Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer
Not a member yet
    1290 research outputs found

    Nogo Osing Apps: Aplikasi Smart Farming Buah Naga Berbasis IoT

    No full text
    Buah naga merupakan salah satu komoditas unggulan di Banyuwangi. Namun, produksi buah naga belum optimal dalam memenuhi permintaan konsumen. Hal ini dikarenakan sebagian besar budi daya buah naga dilakukan secara tradisional yang hanya menggantungkan siklus panen. Di luar siklus panen, budi daya buah naga dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya faktor suhu, pencahayaan, dan kelembaban tanah. Salah satu strategi untuk mengoptimalkan suhu dan kelembaban tanah pada budi daya buah naga yaitu dengan mengaplikasikan Internet of Things (IoT).Pada penelitian ini dilakukan perancangan sistem monitoring dan kontrol pada budi daya buah naga dengan menerapkan teknologi IoT. Sistem monitoring dan kontrol dengan teknologi IoT menggabungkan hardware dan software aplikasi yang memungkinkan petani untuk mengatur suhu dan kelembaban tanah yang dibutuhkan. Kombinasi arduino, microcontroller, sensor flow, soil moisture dan modul relay dapat memonitoring suhu dan kelembaban tanah guna menghasilkan buah naga yang optimal. Metodologi yang digunakan yaitu metode research and development. Skema metodologi perancangan monitoring dan kontrol pada budidaya buah naga dimulai dari perumusan masalah, studi literatur, analisis dan desain sistem, perancangan software, perancangan hardware, integrasi aplikasi, dan uji coba sistem. Perancangan hardware terdiri dari perancangan rangkaian, pencetakan papan rangkaian, dan penambahan program pada papan rangkaian. MIT Inventor dan Webserver digunakan dalam perancangan software.Pengujian fungsional aplikasi menggunakan pengujian black box. Hasil pengujian menunjukkan bahwa empat fitur utama: monitoring dan kontrol pada lampu, pompa, kelembaban tanah, dan suhu, berhasil dilakukan. Selain itu, hasil uji kalibrasi menunjukkan bahwa aplikasi Nogo Oseng menunjukkan akurasi alat ukur sesuai dengan rancangan dan kondisi di lapangan.Buah naga merupakan salah satu komoditas unggulan di Banyuwangi. Namun, produksi buah naga belum optimal dalam memenuhi permintaan konsumen. Hal ini dikarenakan sebagian besar budi daya buah naga dilakukan secara tradisional yang hanya menggantungkan siklus panen. Di luar siklus panen, budi daya buah naga dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya faktor suhu, pencahayaan, dan kelembaban tanah. Salah satu strategi untuk mengoptimalkan suhu dan kelembaban tanah pada budi daya buah naga yaitu dengan mengaplikasikan Internet of Things (IoT).Pada penelitian ini dilakukan perancangan sistem monitoring dan kontrol pada budi daya buah naga dengan menerapkan teknologi IoT. Sistem monitoring dan kontrol dengan teknologi IoT menggabungkan hardware dan software aplikasi yang memungkinkan petani untuk mengatur suhu dan kelembaban tanah yang dibutuhkan. Kombinasi arduino, microcontroller, sensor flow, soil moisture dan modul relay dapat memonitoring suhu dan kelembaban tanah guna menghasilkan buah naga yang optimal. Metodologi yang digunakan yaitu metode research and development. Skema metodologi perancangan monitoring dan kontrol pada budidaya buah naga dimulai dari perumusan masalah, studi literatur, analisis dan desain sistem, perancangan software, perancangan hardware, integrasi aplikasi, dan uji coba sistem. Perancangan hardware terdiri dari perancangan rangkaian, pencetakan papan rangkaian, dan penambahan program pada papan rangkaian. MIT Inventor dan Webserver digunakan dalam perancangan software.Pengujian fungsional aplikasi menggunakan pengujian black box. Hasil pengujian menunjukkan bahwa empat fitur utama: monitoring dan kontrol pada lampu, pompa, kelembaban tanah, dan suhu, berhasil dilakukan. Selain itu, hasil uji kalibrasi menunjukkan bahwa aplikasi Nogo Oseng menunjukkan akurasi alat ukur sesuai dengan rancangan dan kondisi di lapangan

