Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian
Not a member yet
    162 research outputs found

    Analisis Pendapatan Usaha Tani dan Penanganan Pascapanen Cabai Merah

    Full text link
    Analisis ini dilakukan untuk mengetahui kegiatan usaha tani dan penanganan pascapanen cabai merah untukmeningkatan nilai jual dan daya simpan dalam upaya menunjang penyediaan bahan baku industri dan meningkatkanpendapatan petani. Analisis menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Hasil analisis menunjukkan bahwakomoditas cabai merah berciri komersial dan memiliki nilai ekonomi cukup tinggi. Pada lahan kering, tingkatproduktivitas varietas Tombak mencapai 6 t/ha, varietas Tanjung-2 5,70 t/ha, dan varietas Lembang-1 4,50 t/ha.Biaya produksi ketiga varietas tersebut masing-masing Rp10,15 juta/ha, dengan tingkat pendapatan Rp21,77 jutauntuk varietas Tombak, Rp19,74 juta untuk Tanjung-2, dan Rp11,20 juta untuk Lembang-1. Pengusahaan ketigavarietas tersebut layak secara teknis dan ekonomis dengan B/C masing-masing 3,14; 2,94; dan 2,10. Penggunaanmulsa dapat meningkatkan pendapatan petani, yaitu Rp10,38 juta untuk mulsa plastik hitam, Rp7,34 juta untukmulsa jerami padi, dan Rp3,64 juta/ha untuk mulsa sekam. Namun, hanya mulsa plastik hitam dan jerami padi yanglayak secara ekonomi dengan B/C masing-masing 1,68 dan 1,27. Penanganan pascapanen cabai masih sederhanasehingga tingkat kerusakannya cukup tinggi, mencapai 40%. Oleh karena itu, penanganan pascapanen cabai merahperlu diperbaiki mulai dari panen, pengemasan, pengangkutan hingga penyimpanan untuk meningkatkan dayasimpan, nilai jual produk, dan pendapatan petani

    Peluang Perakitan dan Pengembangan Kedelai Toleran Genangan

    Full text link
    Sekitar 60% produksi kedelai nasional dihasilkan dari lahan sawah. Namun, budi daya kedelai di lahan sawah menghadapi berbagai masalah, antara lain cekaman genangan. Genangan menyebabkan penuaan dini sehingga daun klorosis, nekrosis, dan gugur serta pertumbuhan tanaman terhambat, yang pada akhirnya menurunkan hasil. Umumnya kehilangan hasil pada fase vegetatif lebih kecil dibandingkan pada fase reproduktif, yaitu 1743% pada fase vegetatif dan 5056% pada fase reproduktif. Besarnya penurunan hasil bergantung pada varietas kedelai yang ditanam, fase pertumbuhan tanaman, lamanya tergenang, tekstur tanah, dan kehadiran penyakit. Tersedianya varietas kedelai toleran genangan akan memberikan arti penting bagi upaya mempercepat peningkatan produksikedelai dalam negeri. Pengembangan kedelai toleran genangan tidak hanya bermanfaat dalam pengembangan kedelai di lahan sawah, tetapi juga wilayah yang sering mengalami cekaman genangan seperti lahan pasang surut. Luas lahan pasang surut di Indonesia mencapai 20,10 juta ha, sekitar 2030% di antaranya berpotensi sebagai lahan pertanian. Program perakitan varietas kedelai toleran genangan berpeluang dilakukan jika tersedia sumber gen dan metode skrining yang sederhana, mudah, dan cepat. Karakter morfologi dan fisiologi yang dapat secara cepat mendeteksi indikator toleransi kedelai terhadap genangan adalah perkecambahan, tinggi tanaman, perubahan warna daun menjadi kuning, kehadiran akar adventif, bobot kering akar, penutupan stomata, dan kadar N total. Kerja sama dengan lembaga internasional terutama dalam pertukaran sumber gen akan mempercepat program pemuliaan kedelai toleran genangan

    Keragaman Genetik dan Potensi Pengembangan Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus L.) di Indonesia

    Full text link
    Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus L.) merupakan tanaman tropis yang memiliki banyak fungsi, yakni sebagai bahan pangan bernutrisi prima dan sebagai tanaman penutup tanah. Seluruh bagian tanaman dapat dikonsumsi dan kaya akan protein. Tanaman kecipir juga berguna sebagai penyubur tanah, bahan pakan ternak, obat tradisional, dan pengendali erosi di lahan kering. Pusat asal-usul kecipir adalah Papua Nugini, Mauritius, Madagaskar, dan India, sedangkan pusat keanekaragaman terbesar terdapat di Papua Nugini dan Indonesia. Makalah ini mengulas keragaman genetik kecipir di Indonesia, multifungsi kecipir, dan prospek pengembangannya. Ragam kecipir di Indonesia cukup banyak, namun karakterisasi plasma nutfah kecipir di Indonesia belum dilakukan. Ciri pemertela kecipir telah dibuat oleh IBPGR, dan panduan pemertela tersebut dapat diterapkan untuk karakterisasi plasma nutfah kecipir di Indonesia. Prospek pengembangan kecipir di Indonesia cukup besar ditinjau dari ragam pemanfaatannya, kandungan nutrisi, maupun dari aspek ekologis yang sangat sesuai dengan wilayah Indonesia

