1394 research outputs found

    Pengaruh Suhu Wet Rendering yang Berbeda terhadap Karakteristik Ekstrak Kasar Minyak Ikan Lele (Clarias sp.)

    Get PDF
    Pengolahan minyak isi perut ikan lele dapat meningkatkan nilai ekonomi limbah ikan lele. Wet rendering merupakan metode yang sering digunakan untuk mengekstrak minyak ikan. Metode ini menggunakan panas dan air untuk membantu proses ekstraksi. Perlakuan suhu bertujuan untuk menggumpalkan protein dan merusak membran sel sehingga minyak dapat terekstrak keluar. Adanya air memudahkan pemisahan karena minyak yang terekstrak akan mengapung pada permukaan. Penggunaan suhu ekstraksi berpengaruh terhadap kualitas minyak ikan yang dihasilkan. Suhu ekstraksi yang tinggi menyebabkan penurunan kualitas minyak akibat terjadinya reaksi oksidasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh suhu ekstraksi wet rendering terhadap karakteristik ekstrak kasar minyak isi perut ikan lele dan mengetahui suhu ekstraksi optimum berdasarkan karakteristik ekstrak minyak isi perut ikan lele yang dihasilkan. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan satu faktor yaitu perbedaan suhu ekstraksi wet rendering (80 °C, 90 °C, dan 100 °C) dengan tiga kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi suhu ekstraksi menghasilkan minyak isi perut ikan lele dengan rendemen yang semakin meningkat. Namun, kualitas minyak ikan semakin menurun yang ditunjukkan dengan meningkatnya asam lemak bebas dan angka peroksida, yang berakibat pada penurunan nilai organoleptik, perubahan profil asam lemak dan slip melting point. Suhu 100 °C merupakan suhu ekstraksi terbaik dengan nilai organoleptik 7,87; rendemen 8,57%; slip melting point 37,53 °C; bilangan iod 16,01%; total SFA 42,9%; MUFA 31,8%; PUFA 11,51%; angka asam lemak bebas 2,00%; kadar air 0,56%; dan bilangan peroksida 7,26 meq/kg.Pengolahan minyak isi perut ikan lele dapat meningkatkan nilai ekonomi limbah ikan lele. Wet rendering merupakan metode yang sering digunakan untuk mengekstrak minyak ikan. Metode ini menggunakan panas dan air untuk membantu proses ekstraksi. Perlakuan suhu bertujuan untuk menggumpalkan protein dan merusak membran sel sehingga minyak dapat terekstrak keluar. Adanya air memudahkan pemisahan karena minyak yang terekstrak akan mengapung pada permukaan. Penggunaan suhu ekstraksi berpengaruh terhadap kualitas minyak ikan yang dihasilkan. Suhu ekstraksi yang tinggi menyebabkan penurunan kualitas minyak akibat terjadinya reaksi oksidasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh suhu ekstraksi wet rendering terhadap karakteristik ekstrak kasar minyak isi perut ikan lele dan mengetahui suhu ekstraksi optimum berdasarkan karakteristik ekstrak minyak isi perut ikan lele yang dihasilkan. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan satu faktor yaitu perbedaan suhu ekstraksi wet rendering (80°C, 90°C dan 100°C) dengan tiga kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi suhu ekstraksi menghasilkan minyak isi perut ikan lele dengan rendemen yang semakin meningkat. Namun, kualitas minyak ikan semakin menurun yang ditunjukkan dengan meningkatnya asam lemak bebas dan angka peroksida, yang berakibat pada penurunan nilai organoleptik, perubahan profil asam lemak dan slip melting point. Suhu 100°C merupakan suhu ekstraksi terbaik dengan nilai organoleptik 7,87; rendemen 8,57%; slip melting point 37,53˚C; bilangan iod 16,01%; total SFA 42,9%; MUFA 31,8%; PUFA 11,51%; angka asam lemak bebas 2,00%; kadar air 0,56%; dan bilangan peroksida 7,26 meq/kg