    Availibilty Pada Aplikasi mobile Banking: Case Study Bank XYZ

    Get PDF
    Saat ini, perkembangan teknologi internet dan fintech mempengaruhi kebiasaan sehari-hari dari pelanggan yang berakibat kepada pengguna teknologi untuk meningkatkan ekspektasi terhadap teknologi sistem perbankan online. Pelanggan berkespektasi terhadap Perusahaan penyedia layanan finansial untuk bisa mengizinkan pelanggan untuk memiliki akses terhadap layanan finansial setiap saat dan setiap waktu melalui perangkat milik mereka. Perusahaan finansial patut menyajikan pelanggan dengan layanan finansial melalui teknologi secara kontinu. Mobile Banking diharapkan untuk memiliki high-availability yang bisa menjaga layanan tetap mampu untuk beroperasi 24x7x365. Ekspektasi ini membuat availability menjadi salah satu fungsi kunci dalam bersaing dengan penyedia layanan Mobile Banking lain. Bank XYZ ingin meningkatkan fitur ini untuk memberikan pelanggan layanan perbankan dan pengalaman yang lebih baik kepada pelanggannya. Studi ini dilakukan untuk mengevaluasi availability dari layanan Mobile Banking milik Bank XYZ dengan tujuan untuk digunakan sebagai landasan dalam membuat peta peningkatan jangka panjang dan rencana mitigasi jangka pendek agar tidak tertinggal dibelakang kompetitor pada saat ini. Evaluasi availability dilakukan dengan melakukan kalkulasi atas waktu yang dibutuhkan oleh komponen yang bisa diperbaiki untuk pulih dari kondisi unavailable pada periode waktu tertentu. MTTR (Mean Time to Repair) dan MTBF (MeanTime Between Failure) digunakan dalam melakukan analisa terhadap availability. Evaluasi dilakukan terhadap ketersediaan sistem mobile banking dan ketersediaan fungsi yang disediakan mobile banking. Hasil evaluasi kemudian di selaraskan dengan Availability class untuk mengetahui lebih lanjut tingkatan availability saat ini dari sistem dan fungsionalitas. Pareto Analysis dilakukan untuk mengklasifikasikan dan memperingkatkan penyebab dari downtime yang terjadi pada sistem. Berdasarkan hasil dari analisa, bisa diperjelas kondisi saat ini dari availability layanan Mobile Banking yang bisa dijadikan landasan dalam menentukan strategi pengembangan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada sistem mobile banking bank XYZ, diperoleh hasil availability secara keseluruhan sebesar 98,34% tergolong “Class 1 –Unmanaged”. Untuk layanan yang paling sering digunakan dengan tingkat ketersediaan tertinggi adalah layanan “Cek Saldo” dengan availability sebesar 98,34% dan terendah adalah “Pembelian Token Listrik” dengan availability sebesar 97,56%. Unavailability selama periode penelitian terjadi karena aktivitas product development, aktivitas terkait security, production issue, hardware issue dan 3rd party maintenance. Berdasarkan analisis Pareto, aktivitas product development dan aktivitas terkait security merupakan isu paling kritis yang perlu diprioritaskan terlebih dahulu untuk mitigasi jangka pendek maupun solusi jangka panjang.Saat ini, perkembangan teknologi internet dan fintech mempengaruhi kebiasaan sehari-hari dari pelanggan yang berakibat kepada pengguna teknologi untuk meningkatkan ekspektasi terhadap teknologi sistem perbankan online. Pelanggan berkespektasi terhadap Perusahaan penyedia layanan finansial untuk bisa mengizinkan pelanggan untuk memiliki akses terhadap layanan finansial setiap saat dan setiap waktu melalui perangkat milik mereka. Perusahaan finansial patut menyajikan pelanggan dengan layanan finansial melalui teknologi secara kontinu. Mobile Banking diharapkan untuk memiliki high-availability yang bisa menjaga layanan tetap mampu untuk beroperasi 24x7x365. Ekspektasi ini membuat availability menjadi salah satu fungsi kunci dalam bersaing dengan penyedia layanan Mobile Banking lain. Bank XYZ ingin meningkatkan fitur ini untuk memberikan pelanggan layanan perbankan dan pengalaman yang lebih baik kepada pelanggannya. Studi ini dilakukan untuk mengevaluasi availability dari layanan Mobile Banking milik Bank XYZ dengan tujuan untuk digunakan sebagai landasan dalam membuat peta peningkatan jangka panjang dan rencana mitigasi jangka pendek agar tidak tertinggal dibelakang kompetitor pada saat ini. Evaluasi availability dilakukan dengan melakukan kalkulasi atas waktu yang dibutuhkan oleh komponen yang bisa diperbaiki untuk pulih dari kondisi unavailable pada periode waktu tertentu. MTTR (Mean Time to Repair) dan MTBF (MeanTime Between Failure) digunakan dalam melakukan analisa terhadap availability. Evaluasi dilakukan terhadap ketersediaan sistem mobile banking dan ketersediaan fungsi yang disediakan mobile banking. Hasil evaluasi kemudian di selaraskan dengan Availability class untuk mengetahui lebih lanjut tingkatan availability saat ini dari sistem dan fungsionalitas. Pareto Analysis dilakukan untuk mengklasifikasikan dan memperingkatkan penyebab dari downtime yang terjadi pada sistem. Berdasarkan hasil dari analisa, bisa diperjelas kondisi saat ini dari availability layanan Mobile Banking yang bisa dijadikan landasan dalam menentukan strategi pengembangan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada sistem mobile banking bank XYZ, diperoleh hasil availability secara keseluruhan sebesar 98,34% tergolong “Class 1 –Unmanaged”. Untuk layanan yang paling sering digunakan dengan tingkat ketersediaan tertinggi adalah layanan “Cek Saldo” dengan availability sebesar 98,34% dan terendah adalah “Pembelian Token Listrik” dengan availability sebesar 97,56%. Unavailability selama periode penelitian terjadi karena aktivitas product development, aktivitas terkait security, production issue, hardware issue dan 3rd party maintenance. Berdasarkan analisis Pareto, aktivitas product development dan aktivitas terkait security merupakan isu paling kritis yang perlu diprioritaskan terlebih dahulu untuk mitigasi jangka pendek maupun solusi jangka panjang

    Peningkatan Performa Pengenalan Wajah pada Gambar Low-Resolution Menggunakan Metode Super-Resolution

    Get PDF
    Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) merupakan identitas wajib bagi penduduk Indonesia. Penyimpanan pada cip KTP-el yang mana selain digunakan untuk menyimpan gambar potret wajah individu, juga harus dapat menyimpan identitas lain seperti biodata, tanda tangan, dan sidik jari kiri dan kanan. Keterbatasan tersebut mengharuskan gambar potret wajah disimpan pada ukuran low-resolution (LR) sehingga sistem pengenalan wajah tidak optimal. Dalam penelitian ini, kami menggunakan Poznan University of Technology (PUT) Face database yang terdiri atas 200 gambar dari 100 individu. Data tersebut dilakukan proses down sampling menggunakan bicubic interpolation untuk menghasilkan data LR. Kami menginvestigasi penggunaan metode super-resolution (SR) berbasis deep learning, termasuk DFDNet, LapSRN, GFPGAN, Real-ESRGAN, Real-ESRGAN+GFPGAN, dan FaceSPARNet. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas gambar LR. Evaluasi performa dilakukan dengan menggunakan matriks False Rejection Rate(FRR) pada beberapa tingkatan False Acceptance Rate (FAR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa metode SR terutama FaceSPARNet menunjukkan peningkatan performa face recognition hingga 2%. Sedangkan, metode SR yang berbasis GAN (GFPGAN, Real-ESRGAN, Real-ESRGAN+GFPGAN) cenderung meningkatkan false reject rate. Penelitian ini menunjukkan bahwa metode SR dari kategori General Basic CNN-based FSR dapat digunakan untuk meningkatkan kinerja face recognition pada gambar LR, seperti pada KTP-el.Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) merupakan identitas wajib bagi penduduk Indonesia. Penyimpanan pada cip KTP-el yang mana selain digunakan untuk menyimpan gambar potret wajah individu, juga harus dapat menyimpan identitas lain seperti biodata, tanda tangan, dan sidik jari kiri dan kanan. Keterbatasan tersebut mengharuskan gambar potret wajah disimpan pada ukuran low-resolution (LR) sehingga sistem pengenalan wajah tidak optimal. Dalam penelitian ini, kami menggunakan Poznan University of Technology (PUT) Face database yang terdiri atas 200 gambar dari 100 individu. Data tersebut dilakukan proses down sampling menggunakan bicubic interpolation untuk menghasilkan data LR. Kami menginvestigasi penggunaan metode super-resolution (SR) berbasis deep learning, termasuk DFDNet, LapSRN, GFPGAN, Real-ESRGAN, Real-ESRGAN+GFPGAN, dan FaceSPARNet. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas gambar LR. Evaluasi performa dilakukan dengan menggunakan matriks False Rejection Rate(FRR) pada beberapa tingkatan False Acceptance Rate (FAR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa metode SR terutama FaceSPARNet menunjukkan peningkatan performa face recognition hingga 2%. Sedangkan, metode SR yang berbasis GAN (GFPGAN, Real-ESRGAN, Real-ESRGAN+GFPGAN) cenderung meningkatkan false reject rate. Penelitian ini menunjukkan bahwa metode SR dari kategori General Basic CNN-based FSR dapat digunakan untuk meningkatkan kinerja face recognition pada gambar LR, seperti pada KTP-el

