agriTECH
Not a member yet
1394 research outputs found
Sort by
Pirolis Limbah Organik Tinjauan Perkembangan Proses
Limbah organik yang makin bertambah jumlahnya merupakan sumber energi yang sangat potensial. Sebagian kecil limbah itu sudah dipakai langsung sebagai bahan bakar, tetai sisanya masih terbuang sia-sia. Pengolahan limbah menjadi sumber energi yang lebih tinggi mutunya atau yang dapat disimpan lama, meliputi antara lain gasifikasi dan pirolisis. Gasiflkasi dapat mengubah limbah organik menjadi gas bakar, tetapi alat yang dipergunakan harus tahan suhu tinggi, dan hasilnya harus Iangsung dimanfaatkan. Pirolisis dapat dilaksanakan pada suhu yang lebih rendah dan menghasilkan arang yang dapat disimpan lama, tir, dan gas bakar. Cara pirolisis yang paling tepat ialah proses sinambung dengan prinsip oksidasi parsial. Peningkatan berat jenis limbah yang ringan atau yang berukuran kecil, memudahkan proses pirolisis. Pirolisis limbah kota dapat disetenggarakan sepanjang tahun, asalkan proses dilengkapi dengan alat pengempa atau penggilas dan pengering. Arang limbah kota memerlukan tungku yang khusus. Tir padat limbah kota dapat diolah Iagi menjadi bahan bakar cair
Pengaruh Penggunaan Lemak Sapi dalam Ransum Ayam Petelur Terhadap Kualitas Telur dan Kadar Kolesterol Telur
Penelitian telah dilakukan untuk mengetahui pengaruh penggunaan lemak sapi dalam ransum ayam petelur terhadap kualitas telur dan kadar kolesterol telur. Ayam petelur strain Hareo terdiri dari 2 kelompok umur yaitu 15 bulan (ayam tua) dan 6 bulan (ayam muda) masing-masing diberi ransum dengan kandungan lemak sapi berturut-turut 0%, 5% dan 10%, Ransum dan air diberikan secara ad-libitum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tebal kerabang dipengaruhi oleh ransum, demikian juga warna kuning telur, sedangkan berat telur dipengaruhi secara nyata oleh ransum dan umur petelur. Kandungan kolesterol telur secara nyata dipengaruhi oleh umur, ransum ayam dan interaksi dari keduanya
Identifikasi Pengaruh Faktor Produksi Terhadap Hasil Produksi Pada Beberapa Usaha Pertanian Tanaman Pangan dengan Klasifikasi Status Irigasi Lahan (Studi Kasus di Kec. Gondang, Kab. Sragen, Jawa Tengah)
Mutu Teripang Selama Penyimpanan Pada Suhu Es
Study on the quality deterioration of sea cucumber in ice temperature was carried out. Two kinds of sea cucumber i.e. sand sea cucumber (Holothuria scraba) and rock sea cucumber (Microthele oxiloga HI, Clark) boiled and the raw were stored in crushed ice using insulated box. During storage, assessment of organoleplic properties (appearance, color, odor and texture), chemical analysis (moisture, ash, protein, fat, pH, TVB) and microbiology analysis (total bacteria and total enterobacteriacea) were conducted every three days. The results indicated that the organoleptic scores (appearance, color, odor and texture) decreased, while pH, TVB, total bacteria and enterobacteriaceae increased during storage. This study has shown that the quality boiled sea cucumber was better than raw sea cucumber, where the First was still accepted by the panelist 15 days, storage while the later was rejected after 12 days storage
Pengaruh Penambahan Tepung Kacang Hijau dan Gliseril Monostearat Pada Tepung Jagung Terhadap Sifat Fisik dan Organoleptis Roti Tawar yang Dihasilkan
An experiment was conducted to evaluate the effect of addition of mungbean flour and gliceryl monostearat (GMS) on the loaf volume, hardness, porosity, colour, texture, taste and flavour of bread. Corn and mung bean flour and then added with 1, 2 and 3 percents of GMS. Physical analysis showed that corn and mungbean flour can be used to produce a good quality bread. Addition of fifteen percents of mungbean in flour resulted in a good loaf volume and increase in the hardness of bread. Addition of GMS with several concentrations were also not negatively affecting to the taste, flavour, the texture and the colour of bread. The panelist prefered the texture of bread with addition of five percents mungbean flour and Iwo percents GMS. While, the panelist prefer the taste of bread with addition of ten percents mungbean flour and two percents GMS