DEPIK Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan
Not a member yet
    571 research outputs found

    Kajian kesesuaian lingkungan untuk pengembangan wisata di Pantai Ganting, Pulau Simeulue, Provinsi Aceh

    Get PDF
    Abstract. Simeulue Island is situated Indian Ocean in western part of Aceh Province, this is one of the outer island in Indonesia. Simeulue has big potency in marine resources such as clean waters and beautiful beach, coral reefs and mangrove ecosystems. Therefore, Simeulue is very promising as an ecotourism destination. The objective of present study was to evaluate the condition of the water quality and the potency for a marine ecotourism development. The feasibility study was conducted on August in Ganting Beach, Village of Kuala Makmur, Simeulue Island. The purposive random sampling method was used to determine twelve sampling stations. The measured water quality parameters were pH, temperature, salinity, turbidity, dissolved oxygen, brightness, BOD5, odors, oil and debris. These parameters were analyized and mapped using software ODV, and then compared to the sea water quality standard for marine tourism as well as the characteristics of the coast to the suitability index of recreational area. The results showed that the water quality of Ganting Beach is very suitable for recreational activities (index 77, category S1) andit is suitable for swimming and also for boating tourism activities, banana boats and jet skis (index 16, category S2).Keywords: water quality; marine tourism; Ganting BeachAbstrak. Pulau Simeulue, merupakan salah satu pulau terdepan sebelah barat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan terletak di Samudera Hindia.Simeulue memiliki potensi sumberdaya laut yang besar, diantaranya perairan yang besih dan jenih, pantai yang indah, terumbu karang dan hutan bakau, sehingga sangat berpotensi untuk dikembang menjadi tujuan wisata. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kondisi kualitas perairan dan potensi kesesuaian wisata Pulau Simeulue.Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2015 bertempat di Pantai Ganting, Kelurahan Kuala Makmur, Kabupaten Simeulue. Sebanyak 12 lokasi pengambilan sampel kualitas air ditetapkan secara purposive random sampling. Kualitas air yang diukur meliputi; pH, suhu, salinitas, kekeruhan, oksigen terlarut, kecerahan, BOD5, bau, lapisan minyak dan sampah. Data tersebut kemudian dipetakan dan dianalisis menggunakan software Ocean Data View (ODV), kemudian dibandingkan dengan baku mutu air laut untuk wisata bahari serta karakteristik pantai untuk indeks kesesuaian kawasan wisata rekreasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas perairan Pantai Ganting sangat sesuai untuk kegiatan rekreasi dan berenang (indeks 77, kategori S1) dan sesuai untuk kegiatan wisata berperahu, banana boat dan jet ski (indeks 16, kategori S2).Kata kunci:kualitas perairan; wisata bahari; Pantai Ganting

    Pendugaan tingkat pemanfaatan ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) di Perairan Prigi, Jawa Timur

