Jurnal Kesehatan Reproduksi
Not a member yet
239 research outputs found
Sort by
Informed Consent Tindakan Seksio Sesarea: Studi Metode Campur Penerapan Prinsip Bioetika pada Obstetri dan Ginekologi
Latar belakang: Seksio sesarea dilakukan atas indikasi medis dan persetujuan pasien. Proses pengambilan keputusan terkadang menghadapi kendala dan dilemma.Tujuan: Menganalisis kelengkapan dan kepatuhan pengisian lembar informed consent dan aspek bioetika pemberian informed consent pada SC elektif.Metode: Menggunakan metode campur dengan pendekatan explanatory sequential design. Data kuantitatif untuk menilai kelengkapan dan kepatuhan pengisian lembar informed consent diperoleh dari rekam medik. Data kualitatif untuk menilai penerapan aspek bioetik diperoleh dari wawancara terstruktur dengan dokter Obgin, dokter umum jaga, bidan, dan pasien pasca SC.Hasil dan Pembahasan: Kelengkapan dan kepatuhan pengisian lembar informed consent adalah 72,5% dan 71,8%. Kedisiplinan dan perubahan rekam medik elektronik menjadi kendala pengisian formulir informed consent. Pemberian informed consent terkendala ketidakhadiran orang terpenting yang akan mengambil keputusan, kurangnya pemahaman dan pengetahuan pasien, dan pasien peserta asuransi kesehatan sehingga memunculkan dilema. Implementasi informed consent berdasarkan prinsip bioetika, otonomi, beneficence, non- maleficence, dan justice, digunakan untuk menyelesaikan dilema etik dalam pengambilan keputusan.Kesimpulan: Kelengkapan dan kepatuhan pengisian lembar informed consent belum mencapai 100%. Memilih prinsip bioetika yang lebih dominan nilai dan prioritasnya dengan analisis prima facie menjadi solusi untuk menyelesaikan dilema etik dalam pengambilan keputusan pada SC elektif
Extirpation of a Pedunculated Submucouse Leiomyoma: Case Report
Background: Uterine leiomyomas are non-malignant neoplasms originating from endometrial tissue. They represent the most prevalent tumor seen in females of reproductive stages. Abnormal uterine bleeding is one of the most common symptoms of leiomyoma. There are several types of myoma, including pedunculated submucous uterine leiomyoma.Objective: To report the case of a pedunculated submucouse leiomyoma extirpation.Method: A 38-year-old woman with complaints of abnormal bleeding without pain. Physical examination showed good general condition. Anemic conjunctiva was found. A gynecological examination found a mass in the external uterine ostium as big as a big toe. Ultrasonography examination showed a mass in the vagina that was stalked towards the uterine cavity. The diagnosis was pedunculated submucous uterine leiomyoma. Leiomyoma extirpation therapy was performed.Results and Discussion: Leiomyomas of the uterus, even when large or numerous, may be asymptomatic. Common signs and symptoms include abnormal bleeding, urinary frequency due to compression of the bladder, sudden pain from infarction of a large or pedunculated tumor, and impaired fertility. The management of pedunculated uterine leiomyoma if the tumor is small is sufficient to do extirpation but if the tumor is large with a thick stalk, laparotomy must be performed.Conclusion: Extirpation is a surgical intervention prefered therapy for prolapsed pedunculated submucous leiomyoma. It has been seen that small nascent myomas that protrude through the ostium uterine internum can be effectively removed just using extirpation
PENDIDIKAN SEKS ANAK USIA DINI: STUDI BERDASARKAN PENGALAMAN ORANG TUA
Background: Limited parental awareness regarding early childhood sex education contributes to the rising prevalence of sexual violence against children. Inadequate understanding of intimate boundaries and insufficient parental guidance place children at higher risk.Objective: To explore parental roles and the strategies employed in introducing and teaching sex education to early-aged children.Method: This research utilizes a qualitative design with a phenomenological approach. Data were obtained through unstructured interviews guided by interview prompts, involving six parents of children aged 2–6 years selected through purposive sampling.Results and Discussion: Findings indicate that parents view essential knowledge about intimate areas, gender distinctions, and modesty as foundational before educating children. Parents act as primary information providers, behavior regulators, communication partners, and interpreters of religious values in delivering sex education. Early sex education fostered responsibility and independence in maintaining personal hygiene and safety of intimate organs. Social support—originating from spouses, family members, teachers, peers, and the children themselves—strengthened parents’ capacity to optimize sex education practices.Conclusion: Parents hold a pivotal role as the initial source of information and behavioral guidance in early sex education. Adequate parental literacy, supported by social reinforcement, promotes children’s responsibility and autonomy in safeguarding their intimate areas
