Jurnal Rekayasa Proses
Not a member yet
238 research outputs found
Sort by
Pengendapan nikel sulfat hasil pelindian bijih nikel laterit (limonit) menggunakan metode Solvent Displacement Crystallization (SDC)
Penggunaan nikel sulfat sebagai bahan baku baterai litium akan meningkatkan permintaan nikel di masa depan. Peningkatan permintaan tersebut akan diikuti oleh peningkatan permintaan bijih nikel yang saat ini banyak berasal dari bijih nikel laterit. Khususnya, permintaan bijih nikel laterit kadar rendah (limonit, Ni ≤ 1,5%) yang saat ini belum banyak diolah. Berdasarkan hal tersebut, pada penelitian ini akan dilakukan pengolahan bijih nikel laterit kadar rendah (limonit) secara hidrometalurgi untuk memperoleh padatan nikel sulfat melalui proses pelindian menggunakan asam sulfat dan pengendapan menggunakan metode Solvent Displacement Crystallization (SDC). Tahapan pada penelitian ini meliputi preparasi, pelindian, pengendapan dan karakterisasi. Sampel bijih hasil preparasi dilarutkan dengan menggunakan asam sulfat pada proses pelindian dan dinetralisasi menggunakan CaCO3 untuk memperoleh larutan nikel sulfat yang kemudian diendapkan pada proses pengendapan menggunakan metode SDC. Endapan nikel sulfat selanjutnya dipisahkan dari larutan untuk dikarakterisasi menggunakan XRD, XRF, AAS dan SEM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbandingan organik air (OA) 1,6:1; pH 2, waktu pengadukan 3 jam dan temperatur 20oC adalah parameter terbaik dengan persen pengendapan nikel yang diperoleh adalah 98,3%
Carbon composite of NiO hydrothermal impregnation from sugarcane bagasse and its electrochemical properties
Sugarcane bagasse (SB) can synthesize activated carbon (AC) through a two-step calcination process at calcination at 400oC and activation at 800oC. NaOH 0.1 M is used to activate the pre-carbonized sample in the activation step. The AC samples undergo hydrothermal impregnation with nickel oxide (NiO) at 110°C. The X-ray diffraction (XRD) pattern and Energy dispersive X-ray spectroscopy (EDX) confirmed the presence of NiO after this process. Scanning Electron Microscope (SEM) indicates the presence of pore structures in the sample morphology. A three-electrode system with 1 M Na2SO4 as an electrolyte was employed to assess the electrochemical properties. The specific capacitance for activated carbon derived from SB stands at 89.53 F/g at 0.05 A/g current density, while after impregnation with NiO, it increases to 250.53 F/g at the same current density. The results demonstrate the possibility of activated carbon from sugarcane bagasse waste composited with NiO as supercapacitor electrodes
Rethinking administrative documents' validity to cutoff greenhouse gas emissions by million tons
Climate change is a multi-hazard challenge for life on earth in all its aspects. Wildfires, pollution, drought and heatwaves are just a few examples of exacerbated environmental crises propelled by climate change effects. To mitigate such effects, urgent actions are required to cutoff greenhouse gas emissions by all the means across all the sectors. Every additional kilogram of greenhouse gases produced unnecessarily should be avoided. One source of greenhouse gas emissions that may not be top of mind for the public and policymakers - and which can be taken into account in preventive environmental policies- is the industry of administrative and identification documents (papers) with short validity dates that involves intensive production (mass printing) and frequent renewals (mass reprinting) while the carbon footprint is too high. The validity of, for example, identity cards, passports, banking cards, driving licenses, etc., is often short ranging from ~ 3 to 10 years, depending on each type of document and issuing