    Penggunaan Varietas unggul Tahan Hama dan Penyakit Mendukung Peningkatan Produksi Padi Nasional

    Full text link
    Varietas unggul memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan produksi padi. Sumbangan penggunaan varietas unggul terhadap peningkatan produksi padi nasional mencapai 56%, sementara interaksi antara air irigasi, varietas unggul, dan pemupukan terhadap laju kenaikan produksi padi memberikan kontribusi hingga 75%. Penggunaan varietas unggul juga berkontribusi terhadap penurunan penggunaan pestisida. Namun, penggunaan varietas unggul di tingkat petani masih rendah. Beberapa faktor yang menghambat pengembangan varietas unggul ialah anggapan bahwa keunggulan varietas baru tidak sebanding dengan varietas yang ada, industri benih belum berminat mengembangkan varietas unggul, dan terbatasnya benih sumber untuk perbanyakan benih secara komersial. Tingkat komersialisasi varietas unggul dipengaruhi oleh produktivitas, kesesuaian mutu produk dengan selera konsumen, ketahanan terhadap hama dan penyakit, serta harga jual. Untuk mendukung percepatan adopsi varietas unggul padi, perlu kebijakan dalam bentuk peraturan daerah peningkatan produksi padi, jaminan sumber permodalan, penyediaan input terutama benih sumber, jaminan pemasaran dan harga jual gabah, kemitraan yang harmonis antarpemangku kepentingan, penguatan yang menarik hubungan dengan sumber informasi teknologi dan pasar output, reformasi, reorientasi dan revitalisasi kelembagaan petani, penguatan kelembagaan penyuluhan, serta pendekatan kepada tokohmasyarakat

    Teknologi Pengendalian Hama Berbasis Ekologi dalam Mendukung Pengembangan Kapas

    Full text link
    Biaya pengendalian hama pada usaha tani kapas tergolong tinggi, yaitu 41% dari biaya produksi, bahkan sebelumnyamencapai 75%. Tingginya biaya tersebut disebabkan pengendalian hama masih bertumpu pada insektisida kimia.Untuk mengurangi biaya pengendalian hama, upaya yang dapat dilakukan antara lain adalah menerapkan teknologipengendalian berbasis ekologi, yang meliputi tumpang sari kapas dengan kedelai, perlakuan terhadap benih, budidaya tanpa olah tanah, pemanfaatan jerami padi sebagai mulsa, dan penggunaan pestisida nabati. Teknologitersebut dapat mengurangi biaya pengendalian hama hingga 57%, meningkatkan hasil kapas 21% dan kedelai 31%,serta menaikkan pendapatan 57%. Pengembangan teknologi pengendalian hama berbasis ekologi untuk mendukungpengembangan kapas memerlukan arah dan strategi. Ke depan, pengembangan teknologi pengendalian hamaberbasis ekologi hendaknya tidak sepenuhnya diserahkan kepada petani dan pengelola karena mereka memilikiberbagai keterbatasan. Oleh karena itu, pemerintah berperan sangat penting, terutama dalam sosialisasi dan bantuanteknis. Strategi yang paling efektif untuk mengimplementasikan paradigma pengendalian hama berbasis ekologiadalah melalui sekolah lapang yang didukung oleh pembinaan dan pendampingan teknologi

