31665 research outputs found
Sort by
Knowledge, Attitudes, and Practices of Poultry Traders Regarding Avian Influenza in Wet Markets in Bogor
Avian influenza (AI) merupakan penyakit zoonotik yang masih mengancam kesehatan manusia. Penyakit AI yang disebabkan virus avian influenza (avian influenza virus) yang menginfeksi unggas dan menular ke manusia melalui unggas tertular penyakit. Kasus penularan AI pada manusia masih dilaporkan di seluruh dunia. Sepanjang tahun 2003–2023 telah dilaporkan 882 kasus penyakit AI subtipe H5N1, dengan 461 kasus di antaranya berakhir dengan kematian. Kasus AI pada manusia di Indonesia telah dilaporkan sebanyak 200 kasus AI antara tahun 2005– 2017, dengan 168 kasus di antaranya menimbulkan kematian.
Sebagai salah satu tempat yang berperan dalam rantai pasok perdagangan unggas, pasar unggas hidup menjadi sumber potensial untuk penularan virus avian influenza pada manusia dan hewan. Penularan penyakit dapat terjadi melalui kontak erat antara unggas, pedagang unggas hidup, dan konsumen. Kondisi tersebut menjadi ancaman terhadap kesehatan masyarakat, karena berisiko menjadi sumber penularan penyakit AI terutama di lingkungan pasar tradisional. Salah satu kelompok yang berisiko tertular penyakit tersebut adalah pedagang unggas hidup yang menjual unggas di lingkungan pasar tradisional. Oleh karena itu diperlukan intervensi untuk mencegah penularan penyakit terhadap kelompok tersebut. Informasi terkait pengetahuan, sikap, dan praktik pencegahan penyakit AI pada pedagang unggas hidup diperlukan pada pedagang yang beraktivitas di lingkungan pasar tradisional di wilayah Bogor untuk menentukan strategi intervensi yang tepat. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengetahuan, sikap, dan praktik pedagang unggas hidup terhadap penyakit AI, serta menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi secara langsung dan tidak langsung praktik pencegahan dan pengendalian penyakit AI pada pedagang unggas hidup di lokasi penjualan unggas hidup di pasar tradisional di Kota dan Kabupaten Bogor.
Sebuah studi cross sectional dilakukan untuk mengidentifikasi pengetahuan, sikap, dan praktik pedagang unggas hidup terhadap penyakit AI, serta menentukan faktor-faktor yang memengaruhi praktik pencegahan dan pengendalian penyakit AI di lingkungan pasar tradisional. Sebanyak 30 orang pedagang unggas hidup menjadi responden penelitian, yang berasal dari tujuh pasar di Kabupaten Bogor dan tiga pasar di Kota Bogor. Data diambil melalui wawancara dan pengamatan praktik pedagang unggas. Koleksi data dilakukan dengan kuesioner dan checklist yang disusun secara terstruktur sebagai alat identifikasi pengetahuan, sikap, dan praktik pedagang unggas hidup terhadap penyakit AI. Analisis deskriptif dilakukan untuk mengetahui gambaran karakteristik demografi pedagang unggas hidup serta praktik pencegahan penyakit yang dilakukan pedagang, sedangkan analisis jalur dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi pengetahuan, sikap, dan praktik pencegahan penyakit AI pada pedagang unggas hidup.
Hasil penelitian terkait karakteristik pedagang unggas hidup menunjukkan mayoritas (93,0%) pedagang berusia dewasa dengan umur 18–59 tahun. Sebagian besar pedagang merupakan tamatan SMP (36,7%) dan SMA (33,3%). Mayoritas (56,7%) pedagang memiliki pengalaman berdagang unggas hidup selama 10–20
tahun. Sebagian besar (53,3%) pedagang menjual unggas hidup kurang dari 50 ekor per hari. Hasil analisis tingkat pengetahuan, sikap, dan praktik pedagang unggas terhadap penyakit AI menunjukkan mayoritas (60%) tingkat pengetahuan pedagang unggas hidup di pasar tradisional di wilayah Bogor terhadap penyakit AI berada pada kategori sedang. Hampir sebagian besar (90%) pedagang menunjukkan sikap positif terhadap penyakit AI, serta seluruh (100%) pedagang memiliki tingkat penerapan praktik pencegahan dan pengendalian penyakit AI pada pedagang pada kategori sedang. Lingkungan sosial suatu individu dapat memengaruhi tingkat pengetahuan, sikap, dan praktik pedagang terhadap AI.