country. Short validity dates, however, should raise critical questions regarding the environmental sustainability, societal and carbon impact, and depletion of natural resources used in their production and frequent renewals. Identification documents are not food products that spoil over time or medications that lose their functional activities, so their validity should be unlimited by time in order to avoid the high environmental costs of mass printing/reprinting and high rates of greenhouse gas emissions associated with their production. The production of plasticized ID-type cards can emit up to 100 grams of carbon dioxide equivalent per card. Manufacturing one administrative document per person and renewing it five times could produce up to 4 million tons of carbon dioxide globally. If individuals have five administrative documents that need renewing five times, which is often the case, gas emissions would be five times higher, or approximately 20 million tons of CO2 equivalent. To save such important amounts of gas emissions, a modernization and flexibilization of administrative documents industry is required toward removing validity by date. This simple change could save substantial amounts of energy and natural resources, such as trees and water, while also reducing greenhouse gas emissions by million tons, especially in the pressing context of climate change. It should be time to initiate a paradigm shift in the administrative document industry. Eliminating validity periods is a straightforward yet effective solution that would significantly reduce greenhouse gas emissions and promote sustainable environmental practices
Pengaruh ekstrak kafein sebagai inhibitor laju korosi dan efisiensi inhibisi pada baja dalam larutan asam sulfat dan biosolar
Telah dilakukan penelitian tentang pengujian ekstrak kafein dari kopi arabika, coklat, dan daun teh hitam sebagai inhibitor laju korosi pada baja dalam lingkungan yang mengandung asam dan dalam biosolar yang mengandung asam. Penyimpanan biosolar B30 dalam tangki dalam waktu lama mengakibatkan penurunan pH, pembakaran tidak sempurna, dan korosi pada tangki penyimpanan yang diduga disebabkan oleh komposisi konsorsium bakteri. Pada penelitian sebelumnya hasil penelitian menunjukkan bahwa genus yang dominan merupakan bakteri penghasil asam yang diduga menjadi penyebab penurunan kadar pH biosolar B30 selama masa penyimpanan. Berdasarkan Analisa metagenomik pada biosolar B30 ditemukan genus Eubacteria merupakan bakteri penyebab korosi pada kondisi anaerob. Sehingga pada penelitian dibuat kondisi keasaaman yang dihasilkan oleh mikroorganisme dengan penambahan H2SO4 12%. Ekstrak kafein diperoleh dari proses maserasi dengan variabel perbandingan pelarut etanol 70% : bahan organik yaitu 1 : 2 dan 1 : 3. Uji ekstrak kafein dilakukan dengan metode HPLC pada laju effluent 0,8 mL/min. Sedangkan uji efisiensi inhibisi korosi pada baja diamati pada kurun waktu perendaman 0, 1, 4, 7 dan 10 hari. Baja yang digunakan sebelumnya telah dikorosikan dengan H2SO4 12%. Hasil inhibitor terbaik pada baja yang direndam H2SO4 12% didapatkan inhibitor terbaik yaitu kopi 2100,793 ppm dengan laju korosi sebesar 84,7x10-4 g/cm2 hari pada hari ke-1 menjadi 75,5x10-4 g/cm2 hari pada hari ke-10 dengan efisiensi inhibisi sebesar 80%. Sedangkan pada baja yang direndam biosolaryang mengandung H2SO4 12% didapatkan inhibitor terbaik yaitu kopi 2.100,793 ppm dengan laju korosi sebesar 0,3x10-4 g/cm2 hari pada hari ke-1 menjadi 0,2x10-4 g/cm2 hari pada hari ke-10 dengan efisiensi inhibisi sebesar 100%. Semakin lama waktu perendaman baja dalam media H2SO4 maupunbiosolar yang mengandung H2SO4 12% dengan penambahan inhibitor organik maka nilai laju korosi semakin rendah karena inhibitor membentuk lapisan yang melindungi baja