    Get PDF
    Abstract. Skipjack fishing activity in Prigi waters mostly used purse seine and troll line. The aims of the research was to determinate the utilization rate of skipjack. Catch per Unit Effort (CPUE), Maximun Sustainable Yield (MSY), and IMP were calculated from primary data of ship log book and secondary data were the statistic report of PPN Prigi from year 2000 - 2011. The research was conducted frm Februari to Nopember 2013. The result showed that fishing season occurred on June to July and from September to November, where the peak season at September with Effort value (EMSY) was 245 trip/year and number of catch sustainable (hMSY) was 1.219 ton/year. The highest Estimation of Utilization rate (196.98%) was occurred on 2002, while the lowest (73.54%) was recorded on 2011. In addition the average value was 106% indicate the overfishing, therefore it is crucial to plan the sustainable fisheries management in relation to protect the skipjack fishery in Prigi waters.Keywords: Utilization Rate; Skipjack; Prigi WatersAbstrak. Kegiatan penangkapan ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis) di Perairan Prigi, sebagian besar menggunakan alat tangkap pukat cincin dan pancing tonda.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pemanfaatan ikan cakalang. Nilai Catch per Unit Effort (CPUE), Maximum Sustainable Fisheries (MSY), dan Indeks Musim Penangkapan didapatkan dari data primer berupa log book kapal dan data sekunder berupa data statistik Pelabuhan Perikanan Nusantara Prigi dari tahun 2000 - 2011. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari Nopember tahun 2012. Hasilnya menunjukkan bahwa Pola Musim Penangkapan terjadi pada bulan Juni Juli dan September Nopember, musim puncak penangkapan terjadi pada bulan September dengan nilai effort lestari (EMSY) sebesar 245 trip/tahun dan total hasil tangkapan lestari (hMSY) sebesar 1.219 ton/tahun. Hasil pendugaan terhadap tingkat pemanfaatan menunjukkan hasil tertinggi dengan nilai sebesar 196,98% pada tahun 2002, sedangkan nilai terendah sebesar 73,54% pada tahun 2011. Dari data menunjukkan rata rata nilai tingkat pemanfaatan sebesar 114,9%. Diduga telah terjadi upaya penangkapan yang berlebih, jadi dibutuhkan rencana pengelolaan perikanan yang berkelanjutan untuk menjaga perikanan cakalang di Perairan Prigi.Kata Kunci: Tingkat Pemanfaatan; Cakalang; Perairan Prig

    Struktur komunitas mangrove dan strategi pengelolaannya di Kabupaten Pidie, Province Aceh (Community structure of mangrove and its management strategy in Pidie District, Aceh Province)

    No full text
    The objective of the present study was to analyze the community structure of mangrove vegetation in Pidie District, Aceh Province and to plan its management strategies. The study was conducted from August to November 2014 in three subdistricts namely Batee, Kota Sigli, and Simpang Tiga. A total of three sampling stations were determined purposively at every subdistrict where every station has two substations and every substation has three sampling plots of 10 m x 10 m. In addition, a total of 297 respondents as representative of the fish farmer, fishermen, and other stakeholders were interviewed to collect data to plan the management strategies using the SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) analysis. The results showed that there were six species of mangrove found in Pidie District namely Avicennia alba, A. officinalis, A. marina, Rhizophora mucronata, R. apiculata and Sonneratia alba. For seedlings and saplings categories can be classified into very good condition, except in Kecamatan Batee where S. alba for seedlings was classified into moderate damage and the saplings was in highly damaged condition. The mangrove of trees category was classified into heavily damaged condition. The management strategies of mangrove ecosystem in Kabupaten Pidie can be done by maximizing the function of mangrove ecosystems by replanting the species of mangrove that match with the habitat for their life so that can produce the specific functions; improve the role of government and society in controlling and monitoring the mangrove ecosystems; and establish the local regulations about the management of mangrove ecosystems in Kabupaten Pidie.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur komunitas vegetasi mangrove dan menetapkan strategi pengelolaannya di Kabupaten Pidie Provinsi Aceh. Penelitian ini dilaksanakan pada Agustus sampai November 2014 pada tiga kecamatan yaitu Kecamatan Batee, Kota Sigli, dan Kecamatan Simpang Tiga. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Pada setiap lokasi ditetapkan dua sub statiun pengamatan dan setiap pengamatan dengan tiga titik transek dimana transek berupa kuadrat berukuran 10 m x 10 m. Pengambilan data mangrove dilakukan dengan transek kuadrat berukuran 10 m x 10 m untuk kategori pohon plot 5 m x 5 m unuk kategori pancang dan 2 m x 2 m untuk kategori semai. Sedangkan untuk data strategi pengelolaan mangrove dengan mewawancarai 297 responden yang merupakan perwakilan beberapa petani tambak dan nelayan di Kecamatan Batee, Kota Sigli, Kecamatan Simpang Tiga dan perwakilan stakeholder terkait. Strategi pengelolaan ekosistem mangrove di Kabupaten Pidie dianalisis menggunakan formula SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 6 spesies mangrove di Kabupaten Pidie, yaitu Avicennia alba, A. officinalis, A. marina, Rhizopora mucronata, R. apiculata dan Sonneratia alba. Mangrove di lokasi penelitian untuk tingkat semai dan pancang dapat dikategorikan dalam kondisi sangat baik, kecuali di Kecamatan Batee S. alba pada tingkat semai dikategorikan rusak ringan dan pada tingkat pancang dalam kondisi rusak berat. Mangrove tingkat pohon pada lokasi penelitian dikategorikan rusak berat. Strategi pengelolaan ekosistem mangrove di Kabupaten Pidie dapat dilakukan dengan memaksimalkan fungsi ekosistem mangrove berupa penanaman kembali jenis-jenis mangrove tertentu yang sesuai dengan habitat hidupnya sehingga menghasilkan fungsi tertentu; meningkatkan peran pemerintah dan masyarakat; melakukan pengawasan dan monitoring secara berkala di ekosistem mangrove; serta merumuskan peraturan daerah tentang pengelolaan ekosistem mangrove di Kabupaten Pidie

