Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan
Not a member yet
    438 research outputs found

    HUBUNGAN PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DENGAN MOTIVASI KERJA DAN STRES KERJA PADA PERAWAT DI RSU ANUTAPURA PALU

    No full text
    Latar Belakang : Sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja harus diterapkan di semua tempat kerja termasuk rumah sakit yang mempunyai resiko besar terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Kecelakaan kerja yang terjadi pada petugas kesehatan di pengaruhi oleh beberapa faktor, Faktor penyebab sering terjadi karena kurangnya kesadaran pekerja dan kualitas serta keterampilan pekerja yang kurang memadai, serta rendahnya motivasi tenaga kerja yang berbanding lurus dengan tingginya tingkat stres kerja pada petugas kesehatan. Tujuan : untuk menganalisis hubungan antara penerapan SMK3 dengan motivasi kerja dan stres kerja. Metode Penelitian : penelitian ini merupakan penelitian korelatif yang dijalankan dengan metode survei yang menggunakan rancangan cross-sectional. Hasil Penelitian : (1) Hasil korelasi Pearson Product Moment menunjukkan bahwa Terdapat hubungan yang sangat lemah dan tidak signifikan antara penerapan SMK3 dengan motivasi kerja pada perawat di rumah sakit umum Anutapura Palu (P= 0,0412; R=0,092); (2) Hasil korelasi Pearson Product Moment menunjukkan bahwa Terdapat hubungan yang sangat lemah dan signifikan antara penerapan SMK3 dengan stres kerja pada perawat di rumah sakit umum Anutapura Palu (P=0,0919; R=0,011 Kesimpulan : (1) Terdapat hubungan yang sangat lemah dan tidak signifikan antara penerapan SMK3 dengan motivasi kerja pada perawat di rumah sakit umum Anutapura Palu; (2) Terdapat hubungan yang sangat lemah dan signifikan antara penerapan SMK3 dengan stres kerja pada perawat di rumah sakit umum Anutapura PaluKata Kunci : SMK3 , Motivasi Kerja, Stres Kerj

    EVALUASI IMPLEMENTASI REKAM MEDIS TERINTEGRASI DI INSTALASI RAWAT INAP RSUP DR. SARDJITO YOGYAKARTA

    Full text link
    ABSTRACTBackground: There was an interview with medical forensicsub-committee at Dr. Sardjito Hospital that stated no medicalrecord was complete. Separated patient-monitoring reflectedpoor colaboration among medical staffs. Hence, Dr. SardjitoHospital had implemented integrated medical records forinpatients and there should be an evaluation f or theimplementation.Objective: This study aimed to evaluate documentation processof integrated medcal records for inpatients at Dr. SardjitoHospital through completeness, patient-centered care, interprofesionalcollaboration and confidentiality aspects. Second,it aimed to explore barriers and enablers of implementation ofintegrated medical records.Methods: T his study is a case study with descriptiveexplanatorydesign. Main data source was documentation onmedical records of three to six days inpatients. T hedocumentation proess was aimed for obtaining quantitativedata of medical records-completeness. Triangulation ofobservation and focus group discussion was done f orobtaining qualitative data.Results: Implementation of integrated medical records waspoor. None of medical records had standard abbreviation.Medical records which had no signed correction were 29.7%and only 41.6% of medical records had date and time written,while those with non-clear and simplified notes were 61.5%.However, most medical records had complete progress note(85.4%) and equipped with clear name and signed by thecaregivers (81.3%). Focus group discussion resulted thatintegrated medical records was giving benefit. Integrated medicalrecords provided better service to patients.Conclusion: Dr. Sardjito Hospital has to obliged its medicalstaffs to implement integrated medical records for betterservices to patients.Keywords: evaluation, integrated notes, medical record

