AL-MAKTABAH
Not a member yet
200 research outputs found
Sort by
Kolaborasi pustakawan dan ilmuwan di perguruan tinggi dalam Community Of Practice (CoP)
Community of Practice (CoP) is one of the communities (research groups) from various disciplines and have an interest in a particular subject. The existence of this CoP is not always permanent. The amount was not observed. Communities can be dispersed when the research is complete, and may be flocking back when they have other interests are the same. CoP presence is not always planned, but its activities must be well planned. According to Weber, a person becomes a member of CoP when she played a man practicing something (practitioners) and interact with fellow members to exchange experiences, learn to solve practical problems, and exchange information. The communication system is similar to the CoP members of the scientific comunication. CoP always associated with learning activities together (collective learning), where the library has an important role. Library as a learning resource provider become an important asset for the CoP. According Pendit (2003) in the context of shared learning, CoP theory to develop a view on access to learning resources and the right to participate in activities of a CoP. Learning resource librarian is what makes it is possible to collaborate with the CoP. Librarians can engage in activities CoP with a role as a facilitator, mediator, and subject specialist, without being a member of the CoP. The existence of a CoP, peripherals process each member is an interesting and unique process. The whole process can be monitored and recorded by the librarian becomes tacit knowledge institution.
Pengolahan konten repositori di pusat perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
As institutional repositories are part of library materials, it is important to organize these materials properly. An effective organization of library materials is if these materials can be retrieved easily and quickly. This study is aimed to investigate the technical problems regarding with organization of institutional repositories materials such as determining heading, subject access, data accuracy, and other technical problems. By using content analysis, some errors in organizing repositories materials are identified, and then classified into categories. Based on the study, it was found that there are some errors in determining headings, keywords, typeing errors, uploading files, and data entry
Partial Least Square-Structural Equation Modeling (PLS-SEM) untuk mengukur ekspektasi penggunaan repositori lembaga: Pilot studi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Since the institutional repositories was introduced, and its advantages in increasing the institution performances has been recognized, many universities in Indonesia has been developing the repositories system for preserving and disseminating their intellectual outputs. However, despite of its development, the existing of repository system is less used. It is alleged that lecturers are not aware and reluctant due to their task complexity. In addition, user expectancy should be observed in relation with the use of institutional repositories. The purpose of this paper is to examine a limited sample data on the relationship between user expectancy and the use of institutional repositories in higher education institutions in Indonesia. A pilot study is conducted with 50 university lecturers at Syarif Hidayatullah Jakarta. This study investigates as well as predicts the relationship between users’ expectancies and the use of institutional repositories. Structural analysis is employed by using PLS-SEM (Partial Least Square-Structural Equation Modeling) approach. SmartPLs 2.0 software is used in the analysis. The results indicated that user expectancy has a significant relationship with the use of institutional repositories by its contribution up to 57.8
Pengaruh struktur organisasi lembaga induk terhadap manajemen perpustakaan: Tinjauan dalam perspektif budaya organisasi
The organization structure of the main institutions greatly affect the management of the institution\u27s own library. The research found that library y not fit into the organization structure of x explicitly, the library is only a complementary part to make the library be underestimated and was not an important part from the main organization. Another reason is not appointed someone to be head librarian who takes full responsibility and will have the authority to lead the library. That problem caused the library staff work without direction from a single command, so that the library management is not going well
Perhatian pemerintah dan peran pustakawan dalam pemeliharaan naskah kuno
Pemerintah RI saat ini telah mempunyai perhatian besar terhadap koleksi naskah kuno, terbukti dengan adanya beberapa undang-undang yang berkaitan dengan pemeliharaan naskah kuno. Sementara dari kalangan masyarakat Indonesia, ada yang sudah punya perhatian terhadap naskah kuno ini dan masih ada yang belum. Masyarakat yang sudah punya perhatian telah menyibukkan diri dalam hal pengumpulannya, penelitian dan pemeliharaan terhadap koleksi kuno, sebagaimana yang telah dilakukan oleh beberapa organisasi dan perguruan tinggi. Masyarakat yang belum punya perhatian masih membiarkan naskah kuno tersimpan rapi di rumahnya sampai turun temurun, dan bahkan ada yang menjual keluar negeri. Berkaitan dengan hal pemeliharaan koleksi naskah kuno ini, pustakawan diharapkan berperan aktif mulai dari pengumpulannya, pemeliharaan dalam bentuk preservasi fisik dengan cara konservasi dan restorasi, menerjemah, menelitinya, mengalih mediakan agar informasinya tetap terpelihara dan lain-lain.