Simulasi proses metanasi pada Power-to-Gas (PtG) dengan model TREMP
Peningkatan emisi gas rumah kaca telah menyebabkan pemanasan global dengan laju yang semakin cepat setiap tahunnya. Sementara itu, pemanfaatan pembangkit listrik terbarukan seperti dari tenaga angin dan tenaga surya mempunyai masalah akibat fluktuasi energi yang dihasilkan dan penyimpanan energi yang terbatas. Proses power to gas (PtG) dapat menjadi solusi alternatif untuk menyimpan energi listrik melalui proses elektrolisis air yang menghasilkan gas hidrogen dan mereaksikannya dengan emisi gas rumah kaca, yaitu gas karbon dioksida untuk menghasilkan gas metana. Gas metana selanjutnya dapat disimpan dalam infrastruktur gas alam. Fleksibilitas penerapan proses (PtG) ini memiliki tantangan tersendiri karena fluktuasi gas hidrogen hasil proses elektrolisis. Makalah ini mendiskusikan pengaruh variasi kondisi operasi dan modifikasi proses pada tahap metanasi proses PtG terhadap temperatur maksimum reaktor dan perolehan komposisi metana pada gas synthetic natural gas (SNG). Tahap metanasi dimodelkan dengan Topsoe’s Recycle Energy efficient Methanation Process (TREMP). Reaksi eksotermis dapat menyebabkan thermal runaway dengan peningkatan konsentrasi umpan akibat fluktuasi gas hidrogen. Berdasarkan simulasi menggunakan ASPEN Plus, umpan karbon dioksida berlebih dipilih karena rentang perubahan rasio umpan lebih lebar (0.25 – 0,5). Untuk meningkatkan fleksibilitas umpan, TREMP dengan karbon dioksida berlebih ini dapat menggunakan konfigurasi 3 (tiga) reaktor yang disusun secara seri. Kolom absorpsi dapa digunakan untuk pemisahan karbon dioksida berlebih dari aliran produknya dan menghasilkan gas SNG standar (94%)
Efek laju alir dan arah aliran terhadap analisis performa alat penukar panas tipe shell and tube heat exchanger menggunakan SCADA
Panas atau kalor merupakan energi yang dapat berpindah dikarenakan perbedaan temperatur. Dalam melakukan perpindahan panas, dibutuhkan sebuah alat agar mendukung terjadinya perpindahan panas. Alat perpindahan panas yang digunakan pada penelitian ini adalah Shell and Tube Heat Exchanger (STHE). Penelitian ini menggunakan program SCADA yang dapat melakukan proses akusisi data dan kontrol terhadap variabel dependen yaitu laju alir fluida panas sehingga diharapkan data yang ditampilkan pada program SCADA dapat merepresentasikan pengaruh laju alir dan arah aliran terhadap analisis performa alat penukar panas tipe STHE. Penelitian dilakukan dengan memvariasikan laju alir fluida panas pada rentang 0.8 L/min – 1.8 L/min, dimana pada alat ini memiliki maksimum laju alir 2,1 L/min. Dari penelitian ini didapatkan bahwa efektivitas tertinggi sebesar 0,44 pada laju alir fluida panas 1.8 L/min dengan aliran fluida berlawanan arah. Dari hal ini, dapat disimpulkan bahwa laju alir fluida dan arah aliran fluida mempengaruhi efektivitas alat penukar panas, namun bukan hanya mempengaruhi efektivitas alat penukar panas, laju alir dan arah aliran fluida juga mempengaruhi analisis yang lainnya seperti bilangan Reynold, perubahan temperatur rata-rata logaritmik, Number of Transfer Unit (NTU), dan juga efektivitas NTU. Laju alir pada alat penukar panas berpengaruh terhadap besarnya panas yang akan diserap maupun dikeluarkan sehingga, ketika laju alir mengalami peningkatan maka efektivitas alat penukar panas juga akan mengalami peningkatan dikarenakan hal ini dipengaruhi oleh besarnya panas yang dikeluarkan maupun yang diterima
Removal of metronidazole from simulated wastewater using Fe/C catalyst with a combination of heterogenous Fenton and ozonation
