Journal of Mathematical and Fundamental Sciences
Not a member yet
737 research outputs found
Sort by
Ontogeny of Apothecia of Sclerotinia Sclerotiorum (Lib.) De Bary
Ringkasan. Pertumbuhan morfologi dan struktur dari pada "apothecia" Sclerotinia sclerotiorum (Lib.) de Bary telah dipelajari dengan berbagai cara. Apothecia dibentuk dari sel-sel bakal yang letaknya di dalam sclerotium, terdiri dari sel-sel kecil (kira-kira bergaris tengah 0,5-2,5μm), berdinding tipis, dan berkaitan satu dengan yang lainnya sehingga membentuk parenkima semu. Setelah kira-kira 20 hari, maka sel-sel bakal tersebut akan muncul ke permukaan sclerotium. Mula-mula sekali merupakan penonjolan, berwarna kuning kecoklat-coklatan, kemudian berubah menjadi bentuk batang dengan ujung yang sedikit meruncing dan pertumbuhannya biasanya mengarah ke sumber cahaya. Selanjutnya bagian ujungnya berubah menjadi bentuk cawan yang melebar (apothecia)
Pensejagatan Teorem Pemetaan Tersirat
Ringkasan. Teorem pemetaan tersirat tempatan yang terkenal itu diperluaskan sebegitu rupa sehingga hanya sah secara sejagat di dalam suatu ruang Banach. Abstract. The well known local implicit mapping theorem is extended in such a way that it is valid globally in a Banach space.
Ultrastructure of Septa in Sclerotinia sclerotiorum
Abstract. An electron microscope study has been done on the structure of septum and its associations of Sclerotinia sclerotiorum (Lib.) de Bary. This septum consists of a cross-wall containing two electron-dense layers separated by an electron-transparent central lamella. The central pore in the cross-wall is partially to completely blocked by cell inclusions called Woronin bodies, which are electron-dense and membrane-bound. Ringkasan. Pengamatan jamur penyebab penyakit tumbuhan, Sclerotinia sclerotiorum (Lib.) de Bary dengan menggunakan mikroskop elektron telah dikerjakan dalam laporan ini, terutama sekali mengenai dinding melintang dari pada hypha dan benda-benda sel lainnya yang selalu berhubungan erat sekali dengan celah di antara dinding melintang, yang disebut "Woronin bodies". Dinding melintang, tediri dari tiga lapis, yaitu dua lapis yang banyak menerima electron (electron-dense layers) dan dibagian tengahnya dipisahkan oleh selapis bagian yang tembus cahaya (electron-transparent central lamella). Celah pada dinding melintang sering sekali disumbat oleh "Waronin bodies"
The Growth and Orientation of Platelet Ag3Sn Single Crystals
Kristal-kristal tunggal Ag3Sn pipih dengan tebal 200 μm dan 5 mm pada dimensi yang lain, dapat dihasilkan dengan cara "temperature gradient" dari suatu ingot Ag-Sn dengan komposisi 40% berat Ag dan 60% berat Sn. Permukaan bidang pipih dari Kristal-kristal tunggal yang didapat mempunyai bidang kristalografi yang sama. Dengan cara difraksi sinar X, dapat ditunjukkan bahwa bidang tersebut adalah bidang (020).Platelet single crystals of Ag3Sn of 200 μm thickness and 5 mm in the other dimensions can be produced by temperature gradient method from an ingot of Ag-Sn alloy with a composition of 40 wt % Ag and 60 wt % Sn. It was found that the platelet surfaces have the some crystallographic plane. X-ray diffraction study showed that the plane is (020) plane
Survey on Important Pests of Rice and Vegetables with Emphasis on Population Trend and its Damage
Ringkasan. Telah dilakukan pengamatan tentang komponen serangga dan arthopoda lain pada asosiasi padi dan sayuran. Didapatkan bahwa komponen tersebut masih cukup berarti dari segi rantai interaksi ekologis. Dilakukan penafsiran terhadap pola populasi penggerek batang padi serta serangga hama sayuran dengan cara sampling stadia muda dan dewasa. Diketemukan pola populasi yang tidak begitu bervariasi untuk suatu daerah yang luas di Jawa Barat. Abstract. The insects and other arthropode components of rice and vegetables association were investigated. It was found that these components were still meaningful from the aspect of ecological interaction. Estimate of rice-borers population trend and also of the vegetables pests were carried out by means of immatures and matures sampling. Apparently the variation of the population trend of rice as well as vegetable pests was small within a relatively large area in West Java.