Wawancara terkait penerapan praktik pencegahan dan pengendalian penyakit AI pada pedagang unggas dilakukan pada lima aspek pencegahan dan pengendalian penyakit, yaitu higiene dan sanitasi di lingkungan kios, biosekuriti hewan (unggas), higiene personal pedagang unggas, higiene dan sanitasi pada pemotongan dan penanganan unggas, serta edukasi penyakit. Hasil wawancara menunjukkan praktik pencegahan dan pengendalian penyakit AI pada pedagang unggas di Bogor masih belum dilakukan secara menyeluruh pada seluruh aspek pencegahan dan pengendalian penyakit, terutama pada aspek higiene dan sanitasi di lingkungan kios, higiene personal pedagang, dan biosekuriti unggas. Kesadaran pedagang untuk melakukan pelaporan juga sangat rendah mengingat hanya sebagian kecil (20%) pedagang yang akan melakukan pelaporan terhadap unggas yang menunjukkan gejala penyakit AI.
Identifikasi terhadap faktor-faktor yang berpengaruh terhadap praktik pencegahan penyakit AI pada pedagang unggas hidup menggunakan analisis jalur. Hasil analisis menunjukkan, sikap pedagang terhadap penyakit AI berpengaruh secara langsung signifikan memengaruhi praktik pencegahan dan pengendalian penyakit AI pada pedagang unggas hidup di wilayah Bogor. Hasil analisis juga menunjukkan peran pengetahuan dan usia penyakit AI pada pedagang terhadap praktik pencegahan dan pengendalian AI, karena kedua peubah tersebut secara langsung memengaruhi sikap pedagang terhadap penyakit AI secara signifikan.
Kesimpulan dari penelitian ini yaitu pedagang unggas memiliki tingkat pengetahuan terkait penyakit AI pada kategori sedang dan menunjukkan sikap yang positif terhadap keberadaan penyakit AI. Penerapan praktik pencegahan dan pengendalian penyakit AI berada pada kategori sedang yang ditunjukkan oleh belum menyeluruhnya penerapan praktik pencegahan dan pengendalian penyakit AI. Peubah sikap merupakan faktor yang berpengaruh secara langsung dan signifikan terhadap praktik pencegahan penyakit AI, sedangkan peubah pengetahuan dan usia memengaruhi praktik secara tidak langsung melalui peubah sikap. Dengan demikian maka peningkatan pengetahuan merupakan hal yang penting dalam pencegahan dan pengendalian penyakit AI. Penyusunan peraturan terkait pencegahan dan pengendalian AI di pasar tradisional, perbaikan sarana dan prasarana kios unggas, dan peningkatan kesadaran pedagang terkait praktik pencegahan dan pengendalian penyakit melalui kegiatan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) diperlukan agar praktik pencegahan penyakit AI dapat dilakukan secara maksimal sehingga dapat mengurangi risiko penularan penyakit AI pada pasar tradisional di wilayah Bogor.
Kata kunci: avian influenza, kios unggas, pasar tradisional, pedagang unggas hidup, pencegahan dan pengendalian penyakitAvian influenza (AI) is a zoonotic disease that continues to pose a threat to human health. AI is caused by the avian influenza virus, which infects poultry and can be transmitted to humans through contact with infected birds. Cases of AI transmission in humans are still reported globally. Between 2003 and 2023, a total of 882 human cases of H5N1 AI subtype were reported, resulting in 461 fatalities. In Indonesia, 200 cases were reported between 2005 and 2017, with 168 resulting in death.
Live poultry market was an important place for poultry trade supply chain and thus represent a potential source for the transmission of avian influenza to both humans and animals. This situation poses a public health risk, particularly in wet market environments. Live poultry traders are among the high-risk groups for contracting the disease. Therefore, assessing their knowledge, attitudes, and practices (KAP) regarding AI is essential for formulating appropriate intervention strategies particularly for traders operating in the wet markets of the Bogor area. This study aimed to analyse the KAP of live poultry traders concerning AI disease and to analyse the factors that directly and indirectly affecting AI prevention practices among them.
A cross-sectional study was conducted to assess the knowledge, attitudes, and practices of live poultry traders towards AI and to identify factors influencing prevention and control behaviours in wet market environments. This study 30 live poultry traders from seven wet markets in Bogor Regency and three in Bogor City. Data were collected through structured interviews and direct observations of traders' practices, using questionnaires and checklists. Descriptive analysis was used to determine demographic characteristics and disease prevention practices, while path analysis was conducted to determine the factors affecting AI-related knowledge, attitudes, and practices.