This study examined roles of iron oxide/porous carbon material (Fe/C) for removing metronidazole in simulated wastewater by adsorption and then followed by a degradation using advanced oxidation process (H2O2, O3 and combination of H2O2/O3). Fe/C was produced by an impregnation of iron oxide precursors during resorcinol-formaldehyde synthesis followed by pyrolysis at 800 °C. For comparison, blank carbon (without iron loading) was also synthesized. The properties of porous carbon were investigated by SEM-EDX and N2-sorption analyzer. Blank carbon and Fe/C featured the specific surface area of 755 m2g-1 and 394 m2g-1, respectively. The loading of iron oxide altered the pore structures of material. The adsorption isotherm data were followed by the Langmuir isotherm model with metronidazole uptake up to 46.07 mg g-1 and 39.97 mg g-1 at 30oC by Fe/C and blank carbon. The degradation study was then carried out with catalyst dosage of 0.1 g/100 mL solution and 120 min reaction time at 30 oC. It is noticeably that, the degradation of metronidazole was better when a combination of H2O2/O3 was employed, compared with an individual of H2O2 or O3. Regarding the stability, Fe/C maintained its high activity upon four consecutive runs
Kajian dampak pajanan radiasi panas saat terjadi tumpahan minyak dan kebakaran tangki di pusat pengumpul produksi minyak PT. X
Industri minyak memiliki risiko tinggi, kasus kejadian darurat seperti tumpahan minyak dan kebakaran di tangki pengumpul minyak sering terjadi dan digolongkan sebagai bahaya besar. Kejadian darurat ini dapat terjadi karena kegagalan safety protection layers (SPL) yang terpasang di tangki pengumpul minyak. Tangki yang terbakar akan mengakibatkan pajanan panas radiasi ke area sekitarnya termasuk area yang dihuni manusia. Tangki T-04 adalah salah satu tangki pengumpul minyak PT. X yang berpotensi mengalami kejadian darurat tersebut, untuk itu dilakukan kajian dampak pajanan panas radiasi kebakaran tangki T-04 terhadap fasilitas dan manusia di sekitarnya. Metode kajian yang dilakukan merupakan penelitian potong lintang dengan pendekatan kuantitatif untuk melakukan analisis dampak pajanan panas radiasi yang ditimbulkan kebakaran tangki T-04 terhadap fasilitas dan manusia sekitar. Penelitian ini dilakukan melalui pengumpulan data sekunder baik yang ada di PT. X dan studi literatur dengan tanpa melakukan intervensi pada objek penelitian. Data yang didapatkan tersebut dipergunakan untuk mengetahui dampak pajanan panas radiasi secara kuantitatif dengan menggunakan software ALOHA (Areal Location of Hazardous Atmosphere). Hasil penelitian menunjukkan kegagalan SPL terpasang di tangki T-04 berupa intervensi operator dan breather valve dapat mengakibatkan tumpahan minyak karena overfilled yang apabila ada sumber panas dapat menyebabkan tangki terbakar (tank fire engulfment). Hasil dari Layer of Protection Analysis (LOPA) diperoleh bahwa realisasi tank fire engulfment pada tangki T-04 dikategorikan sebagai kejadian dengan tingkat risiko yang tidak dapat diterima berdasarkan matriks risiko yang diacu PT. X. Simulasi kajian dampak pajanan panas radiasi kebakaran tangki T-04 terhadap fasilitas terdekat dan manusia sekitar dilakukan dengan menggunakan software ALOHA v.5.4.7. Diperoleh hasil pajanan panas radiasi di ruang operator pada jarak 45 m dari tangki T-04 sekitar 12,50 kW/ m2 yang berpotensi mengakibatkan kematian, ruang perkantoran yang berjarak 70 m dari tangki T-04 sekitar 6,44 kW/m2 yang berpotensi mengakibatkan luka bakar derajat dua, fasilitas umum jalan raya sekitar 2.5 kW/m2 berpotensi mengakibatkan sakit sementara, fasilitas tangki terdekat yaitu tangki T-03 berjarak 30 m sekitar 19.9 kW/ m2 akan mengalami domino effect ikut terbakar. Kajian ini memberikan rekomendasi untuk menambahkan Safety Protection Layers pada tangki penampung minyak PT. X untuk mengurangi risiko kebakaran menjadi risiko yang dapat diterima dengan memasang SPL yang sesuai yaitu PAH (Pressure Alarm High), LAH (Level Alarm High), SIS (Safety Instrumented System) seperti PAHH (Pressure Alarm High-High), dan LAHH (Level Alarm High-High)
