Jurnal Rekayasa Proses
Not a member yet
    238 research outputs found

    Pemodelan Dinamika Awal Adsorpsi Na2S dalam Kolom Bahan Isian Biji Salak (Salacca Zalacca)

    Get PDF
    Biofiltration is a promising method for gas purification due to its efficiency and low operating cost. One way to utilize biofiltration is in biogas purification where H2S is removed from the biogas product. The presence of H2S may cause severe corrosion in biogas processing facilities. By the use of biofilter, H2S is dissolved and adsorbed on packing material. This study investigated the adsorption process that occured during the beginning of biofilter operation. Na2S has been used as a model compound for H2S with packing material from snake fruit seeds. In this study, we have investigated the influence of liquid flowrate and inlet concentration of Na2S solutions. Na2S solution was fed from the top part of the column and trickled down through the snake fruit seed bed. The dissolved sulfide left the column from the bottom part which was then collected in a sample bottle and analized periodically with UV-VIS spectrophotometer. A one dimensional mathematical model of the adsorption column with respect to z direction was proposed to describe the adsorption behavior. In addition, Freundlich isotherm was used to describe the solid-liquid adsorption equilibrium. The experimental results showed that low flowrates i.e. 1.59 and 2.97 mL/s gave larger adsorption capacities than higher flowrate i.e. 3.96 and 5.58 mL/s. In addition, the influence of inlet concentrations to the breakthrough characteristics were found to be negligible. The fitting results estimated the values of DL=1.3174.10-7 m2/s, α=1.002.10-4 and n=12.661. As a result, it could be concluded that the axial diffusion had small influence on the adsorption of Na2S solution. In addition, the small value of α as well as large value of n indicated that the adsorption capacity of snake fruit seeds was relatively small. Keywords : snake fruit seed, biofiltration, adsorption, adsorption equilibrium, Na2S, sulfide Biofiltrasi adalah teknologi yang menjanjikan dalam pemurnian gas karena efisiensi yang tinggi serta biaya operasi yang rendah. Salah satu pemanfaatan biofiltrasi yang cukup menjanjikan adalah pemurnian biogas dimana gas H2S dipisahkan dari produk biogas akhir. Keberadaan gas H2S pada biogas dapat menyebabkan korosi pada peralatan pemrosesan biogas. Dalam biofilter, H2S akan terlarut dan kemudian akan teradsorpsi pada bahan isian. Penelitian ini mempelajari proses adsorpsi yang terjadi di awal proses biofiltrasi terhadap sulfida terlarut. Disini, larutan Na2S telah digunakan sebagai komponen model H2S untuk dijerap dengan bahan isian biji salak. Variabel proses yang dipelajari adalah variasi laju alir cairan dan variasi konsentrasi input larutan Na2S. Larutan Na2S dilewatkan pada kolom biofiltrasi dari atas melewati bahan isian biji salak, kemudian sulfida terlarut yang keluar pada kolom bawah ditampung dalam botol sampel dan dianalisis pada berbagai waktu dengan menggunakan UV-VIS spektrofotometer. Pemodelan matematika proses adsorpsi telah disusun dengan model adsorpsi 1 dimensi ke arah z. Persamaan kesetimbangan yang digunakan menggunakan persamaan kesetimbangan Freundlich. Hasil percobaan menunjukkan bahwa dengan debit aliran yang kecil seperti 1,59 dan 2,97 mL/det didapatkan penjerapan yang lebih besar jika dibandingkan dengan debit aliran besar seperti 3,96 dan 5,58 mL/det. Sementara itu, pengaruh konsentrasi umpan terhadap karakteristik kurva breakthrough relatif kecil. Hasil fitting memberikan nilai DL=1,3174.10-7 m2/s, α=1,002.10-4 dan n=12,661. Dengan demikian, secara umum dapat disimpulkan bahwa difusi longitudinal pada kolom adsorpsi berperan kecil terhadap proses adsorpsi sulfida. Sedangkan nilai α yang kecil serta n yang besar pada persamaan Freundlich menunjukkan kapasitas penjerapan biji salak yang relatif kecil. Kata kunci: biji salak, biofiltrasi, adsorpsi, kesetimbangan adsorpsi, Na2S, sulfid

