Teknik Mesin "TEKNOLOGI"
Not a member yet
106 research outputs found
Sort by
Analisis Penggunaan Automatic Lubrication pada Reclaimer Silica di Rawmill V P.T. Semen Tonasa
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan automatic lubrication pada reclaimer silica rawmill V PT. Semen Tonasa sehingga dapat mengurangi pemakaian tenaga kerja untuk melakukan pelumasan pada chain. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan metode kuantitatif. Pengumpulan data menggunakan stopwatch dan observasi langsung di lapangan, penelitian tersebut dilakukan di Mekanik Rawmill V PT. Semen Tonasa. Hasil analisis data pelumasan manual menunjukkan bahwa output pelumas manual untuk 8 menit adalah 5000 ml, Sedangkanan data automatic lubricaton menunjukkan output automatic lubrication untuk 1 menit adalah 70,6 ml. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan output pelumas manual lebih tinggi dibandingkan dengan output automatic lubrication. sedangkan dari segi waktu dan tenaga kerja pelumas manual membutuhkan waktu dan tenaga dalam pelumasan di bandingkan dengan automatic lubrication yang menggunakan sistem interlock sehingga pelumasan dapat beroperasi secara konsisten. Untuk itu dari segi output, waktu dan tenaga kerja dan ketepatan jadwal pelumasan automatic lubrication jauh lebih unggul digunakan pada chain reclaimer silica di bandingkan dengan peluman manual
Analisis Performansi Pompa Pemadam DEP-0131-A Dengan Kombinasi Flexim F601
Pompa adalah suatu mesin yang digunakan untuk memindahkan cairan dari satu tempat ke tempat lain, melalui pipa dengan cara memberi energi pada cairan yang dipindahkan. Pompa ini beroperasi sebagai pompa pemadam yang bertugas memadamkan api ketika kebakaran terjadi. Pompa DEP – 0131- A dengan diesel engine sebagai penggerak dan air sungai sebagai fluida yang di pindahkan.Dalam penelitian ini, peneliti mencoba melakukan analisis tentang performansi pompa yang dibandingkan dengan standar NFPA dan data pabrik. Peneliti melakukan observasi lapangan melalui pengetesan performansi dari debit airan dengan mengambil tekanan pada keluaran pompa. Kali ini umur pompa sebagai variabel bebas, performansi pompa sebagai variabel terikat dan control valve serta putaran engine yang dianggap konstan sebagai variabel control. Hasil performansi pompa dibandingkan dengan kebutuhan air di masing-masing platform, performansi pompa saat ini tidak mampu memenuhi kebutuhan air perusahaan dimana hasil performansi pom pa pada head 110 meter adalah 452,058m³/h sedangkan kebutuhan SPU sesuai dengan data dari pabrik ada 673 m³/h pada head 110 meter. Pompa DEP 0131-A mempunyai performansi yang rendah dengan standar NFPA 20 yang mengharuskan aliran 1008 m3 /h (150% rated) dan head 71,5 meter (65% rated), sedangkan hasil yang di dapat adalah 678.087 m 3 /h pada head 71.5 meter. Pengerukan secara air lift harus dilakukan untuk mengembalikan laju aliran 673 m3 /h pada tekanan 11 bar
Analisis Kekuatan Tarik dan Lentur pada Spesimen Fiber Glass yang Direndam dalam 3 Media Berbeda
Banyak faktor yang mempengaruhi sehingga material komposit dapat mempunyai umur yang panjang. Salah satunya adalah sifat air. Sifat air laut dan air sungai berbeda dalam hal sifat-sifat kimia dan sifat fisika, termasuk konsentrasi antara keduanya. Perbedaan Konsentrasi menyebabkan perbedaan PH air. Adanya perbedaan tersebut maka dalam penelitian ini akan diteliti pengaruh perendaman beberapa jenis air terhadap sifat kekuatan tarik dan kekuatan lentur komposit fiber glass. Penelitian ini bertujuan untuk pengembangan penggunaan komposit fiber glass untuk digunakan pada struktur produk yang digunakan di laut maupun di sungai. Selain itu dari penelitian ini akan diperoleh sifat tarik dan lentur fiber glass yang telah direndam dalam beberapa jenis air seperti air laut, air tawar dan air suling sebagai acuan dalam penggunaannya baik di laut maupun di sungai.Dari penelitian ini diperoleh bahwa penurunan kekuatan tarik dan lentur specimen yang direndam dalam air laut mempunyai prosentase yang lebih besar dibanding yang direndam dalam air tawar atau sungai dan air suling. Prosentase penurunan kekuatan tarik mencapai 19.81% sedangkan penurunan kekuatan lentur mencapai 16.83 sedangkan perendaman air tawar dan suling prosentasenya dibawah perendaman air laut