    KOORDINASI PELAYANAN KESEHATAN PENGUNGSI BENCANA GUNUNG MERAPI

    Full text link
    Background: The eruption of Mount Merapi in Yogyakartahas caused dangerous impact to the people’s health. It is importantto provide a good health care services during emergencyresponse. Maguwoharjo is a shelter with the largestnumber of refugees, but health care staff are not well distributed.The coordination on health care service is important toovercome the health problems during emergency response.Aim: To describe effetiveness of coordination of care providedfor the refugees.Methods: This was a qualitative study using in-depth interviewsmethod to collect data. The informants were representativesfrom Yogyakarta provincial health office, Sleman districthealth office, primary health care center of Depok, NonGovernment Office/NGO, and former refugees. To ensure thevalidity of data, triangulation was carried out.Results: The coordination of health care service to refugeesis studied from its communication and organization. The communicationwas done by regular meetings in the morning andin the afternoon involving shelter’s coordinator, volunteer’scoordinator, and representative from both provincial and districthealth office. Not only by the regular meeting, but also byusing SMS gateway and skype (internet-based). There wasalso a hierarchial structure to organize all health care staffand their responsibilities during emergency response. Untilend of the evacuation, there was no outbreaks, incidence ofdisease was decreased, and infectious diseases were controlled.However, health care personels and adequate facilitieswere lacking, and standard operating procedure to providegood health services to refugees was not available.Conclusion: The coordination of health services for refugeesduring the emergency was effective but still needs toimprove information and use of SOP.Keywords: effectiveness, coordination, health care, refugee

    MINAT PENGGUNAAN PERANGKAT LUNAK PENGHITUNGAN BIAYA STANDAR PELAYANAN MINIMAL KABUPATEN/KOTA

    Full text link
    Background: The Indonesian Ministry of Health developed adistrict essential health package (EHP) costing software in2009. However, this has not yet been utilized due to poordissemination. It is necessary to conduct a study evaluatingthe opinion of health professionals towards intention to usethis software and ensure its usefulnessAim: This paper aims to assess user acceptance of districtEHP costing software by integrating Technology AcceptanceModel (TAM) and End User Computing (EUC) satisfaction.Method: A descriptive study was used. A total of 139respondents were involved in this study. They were policymakers and budget analysts of EHP in district health offices,and also primary health care workers and district hospitalworkers in all districts of Yogyakarta. Data were collected toassess the perceived usefulness, ease of use, content, format,accuracy, timeliness, attitude toward use and behavioralintention to use. Path diagram analysis was conducted.Result: The study showed that the respondents have theintention to use the EHP software. Usefulness and satisfactionhad the greatest positive influence on higher intention to useEHP costing software and were found to be statisticallysignificant, (0.29 and 0.22 respectively). Both the usefulnessand ease of use had positive influence on attitudes, (0.45 and0.23 respectively). Ease of use, content, accuracy andtimeliness gave a positive effect to satisfaction.Conclusion: Intention to use the EHP costing software wasmostly driven by perceived usefulness and satisfaction.Adequate human resources and hardware need to be in placefor its implementation.Keywords: essential health package, costing software,intention to us

    PENGELOLAAN SUKARELAWAN DI LEMBAGA SWADAYA MASYARAKAT BIDANG KESEHATAN (STUDI KASUS) YAYASAN KANKER INDONESIA CABANG DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