Faktor-faktor yang berhubungan dengan prestasi kerja pustakawan
Setiap profesi memiliki prestasi kerja yang ingin dicapainya. Banyak hal yang mempengaruhi pencapaian prestasi tersebut. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi pustakawan, yaitu: jabatan, pendidikan, masa kerja dan sikap Pustakawan. Berdasarkan beberapa penelitian yang telah dilakukan, ternyata hubungan antar faktor jabatan, masa kerja dan sikap Pustakawan tidak signifikan kecuali faktor pendidikan. Dan diantara hasil penelitian tersebut ternyata terdapat beberapa perbedaan, persamaan atau bahkan ada yang saling mendukung dan saling melengkapi. Perbedaan-perbedaan hasil ini terjadi dikarenakan kondisi Pustakawan dan lingkungan kerja responden yang berbeda. Jabatan Fungsional Pustakawan merupakan bidang yang strategis dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, oleh karena itu perlu pembinaan dan pengembangan yang intensif serta serius dari pemerintah guna optimalisasi prestasi kerja Pustakawan yang akan berdampak positif terhadap keberhasilan tujuan pemerintah.
EQ dan AQ dalam pengembangan profesional pustakawan
Tulisan ini membahas tentang Intelektual Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ) dan Emotional Quotient (EQ) yang ada pada diri pustakawan. Pustakawan dituntut matang dalam mengatur emosi (Emotional Quotient) dan matang dalam mengatasi berbagai tantangan kesulitan (Adversity Quotient). Teori AQ diambil menurut Paul G. Stoltz, yang menyatakan bahwa suksesnya pekerjaan dan hidup terutama ditentukan oleh AQ, sebab AQ akan memberi tahu seberapa mampu bertahan menghadapi kesulitan dan sekaligus memberi tahu akan kemampuan untuk mengatasinya. AQ meramalkan siapa yang mampu mengatasi kesulitan dan siapa yang akan hancur. AQ meramalkan siapa yang akan melampaui harapan atas kinerja dan potensi serta siapa yang akan gagal. AQ juga meramalkan siapa yang akan menyerah dan siapa yang bertahan.
Teknologi informasi dan fungsi kepustakawanan
oai:ojs.pkp.sfu.ca:article/1569Tulisan ini bertujuan untuk memberikan deskripsi secara konseptual dan teoritis terhadap dampak yang ditimbulkan oleh teknologi informasi bagi fungsi kepustakawanan. Kehadiran teknologi informasi ini hendaknya membawa nilai-nilai positif bagi perkembangan dunia kepustakawanan. Oleh karena itu, seharusnya teknologi informasi ini dimanfaatkan secara maksimal oleh perpustakaan untuk menunjang dan memperlancar kegiatan-kegiatan perpustakaan. Memang pada awalnya perlu adaptasi karena perubahan sistem dari manual ke terotomasi atau digital mengakibatkan terjadinya keterkejutan terhadap perubahan pola dan sistem yang ada. Secara umum, dapat digambarkan bahwa arah gejala perkembangan perpustakaan masa depan bila dikaitkan dengan perkembangan teknologi informasi, yaitu Perpustakaan menjadi digital, Perpustakaan akan masuk ke berbagai jaringan, Jenis koleksi perpustakaan akan berubah komposisinya, Perpustakaan akan memiliki akses ke informasi global, dan Perpustakaan bersifat atau menjadi maya atau virtual.
Pengelolaan arsip bernilai historis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di era keterbukaan informasi
Tulisan ini berisi kajian tentang pengelolaan arsip bernilai historis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di era keterbukaan informasi. Aspek yang dikaji adalah mengidentifikasi pelaksanaan sistem pengelolaan arsip sejarah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan mengetahui akses arsip sejarah UIN Jakarta di era keterbukaan informasi. Kajian dilakukan secara kualitatif dengan menggunakan teknik snowball sampling. Hasil pengumpulan data yang dilakukan melalui observasi, kuesionar, wawancara dan survey arsip menunjukkan bahwa manajemen arsip sejarah UIN Jakarta belum berjalan dengan maksimal. Hal ini antara lain sangat dipengaruhi oleh sistem pengelolaan arsip sejak masa aktif dan inaktif yang belum sesuai standar. Rekomendasi yang diberikan adalah agar UIN Jakarta segera memiliki Lembaga Kearsipan Perguruan Tinggi (LKPT) yakni satu unit yang salah satu fungsinya adalah sebagai tempat pengelolaan arsip permanen termasuk arsip sejarah, sehingga arsip sejarah perkembangan UIN Jakarta sejak masa awal berdiri hingga kini dapat diakses pada satu lokasi secara tepat dan cepat dan dapat dilayankan dengan optimal bagi civitas akademika maupun masyarakat di luar kampus. Dengan demikian arsip sejarah UIN Jakarta dapat terpelihara sebagai bagian memori korporasi maupun memori bangsa yang bermanfaat bagi kemajuan selanjutnya.
Kompetensi pustakawan dalam perspektif Islam
Islam is a religion which has comprehensive teachings, including how a Moslem works in libraries. The final goal of works is the same, which is to give the best service to their costumers. To give the best service, librarian should master some competencies. US Special Library Associations has formulated ten individual competencies for librarian. Having analyzed the holy quran, hadits, sahabat and Islamic scholar, it is found that Islam has appropriate teachings to fulfill or to compare with those individual competencies. So that, a good and smart Moslem should be a professional and skillful librarian.