The demographic characteristics revealed that most traders (93,0%) were adults aged 18–59 years. Most traders (36,7%) have completed junior high school (36,7%) and high school (33,3%). The majority (56,7%) had 10–20 years of experience in poultry trading, and over half (53,3%) sold fewer than 50 live poultry per day. KAP analysis indicated that majority of traders (60%) had a moderate level of knowledge about AI. All traders (100%) showed a positive attitude towards AI disease, and all (100%) demonstrated moderate levels of implementation of AI prevention and control practices. Social environment was found to influence the KAP levels among traders.
The interviews covered five aspects of AI prevention and control: kiosk hygiene and sanitation, poultry biosecurity, personal hygiene of traders, hygiene and sanitation during slaughtering and poultry handling, and disease education. Results indicated that traders did not fully implement preventive measures across all five aspects, particularly in terms of kiosk hygiene and sanitation, personal hygiene, and poultry biosecurity. Awareness of disease reporting was also low — only 20% of traders stated they would report poultry showing AI disease symptoms.
Path analysis was used to determine factors that influence AI prevention practices in live poultry traders. Path analysis revealed that traders' attitudes towards AI disease have a direct and significant effect on AI disease prevention and control practices. Furthermore, both knowledge and age indirectly influenced these practices by significantly affecting attitudes toward AI.
In conclusion, poultry traders in the Bogor wet market exhibited moderate knowledge and practices, and universally positive attitudes regarding AI. The implementation of AI disease prevention and control practices is in the moderate category, which is indicated by the inadequate and inconsistent implementation of disease prevention and control. Attitude were found to be the most significant direct factor affecting prevention practices, while knowledge and age were influenced attitude directly. Thus, increasing knowledge is important in AI prevention and control. Drafting of regulations related to AI disease prevention and control in traditional markets, improving poultry kiosk facilities and infrastructure, and enhancing trader awareness through communication, information, and education (CIE) activities is essential to strengthen AI control and prevention efforts.
Keywords: avian influenza, disease prevention and control, live bird market, live poultry traders, wet marke
Grunig and Hunt Communication Model in Bogor Customs Public Relations in Information Distribution
Distribusi informasi memerlukan proses komunikasi yang terstruktur agar dapat berjalan dengan baik. Selaras dengan hal tersebut, diperlukan pedoman teori berupa model komunikasi yang berfungsi sebagai kerangka kerja, sehingga distribusi informasi dapat lebih terarah. Model komunikasi ini dapat menggambarkan pola komunikasi yang terjadi dari pengirim kepada penerima pesan, serta membantu dalam menentukan saluran komunikasi yang sesuai. Begitu pun di kantor Bea dan Cukai Bogor yang belum memiliki pedoman teori khusus untuk dijadikan acuan dalam distribusi informasi, sehingga instansi ini membutuhkan model komunikasi yang dapat digunakan sebagai pedoman dalam mendistribusikan informasi kepada publik.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana model komunikasi yang dilakukan oleh Humas Bea Cukai Bogor dalam mendistribusikan informasi. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk menguraikan alur distribusi informasi serta menjelaskan model komunikasi yang dilakukan oleh Humas Bea Cukai Bogor dalam distribusi informasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah deskriptif dengan pendekatan kualitatif serta penggunaan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan studi pustaka. Penelitian ini dilaksanakan selama 3 bulan terhitung dari bulan Maret sampai dengan Mei 2025.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Humas Bea Cukai Bogor melakukan distribusi informasi melalui beberapa tahapan, dimulai dari pengumpulan informasi dari berbagai sumber, pengelompokan informasi, penentuan media komunikasi, produksi informasi, pengolahan informasi, tahap approval, hingga publikasi dan distribusi informasi. Selain itu, Humas Bea Cukai Bogor menerapkan seluruh model komunikasi yang dikemukakan oleh Grunig dan Hunt melalui berbagai media, baik media online maupun media massa, dengan komunikasi secara online maupun langsung. Keempat model tersebut meliputi model agen pemberitaan/publisitas, model informasi publik, model asimetris dua arah, dan model simetris dua arah, yang di mana model tersebut menggambarkan pola komunikasi antara Humas Bea Cukai Bogor dan publiknya. Saran dari penulis ialah Humas Bea Cukai Bogor harus memiliki pedoman yang jelas dalam mendistribusikan informasi, menggunakan tamplate konten selaras dengan kantor pusat, serta pada model asimetris dua arah dapat dilakukan melalui media digital untuk menjangkau audiens yang lebih luas.Information distribution requires a structured communication process to run well. In line with this, a theoretical guideline is needed in the form of a communication model that serves as a framework, so that the distribution of information can be more directed. This communication model can describe the communication patterns that occur from the sender to the recipient of the message, and help in determining the appropriate communication channel. Likewise, the Bogor Customs and Excise office does not yet have specific theoretical guidelines to serve as a reference in information distribution, so this agency needs a communication model that can be used as a guideline in distributing information to the public.