    Rekayasa Teknologi Penyimpanan dengan Atmosfer Termodifikasi untuk Memperpanjang Umur Simpan dalam Penanganan Pascapanen Tomat

    Get PDF
    Tomat adalah salah satu komoditas hortikultura yang bernilai ekonomis tinggi dan berpotensi untuk diekspor. Buah tomat memerlukan penanganan serius, terutama dalam hal peningkatan hasil, mutu, dan penanganan pascapanennya. Salah satu tahapan pascapanen produk segar hasil pertanian yang sangat penting adalah penyimpanan. Penelitian ini bertujuan untuk merancang alat yang mampu mengatur suhu dan memodifikasi komposisi gas di dalam suatu ruangan tertutup (Modified Atmosphere Storage, MAS), melakukan kajian matematis maupun statistika mengenai pengaruh komposisi gas serta variasi suhu udara ruang simpan terhadap berbagai sifat fisik buah tomat dan menentukan kombinasi perlakuan terbaik antara konsentrasi oksigen dan suhu ruang simpan untuk penyimpanan buah tomat. Penelitian dimulai dengan pembuatan peralatan MAS dengan berbagai kelengkapannya. Setelah peralatan MAS jadi, kemudian dilakukan pengujian dengan variasi perlakuan konsentrasi gas O2 3%, 10%, 15%, dan 21% dan suhu ruang MAS 10 °C, 15 °C, dan 28 °C, dengan sampel buah tomat. Pengamatan dilakukan setiap hari selama 15 hari terhadap perubahan kualitas fisik buah tomat yang disimpan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peralatan MAS dapat dibuat dari bahan-bahan yang tersedia dipasaran lokal dengan hasil yang memuaskan. Penurunan konsentrasi gas O2 ruang MAS dapat dilakukan dengan mengalirkan gas N2 kedalam ruang simpan MAS. Kombinasi perlakuan variasi konsentrasi oksigen dan suhu penyimpanan berpengaruh terhadap parameter laju respirasi, susut bobot, total padatan terlarut, pH, dan kekerasan buah. Secara umum kombinasi perlakuan terbaik adalah perlakuan dengan konsentrasi oksigen 10% dan suhu penyimpanan 15 °C.Tomat adalah salah satu komoditas hortikultura yang bernilai ekonomis tinggi dan berpotensi untuk diekspor. Buah tomat memerlukan penanganan serius, terutama dalam hal peningkatan hasil, mutu, dan penanganan pascapanennya. Salah satu tahapan pascapanen produk segar hasil pertanian yang sangat penting adalah penyimpanan. Penelitian ini bertujuan untuk merancang alat yang mampu mengatur suhu dan memodifikasi komposisi gas di dalam suatu ruangan tertutup (Modified Atmosphere Storage, MAS), melakukan kajian matematis maupun statistika mengenai pengaruh komposisi gas serta variasi suhu udara ruang simpan terhadap berbagai sifat fisik buah tomat dan menentukan kombinasi perlakuan terbaik antara konsentrasi oksigen dan suhu ruang simpan untuk penyimpanan buah tomat. Penelitian dimulai dengan pembuatan peralatan MAS dengan berbagai kelengkapannya. Setelah peralatan MAS jadi, kemudian dilakukan pengujian dengan variasi perlakuan konsentrasi gas O2 3%, 10%, 15%, dan 21% dan suhu ruang MAS 10 °C, 15 °C, dan 28 °C, dengan sampel buah tomat. Pengamatan dilakukan setiap hari selama 15 hari terhadap perubahan kualitas fisik buah tomat yang disimpan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peralatan MAS dapat dibuat dari bahan-bahan yang tersedia dipasaran lokal dengan hasil yang memuaskan. Penurunan konsentrasi gas O2 ruang MAS dapat dilakukan dengan mengalirkan gas N2 kedalam ruang simpan MAS. Kombinasi perlakuan variasi konsentrasi oksigen dan suhu penyimpanan berpengaruh terhadap parameter laju respirasi, susut bobot, total padatan terlarut, pH, dan kekerasan buah. Secara umum kombinasi perlakuan terbaik adalah perlakuan dengan konsentrasi oksigen 10% dan suhu penyimpanan 15 °C