    No full text
    INTISARINurhasni Yoisangadji1, Fatwa Sari Tetra Dewi2, Lutfan Lazuardi3Latar Belakang: Di negara berkembang sekitar 25 juta orang mengidap kanker. Apabila dilakukan pengobatan dan terapi secara teratur dapat menekan pertumbuhan penyakit kanker. Untuk itu, dibutuhkan program untuk masyarakat yaitu kegiatan pencegahan seperti: skrining, deteksi dini, pengobatan dan perawatan paliatif secara menyeluruh, serta pemeriksaan lanjutan pasca sembuh. Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Cabang Daerah Istimewa Yogyakarta adalah organisasi nirlaba bersifat sosial dan kemanusiaan di bidang kesehatan serta merupakan organisasi yang mengkhususkan diri untuk menanggulangi kanker. YKI bertujuan mengupayakan penanggulangan kanker dengan menyelenggarakan kegiatan di bidang promotif, preventif, dan supportif. Sesuai dengan visi YKI yaitu PEDULI yang merupakan singkatan dari pertama, PErhatian bahwa masalah kanker bukan hanya masalah individu atau keluarga yang terkena kanker saja. Kedua, memberikan DUkungan baik moral dan material sesuai dengan kemampuan dan kapasitasnya. Ketiga, memberikan LIndungan agar mereka yang terkena kanker merasa terayomi sehingga timbul semangat diri untuk mencari solusi terbaik dalam rangka pengobatan maupun peningkatan kualitas hidup penderita kanker.Tujuan Penelitian: untuk menganalisa pengelolaan sukarelawan pada lembaga swadaya masyarakat di YKI Cabang DIY.Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan studi kasus (case study). Penelitian ini menggunakan metode sampling purposif (purposive sampling), yaitu teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. Dalam penelitian ini, peneliti menggali informasi dari beberapa informan. Subjek penelitian yaitu, 2 orang pengurus aktif YKI Cabang DIY dan 6 orang relawan aktif yaitu: 3 orang survivor, 3 Orang non survivor.Hasil: Pengorganisasian kegiatan relawan di Yayasan Kanker Indonesia Cabang DIY selama ini sudah diatur dan ditetapkan dalam rapat pleno, yang diselenggarakan setiap tahun dalam 5 tahun masa kepengurusan. Setiap divisi dalam kepengurusan melakukan evaluasi terhadap program kerja yang tidak terlaksana dalam setahun, serta mengajukan perencanaan program kerja dalam satu tahun kedepan. Pengkoordinasian tata kelola kerja relawan di YKI Cabang DIY, terhadap para relawan dikoordinir langsung oleh pengurus yayasan. Relawan dilibatkan secara langsung dalam semua kegiatan, hal ini dilakukan agar dapat terjalin kerjasama dan hubungan baik antara pengurus YKI Cabang DIY dengan relawan. Ketersediaan relawan di YKI Cabang DIY sampai saat ini berdasarkan penelitian sangat kurang. Walaupun demikian semua kegiatan yang melibatkan relawan dapat terlaksana. Hal ini disebabkan oleh motivasi yang tinggi yang dimiliki oleh relawan.Kesimpulan: Relawan yang memiliki latar belakang pengalaman sebagai survivor sangat penting dan efektif dalam melakukan pendampingan.Kata Kunci: Pengelolaan relawan, LSM, Pengorganisasian, Yayasan Kanker Indonesia 1Dinas Kesehatan Kabupaten Kepualauan Sula, Propinsi Maluku Utara.2Kepala Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.3Sistem Informasi Manajemen Kesehatan, Program Pascasarjana Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.

    MOTIVASI DOKTER DALAM PENULISAN RESEP DI RUMAH SAKIT RISA SENTRA MEDIKA, MATARAM

    Full text link
    Backgroud: Selection process and selection of drugs shouldbe done rationally and follow the guidelines by the World HealthOrganization. However, 70% of prescriptions at Risa HospitalMedical Center.Aim:This study aims to explore physician motivation in writingprescription.Methods: The research was conducted with a qualitativeapproach. Primary data obtained f rom interviews andobservations and were equipped with a document review asa from of triangulation.Result: Motivation of physicians in prescribing was influencedby many factors, such as, the diagnosis of diseases, financialcondition of the patient, and rewards from the pharmaceuticalindustry. Remuneration from pharmaceutical industry provideda strong influence on physician in writing prescription.Conclusion: External rewards from pharmaceutical industryis the most inf luential factor. Increasing rewards andpunishments are needed to improve motivation of physician inwriting prescription according to drug formulary.Keywords: motivation, formulary, prescription, physician