This research was conducted to find out how the communication model carried out by the Bogor Customs Public Relations in distributing information. The purpose of this research is to describe the flow of information distribution and explain the communication model carried out by the Bogor Customs Public Relations in information distribution. The method used in this research is descriptive with a qualitative approach and the use of data collection techniques in the form of observation, interviews, and literature studies. This research was conducted for 3 months from March to May 2025.
The results showed that the Bogor Customs Public Relations carried out information distribution through several stages, starting from collecting information from various sources, grouping information, determining communication media, producing information, processing information, approval stage, to publication and distribution of information. In addition, Bogor Customs Public Relations applies all communication models proposed by Grunig and Hunt through various media, both online and mass media, with online and direct communication. The four models include the news agency/publicity model, the public information model, the two-way asymmetrical model, and the two-way symmetrical model, in which the model describes the communication pattern between the Bogor Customs Public Relations and its public. Suggestions from the author are that Bogor Customs Public Relations must have clear guidelines for distributing information, use content tamplates in line with the head office, and in the two-way asymmetrical model can be done through digital media to reach a wider audience
Management of Narrow-Barred Spanish Mackerel (Scomberomorus commerson, Lacepède 1800) in the Java Sea FMA712
Ikan tenggiri merupakan salah satu jenis ikan ekonomis penting yang umum ditangkap di Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia (WPPNRI) 712. Penelitian ini berfokus pada wilayah WPPNRI 712 dengan menggunakan data sekunder yang diperoleh dari e-logbook Sistem Informasi Logbook Penangkapan Ikan, Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. Metode penelitian meliputi analisis CPUE, standarisasi alat tangkap, dan model produksi surplus. Penangkapan ikan tenggiri yang dilakukan nelayan menggunakan 12 jenis alat tangkap dengan alat tangkap dominan yang digunakan adalah jaring insang hanyut. Catch Per Unit Effort (CPUE) ikan tenggiri di Perairan Laut Jawa selama tujuh tahun terakhir memiliki nilai yang meningkat. Analisis model produksi surplus (MPS) yang dilakukan dengan lima macam model menujukan model Schnute dengan koefisien determinasi (R2) sebesar 98,15% sebagai model yang paling menggambarkan kondisi sesungguhnya. Status stok ikan tenggiri dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir tergolong overfishing. Pengawasan dan penggunaan sistem e-logbook perikanan yang perlu ditingkatkan sehingga data yang terkumpul dapat memberikan informasi yang lebih akurat mengenai kondisi stok ikan yang sesungguhnya serta dapat mendukung pengambilan keputusan pengelolaan perikanan.The narrow-barred Spanish mackerel is one of the economically important fish species commonly caught in the Fisheries Management Area of the Republic of Indonesia (WPPNRI) 712. This study focuses on the WPPNRI 712 area, using secondary data obtained from the e-logbook of the Fishing Logbook Information System of the Ministry of Marine Affairs and Fisheries of the Republic of Indonesia. The metodology includes surplus production models, CPUE analysis, and fishing power index calculations. Fishermen catch narrow-barred Spanish mackerel using 12 types of fishing gear, with the dominant gear being drift gillnets. The Catch Per Unit Effort (CPUE) of narrow-barred Spanish mackerel in the Java Sea over the past seven years has shown an increasing trend. The surplus production model analysis, conducted using five different models, indicates that the Schnute model, with a coefficient of determination (R²) of 98,15%, best represents the actual condition. The stock status of narrow-barred Spanish mackerel over the past five years has been classified as overfished. Evaluating and monitoring the use of the e-logbook system in fisheries are essential. The data can provide more accurate information on the actual stock condition
Connectivity Social-Ecological System Mangrove and Small-Scale Fisheries in Ketapang Village, Tangerang Regency
