai moral individu menyangkut hubungan manusia dengan diri sendiri serta kejiwaannya. Nilai moral individu mendorong individu yang bersangkutan untuk mencapai kesejahteraan dalam kehidupan sebagai individu yang mampu memanfaatkan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki tanpa melibatkan atau bahkan merugikan individu yang lainnya. Nilai moral individu dalam penelitian ini adalah 1) tanggung jawab berupa melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya dan bekerja dengan semaksimal mungkin untuk mendapatkan hasil sebaik munngkin, (2) keoptimisan berupa pantang menyerah ketika menghadapi suatu masalah, dan (3) kejujuran berupa berlaku jujur apa adanya, tidak mengurangi atau menambahi informasi yang diketahui.     Kedua, nilai moral sosial menyangkut hubungan manusia satu dengan manusia lainnya. Nilai moral sosial mengacu pada semua kegiatan yang menimbulkan kesatuan, kekuatan, kedamaian, dan kehormatan bagi masyarakat serta perbuatan yang menimbulkan pengaruh baik dan keselamatan bagi orang lain. Segala sesuatu yang dilakukan seorang manusia, tidak terlepas dari penilaian manusia lainnya. Nilai moral sosial dalam penelitian ini adalah (1) menolong sesama berupa meringankan beban teman dan meringankan beban orang lain, (2) kepedulian sosial berupa memperhatikan atau peka terhadap sesuatu yang terjadi di masyarakat, dan (3) berbakti berupa berbakti kepada orang tua. Ketiga, nilai moral ketuhanan menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan. Baik berupa perilaku, kepercayaan, serta semua hal yang berhubungan dengan Tuhan. Nilai moral ketuhanan dalam penelitian ini adalah (1) berdoa berupa memohon kepada Tuhan, (2) ikhlas berupa memberikan sesuatu tanpa mengharapkan imbalan, dan (3) bersyukur berupa mengucapkan terimakasih kepada Tuhan atas rezeki yang telah diberikan. Berdasarkan nilai moral yang terkandung dalam novel Ranah 3 Warna diharapkan pembaca dapat mengambil pelajaran moral yang terkandung di dalamnya. Karya sastra yang baik hendaknya mengandung unsur-unsur pendidikan dan pembelajaran, bukan hanya unsur hiburan semata. Salah satunya mengenai nilai-nilai moral yang dapat disiratkan dalam cerita sebagai pembelajaran kepada pembaca

    The Teaching of English as a Foreign Language to the Pre-lingual Deaf Students

    No full text
    ABSTRACT Marganingsih, Ruth. 2016. The Teaching of English as a Foreign Language to the Pre-lingual Deaf Students. Thesis, English Language Teaching Department, Faculty of Letters, University of Malang. Advisors: (I) Dr. Furaidah, M.A., (II) Prof. Dr. H. Ali Saukah, M.A. Keywords: deaf students, pre-lingual deaf students, students with special needs.Deaf people are a minor community which also needs to learn English as a foreign language. One of the ways to learn English for the deaf students is in formal schools. Teaching English to deaf students needs particular approaches. Since English has four language skills to master, it is interesting to investigate how the teaching of those skills are carried out to the deaf students.The aim of the research is to find out how the four language skills are taught to the deaf students, the problems faced by the teacher of the deaf and the solutions taken.This study used qualitative descriptive design. The data were obtained from an English teacher of the deaf, an English class consisting of nine deaf students, school principal, and the school website of SMALB Bagian C Pembina Tingkat Nasional. The researcher used interview and observation to collect the data.Based on the data analysis, there are several conclusions that answer the issues raised in this study. First, the teaching of English was only focused on three language skills, namely speaking, reading and writing skills. The teaching of speaking skill was focused on pronunciation, the teaching of reading was focused on asking students to identify explicitly stated facts in the texts and the writing skill was taught using guided writing because the deaf students were not able to compose free writing which needs wider vocabulary mastery.Second, the teacher of the deaf students faced several problems in teaching her students. The difficulties were how to make the students stay on-task, how to teach students with various ability and students with dual sensory impairments. Regarding the result of the study, the researcher gives several suggestions for the teachers of the deaf and the next researchers. First, the teacher should do student’s need analysis before conducting teaching and learning process, especially in teaching speaking and writing skills. This is useful to help the teacher determine the technique, method or material that will be applied to the deaf students. Second, an integrated teaching with the use of familiar topics around the deaf students is suggested to do by the teacher. The next suggestions are directed for the following researchers who are interested in conducting a study in this field. The next researchers should consider longer time spent in the field to find more complete pattern of how the teaching and learning of English to the deaf students is conducted

    PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN VIDEO TATA RIAS DAN BUSANA TARI GAMBYONG PAREANOM UNTUK KEGIATAN EKSTRAKURIKULER DI SMP NEGERI 1 BADEGAN KAB. PONOROGO

    No full text
    RINGKASAN Rahmawati, Alif. 2017. Pengembangan Media Pembelajaran Video Tata Rias Dan Busana Tari Gambyong Pareanom untuk kegiatan Ekstrakurikuler di SMPN 1 Badegan Kab. Ponorogo. JAWA TIMUR. Skripsi, Jurusan Seni Dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Ninik Harini, M.Sn, (2) Kelik Desta Rahmanto, S.Sn, M.Pd   Kata Kunci: Pengembangan, Media Pembelajaran, Video, Tata Rias Dan Busana, Tari Gambyong Pareanom, Untuk kegiatan Ekstrakurikuler. Belum adanya materi tata rias dan busana untuk kegiatan ekstrakurikuler di SMPN 1 Badegan Kab. Ponorogodalam mendukung sebuah pertunjukan dan keterampilan pada seni tari. Sehingga untuk mengatasi kendala dilapangan dibutuhkan media yang praktis dipelajari dimana saja dan kapan saja sebagai media yang membantu siswa dalam mempelajari tata rias dan busana tari tanpa didampingi guru. Penelitian dan pengembangan ini dilaksanakan dengan tujuan menghasilkan produk berupa media pembelajaran video tata rias dan busana tari Gambyong pareanom. Pada media pembelajaran video tata rias dan busana ini mencakup pengenalan alat dan make up, proses tata rias wajah, pengenalan alat dan bahan sanggul, proses pemakaian sanggul, pengenalan busana tari Gambyong pareanom, pemakaian busana. Metode penelitian dan pengembangan menggunakan metode Sugiyono (2010:297) yang meliputi: (1) potensi dan masalah, (2) pengumpulan data, (3) desain produk, (4) validasi desain, (5) revisi desain, (6) uji coba produk, (7) revisi produk, (8) uji pemakaian, (9) revisi produk, (10) produksi massal. Berdasarkan kebutuhan peneliti, metode penelitian dan pengembangan Sugiyono mengalami modifikasi: (1) pra produksi (potensi dan masalah, pengumpulan data), (2) produksi (desain produk), (3) pasca produksi (validasi produk tahap I, revisi produk tahap I, uji coba produk, validasi produk tahap II, uji pemakaian besar, revisi produk tahap II, produksi massal). Instrumen pengambilan data diujikan dan dinilai oelh ahli materi I, ahli materi II, ahli media, responden uji coba produk, hasil responden uji pemakaian besar (siswa). Hasil validasi dinyatakan valid setelah proses uji validasi tahap I dan tahap II, yang dinilai oleh ahli materi tahap I (69,6%) kemudian tahap II (91%), ahli pembelajaran tahap I (97,5%) kemudian tahap II (100%), ahli media tahap I (92,8%) kemudian tahap II (98%), uji coba produk (97,5%), uji pemakaian besar dengan presentase melalui pre-test (71%) dan post-test (98%), siswa telah memenuhi KKM (  setelah menggunakan media pembelajaran video tata rias dan busana tari Gambyong pareanom. Kesimpulan berdasarkan penelitian pengembangan tersebut video yang dibuat peneliti layak digunakan dalam kegiatan ekstrakurikuler dan diharapkan dapat meningkatkan kreatifitas bagi peneliti, guru, dan pembaca. Selain itu, dapat menambah wawasan, pengetahuan dan inovasi baru bagi siswa. Saran bagi peneliti selanjutnya yang ingin melakukan penelitian agar membuat media dalam bentuk lain seperti buku tata rias dan busana tari

    Penerapan Model Pembelajaran Kollaboratives Schreiben dengan EduPad pada Matakuliah Aufsatz II di Jurusan Sastra Jerman Universitas Negeri Malang