    Implementasi Teknologi Blockchain dengan Sistem Smart Contract pada Klaim Asuransi

    Get PDF
    Perkembangan sistem klaim pada asuransi di Indonesia umumnya masih menerapkan pengajuan klaim dengan menggunakan sistem secara manual dengan metode cashless dan reimbursement. Penerapan sistem klaim pada asuransi tersebut memiliki proses administrasi yang cukup panjang sehingga dapat memakan waktu yang lama dan penerapan sistem tersebut tidak dapat memberikan proses tranparansi transaksi pada klaim asuransi. Dengan permasalahan tersebut dapat menimbulkan permasalahan terkait dengan keamanan informasi berupa integritas data, kerahasiaan data, dan transparansi data pada klaim asuransi. Penelitian ini mengusulkan pengembangan sistem klaim pada asuransi yang dapat dilakukan secara online dengan menerapkan teknologi blockchain. Teknologi blockchain menggunakan sistem penyimpanan data dengan menerapkan sistem desentralisasi aplikasi yang berfungsi untuk memberikan kendali penuh terhadap pengguna atas data mereka dengan tidak adanya perantara terpusat. Dengan menerapkan desentralisasi aplikasi tersebut dapat diwujudkan integritas, kerahasiaan dan transparansi transaksi pada klaim asuransi. Penelitian ini mengajukan usulan implementasi teknologi blockchain dengan sistem smart contract pada proses klaim asuransi untuk dijadikan solusi terhadap masalah yang terdapat pada proses klaim asuransi.   Abstract The development of the insurance claim system in Indonesia generally still applies the submission of claims using a manual system with cashless and reimbursement methods. The application of the insurance claim system has a fairly long administrative process that can take a long time and the application of the system cannot provide a transparent transaction process for insurance claims. With these problems can cause problems related to information security in the form of data integrity, data confidentiality, and data transparency on insurance claims. This research proposes the development of an insurance claim system that can be done online by applying blockchain technology. Blockchain technology uses a data storage system by implementing a decentralized application system that functions to give users full control over their data in the absence of a centralized intermediary. By implementing a decentralized application, integrity, confidentiality and transaction transparency in insurance claims can be realized. This study proposes the implementation of blockchain technology with a smart contract system in the insurance claim process to be used as a solution to problems in the insurance claim processPerkembangan sistem klaim pada asuransi di Indonesia umumnya masih menerapkan pengajuan klaim dengan menggunakan sistem secara manual dengan metode cashless dan reimbursement. Penerapan sistem klaim pada asuransi tersebut memiliki proses administrasi yang cukup panjang sehingga dapat memakan waktu yang lama dan penerapan sistem tersebut tidak dapat memberikan proses tranparansi transaksi pada klaim asuransi. Dengan permasalahan tersebut dapat menimbulkan permasalahan terkait dengan keamanan informasi berupa integritas data, kerahasiaan data, dan transparansi data pada klaim asuransi. Penelitian ini mengusulkan pengembangan sistem klaim pada asuransi yang dapat dilakukan secara online dengan menerapkan teknologi blockchain. Teknologi blockchain menggunakan sistem penyimpanan data dengan menerapkan sistem desentralisasi aplikasi yang berfungsi untuk memberikan kendali penuh terhadap pengguna atas data mereka dengan tidak adanya perantara terpusat. Dengan menerapkan desentralisasi aplikasi tersebut dapat diwujudkan integritas, kerahasiaan dan transparansi transaksi pada klaim asuransi. Penelitian ini mengajukan usulan implementasi teknologi blockchain dengan sistem smart contract pada proses klaim asuransi untuk dijadikan solusi terhadap masalah yang terdapat pada proses klaim asuransi.   Abstract The development of the insurance claim system in Indonesia generally still applies the submission of claims using a manual system with cashless and reimbursement methods. The application of the insurance claim system has a fairly long administrative process that can take a long time and the application of the system cannot provide a transparent transaction process for insurance claims. With these problems can cause problems related to information security in the form of data integrity, data confidentiality, and data transparency on insurance claims. This research proposes the development of an insurance claim system that can be done online by applying blockchain technology. Blockchain technology uses a data storage system by implementing a decentralized application system that functions to give users full control over their data in the absence of a centralized intermediary. By implementing a decentralized application, integrity, confidentiality and transaction transparency in insurance claims can be realized. This study proposes the implementation of blockchain technology with a smart contract system in the insurance claim process to be used as a solution to problems in the insurance claim proces

    Sistem Rekognisi Citra Digital Bahasa Isyarat Menggunakan Convolutional Neural Network Dan Spatial Transformer

