Jurnal Sain Veteriner
Not a member yet
821 research outputs found
Sort by
Splayed Leg in Birds: Diagnosis, Therapy, and Prevention
Splayed leg is a condition where the legs are stretched outwards or sideways from their normal position under the body which is often suffered by young birds. This disorder is usually left untreated, because it is considered as a permanent disability condition that cannot be treated without examining the cause. Some of the splayed legs in chicks can be improved by treating both their legs in the correct position. Early diagnosis of splayed leg and continued appropriate therapy is needed so that the condition of the foot can be restored to normal. Incorrect diagnosis and therapy will cause the bird's feet to become permanently disabled, so the bird will suffer for the rest of its life. The diagnosis and treatment of splayed leg cases have been developed with varying results. The purpose of this review is to evaluate the diagnosis, therapy, and prevention of the occurrence of splayed legs in birds, which can be used as a reference to improve bird welfare.
Pemberian Gliserol secara Oral dengan Dosis 2-4 Ml/Kg Berat Badan Meningkatkan Kadar Fisiologik Glukosa Darah: Kajian pada Kambing Kacang (Capra Aegagrus Hircus)
Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji pengaruh aplikasi gliserol secara oral drenching terhadap kadar glukosa darah pada kambing Kacang (Capra aegagrus hircus). Sebanyak 7 ekor kambing Kacang betina, umur ± 2 tahun, bobot badan 26 kg, kondisi tubuh BCS (2,5–3), tidak bunting, dan secara klinis sehat. Hewan dibagi menjadi 2 kelompok yakni kelompok perlakuan dengan larutan gliserol (G) dan kelompok perlakuan dengan air (A) sebagai kontrol. Larutan gliserol dibuat dengan melarutkan gliserol dalam air dengan perbandingan 1:1. Setelah melampaui masa adaptasi sekitar satu bulan, setiap hewan pada kelompok G diberi 2 kali perlakuan oral drenching larutan gliserol dengan dosis 4 ml/kg BB (G2) dan 8 ml/kg BB (G4), sedang setiap hewan kelompok A diberi air dengan dosis 4 ml/kg BB (A4) dan 8 ml/kg BB (A8). Pelaksanaan kedua perlakuan pada setiap hewan berselang 3 pekan. Sampel darah diambil sebelum (pada menit ke-0) dan pada menit ke-60, 120, dan 180 menit setelah oral drencing. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan ANOVA. P0,05). Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwan pemberian gliserol secara oral drenching dengan dosis sampai 2-4 ml/kg BB pada kambing Kacang potensial meningkatkan kadar glukosa darah secara cepat dan bertahan tidak kurang dari 3 jam setelah pemberian
Kejadian Penyakit Toxocariasis pada Pasien Anjing dan Kucing di Klinik Hewan Jogja Periode 2019-2020
Latar Belakang: Toxocariasis merupakan penyakit infeksi yang sering menyerang pada hewan kesayangan anjing kucing disebabkan oleh cacing Toxocara sp. Penyakit ini termasuk dalam golongan penyakit zoonosis karena dapat menular pada hewan dan pada manusia dapat menyebabkan visceral larval migrans. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui angka kejadian penyakit zoonotik Toxocariasis pada pasien anjing dan kucing yang ditangani di Klinik Hewan Jogja selama masa pandemi Covid-19 tahun 2019-2020. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan gambaran angka kejadian penyakit zoonosis Toxocariasis pada anjing kucing, yang selanjutnya akan sangat bermanfaat untuk dasar edukasi ke masyarakat luas untuk pencegahan atau antisipasi penyakit zoonosis tersebut. Metode: Penelitian dilakukan dengan wawancara, dan melakukan pemeriksaan secara langsung pada pasien anjing kucing yang terindikasi menderita cacingan yang ditangani di KHJ selama covid-19 tahun 2019-2020. Selanjutnya dilakukan anamnesa, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium feses, dan penanganan pasien. Apabila ditemukan telur cacing Toxocara sp pada pemeriksaan mikroskopis feses, maka pasien dinyatakan positif menderita