    No full text
    RINGKASAN Agustine, Dewi Maya. 2017. Penerapan Model Pembelajaran Kollaboratives Schreiben dengan EduPad pada Matakuliah Aufsatz II di Jurusan Sastra Jerman Universitas Negeri Malang. Skripsi, Jurusan Sastra Jerman, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Herri A.B., M.A., M.Hum.   Kata Kunci: kollaboratives Schreiben, EduPad, keterampilan menulis Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan model pembelajaran kollaboratives Schreiben dengan EduPad beserta hasil penerapannya.Model pembelajaran kollaboratives Schreiben melatih kemampuan menulis bahasa Jerman mahasiswa dengan cara menulis secara kolaboratif dalam kelompok yang telah ditentukan. Dalam proses menulis oleh kelompok, mahasiswa dapat saling bekerja sama dengan cara saling mengoreksi, menambahkan dan mengurangi, memperbaiki, dan berdiskusi dengan teman lainnya, sehingga tercipta suatu karya yang telah disepakati oleh seluruh anggota kelompok. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data dari penelitian ini adalah 20 mahasiswa Jurusan Sastra Jerman Angkatan 2015 kelas A. Data pada penelitian ini diperoleh dari observasi, angket, dan dokumentasi.Penelitian ini dilakukan sebanyak dua kali pertemuan karena keterbatasan waktu yang dimiliki oleh peneliti. Pertemuan pertama yakni penerapan model pembelajaran ini dengan kelompok besar, sedangkan pertemuan kedua dengan kelompok yang lebih kecil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model  pembelajaran kollaboratives Schreiben dengan EduPad membuat proses pembelajaran menyenangkan dan mahasiswa sangat antusias dalam mengerjakan tugas yang diberikan. Dengan menggunakan EduPad, seluruh proses penyusunanAufsatz dapat terlihat dengan jelas dan dapat diketahui tingkat keaktifan dan kerjasama anggota kelompok. Kendala yang ditemukan dalam penerapan model pembelajaran ini adalah kendala teknis, serta terdapat salah satu mahasiswa yang kurang maksimal mengikuti pembelajaran karena tidak terbiasa bekerja dalam tim. Mahasiswa juga kurang memerhatikan ortografi, koherensi dan tatabahasa dalam menulis karangan. Namun secara keseluruhan karangan mahasiswa sesuai dengan tema Wohnung: Wie wohnt man in Deutschland? dengan materi Beschreibung

    Kemampuan Literasi Informasi Dengan Minat Baca Peserta Didik di Perpustakaan SMP Negeri 6 Malang

    No full text
    RINGKASAN Darista Yusna Pratiwi. 2018.Hubungan  Kemampuan Literasi Informasi Dengan Minat Baca Peserta Didik di Perpustakaan SMP Negeri 6 Malang . Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr.Hj.Titik Harsiati, M.Pd (II) Setiawan S.Sos, M.IP   Kata Kunci : literasi informasi, minat baca, sekolah Peserta didik di SMP Negeri 6 Malang telah melaksanakan program Gerakan Literasi Sekolah yang silaksanakan setiap hari jam ke 0 sebelum pelajaran belajar mengajar berlangsung, dengan tujuan meningkatkan kemampuan berliterasi, dengan berliterasi maka peserta didik secara otomatis akan juga mempunyai minat baca yang tinggi. Dalam kegiatan tersebut peserta didik bisa memilih semua jenis bacaan tidak hanya buku pelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kemampuan literasi informasi dengan minat baca di sekolah. Pada institusi pendidikan salah satu pengembangan yang dapat dilakukan adalah dengan menumbuhkan dan meningkatkan minat baca peserta didik sejak dini, semakin meningkatnya minat baca maka peserta didik akan mampu mencari, mengevaluasi dan menggunakan informasi yang dibutuhkan secara efektif. Ditunjang dengan minat baca yang tinggi maka akan menjadi masyarakat yang literat. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui 3 hal, yaitu (1) kemampuan literasi informasi peserta didik, (2) minat baca peserta didik, (3) hubungan kemampuan literasi informasi dengan minat baca peserta didik. Penelitian ini akan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Objek penelitian ini adalah minat baca peserta didik di SMP Negeri 6 Malang, sedangkan populasinya adalah semua peserta didik SMP negeri 6 Malang yang diambil secara acak. Teknik pengambilan sampel adalah probability sampling dengan metode random sampling. Adapun analisis data yang digunakan untuk pengujian hipotesis adalah teknik analisis korelasi product moment pearson. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan yang cukup kuat antara literasi informasi dengan minat baca. Kemampuan Literasi Informasi terdiri dari rata – rata 63,75 dan frekuensi hasil tergolong rendah dengan hasil 55% dari 100%. Minat Baca terdiri dari rata – rata 60,36 dan frekuensi hasil tergolong rendah dengan hasil 46% dari 100%. Dengan rincian hasil penelitian berdasarkan pedoman intepretasi koefisien korelasi terdapat hubungan yang signifikasi antara literasi informasi dengan minat baca sebesar 0,635 yang termasuk dalam kategori kuat. Saran dan penelitian seharusnya sekolah atau pengajar serta pustakawan dapat memanfaatkan program literasi dengan baik yaitu Gerakan Literasi Sekolah, maka dapat meningkatkan minat baca sehingga menjadi masyarakat yang melek akan informasi serta dengan begitu perpustakaan akan menjadi sarana yang sangat berpengaruh di SMP Negeri 6 Malang