    Get PDF
    Bahasa isyarat merupakan hal yang sangat penting bagi suatu kelompok masyarakat, yaitu masyarakat bisu atau tuli. Untuk dapat berkomunikasi dengan masyarakat bisu atau tuli, orang yang tidak bisu atau tuli memerlukan bahasa isyarat tersebut untuk dapat mengerti maksud atau pikiran mereka yang bisu atau tuli. Sebagian besar percakapan pada bahasa isyarat dilakukan dengan menggunakan tangan, dimana tangan beserta jari-jarinya digunakan untuk membentuk pose atau bentuk yang unik, sehingga dapat dikenali sebagai maksud tertentu. Penulis mengusulkan dikembangkan sistem rekognisi citra digital untuk dapat mengenali bahasa isyarat tersebut. Dengan menggunakan metode Convolutional Neural Network (CNN) yang merupakan bagian dari Deep Learning atau Machine Learning, sistem akan mengenali pose atau bentuk dari citra bahasa isyarat yang dimasukkan, dan memberikan luaran yang sesuai dengan maksud dari pose atau bentuk dari citra bahasa isyarat tersebut. Penelitian ini dimulai dengan pengumpulan data, baik data sekunder dari internet maupun data pribadi yang diambil secara manual. Data kemudian melalui pemrosesan awal dan diklasifikasikan dengan CNN, lalu didapatkan hasil untuk dianalisis. Apabila hasil memuaskan, model akan diekspor untuk dimasukkan ke dalam aplikasi berbasis web untuk digunakan secara real-time. Berdasarkan hasil pengujian, model yang terbaik untuk arsitektur adalah model EfficientNet B4 dengan menggunakan Hyperparameter optimizer Adam dan learning rate 0.001 beserta scheduler. Digunakan pretrained weights untuk meningkatkan akurasi tersebut, dan ditambahkan Spatial transformer untuk mencoba membuat model menjadi lebih kokoh. Ditambah dengan pretrained weights, model diekspor untuk digunakan secara real-time. Hasil pengujian real-time menunjukkan bahwa model mampu mendeteksi setidaknya 23 dari 26 alfabet pada latar belakang yang abstrak. Apabila diuji pada latar belakang polos seperti hitam atau putih, model mampu mendeteksi seluruh 26 alfabet dengan probabilitas yang hampir sempurna. Hal ini menunjukkan bahwa metode yang digunakan sudah mampu mengatasi masalah yang disampaikan.   Abstract Sign language is very important for a group of people, namely the deaf or dumb. To be able to communicate with people who are mute or deaf, people who are not mute or deaf require sign language to be able to understand the intentions or thoughts of those who are mute or deaf. Most conversations in sign language are carried out using the hands, where the hands and their fingers are used to form unique poses or shapes, so that they can be recognized as having certain meanings. The author proposes to develop a digital image recognition system to be able to recognize sign language. By using the Convolutional Neural Network (CNN) method which is part of Deep Learning or Machine Learning, the system will recognize the pose or shape of the entered sign language image, and provide output that matches the meaning of the pose or shape of the sign language image. This research began with data collection, both secondary data from the internet and personal data taken manually. The data then goes through initial processing and is classified with CNN, then results are obtained for analysis. If the results are satisfactory, the model will be exported to be included in a web-based application for use in real-time. Based on the test results, the best model for the architecture is the EfficientNet B4 model with the Hyperparameter consisting of optimizer Adam and learning rate 0.001 along with the scheduler. Pretrained weights were used to improve accuracy, and Spatial transformers were added to try to make the model more robust. Coupled with pretrained weights, the model is exported for use in real-time. Real-time test results show that the model is able to detect at least 23 of the 26 alphabets on an abstract background. When tested on a plain background such as black or white, the model was able to detect all 26 alphabets with almost perfect probability. This shows that the method used is able to overcome the problem presented.Bahasa isyarat merupakan hal yang sangat penting bagi suatu kelompok masyarakat, yaitu masyarakat bisu atau tuli. Untuk dapat berkomunikasi dengan masyarakat bisu atau tuli, orang yang tidak bisu atau tuli memerlukan bahasa isyarat tersebut untuk dapat mengerti maksud atau pikiran mereka yang bisu atau tuli. Sebagian besar percakapan pada bahasa isyarat dilakukan dengan menggunakan tangan, dimana tangan beserta jari-jarinya digunakan untuk membentuk pose atau bentuk yang unik, sehingga dapat dikenali sebagai maksud tertentu. Penulis mengusulkan dikembangkan sistem rekognisi citra digital untuk dapat mengenali bahasa isyarat tersebut. Dengan menggunakan metode Convolutional Neural Network (CNN) yang merupakan bagian dari Deep Learning atau Machine Learning, sistem akan mengenali pose atau bentuk dari citra bahasa isyarat yang dimasukkan, dan memberikan luaran yang sesuai dengan maksud dari pose atau bentuk dari citra bahasa isyarat tersebut. Penelitian ini dimulai dengan pengumpulan data, baik data sekunder dari internet maupun data pribadi yang diambil secara manual. Data kemudian melalui pemrosesan awal dan diklasifikasikan dengan CNN, lalu didapatkan hasil untuk dianalisis. Apabila hasil memuaskan, model akan diekspor untuk dimasukkan ke dalam aplikasi berbasis web untuk digunakan secara real-time. Berdasarkan hasil pengujian, model yang terbaik untuk arsitektur adalah model EfficientNet B4 dengan menggunakan Hyperparameter optimizer Adam dan learning rate 0.001 beserta scheduler. Digunakan pretrained weights untuk meningkatkan akurasi tersebut, dan ditambahkan Spatial transformer untuk mencoba membuat model menjadi lebih kokoh. Ditambah dengan pretrained weights, model diekspor untuk digunakan secara real-time. Hasil pengujian real-time menunjukkan bahwa model mampu mendeteksi setidaknya 23 dari 26 alfabet pada latar belakang yang abstrak. Apabila diuji pada latar belakang polos seperti hitam atau putih, model mampu mendeteksi seluruh 26 alfabet dengan probabilitas yang hampir sempurna. Hal ini menunjukkan bahwa metode yang digunakan sudah mampu mengatasi masalah yang disampaikan.   Abstract Sign language is very important for a group of people, namely the deaf or dumb. To be able to communicate with people who are mute or deaf, people who are not mute or deaf require sign language to be able to understand the intentions or thoughts of those who are mute or deaf. Most conversations in sign language are carried out using the hands, where the hands and their fingers are used to form unique poses or shapes, so that they can be recognized as having certain meanings. The author proposes to develop a digital image recognition system to be able to recognize sign language. By using the Convolutional Neural Network (CNN) method which is part of Deep Learning or Machine Learning, the system will recognize the pose or shape of the entered sign language image, and provide output that matches the meaning of the pose or shape of the sign language image. This research began with data collection, both secondary data from the internet and personal data taken manually. The data then goes through initial processing and is classified with CNN, then results are obtained for analysis. If the results are satisfactory, the model will be exported to be included in a web-based application for use in real-time. Based on the test results, the best model for the architecture is the EfficientNet B4 model with the Hyperparameter consisting of optimizer Adam and learning rate 0.001 along with the scheduler. Pretrained weights were used to improve accuracy, and Spatial transformers were added to try to make the model more robust. Coupled with pretrained weights, the model is exported for use in real-time. Real-time test results show that the model is able to detect at least 23 of the 26 alphabets on an abstract background. When tested on a plain background such as black or white, the model was able to detect all 26 alphabets with almost perfect probability. This shows that the method used is able to overcome the problem presented