Toxocariasis. Penelitian juga memanfaatkan data medical record yang ada di Klinik Hewan Jogja. Hasil data yang diperoleh, selanjutnya dicatat, disajikan dalam bentuk tabel, dan dianalisis secara diskriptif. Hasil: Berdasar pada hasil penelitian menunjukkan bahwa angka kejadian penyakit zoonosis Toxocariasis tahun 2019 dan 2020 adalah pada pada anjing 1,60% dan 1,58%, dan pada kucing 4,30% dan 6,66%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama covid-19 sepanjang tahun 2019-2020 Januari sampai Desember di Klinik Hewan Jogja selalu menangani pasien anjing dan kucing yang menderita Toxocariasis.Simpulan Hasil penelitian memberikan gambaran bahwa kejadian penyakit zoonosis Toxocariasis selalu ada di masyarakat, sehingga edukasi ke masyarakat luas untuk pencegahan atau antisipasi penyakit zoonosis tersebut harus terus dilakukan, sehingga masyarakat sehat terbebas dari penyakit zoonosis Toxocariasis
Knowledge, Attitude, and Practice of Dog Owners on Rabies In The Province of West Java
West Java Province is one of the regions that is still not rabies-free. Although the ISIKHNAS data shows that West Java had no rabies cases in 2021, there were 313 cases of bites by Rabies Transmitting Animals reported, so the public needs to remain vigilant against rabies. This study aims to determine and analyze the dog owner's level of knowledge, attitude, and practice regarding rabies. The research was conducted using a survey method (questionnaire) using a Google form which was distributed via social media and was filled in by 108 respondents from various regions in West Java in October-November 2022. The questionnaire in this study was the result of a modification from previous research in Sukabumi Regency and is valid and reliable based on test results to 30 respondents outside the research sample. The research data were then processed descriptively. The study's findings revealed that most of the respondents (43.5%) have sufficient level of knowledge, positive attitude level (89.8%) and good practice level (84.3%). There is some knowledge that has not been obtained properly, especially in the information that there is no effective drug to cure rabies. The findings of this study may provide the foundational information for future research and help to identify the kinds of interventions and programs that can be put in place to prevent and reduce rabies cases throughout all study locations
Morfologi Pertumbuhan Tulang Toraks Ayam Kampung (Gallus gallus gallus) Pasca-Menetas Sampai Usia Sembilan Minggu
Ayam kampung (Gallus gallus gallus) adalah salah satu varietas ayam buras Indonesia. Siklus hidup ayam kampung cepat dengan indikator pertumbuhan dapat dilihat dari pertumbuhan tulangnya. Parameter pertumbuhan ayam salah satunya berasal dari perhitungan hasil pengukuran jarak antar tulang atau sendi. Salah satu bagian yang penting untuk diukur yaitu toraks ayam karena dada adalah salah satu bagian karkas ayam yang mengandung banyak daging. Lingkar, lebar, dan panjang dada pada ayam dapat digunakan untuk menaksir berat daging pada ayam. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui panjang tulang dada ayam pada fase pertumbuhan, mulai dari pre-starter sampai ke fase grower. Pengukuran tulang toraks meliputi bagian clavicula, sternum, coracoid, scapula, vertebrae, dan costae menggunakan kaliper dan jangka sorong. Data hasil pengukuran tulang toraks kemudian dianalisis menggunakan metode one-way ANOVA dan Uji Duncan, dengan tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05) menggunakan Microsoft Excel dan IBM SPSS Statistics 25. Laju pertumbuhan tulang sternum, coracoid, scapula dan costae mengalami peningkatan pesat sampai minggu ke-5 kemudian mengalami penurunan mulai minggu ke 7. Oleh karena itu pemberian pakan pada minggu awal menetas sampai mingg ke-5 perlu dimaksimalkan dengan memberikan pakan berprotein tinggi untuk memberikan pertumbuhan yang maksimal.