    Consumer Behavior Intentions to Purchase Daily Needs through Online Store Channel

    Get PDF
    The inception of the 4.0 industrial era led to the evolution of internet information technology, which significantly changed the business sector’s marketing, transaction, and payment systems into online stores.  This new marketplace is an important business infrastructure used to develop marketing strategies in this technological era. Therefore, it enables companies or enterprises, including those in the retail sector, to remotely sell daily products, such as cooking needs, foods, snacks, beverages, toiletries, and laundries through various online platforms. Furthermore, these companies need to creatively and anticipatively participate in the various trading competition by having an online shopping channel. This study aims to measure consumer behavior intention in using the online store channel to purchase daily needs products in order to determine the influence of convenience and risk transactions on behavioral intentions. Data were obtained from respondents that consistently make use of online stores channel. The result showed that consumers’ ease and convenience during transactions, especially in terms of payment and delivery service, have a positive and significant effect on their attitude and behavioral intention to use online store channel to purchase daily needs products

    Collaborative Strategy for the Supply Chain of Rice: A Case Study on Demak and Sukoharjo Regency, Central Java, Indonesia

    No full text
    The problems associated with rice production in Indonesia appear very complicated, due to poor management of the sufficient national rice stock and various unfavorable public policies. Recently, government’s directives on rice importation instigated polemics from several interests, as a result of inappropriate decisions on general rice production, with possible yearly increment. Therefore, there is need to embrace strategy development to balance demand and supply. The purpose of this study was to analyze the rice supply chain in Demak and Sukoharjo, Central Java Province, in an effort to provide effective and collaborative distribution policies at individual levels. In addition, in-depth interviews were conducted for 98 respondents in a bid to acquire relevant and current information for the conceptual framework development. Furthermore, sampling methodologies, termed purposive and snowballing, were applied, followed by the preparation of interview guidelines. The results showed the farmers obtained the lowest revenue margin among other tiers, while several technical challenges were also identified. Consequently, the activities of middlemen with excessive dominant roles in market price determination, were overemphasized, leading to an inefficient supply chain. Meanwhile, government’s position through the Indonesia Logistics Bureau (BULOG) is assumed to be vulnerable in the control of direct supply from farmers or collectors. Based on this study, intense comprehension of rice supply chain was achieved, with further provision of collaborative strategies towards promoting the balance of demand and supply

    Uji Keaslian Kopi Bubuk Spesialti Arabika Gayo Aceh Menggunakan Spektroskopi UV dan Kemometrika

    Get PDF
    Kopi arabika Gayo merupakan salah satu kopi spesialti dengan indikasi geografis yang menjadi salah satu target pengoplosan. Beras yang jumlahnya sangat banyak tersedia di Indonesia sangat potential menjadi bahan pengoplos kopi Gayo. Pada penelitian ini, kopi bubuk arabika Gayo dioplos atau dicampur menggunakan beras bubuk sangrai dengan kadar pengoplosan sebesar 10-50% (w/w). Sebanyak 197 sampel kopi Gayo murni dan campuran disiapkan sebagai sampel penelitian. Data spektra seluruh sampel diukur menggunakan spektrofotometer UV-visible pada panjang gelombang 200-400 nm. Spektra original ditransformasi menggunakan tiga algoritma yaitu moving average, standard normal variate dan Savitzky-Golay derivative. Model kalibrasi PLS (partial least square) dibangun menggunakan algoritma PLS1 dan divalidasi menggunakan metode validasi t-test. Model kalibrasi PLS terbaik diperoleh untuk spektra transformasi dengan interval 250-390 nm dengan sampel terpilih yaitu tanpa sampel pencilan. RPD (ratio prediction to deviation) dan RER (range error ratio) sebesar 3,87 dan 10,71 diperoleh untuk model kalibrasi PLS terbaik. Prediksi persentase beras dalam campuran kopi Gayo dilakukan dengan menggunakan model kalibrasi PLS terbaik dan menghasilkan prediksi yang bisa diterima dengan nilai bias dan SEP (standard error of prediction) yang rendah

    Karakteristik sifat Fisik Kimia dan Organoleptik Tiwul Instan Protein Tinggi Bersubtitusi Tepung Koro Pedang (Canavalia ensiformis L.)

