agriTECH
Not a member yet
1394 research outputs found
Sort by
Pewilayahan Hidrometeorologi di Indonesia
Sebaran komponen neraca air yang terdiri dari evapotranspirasi potensial dan aktuil, hujan, simpanan air dalam tanah, defisit dan surplus air di Indonesia dalam kondisi hujan normal diturunkan dari analisis neraca air dengan metode Thornthwaite yang telah dimodifikasi untuk wilayah beriklim muson tropik. Modifikasi ditekankan untuk mempertinggl akurasi perhitungan evapotranspirasi potensial dan konsep simpanan air dalam tanah. Neraca air dianalisis atas dasar data meteorologi yang dikumpulkan dari 99 stasiun terpilih. Lima wilayah hidrometeorologi dapat diklasifikasikan: 1) wilayah A dengan ciri tanpa defisit air tahunan, 2) wilayah B dengan ciri tanpa surplus air tahunan dan defisit ~ 200 mm, 3) wilayahC yaitu wilayah transisi yang mempunyai defisit maupun surplus air tahunan, 4) wilayah 0 yang ditandai dengan defisit air tahunan > 200 mm. Diperoleh keterkaitan antara klasifikasi wilayah dengan pengembangan irigasi untuk kepentingan pertanian. Semua komponen neraca air berikut wilayah hidrometeorologi disajikandalam bentuk peta
Pengaruh Konsumsi Tempe Kedelai Hitam terhadap Aktivitas Makrofag dan Kadar Interleukin 1(IL-1) pada Tikus Secara in vivo
Black soybean tempe diet could increase the stimulation index of proliferation T cells, lymphocytes durability of hydrogen peroxide and the enzyme activity of SOD.The purpose of this study was to determine the effect of black soybean tempe consumption on on the activity of macrophages and the levels of IL-1 in rat in vivo. A total of 30 rats were grouped into 5 (five), each group of rats were 6. For 30 days each group was maintained by administering a standard diet and diet plus black soybean tempe flour (25, 50, 75 and 100% instead of casein). After the peritoneal fluid was taken to be used for analysis of macrophages activity and the levels of IL-1. The results showed highe rnumber of black soybean tempe in the feed, the higher the index of phagocytosis and the levels of IL-1. Consumption of black soybean tempe effect on macrophages activity and the levels of IL-1 (p < 0.05). Increased macrophage activity was positively correlated to the amount of IL-1, by 0.9 coefficient of correlation.ABSTRAKDiit tempe kedelai hitam dapat meningkatkan indeks stimulasi prolifersi sel T, meningkat daya tahan limfosit dari hidrogen peroksida dan aktivitas enzim SOD. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh konsumsi tempe kedelai hitam terhadap aktivitas makrofag dan kadar IL-1pada tikus secara in vivo. Sebanyak 30 ekor tikus dikelompokan menjadi 5 (lima), masing-masing kelompok sebanyak 6 ekor tikus. Selama 30 hari masing-masing kelompok dipelihara dengan pemberian diit standar dan diit ditambah tepung tempe kedelai hitam (25, 50, 75 dan 100% sebagai ganti kasein). Setelah itu diambil cairan peritoneal yang akan digunakan untuk analisis aktivitas makrofag dan kadar IL1. Hasil penelitian menujukkan semakin tinggi jumlah tempe kedelai hitam di dalam pakan, semakin tinggi indeks fagositosis dan kadar L-1. Konsumsi tempe kedelai hitam berpengaruh terhadap aktivitas makrofag dan kadar IL-1(p<0,05). Peningkatan aktivitas makrofag berkorelasi positif terhadap jumlah IL-1, dengan koefisien korelasi 0,9
Pengaruh Pengolahan Panas terhadap Konsentrasi Antosianin Monomerik Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas L)