    Analisis Burnout Programmer terhadap Penerapan Secure Coding

    Get PDF
    Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat dan fokus terhadap aspek keamanan dalam pengembangan perangkat lunak, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dampak burnout pada programmer terhadap praktik secure coding. Studi ini dirancang untuk menggali korelasi antara tingkat kelelahan emosional programmer dan efektivitas mereka dalam menerapkan teknik secure coding. Penelitian ini mengadopsi pendekatan kuantitatif, dengan mengumpulkan data menggunakan kuesioner yang didistribusikan ke berbagai forum dan komunitas yang terdiri dari praktisi pengembangan perangkat lunak. Melalui teknik analisis statistik yang komprehensif, termasuk penerapan uji-t independen, studi ini berhasil mengidentifikasi adanya pengaruh yang signifikan dari kondisi burnout terhadap persepsi dan implementasi secure coding. Hasil analisis menunjukkan bahwa programmer yang mengalami burnout memiliki kecenderungan untuk menilai secure coding sebagai sesuatu yang kurang penting, yang berimplikasi pada pengurangan kualitas dan konsistensi dalam menerapkan standar pengkodean keamanan yang direkomendasikan.Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat dan meningkatnya insiden keamanan siber, fokus terhadap aspek keamanan dalam pengembangan perangkat lunak menjadi sangat kritikal. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dampak burnout pada programmer terhadap praktik secure coding. Studi ini dirancang untuk menggali korelasi antara tingkat kelelahan emosional programmer dan efektivitas mereka dalam menerapkan teknik secure coding, memberikan wawasan baru terhadap tantangan dalam pengembangan perangkat lunak yang aman. Penelitian ini mengadopsi pendekatan kuantitatif, dengan mengumpulkan data menggunakan kuesioner yang didistribusikan ke berbagai forum dan komunitas yang terdiri dari praktisi pengembangan perangkat lunak. Melalui teknik analisis statistik yang komprehensif, termasuk penerapan uji-t independen, studi ini berhasil mengidentifikasi adanya pengaruh yang signifikan dari kondisi burnout terhadap persepsi dan implementasi secure coding. Hasil analisis menunjukkan bahwa programmer yang mengalami burnout memiliki kecenderungan untuk menilai secure coding sebagai sesuatu yang kurang penting, yang berimplikasi pada pengurangan kualitas dan konsistensi dalam menerapkan standar pengkodean keamanan yang direkomendasikan. Temuan ini tidak hanya menekankan urgensi mengatasi isu burnout di kalangan programmer untuk meningkatkan praktik keamanan perangkat lunak tetapi juga berkontribusi pada literatur keamanan siber dengan menghubungkan faktor kelelahan emosional dengan keamanan pengembangan perangkat lunak.   Abstract In the midst of rapidly advancing technology and increasing cybersecurity incidents, focusing on security aspects in software development has become critically important. This research aims to examine the impact of burnout on programmers regarding secure coding practices. The study is designed to explore the correlation between programmers\u27 levels of emotional exhaustion and their effectiveness in implementing secure coding techniques, providing new insights into the challenges of developing secure software. This research adopts a quantitative approach, collecting data through questionnaires distributed across various forums and communities consisting of software development practitioners. Through comprehensive statistical analysis techniques, including the application of independent t-tests, this study successfully identifies a significant influence of burnout conditions on the perception and implementation of secure coding. The analysis results show that programmers experiencing burnout tend to perceive secure coding as less important, implicating a decrease in the quality and consistency of applying recommended security coding standards. These findings not only underscore the urgency of addressing burnout issues among programmers to enhance software security practices but also contribute to the cybersecurity literature by linking emotional exhaustion to software development security

    Deteksi Spam Berbahasa Indonesia Berbasis Teks Menggunakan Model Bert

    Get PDF
    Spam pada SMS dan Email menyebabkan pengalaman kurang menyenangkan bagi pengguna dalam pemanfaatan teknologi. Spam secara umum merupakan sebuah tindakan mengirim pesan yang tidak diinginkan atau tidak diminta kepada sejumlah besar orang. Spam kini dapat ditemui dalam berbagai bentuk, seperti web maupun multimedia. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi model berbasis BERT, khususnya IndoBERT dan MultilingualBERT, dalam mendeteksi dan mengklasifikasi spam berbahasa Indonesia pada pesan SMS dan Email. Model yang dipilih kemudian dilatih untuk mengidentifikasi perbedaan antara pesan spam dan bukan spam. Hasil evaluasi pada percobaan menggunakan dataset SMS dan Email memiliki nilai akurasi sebesar 98% pada model IndoBERT dan 95% pada model MultilingualBERT, yang menunjukkan tingkat akurasi yang tinggi. Hasil ini menunjukkan bahwa model BERT efektif dalam mendeteksi pesan spam dalam Bahasa Indonesia.   Abstract Spam on SMS and Email causes an unpleasant experience for users in using technology. Spam in general is the act of sending unwanted or unsolicited messages to a large number of people. Spam can now be found in various forms, such as web and multimedia. This research aims to evaluate BERT-based models, specifically IndoBERT and MultilingualBERT, in detecting and classifying Indonesian spam in SMS and Email messages. The selected model is then trained to identify the differences between spam and non-spam messages. Evaluation results in experiments using SMS and Email datasets have an accuracy value of 98% in the IndoBERT model and 95% in the MultilingualBERT model, which shows a high level of accuracy. These results indicate that the BERT model is effective in detecting spam messages in Indonesian.Spam pada SMS dan Email menyebabkan pengalaman kurang menyenangkan bagi pengguna dalam pemanfaatan teknologi. Spam secara umum merupakan sebuah tindakan mengirim pesan yang tidak diinginkan atau tidak diminta kepada sejumlah besar orang. Spam kini dapat ditemui dalam berbagai bentuk, seperti web maupun multimedia. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi model berbasis BERT, khususnya IndoBERT dan MultilingualBERT, dalam mendeteksi dan mengklasifikasi spam berbahasa Indonesia pada pesan SMS dan Email. Model yang dipilih kemudian dilatih untuk mengidentifikasi perbedaan antara pesan spam dan bukan spam. Hasil evaluasi pada percobaan menggunakan dataset SMS dan Email memiliki nilai akurasi sebesar 98% pada model IndoBERT dan 95% pada model MultilingualBERT, yang menunjukkan tingkat akurasi yang tinggi. Hasil ini menunjukkan bahwa model BERT efektif dalam mendeteksi pesan spam dalam Bahasa Indonesia.   Abstract Spam on SMS and Email causes an unpleasant experience for users in using technology. Spam in general is the act of sending unwanted or unsolicited messages to a large number of people. Spam can now be found in various forms, such as web and multimedia. This research aims to evaluate BERT-based models, specifically IndoBERT and MultilingualBERT, in detecting and classifying Indonesian spam in SMS and Email messages. The selected model is then trained to identify the differences between spam and non-spam messages. Evaluation results in experiments using SMS and Email datasets have an accuracy value of 98% in the IndoBERT model and 95% in the MultilingualBERT model, which shows a high level of accuracy. These results indicate that the BERT model is effective in detecting spam messages in Indonesian

