Resital: Jurnal Seni Pertunjukan
Not a member yet
292 research outputs found
Sort by
Sasando Gaya Edon: Kajian Organologi dan Penyeteman
Sasando merupakan alat musik tradisional khas pulau Rote-NTT. Sasando merupakan alat musik keluarga sehingga memiliki beragam teknik penyeteman sesuai dengan gaya permainan masing-masing keluarga. Dewasa ini telah banyak penelitian yang dilakukan tentang sasando namun belum ada yang memberikan perhatian khusus pada teknik menyetem sasando. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan organologi dan teknik penyeteman sasando berdasarkan gaya Edon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sasando memiliki sembilan bagian utama yaitu: (1) koan, (2) kepala sasando, (3) sekrup pengikat dawai, (4) tabung bambu, (5) dawai, (6) senda, (7) haik (sebagai resonator pada sasando tradisional), (8) bokong sasando; dan (9) socket input/output (sasando elektrik). Berkaitan dengan penyeteman pada gaya Edon, sasando menggunakan beberapa tangga nada, misalnya tangga nada D dan A atau tangga nada E dan B, sehingga bisa melakukan modulasi. Untuk tangan kiri, permainan sasando gaya Edon menggunakan dua nada sol yaitu sol kecil sebagai center (melodi) dan sol besar (bas) yang terletak tepat di sebelah center searah jarum jam. Untuk melodi (tangan kiri), sasando disetem dari nada sol dengan nada setengahnya yaitu fis dan li pada nada tinggi, sedangkan komposisi nada rendahnya yaitu do, si, li, fis, sol. Untuk ritme (tangan kanan), sasando disetem dari bas searah jarum jam dengan nada do, re, mi, fa, sol, la, si, do sampai mi tinggi (masuk pada oktaf kedua), sedangkan dua dawai sisa disetem untuk nada fis dan cis. Selain dua dawai sisa tersebut, terdapat juga dawai-dawai di bagian melodi dekat center yang dapat digunakan untuk menempatkan nada-nada setengah lainnya.ABSTRACTEdon Style of Sasando: Organology and Tuning Studies.. Sasando is a traditional musical instrument typical of the island of Rote-NTT. Sasando is basically a family musical instrument so it has a variety of tuning techniques in accordance with the style of play of each family. Today there have been many studies conducted on sasando, but no one has paid particular attention to the sasando tuning technique. This research is a qualitative research that aims to describe the organology and sasando tuning techniques based on Edon's style. The results showed that sasando had nine main parts: (1) koan, (2) sasando head, (3) string screw, (4) bamboo tube, (5) string, (6) senda, (7) haik ( as a resonator in traditional sasando), (8) sasando buttocks; and (9) electric input / output sockets. In connection with tuning, in the Edon style, sasando is tuned using a number of scales, for example the D and A scales or E and B scales, so that they can do modulation. For the left hand, Edon Style uses two soles, namely small soles as the center (melody) and large soles (bass) which are located right in the center in a clockwise direction. For the melody (left hand), Sasando is tuned from the sol note with the half note ie fis and li on the high note, while the composition of the low notes is do, si, li, fis, sol. For rhythm (right hand), Sasando is tuned from the bass in a clockwise direction with the notes do, re, mi, fa, sol, la, si, do until the noodles are high (enter the second octave), and the remaining two strings are tuned for the fis and cis. In addition to these two strings, there are also strings in the melody section near the center that can be used to use the other half notes.Keywords: Sasando; Organology; Tuning Technique; Edon Styl
Post – Harmony Sangposangan As Dynamic Existence of Madurese People In Digital era
Post – Harmony Sangposangan As Dynamic Existence of Madurese People. In Digital era This paper is a result of anthropology research by using cultural studies perspectives. This article, comprehensively, discuss; 1) musical relation between Western and traditional music in sangposangan; 2) a kind of ‘post-harmony’ sangposangan by using musicology analysis through musical text of Angling Madura song. The result of study shows an encounter between western and Madurese traditional music in sangposangan music which can produce a new musical entity (harmony of other). Post-harmony sangposangan is manifested in dynamic composition which are; 1) dangdut composition in EDM syle, and 2) contrast change from dangdut koplo to pure dangdut. Post-harmony can be read as