Analisis Kekuatan Tarik Baja ST42 dengan Variasi Pendinginan Pasca Pengelasan
Seiring dengan kemajuan teknologi di bidang konstruksi terus berkembang terutama dalam perancangan dan desain produk. Salah satu konstruksi rancangan yang sering dijumpai adalah kostruksi baja. Baja St 42 tergolong baja karbon rendah, dimana baja karbon rendah merupakan jenis baja yang banyak digunakan sebagai bahan konstruksi dalam berbagai bidang industri sebagai rangka konstruksi. Jenis perlakuan pasca pengelasan yang tepat sangat dibutuhkan agar sambungan las yang dihasilkan dapat maksimal. Standar spesimen uji tarik menggunakan ASTM E8 – 13a, Dari hasil pengujian kekuatan tarik baja setelah dilakukan perlakuan pendinginan setelah pengelasan dapat disimpulkan bahwa kekuatan tarik terbesar didapatkan pada sepesimen dengan perlakuan dengan udara pasca pengelasan dengan nilai kekuatan tarik 347,80 N/mm2 , kemudian spesimen dengan perlakuan pendinginan dengan media oli bekas pasca pengelasan menunjukkan nilai kekuatan tarik 329,07 N/mm2 dan hasil kekuatan tarik dengan nilai yang paling rendah didapatkan pada spesimen dengan perlakuan pendinginan dengan media air laut pasca pengelasan menunjukan nilai kekuatan tarik 310,400 N/mm2
Implementasi FMEA (Failure Mode and Effect Analysis) terhadap Mesin Bubut Konvensional CQ6230b Laboratorium Pendidikan Teknik Mesin FT-UNM
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas hasil implementasi FMEA (Failure Mode and Effect Analysis) terhadap mesin bubut konvensional CQ6230B yang dilaksanakan pada Laboratorium Unit Mesin Perkakas Pendidikan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Makassar. Penelitian ini menggunakan metode perhitungan RPN (Risk Priority Number) untuk memperoleh nilai kerusakan prioritas yang didapatkan dari perhitungan nilai RPN kritis, kemudian akan dipertimbangkan untuk dilakukan perawatan. Berdasarkan analisis data kerusakan terdapat beberapa komponen yang memiliki nilai RPN diatas RPN kritis 75 yaitu Plug, Cable, Travo, Bold & Nut, dan Gear dengan nilai RPN komulatif tertinggi yaitu 224. Setelah dilakukan perawatan diperoleh persentase penurunan tingkat kerusakan sebesar 59% yang menandakan adanya penurunan setelah dilakukan penerapan FMEA. Kerusakan dapat disebabkan karena kurangnya pengecekan dan perawatan komponen secara berkala. Hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi kerusakan setelah penerapan FMEA mengalami penurunan yang berarti Mesin Bubut CQ6230B Laboratorium PTM FT-UNM dapat dikatakan efektif
Modifikasi Volume Ruang Bakar Kompor Briket Batubara Tipe Pendek Untuk Rumah Tangga
Modifikasi volume ruang bakar kompor briket batubara tipe pendek untuk rumah tangga bertujuan untuk meningkatkan unjuk kerja kompor briket batubara yang ada dimasyarakat. Metode pengujian dilakukan pada dua jenis kompor yaitu kompor briket batubara pembanding dan kompor briket batubara hasil modifikasi. Dari hasil pengujian yang dilakukan, kompor briket batubara hasil modifikasi lebih unggul dibandingkan kompor sebelum modifikasi dilihat dari sistem penyalaan awal yang lebih konstan, yaitu 5 menit, proses memasak berlangsung dengan cepat (1,5 liter air) dalam waktu 5 menit dan volume air yang dapat dipanaskan 19,5 liter untuk hasil berikutnya. Sedangkan kompor batubara sebelum dimodifikasi penyalaan awal lebih cepat, yaitu 4-7 menit, proses masak (1,5 liter air) dalam waktu 5-7 menit akan tetapi waktu yang dibutuhkan tidak konstan. dan volume air yang dapat dipanaskan 9 liter untuk 19 biji briket Disamping itu kompor nasil modifikasi memiliki diameter ruang bakar yang lebih besar sehingga dapat menggunakan briket yang lebih banyak dan waktu untuk menghabiskan briket pada proses memasak lebih lama dibandingkan dengan kompor sebelum modifikasi yamg lebih kecil sehimgga daya tampung briket lebih sedikit. Kelebihan lain dari kompor hasil modifikasi adalah dari desain lubang pengarah unggun (penutup emizi) yang lebih baik karena diperbesar yang berpengaruh terhadap kecepatan penyalaan dan proses memasak serta menjaga emizi zat terbang yang berlebihan dibandingkan dengan kompor sebelum modifikasi yang memiliki lubang pengarah unggun lebih kecil sehingga proses penyalaan awal dan memasak tidak konstan dan emizi (asap) yang dihasilkan lebih banyak dengan demikian kompor briket batubara hasil modifikasi lebih efisien dan tidak beresiko untuk rumah tangga