    RESPON PEMIMPIN RUMAH SAKIT TERHADAP PENERAPAN AKREDITASI RUMAH SAKIT KARS VERSI 2012

    Full text link
    Background: The role of hospital leader is key for thesuccessful implementation of KARS version 2012 accreditationwhich puts patient safety as the focus of hospital management.Aim: This study aimed to explore the understanding andresponses of hospital leades toward hospital accreditation2012.Method: This was a qualitative research design using casestudy. Data were gathered through 1) semi structuralquestionnaire interview of Hospital Director, Nursing Chief andCoordinator of Care Services (3 informants); 2). directobservation at medical services activities, patient transfer,Medical Support Services, patient’s identity writing and patientsidentification on treatment; and 3) data obtained from minutesof meeting, Standard Operational Procedure, policy, patient’sdocument related with standard implementation of hospitalaccreditation.Result: Accreditation preparation at this hospital used a topdown approach with limited dissemination. Director’sunderstanding limited to the purposes, scoring method andassessed chapter, meanwhile the Nursing Chief only mentionedthe quality improvement purposes and care, and Coordinatorof care stated quality improvement accreditation. The leaderhas not built a structured planned for overall hospital activity,but only reactive responses. In the service level there is onlya minor change found. For example writing patient identitydiffers in each unit, hand washing practice has no properstandard operational procedure, and hand washing facilitywas not available in every patient bed.Conclusion: There is a gap of understanding and responseson accreditation due to unstructured preparation. Responseswere only on hand washing aspect and personal identity.There is still no written policy on implementation of KARS 2012accreditation.Keywords: accreditation, hospital leader, understanding andresponses, KARS 2012 accreditatio

    BIAYA LANGSUNG DAN TIDAK LANGSUNG PASIEN TUBERKULOSIS DI KABUPATEN KULON PROGO

    No full text
    Latar belakang : Penyakit tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah di Kabupaten Kulon Progo dan menyerang semua kelompok umur dengan persentase kasus tertinggi pada kelompok umur produktif. Angka kematian kasus selama tiga tahun terakhir mengalami kenaikan. Informasi tentang biaya langsung dan tidak langsung pasien TB di Kabupaten Kulon Progo sampai saat ini masih terbatas. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pasien TB menghadapi sejumlah kendala finansial. Metode : Tools to Estimate Patient Costs yang telah dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia diadaptasi dalam penelitian ini. Survei dilakukan terhadap seluruh pasien DOTS dari puskesmas, rumah sakit,dan BP4. Hasil survei pada pasien dikumpulkan, dimasukkan ke dalam database dan dilakukan analisis. Hasil : Rerata biaya pasien TB pada fase diagnosis di Kabupaten Kulon Progo sebesar Rp. 2.508.881,00 sedangkan pada fase pengobatan sebesar Rp. 1.882.395,00. Komponen biaya yang paling besar pada fase diagnosis adalah biaya rawat inap diikuti biaya medis langsung selama diagnosis dan biaya tambahan makanan sedangkan pada fase pengobatan adalah biaya tambahan makanan diikuti biaya perjalanan dan biaya medis langsung selama rawat inap. Strategi mengatasi masalah biaya bagi pasien TB di Kabupaten Kulon Progo adalah dengan asuransi, sumbangan, dan melakukan pinjaman atau penjualan aset. Pembebasan biaya pengobatan dan pemberian jaminan kesehatan bagi penduduk belum dapat membebaskan pasien TB dari pengeluaran biaya yang tinggi. Kesimpulan : Pemberian jaminan untuk diagnosis dan pengobatan TB belum dapat menyelesaikan permasalahan biaya pada pasien TB. Pemerintah masih perlu meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat melalui peningkatan program promosi pemanfaatan jaminan kesehatan serta pemberian bantuan makanan tambahan dan bantuan biaya perjalanan. Kata kunci : tuberkulosis, evaluasi pembiayaan, biaya langsung, kulon progoMahasiswa Program Pasca Sarjana KPMAK, FakultasKedoteran, Universitas Gadjah Mada.Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada.Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada.

    LAMA WAKTU YANG DIHABISKAN PASIEN DI UGD RSPAU dr. S. HARDJOLUKITO DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