intuition, emotion, sense and instinct which can drive creative process of sangposangan music. It does not come from rigid notation system but it is constructed from rhythm of Madurese people’s life.ABSTRAKTulisan ini merupakan hasil penelitian antropologi musik dengan menggunakan perspektif kajian budaya. Secara komprehensif artikel ini menelaah tentang 1) relasi musikal antara musik Barat dan tradisional dalam musik sangposangan; 2) menelaah tentang bentuk ‘post-harmoni’ sangposangan melalui analisis musikologis dari teks musikal gending Angling Madura. Hasil kajian menunjukkan bahwa pertemuan musikal antara musik Barat dan tradisional Madura dalam musik sangposangan mampu menghasilkan sebuah entitas musikal yang baru (‘harmoni yang lain’). Post-harmoni sangposangan diwujudkan dalam dinamika garap yang dinamis yaitu 1) garap dangdut ala EDM, dan 2) perubahan kontras dari dangdut koplo ke dangdut piur. Post-harmoni dapat dibaca sebagai sebuah naluri, emosi, sense dan insting yang menjadi penggerak dari proses kreatif musik sangposangan. Ia tidak berangkat dari sistem notasi yang kaku, tetapi dibangun dari ritme kehidupan masyarakat Madura.Kata kunci: Sangposangan; Post – Harmony; Madura, Musi
Mengukur Perubahan Hasil Belajar Mahasiswa Melalui Penggunaan Modul Teori Musik
Penelitian ini bertujuan untuk mengukur perubahan hasil belajar mahasiswa kelas teori musik sebelum dan sesudah diterapkan modul teori musik. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Adapun tahapan dalam penelitian ini meliputi, tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Data yang diperoleh antara lain hasil belajar mahasiswa, hasil observasi aktivitas belajar mahasiswa yang diperoleh dari lembar observasi dan hasil wawancara. Hasil penelitian pada siklus I menunjukkan bahwa ada peningkatan hasil belajar mahasiswa, namun masih ada mahasiswa yang mendapat nilai pada kategori kurang. Selain itu, sebagian mahasiswa masih belum terbiasa dalam penggunaan modul. Sedangkan hasil penelitian pada siklus II ada peningkatan hasil belajar mahasiswa yang signifikan jika dibandingkankan dengan sebelum penerapan modul teori musik dan pada siklus I. Hasil ini menunjukkan bahwa penggunaan modul ajar dapat meningkatkan hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah teori musikABSTRACTMeasure changes in student learning outcomes through the use of music theory module. This study aims to measure changes in student learning outcomes in music theory classes before and after the music theory module is applied. The research method used was classroom action research (CAR), which was carried out in two cycles. The stages in this study include, the planning stage, the implementation of actions, observation, and reflection. The data obtained include student learning outcomes, observations of student learning activities obtained by observation sheets and interview results. The results of the study in the first cycle showed that there was an increase in student learning outcomes, but there were still students who scored in the poor category. In addition, some students are still unfamiliar with using modules. While the research results in the second cycle there is an increase in student learning outcomes significantly if dibandingkankan with prior application of music theory modules and the first cycle. These results indicate that the use of teaching modules to improve learning outcomes of students in the subject of music theory.Keywords: modules; music theory; learning outcome
Representasi Konsep Patet dalam Tradisi Garap Gamelan Bali
Patet merupakan salah satu persoalan penting karena memiliki keberagaman dalam tradisi garap pada setiap gamelan Bali.. Sayangnya, keberagaman tersebut tidak terpublikasi dan terumuskan secara komprehensif menjadi sebuah teori yang dapat menjelaskan patet gamelan Bali. Salah satu garap patet yang unik, yang diangkat dalam penelitian ini adalah implementasi patet dalam Gamelan Gong Suling. Gamelan ini merupakan salah satu gamelan yang tidak eksis di masyarakat, namun sesungguhnya memiliki fleksibelitas dalam konsep penggarapan terutama persoalan patet yang berbeda dengan gamelan Bali lainnya. Oleh sebab itu, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana implementasi patet dalam Gamelan Gong Suling. Metode penelitian didasarkan pada metode analisis deskriptif melalui teori garap. Ada dua aspek analisis utama tentang garap Gamelan Gong Suling: (1) pengelompokan