Perbedaan Ketangguhan Komposit Berbahan Dasar Serat Kelapa Sawit
Penelitian ini adalah penelitian eksperimental, yang bertujuan untuk mengetahui perbandingan ketangguhan komposit berbahan dasar serat kelapa sawit. Pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan di Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (BBPLK) Serang. Sampel dari penelitian ini sebanyak 10 spesimen, 10 sampel komposit berbahan dasar serat kelapa sawit dengan takikan V dan U dengan takikan V dan U. Hasil dari penelitian ini berupa nilai rata-rata harga impak dengan menggunakan metode charpy yaitu 0,108 J dan 0,114 J untuk komposit berbahan dasar serat kelapa sawit variasi takikan V dan U dan 0,102 J. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa hasil pengujian impak terdapat perbedaan ketangguhan antara spesimen yang menggunakan takikan V dan takikan U yang mempunyai berserat
Rancang Bangun Mesin Pengiris Singkong Menggunakan Konsep QFD (Quality Function Development)
Metode Quality Function Deployment (QFD) yang diterapkan dalam perancangan alat pengiris singkong telah berhasil menangkap kebutuhan konsumen akan alat pengiris singkong yang lebih baik dari produk yang telah ada di pasaran dan yang selanjutnya telah diterjemahkan menjadi spesifikasi teknis dari produk yang baru. Peningkatan performa yang tercatat yaitu meningkatnya kualitas pengirisan serta produktivitas pengirisan yang diperoleh dari hasil pengoperasian mesin. Tercatat bahwa kapasitas produksi mesin hasil rancangan jauh besar mencapai 40 kg/jam dibanding alat manual yang ada. Ini disebabkan karena penggunaan jumlah pisau yang satu kali putaran piringan menghasilkan empat buah pengirisan. Selain itu ketajaman pisau mesin pengiris yang terbuat dari bahan stain less stell. Operasional mesin secara otomatis menambah performansi kerja mesin dimana dengan motor 2700 rpm mampu memproduksi sekian ton irisan ubi. Kata kunci : Pengiris Singkong, Quality Function Developmen
Rancang Bangun Alat Press Kue Putu Kacang
Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan kapasitas produksi kue putu kacang. Metode pengujian untuk mencapai tujuan adalah merancang, membuat, merakit, dan menguji kualitas dan kuantitas hasil pembuatan kue putu kacang. Berdasarkan hasil rancang bangun alat press putu kacang, maka telah diperoleh alat yang dapat digunakan pada industri pembuatan kue putu kacang . Dengan alat pres kue putu kacang, hasil cetakan mempunyai tekstur yang lebih rapat, relief atau ukirannya lebih nampak sehingga kualitasnya lebih meningka. Untuk sekali proses pencetakan (6 buah putu kacang) dibutuhkan waktu maksimal 5 menit sehingga untuk 1 jam dapat dihasilkan sekitar 72 buah putu kacang. Pencetakan putu kacang yang dilakukan dengan alat pres dapat menghemat tenaga sebab proses penekanan tidak dilakukan satu per satu pada lubang cetakan. Kata kunci : Alat Press, Kue, Putu Kacan
Analisis Kekuatan Uji Impak Komposit Serat Alam (Serat Batang Pisang)
Komposit merupakan material yang terus dikembangkan agar bisa dimanfaatkan dalam beberapa aspek termasuk didunia Otomotif, Komposit serat alam berpotensi besar dikembangkan mengantikan komposit serat fiber yang cenderung lebih mahal, serat alam ketersediaannya melimpah dan lebih ramah lingkungan termasuk komposit serat batang pisang yang mempunyai potensi besar untuk dikembangkan. Penelitian ini bertujuan mengetahui seberapa besar kekuatan tarik dan impak material komposit batang pisang dengan melakukan percobaan pada 18 spesimen dengan 3 perbandingan berbeda. Hasil dari penelitian didapatkan. Besar kekuatan impak rata-rata komposit serat batang pisang pada setiap spesimen yaitu spesimen A sebesar 0.0086 N m/mm2, spesimen B sebesar 0.0100 N m/mm2 dan spesimen C sebesar 0.0091 N m/mm2