Sociodemographic Characteristics of Premature Birth in Sleman Regency
Background: Premature birth can increase mortality and disability in infants. Premature birth can be influenced by several types of factors, such as sociodemographic factors. Based on literature studies, there are several contradictory research results regarding the sociodemographic characteristics of premature birth. In addition, there is a surveillance system HDSS Sleman that periodically collects data on demographic transition, health status, and social transition in Sleman.Objective: This research objective is determining the sociodemographic characteristics of premature birth in Sleman Regency.Method: This is a cross-sectional study with total sampling method using HDSS Sleman secondary data from cycle 4 (2018) until cycle 6 (2020).Results and Discussion: The results of this study showed that the total proportion of premature birth in Sleman Regency from 2018 to 2020 was 14.4%. Then, the proportion of premature birth each year from 2018 to 2020 were 18.5%, 13.0%, and 5.8% respectively. After that, the highest proportion of sociodemographic characteristics of the mothers experiencing premature birth were in the category of maternal age <20 years old (20.0%), maternal parity 1 (13.0%), “working” occupational status (15.4%), low educational status (18.8%), and low socioeconomic status (18.0%).Conclusion: It can be concluded that the most common sociodemographic characteristics of the mothers experiencing premature birth were maternal age <20 years old, maternal parity 1, “working” occupational status, low educational status, and low socioeconomic status.
ANALISIS INDIKASI OPERASI SESAR ULANG PADA KLASIFIKASI ROBSON GRUP V DI RSUP SARDJITO TAHUN 2020-2022
Latar Belakang: Operasi sesar meningkat di seluruh dunia dalam beberapa tahun terakhir, yang turut meningkatkan angka operasi sesar ulang. Organisasi kesehatan dunia (WHO) menyatakan bahwa rasio operasi sesar ulang yang optimal adalah 50-60%, namun demikian angka operasi sesar ulang melebihi angka yang ditetapkan oleh WHO. Pada tahun 2015, WHO menetapkan standar sistem Klasifikasi Robson untuk memantau tingkat operasi sesar.Tujuan: Memahami dinamika operasi sesar di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta selama periode 2020-2022, dengan fokus pada karakteristik obstetri dari ibu yang menjalani operasi sesar ulang serta menilai kesesuaian angka operasi sesar berdasarkan analisis tipe populasi dan penilaian kualitas data menggunakan Klasifikasi Robson.Metode: Penelitian kuantitatif retrospektif menggunakan data sekunder. Penelitian melibatkan 336 subjek yang memenuhi kriteria inklusi dalam klasifikasi Robson grup V. Pengumpulan data dilakukan dari data sekunder rekam medis menggunakan instrumen Case Report Form (CRF) lalu dilakukan analisis data, yang mencakup analisis univariat, bivariat dan multivariat.Hasil dan Pembahasan: Didapatkan sebanyak 336 subyek penelitian, dengan 302 subyek melakukan persalinan operasi sesar ulang (89.9%) dan 34 subyek melakukan persalinan vaginal birth after Caesarean (VBAC) (10.1%). Karakteristik pasien yang berpengaruh secara signifikan terhadap kejadian operasi sesar ulang yaitu IMT pasien, onset persalinan dan taksiran berat janin (TBJ), sedangkan indikasi yang secara statistik signifikan berhubungan dengan persalinan operasi sesar ulang adalah jumlah riwayat operasi sesar, PAS/PPT, partus tak maju, PEB dan covid-19.Kesimpulan: Kejadian persalinan operasi sesar ulang lebih tinggi pada pasien dengan onset persalinan rencana operasi dan induksi. Pasien dengan riwayat operasi sesar >1 kali mengalami kejadian persalinan operasi sesar ulang yang lebih tinggi walau tanpa indikasi operasi sesar lainnya. Karakteristik subyek yang secara statistik memiliki hubungan yang signifikan dengan persalinan operasi sesar ulang yaitu IMT, onset persalinan dan TBJ