potato (PSP) is one source of antocyanin consisting of 98% acylated anthocyanin of the total anthocyanin content in tuber. Anthocyanin color varies from red, purple, blue to yellow. The color and amount of anthocyanin may change due to heating processings. The purpose of this research was to observe the changes in color and anthocyanin monomeric content in PSP during heat processing of flakes. The other purpose of this reseach was to observe the order kinetics model of effect temperature and time baking on total anthocyanin monomeric of fresh PSP and rehydration PSP flakes. The experimental applied a completely randomized design with three replications. The color and amount of anthocyanin (L * = 23.38 ± 0.71, C = 9.84 ± 0.98, Hue = 12.25 ± 1.61). Total monomeric anthocyanin in fresh PSP was 1.45 ± 0.00 mg cyanidin equivalent (CyE)/g dry basis (db). In general, the color and the amount of PSP anthocyanin changed during the flakes processing. Steamed PSP for 7 minutes turned its color into a bright purple (L * = 25.88 ± 0.47, C = 24.64 ± 0.25, Hue = 348.83 ± 0.33) with the amount of monomeric anthocyanin increased to 3.76 ± 0.01 CyE mg/g db. Flakes PSP was very bright purple (L * = 36.12 ± 0.11, C = 9.97 ± 0.18, Hue = 359.29 ± 0.31) and the amount of monomericanthocyanin was slightly lower than that of steamed sweet potato (3.19 ± 0.12 mg CyE / g db). Total monomeric anthocyanin of fresh PSP and rehydration flakes PSP decrease during baking time.ABSTRAKAntosianin merupakan salah satu kelompok zat warna alami yang terdapat pada tanaman, seperti daun, bunga, umbi, buah atau sayur. Salah satu sumber antosianin pada tanaman adalah ubi jalar ungu (UJU) yang mengandung lebih dari 98% antosianin terasilasi dari konsentrasi antosianin umbi. Warna antosianin bervariasi mulai dari merah, ungu, biru, sampai kuning. Warna dan konsentrasi antosianin dapat berubah karena pengaruh panas. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari perubahan warna dan konsentrasi antosianin monomerik sebagai akibat proses pengolahan dalam pembuatan UJU. Penelitian ini mengkaji juga mengenai model kinetika reaksi pengaruh suhu dan waktu panggang terhadap konsentrasi antosianin UJU segar dan rehidrasi. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan tiga kali ulangan. Warna dan konsentrasi antosianin dari UJU segar, setelah proses pengukusandan setelah menjadi dibandingkan. UJU segar berwarna ungu kecoklatan (L=23,38±0,71, C=9,84±0,98, Hue=12,25±1,61). Konsentrasi antosianin monomerik pada UJU segar adalah 1,45±0,00 mg setara sianidin (CyE)/gbasis kering (bk). Secara umum, warna dan konsentrasi antosianin UJU berubah selama proses pembuatan . UJU yang dikukus selama 7 menit berubah menjadi ungu cerah (L* * =25,88±0,47, C=24,64±0,25, Hue=348,83±0,33) dengan konsentrasi antosianin monomerik meningkat menjadi 3,76±0,01 mg CyE/g bk. UJU berwarna ungu sangat cerah (L =36,12±0,11, C=9,97±0,18, Hue=359,29±0,31) dan konsentrasi antosianin monomerik sedikit lebih rendah dibandingkan ubi jalar setelah dikusus (3,19±0,12 mg CyE/g bk). Jumlah antosianin monomerik UJU segar dan rehidrasi menurun seiring dengan waktu dan suhu pemanggangan
Kebutuhan Air, Efisiensi Penggunaan Air dan Ketahanan Kekeringan Kultivar Kedelai
Water use (WU) and water use efficiency (WUE) provides a simple methods of assessing whether yield is affected by water supply. Drought tolerance cultivars havestable yield under drought. The objective of this study was to asses water use, water use efficiency, and drought tolerance of soybean cultivars. The 18 × 4 factorial experiment was set in a completely randomized design with three replications during May to October 2012 at the Tridharma Research Station Faculty of Agriculture, Gadjah Mada University at altitute 110 m dpl. Eighteen soybean cultivars were assigned as the first factor and four level watering intervals i.e. 1days, 2 days, 4 days and 8 days until field capasity were assigned as the second factor. Data were recorded for water use at 15 days until 56 days after