    Pengaruh Kadar Air Umpan dan Rasio C/N pada Produksi Biogas dari Sampah Organik Pasar

    Get PDF
    Nowadays, Indonesia is facing serious problem related to the rapid generation of municipal solid waste (MSW) and dependence on fossil energy. Converting organic content of MSW into biogas through biological process by mean of anaerobic digester is one of promising proposals to solve the MSW problem. In order to optimize biogas production, this research studies the effect of Total Solid (TS) content and ratio of carbon to nitrogen (C/N) within organic fraction of MSW as raw material for biogas production. The organic fraction of MSW consists of vegetables and fruits waste which originated from traditional market. The experiments using various TS concentrations (10%, 15% and 20%) were conducted in batch reactors. The results showed that TS content of MSW raw material had significant effects on the total volume and CH4 concentration of biogas production. High water content in MSW raw material enhanced the hydrolysis of organic fraction as well as avoided the excessive Volatile Fatty Acid (VFA) concentration which posed the risk of inhibition on the anaerobic process. Based on the results, the TS concentration of 10-15% in the organic MSW would offer an optimum yield of biogas production. In order to examine the effect of C/N ratio, the organic MSW was modified using ZA fertilizer (36, 30, 20 and 10 C/N ratios). The C/N ratios of 20-30 produced high amount biogas and CH4 concentration compared to others. The C/N ratio should be maintained at the optimum value to prevent the accumulation of free ammonia which could cause problems in the anaerobic process. Based on the results, the biogas production from organic MSW would yield the optimum biogas amount and CH4 concentration when the TS concentration and C/N ratio were 10-15% and 20-30, respectively. This outcome would give recommendation on the water addition to the raw organic fraction of MSW and C/N modification when converting the organic fraction of MSW to biogas. Keywords: biogas, C/N ratio, municipal solid waste, total solid. Permasalahan sampah dan ketergantungan akan energi fosil mendorong pemanfaatan sampah organik menjadi biogas. Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari pengaruh konsentrasi Total Solid (TS) dan rasio C/N dari sampah kota sebagai bahan baku produksi biogas. Sampah kota berupa sayuran dan buah yang merupakan fraksi organik yang diperoleh dari pasar tradisional dan selanjutnya produksi biogas dilakukan dalam reaktor batch. Konsentrasi TS bahan baku divariasikan menjadi tiga variasi nilai TS yaitu 20%, 15% dan 10%. Konsentrasi TS pada bahan baku digester berpengaruh secara signifikan terhadap jumlah akumulatif biogas yang dihasilkan dan kadar CH4. Diperlukan air dengan jumlah yang optimum untuk mempercepat proses hidrolisis sekaligus mencegah konsentrasi Volatile Fatty Acid (VFA) terlalu tinggi yang beresiko inhibitor dalam sistem anaerob. Pada penelitian ini, untuk jenis sampah sayur/buah, nilai TS yang relatif baik adalah antara 10-15%. Modifikasi nilai rasio karbon terhadap nitrogen (C/N) dilakukan pada bahan baku dengan kadar TS optimum dimana nilai rasio C/N dimodifikasi menjadi 36 (rasio C/N orisinal TS optimum), 30, 20 dan 10. C/N ratio yang lebih rendah daripada nilai orisinalnya dicapai dengan penambahan pupuk ZA. Dalam penelitian ini, rasio C/N antara 20-30 memberikan hasil yang relatif paling baik dibandingkan nilai rasio C/N yang lain. Perlu dijaga agar nilai rasio C/N tidak terlalu rendah yang menyebabkan kinerja sistem anaerob justru lebih buruk. karena akumulasi ammonia bebas yang justru merupakan inhibitor. Berdasarkan hasil yang diperoleh, produksi biogas dari sampah buah dan sayur menunjukkan hasil yang optimum saat kisaran konsentrasi TS 10-15% dan rasio C/N 20-30. Hal ini memberikan rekomendasi jumlah penambahan air dan perlu tidaknya koreksi rasio C/N pada umpan bahan baku saat operasi skala industri. Kata kunci: biogas, rasio C/N, sampah kota, total solid