    Pemanfaatan Internet Of Things (Iot) Dalam Proses Pengeringan Rimpang Dengan Menggunakan Platform Node-Red

    Get PDF
      Di Indonesia, tumbuhan rimpang dikenal sebagai sumber bahan pengobatan tradisional. Bahan-bahan tersebut dapat dijadikan minuman herbal dalam bentuk serbuk. Salah satu pengolahan produk tersebut berupa pengeringan yang merupakan proses penting dalam industri herbal dan memiliki implikasi langsung terhadap kualitas akhir produk. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pengeringan rimpang, menjaga konsistensi kualitas produk dan optimasi proses produksi. Sehingga industri akan memperoleh manfaat mulai dari peningkatan kualitas rimpang, waktu pengeringan yang lebih singkat, peningkatan kapasitas produksi dan pengurangan biaya produksi. Teknologi Internet of Things dapat dimanfaatkan untuk proses pengeringan rimpang sebagai sistem otomatisasi, kendali dan pemantauan yang dapat dilakukan secara jarak jauh melalui aplikasi mobile. Lebih dari itu, dengan IoT data sensor yang diperoleh terkelola di database untuk keperluan analisa. Hasil uji lapangan untuk pengujian error diperoleh rata-rata persentase error 1,5% dan pengujian akurasi diperoleh rata-rata persentase akurasi sebesar 98,49%. Merujuk pada hasil tersebut menunjukkan bahwa sensor thermocouple dapat diandalkan. Untuk pengukuran kadar air kunyit dengan berat awal 30 Kg memerlukan waktu selama 7 jam untuk mencapai kadar air 9-10%. Hal ini karena batas atas suhu yang diatur sebesar 50ºC untuk menjaga kandungan nutrisi pada rimpang. Pemanfaatan Internet of Things terbukti dapat digunakan untuk membantu proses pengeringan rimpang baik dari pemantauan dan pengendalian perangkat melalui aplikasi mobile. Diharapkan penelitian ini menjadi suatu rujukan untuk industri herbal yang ingin meningkatkan kualitas produk dengan biaya yang produksi yang minimum.   Abstract In Indonesia, rhizome plants are known as a source of traditional medicinal ingredients. These ingredients can be made into herbal drinks in powder form. One of the product processes is drying, which is an important process in the herbal industry and has direct implications for the final quality of the product. This research aims to increase the efficiency of rhizome drying, maintain consistent product quality and optimize the production process. So the industry will gain benefits starting from improving rhizome quality, shorter drying time, increasing production capacity and reducing production costs. Internet of Things technology can be used for the rhizome drying process as an automation, control and monitoring system that can be done remotely via a mobile application. Moreover, with IoT the sensor data obtained is managed in a database for analysis purposes. Field test results for error testing obtained an average error percentage of 1.5% and accuracy testing obtained an average accuracy percentage of 98.49%. Referring to these results shows that the thermocouple sensor is reliable. To measure the water content of turmeric with an initial weight of 30 kg, it takes 7 hours to reach a water content of 9-10%. This is because the upper temperature limit is set at 50ºC to maintain the nutritional content of the rhizomes. It has been proven that the use of the Internet of Things can be used to assist the rhizome drying process by monitoring and controlling devices via mobile applications. It is hoped that this research will become a reference for the herbal industry that wants to improve product quality with minimum production costs.  Di Indonesia, tumbuhan rimpang dikenal sebagai sumber bahan pengobatan tradisional. Bahan-bahan tersebut dapat dijadikan minuman herbal dalam bentuk serbuk. Salah satu pengolahan produk tersebut berupa pengeringan yang merupakan proses penting dalam industri herbal dan memiliki implikasi langsung terhadap kualitas akhir produk. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pengeringan rimpang, menjaga konsistensi kualitas produk dan optimasi proses produksi. Sehingga industri akan memperoleh manfaat mulai dari peningkatan kualitas rimpang, waktu pengeringan yang lebih singkat, peningkatan kapasitas produksi dan pengurangan biaya produksi. Teknologi Internet of Things dapat dimanfaatkan untuk proses pengeringan rimpang sebagai sistem otomatisasi, kendali dan pemantauan yang dapat dilakukan secara jarak jauh melalui aplikasi mobile. Lebih dari itu, dengan IoT data sensor yang diperoleh terkelola di database untuk keperluan analisa. Hasil uji lapangan untuk pengujian error diperoleh rata-rata persentase error 1,5% dan pengujian akurasi diperoleh rata-rata persentase akurasi sebesar 98,49%. Merujuk pada hasil tersebut menunjukkan bahwa sensor thermocouple dapat diandalkan. Untuk pengukuran kadar air kunyit dengan berat awal 30 Kg memerlukan waktu selama 7 jam untuk mencapai kadar air 9-10%. Hal ini karena batas atas suhu yang diatur sebesar 50ºC untuk menjaga kandungan nutrisi pada rimpang. Pemanfaatan Internet of Things terbukti dapat digunakan untuk membantu proses pengeringan rimpang baik dari pemantauan dan pengendalian perangkat melalui aplikasi mobile. Diharapkan penelitian ini menjadi suatu rujukan untuk industri herbal yang ingin meningkatkan kualitas produk dengan biaya yang produksi yang minimum.   Abstract In Indonesia, rhizome plants are known as a source of traditional medicinal ingredients. These ingredients can be made into herbal drinks in powder form. One of the product processes is drying, which is an important process in the herbal industry and has direct implications for the final quality of the product. This research aims to increase the efficiency of rhizome drying, maintain consistent product quality and optimize the production process. So the industry will gain benefits starting from improving rhizome quality, shorter drying time, increasing production capacity and reducing production costs. Internet of Things technology can be used for the rhizome drying process as an automation, control and monitoring system that can be done remotely via a mobile application. Moreover, with IoT the sensor data obtained is managed in a database for analysis purposes. Field test results for error testing obtained an average error percentage of 1.5% and accuracy testing obtained an average accuracy percentage of 98.49%. Referring to these results shows that the thermocouple sensor is reliable. To measure the water content of turmeric with an initial weight of 30 kg, it takes 7 hours to reach a water content of 9-10%. This is because the upper temperature limit is set at 50ºC to maintain the nutritional content of the rhizomes. It has been proven that the use of the Internet of Things can be used to assist the rhizome drying process by monitoring and controlling devices via mobile applications. It is hoped that this research will become a reference for the herbal industry that wants to improve product quality with minimum production costs