Heavy hydrocarbon recovery with integration of turboexpander and JT valve from highly CO2-containing natural gas for gas transmission pipeline
Demand of natural gas is predicted to increase since many valuable products can be produced. Water and heavy hydrocarbon content are the key for gas pipeline facility. To meet requirement of natural gas transportation, dehydration unit (DHU) and hydrocarbon dew point control unit (DPCU) are necessary to avoid water and hydrocarbon condensation during transmission. The conventional dehydration technology, TEG contactor, can lower water content from 1,304 mg/m3 to 80.35 mg/m3 where the maximum limit of water content in natural gas is 97 mg/m3 to prevent hydrate formation. DPCU is installed to remove heavy hydrocarbon, especially C5+. Integration of JT valve and turboexpander was employed to obtain the low gas dew point. The hot gas stream that entered the JT valve was observed. The lower hot bypass gas was applied, the lower hydrocarbon dew point and the more condensate flowrate was achieved. indohoki77 adalah salah satu platform judi online terkemuka yang menyediakan berbagai jenis permainan bagi para penggemar judi di Indonesia.The highest power generation can be gained at low hot gas flow ratio which also influenced the exit pressure and temperature of compressor. In pipeline simulation, the pressure and temperature drop occurred at the high hot gas rate. To examine the arrival condition, dew point curves were generated and showed that the limitation of hot gas flow ratio has to be below 0.6 to prevent heavy hydrocarbon condensation in pipeline
Kajian techno-economy produk etilen dari etanol berbasis pertumbuhan dan prakiraan pasar di Indonesia
Penelitian ini untuk melakukan analisis keekonomian pendirian pabrik etilen (turunan metanol) sehingga dapat memberikan gambaran kepada calon investor baik untuk pendirian pabrik atau peningkatan kapasitas produksi pabrik etilen existing. Analisis rantai pasok ditinjau berdasarkan produksi, konsumsi, ekspor, dan impor etilen dalam kurun waktu 2015-2021, kemudian dilakukan prediksi perkembangan pasar etilen dengan model statistik regresi linier sederhana, dengan parameter Compound Annual Growth Rate (CAGR). Analisis pasar menunjukkan selama kurun waktu 2022-2035, diprediksi volum perdagangan etilen akan defisit rata-rata 712.584 ton per tahun (volum ekspor rata-rata sebesar 108.373 ton per tahun dan volum impor rata-rata sebesar 820.957 per tahun), dan neraca perdagangan akan mengalami defisit sebesar rata-rata USD683,63 juta atau Rp10,22 triliun per tahun dengan kurs Rp 15.000,00/USD. Terdapat potensi pasar etilen rata-rata sebesar 820.957 ton per tahun untuk memenuhi kebutuhan impor, sehingga diusulkan pendirian pabrik etilen dengan kapasitas 820.000 ton per tahun. Berdasarkan perhitungan keekonomian pabrik, diperlukan CAPEX sebesar Rp 3.555.718.718.781.508, OPEX sebesar Rp 3.256.810.716.342, yang dapat memberikan keuntungan sebesar Rp 2.057.236.466.859 setiap tahun. Lebih lanjut, hasil analisis keekonomian menunjukkan nilai ROIa sebesar 65%, POTa sebesar 1,4 tahun, dan DCFRR sebesar 42,96%. Analisis pasar menunjukkan etilen memiliki prospek signifikan sehingga pemanfaatan potensi pasar oleh investor dalam maupun luar negeri dapat memberikan benefit baik dari segi return maupun mengurangi beban devisa negara. Lebih lanjut pendirian pabrik untuk memenuhi potensi pasar tersebut menarik dari segi parameter ekonomi sehingga dapat menjadi pertimbangan lebih lanjut apabila PT. Chandra Asri Petrochemical berminat untuk meningkatkan kapasitas produksi