Ekosistem mangrove berperan penting dalam penyediaan jasa ekosistem dan dimanfaatkan oleh nelayan skala kecil di pesisir Desa Ketapang, namun pemahaman tentang kontribusinya terhadap perikanan skala kecil masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi sub-sistem Social-Ecological System (SES) perikanan skala kecil berbasis ekosistem mangrove, memetakan dan mengukur konektivitas SES serta merumuskan strategi pengelolaannya. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Oktober hingga November 2024 di Desa Ketapang Kecamatan Mauk Kabupaten Tangerang. Metode penelitian ini meliputi pengukuran kualitas air, identifikasi jenis dan pengukuran kerapatan mangrove, dan wawancara kepada nelayan tangkap, pembudidaya dan pengepul untuk mengetahui data sumberdaya perikanan dan sosial ekonomi-nelayan. Hasil menunjukkan bahwa ekosistem mangrove (RS) dapat berpengaruh langsung terhadap kelimpahan sumberdaya ikan (RU). Pengguna sumberdaya (RA) memiliki hubungan yang kuat dengan kelimpahan dan keberlanjutan sumberdaya ikan (RU). Aktivitas penangkapan dan budidaya sekitar mangrove pesisir Desa Ketapang diatur oleh pemerintah (RG) melalui aturan-aturan yang sudah ditetapkan. Strategi pengelolaan mangrove dan perikanan skala kecil di pesisir Desa Ketapang dapat dilakukan dengan meningkatkan kerja sama yang baik antara RG (Resources Governance) dan RA (Resources Actors) untuk mewujudkan keberlanjutan sumberdaya perikanan. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi input bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan pengelolaan ekosistem mangrove dan perikanan skala kecil secara optimal.Mangrove ecosystems play an important role in providing ecosystem services and are utilized by small-scale fishermen in the coastal village of Ketapang, but understanding of their contribution to small-scale fisheries remains limited. This study aims to identify the sub-systems of the Social-Ecological System (SES) of small-scale fisheries based on mangrove ecosystems, map and measure the connectivity of the SES, and formulate management strategies. Data collection was conducted from October to November 2024 in Ketapang Village, Mauk District, Tangerang Regency. The research methods included water quality measurements, identification of mangrove species and density measurements, and interviews with fishermen, aquaculture farmers, and collectors to obtain data on fishery resources and the socio-economic conditions of fishermen. The results indicate that the mangrove ecosystem (RS) can directly influence fish resource abundance (RU). Resource users (RA) have a strong relationship with fish resource abundance and sustainability (RU). Fishing and aquaculture activities around the coastal mangroves of Ketapang Village are regulated by the government (RG) through established regulations. Management strategies for mangroves and small-scale fisheries along the coast of Ketapang Village can be implemented by enhancing good cooperation between RG (Resources Governance) and RA (Resources Actors) to achieve the sustainability of fishery resources. This study is expected to serve as input for local governments in formulating optimal policies for the management of mangrove ecosystems and small-scale fisheries
The Influence of Social Infrastructure Development on the Human Development Index in Central Java Province period 2017-2023
Pembangunan ekonomi perlu diiringi dengan pengembangan kualitas sumber daya manusia agar tercipta individu yang produktif di masa depan. Kesetaraan dalam pembangunan sumber daya manusia menjadi perhatian utama, terutama saat
terjadi ketimpangan antarwilayah, khususnya pada Provinsi Jawa Tengah karena sebagai sentral Pulau Jawa. Penelitian ini menganalisis peranan infrastruktur seperti sumber air minum layak, panjang jalan, jumlah sekolah, dan jumlah fasilitas
kesehatan terhadap indeks pembangunan manusia (IPM) selama periode 2017-2023. Metode yang digunakan yaitu regresi data panel analisis model fixed effect. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel infrastruktur air, panjang jalan, jumlah
fasilitas kesehatan dan PDRB per kapita berpengaruh signifikan positif terhadap IPM. Sementara infrastruktur jumlah sekolah berpengaruh signifikan negatif terhadap IPM. Temuan ini menegaskan pentingnya penggunaan infrastruktur secara maksimal yang sejalan dengan kualitas aksesibilitas dan pemerataan sosialekonomi agar kesejahteraan manusia benar-benar tercapai
Estimation of Aboveground Biomass and Carbon Stock Using Sentinel-2A Imagery in the Mangrove Forest, Tangerang