    Hubungan parameter fisika-kimia perairan dengan kelimpahan plankton di Samudera Hindia bagian Barat Daya

    Get PDF
    Abstract. The aims of this research was to examine the water quality parameters and plankton abundance and its relationships in the Southwestern of Indian Ocean. This is a quantitative descriptive research. Planktons were sampled using plankton net, and water samples were taken using Conductivity, Temperature, Depth (CTD) where the water samples colleted in the Nansen Bottle No. 1 (surface water) at seven sampling stations. The results showed that there were 25 species of planktons belonging into seven classes, i.e., Bacillariophyceae, Ciliate, Crustacea, Cyanobacteria, Dinophyceae, Flagellata, and Maxillopoda. The highest value of abundance of plankton was found at station 6 with 7255 ind. L-1, the value of diversity index of plankton was at moderate category, and there was no predominant species was occurred in the community. Bivariate correlation analysis results of Person's showed that the temperature and Dissolved Oxygen (DO) were positively correlated to the plankton abudance, while pH, conductivity, TDS, salinity were negatively correlated with abundances of plankton.Keywords: Abundance of plankton, linkages, water quality, Indian Ocean of SouthwesternAbstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan kelimpahan plankton dan kualitas air serta hubungan antara kelimpahan plankton dengan parameter fisika-kimia perairan di Samudera Hindia bagian Barat Daya. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif, pengambilan sampel plankton menggunakan plankton net, dan sampel air menggunakan CTD (Conductivity, Temperature Depth) dimana sampel air yang diambil pada botol nansen No. 1 (sampel air permukaan) pada 7 titik stasiun. Hasil penelitian ditemukan 25 spesies plankton yang termasuk ke dalam 7 kelas, yaitu Bacillariophyceae, Ciliata, Crustacea, Cyanobacteria, Dinophyceae, Flagellata, dan Maxillopoda. Kelimpahan plankton tertinggi terdapat pada stasiun 6 dengan 7255 ind/L, indeks keragaman plankton pada kondisi sedang, dan tidak terjadi dominasi spesies dalam komunitas. Hasil analisis korelasi Bivariate Persons menunjukkan suhu dan DO (Dissolved Oxygen) berkorelasi positif terhadap kelimpahan plankton, sedangkan pH, konduktifitas, TDS, salinitas berkorelasi negative dengan kelimpahan plankton.Kata kunci: Kelimpahan Plankton, Keterkaitan, Kualitas air, Samudera Hindia bagian Barat Day

    Karakteristik habitat dan pola pertumbuhan kepiting kelapa (Birgus latro) di Pulau Ternate dan Kabupaten Halmahera Barat Provinsi Maluku Utara