The Relationship Between Stress Level During Covid-19 Pandemic with The Intensity Of Dysmenorrhea
Background: One of the modifiable risk factors of dysmenorrhea is stress. The stress level has a bidirectional relationship with dysmenorrhea and can interfere with the student’s quality of life. Due to the COVID-19 pandemic, many abrupt changes happened in the psychosocial and socioeconomic sectors might affect the psychological well-being of students, hence exacerbating the menstrual pain.Objective: The study aims to observe whether there is a positive relationship between stress level and dysmenorrhea intensity among college students in Universitas Gadjah Mada from batch 2019-2021.Method: Descriptive study with a cross-sectional approach. The sampling was done with simple random sampling with 155 participants in total. This study uses WaLIDD score and PSS-10 questionnaire in an online questionnaire form. Data analysis is done in univariate, bivariate, and multivariate.Results and Discussion: There is a positive relationship between stress level and dysmenorrhea intensity among female UGM students with a p-value of 0.031 (<0.05).Conclusion: Higher stress levels are significantly associated with increased dysmenorrhea intensity, indicating that psychological stress during the COVID-19 pandemic may play a pivotal role in exacerbating menstrual pain among female university students
Hubungan Nilai Rasio Neutrofil-Limfosit Pra Pembedahan dengan Prognosis Kanker Ovarium Jenis Epitelial di RSUP Dr. Sardjito
LATAR BELAKANG: Kanker ovarium merupakan salah satu keganasan pada perempuan yang paling sering dan mematikan. Angka kejadian kanker ovarium di Indonesia mencapai 15 per 100.000 dan menempati urutan kelima penyebab kematian terbanyak akibat kanker pada wanita di Indonesia. Lebih dari 75% pasien kanker ovarium terdiagnosis pada stadium lanjut. Setelah menjalani tatalaksana primer, 50% pasien akan mengalami rekurensi dalam waktu 1 tahun, dan angka 5 years survival rate kurang dari 50%. Secara umum, prognosis kanker ovarium epitelial secara independen dipengaruhi oleh stadium, tipe dan derajat histologis, serta diameter residu maksimum setelah operasi sitoreduktif. Rasio neutrofil-limfosit (RNL), suatu prediktor status inflamasi, telah terbukti menjadi penanda prognostik yang efektif untuk sebagian keganasan, termasuk keganasan ovarium. Nilai RNL yang tinggi menggambarkan kecenderungan peningkatan inflamasi pro-tumor dan penurunan kapasitas imun anti-tumor.TUJUAN: Mengetahui hubungan antara Rasio Neutrofil-Limfosit (RNL) pra pembedahan primer dengan prognosis kanker ovarium epitelial pada pasien kanker ovarium di RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta.METODE: Penelitian ini merupakan penelitian uji prognosis dengan rancangan kohort retrospektif yang melibatkan 106 penderita kanker ovarium di RSUP Sardjito yang memenuhi kriteria inklusi. Sumber data berasal dari data sekunder yang diambil dari Instalasi Catatan Medik (ICM) dalam kurun waktu Januari 2016 sampai dengan Maret 2019.HASIL: Dari 106 subjek, didapatkan rerata usia pasien adalah 48.58 dengan 69.8% subjek merupakan multipara. Sebanyak 50.94% subyek didapatkan dalam stadium lanjut (III dan IV) dan 71.7% merupakan tumor high grade. Risiko relatif subyek dengan RNL ≥ 3,1 yang mengalami Progression Free Survival (PFS) 3.1 dan stadium lanjut berhubungan dengan PFS secara klinis maupun statistik. KESIMPULAN: RNL pra pembedahan > 3.1 berhubungan dengan kejadian PFS 3.1 dan stadium lanjut mengalami PFS < 12 bulan.KATA KUNCI: Kanker ovarium epitelial, Rasio Neutrofil-Limfosit, progression free survival
Analisis Pengambilan Keputusan Dokter dan Pasien Terhadap Tindakan Seksio atas Permintaan Sendiri Berdasarkan Kaidah Autonomi
Latar belakang: Operasi sesar atas permintaan sendiri telah banyak dilakukan di masyarakat Indonesia. Kebebasan untuk menentukan keputusan sendiri termasuk keputusan untuk melakukan operasi sesar ini dapat menimbulkan berbagai dampak bagi pasien. Dokter spesialis obstetrik dan ginekologi adalah dokter yang melakukan operasi sesar bisa ikut terdampak tindakan yang dilakukan jika hasil akhir operasi tidak sesuai harapan pasien.Objektif: Menganalisis pengambilan keputusan pasien dan dokter terhadap tindakan seksio sesarea atas permintaan yang dapat dipertanggungjawabkan secara etik berdasarkan kaidah autonomy.Metode: multi methods dengan pendekatan explanatory sequential design.Hasil dan Pembahasan: Indikasi medis adalah landasan utama dokter dalam mengambil keputusan. Selain itu ditemukan pertimbangan lain diluar indikasi medis yang diterima oleh informan untuk dilakukan tindakan seksio sesaria atas permintaan.Kesimpulan: Seksio sesarea atas permintaan bersifat dilematis antara indikasi medis yang jelas dengan tuntutan untuk secara etis menghargai hak autonomy. Kata kunci:Seksio sesarea; autonomy; indikasi medi