Ekosistem mangrove berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim karena memiliki kapasitas simpanan karbon yang tinggi. Penelitian ini bertujuan menduga kandungan biomassa dan potensi simpanan karbon di atas permukaan tanah pada hutan mangrove Desa Lontar, Tangerang menggunakan citra Sentinel-2A. Pengolahan data dilakukan dengan analisis vegetasi untuk mengetahui nilai karbon diatas permukaan tanah dan pengolahan citra Sentinel-2A untuk mengetahui nilai indeks vegetasi. Data dianalisis menggunakan metode uji korelasi dan regresi. Hasil analisis vegetasi menunjukkan total biomassa yang ditemukan pada lokasi penelitian sebesar 113.230,54 kg dan simpanan karbon 37,64 ton/Ha. Hasil pengolahan citra Sentinel-2A menunjukkan Atmospherically Resistant Vegetation Index (ARVI) sebagai indeks vegetasi yang paling efektif dalam menggambarkan kapasitas penyimpanan karbon dengan (r = 0.81) dan R² = 65.16%.Mangrove ecosystem plays a crucial role in climate change mitigation due to its high carbon storage capacity. This study aims to estimate aboveground biomass and carbon storage potential in the mangrove forest Lontar Village, Tangerang, using Sentinel-2A imagery. Data processing involved vegetation analysis to determine above ground carbon values and processing of Sentinel-2A imagery to obtain values for vegetation indices. Data were analyzed using correlation and regression methods. The vegetation analysis results showed a total biomass of 113,230.54 kg and a carbon stock of 37.64 tons/ha at the study site. The Sentinel-2A imagery analysis identified the Atmospherically Resistant Vegetation Index (ARVI) as the most effective vegetation index to represent carbon storage capacity with a correlation coefficient (r) of 0.81 and R² of 65.16%
Analisis Clustering dan Peramalan Harga Minyak Goreng Regional dengan Pendekatan Dense-Sparse-Dense Long Short-Term Memory
Fluktuasi harga minyak goreng di Indonesia masih terus terjadi, meskipun Indonesia merupakan negara penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Disparitas harga akibat kurang efektifnya sistem distribusi minyak goreng di Indonesia menjadi dasar pentingnya pengelompokan provinsi berdasarkan kemiripan pola pergerakan harga. Pengelompokan provinsi-provinsi dilakukan berdasarkan pola harga minyak goreng menggunakan DBSCAN, K-Means, dan K-Medoids dengan metrik Dynamic Time Warping (DTW). Peramalan harga minyak goreng dilakukan dengan pendekatan Dense-Sparse-Dense Long Short-Term Memory (DSD-LSTM) guna meningkatkan akurasi dan mengurangi overfitting. Data yang digunakan merupakan data harga minyak goreng mingguan dari 34 provinsi Indonesia selama periode Januari 2019 hingga Januari 2025. Data diperoleh dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS). Hasil evaluasi dari ketiga algoritma clustering menunjukkan bahwa pendekatan K-Means memberikan hasil yang paling optimal, dengan nilai Davies-Bouldin Index (DBI) sebesar 0,54 dan Silhouette score sebesar 39%. Sebanyak 34 provinsi yang dimodelkan menggunakan pendekatan berbasis K-Means menghasilkan nilai MAPE rata-rata hanya sebesar 9,93%, mengungguli pemodelan individu (10,06%). Hasil ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis klaster mampu mempertahankan, bahkan meningkatkan akurasi model. Hasil peramalan 9 Februari – 25 Mei 2025 menunjukkan 14 dari 34 provinsi mengalami kenaikan harga, sementara 20 sisanya mengalami penurunan harga.The fluctuation of cooking oil prices in Indonesia continues to occur, despite the country being the largest producer of palm oil in the world. Price disparities caused by the inefficiency of the cooking oil distribution system in Indonesia highlight the importance of grouping provinces based on the similarity of their price movement patterns. The clustering of provinces was carried out based on cooking oil price patterns using DBSCAN, K-Means, and K-Medoids with the Dynamic Time Warping (DTW) metric. Price forecasting was performed using the Dense-Sparse-Dense Long Short-Term Memory (DSD-LSTM) approach to improve accuracy and reduce overfitting. The data used consists of weekly cooking oil prices from 34 provinces in Indonesia covering the period from January 2019 to January 2025. The data was obtained from the National Strategic Food Price Information Center (PIHPS). Evaluation results from the three clustering algorithms show that the K-Means approach yielded the most optimal results, with a Davies-Bouldin Index (DBI) of 0.54 and a Silhouette score of 39%. A total of 34 provinces modeled using the K-Means-based approach achieved an average MAPE of only 9.93%, outperforming the individual modeling approach (10.06%). These results indicate that the cluster-based approach can maintain, and even improve, model accuracy. The forecasting results for the period from February 9 to May 25, 2025, show that 14 out of 34 provinces experienced price increases, while the remaining 20 experienced price decreases
Vulnerability of Elasmobranchii as Fisheries Bycatch in the Northern Waters of East Java.