    Get PDF
    Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik habitat dan pola pertumbuhan kepiting kelapa (Birgus latro) di Takome Pulau Ternate dan Idamdehe Kecamatan Jailolo Propinsi Maluku Utara. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April-Juli 2014. Data yang dikumpulkan adalah tekstur substrat dengan metode pipet, penentuan kandungan nitrat danfosfat tanah dengan metode spektofotometer, pengukuran panjang + rostrum (cp+r) kepiting kelapa dan pola pertumbuhannya. Selain it juga diukur suhu udara, suhu lubang dan kelembaban udara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Idamdehe memiliki karakteristik pantai yang curam, bahkan di beberapa lokasi penangkapan sangat terjal, sedangkan di lokasi Takome Pulau Ternate memiliki karakteristik pantai yang lebih landai. Tekstur substrat di lokasi Takome Pulau Ternate terdiri atas pasir (55,76 %), debu (18,4%) dan liat (25,84%) dan Stasiun Idamdehe memiliki tekstur pasir (49,17%), debu (25,61%) dan liat (25,22%)dankandungan bahan organik substrat (Total N) di Takome adalah 0,31% dan total P adalah 0,09% sedangkan di Idamdehe Total N adalah 0,19% dan Total P 0,02%. Suhu udara di lokasi Idamdehe berkisar 26-280C dan di Takome 27-280C. Kelembaban udara 73%-98% di Idamdehe dan 71%-90% di Takome. Parameter lingkungan berupa suhu udara, kelembaban udara, tekstur substrat dan kandungan bahan organik di kedua lokasi penelitian mendukung kehidupan kepiting kelapa di habitat alaminya. Pola pertumbuhan kepiting kelapa di kedua lokasi Idamdehe adalah allometrik negatif.Kata kunci: Karakteristik habitat, Idamdehe, Takome, Birgus latro, isometrik, allometrik negatifAbstract. This objectives of the present study were to evaluate the habitat characteristics and growth patterns of the coconut crabs in Takome and Idamdehe waters North Maluku Province. This study was conducted during April-July 2014. The collected data were the substrate texture, nitrate and phosphate contents of soil using spectrophotometric method, length + rostrum (cp+r) of coconut crabs and the growth patterns. In addition, the air temperature, hole temperature and humidity were also recorded during the study. The results showed that Idamdehe waters has precipitous coast, indeed very precipitous in several catching locations, while Takome waters in Ternate Island has sloping coast. The substrate texture of Takome waters in Ternate Island consisted of sands (55.76%), dusts (18.4%) and clays (25.84%), while Idamdehe waters has the substrate texture that consisted of sands (49.17%), dusts (25.61 %) and clays (25.22%). As for organic matter contents of the substrate, Takome waters has 0.31% in total N and 0.09% in total P, while Idamdehe waters has 0.19% in total N and 0.02 % in total P. The air temperature in Idamdehe waters ranged between 26-280C and in Takome waters ranged between 27-280C. Air humidity in Idamdehe waters was 73%-98% and in Takome waters was 71%-90%. The environmental parameters such as temperature, humidity, substrate texture and organic matter content in both locations are suitable for coconut crab growing. The growth pattern of coconut crabs in Idamdehe and Sulamadaha waters were allometric negative pattern.Keywords: Habitat characteristics, Idamdehe, Takome, Birgus latro, isometric, negative allometric

    Status ekologis mangrove Pulau Sembilan, Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara (Ecological status of mangrove of Sembilan Island, Langkat Regency, North Sumatra Province)