planting andwater use efficiency at 56 days after planting. Data for stress index andstress susceptibility index were calculated at 84 days after planting. Results indicated that Grobogan and Galunggung were identified as drought tolerance cultivars with water use values ranged from 4.87 to 4.98 mm and water use efficiency value 5.16 gram/mm. Burangrang, Kaba, Argomulyo, Panderman, Baluran, Ijen, Petek, Malabar were identified as medium drought tolerance cultivars with water use values ranged from 3.98 to 6.14 mm and water use efficiency values ranged from 3.69 to 5.51 gram/mm. Sibayak, Tanggamus, Anjasmoro, Wilis, Garut, Gepak, Sinabung, and Seulawah were identified as sensitive cultivars with water use values ranged from 5.37 to 5.95 mm and water use efficiency values ranged from 3.49 to 5.60 gram/mm.ABSTRAKKebutuhan air dan efisiensi penggunaan air merupakan cara sederhana untuk mengetahui apakah hasil tanaman dipengaruhi oleh pasokan air. Tanaman tahan kering mengalami penurunan hasil lebih rendah ketika terjadi cekaman kekeringan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kebutuhan air tanaman, efisiensi penggunaan air dan variasi ketahanan kultivar kedelai terhadap cekaman kekeringan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) faktorial 18 x 4 dengan tiga ulangan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei sampai Oktober 2012 di Kebun Tridharma Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada dengan ketinggian tempat 110 m dpl. Faktor pertama adalah kultivar kedelai terdiri atas 18 kultivar dan faktor kedua adalah interval penyiraman terdiri atas 4 taraf yaitu penyiraman 1 hari, 2 hari, 4 hari dan 8 hari sekali sampai kapasitas lapangan. Pengamatan kebutuhan air dilakukan mulai umur 15 hari sampai 56 hari setelah tanam dan efisiensi penggunaan air dilakukan pada umur 56 hari setelah tanam. Perhitungan indeks cekaman dan indeks sensitivitas cekaman dilakukan pada umur 84 hari setelah tanam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kultivar Grobogan dan Galunggung tahan terhadap cekaman kekeringan dengan kebutuhan air antara 4,87 sampai 4,98 mm dan efisiensi penggunaan air 5,16gram/mm. Kultivar Burangrang, Kaba, Argomulyo, Panderman, Ijen, Baluran, Petek, dan Malabar merupakan kultivar yang agak tahan terhadap cekaman kekeringan dengan kebutuhan air antara 3,98 sampai 6,14 mm dan efisiensi penggunaan air antara 3,69 sampai 5,51 gram/mm. Kultivar Sibayak, Tanggamus, Anjasmoro, Wilis, Garut, Gepak Kuning, Sinabung, dan Seulawah merupakan kultivar yang tidak tahan terhadap cekaman kekeringan dengan kebutuhan air antara 5,37 sampai 5,95 mm dan efisiensi penggunaan air antara 3,49 sampai 5,60 gram/mm
Sifat Fisikokimiawi Selulosa Produksi Isolat Bakteri Gluconacetobacter xylinus KRE-65 pada Metode Fermentasi Berbeda
Physicochemical properties of cellulose produced by local bacterial strain Gluconacetobacter xylinus KRE-65 by static and agitated fermentation methods was studied. Cellulose production by G. xylinus KRE-65 was carried out in coconut base medium with static and agitated fermentation methods. The dry weight, morphological and physicochemical properties of bacterial cellulose were compared based on SEM, XRD and FTIR analyses. The results showed that the G. xylinus KRE 65 in the static fermentation produced cellulose higher than agitated fermentation. Static fermentation method produced bacterial cellulose in the sheets form, while agitated fermentation produced fragmented cellulose with predominantly spherical shape. The observation of the surface structure of bacterial cellulose by SEM showed that the static fermentation method generated woven densely cellulose microfibrils, while agitated fermentation