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh persentase subtitusi tepung koro pedang pada pembuatan tiwul instan protein tinggi terhadap karakteristik fisik, kimia dan organoleptik tiwul instan dan menentukan persentase subtitusi tepung koro pedang yang tepat sehingga dihasilkan tiwul instan yang disukai. Penelitian ini dilakukan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktor tunggal, yaitu persentase subtitusi tepung koro pedang pada pembuatan tiwul instan dan setiap perlakuan dalam penelitian diulang 3 (tiga) kali. Data pengamatan yang didapatkan dianalisis menggunakan uji keragaman (ANOVA) taraf kepercayaan 95% (α≤0,05) dan apabila ada perbedaan yang nyata antar perlakuan (α≤0,05) dilanjutkan dengan uji beda Duncan. Data uji organoleptik dianalisis menggunakan uji chi-square (α≤0,05). Hasil penelitian ini menunjukkan, bahwa peningkatan persentase subtitusi tepung koro pedang menyebabkan peningkatan daya rehidrasi, daya kembang dan kadar protein tiwul instan protein tinggi, namun menyebabkan penurunan terhadap densitas kamba, kecerahan warna dan  kadar air tiwul instan protein tinggi yang dihasilkan. Uji organoleptik kesukaan panelis didapatkan persentase tertinggi pada perlakuan P3 (persentase subtitusi tepung koro pedang 30% ) dengan atribut memiliki daya rehidrasi 347%, densitas kamba 0,51 g/mL, daya kembang 35,14%, kecerahan warna 69,87, kadar air 6,05%, dan kadar protein 8,15%, serta persentase kesukaan warna, aroma, rasa, tekstur, dan kekenyalan berturut turut 56, 40, 62, 68, dan 64%.The purpose of this study was to develop high protein instant tiwul products substituted with jack bean flour, as an alternative solution to support food security. The research method used a single completely randomized design factor, which is the variation of jack bean flour substitution in the manufacture of high protein instant tiwul, each treatment was repeated 3 times. The data obtained were analyzed using diversity analysis test, and if there were significant differences in the treatment followed by the DMRT test, while the organoleptic data were tested using chi-square analysis. The results obtained from this study are: 1) Increased substitution of jack bean flour causes an increase in rehydration power, growth power and instant tiwul protein levels, but causes a decrease in the density of cages, lightness and moisture content of instant tiwul produced.; 2) Based on the panelist preference test, the highest percentage was found in treatment P3 (jack bean flour substitution of 30%) with attributes having 347% rehydration, kamba density 0.51 g / ml, swelling power 35.14%, lightness 69.87 , moisture content of 6.05%, and protein content of 8.15%, and the percentage of preference for color, aroma, taste, texture, and elasticity were 56, 40, 62, 68 and 64% respectively. 

    Formulasi dan Uji Sensori Produk Bumbu Penyedap Berbasis Jamur Tiram (Pleurotus ostreatus)