    Life Cycle Assessment Pabrik Semen PT Holcim Indonesia Tbk. Pabrik Cilacap: Komparasi antara Bahan Bakar Batubara dengan Biomassa

    Get PDF
    PT. Holcim Indonesia Tbk. Pabrik Cilacap dengan kapasitas produksi 2,6 juta ton/tahun telah menggunakan sekam padi sebagai energi alternatif biomassa. Penggantian batubara dengan biomassa akan menimbulkan emisi dan dampak ke lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak lingkungan penggunaan batubara dan biomassa dengan menggunakan metode Life Cycle Assessment (LCA). Pendekatan cradle to gate digunakan untuk mengevaluasi 4 skenario penggunaan bahan bakar: (1) 100% batubara, (2) campuran 90% batubara dan 10% biomassa, (3) campuran 50% batubara dan 50% biomassa, (4) 100% biomassa, dengan basis 1000 kg produk semen. Langkah-langkah evaluasi mengacu pada ISO 14040 tahun 2006 yang terdiri dari: (1) pendefinisian tujuan dan ruang lingkup, (2) analisis inventori, (3) analisis/penakaran dampak, (4) interpretasi. Hasil analisis kontribusi dampak terhadap lingkungan dengan skenario 1, 2, 3, dan 4 diperoleh nilai kontribusi total berturut-turut 2,78 x10-1 Pt, 2,24 x10-1Pt, 1,57 x10-1Pt, dan 8,50 x10-2 Pt. Kategori dampak global warming, respiratory inorganic dan resources merupakan kontributor terbesar dari total dampak terhadap lingkungan. Analisis perbaikan dan rekomendasi mengurangi dampak yang terjadi yaitu mengganti angkutan truck pasir silika dengan kereta api, bahan bakar biomassa menggunakan miscanthus giganteus dan melakukan penghijauan. Kata kunci : PT Holcim Indonesia Tbk. Pabrik Cilacap, Life Cycle Assessment, Komparasi batubara dengan biomassa PT. Holcim Indonesia Tbk. Cilacap having capacity of 2.6 million ton/year uses rice husk as alternative fuels. The utilization of the rice husk will effect the environment. The aim of the study is to evaluate the effects of biomass utilization to environment using life cycle assessment (LCA) method. The “cradle to gate” approach was used to evaluate four scenarios of different fuel combinations: (1) 100% coal, (2) mixed fuel of 90% coal and 10% biomass, (3) mixed fuel of 50% coal and 50% biomass, (4) 100% biomass as primary fuels in the kiln for 1000 kg cement. Evaluation of environment impact related to each scenario was using ISO 14040 (2006) that consists of: (1) goal definition and scoping, (2) inventory analysis, (3) impact assessment, and (4) interpretation. Results showed by contribution analysis, the scenario 1, 2, 3, and 4, give 2.78 x10-1 Pt, 2.24 x10-1Pt, 1.57 x10-1Pt, and 8.50 x10-2 Pt respectively. It was also found that the global warming, respiratory inorganic and resources give significant impacts to the environment. It is suggested to replace silica tranportation using train, to utilize miscanthus giganteus and to grow plants or reforestry. Keywords: PT Holcim Indonesia Tbk Cilacap Plant, Life Cycle Assessment, Comparative Coal with Biomass

    Karakterisasi dan Laju Pembakaran Biobriket Campuran Sampah Organik dan Bungkil Jarak (Jatropha curcas L.)