tungguhan (instrumen), dan (2) konsepsi musik. Sedangkan untuk instrumennya, Gamelan Gong Suling terdiri dari seruling Bali, kendang, cengceng ricik, kajar, klenang, dan gong pulu. Mengenai fungsi alat musiknya, seruling Bali memainkan melodi (bantang gending, bon gending, payasan gending), kendang memainkan payasan gending, cengceng ricik memainkan pengramen, dan gong pulu memainkan pesu mulih. Konsep musik Gamelan Gong Suling menyangkut: materi garap, prabot garap atau piranti garap, dan penentu garap. Mengenai materi garap, Gamelan Gong Suling memiliki nada dasar yang disebut Bantang Gending; mengenai Piranti Garap, Gamelan Gong Suling memiliki lima tetekep: tetekep deng, dang, dong, dung dan ding; Adapun tentang Penentu Garap, terdapat empat ragam garap dalam Gamelan Gong Suling: garap tabuh petegak, garap prosesi, garap kreasi, dan garap dolanan.ABSTRACTThe Representation of Patet Concept in the Working Tradition of the Balinese Gamelan. Patet is an actual problem because it has diversity in the working tradition of the Balinese gamelan. Unfortunately, this diversity is not published and formulated comprehensively into a theory that can explain the patet of the Balinese gamelan. One of the unique patet works raised in this study is the representation of patet in Gamelan Gong Suling. This gamelan is one of the gamelans that does not exist in society. It has flexibility in the concept of gamelan works, especially the problem of patet, which is different from other Balinese gamelan. Therefore, the formulation of the situation in this study is implementing the patet in Gamelan Gong Suling. The research methodology is based on the descriptive analysis method through garap theory. There are two main analysis aspects concerning the work of Gamelan Gong Suling: (1) the tungguhan (instrumens) grouping, and (2) the musical conception. As for the instrumentation, Gamelan Gong Suling is composed of Balinese flutes, kendang, cengceng ricik, kajar, klenang, and gong pulu. Regarding the function of the instruments, Balinese flutes play the melody (bantang gending, bon gending, payasan gending), kendang plays the payasan gending, cengceng ricik plays the pengramen, and gong pulu plays the pesu mulih. The musical concept of Gamelan Gong Suling concerns: garap material, prabot garap or piranti garap, and penentu garap. Regarding the works, Gamelan Gong Suling has a fundamental melody called Bantang Gending; for what concerns to Piranti Garap, Gamelan Gong Suling has five tetekep: tetekep deng, dang, dong, dung, and ding; as for what regards as Penentu Garap, there are four garap styles in Gamelan Gong Suling: garap tabuh petegak, garap prosesi, garap kreasi, and garap dolanan.Keywords: form; patet; garap; gamela
Musical Aspects for Empowering the Black Characters in the Movie Get Out (2017)
In this 21st century, the representation of Black people in many U.S. movies is still problematic, for the movies do not omit the stereotypical representations of Black people, which are often depicted being disrespectful and unintelligent compared to other races. Many movies have been trying to change them into another perspective, yet they are still unable to completely get rid of those stereotypes. By looking through the cinematic aspects, the dialogues, and the symbols along with the sounds and music used, this paper examines the stereotypes of Black characters the movie Get Out (2017) by Jordan Peele using discourse analysis. The paper observes that the representation of the movie still distinguishes Black from White in the aspects of body over mind in Black masculinity, incivility, and distinctive racial labor. As a result, Black characters are seen inferior compared to White characters despite the movie’s effort to empower them. The use of music also emphasizes the power relation difference between the two races. Overall finding of the paper reveals that the existence of Black stereotypical depiction is still found in a movie empowering Black people showing that race representation should be monitored thoroughly
Sinunö Falöwa sebagai Pelegitimasi Upacara Adat Perkawinan pada Masyarakat Nias di Kota Gunungsitoli: Kajian Konteks dan Kontinuitas