    Get PDF
    Monosodium glutamate (MSG) is used as flavour enhancer in food preparation. The regulations in Indonesia didn’t mention the maximum limit for using MSG. This resulted in the pro and contra regarding the side effects of MSG. On the other hand, complex process of fermentation, purification and crystallization were needed to make MSG. These various things led to the thought of finding alternative flavour enhancers that were relatively safer with simpler processes. The previous study has shown that oyster mushroom (Pleurotus ostreatus) was potential to be develop into a flavouring product as an alternative of MSG. Product formulations was needed to produce the accepted products by taste and economic. Sensory test was needed in the product development process to determine the panellists acceptance of the product. This study aims to provide the panellist preference for sensory tests. This study was an observational laboratory study, conducted on June 2018-April 2019, at Laboratorium Gizi/Kulinari, Universitas Respati Yogyakarta. The 1st sensory test was carried out to know the difference between the oyster mushroom-based flavouring formula and MSG, and the panelists preference level of the formula. The flavouring formula in the 2nd sensory test was made by adding a combination of sugar and salt. The 2nd phase of sensory test was carried out to find out the most acceptance formula by the panellists. Each sample was dissolved in warm water, then 30 ml for each sample was served. The basic ingredients of this formula were oyster mushroom flour which were prepared by soaking in 6.25 ppm of sodium bisulfite solution for 10 minutes, followed by cabinet drying with temperature of 50ºC for 30 hours. Formula 403 is the best flavouring formula based on sensory test results. Future studies can consider products using for food processing in the food service.Jamur tiram mengandung asam glutamat yang tinggi sehingga potensial untuk dikembangkan menjadi bumbu penyedap pengganti monosodium glutamate (MSG). Pengembangan formulasi produk diperlukan untuk menghasilkan produk yang dapat diterima masyarakat dari segi cita rasa maupun secara ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formulasi yang dapat dikembangkan menjadi bumbu penyedap berbasis jamur tiram. Penelitian ini merupakan penelitian observasional laboratory, pada Juni 2018 - April 2019. Bahan dasar formula produk penelitian ini adalah tepung jamur tiram (Pleurotus ostreatus) yang dipreparasi dengan perendaman dalam larutan natrium bisulfit 6,25 ppm selama 10 menit, dilanjutkan dengan pengeringan menggunakan cabinet dryer dengan suhu 50 °C selama 30 jam. Penentuan formulasi terbaik dilakukan melalui dua tahap uji sensori. Uji sensori tahap I meliputi uji pembedaan dan uji hedonik, dengan menggunakan dua sampel formula tepung jamur dan produk MSG sebagai kontrol. Semua sampel dilarutkan dalam air hangat, kemudian disajikan masing-masing sebanyak 30 mL. Penilaian tingkat kesukaan menggunakan parameter warna, aroma, rasa, dan penilaian secara keseluruhan. Analisis data menggunakan uji Chi Square, sedangkan analisis data pada uji hedonik menggunakan uji Mann-Whitney. Data dianalisis menggunakan software statistik SPSS Statistic 21. Penelitian ini melibatkan sejumlah 20-30 panelis tidak terlatih. Hasil uji sensori pada tahap I digunakan sebagai kontrol pada uji sensori tahap II. Formulasi produk lainnya dibuat dengan substitusi kombinasi gula-garam dengan perbandingan tepung jamur tiram, garam, dan gula masing-masing 5:2:1 dan 5:3:2 (b/b/b). Analisis data secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk diagram. Hasil penilaian tingkat kesukaan panelis menunjukkan nilai tertinggi pada formula dengan perbandingan tepung jamur, gula, dan garam sebesar 5:3:2 (b/b/b), sehingga formuli ini dapat dikembangkan menjadi produk bumbu penyedap berbasis jamur tiram

    Potensi Limbah Cair Batik sebagai Sumber Bioenergi (Studi Kasus di UKM Batik Blimbing Malang)