Perluasan Mengenai Koefisien Realibilitas dari Kuder-Richardson (KR-20)
Konsistensi dari item-item dalam suatu test biasanya diukur dengan menggunakan rumus Kuder-Richardson (KR-20), yaitu: (1). Jelas kiranya bahwa (1) hanya dapat digunakan dalam hal penilaian setiap item 0 atau 1. Apabila nilai setiap itemnya tidak 0 atau 1 saja, maka (1) menjadi: (2) dimana si merupakan deviasi standard dari item ke-i. Selanjutnya, rumus (1) maupun (2) biasanya hanya digunakan dalam hal test direncanakan sedemikian rupa agar item-itemnya di dalam test diharapkan homogin. Apabila item-item di dalam test tidak diarahkan agar homogin, maka kita dapat memberikan bobot pada setiap item sehingga r menjadi maksimum. Ternyata bahwa bobot dari item ke-i, ai, harus memenuhi sedemikian rupa sehingga ai si merupakan komponen ke-i dari vector karakteristik yang berkorespondensi dengan harga karakteristik terbesar dari matriks korelasi item-itemnya. Apabila koefisien korelasi antar item semuanya positip, ternyata bahwa ai adalah positip dan tunggal. The internal consistency of a test is usually measured by using Kuder-Richardson's formula called KR-20, i.e. equation (1). It is clear that formula (1) is only applicable to the case where the score of each item is 0 or 1. If the score of each item is not 0 or 1, then (1) can be written as equation (2). Where si is the standard deviation of the ith item. Furthermore, formula (1) or (2) is applicable for the case where the test is designed so that the items in the test intended to be homogeneous. If the items of the test are not intended to be homogeneous, then we can use weighting so that r becomes maximum. It happens that the weight ai of the ith item should satisfy so that ai si is the ith component of the characteristic vector correspond to the greatest eigenvalue of the correlation matrix between items. If the correlation coefficients between item are positive then the ai's are positive and unique.
Evolution of Stars toward the Main Sequence
Abstract. A review on the knowledge of the stellar evolution toward the main sequence is presented. This is the period during which the stars evolve from the beginning of their formation to the phase of stabilization on the main sequence where nuclear reactions begin to provide the entire energy supply. Ringkasan. Dalam tulisan ini diberikan suatu ulasan mengenai evolusi bintang menuju ke deret utama. Yang dimaksud dengan periode evolusi disini ialah periode sejak bintang-bintang tersebut dibentuk, dari materi antar bintang, hingga mencapai saat ketika energi bintang-bintang tersebut dibentuk dengan reaksi nuklir
Evaluasi Nodulasi Alami terhadap 102 Species Polong-Polongan dari Beberapa Tempat di Jawa Barat
Ringkasan. Evaluasi nodulasi alami terhadap 102 species Polong-polongan dari beberapa tempat di Jawa Barat telah dilakukan. Kesemuanya termasuk kedalam familia Ceasalpiniaceae (17 species), Mimosaceae (19 species) dan Papilionaceae (66 species).Abstract. The evaluation of natural nodulation towards 102 Leguminous plant species of the West Java area, have been studied. These belong to the family of Ceasalpiniaceae (17 species), Mimosaceae (19 species) and Papilionaceae (66 species).
Matriks Fundamental II
Ringkasan. Suatu matriks kwadratis kita katakana fundamental djika ia simetris dan setiap submatriks utamanja mempunjai deretminan jang positif. Misalkan f suatu bentuk bilinier pada suatu ruang vector berdimensi hingga atas lapangan riil, dan f berkoresponensi dengan suatu matriks G. kita buktikan, bahwa f suatu hasilkali-dalam djika dan hanja djika G fundamental.Abstract. We define a square matrix to be fundamental if it is symmetric and all its principal submatrices have positive determinants. Let f be a bilinear form on finite-dimensional vector space over the real field which corresponds to a matrix G. We prove that f is an inner-product if and only if G is fundamental.
To Grow Single Crystals of 6061 Alumunium Alloy
Abstract. Single crystals of 6061 alumunium alloy can be produced by "strain anneal" method from wire of 2mm diameter. With this method 70% of the test specimens grown into single crystals of length of 2.5 cm. Ichtisar. Kristal tunggal dari paduan aluminium 6061 dapat dihasilkan dengan tjara "strain anneal" dari kawat jang berdiameter 2 mm. Dengan tjara ini 70% dari kawat-kawat tersebut tumbuh mendjadi kristal tunggal jang pandjangnja 2,5 cm