Resistansi Penisilin terhadap Escherichia coli pada Susu Segar yang berasal dari Koperasi Ternak Sapi Cianjur Utara (KPSCU), Jawa Barat
Resistansi antibiotik atau sering disebut sebagai pandemi senyap, merupakan satu diantara penyebab masalah kesehatan global yang harus diwaspadai. Susu segar merupakan media pembawa yang mudah terkontaminasi bakteri, salah satunya ialah bakteri E. coli. Antibiotik yang sering dipakai dalam pengobatan terhadap sapi adalah penisilin yaitu antibiotik golongan betalatam yang memiliki kemampuan membunuh bakteri dengan mencegah pembentukan protein dinding sel. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeteksi keberadaan dan prevalensi E. coli pada susu segar, serta menguji resistansinya terhadap antibiotik penisilin. Sebanyak 75 sampel susu kandang dipilih secara acak, berasal dari 6 kelompok ternak sapi perah dan dikumpulkan oleh masing-masing petugas lapang. Uji identifikasi keberadaan E. coli mengacu kepada Standar Nasional Indonesia (SNI) nomor 01-2897-2008 tentang metode pengujian cemaran mikroba pada susu, daging dan telur. Isolat bakteri yang teridentfikasi E. coli dilaukan pengujian resistansi terhadap antibiotik penisilin menggunakan metode Kirby-Bauer disk diffusion dengan penentuan standar berdasarkan Clinical and Laboratory Standards Institute (CLSI). Wawancara terstruktur dilakukan kepada 75 peternak yang diambil sampel susu kandang. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa bakteri E. coli yang terdeteksi pada sampel susu kandang sebanyak 24/75 isolat (32%). Hasil uji resistansi menunjukkan bahwa sebanyak 23/24 isolat E. coli (96%) resistan terhadap antibiotik penisilin. Kesimpulan dari penelitian ini E. coli yang berhasil diisolasi dari susu kandang di wilayah KPSCU telah resistan terhadap antibiotik penisilin, sehingga dibutuhkan penerapan praktik higiene sanitasi, pengawasan penggunaan antibiotik, peningkatan pengetahuan peternak dan petugas kesehatan hewan terkait penggunaan antibiotik di lapangan.
Characterization of Newcastle Disease Virus Isolated from Peacocks in Palembang City, South Sumatra
Introduction: Newcastle Disease (ND) is an infectious disease in various types of poultry caused by the Newcastle Disease Virus (NDV). Cases of ND in Indonesia have been reported in commercial and backyard chickens, pigeons, ducks and geese, even in eagles and peacocks. Peacock is a wild bird protected by Indonesia's Government Regulation No. 7 of 1999. This study aims to identify, isolate and characterize the NDV molecularly in cases diagnosed as ND in peacocks. Method: Samples were obtained from organs (lungs and spleen) of peacocks which showed neurological symptoms, diarrhoea and then died. Real-time RT-PCR ND was used to identify the cause of death of the peacock. Virus isolation and observation of embryonic changes and death were carried out on embryonic chicken eggs. Sequencing was carried out to characterize the F and HN entire genes of the NDV. The nucleotide sequences were analyzed using MEGA-X software, including amino acid prediction, analysis of genetic variation at the amino acid level, homology and construction of the phylogenic tree. Result: The results of the sample identification were positive for the Newcastle disease virus. Observations of chicken embryos are stunted, have few feathers, are haemorrhagic, and die in less than 60 hours. Virus isolation was obtained with a titer of 26. Molecular analysis showed that the RRQKRF cleavage site pattern in the F gene had homology of 95.8-97.6% and was in the same branching area as the previous ND virus in Indonesia. There were no amino acid mutations at the antigenic site, glycolysis and neutralization epitopes in the HN gene. Conclusion: The virus isolated from the peacock is a velogenic strain of NDV, subgenotype VII.2 and has a close genetic range to the NDV that has been previously reported in commercial and domestic poultry. This result shows that ND is also a threat to protected wild birds
Safety Test for Ethanolic Neem Leaf (Azadirachta indica A. Juss.) Extract on Male Mice (Mus musculus L) Renal Structure