Tulisan ini membahas tentang ritual perkawinan pada masyarakat Nias di Gunungsitoli. Dua hal yang menjadi fokus diskusi pada tulisan ini adalah, pertama, terkait tradisi nyanyian perkawinan yang dikenal sebagai sinunö falöwa, dan kedua, terkait kepercayaan lokal masyarakat Nias yang dikenal sebagai sanömba adu, penyembah Patung. Dengan mengaplikasikan pendekatan etnomusikologis dan metode penelitian deskriptif komparatif, artikel ini mengungkapkan: (i) ritual perkawinan pada masyarakat Nias di Gunungsitoli terlegitimasi lewat penyajian nyanyian perkawinan yang dikenal sebagai sinunö falöwa; (ii) sebagai aspek yang melegitimasi ritual perkawinan, sinunö falöwa merefleksikan aspek-aspek kepercayaan lokal, dan (iii) keberadaan sinunö falöwa menggambarkan keberlanjutan kepercayaan kuno masyarakat Nias yang eksis melalui proses transmisi sinunö falöwa dan harus dilaksanakan melalui ritual perkawinan, falöwa.Sinunö Falöwa As Legitimacy of Indigenous Marriage Ceremony in Nias Community in Gunungsitoli City: Study of Context and Continuity. This paper presents an overview of marriage rituals of the Nias community in Gunungsitoli. Two things become the main focus of the discussion, namely the one related to the tradition of marriage singing known as sinunö falöwa, and the one related to the local beliefs of the Nias community known as sanömba adu, worshipers of the Statue. By applying the ethnomusicological approaches and comparative descriptive research methods, this article reveals: (i) marriage rituals in the Nias community in Gunungsitoli which are legitimized through the presentation of marriage songs known as sinunö falöwa; aspects of local beliefs, and (ii) the existence of sinunö falöwa illustrates the continuation of the ancient beliefs of the Nias community that has been existed through the transmission process of sinunö falöwa and must be carried out through marriage rituals, falöwa.Keywords: sinunö falöwa; sanömba adu; Nias trib
Metode ‘TaTuPa’ Tabuh Tubuh Padusi sebagai Musik Internal Visualisasi Koreografi NeoRandai
Setiap koreografi selalu mengandung dua aspek yang tidak terpisahkan antara isi dan bentuk. Di satu pihak, koreografi disikapi sebagai ‘craft’ yang menekankan prinsip-prinsip objektif dan aturan komposisi. Di lain pihak, hal tersebut merupakan‘proses’ yang menekankan cara kerjanya yang kreatif. Tujuan penelitian ini menawarkan metode TaTuPa (Tabuh Tubuh Padusi) yaitu sebuah koreografi sebagai karya seni yang merupakan salah satu bentuk kreativitas dalam eksplorasi musik internal yang dibangun oleh tubuh penari itu sendiri, baik dari suara vokal, petik jari, tepuk tangan, tepuk dada, tepuk paha, maupun hentakan kaki. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode TaTupa yang mengkombinasikan antara isi dan bentuk menjadi sebuah kesatuan yang utuh dari eksplorasi gerak menghasilkan irama musik internal. NeoRandai Minang sebagai kreativitas seniman dapat dipahami sebagai suatu gejala sosial ‘kekinian’ yang berdimensi ‘mikro’ sehingga menjadi salah satu di antara berbagai kemungkinan cara memahami, melihat, dan mengkaji yang sebenarnya sangat kompleks ini. Pada saat ini, pandangan orang tentang karya seni tari selalu mengalami perkembangan dan pergeseran sesuai atau sejalan dengan konsep estetik yang muncul pada setiap zaman. Pandangan yang menyatakan bahwa estetik itu sesungguhnya berkaitan atau mengkaji sesuatu yang indah, kini bergeser sehingga perlu dikoreksi kembali mengingat kecenderungan karya-karya seni tari-tari kontemporer tidak lagi hanya sekedar menawarkan pemilihan gerak sebagai keindahan, tetapi lebih diutamakan pada makna dan aksi mental.The ‘TaTuPa’ Method of Tabuh Tubuh Padusi as an Internal Music Visualization of NeoRandai Choreography. Each choreography always contains two inseparable aspects between content and form. On the one hand, it behave choreography as 'craft' which emphasizes objective principles and rules of composition. On the other hand as a 'process' which emphasizes creative ways of working. The purpose of this study is to offer the TaTuPa Method ( Tabuh Tubuh Padusi ) is a choreography as an art work which is one form of creativity in the exploration of internal music built by the body of the dancer itself, both from vocal sounds, pick fingers, applause, chest pat, pat thighs, and foot pounding. The results of this study the TaTupa Method by combining content and form into a whole unity from exploration of motion that produces internal music rhythms. Neo Randai Minang as an artist's creativity, can be understood as a social phenomenon of 'contemporary' with a 'micro' dimension, which is one of the various possible ways of understanding, seeing, and studying what is actually very complex. At this time people's views on dance art always experience development and shift according to or in line with the aesthetic concepts that arise in every age. The view that states that aesthetics are actually relating or reviewing something beautiful, is now shifted and corrected again considering the tendency of contemporary dance works to no longer merely offer the selection of motion as beauty, but more prioritize meaning and mental action.Keywords: tatupa method; padusi; choreography; music internal; neoranda