    Get PDF
    Sembilan Island was one of the 17 islands located in the East Coast of North Sumatra. This island is surrounded by mangrove with varying thickness and density. Information on the identification and potential of mangrove in this island already reported but limited to a narrow area. Information about the value and status of mangrove ecology in this island have not been written, so it was needed to carry out for a study of mangrove ecological analysis. This information could be used later as a reference in sustainable mangrove management. The objective of the study was to determine the value and ecological status of mangroves. The research was conducted in September 2015. The data were collected at 9 sampling points namely; 4 points in the east, 2 points in the south and 3 points in the west part of the study areas. The spot check method was used in the study. The results showed that there were 28 species of mangrove belonging to 13 families. It's divided into 26 species of true mangrove and two species of associated mangroves. Mangroves zonation was Avicennia/Sonneratia on the front and ferns (A. Aureum and A. speciosum) in the section near the mainland. Mangrove thickness reached 134 - 1683 m. The density of mangrove was 333 - 4601 individuals/ha with the cover area of 2522 - 5810 cm2/ha. The results of the importance index value of mangrove showed that A. marina has a great influence and role in the community of mangrove vegetation, especially in the eastern part. Therefore, the mangrove in Sembilan Island was categorized into damage to good condition. The good category was recorded in the western part of the island, while the damaged category was found in the east part of the island.Pulau Sembilan merupakan satu diantara 17 pulau yang terdapat di wilayah Pantai Timur Sumatera Utara. Hampir sepanjang pantai di Pulau Sembilan di tumbuhi oleh mangrove dengan ketebalan yang bervariasi. Informasi tentang identifikasi dan potensi mangrove di Pulau Sembilan sudah ada dilaporkan, namun terbatas pada areal yang sempit. Informasi tentang nilai dan status ekologi mangrove di Pulau Sembilan belum dilaporkan, sehingga perlu adanya kajian tentang analisis ekologi mangrove. Informasi ini nantinya dapat dijadikan sebagai acuan dalam pengelolaan mangrove yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai dan status ekologis mangrove di Pulau Sembilan. Lokasi penelitian dibagi menjadi tiga area dengan 9 titik pengamatan yaitu timur 4 titik, selatan 2 titik, dan barat 3 titik. Penelitian dilaksanakan pada September 2015. Pengambilan contoh mangrove, dilakukan dengan menggunakan metode spot check. Hasil penelitian didapatkan bahwa jenis mangrove yang sebanyak 28 jenis dari 13 famili yang terdiri dari 26 jenis mangrove sejati dan 2 jenis mangrove ikutan. Zonasi mangrove di Pulau Sembilan yaitu, Avicennia/Sonneratia pada bagian depan dan paku-pakuan (A. Aureum dan A. speciosum) pada bagian yang dekat daratan. Ketebalan mangrove mencapai 134 - 1683 m. Kerapatan mangrove yang ditemukan mencapai 333 - 4601 ind/ha. Penutupan mangrove mencapai 2522 - 5810 cm2/ha. Hasil analisis nilai penting jenis mangrove di Pulau Sembilan menunjukkan bahwa A. marina memiliki pengaruh dan peran yang besar dalam komunitas vegetasi mangrove, terutama pada bagian timur. Mangrove di Pulau Sembilan termasuk kategori rusak - baik. Kategori baik pada bagian barat dan rusak pada bagian timur

    Struktur komunitas mangrove di Pulau Mare, Kota Tidore Kepulauan, Provinsi Maluku Utara (Community structure of mangrove in Mare Island, Tidore City, Maluka Utara Province

    No full text
    This study aimed to obtain information mangrove ecological index in Mare Island, Tidore Kepulauan, North Maluku. Collecting data in 2015, divided into three locations were determined based representation and the representation of mangrove. The sampling of mangrove using "line transect quadrant". The results obtained by mangrove thickness between 85-150 meters with 5 types of 3 families mangrove. Rhizophora mangrove species are found most dominating every station. Mangrove ecological index categories density, frequency, cover and species diversity is highest at the station I. While important value criteria at each station are 300. Analysis of vegetation mangrove species at each station obtained density, frequency, species diversity and the importance of the highest species is Rhizophora apicullata, then cover the highest species is Sonneratia alba. Overall results of observation and analysis, illustrating that the condition of mangroves on the island of Mare in the category of low/sparse.Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi indeks ekologi mangrove di Pulau Mare, Tidore Kepulauan, Maluku Utara. Pengambilan data pada tahun 2015 yang terbagi atas tiga lokasi yang ditetapkan berdasarkan keterwakilan dan reprsentasi mangrove. Pengambilan contoh mangrove, di lakukan dengan menggunakan metode line transect quadrant. Hasil penelitian diperoleh ketebalan mangrove diantara 85-150 meter dengan 5 jenis dari 3 famili mangrove. Jenis mangrove Rhizophora ditemukan paling mendominasi disetiap stasiun. Indeks ekologi mangrove kategori kerapatan, frekuensi, tutupan dan keanekaragaman jenis paling tinggi terdapat di stasiun satu. Sedangkan kriteria nilai penting pada setiap stasiun adalah 300. Analisis vegetasi jenis mangrove pada setiap stasiun diperoleh kerapatan, frekuensi, keanekaragaman jenis dan nilai penting jenis tertinggi adalah Rhizophora apicullata, kemudian tutupan jenis tertinggi adalah Sonneratia alba. Keseluruhan hasil pengamatan dan analisis, menggambarkan bahwa kondisi mangrove di pulau Mare masuk dalam kategori rendah