    PELAPORAN DAN PENANGANAN TEMUAN BENDA CAGAR BUDAYA

    No full text
    Abstrak: Sebenarnya perkara penanganan temuan benda cagar budaya bukan semata-mata urusan pemerintah, akan tetapi melibatkan juga masyarakat umum. Seringkali masyarakat dengan tidak sengaja menemukan benda-benda purbakala, namun hingga saat ini banyak orang yang tidak tahu kemana harus melaporkannya. Ketidaktahuan tentang prosedur pelaporan ini akhirnya banyak dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu untuk diperjualbelikan secara illegal atau diselundupkan. Padahal temuan benda purbakala sebagai salah satu aspek warisan budaya ini merupakan sumber atau bahan penting untuk membantu mengungkapkan segala aspek kehidupan masa silam yang merupakan cermin kehidupan masyarakat bangsa Indonesia. Namun apa yang terjadi, kita lebih banyak diheritahu berbagai proses pemiskinan warisan budaya bangsa tersebut. Dengan demikian akan banyak nisi gelap proses sejarah kita yang belum dapat diungkap. Oleh karena itu, untuk menyikapi ketidaktahuan masyarakat tentang prosedur pelaporan, berikut akan diinformasikan cara­cara melaporkan adanya temuan benda purbakala tersebut.   Kata kunci: Benda cagar budaya, penemuan, dan pelaporan

    PERANCANGAN MEDIA PROMOSI WISATA AIR TERJUN PARANG TEJA

    No full text
    ABSTRAK Sari, Chandra. 2011. Perancangan Media Promosi Wisata Air Terjun Parang Teja. Skripsi, Program Studi Desain Komunikasi Visual, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang, Pembimbing : (I) Drs. Imam Muhadjir. (II) Moh. Sigit, S.Sn.   Kata kunci: Perancangan, Media Promosi, Air Terjun Parang Teja. Malang adalah salah satu kota di Indonesia yang memiliki obyek wisata alam yang menarik. Baik berupa gua, pantai, pemandian air hangat, pegunungan, hutan wisata, bahkan situs-situs purbakala, dengan berbagai kelebihan dan keistimewaannya yang tersebar di berbagai sudut wilayah Kabupaten Malang. Namun, sebagian besar wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri hanya mengetahui sebagian kecil obyek wisata alam di Kabupaten Malang. Air Terjun Parang Teja merupakan salah satu objek wisata alam yang ada dan menjadi andalan dalam sektor pariwisata Kabupaten Malang. Namun, letak yang kurang strategis membuat objek wisata ini kurang begitu dominan di mata masyarakat luas. Hal ini terlihat dengan kurangnya media promosi yang mendukung objek wisata alam Air Terjun Parang Teja. Sehingga, perlu adanya suatu perbaikan mengenai hal tersebut, untuk meningkatkan citra pariwisata Kabupaten Malang, khususnya Air Terjun Parang Teja. Hasil akhir perancangan ini adalah Promosi, yang berfungsi sebagai media informasi dan sebagai alat untuk menggambarkan ikon dari wisata Air Terjun Parang Teja. Media Promosi yang dihasilkan adalah poster, brosur, Billboard, Tiket, souvenir, web, dan advertising sign. Diharapkan media-media tersebut mempromosikan Air Terjun Parang Teja secara efektif dan efisien

    perancangan buku pop up tentang pengenalan satwa langka Indonesia untuk anak-anak usia 7-11 tahun