Sumberdaya ikan dari kelompok elasmobranchii (hiu dan pari) di Perairan Utara Jawa Timur didapatkan oleh nelayan sebagai hasil tangkapan sampingan (bycatch). Produktivitas biologis yang rendah dan tingkat penangkapan yang tinggi menyebabkan kelompok ini rentan mengalami penurunan populasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kerentanan elasmobranchii sebagai bycatch perikanan di Perairan Utara Jawa Timur dan menentukan strategi pengelolaannya. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Januari hingga April 2025 di PPI Palang, Tuban, Jawa Timur. Metode penelitian ini meliputi identifikasi keanekaragaman spesies, estimasi parameter life history, identifikasi aktivitas perikanan, analisis tingkat kerentanan menggunakan metode PSA, dan analisis SWOT untuk menyusun strategi pengelolaan perikanan yang berkelanjutan. Penelitian ini mengidentifikasi 32 spesies hiu dan pari yang tertangkap di Perairan Utara Jawa Timur. Terdapat enam spesies dengan proporsi tangkapan tertinggi (>2%), yaitu Rhynchobatus australiae, Maculabatis gerrardi, Sphyrna lewini, Chiloscyllium punctatum, Rhynchobatus springeri, dan Carcharhinus tjutjot. Keenam spesies tersebut memiliki laju pertumbuhan yang rendah (K=0,07-0.40) dan ukuran pertama kali tertangkap (Lc/DWc) lebih kecil dari ukuran pertama kali dewasa (Lm/DWm). Tingkat kerentanan keenam spesies tergolong sedang dan tinggi dengan laju eksploitasi yang fully exploited dan over exploited. Penelitian ini memberikan wawasan tentang kerentanan elasmobranchii di Perairan Utara Jawa Timur dan rekomendasi upaya konservasi untuk keberlanjutan populasi spesies yang terancam.Fish resources from the elasmobranchii group (sharks and rays) in the North Waters of East Java are obtained by fishermen as bycatch. Low biological productivity and high fishing rates make this group vulnerable to population decline. This study aims to analyze the level of vulnerability of elasmobranchii as fisheries bycatch in the North Waters of East Java and determine its management strategy. Data collection was carried out from January to April 2025 at PPI Palang, Tuban, East Java. This research method includes identification of species diversity, estimation of life history parameters, identification of fishing activities, analysis of vulnerability levels using the PSA method, and SWOT analysis to develop sustainable fisheries management strategies. This study identified 32 species of sharks and rays caught in the North Waters of East Java. There are six species with the highest proportion of catches (>2%), namely Rhynchobatus australiae, Maculabatis gerrardi, Sphyrna lewini, Chiloscyllium punctatum, Rhynchobatus springeri, and Carcharhinus tjutjot. The six species have low growth rates (K=0.07-0.40) and the size at first capture (Lc/DWc) is smaller than the size at first maturity (Lm/DWm). The vulnerability levels of the six species are classified as moderate and high with fully exploited and over exploited exploitation rates. This study provides insight into the vulnerability of elasmobranchii in the North Waters of East Java and recommendations for conservation efforts for the sustainability of threatened species populations
Analisis bioekonomi bagi pengelolaan ikan pepetek (Leiognathus equulus Forsskal, 1874) di Teluk Palabuhanratu, Jawa Barat
Analisis Bioekonomi terkait pengelolaan sumber daya ikan pepetek (Leiognathus equulus) di Teluk Palabuhanratu memiliki tujuan menganalisis pengelolaan sumber daya perikanan dengan menggunakan pendekatan bioekonomi. Data yang digunakan yaitu data primer berupa panjang, bobot ikan dan wawancara dengan nelayan. Lalu data sekunder berupa hasil tangkapan tahunan dan upaya penangkapan selama periode 2015-2020. Hasil riset menunjukan bahwa pola pertumbuhan ikan pepetek bersifat alometrik negatif, di mana pertambahan panjang lebih dominan dibandingkan bobot. Tingkat mortalitas penangkapan lebih tinggi dibandingkan mortalitas alami, menunjukkan adanya tangkapan berlebih. Analisis model produksi surplus menggunakan model Fox dengan korelasi 