    Pemetaan batimetri sebagai informasi dasar untuk penempatan fish apartment di perairan Bangsring, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur (Bathymetry mapping as basic information for fish apartment placement in Bangsring waters, Banyuwangi, East Java)

    Get PDF
    The objective of the present research was to map the bathymetry of the Bangsring coastal area, Banyuwangi. Depth data obtained are used to consider the suitable location for fish apartment placement. The depth of the water was measured using a single beam echosounder with a frequency of 50 Hz. The data obtained by sounding process corrected by Tidal data. The tidal data measured during sampling with the observation interval of 30 minutes. The tidal correction was performed to get the depth value relative to lowest Water Surface (LWS). The results showed the depth of the Bangsring coastal area ranged from 2-49 meters. The deepest region is in the southeast of the research area. Based on the depth of the waters, the locations that can be an alternative placement of fish apartment is located by distance of 200- 250 meters in front of Bangsring coastal area with total area approximately 30 HaPenelitian ini bertujuan untuk memetakan kedalaman perairan Bangsring, Banyuwangi. Data kedalaman yang didapat dari pemeruman selanjutnya digunakan sebagai pertimbangan untuk mencari alternatif lokasi penempatan fish apartment. Kedalaman perairan di ukur menggunakan Single Beam Echosounder dengan frekuensi 50 Hz. Pemeruman dilakukan selama 2 hari yaitu pada tanggal 17 dan 18 Maret 2016 dengan metode zig zag . Hasil pengukuran kedalaman selanjutnya di koreksi terhadap pasang surut. Pasang surut diukur selama pelaksanaan pemeruman dengan interval pengamatan 30 menit. Koreksi pasang surut dilakukan untuk mendapatkan nilai kedalaman relatif terhadap Lowest Water Surface (LWS). Hasil penelitian menunjukkan kedalaman Perairan Bangsring Berkisar antara 2-49 meter. Wilayah terdalam berada dibagian tenggara area penelitian. Berdasarkan kedalaman perairan tersebut, maka lokasi Perairan di Bangsring yang dapat dijadikan alternatif penempatan fish apartment adalah di perairan depan pantai bagian timur dengan jarak sejauh 200-250 meter dari garis pantai Bangsring dengan luas 30 H

    Iktiofauna Sungai Sangkir Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau (Ichthyofauna of Sangkir River, Rokan Hulu District Riau Province)