    Get PDF
    Potensi limbah biomassa dan bungkil jarak pagar cukup besar dan saat ini belum termanfaatkan. Kedua bahan tersebut dapat diolah menjadi bio-arang melalui proses pirolisis. Bio-arang dapat digunakan sebagai bahan bakar. Tar dan tepung tapioka digunakan sebagai perekat dalam pembuatan briket arang. Pada penelitian ini digunakan briket arang dengan fraksi massa bungkil jarak pagar 0, 25, 50, 75 dan 100%. Percobaan diawali dengan pembuatan arang, penghalusan arang dan pengayakan ukuran 35 mesh, pencampuran bahan baku dengan pelbagai komposisi dengan penambahan perekat (tapioka atau tar) kemudian ditekan dengan tekanan 1 kg/cm2. Selanjutnya, briket dianalisis kuat tekan, kadar air, kadar bahan mudah menguap, kadar abu, karbon terikat dan nilai kalor. Pembakaran briket dilakukan untuk mempelajari laju pembakaran dengan model matematis. Hasil analisis model matematis menunjukkan bahwa laju pembakaran briket pada komposisi bungkil jarak 75% dengan perekat tar, lebih cepat. Briket yang menggunakan perekat tar memberikan asap pada saat dibakar, sedang penggunaan perekat tapioka tidak manghasilkan asap. Model matematis yang diajukan dapat menggambarkan laju pembakaran briket. Parameter kinetik dan laju pembakaran dapat diperoleh dari model yang diajukan. Kata kunci: briket, bahan perekat, laju pembakaran, parameter kinetik The potential of biomass municipal waste and jatropha cakes is abundant, but has not been utilized. These materials can be converted into biobriquette via pyrolisis, which can be used as alternative fuel. Tar and tapioca adhesive were applied for the binder. In this study, briquettes with the mass fraction of jatropha cakes of 0, 25, 50, 75 and 100% were used. Research was done by performing carbonization, screening (35 mesh), mixing raw materials (municipal waste, jatropha cakes, tapioca adhesive and tar adhesive) and pressing at 1 kg/cm². Briquettes were then analyzed for compressive strengh, heating value, the moisture content, volatile matter, ash and fixed carbon. The combustion of the briquette was undertaken to study the rate of combustion. Mathematical model showed that the rate of combustion of the briquette with composition of municipal waste and jatropha oil cakes (25% : 75%) with adhesive tar was faster. Briquettes with adhesive tar produce smoke when burned, while briquettes with tapioca adhesive is smoke-free. Therefore it is more preferable. The proposed mathematical model describes the rate of combustion of the briquette well. The kinetic parameter of the rate of combustion were also obtained. Keywords: Briquette, adhesive materials, rate of combustion, kinetics parameter

    Coating in Primary Reformer’s Radiant Section

    Get PDF
    Kaltim Parna Industri (KPI) mengalami masalah pada coil heat exchanger pada bagian konveksi primary reformer yang memanfaatkan panas flue gas yaitu berupa fouling pada bagian luar tube coil exchanger (finned tube). Pada awalnya belum diketahui sumber penyebab fouling, namun dari hasil analisis laboratorium diketahui bahwa komponen penyusun fouling sama dengan komponen firebrick (batu tahan api). Oleh karena itu diambil kesimpulan bahwa penyebab fouling adalah firebrick yang tererosi lalu terbawa aliran flue gas. Salah satu cara untuk menghilangkan sumber fouling adalah dengan melakukan coating pada ruang bakar yang terdapat firebrick di dalamnya. Coating dilakukan dengan menggunakan cat khusus yang tahan suhu tinggi yang mampu menahan permukaan fire brick dari erosi. Kata kunci: seksi konveksi, fouling, pelapisan, firebrick, reformer Kaltim Parna Industri, (KPI), experienced severe fouling on the flue gas side of the coil heat exchangers. This happened on the outer tube side, which some were finned tubes. Although the cause had not clearly been identified, laboratory analysis indicated that the fouling had similar composition with the firebrick. Therefore, preliminary assumption of what causes the problem was firebrick erosion that was carried away by flue gas flow. In order to completely eliminate fouling source and hopefully to reduce cleaning frequency, we planned to coat combustion chamber with special high temperature resistance coating.The result was promising that the material was stable against high temperature and even further helped the operation. Keywords: convection section, fouling, coating, firebrick, reforme