    Prioritas Investasi Keamanan Informasi Menggunakan Analytic Network Process (ANP) Bagi Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Tengah

    Get PDF
    Keamanan informasi menjadi fokus utama bagi Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Tengah, terutama dalam menghadapi ancaman siber yang semakin kompleks. Walaupun telah ada inisiatif dari Pemerintah Pusat seperti Indeks Keamanan Informasi (KAMI) yang diperkenalkan oleh Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), implementasi di tingkat daerah masih dihadapkan dengan berbagai tantangan. Kendala utama yang dihadapi adalah terbatasnya anggaran, kekurangan sumber daya manusia yang berkualitas, serta rendahnya kesadaran tentang pentingnya keamanan informasi. Penelitian ini menghipotesiskan bahwa dengan penerapan metode Analytic Network Process (ANP), Pemerintah Daerah dapat lebih efektif menentukan prioritas dalam investasi keamanan informasi, sehingga risiko ancaman siber dapat diminimalkan secara signifikan. Solusi yang diusulkan adalah penggunaan metode ANP untuk menangani hubungan antar kriteria yang saling terkait dan memberikan panduan prioritas yang komprehensif antara aspek teknologi, sumber daya manusia, dan kebijakan. Survei dilakukan terhadap pengambil keputusan dan pengelola teknis terkait keamanan informasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengambil keputusan lebih memprioritaskan kerangka kerja manajemen keamanan informasi, sementara pengelola teknis lebih fokus pada aspek teknologi. Penelitian ini diharapkan dapat membantu Pemerintah Daerah dalam merumuskan strategi investasi yang lebih efektif untuk meningkatkan keamanan informasi dan melindungi data sensitif di wilayah Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah.   Abstract Information security has become a primary focus for the Regional Government of Central Kalimantan Province, especially in facing increasingly complex cyber threats. Although there have been initiatives from the Central Government, such as the Information Security Index (KAMI) introduced by the National Cyber and Crypto Agency (BSSN), implementation at the regional level still faces various challenges. The main obstacles encountered are limited budgets, a shortage of qualified human resources, and a lack of awareness about the importance of information security. This study hypothesizes that by applying the Analytic Network Process (ANP) method, the Regional Government can more effectively prioritize investments in information security, thereby significantly minimizing cyber threat risks. The proposed solution is to use the ANP method to manage interrelated criteria and provide a comprehensive priority guide between technological, human resource, and policy aspects. Surveys were conducted with decision-makers and technical managers related to information security. The results of the study show that decision-makers prioritize the information security management framework, while technical managers focus more on technological aspects. This research is expected to assist the Regional Government in formulating more effective investment strategies to improve information security and protect sensitive data within the Central Kalimantan Provincial Government\u27s jurisdiction.Keamanan informasi menjadi fokus utama bagi Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Tengah, terutama dalam menghadapi ancaman siber yang semakin kompleks. Walaupun telah ada inisiatif dari Pemerintah Pusat seperti Indeks Keamanan Informasi (KAMI) yang diperkenalkan oleh Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), implementasi di tingkat daerah masih dihadapkan dengan berbagai tantangan. Kendala utama yang dihadapi adalah terbatasnya anggaran, kekurangan sumber daya manusia yang berkualitas, serta rendahnya kesadaran tentang pentingnya keamanan informasi. Penelitian ini menghipotesiskan bahwa dengan penerapan metode Analytic Network Process (ANP), Pemerintah Daerah dapat lebih efektif menentukan prioritas dalam investasi keamanan informasi, sehingga risiko ancaman siber dapat diminimalkan secara signifikan. Solusi yang diusulkan adalah penggunaan metode ANP untuk menangani hubungan antar kriteria yang saling terkait dan memberikan panduan prioritas yang komprehensif antara aspek teknologi, sumber daya manusia, dan kebijakan. Survei dilakukan terhadap pengambil keputusan dan pengelola teknis terkait keamanan informasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengambil keputusan lebih memprioritaskan kerangka kerja manajemen keamanan informasi, sementara pengelola teknis lebih fokus pada aspek teknologi. Penelitian ini diharapkan dapat membantu Pemerintah Daerah dalam merumuskan strategi investasi yang lebih efektif untuk meningkatkan keamanan informasi dan melindungi data sensitif di wilayah Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah.   Abstract Information security has become a primary focus for the Regional Government of Central Kalimantan Province, especially in facing increasingly complex cyber threats. Although there have been initiatives from the Central Government, such as the Information Security Index (KAMI) introduced by the National Cyber and Crypto Agency (BSSN), implementation at the regional level still faces various challenges. The main obstacles encountered are limited budgets, a shortage of qualified human resources, and a lack of awareness about the importance of information security. This study hypothesizes that by applying the Analytic Network Process (ANP) method, the Regional Government can more effectively prioritize investments in information security, thereby significantly minimizing cyber threat risks. The proposed solution is to use the ANP method to manage interrelated criteria and provide a comprehensive priority guide between technological, human resource, and policy aspects. Surveys were conducted with decision-makers and technical managers related to information security. The results of the study show that decision-makers prioritize the information security management framework, while technical managers focus more on technological aspects. This research is expected to assist the Regional Government in formulating more effective investment strategies to improve information security and protect sensitive data within the Central Kalimantan Provincial Government\u27s jurisdiction.