    Get PDF
    This study was conducted in Sangkir river branch of Rokan Kiri river Sangkir village, Rokan Hulu district, Riau Province from May of July 2016. The aim of this study was to inventory the fish species in Sangkir river branch of Rokan Kiri River with direct observation (survey). Five sampling locations were determined purposely based on the environmental condition that could be represented by the river condition. A total of 288 individuals of fish belonging to 3 orders, 7 families, 13 genera and 16 species were recorded in this study, namely Barbodes balleroides, Barbodes gonionotus, Barbichthys leavis, Channa striata, Cyclocheilichthys apogon, Labiobarbus fasciatus, Mystus nigriceps, Ompok eugeneiatus, Osteochilus hasseltii, Osteochilus mycrocephalus, Pangio semicincta, Pristolepis grooti, Thynnichthys polylepis, Trichogaster leerii, Trichogaster trichopterus and Trichopsis vittata. Cyprinidae was the most abundance fish in this study.Penelitian ini telah dilaksanakan di sungai Sangkir, anak sungai Rokan Kiri, desa Sangkir, Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau pada bulan Mei sampai Juli 2016. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis ikan di sungai Sangkir anak Sungai Rokan Kiri dengan metode pengamatan langsung (survei) dengan penetapan stasiun pengambilan sampel secara purposive sampling. Penetapan stasiun berdasarkan kondisi lingkungan yang terdiri dari 5 stasiun penelitian. Hasil penelitian didapatkan sebanyak 288 individu ikan yang terdiri dari 3 ordo, 7 famili 13 genus dan 16 spesies. Spesies yang didapatkan yaitu Barbodes balleroides, Barbodes gonionotus, Barbichthys leavis, Channa striata, Cyclocheilichthys apogon, Labiobarbus fasciatus, Mystus nigriceps, Ompok eugeneiatus, Osteochilus hasseltii, Osteochilus mycrocephalus, Pangio semicincta, Pristolepis grooti, Thynnichthys polylepis Trichogaster leerii, Trichogaster trichopterus dan Trichopsis vittata. Cyprinidae merupakan kelompok ikan yang paling banyak dalam penelitian ini

    Estimasi jumlah biomassa lamun di Pulau Pramuka, Karya dan Kotok Besar, Kepulauan Seribu, Jakarta

    Get PDF
    Abstract. The research was conducted in Kotok Besar, Karya and Pramuka Islands, Seribu Islands, Jakarta Province from May to July 2013. The aims of the research were to examine the percent cover, composition of vegetation and estimation of seagrass leaves biomass. The squares transect (0.25 m2) was utilized to calculate the seagrass percent cover data. Seagrass data were converted to total cover and biomass formula to estimate the seagrass leaves biomass. The result of our study showed there are 4 species of seagrass occurred in Kotok Besar Island, while 6 species were recorded in Karya and Pramuka Islands. Cymodocea rotundata had the higher value of seagrass cover percentage in Kotok Besar, Karya and Pramuka Islands, while the lower values were Halodule uninervis and Halophila ovalis. In addition, the highest value of seagrass leaves biomass from those islands is Enhalus acoroides and the lower value was Halophila ovalis inKotok Besar and Pramuka Islands, and Halodule uninervis in Karya Island.Keywords: Composition of vegetation, estimated of biomass, seagrass, Seribu Islands Abstrak. Penelitian ini dilakukan di Pulau Kotok Besar, Karya dan Pramuka Kepulauan Seribu-Provinsi Jakarta mulai Mei sampai Juli 2013. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui komposisi vegetasi lamun dan estimasi jumlah biomassa daun lamun di pulau Kotok Besar, Karya dan Pramuka kepulauan Seribu-Provinsi Jakarta. Penelitian ini dilakukan dengan mengguakan transek kuadrat (0,25 m2) untuk mengetahui persentase penutupan lamun. Data lamun yang diperoleh dikonversikan pada persamaan total penutupan dan estimasi biomasa untuk mengestimasi biomassa daun lamun. Hasil dari penelitian, terdapat 4 jenis lamun yang diperoleh di pulau Kotok Besar dan 6 jenis di pulau Karya dan Pramuka. Persen penutupan tertinggi pada pulau Kotok Besar, Karya dan Pramuka adalah jenis lamun Cymodocea rotundata, sedangkan yang terendah dari masing-masing pulau adalah Halodule uninervis dan Halophila ovalis secara berurutan. Estimasi biomassa daun lamun dengan nilai tertinggi adalah Enhalus acoroides dari ketiga pulau dan terendah adalah Halophila ovalis untuk pulau Kotok Besar dan Pramuka, dan Halodule uninervis untuk pulau Karya.Kata kunci: Komposisi vegetasi, estimasi biomassa, lamun, Kepulauan Serib

    529

    full texts

    571

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    DEPIK Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