    Prediksi Kesetimbangan Adsorpsi Uranium pada Air dan Sedimen pada Berbagai pH

    Get PDF
    Kegiatan yang melibatkan uranium sebagai bahan bakar nuklir berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan. Uranium merupakan salah satu logam berat berbahaya dan bersifat radioaktif sehingga perlu diketahui penyebarannya di alam. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan model kesetimbangan adsorpsi uranium pada air dan sedimen. Model yang disusun diharapkan sesuai untuk berbagai pH air. Percobaan adsorpsi uranium dijalankan dalam sistem batch. Air limbah sebanyak 100 ml yang mengandung uranium dimasukkan ke dalam erlenmeyer dan pH larutan diatur menjadi 3, 5, 7, atau 9. Sebanyak 0,5 g tanah dimasukkan ke dalam erlenmeyer. Erlenmeyer ditempatkan dalam shaker dengan kecepatan 100 rpm selama 6 jam dan dibiarkan selama 24 jam sampai tercapai kesetimbangan. Filtrat yang terbentuk disaring dan dianalisis menggunakan spektrofotometer. Lima model kesetimbangan isotermal diajukan untuk mendekati data kesetimbangan. Sebagai hasil, kesetimbangan Chapman cocok dalam mendekati data percobaan pada berbagai pH air. Dari hasil perhitungan diketahui ion UO22+ memiliki nilai parameter α, β, γ masing-masing sebesar 25 mg/g, 2,3 l/mg, dan 18,1 sedangkan untuk ion (UO2)3(OH)7- masing-masing sebesar 19 mg/g, 0,095 l/mg, dan 3,4. Penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai data pendukung bagi analisis dampak lingkungan dalam pembangunan PLTN. Kata kunci: adsorpsi, kesetimbangan, uranium, prediksi, sedimen, pH Activities involving uranium as nuclear fuel has potentially polluted the environment. Since uranium is a toxic and radioactive heavy metal, it is necessary to identify its distribution in nature. This study aims to define uranium adsorption equilibrium model in water and sediment. The model is also supposed to be appropriate for various pH of water. Experiments were performed in a batch system. One hundred mL of waste water for National Atomic Energy Agency (BATAN) containing uranium was placed in an erlenmeyer flask and the pH was varied at 3, 5, 7, or 9. Soil was used as adsorbent. The process was shaken at 100 rpm for six hours and then was left for 24 hours to reach the equilibrium. The resulting filtrate was filtered and analyzed using a spectrophotometer. Five different isotherm equilibrium models were proposed in order to fit the equilibrium experimental data. It was found that Chapman equilibrium could fit the data more thoroughly than the other models. From the calculation, it was known that UO22+ parameter values of α, β, γ were 25 mg/g-soil, 2,3 l/mg, and 18,1 respectively, while for (UO2)3(OH)7- were 19 mg/g, 0,095 l/mg, and 3,4 respectively. It is expected that this research will be useful as supporting data for environment impact analysis in nuclear power plants development. Keywords: adsorption, equilibrium, uranium, sediment, p

    Modifikasi Mekanisme Koufopanos pada Kinetika Reaksi Pirolisis Ampas Tebu (Bagasse)