    No full text
    Latar Belakang: Salah satu keluhan pasien yang paling sering muncul adalah lama waktu yang dihabiskan pasien di unit gawat darurat setelah mereka mendapatkan penanganan pertama. Pasien harus menunggu sebelum mereka bisa pulang, atau dipindahkan ke bangsal perawatan, ke ICU atau menjalani operasi. RSPAU Dr Suhardi Hardjolukito adalah RS tipe B dengan kapasitas 215 tempat tidur. Tujuan: untuk mengukur lama waktu yang dihabiskan pasien di UGD dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi lama waktu tunggu tersebut. Metode: Ini adalah penelitian observasional dengan rancangan cross-sectional. Penelitian dilakukan di unit gawat darurat RSPAU Dr Suhardi Hardjolukito, yang memiliki kapasitas 15 tempat tidur, pada bulan November 2014. Observasi dilakukan selama 7 hari pada shift pagi, sore, dan malam. Sejumlah 305 pasien menjadi sampel penelitian dan diamati selama pasien berada di UGD. Hasil: Rata-rata waktu perawatan di UGD RSPAU dr.S.Hardjolukito masih sangat bervariasi, berkisar antara 8 s/d 270 menit (4.5 jam). Tahapan pelayanan yang memiliki waktu tunggu paling lama adalah pelayanan di laboratorium dan radiologi. Sementara karakteristik kunjungan yang paling besar pengaruhnya terhadap lama pelayanan di UGD adalah kunjungan pada hari kerja, jenis kelamin pasien perempuan, diagnosis emergency, dan waktu kunjungan pagi hari.  Kesimpulan dan Rekomendasi: Waktu yang dihabiskan pasien di UGD RSPAU dr.S.Hardjolukito sangat bervariasi. Banyak penyebab waktu tunggu tersebut sebenarnya tidak penting dan bisa dicegah. Rumah sakit harus mengurangi kepadatan UGD pada waktu-waktu sibuk dengan meningkatkan efisiensi RS, memperbaiki alur pasien, dan menggunakan metode maajemen operasional dan teknologi informasi

    PENGARUH PELIBATAN KELUARGA DALAM PROGRAM PROLANIS TERHADAP KEPATUHAN MINUM OBAT DAN PENGENDALIAN GULA DARAH PASIEN DIABETES MELITUS TIPE2

    Full text link
    Latar Belakang: Prevalensi penyakit Diabetes Melitus (‘diabetes’) untuk semua kelompok umur di seluruh dunia terus meningkat. Kepatuhan minum obat dan pengendalian gula darah merupakan masalah umum dalam penanganan penyakit diabetes. Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) telah dilaksanakan oleh PT Askes (BPJS Kesehatan) pada pelayanan dokter keluarga untuk menangani penyakit kronis secara komprehensif. Kegiatan prolanis dapat dikembangkan dengan melibatkan keluarga dalam kegiatan-kegiatannya.Tujuan: untuk mengukur pengaruh pelibatan keluarga dalam program Prolanis terhadap kepatuhan minum obat dan pengendalian kadar gula darah pada pelayanan dokter keluarga.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen murni dengan rancangan Single Blind Randomized Controlled Trial yang dilaksanakan dalam bulan November 2013. Subjek penelitian adalah 36 pasien diabetes tipe 2 pada satu klinik dokter keluarga di Surakarta yang ikut sebagai peserta aktif Prolanis dan memenuhi kriteria inklusi. Sampel dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok perlakuan (dengan pendamping) dan kelompok kontrol (tanpa pendamping) secara random. Analisis bivariat kepatuhan minum obat dan kadar gula darah diukur sebelum dan sesudah pelaksanaan program. Kepatuhan minum obat di analisis dengan uji chi square, sedangkan gula darah dianalisis dengan uji mann-whitney. Analisis perbedaan efek dengan mengendalikan variabel umur, menggunakan regresi logistik multivariat.Hasil: Sebelum pelaksanaan intervensi, tidak terdapat perbedaan signifikan antara kedua kelompok dalam hal kepatuhan minum obat (p=0,182) dan pengendalian kadar gula darah (p=0,798). Sesudah pelaksanaan program tidak terdapat perbedaan signifikan antara kedua kelompok dalam hal pengendalian kadar gula darah (p=0,171) namun diperoleh bahwa kepatuhan minum obat kelompok perlakuan secara signifikan lebih baik dibandingkan kelompok kontrol (p=0,034). Efek pada kepatuhan minum obat tetap signifikan, setelah mengendalikan variabel umur pasien pada analisis regresi logistik multivariate (p=0,013).Kesimpulan: Pelibatan keluarga dalam kegiatan Prolanis meningkatkan kepatuhan minum obat tetapi tidak berpengaruh terhadap pengendalian kadar gula darah pasien diabetes tipe 2. Kata kunci:     Pendampingan keluarga, kepatuhan minum obat, kadar gula darah, diabetes melitus tipe

    228

    full texts

    438

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