significantly changed the surface structure, namely woven microfibrils become more loose with formed larger and higher number of pores. The degree of crystallinity of bacterial cellulose by XRD analysis in static fermentation was 91%, agitated fermentation at 100 rpm was 73% and agitated fermentation at 150 rpm was 72%. FTIR spectra indicated that the pellicles produced by G. xylinus KRE 65 with static and agitated fermentation were found as cellulose. Cellulose produced from both fermentation methods showed different physicochemical properties, therefore they can be applied for different purposes in accordingly.ABSTRAKSifat fisikokimiawi selulosa yang dihasilkan oleh strain lokal bakteri Gluconacetobacter xylinus KRE-65 dengan metode fermentasi statis dan agitatif telah diteliti. Produksi selulosa oleh G. xylinus KRE-65 dilakukan dalam media dasar air kelapa dengan metode fermentasi statis dan agitatif. Selulosa yang dihasilkan selanjutnya dibandingkan berat kering, bentuk morfologi dan sifat fisikokimiawinya menggunakan metode SEM, XRD dan FTIR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa G. xylinus KRE 65 menghasilkan selulosa lebih tinggi pada metode fermentasi statis dibandingkan fermentasi agitatif. Metode fermentasi statis menghasilkan selulosa bakteri yang berbentuk lembaran sedangkan fermentasi agitatif menghasilkan selulosa yang terpecah-pecah dengan bentuk dominan bulat. Pengamatan struktur permukaan selulosa bakteri dengan SEM memperlihatkan bahwa metode fermentasi statis menghasilkan selulosa dengan anyaman mikrofibril yang padat, sedangkan fermentasi agitatif menyebabkan terjadinya perubahan struktur permukaan yaitu melonggarnya anyaman mikrofibril dan terbentuknya pori-pori yang lebih besar dan lebih banyak. Derajat kristalinitas selulosa bakteri dengan analisis XRD pada metode fermentasi statis sebesar 91%, fermentasi agitatif 100 rpm sebesar 73% dan fermentasi 150 rpm sebesar 72%. Spektra FTIR mengindikasikan bahwa pelikel yang dihasilkan oleh G. xylinus KRE 65 pada kedua metode fermentasi tersebut merupakan selulosa. Selulosa yang dihasilkan dari fermentasi statis dan agitatif mempunyai sifat fisikokimiawi yang berbeda sehingga dapat diterapkan dalam aplikasi yang berbeda sesuai dengan sifat fisikokimiawi yang dibutuhkan
Pengaruh Retrogradasi pada Pembuatan Sohun Pati Jagung terhadap Karakteristik Fisikokimia Produk dan Aktivitas Prebiotiknya
The study was aimed to determine the optimal storage time of steamed maize starch noodle that gives the desirable properties along with the prebiotic potential. Noodle was prepared by extrusion of the partially cooked maize starch, followed by steaming the strands, and keeping strands at 4 C at various time (0, 1, 2, and 3 h) to enhance retrogradation, and then drying the noodle. The resulted noodle was characterized for physicochemical properties. To evaluate the prebiotic activity, the noodle was rehydrated, and then hydrolyzed by porcine pancreati 30 U/mg) and amyloglucosidase (enzym activity 300 U/mL) to obtain the resistant starch (RS) Type 3. The prebiotic activity of the RS was analayzed by the relative growth ratios of the probiotic bacterias, i. e. ATCC 15707 and JCM 1551, to the enteric bacteria (IFO 3301) on the for control.The results showed that the longer storage time of the cooked starch noodle strands led to the higher values of hardness and cooking time, but lower cooking loss and swelling index, indicating the different level of retrogradation. Prebiotic activities of the RS obtained from cooked noodle strands kept for 3 h was 0.730 based on the growth rate of the , and 0.041 based on that of the . The score for the ocommercial RSI, commercial RSII and inulin were 1.058; 0.405; and 1.130 based on the growth of respectively. The prebioctic activities onfor the commercial RSI, commercial RS II and inulin were 0.062; 0.066; and 0.076 respectively.