agriTECH
Not a member yet
1394 research outputs found
Sort by
A Study On The Sorption Isotherm And Shelf Life of Intermediate-Mosture Banana (IMB)
Water vapour sorption isotherm of intermediate moisture banana (IMB) was studied by means of Saturated salt solution technique at 22.2C. The desoprtion and adsorption isotherms of IMB were sigmoid shape and indicate a hysteresis loop.The self life of IMB based on the hardening phenomena in polyethylene pouch stored at 22.2C and RH 50% and 73% ferpouch was investigated. In a 73% RH chamber, IMB in the package theoretically would never harden to a critical point
Satu Alternatif Cara Hitungan Hujan Bermanfaat Untuk Padi Sawah
Sebuah model matematika untuk menghitung nilai hujan bermanfaat dipergunakan untuk melakukan simulasi. Simulasi bermaksud menyelidiki pengaruh manajemen air terhadap hujan barmanfaat. Dalam hal ini, hujan harian merupakan data dasar. Parameter yang mempengaruhi proses transfer nilai hujan menjadi nilai hujan bermanfaat adalah tinggi pematang sawah. dengan genangan air minimum di petak sawah dan genangan normal sebagai variabel: Manajemen air di petak sawah dicerminkan dengan pengaturan genangan minimum (GEMIN) dan genangan normal (GNOR). Namun karena dalam praktek irigasi dapat dilakukan pengaturan tinggi pemalang sebagai genangan air maksimum (GEMAK). maka studi simulasi cara-cara manejemen air dilakukan dengan merubah-rubah nilai GEMAK. GEMIN, dan GSET. Variabel tersebut digunakan dalam model untuk transfer masukan data hujan menjadi keluaran nilai hujan bermanfaat. Dengan 1400 alternatif masa tanam padi pada kurun waktu 5 tahun data, akhirnya dapat disimpulkan bahwa faktor dominan cerminan pengaruh manajemen air terhadap nilai keluaran hujan bermanfaat (GEMAK - GNOR). Hasil studi yang menarik untuk kasus data hujan di Sempor yaitu pengaruh permulaan masa tanam terhadap nilai hujan bermanfaat musiman yang berubah-ubah dan tahun Ke tahun
Kerentanan Tripsin-Inhibitor Biji Turi Terhadap Panas
Aktivitas tripsin-inhibitor pada biji turi lebih besar daripada aktivitas inhibitor kedelai dan koro, masing-masing adalah 6,06, 4,31, dan 2,41 TIU/gr bahan kering. Pemanasan selama 1 jam, pada suhu 120°C dan tekanan 1 kg/cm3 dapat menurunkan aktivitas tripsin-inhibitor sebesar 74%, sedangkan 1 jam perebusan menurunkan sebesar 47%. Isolasi tripsin-inhibitor secara kromatografis menghasilkan isolat sekitar 20% berat-kering. Pemanasan pada suhu 100°C selama 5 jam menurunkan aktivitas tripsin-inhibitor hasil isolasi sebesar 70%
Identifikasi Bentuk Hubungan Tahanan Penetrasi dan Berat Volume Kering Pada Tanah Pasiran
Pengembangan Irigasi, Produksi Pangan, dan Implikasinya Terhadap Siklus Air
The cereal production especially rice has increased sharply in Indonesia. The irrigation development program implemented by the government has become an important rote in the production process. However, expansion of irrigated paddy lands significantly influence the hydrological regime in its basin. A set of basic indicator for assessing the hydrological implication of the development in a river basin was proposed
Korelasi Antar Beberapa Sifat Sensorik Jubedhe
Jubedhe were prepared from different proportions of raw material analyzed for the sensory characteristics.The result indicated that aroma was the greatest factor effecting the jubedhe acceptability, while texture and color determined the jubedhe acceptability small sweetness did not influence the jubedhe acceptability significantly. Aroma together with texture and colour given influence to the jubedhe acceptability about 67%
Irrigated Agriculture in Indonesia Beyond 2000
Status ketersediaan air irigasi yang makin terbatas, kebijakan swa-sembada pangan (beras), dan keadaan cadangan pangan di dunia dalam dekade terakhir ini telah mewarnai pemikiran dalam menentukan status lahan beririqasi di masa datang. Suatu tinjauan pemikiran telah dilakukan untuk menentukan status lahan irigasi di Indonesia sampai dengan tahun 2000-an dengan mengadakan analisis status teknis. manajemen Irigasi, agro-ekonomis, sosiokultural, dan IIngkungan. Atas dasar analisis yang dilakukan, perspektif lahan beriririgasi di masa datang dapat dinyatakan dengan menyatakan sebagai lima pokok isyu. Keurna pokok isyu tersebut adalah. Kebijakan pilihan pengembangan sektor pertanian. status pulau Jawa sebagai pusat produksi padi. parusipasi sektor swasta/masyarakat dalam manajemen dan pengembangan sistem irigasi, penerimaan konsep satuan pengembangan wilayah sungal dan pilihan teknologi irigasi di masa datang. Pemikiran ini dimaksudkan sebagai salah satu bahan masukan untuk menyusun kebijakan pengembangan irigasi dalam Pembangunan Jangka Panjang Tahap II (PJPT-II)
Aktivitas Fitase Pada Tahap-Tahap Pembuatan Tempe Kara Benguk, Kara Putih, dan Gude Menggunakan Inokulum Rhyzopus oligosporus NRRL 2710
Pada penelitian ini telah dikaji aktivitas fitase pada tahapwhap pembuatan lempe kara benguk, kara putih dan gude menggunakan inokulum Rhizopus oligosporus NRRL 2710. Aktivitas optimum fitase kara benguk dan kara putih pada pH 4,8 dan suhu 60°C, sedangkan aktivitas optimum fitase gude pada pH 5,0 dan suhu 50°C. Aktivitas fitase kara benguk turun setelah perendaman 24 jam, dan mulai awal fermentasi hingga fermentasi 48 jam aktivitasnya naik dari 1,45 menjadi 135,64p mol Pa/mend/m1 enzim atau terdapat kenaikan sebesar 94 kali. Kadar asam fitalnya turun sebesar 54% atau turun dari 0,37 menjadi 0,17% (bk). Aktivitas fitase kara putih turun setelah perendaman 24 jam dan pada awal fermentasi hingga fermenlasi 24 jam aktivitasnya naik, kemudian turun kembali setelah fermenlasi 36 jam. Kadar asam fitatnya turun sebesar 87% atau turun dari 2,59 menjadi 0,34% (bk). Fitase gude selama perendaman 24 jam tidak aktif karena perendaman gude dilakukan setelah perebusan. Namun demikian aktivitas fitase gude naik selama berlangsungnya fermentasi yaitu dari 0 menjadi 223,52 u mol Pa/mend/ml enzim dan kadar asam filat selama pembuatan tempe gude Wan dari 0,45 menjadi 0,17% (bk) Mau turun sebesar 63%