    Get PDF
    Ampas tebu merupakan produk samping dari ekstraksi gula. Ampas tebu yang dihasilkan di pabrik gula sekitar 13% dari tebu yang digiling. Tujuan penelitian ini adalah menentukan energi aktivasi dan pre-exponential factor pada persamaan kinetika reaksi pirolisis ampas tebu. Pirolisis dilakukan dalam reaktor yang terbuat dari pipa besi jenis 5737 dengan diameter 7,62 cm dan panjang 37 cm. Reaktor ini dimasukkan ke dalam furnace yang berdiameter 15,24 cm dan panjang 40 cm. Seratus lima puluh gram ampas tebu dimasukkan ke dalam reaktor tanpa kehadiran oksigen pada tekanan atmosferis. Pirolisis dilakukan pada berbagai ukuran bahan, yakni: (-20+25), (-25+30), (-30+35), (-35+40), -40 mesh dengan kecepatan pemanasan bervariasi 100, 105, 115, dan 120 volt. Modifikasi mekanisme Koufopanos terdiri dari 4 tahap reaksi, yaitu: bahan baku bereaksi menjadi intermediate dan intermediate bereaksi menjadi gas, cair, dan padatan. Berdasarkan data eksperimen, diperoleh data parameter kinetika reaksi overall rata-rata E1, E2, E3, dan E4 masing-masing sebesar 8.750,48; 2.350,7;11.080,97; dan 6.625,49 J/mol, dengan pre-exponential factor yang bersesuaian A1, A2, A3, dan A4 sebesar 9,20x10-3; 2,13x10-2; 1,67; dan 2,31 detik pada variasi diameter partikel dan kecepatan pemanasan. Kata kunci: energi aktivasi, ampas tebu, mekanisme Koufopanos, pirolisis, kinetik. Bagasse is a side product of sugar cane extraction. A sugar factory produces bagasse of about 13% from the total cane milled. According to the data from BPPS (1999-2007) the total bagasse produced is about two million tons. The aim of this study is to determine the value of activation energy and pre-exponential factor of pyrolysis kinetics of sugar cane bagasse. Pyrolysis had been carried out in a reactor made of steel pipe type 5737 with a dimension of 7.62 cm dia and of 37 cm long.The reactor was inserted into a furnace with a diameter of 15.24 cm and a length of 40 cm. One hundred and fifty grams of bagasse had been added into the reactor without the presence of oxygen at atmospheric pressure. Pyrolysis had been carried out at the particle size of (-20+25) mesh, (-25+30) mesh, (-30+35) mesh, (-35+40) mesh, and -40 mesh and heating rate of 100, 105, 115, and 120 volt. Modification of Koufopanos mechanism described four reaction steps, namely the reaction to produce intermediate product and further reaction in which intermediate product converted into gas, bio-oil, and char product was the most appropriate reaction model. From the modified model the activation energy E1, E2, E3, and E4 was 8,750.48; 2,350.7 ; 11,080.97 ; and 6,625.49 J/mol, respectively, while the pre-exponential factor A1, A2, A3, and A4 was 9.20x10-3 ; 2.13x10-2 ; 1.67 ; and 2.31 second, respectively for various size particles and heating rates. Keywords: activation energy, bagasse, Koufopanos mechanism, pyrolysis, kinetic

    Pelepasan Lambat (Slow Release) Diazinon dari Mikrokapsul Melamin Urea Formaldehid