Pembelajaran Karawitan Jawa Tingkat Dasar Berbasis Multimedia dalam Belended Learning
Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan hasil perancangan multimedia pembelajaran karawitan Jawa tingkat dasar dan penerapannya pada pembelajaran campuran antara tatap muka dengan pembelajaran mandiri. Multimedia pembelajaran ini dirancang untuk mengatasi masalah ketidaksiapan sebagian besar mahasiswa Jurusan Pendidikan Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta dalam mengikuti kelas praktik (bersama) karawitan Jawa akibat tidak tersedianya gamelan untuk belajar mandiri yang mudah diakses. Multimedia dibuat melalui tahapan analisis kebutuhan, desain produk, pengembangan desain produk, implementasi, evaluasi, penilaian produk serta diujicobakan pada pembelajaran semester gasal tahun akademi 2019-2020 kelas A. Hasilnya, penggunaan multimedia pembelajaran tersebut dapat meningkatkan frekuensi belajar mahasiswa, mempersingkat waktu penguasaan materi ajar, dan meningkatkan kualitas hasil pembelajarannya Multimedia-Based of Javanese Basic Karawitan Learning in Blended Learning. This article aims to describe the results of the multimedia design of Javanese musical learning at the elementary level and its application to blended learning between face-to-face and independent learning. The learning multimedia is designed to overcome the problem of most students of the Performing Arts Education Department, Institut Seni Indonesia Yogyakarta who joined the Javanese practical class due to the unavailability of gamelan for self-access study. Multimedia was made through the stages of needs analysis, product design, product design development, implementation, evaluation, and product assessment which were tested for class A on the odd semester of 2019-2020 academic year. As a result, the use of multimedia learning can increase the students’ learning frequency, shorten the mastery time of the material teaching, and improve the quality of learning outcomes.Keywords: blended learning; Javanese karawitan; multimedi
Konsep Mandheg dalam Karawitan Gaya Surakarta
Tulisan ini mengungkap mandheg sebagai salah satu konsep lokal di dalam karawitan Jawa gaya Surakarta. Penelitian ini bertujuan untuk menggali persoalan yang terkait dengan pengertian mandheg, proses terjadinya mandheg, hal-hal yang berhubungan dengan pemaknaan, elemen pembentuk, dan fungsi mandheg di dalam proses penggarapan gending. Data dikumpulkan melalui studi pustaka, wawancara, dan pengamatan pertunjukan. Analisis dilakukan dengan menafsirkan kembali pemikiran dan pengalaman pengrawit yang diperoleh melalui realitas pragmatik. Berdasarkan penelitian disimpulkan bahwa mandheg dimaknai sebagai sajian gending yang berhenti sejenak pada sebuah titik dengan ciri pola kendangan mandheg dan alur yang spesifik setelah mandheg. Mandheg dibagi menjadi dua yaitu mandheg kedah dan mandheg pasrèn, dengan elemen pembentuk, antara lain andhegan gawan, kalimat lagu, variabel melodi balungan, dan sekar. Mandheg bersifat wajib dan fakultatif. Andhegan dan variabel yang spesifik membuat mandheg sebagai pembentuk sajian gending menjadi dinamis. The Concept of Mandheg in Karawitan of Surakarta Style. This research reveals mandheg as one of the local concepts of Javanese music, especially the Surakarta style. Generally, some issues are explored in this research are related to the definition of mandheg and the process of mandheg itself. In more depth, this paper also discusses some point relating to the meaning, forming elements, and functions of mandheg in the process of gending work. These points are explained based on data on the presentation of a musical instrument as a factual data exploration media. The data collection was carried out by literature study, interviews, and also as a participant-observer. The analysis is carried out by reinterpreting the thoughts