    Get PDF
    Batik merupakan salah satu produk kebanggaan bangsa Indonesia, yang umumnya diproduksi oleh usaha kecil menengah (UKM). Peningkatan permintaan batik mendorong adanya peningkatan jumlah UKM batik serta jumlah limbah cair batik yang dihasilkan. Masih banyak UKM batik yang membuang limbah cairnya langsung ke lingkungan yang berpotensi menimbulkan pencemaran pada tanah dan air. Hal ini disebabkan oleh belum adanya fasilitas pengolahan limbah yang memadai, sesuai dengan kondisi yang dialami oleh UKM Batik Blimbing Malang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi pengolahan limbah cair batik secara anaerobik untuk memproduksi biogas sebagai sumber energi terbarukan. Pada penelitian ini digunakan teknologi anaerobic digestion yang dioperasikan secara batch dengan kondisi mesofilik (37 °C) tanpa pengadukan, dikenal sebagai uji biochemical methane potential (BMP) dengan waktu pengamatan selama 28 hari. Sampel yang diuji meliputi penambahan 100% limbah cair batik dengan berbagai variasi volume. Hasil penelitian menunjukkan bahwa limbah cair batik memiliki kandungan bahan pencemar organik yang tinggi, yaitu sebesar 8.651 mg/L (BOD) dan 54.700 mg/L (COD). Hasil uji BMP juga menunjukkan rendahnya biogas yang dapat diproduksi dari limbah cair batik. Kondisi ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain tingginya kandungan COD, ammonia, zat pewarna beracun, dan nisbah C/N yang berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan mikroorganisme.Batik merupakan salah satu produk kebanggaan bangsa Indonesia, yang umumnya diproduksi oleh usaha kecil menengah (UKM). Peningkatan permintaan batik mendorong adanya peningkatan jumlah UKM batik serta jumlah limbah cair batik yang dihasilkan. Masih banyak UKM batik yang membuang limbah cairnya langsung ke lingkungan yang berpotensi menimbulkan pencemaran pada tanah dan air. Hal ini disebabkan oleh belum adanya fasilitas pengolahan limbah yang memadai, sesuai dengan kondisi yang dialami oleh UKM Batik Blimbing Malang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi pengolahan limbah cair batik secara anaerobik untuk memproduksi biogas sebagai sumber energi terbarukan. Pada penelitian ini digunakan teknologi anaerobic digestion yang dioperasikan secara batch dengan kondisi mesofilik (37 °C) tanpa pengadukan, dikenal sebagai uji biochemical methane potential (BMP) dengan waktu pengamatan selama 28 hari. Sampel yang diuji meliputi penambahan 100% limbah cair batik dengan berbagai variasi volume. Hasil penelitian menunjukkan bahwa limbah cair batik memiliki kandungan bahan pencemar organik yang tinggi, yaitu sebesar 8.651 mg/L (BOD) dan 54.700 mg/L (COD). Hasil uji BMP juga menunjukkan rendahnya biogas yang dapat diproduksi dari limbah cair batik. Kondisi ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain tingginya kandungan COD, ammonia, zat pewarna beracun, dan nisbah C/N yang berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan mikroorganisme

    Effects of Hedysarum coronarium L. (sulla) as a Green Manure along with Nitrogen Fertilizer on Maize Production

    Get PDF
    Green manure as a source of soil organic matter is an important indicator of potential agricultural ecosystems capable of preventing erosion, reducing runoff, increasing soil permeability, improving ventilation, ameliorating the temperature, and enhancing the function of microorganisms. Therefore, to investigate the effects of green manure Sulla (Hedysarum coronarium) and nitrogen fertilizer on maize yield in Kermanshah, an experiment was carried out as split-plot in a randomized complete block design with 3 replications. The main factor was the use of Sula in two levels, namely application and non-application, while, the sub-factor was the application of N fertilizer at four levels of zero, 200, 400 and 500 kg/ha. The highest leaf area index was observed by 400 kg/ha N application along with green manure. Grains per ear determined using green manure and nitrogen fertilizer at levels of 0, 200, 400 and 500 kg/ha increased by 8, 10, 15, and 15%, respectively. The result showed that the Sulla green manure treatment increased the grain yield by 10% compared to the control treatment. Furthermore, the highest grain yield was obtained under two treatments of 400 and 500 kg N/ha which was significantly different from other levels of N applications. The application of green manure application also increased the maize protein content by 8% with a rise in the highest levels of nitrogen fertilizer. Meanwhile, the application of Sulla as a green fertilizer or pre-planting had a positive impact on increasing soil organic matter and maize yield. Therefore, cultivation of Sulla can be considered a positive task towards sustainable agriculture