    Penerapan Model Enterprise Architecture Cube Pada Perencanaan Strategi Sistem Dan Teknologi Informasi

    Get PDF
    Apotek Afdhal adalah enterprise yang bergerak dalam bidang farmasi sebagai penyedia obat. Dalam menjalankan proses bisnisnya terdapat permasalahan pada Apotek Afdhal yaitu pemesanan barang kepada supplier masih mengandalkan pembukuan untuk pencatatan data barang sehingga mengakibatkan kesalahan dalam pendataan barang seperti tertinggalnya data barang yang seharusnya dicatat dan keterlambatan dalam pemesanan barang. Menerapkan sistem informasi tanpa disertai perencanaan strategi yang dapat menyebabkan kesalahan karena kerancuan data yang tidak terintegrasi dengan baik. Untuk menyelesaikan masalah yang sudah disebutkan sebelumnya, apotek harus berinovasi untuk mendukung pelaksanaan proses bisnis. Salah satu cara untuk berhasil menerapkan inovasi adalah dengan melakukan perencanaan strategi sistem informasi yang tepat, akurat, memenuhi kebutuhan bisnis yang sesuai dengan perkembangan saat ini.  Ini akan mendukung seluruh operasi bisnis apotek. Enterprise Architecture adalah praktik profesional dan manajerial yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi bisnis dengan memungkinkan apotek mengintegrasikan strategi secara keseluruhan. Perencanaan strategis sistem informasi ini menggunakan 3 metode analisis yaitu analisis lingkungan eksternal apotek (analisis lima daya saing porter), analisis lingkungan internal apotek (Analisis SWOT, Analisis Value Shop, Analisis Critical Success Factor) dan Enterprise Architecture Cube. Penelitian ini menghasilkan dokumen rencana strategis, blueprint dan roadmap yang dapat digunakan sebagai landasan bagi Apotek Afdhal.   Abstrack   Afdhal Pharmacy is an enterprise engaged in the pharmaceutical sector as a drug provider. In carrying out its business processes there are problems at Afdhal Pharmacy, namely ordering goods to suppliers still relying on bookkeeping for recording goods data resulting in errors in goods data collection such as lagging data on goods that should be recorded and delays in ordering goods. Implementing an information system without strategic planning can lead to errors due to data confusion that is not well integrated. To solve the previously mentioned problems, pharmacies must innovate to support the implementation of business processes. One of the ways to successfully implement innovation is to plan an appropriate, accurate information system strategy that meets business needs in line with current developments. This will support the entire pharmacy business operations. Enterprise Architecture is a professional and managerial practice designed to increase business efficiency by enabling pharmacies to integrate strategy as a whole. This information system strategic planning uses 3 analytical methods, namely analysis of the external environment of the pharmacy (analysis of Porter\u27s five competitiveness), analysis of the internal environment of the pharmacy (SWOT Analysis, Value Shop Analysis, Critical Success Factor Analysis) and Enterprise Architecture Cube analysis. This research produced strategic plan documents, blueprints and roadmaps that can be used as a basis for Afdhal Pharmacy.Apotek Afdhal adalah enterprise yang bergerak dalam bidang farmasi sebagai penyedia obat. Dalam menjalankan proses bisnisnya terdapat permasalahan pada Apotek Afdhal yaitu pemesanan barang kepada supplier masih mengandalkan pembukuan untuk pencatatan data barang sehingga mengakibatkan kesalahan dalam pendataan barang seperti tertinggalnya data barang yang seharusnya dicatat dan keterlambatan dalam pemesanan barang. Menerapkan sistem informasi tanpa disertai perencanaan strategi yang dapat menyebabkan kesalahan karena kerancuan data yang tidak terintegrasi dengan baik. Untuk menyelesaikan masalah yang sudah disebutkan sebelumnya, apotek harus berinovasi untuk mendukung pelaksanaan proses bisnis. Salah satu cara untuk berhasil menerapkan inovasi adalah dengan melakukan perencanaan strategi sistem informasi yang tepat, akurat, memenuhi kebutuhan bisnis yang sesuai dengan perkembangan saat ini.  Ini akan mendukung seluruh operasi bisnis apotek. Enterprise Architecture adalah praktik profesional dan manajerial yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi bisnis dengan memungkinkan apotek mengintegrasikan strategi secara keseluruhan. Perencanaan strategis sistem informasi ini menggunakan 3 metode analisis yaitu analisis lingkungan eksternal apotek (analisis lima daya saing porter), analisis lingkungan internal apotek (Analisis SWOT, Analisis Value Shop, Analisis Critical Success Factor) dan Enterprise Architecture Cube. Penelitian ini menghasilkan dokumen rencana strategis, blueprint dan roadmap yang dapat digunakan sebagai landasan bagi Apotek Afdhal.   Abstrack   Afdhal Pharmacy is an enterprise engaged in the pharmaceutical sector as a drug provider. In carrying out its business processes there are problems at Afdhal Pharmacy, namely ordering goods to suppliers still relying on bookkeeping for recording goods data resulting in errors in goods data collection such as lagging data on goods that should be recorded and delays in ordering goods. Implementing an information system without strategic planning can lead to errors due to data confusion that is not well integrated. To solve the previously mentioned problems, pharmacies must innovate to support the implementation of business processes. One of the ways to successfully implement innovation is to plan an appropriate, accurate information system strategy that meets business needs in line with current developments. This will support the entire pharmacy business operations. Enterprise Architecture is a professional and managerial practice designed to increase business efficiency by enabling pharmacies to integrate strategy as a whole. This information system strategic planning uses 3 analytical methods, namely analysis of the external environment of the pharmacy (analysis of Porter\u27s five competitiveness), analysis of the internal environment of the pharmacy (SWOT Analysis, Value Shop Analysis, Critical Success Factor Analysis) and Enterprise Architecture Cube analysis. This research produced strategic plan documents, blueprints and roadmaps that can be used as a basis for Afdhal Pharmacy

    1,183

    full texts

    1,290

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