and experience of the pengrawit through practical reality. The interpretation uses the interpretation method and garap analysis. The explanation and getting conclusions are carried out by the inductive method. The mandheg is interpreted as a gendhing presentation that pauses at a point with the characteristic of the pattern of the kendhangan and the spesific flow after mandheg. The mandheg is divided into two, namely the mandheg kedah and mandheg pasrèn, with the elements of forming andhegan gawan, song sentences, balungan melodic variables, and sekar. The tend of mandheg are mandatory and facultative. Andhegan and specific variables make mandheg as forming a dynamic presentationKeyword: mandheg; javanese gamelan; pasrè
Pendekatan Orff-schulwerk: Meningkatkan Kemampuan Mengajar Calon Guru di Taman Kanak-Kanak
Topik dalam artikel ini akan memfokuskan pada penerapan pendekatan Orff-schulwerk bagi mahasiswa sebagai calon-calon guru di sekolah, termasuk TK. Orff-schulwerk dapat dipandang sebagai suatu pendekatan dalam pendidikan musik. Dalam hubungannya dengan pendidikan dasar, pendekatan ini memfokuskan pada kebutuhan anak dan menumbuhkembangkan musikalitas setiap anak melalui aktivitas-aktivitas dasar (elemental) dalam musik dan gerakan. Pertanyaan yang dikemukakan dalam artikel ini adalah: 1) pendekatan Orff-schulwerk seperti apa yang digunakan calon guru untuk pembelajaran di TK?, 2) manfaat apa saja yang dapat diperoleh calon guru melalui penerapan pendekatan Orff-schulwerk dalam proses pembelajaran?, dan 3) bagaimana calon guru memahami peranan guru dalam pembelajaran di tingkat TK dengan pendekatan Orff-schulwerk?. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan. Penemuan dalam penelitian ini adalah para calon guru memahami bahwa: 1) pendekatan Orff-schulwerk yang dapat digunakan berhubungan dengan eksplorasi – imajinasi – kreasi yang melibatkan musik dan gerakan, 2) pendekatan ini bermanfaat untuk menumbuhkembangkan musikalitas siswa dalam proses pembelajaran di TK, dan 3) calon guru yang menerapkan pendekatan ini berperan sebagai fasilitator yang dapat menciptakan suasana pembelajaran yang menstimuli imajinasi dan kreasi siswa. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pendekatan Orff-schulwerk sebaiknya dikuasai oleh para calon guru yang mengajar di sekolah, termasuk TK. Dengan dimilikinya pemahaman atas pendekatan ini, baik secara teoretis maupun praktis, para calon guru tidak hanya meningkatkan pengetahuan mereka untuk menstimuli imajinasi dan kreativitas siswa TK dengan musik dan gerakan, tetapi juga mendukung tercapainya tujuan pendidikan nasional, yaitu pembentukan karakter siswa di sekolah.The Approach of Orff-Schulwerk for Prospective Music Teachers in Kindergarten Schools. The topic in this article focuses on the application of Orff-schulwerk for university students as prospective teachers in school, including kindergarten. Orff-schulwerk can be seen as an approach to music education. In related to primary education, this approach focuses on the children needs and develops children musicality through necessary activities (elemental) in music and movement. Some questions in this article are: 1) what kind of Orff-schulwerk that can be used by prospective teachers in the learning process at kindergarten? 2) what benefits can be obtained by teacher candidates through the application of the Orff-schulwerk approach? And 3) how do prospective teachers who use this approach can understand their role in learning? The method used in this study is action research. The findings in this research are prospective teachers understand that: 1) Orff-schulwerk can be used in related to exploration – imagination – creation that involving music and movement; 2) this approach is useful for developing student musicality in the learning process in kindergarten; and 3) in this approach, prospective teachers are acted as facilitators who can create an atmosphere of learning that stimulate students’ imagination and creation. This study concludes that the Orff-schulwerk approach should be mastered by prospective teachers who teach in schools, including kindergarten. By having an understanding of this approach, both theoretically and practically, prospective teachers not only enhance their knowledge but also support the national education goals, namely the students’ character building in schools.Keywords: Orff-Schulwerk; music education; kindergarten teacher