Neem leaves (Azadirachta indica A. Juss.) are often used as traditional medicine because they contain bioactive compounds such as azadirachtin, nimbidin and nimbolides. Consumption of traditional medicines for long periods can cause side effect on kidney. This study aims to find out the histological structure of glomerular and proximal tubular in the male mice (Mus musculus L.) kidneys after exposure to the ethanolic of neem leaves extract. Completely Randomized Design (CRD) consists of 2 treatment groups with 15 replications was used in this study. The first group is K (only treated with aquadest) and P group (treated by ethanolic neem leaves extrcat at the dosage 14 mg/ kg body weight). The treatment were given orally with a volume of 0.2 mL for 21 days. Feeding and drinking were carried out ad-libitum. At the 22 days, kidney was isolated, weighted and made for histological processed with 5 μm in thickness using paraffin method with Hematoxylin and Eosin staining. The variables observed in this study were kidney weight, water consumption, glomerular diameter, thick of Bowman capsule, diameter of proximal tubule and lumen diameter. Data were analyzed using the t test with a confidence level of 95%. The results of the analysis showed that the treatment has no significant effect (p> 0.05) to kidney weight, water consumption, glomerular diameter, thick of Bowman capsule, diameter of proximal tubules and lumen diameter. The study showed that the use of ethanolic neem leaves extract for 21 days still safe to be use as a traditional medicine
Dermatosis pada Ruminansia akibat Defisiensi Vitamin C: Ulasan Singkat
Vitamin C bersifat esensial untuk mamalia, termasuk manusia, primata, dan marmut, meskipun mamalia lain, seperti ruminansia, babi, kuda, anjing, dan kucing, dapat mensintesis vitamin C dari glukosa di hati. Ruminansia pada dasarnya bergantung pada sintesis endogen karena vitamin C asal pakan sebagian besar dirusak semuanya oleh mikroorganisme rumen. Dengan demikian, ruminansia lebih bergantung vitamin C endogen untuk mencukupi kebutuhan tubuhnya guna memenuhi persyaratan fisiologis dibandingkan dengan hewan lain. Meskipun demikian, ruminansia muda lebih rentan terhadap defisiensi vitamin C karena biasanya hanya memperoleh diet dengan kandungan vitamin C yang rendah. Produksi vitamin C endogen pada ruminansia muda dapat mencapai tingkat maksimal setelah umur 16 minggu. Konsentrasi vitamin C pada ruminansia muda yang rendah tersebut berpotensi menimbulkan dermatosis pada ruminansia muda. Tulisan ini bertujuan untuk mengulas secara singkatnya defisiensi vitamin C yang terkait dengan dermatosis pada ruminansia
Korelasi Konsentrasi Testosteron Darah terhadap Kualitas Semen Segar Ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB) dengan Fenotip Berbeda
Ayam KUB adalah ayam hasil seleksi dari Balai Penelitian Ternak Ciawi yang memiliki perbedaan fenotip seperti bentuk jengger dan warna bulu. Perbedaan fenotip berpengaruh terhadap konsentrasi testosteron sehingga memengaruhi kualitas semen segar ayam KUB. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh fenotip terhadap kualitas semen segar dan testosteron serta korelasinya. Sebanyak 20 ekor ayam KUB umur 1,5 tahun terbagi atas 4 kelompok perlakuan fenotip masing-masing 5 ekor yaitu jengger tunggal bulu penutup merah (JTBM), jenggger tunggal bulu penutup putih (JTBP), jengger pea bulu penutup merah (JPBM), dan jengger pea bulu penutup putih (JPBP). Peubah yang diamati adalah volume, warna, pH dan konsistensi, gerakkan massa, motilitas, viabilitas, abnormalitas dan konsentrasi ejakulat, konsentrasi testosteron dan panjang taji. Hasil penelitian menunjukkan pejantan dengan fenotip JPBM memiliki volume ejakulat paling tinggi dan JTBM adalah yang paling rendah (P<0.05). Pejantan berjengger tunggal memiliki pH lebih tinggi dibandingkan pejantan berjengger pea. Pejantan JTBM juga memiliki motilitas dan konsentrasi ejakulat paling rendah dibandingkan dengan fenotipe lainnya dan untuk peubah warna semen, gerakan massa, viabilitas dan abnormalitas tidak berbeda pada semua fenotip. Panjang taji kiri pejantan JTBP lebih pendek dibandingkan ketiga pejantan lainnya (P<0.05). Ukuran taji berkorelasi positif dengan konsentrasi testosteron dengan kisaran nilai r = 0.33-0.56. Konsentrasi testosteron berkorelasi postif dengan warna (r=0.76), konsentrasi ejakulat (r= 0.44), konsistensi semen (r=0.75) dan motilitas spermatozoa (r= 0.46). Kesimpulan dari penelitian ini adalah pejantan JTBM memiliki kualitas semen segar kurang baik dibandingkan dengan ketiga kelompok pejantan lainnya. Ukuran taji bisa digunakan untuk memprediksi konsentrasi testosteron pada ayam jantan.