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk pati jagung dan mengetahui nilai aktivitas prebiotik produk sebagai hasil pembentukan sifat fungsional prebiotiknya. Penelitian dilakukan dengan perlakuan variasi lama waktu retrogradasi 0, 1, 2 dan 3 jam pada pembuatan sohun terlarut, rehidrasi, rasio pengembangan, elongasi, tekstur, dan kuat patah sohun kering). Hasil analisis dibandingkan dengan sampel komersial dan dipilih produk yang memiliki karakteristik sama dengan produk komersial. Produk terpilih dipreparasi menjadi RS ((30 U/mg) dan enzim amiloglukosidase (300 U/mL), lalu sampel dicuci dengan alkohol 50%, dikeringkan dan disimpan 4 C hingga pemakaian. Analisis nilai aktivitas prebiotik dilakukan dengan menumbuhkan bakteri probiotik (ATCC 15707JCM 1551) dan bakteri enterik (IFO3301) pada media yang mengandung substrat 1% RS sohun teretrogradasi,1% glukosa, 1% RS produk komersial, 1% inulin dan kontrol selama 24 jam pada 37oC. ATCC 15707 diinkubasi pada kondisi anaerobik sedangkan IFO 3301dan JCM 1551 diinkubasi secara aerobik. Nilai aktivitas prebiotik ditentukan berdasarkan pertumbuhan populasi sel bakteri probiotik dan enterik selama 0 dan 24 jam. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan retrogradasi 3 jam pada suhu 4ooC menghasilkan sohun pati jagung dengan mutu yang paling mendekati produk komersial. Pengaruh lama waktu retrogradasi berbeda nyata terhadap kadar air produk akhir, lama pemasakan, totalkehilangan padatan terlarut, rasio pengembangan, dan tekstur. Nilai aktivitas prebiotik sohun pati jagung teretrogradasi 3 jam pada pertumbuhan sebesar 0,730 dan 0,041. Nilai aktivitas prebiotik komersial A,komersial B, dan inulin pada adalah 1,058; 0,405 dan 1,130 sedangkan pada nilai aktivitasnya sebesar 0,062; 0,066; dan 0,076
Preparasi Katalis Abu Kulit Kerang untuk Transesterifikasi Minyak Nyamplung Menjadi Biodiesel
Biodiesel, as a potential substituted energy, has attracted a great attention in recent years, which can be produced from o3 renewable sources and provides complete combustion with less gaseous pollutant emission. Biodiesel is produced conventionally via transesterification of vegetable oils using homogeneous catalysts, e.g. KOH, NaOH, and HaSO4. The homogeneous catalytic process, however, provides some disadvantages, such as, a huge production of wastewater from washing process of catalyst residues and non-reusability of the catalysts. In order to circumvent most of the economical and environmental drawbacks of homogeneous process, heterogeneous catalysts, this can be easily separated from reaction mixture by filtration. These catalysts are less corrosive and more environment-friendly. The objective of this work was to develop the effectivity of using waste of cockle (Clinocardium nuttalli) shell as a heterogeneous base catalyst for the biodiesel production. The catalysts were prepared by simple calcination methods, at temperatures of 600, 700, 900 oC, and without calcination. Calcined catalysts were characterized by X-ray diffraction (XRD) and Scanning Electron Microscopy (SEM) technique. Transesterification process of Calophyllum inophyllum L.oil and o methanol were carried out under bath reactor over the cockle shellcatalysts to produce biodiesel. The XRD patterns depicted that CaCO3 was successfully converted into CaO. SEM recorded demonstrates that the particle catalyst become smaller after heating. The highest activity was found at calcined catalyst of 900 oC, with the yield of biodiesel reaching 87.4% during 3 hours. The solid catalyst from waste