    No full text
    ABSTRAK   Yudhistya Ayu Kusumawati. 2012. Perancangan Buku Pop Up tentang Pengenalan Satwa Langka Indonesia untuk Anak-anak Usia 7 – 11 tahun. Skripsi, Program Studi Desain Komunikasi Visual, Jurusan Seni Desain. Pembimbing: (1) Drs. Sugiyono Ardjaka, M.Sc. (2). Pranti Sayekti, S.Sn, M.Si.   Kata Kunci: Buku Pop Up, Satwa Langka Indonesia Indonesia merupakan negara kepulauan yang kaya akan keanekaragaman faunanya. Indonesia memiliki berbagai jenis satwa langka yang terancam punah karena habitatnya yang terus tergeser oleh populasi manusia. Selain itu, perburuan liar ikut mempengaruhi satwa-satwa ini mendekati kepunahan. Pengetahuan tentang satwa langka Indonesia pun masih sangat minim. Masyarakat Indonesia harus belajar untuk lebih peduli terhadap satwa langka karena merupakan salah satu kekayaan negara yang patut untuk kita jaga kelestariannya. Untuk menumbuhkan rasa peduli masyarakat dapat dilakukan dengan cara memperkenalkan satwa langka yang dimiliki Indonesia kepada masyarakat luas. Menanamkan rasa peduli dapat ditanamkan semenjak kecil yaitu dengan cara belajar. Memperkenalkan berbagai macam satwa langka Indonesia sejak dini diharapkan dapat memberikan pengetahuan kepada mereka tentang keberadaan satwa langka di Indonesia. Anak-anak dapat memahami bahwa di Indonesia memiliki banyak keanekaragaman satwa yang menarik dan unik  yang terancam punah. Berbagai satwa langka dengan wujud dan keunikan masing-masing diharapkan dapat menarik perhatian dan menumbuhkan rasa kecintaan yang dikemas dengan tampilan visualisasi yang menarik untuk anak-anak. Maka, dibutuhkan suatu inovasi atau sesuatu yang menarik agar minat belajar masyarakat tentang satwa Indonesia semakin tinggi. Satwa yang beragam inilah maka diperlukan suatu media yang menarik. Salah satunya adalah buku pop up tentang satwa langka Indonesia. Buku berbasis pop up saat ini merupakan media yang cukup diminati karena didukung dengan visualisasi 3D. Diharapkan dengan adanya tampilan 3D pada buku pop up akan membuat semakin menarik sehingga pesan yang akan disampaikan akan dengan mudah di terima oleh penikmat buku tersebut. Buku ini diharapkan bisa memenuhi kebutuhan masyarakat tentang pengenalan satwa langka Indonesia yang dikemas dengan menarik dan komunikatif sehingga bisa menumbuhkan rasa kecintaan sang pembaca untuk menjaga dan melestarikan satwa di Indonesia khususnya anak-anak sekolah dasar usia 7 – 11 tahun.   ABSTRACT   Kusumawati, Yudhistya Ayu. 2012. Developing Pop Book to Introduce Indonesian Endangered Animals to Children of age 7 – 11, Thesis, Visual Communication Design, Art Design Department. Advisor: (1) Drs. Sugiyono Ardjaka, M.Sc. (2). Pranti Sayekti, S.Sn, M.Si.   Keywords: Pop Up Book, Indonesian Endangered Animals Indonesia is an archipelagic country that has variegated wildlife. Ironically, their number keeps decreasing since human population is displacing their natural habitat. Besides, poaches have also become another factor that pushes those rare animals into the brink of extinction. Endangered animals are ones of country’s treasures that need to be cherished. In fact, people’s awareness toward that specific type of animals in Indonesia is still low. In order to encourage them to be more proactive in protecting those animals, there needs to be an attractive way to introduce the variety of rare animals to society. To make it more effectively, the introduction needs to be started as early as possible from young age. An early start of raising awareness is expected to enlighten people the important existence of nearly extinct animals in Indonesia. Children will understand that there are various animals, of which number is threatened, living around them. Those animals are all unique, thus they need to be protected in order to survive. Therefore, to draw children’s interests in knowing them better, all those distinctive animals with all their special features and characteristics need to be wrapped up with striking visual display. An innovation should be made to encourage people learn more about endangered animals. In line with that, this study was eager to develop a pop up book as one of ways to introduce those animals to people. The pop up book in this study is equipped with 3D visualization, so it should be interesting enough to draw people’s attention to learn. Furthermore, because the visual aids provide real examples, it can assist readers to perceive the messages well. Finally, because this book wraps the rich content of knowledge about threatened animals attractively and communicatively; it is expected to appeal people to be aware and eager to learn about them. The awareness and understanding of rare animals’ current state will encourage people, more specifically children of age 7-11, to take needed actions to keep those animals from appearing forever