Angka Stunting Aplikasi Kesehatan Sistem Monitoring dan Promosi Kesehatan sebagai Upaya Penurunan Angka Stunting
ABSTRACT Background: Child stunting is a global problem, including in Indonesia. The target of global goals in 2025 is to reduce the prevalence of stunting. The prevalence rate in Demak District in 2019 was 50.23%, making it one of the 60 priority districts for stunting in 2019.Objective: Mobile health application can help pregnant women maintain their health and promote useful information to others.Method: First-year research method started with planning, engineering analysis, and evaluation of digital applications, named "ASTA, (Child Stunting Prevention Application), then the second year implemented the ASTA Application in midwifery care services, with a total of 24 respondents for two control and treatment groups.The results were analyzed with the Wilcoxon and Mann Whitney tests.Results and Discussion : The results of the study in the form of a stunting prevalence ratio of 0.7, indicate that the ASTA application is a factor that can reduce the potential for stunting. Keywords: Application; ASTA; monitoring; pregnant women; stunting ABSTRAK Latar belakang: Stunting pada anak merupakan masalah global, termasuk di Indonesia. Target tujuan global pada tahun 2025 adalah menurunkan prevalensi stunting. Tingkat prevalensi di Kabupaten Demak pada tahun 2019 adalah 50,23%, menjadikannya salah satu dari 60 kabupaten prioritas stunting pada tahun 2019.Tujuan: Mobile health apps dapat membantu ibu hamil menjaga kesehatan mereka dan mempromosikan informasi yang berguna kepada orang lain.Metode: penelitian tahun pertama dimulai dengan perencanaan, analisis rekayasa, dan evaluasi aplikasi digital, yang diberi nama "ASTA, (Aplikasi Pencegahan Stunting pada Anak), kemudian tahun kedua mengimplementasikan Aplikasi ASTA pada pelayanan asuhan kebidanan, dengan jumlah responden 24 orang untuk dua kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Hasil penelitian dianalisis dengan uji Wilcoxon dan Mann Whitney.Hasil dan Pembahasan : Hasil penelitian berupa rasio prevalensi stunting sebesar 0,7, menunjukkan bahwa aplikasi ASTA merupakan faktor yang dapat menurunkan potensi terjadinya stunting
Pengaruh Kualitas Sperma terhadap Kualitas Embrio pada Pasangan yang Menjalani IVF di RSUP Dr. Sardjito
Latar belakang: Kualitas sperma pria pada beberapa dekade terakhir berdasarkan studi mengalami penurunan. Penurunan kualitas sperma merupakan penyebab infertilitas pada laki-laki. Kualitas sperma yang menurun mempengaruhi kualitas embrio yang akan didapakan pada program IVF. Kualitas sperma dapat menjadi faktor prediktor kualitas embrio yang akan didapatkan pada program IVF. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kualitas sperma dengan kualitas embrio pada pasangan yang menjalani IVF di RSUP Dr. Sardjito. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kohort retrospektif. Pengambilan sampel menggunakan consecutive sampling. Subjek penelitian dibagi menjadi 3, yaitu kualitas sperma normal, perubahan ringan sperma dan perubahan berat sperma pada pasangan suami istri yang menjalani program bayi tabung (IVF/ICSI) di klinik infertilitas Permata Hati, RSUP Dr. Sardjito, antara 1 Januari 2019-31 Desember 2020. Hasil: Sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 319. Sampel tersebut terbagi menjadi 93 pada sperma normal, 144 pada perubahan sperma ringan, 82 pada perubahan sperma berat. Hasil penelitian ini terdapat hubungan yang bermakna antara kualitas sperma dengan kualitas embrio (p<0,001). Perubahan sperma berat secara statistik memiliki hubungan yang bermakna dengan embrio kualitas buruk (p<0,001). Pada perubahan sperma berat memiliki risiko 2,7 kali terhadap embrio kualitas buruk dibandingkan dengan sperma normal (OR=2,706; CI 95% 1,677-4,365). Kesimpulan: Kualitas sperma secara statistik memiliki hubungan yang bermakna dengan kualitas embrio pada pasangan yang menjalani IVF. Perubahan sperma berat memiliki risiko 2,7 kali terhadap embrio kualitas buruk dibandingkan dengan sperma yang norma