cockle shell was proven to be durable for the transesterification of edible oil.ABSTRAKBiodiesel, sebagai sumber energi potensial telah menarik perhatian dalam beberapa tahun terakhir, karena dapat diproduksi dari sumber terbaharukan dan menghasilkan polutan yang rendah. Secara konvensional, biodiesel diproduksi melalui transesterifikasi minyak nabati menggunakan katalis homogen, yaitu: KOH, NaOH, dan H2SO4. Proses katalitik homogen memiliki beberapa kekurangan, seperti: banyak mengeluarkan air buangan dari pencucian residu katalis dan tidak dapat digunakan kembali. Untuk mengatasi kekurangan penggunaan katalis homogen baik secara ekonomi maupun lingkungan ditempuh dengan mengembangkan katalis heterogen atau katalis padat, yang dapat dengan mudah dipisahkan dari campuran reaksi secara filtrasi. Katalis ini juga rendah korosi dan lebih ramah lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas penggunaan abu kulit kerang yang mengandung CaO (kalsium oksida) sebagai katalis heterogen terhadap rendemen biodiesel. Bahan baku untuk pembuatan biodiesel adalah minyak nyamplung. Katalis disiapkan dengan metode kalsinasi sederhana pada temperatur: 600, 700, 900 oC, dan tanpa kalsinasi. Setelah kalsinasi, katalis dikarakterisasi denganmetode X-ray Diffraction (XRD) dan Scanning Electron Microscopy (SEM). Reaksi transesterifikasi minyak nyamplung dengan metanol dilangsungkan di dalam reaktor berpengaduk menggunakan katalis padat dari kulit kerang. Dari pola XRD mengindikasikan bahwa CaCO3 terkonversi dari kulit kerang sempurna menjadi CaO ketika kulit kerang dikalsinasi pada suhu 900 oC. Hasil rekaman SEM diperoleh ukuran partikel katalis setelah dipijar menjadi kecil. Aktivitas katalis tertinggi diperoleh pada penggunaan abu kulit kerang yang dikalsinasi pada suhu 900 oC. Rendemenmetil ester tertinggi mencapai 87,4% setelah 3 jam reaksi. Katalis abu kulit kerang telah terbukti dapat digunakan untuk reaksi transesterifikasi minyak nabati menjadi biodiesel
Optimasi Rendemen Fibroin Ulat Sutera Bombyx mori L. dan Attacus atlas L. dengan Response Surface Methodology
The fibroin extraction process was done base on temperature and time parameters without knowing exactly the rendement been maximum or not. Optimum rendement data are critical to the business feasibility for scaling up to the industrial level. The objective of this research is to obtain the optimum extraction process (degumming) to get the highest fibroin rendement. The method in this research was response surface method (RSM) where NaOH concentration, process temperature and time consumption were chosen to be independent variables. These variables were formulated in the central composite design (CCD) research method at RSM Program with the center point is NaOH 0.1 N, 105 °C for 30 minutes. The weight of fibroin yield (%) being use as a response condition (dependent variable) to get the optimum result of fibroin rendement. The optimum degumming process condition of Bombyx mori are achieved where the NaOH 0.018 N, 110.53 °C temperature degree for 55.51 minutes for a batch time process with the rendement recorded was 71.11 ± 0.98 %. As for “Attacus atlas” the optimum rendement was 83.06 ± 1.50 % achieved at 0.12 N NaOH concentration, process temperature was 79 oC and 42.65 minutes for twice degumming. The best selected fribroin degumming method will lead to the optimum yield achievement. ABSTRAKEkstraksi fibroin dilakukan dengan perlakuan suhu dan waktu tanpa diketahui maksimal atau tidaknya capaian rendemen yang dihasilkan. Padahal data tersebut sangat penting untuk estimasi profitabilitas pada usaha hilir ulat sutera. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formulasi ekstraksi (degumming) yang menghasilkan rendemen fibroin optimum. Metode yang digunakan adalah optimasi ekstraksi fibroin menggunakan Program Response Surface Methodology (RSM) dengan tiga variabel bebas, konsentrasi NaOH, suhu dan waktu. Variabel tersebut diformulasikan dalam rancangan percobaan Central Composite Design (CCD) di Program RSM menggunakan titik pusat NaOH 0,1 N, suhu 105 °C selama 30 menit. Pada rancangan percobaan tersebut, rendemen bobot fibroin (%) digunakan sebagai respon (variabel terikat) untuk menghasilkan kondisi optimum. Kondisi tersebut berupa formulasi variabel bebas yang mengoptimumkan rendemen fibroin. Kondisi optimum Bombyx mori dicapai pada konsentrasi NaOH 0,018 N, suhu 110,53 °C dan waktu 55,51 menit pada satu kali degumming dengan perolehan rendemen fibroin sebesar 71,11 ± 0,98 %. Rendemen fibroin optimum sebesar 83,06 ± 1,50 % pada Attacus atlas dihasilkan dari kondisi optimum NaOH 0,12 N, suhu 79 °C selama 42,65 menit pada dua kali degumming. Metode ekstraksi fibroin yang tepat akan menghasilkan rendemen fibroin yang optimum. The fibroin extraction process was done base on temperature and time parameters without knowing exactly the rendement been maximum or not. Optimum rendement data are critical to the business feasibility for scaling up to the industrial level. The objective of this research is to obtain the optimum extraction process (degumming) to get the highest fibroin rendement. The method in this research was response surface method (RSM) where NaOH concentration, process temperature and time consumption were chosen to be independent variables. These variables were formulated in the central composite design (CCD) research method at RSM Program with the center point is NaOH 0.1 N, 105 °C for 30 minutes. The weight of fibroin yield (%) being use as a response condition (dependent variable) to get the optimum result of fibroin rendement. The optimum degumming process condition of Bombyx mori are achieved where the NaOH 0.018 N, 110.53 °C temperature degree for 55.51 minutes for a batch time process with the rendement recorded was 71.11 ± 0.98 %. As for “Attacus atlas” the optimum rendement was 83.06 ± 1.50 % achieved at 0.12 N NaOH concentration, process temperature was 79 oC and 42.65 minutes for twice degumming. The best selected fribroin degumming method will lead to the optimum yield achievement. ABSTRAKEkstraksi fibroin dilakukan dengan perlakuan suhu dan waktu tanpa diketahui maksimal atau tidaknya capaian rendemen yang dihasilkan. Padahal data tersebut sangat penting untuk estimasi profitabilitas pada usaha hilir ulat sutera. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formulasi ekstraksi (degumming) yang menghasilkan rendemen fibroin optimum. Metode yang digunakan adalah optimasi ekstraksi fibroin menggunakan Program Response Surface Methodology (RSM) dengan tiga variabel bebas, konsentrasi NaOH, suhu dan waktu. Variabel tersebut diformulasikan dalam rancangan percobaan Central Composite Design (CCD) di Program RSM menggunakan titik pusat NaOH 0,1 N, suhu 105 °C selama 30 menit. Pada rancangan percobaan tersebut, rendemen bobot fibroin (%) digunakan sebagai respon (variabel terikat) untuk menghasilkan kondisi optimum. Kondisi tersebut berupa formulasi variabel bebas yang mengoptimumkan rendemen fibroin. Kondisi optimum Bombyx mori dicapai pada konsentrasi NaOH 0,018 N, suhu 110,53 °C dan waktu 55,51 menit pada satu kali degumming dengan perolehan rendemen fibroin sebesar 71,11 ± 0,98 %. Rendemen fibroin optimum sebesar 83,06 ± 1,50 % pada Attacus atlas dihasilkan dari kondisi optimum NaOH 0,12 N, suhu 79 °C selama 42,65 menit pada dua kali degumming. Metode ekstraksi fibroin yang tepat akan menghasilkan rendemen fibroin yang optimum.