    OPTIMASI POTENSI LAHAN KERING UNTUK PENCAPAIAN TARGET PENINGKATAN PRODUKSI PADI SATU JUTA TON DI PROVINSI LAMPUNG

    Full text link
    Program upaya khusus (UPSUS) peningkatan produksi padi yang dicanangkan Kementerian Pertanian memberi tugas kepada Provinsi Lampung untuk meningkatkan produksi padi dari 3,3 juta ton pada tahun 2014 menjadi 4,3 juta ton pada 2017. Tugas tersebut merupakan tantangan yang cukup berat bagi petani dan pengambil kebijakan di daerah tersebut karena permasalahan hasil pelaksanaan Program Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) di lahan sawah, program tersebut hanya mampu meningkatkan produktivitas padi 200–300 kg/ha. Peluang yang cukup terbuka tetapi belum dimanfaatkan secara optimal adalah pengembangan padi gogo di lahan kering suboptimal. Saat ini luas panen padi gogo  baru 47.981 ha dan hasilnya berkontribusi sekitar 4,5% terhadap total produksi padi di Lampung. Luas panen padi gogo tersebut berpotensi ditingkatkan karena di daerah ini tersedia lahan kering yang sesuai untuk pengembangan padi gogo seluas 802.341 ha. Dengan perluasan areal tanam menjadi 100.000 ha dan peningkatan produktivitas dari 3 menjadi 5 t/ha dengan menggunakan berbagai varietas unggul baru spesifik lokasi, serta pendampingan terhadap aplikasi teknologi pengelolaan lahan seperti penggunaan pembenah tanah, sistem tanam jajar legowo, dan pemupukan, peningkatan produksi padi sekitar 300 ribu ton dari target yang ingin dicapai sebesar 1 juta ton pada tahun 2017 dapat dipenuhi dari lahan kering

    Kontaminasi Mikotoksin pada Buah Segar dan Produk Olahannya serta Penanggulangannya

    Full text link
    Indonesia merupakan negara tropis yang memungkinkan aneka tanaman buah tumbuh dan berproduksi. Penerapan teknologi produksi dan penanganan pascapanen yang kurang memadai akan mengakibatkan inkonsistensi mutu buah yang dihasilkan. Kontaminasi mikotoksin merupakan salah satu masalah pascapanen produk pertanian di Indonesia. Penelitian mengenai kontaminasi mikotoksin pada komoditas buah di Indonesia belum banyak diungkapkan, namun penelitian sejenis sudah banyak dipublikasikan di luar negeri, terutama kontaminasi mikotoksin pada aneka buah subtropis. Beberapa jenis mikotoksin yang umumnya mencemari aneka buah subtropis dan produk olahannya adalah patulin, aflatoksin, okratoksin, dan alternariol. Genus kapang yang teridentifikasi pada buah dan berpotensi menghasilkan mikotoksin antara lain adalah Fusarium sp., Aspergillus sp., Penicillium sp., dan Alternaria sp. Penanganan pascapanen buah merupakan salah satu titik kritis terjadinya infeksi kapang penghasil mikotoksin. Penanganan buah seperti pemanenan yang tepat, penanganan pascapanen yang baik, pembuangan kotoran, dan pencucian dapat menurunkan tingkat kontaminan pada buah segar. Pada buah olahan seperti sari buah, untuk menurunkan kontaminan dapat dilakukan dengan penghilangan bagian buah yang berkapang, perlakuan enzim, dan penjernihan

    Bakteri yang sering Mencemari Susu: Deteksi, Patogenesis, Epidemiologi, dan Cara Pengendaliannya

    Full text link
    Susu merupakan salah satu makanan yang bergizi tinggi, namun mudah terkontaminasi oleh bakteri. Kontaminasi bakteri pada susu dimulai pada saat proses pemerahan sampai konsumsi. Bakteri yang mengontaminasi susu dikelompokkan menjadi dua, yaitu bakteri patogen dan bakteri pembusuk. Bakteri patogen meliputi Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Salmonella sp., sedangkan untuk bakteri pembusuk antara lain adalah Micrococcus sp., Pseudomonas sp., dan Bacillus sp. Kasus keracunan setelah minum susu ada dua bentuk, yaitu infeksi dan intoksikasi. Infeksi terjadi karena mengonsumsi susu yang terkontaminasi bakteri, sedangkan intoksikasi terjadi karena mengonsumsi susu yang mengandung toksin. Gejala intoksikasi lebih cepat muncul dibandingkan dengan infeksi. Kontaminasi susu dapat diminimalkan dengan memperbaiki proses penerimaan susu segar, penanganan, pemrosesan, penyimpanan sampai konsumsi. Susu yang aman dikonsumsi berasal dari sapi yang sehat dan diproses dengan pasteurisasi atau ultra high temperature (UHT), penggunaan bakteriosin, dan pencucian peralatan dengan neutral electrolysed water (NEW). Keracunan setelah minum susu dapat dihindari dengan tidak mengonsumsi susu mentah dan susu yang telah berubah penampilannya secara fisik maupun organoleptis