72%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tangkapan lestari maksimum (MSY) mencapai 928 kg/tahun dengan tingkat upaya penangkapan (fMSY) sebesar 2.332 trip/tahun. Penelitian ini menekankan pentingnya pengelolaan perikanan yang berkelanjutan, seperti adopsi strategis berbasis MEY, penggunaan alat tangkap selektif, pengawasan stok, dan edukasi nelayan untuk menjaga kelestarian sumber daya ikan. Pendekatan bioekonomi menawarkan solusi komprehensif untuk menyeimbangkan kebutuhan ekonomi, sosial, dan ekosistem laut.Bioeconomic Analysis of ponyfishes (Leiognathus equulus) Resource Management in Palabuhanratu Bay aims to understand fishery resource management using a bioeconomic approach. The data used consists of primary data, including fish length and weight and interviews. Secondary data, which includes annual catch records, fishing efforts from 2015 to 2020. The research results indicate that the growth pattern of ponyfishes follows a negative allometric trend, where length growth is more dominant than weight gain. The fishing mortality rate is higher than the natural mortality rate, indicating overfishing. The surplus production model was analyzed using the Fox model, showing a correlation of 72%. The study found that the maximum sustainable yield (MSY) is 928 kg per year, with an optimal fishing effort (fMSY) of 2.332 trips per year. This research emphasizes the importance of sustainable fisheries management, including the adoption of MEY based strategic approaches, the use of selective fishing gear, stock monitoring, and educating fishermen to preserve fishery resources. The bioeconomic approach offers a comprehensive solution to balance economic, social, and marine ecosystem needs.Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL) LPPM IP
Karakteristik Kualitatif Dan Kuantitatif Itik Cihateup Pajajaran Serta Persilangannya Pada Periode Grower
Itik Cihateup dan Pajajaran adalah itik lokal unggul yang disilangkan untuk menghasikan F1 dan memperbaiki mutu genetik. Penelitian ini bertujuan untukmengindentifikasi karakteristik kualitatif dan kuantitatif itik Cihateup Pajajaran
serta persilangannya pada periode grower. Adapun empat jenis perlakuan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: P1 Cihateup ? x Cihateup ? , P2 Pajajaran ? x Cihateup ?, P3 Pajajaran ? x Pajajaran ?, dan P4 Cihateup ? x Pajajaran ?. Pengambilan data kualitatif dan kuantitatif dilakukan pada itik berumur 9 minggu. Teknik pengambilan data berdasarkan purposive sampling dengan jumlah sampel berdasarkan itik yang menetas. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dan dibantu menggunakan software Microsoft Excel. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa karakterisitik kualitatif pada P2 cenderung mewarisi warna dari pejantan Pajajaran, sedangkan pada P4 mewarisi warna betina Pajajaran adapun karakteristik kuantitatif menunjukkan bahwa pada P2 cenderung dominan mewarisi sifat dari betina Cihateup dan P4 cenderung dominan mewarisi sifat
betina Pajajaran.Cihateup and Pajajaran ducks are superior local ducks crossed to produce F1 and
improve genetic quality. This study aims to identify the qualitative and
quantitative characteristics of Cihateup Pajajaran ducks and their crosses in the
grower period. The four types of treatments used in this study are: P1 Cihateup ?
x Cihateup ?, P2 Pajajaran ? x Cihateup ?, P3 Pajajaran ? x Pajajaran ?, and P4
Cihateup ? x Pajajaran ?. Qualitative and quantitative data were collected from
9-week-old ducks. The data collection technique was based on purposive
sampling with the number of samples based on hatched ducks. The data obtained
were analyzed descriptively and assisted using Microsoft Excel software. The
results showed that qualitative characteristics in P2 tended to inherit the color of
the Pajajaran male, while in P4 inherited the color of the Pajajaran female while
quantitative characteristics showed that P2 tended to dominantly inherit the traits
of the Cihateup female and P4 tended to dominantly inherit the traits of the
Pajajaran female