    Get PDF
    Konsep dasar slow release adalah pengaturan pelepasan bahan aktif dari mikrokapsul dengan pelapisan dari bahan semi permeable yang tidak larut dalam air atau bahan berpori yang permeable. Pengaturan ketebalan dinding mikrokapsul dapat digunakan untuk mengendalikan kecepatan difusi bahan aktif dari mikrokapsul. Mikrokapsul dengan bahan inti pestisida diazinon dibuat dengan metode insitu polimerisasi, menggunakan melamin, urea, dan formaldehid sebagai bahan dinding mikrokapsul. Polimerisasi dilakukan pada suhu 50˚C, pH 3, dengan waktu homogenisasi 30 menit dan waktu mikroenkapsulasi 2 jam. Pengujian kecepatan pelepasan pestisida dilakukan dengan merendam sejumlah mikrokapsul melamin urea formaldehid (MUF) dalam aquades dengan pH yang bervariasi dan ketebalan dinding mikrokapsul yang berbeda. Pada penelitian ini, diameter mikrokapsul MUF diperoleh pada kisaran 50 sampai dengan 160 μm. Tanpa penambahan surfaktan, hasil mikrokapsul memiliki ketebalan 13,8 μm. Sedangkan dengan penambahan SDS dan PVA tebal dinding mikrokapsul yang dihasilkan mengalami penurunan sebesar 45%, yaitu menjadi 7,55 μm. Pada mikrokapsul dengan ketebalan 13,8 μm, kecepatan pelepasan pestisida berada pada kisaran 0,52 x 10-6 sampai dengan 1,69 x 10-6 mg/cm2·s. Sedangkan pada mikrokapsul dengan ketebalan 7,55 μm, kecepatan pelepasan diazinon meningkat sebesar 74%, yaitu berada pada kisaran 0,66 x 10-6 sampai dengan 3,4 x 10-6 mg/cm2·s. Kata kunci : slow release, mikrokapsul melamin urea formaldehid, diazinon The basic concept of slow release is to control the active ingredient release from microcapsules by means of coating made from either water-insoluble, semi permeable or porous permeable materials. By designing microcapsules wall thickness, the diffusion rate of active ingredient can be controlled. Microcapsules containing diazinon pesticides as a core material have been prepared by in-situ polymerization using melamin urea formaldehyde prepolymer as the wall material. The polymerization had been done at 50 °C and pH 3, with homogenization time of 30 minutes, and microencapsulation time of 2 hours. To measure pesticide release rate, a number of Melamine Urea Formaldehyde (MUF) microcapsules were soaked in aquadest at various pH and microcapsules wall thicknesses. In this study, the diameter of MUF microcapsules ranged from 50 to 160 μm. Without surfactant addition, the microcapsule wall thickness was 13.8 μm, but by adding SDS and PVA the wall thickness of microcapsule decreased by 45% i.e. around 7.55 μm. For microcapsules with wall thickness of 13.8 μm, the pesticide releasing rate ranged from 0.52 x 10-6 to 1.69 x 10-6 mg/cm2·s. On the other side, the microcapsules with wall thickness of 7.55 μm the pesticide releasing rate dramatically increased by 74% ranged from 0.66 x 10-6 to 3.4 x 10-6 mg/cm2·s. Keywords: slow release, melamine urea formaldehyde microcapsules, diazinon

    Pembuatan dan Karakterisasi Sabun Susu dengan Proses Dingin

    Get PDF
    Pada penelitian ini, sabun susu dibuat dari larutan susu-NaOH dengan campuran minyak yang terdiri dari minyak sawit, minyak kelapa, minyak jarak dan minyak canola. Tujuan penelitian adalah mempelajari pengaruh perbandingan massa minyak kelapa terhadap minyak canola dan konsentrasi asam sitrat terhadap pH sabun, kekerasan sabun, kemampuan pembentukan busa dan derajat kebersihan. Percobaan dilakukan dengan menuangkan larutan susu-NaOH dan asam sitrat ke dalam campuran minyak dengan perbandingan berat tertentu dan diaduk dengan kecepatan 400 rpm. Setelah terjadi trace (jejak putaran pada larutan) larutan tersebut dicetak dan didiamkan selama 24 jam. Produk sabun dianalisis kekerasan, pH, kemampuan pembentukan busa dan derajat pembersihan setelah dilakukan proses pemeraman selama 4 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 2% massa asam sitrat dapat menurunkan pH sabun dari 10,2 menjadi 9,8, tetapi juga menurunkan tingkat kekerasan, kemampuan pembentukan busa dan kemampuan membersihkan. Perubahan rasio massa minyak kelapa terhadap minyak canola dari 0,5-2, hanya berpengaruh terhadap kekerasan sabun. Kata Kunci: sabun susu, proses dingin, pH, kekerasan, tingkat kebersihan, pembentukan busa In this research, cold process was chosen to make soap from lye (NaOH solution) and mixture of palm, coconut, castor, and canola oils with certain ratio. This conducted research is to study the effect of palm to canola oil mass ratio and citric acid concentration on pH, hardness, foaming capacity and the cleansing power of the soap. The soap formation was first conducted by dissolving NaOH in the milk with certain concentration sufficient for the oil mixture saponification. The solution and citric acid solution were then added to the oil mixture and was stirred at 400 rpm. After trace occurred, the mixture was transferred to a mold and then was put in an open space for 24 hours. The soap was taken out from the mold and was cured for 4 weeks. The hardness, pH, the foaming capacity, and the cleansing power of the resulted soap were analyzed. The result show that the addition of 2% of citric acid reduces the pH of the soap from 10.2 to 9.8, the hardness, the foaming capacity, and the cleansing ability of the soap. The variation of the ratio of the mass of coconut to canola oil from 0.5 to 2 affects only the hardness of the soap. Keywords: milk-soap, cold process, pH, hardness, cleansing power, latherin