    Ekstraksi Antosianin dari Kulit Buah Naga (Hylocereus costaricensis) dan Pemanfaatannya sebagai Indikator Alami Titrasi Asam-Basa

    Get PDF
    Kulit buah naga memiliki kandungan senyawa golongan flavonoid, salah satunya adalah antosianin. Antosianin ini dapat berubah warna seiring berubahnya nilai pH sehingga dapat diaplikasikan sebagai indikator asam-basa. Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh ekstrak kulit buah naga yang memiliki kandungan antosianin di dalamnya dan memanfaatkannya sebagai indikator titrasi asam-basa, serta menentukan trayek pH dari indikator alami yang diperoleh tersebut. Ekstrak diperoleh melalui ekstraksi dengan 3 variasi pelarut, yaitu aquades, campuran aquades-asam sitrat, dan campuran etanol-asam sitrat. Ekstrak yang diperoleh diuji kandungan senyawa, kestabilan, trayek pH, dan kinerjanya sebagai indikator titrasi asam-basa. Hasil identifikasi menunjukkan ekstrak kulit buah naga mengandung senyawa golongan flavonoid. Ekstrak kulit buah naga mempunyai trayek pH pada kisaran pH 7,33-9,33 sehingga dapat diaplikasikan sebagai indikator pada titrasi asam-basa. Penggunaan ekstrak kulit buah naga sebagai indikator pada titrasi asam kuat-basa kuat (HCl-NaOH) menghasilkan persen kesalahan teoritis titrasi sebesar +0,0041%, sedangkan pada titrasi asam lemah-basa kuat (CH3COOH-NaOH) sebesar -0,0275%. Ekstrak pekat kulit buah naga relatif stabil dan masih layak digunakan sebagai indikator titrasi asam-basa dengan hasil yang akurat setelah penyimpanan ekstrak selama 30 hari dalam botol tertutup dan suhu rendah. Berdasarkan hasil ini, ekstrak kulit buah naga dapat dimanfaatkan sebagai alternatif indikator sintetis yang umum digunakan pada titrasi asam-basa di laboratorium.Kulit buah naga memiliki kandungan senyawa golongan flavonoid, salah satunya adalah antosianin. Antosianin ini dapat berubah warna seiring berubahnya nilai pH sehingga dapat diaplikasikan sebagai indikator asam-basa. Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh ekstrak kulit buah naga yang memiliki kandungan antosianin di dalamnya dan memanfaatkannya sebagai indikator titrasi asam-basa. Ekstrak diperoleh melalui ekstraksi dengan 3 variasi pelarut, yaitu aquades, campuran aquades-asam sitrat, dan campuran etanol-asam sitrat. Ekstrak yang diperoleh diuji kandungan senyawa, kestabilan, trayek pH, dan kinerjanya sebagai indikator titrasi asam-basa. Hasil identifikasi menunjukkan ekstrak kulit buah naga mengandung senyawa golongan flavonoid. Ekstrak kulit buah naga mempunyai trayek pH pada kisaran pH 7,33-9,33 sehingga dapat diaplikasikan sebagai indikator pada titrasi asam kuat-basa kuat atau asam lemah-basa kuat. Penggunaan ekstrak kulit buah naga sebagai indikator pada titrasi asam kuat-basa kuat (HCl-NaOH) menghasilkan persen kesalahan teoritis titrasi sebesar +0,0041%, sedangkan pada titrasi asam lemah-basa kuat (CH3COOH-NaOH) sebesar -0,0275%. Ekstrak pekat kulit buah naga relatif stabil dan masih layak digunakan sebagai indikator titrasi asam-basa dengan hasil yang akurat setelah penyimpanan ekstrak selama 30 hari dalam botol tertutup dan suhu rendah. Berdasarkan hasil ini, ekstrak kulit buah naga dapat dimanfaatkan sebagai alternatif indikator sintetis yang umum digunakan pada titrasi asam-basa di laboratorium

    861

    full texts

    1,394

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    agriTECH
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