    HOME AND SPACE: TRACY BEAKER’S SPATIAL IDENTITY CONSTRUCTION IN THE DARE GAME

    No full text
    ABSTRAK   Although space and place used to be neglected in the realm of identity theorization, they are now considered as an integral component in understanding identity. Space is closely related to identity construction. Experts argue that space is social construction while the social itself is being spatially organized. Space and place are differentiated by virtue of their attached meanings. The relations between place and people are considered reciprocal and dynamic. Place identity, as one of the emerging concepts that explores the links between people and place, is defined as one of the dimensions of the self that define one’s identity related to the physical environment. Places are important sources of identity elements because places have symbols that have meaning and significance to people. People use space to forge a sense of attachment. They form positive and negative bonds to places that have been given meanings through interaction. People also use narrative account to develop their spatial identity. For example, when people tell stories about places they imply multiple meanings and associations derived from their experience. Spatial identity, like identity in general, is constructed through difference. Thus, place is also saturated with meanings and ideas of otherness which justify exclusion. The Dare Game demonstrates how identity and place are closely related. Tracy’s strong yearning for a home makes the development of her identity to be constructed around home. The Dare Game illustrates how people construct places while their social life is regulated by spaces. Tracy happens to have three possible places where she can make her home, an abandoned house, her biological mother’s home, and her foster mother’s home. In order to make those places her home, Tracy actively constructs her place identity around them.  Tracy has constructed and internalized certain meanings and symbols associated with home, like sense of belonging, safety, and comfort. She seeks and attributes these meanings into those places. Her emotional identification with those places result in place attachment for those places. Her place attachment is not only characterized by positive bonds toward the places, but also by negative bonds which display the complex and ambivalent nature of spatial identity construction. Because home has been a central theme in children’s literature, it is important to compare the portrayals of home in The Dare Game with the image of home in children’s literature in general. It turns out that The Dare Game both challenges and enforces the clichéd image of home. It indicates the complex and fractured nature of cultural products, including children’s literature. The Dare Game enforces the cultural cliché that home is where the family is. However, it also challenges the cliché that biological family is better than adoptive family as Tracy chooses her foster parent over her birth parent. Mostly, the book enforces the romantic cliché of home, such as children’s need and longing for an ideal home where they feel safe and happy, the fatal contradiction of staying and leaving home, and the gendered space of home as a place dedicated for women and children

    FUNGSI ARTEFAK LITIK MASA PRASEJARAH (Kajian Etnoarkeologi)

    No full text
    Abstrak: Kendala utama yang dihadapi arkeolog dalam merekonstruksi kehidupan prasejarah adalah hakekat data yang serba terbatas baik kualitas maupun kuantitasnya serta harus ditafsirkan. Kebanyakan artefak prasejarah Indonesia masa paleolitik-mesolitik-nelolitik ditemukan di permukaan tanah sehingga aspek konteksnya tidak dapat diamati secara jelas. Hal ini meny-ebabkan penjelasan atas artefak tersebut belum begitu maksimal. Seperti diketahui bahwa setiap alat dibuat pasti mempunyai fungsi tertentu. Namun belum ada yang dapat menjelaskan fungsi alat-alat tersebut secara meyakinkan. Salah satu upaya untuk mengetahui fungsi artefak tersebut dapat dilakukan melalui kajian etnoarkeologi.   Kata kunci: fungsi, artefak , prasejarah, etnoarkeolog

    3

    full texts

    77

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    KARYA DOSEN Fakultas Sastra UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