    Studi Pemanfaatan Condensate Outlet Steam Trap Sebagai Air Umpan Boiler di Pabrik Amoniak Pusri-IB

    Get PDF
    Sebagai produsen amoniak dan urea, PT. Pusri memerlukan steam dalam jumlah yang relatif besar. Steam di pabrik amoniak digunakan sebagai bahan baku pabrik amoniak, sebagai pemanas dan penggerak turbin. Tekanan steam yang digunakan di pabrik Amoniak P-IB bervariasi, dari 3,5 kg/cm2gauge sampai 123 kg/cm2gauge. Distribusi steam yang dialirkan melalui pipa menuju peralatan mengakibatkan kehilangan panas ke lingkungan. Hal ini menyebabkan terbentuknya steam condensate di sepanjang aliran pipa. Selama ini steam condensate yang keluar dari pipa melalui steam trap langsung dibuang ke sewer. Studi ini dimaksudkan untuk menghitung laju kondensasi steam dan kelayakan ekonomi untuk memanfaatkan steam condensate tersebut sebagai air umpan boiler di pabrik Amoniak P-IB. Perpindahan panas di pipa dihitung menggunakan prinsip perpindahan panas konduksi, konveksi dan radiasi. Perhitungan laju kondensasi steam dilakukan dengan variasi tekanan steam 123, 42 dan 3,5 kg/cm2gauge, variasi tebal pipa 4 hingga 20 inchi serta variasi tebal isolasi 1 sampai 4 inch. Laju kondensasi steam dinyatakan dalam suatu persamaan matematis yang merupakan fungsi dari tebal isolasi dan diameter pipa. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa laju kondensasi steam membesar bila tekanan steam naik, tebal isolasi turun, dan diameter pipa membesar. Penghematan yang didapat apabila steam condensate dimanfaatkan sebagai air umpan boiler berasal dari penghematan produksi air demin dan penghematan bahan bakar akibat perbedaan suhu antara steam condensate dan air demin dengan simple payback period selama 0,9 tahun. Kata kunci: steam condensate, kehilangan panas, laju kondensasi steam, penghematan As ammonia and urea producer, PT. Pusri consumes a lot of steam, which is used as raw material in ammonia plant, as well as heating medium and turbine driving agent. Steam pressure used in the P-IB Ammonia plant varies from 3.5 to 123 kg/cm2gauge. Distribution system of steam piping to the equipments causes heat loss to the environment. This leads to the production of steam condensate flowing along the pipe. The steam condensate from the pipe (through the steam trap) is directly discharged into the sewer. The present study aimed to determine the rate of steam condensation and to elaborate an economic feasibility to utilize the condensate as boiler feed water in the Ammonia plant P-IB. Calculation of heat transfer in the pipes was based on the principles of conduction, convection and radiation. The rate of steam condensation was calculated with steam pressure variation from 3.5 to 123 kg/cm2gauge, pipe diameter from 4 to 20-inch and insulation thickness of 1 to 4 inches. The rate of condensation was expressed in a mathematical equation and was a function of insulation thickness and diameter of pipe. The results showed that the rate of steam condensation rised as steam pressure and pipe diameter increased and insulation thickness decreased. Operating cost reduced if the steam condensate was used as boiler feed water replacing demineralized water. This also caused reduction of fuel consumption and therefore resulted in simple payback period of 0.9 years. Keywords: steam condensate, heat loss, steam condensation rate,cost reductio

    235

    full texts

    238

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Rekayasa Proses
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