    PENGELOLAAN HAMATHRIPS PADA KACANG HIJAU MELALUI PENDEKATAN PENGENDALIAN HAMA TERPADU

    Full text link
    Thrips Megalurothrips usitatus (Bagnall) merupakan salah satuhama utama pada kacang hijau, terutama pada musim kemarau.Kehilangan hasil kacang hijau akibat thrips mencapai 67%sehingga pengendalian thrips sangat diperlukan. Pengelolaan hamathrips secara terpadu perlu digalakkan untuk mengurangi dampaknegatif penggunaan insektisida kimia. Strategi pengendalian thripsmelalui pendekatan pengendalian hama terpadu (PHT) dapatdilakukan melalui sanitasi lingkungan sebelum tanam, pengaturanwaktu tanam, dan budi daya tanaman sehat. Varietas Vima 2 yangtoleran thrips saat berbunga dan penggunaan mulsa dapatdikembangkan di beberapa daerah endemis thrips. Kombinasipenyemprotan insektisida fipronil 2 ml/l pada 10 hari setelah tanam(HST) dilanjutkan dengan insektisida nabati pada 17, 24, dan 31HST efektif mengendalikan thrips selama fase vegetatif dan dapatdipadukan dengan varietas Vima 2. Efektivitas pengendalian dapatditingkatkan bila insektisida nabati disemprotkan pada 24 dan 31HST dipadukan dengan insektisida fipronil 2 ml/l dua kali pada 10dan 17 HST. Kedua paket pengendalian tersebut efektif menekanintensitas serangan thrips, meningkatkan hasil 47-77%, serta menghematpenggunaan insektisida 50-75%. Perpaduan penggunaanvarietas Vima 2 dan aplikasi insektisida kimia berbahan aktif fipronilatau imidakloprid 2 ml/l pada 10, 17, 24, dan 31 HST konsistenefektif menekan serangan thrips dan meningkatkan hasil antara150-175%

    Sistem Usaha Tani Kakao Berbasis Bioindustri Pada Sentra Pengembangan Di Kabupaten Luwu Sulawesi Selatan

    Full text link
    ABSTRACTCocoa (Theobroma cacao L.) is an important estate crop commodity which plays a role in national economy for creating jobs, farmers income, stock-exchange sources, and agro-industry development. This article discusses cacao farming bioindustry in Luwu Regency, South Sulawesi, as eco-friendly, efficient, value added, and competitive farming system. The main benefit is derived from plants as a source of livestock feed and increasing plantproduction due to utilization of compost as fertilizer. While the benefit from livestock can be generated from livestock waste as organic fertilizer and a source of energy. Implementation of the model increased farming revenues by 45.9%. Cattle business efficiency can be obtained from utilization of cocoa pods and legume forage as feed sources which save labor allocation up to 50%. Cocoa farming efficiency that is obtained through the use of manure as organic fertilizer reached 40%. Financial analysis showed that  integrated cocoa and livestock was more profitable than non-integrated model. Within one year, the integration pattern provided profits of Rp13.03 million/ha/2 cattle, whereas nonintegration pattern only provided net profit of 7.84 million/ha/year. Thus the integration pattern gave added value of Rp5.1 million or 66% with an incremental benefit cost ratio (IBCR) of 1.08. The system is potential to be developed in other cocoa development areas in Indonesia, as well as to support the increasing cow population program.Keywords: Bioindustries, farming system, integration, cocoa, cow livestock AbstrakKakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu komoditas andalan perkebunan yang berperan cukup penting dalam perekonomian nasional, sebagai penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan petani dan devisa negara, dan pengembangan agroindustri. Tulisan ini membahas sistem usaha tani kakao berbasis bioindustri di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, sebagai usaha tani ramah lingkungan yang efisien, bernilai tambah, dan berdaya saing tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan sistem ini melalui integrasi kakao-sapi dapat mendorong peningkatan produktivitas tanaman kakao dan pengembangan sapi melalui pemanfaatan limbah kakao sebagai sumber pakan ternak serta limbah ternak sebagai sumber pupuk organik dan energi. Penerapan model integrasi kakao-sapi dapat meningkatkan pendapatan petani hingga 45,9%. Efisiensi usaha ternak sapi pada pola integrasi kakao-sapi terjadi melalui pemanfaatan kulit kakao dan tanaman pelindung (leguminosa) sebagai bahan pakan yang menghemat tenaga kerja dalam penyediaan pakan hingga 50%. Efisiensi pengelolaan kebun kakao terjadi melalui penghematan biaya penggunaan pupuk kandang yang mencapai 40%. Hasil analisis finansial menunjukkan bahwa usaha tani integrasi kakao-sapi jauh lebih menguntungkan dibandingkan dengan nonintegrasi. Pola integrasi mampu memberikan keuntungan Rp13,03 juta/ha/2 ekor/tahun, sedangkan keuntungan pada pola nonintegrasi hanya Rp7,84 juta/ha/tahun. Pola integrasi memberikan nilai tambah Rp5,1 juta atau 66% dengan incremental benefit cost ratio (IBCR) 1,08. Sistem ini berpotensi untuk diimplementasikan di berbagai wilayah pengembangan kakao di Indonesia, sekaligus untuk mendukung program peningkatan populasi sapi.

    145

    full texts

    162

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