355 research outputs found

    Effect of Urea and SP-36 on the Growth of Grafted Rubber Seedling (Hevea brasiliensis Muell.Arg.) Clone PB 260

    No full text
    This study was conducted from February s / d May at the Institute for Agriculture and Technology (BPTP) East Kalimantan, this study aims to look at the different types of growing medium and the addition of TSP fertilizer in cultivation of oyster mushroom (Pleurotas astreatus) [Jacq FR] Kummer) .This research used Completely Randomized Design (CRD) factorial with two factors, factor 1: type of planting medium consisting of 2 treatment levels, namely (1. Straw Rice, 2. Powder Saws), 2: Type of fertilizer treatments consisting of 1 level namely (1. controls, 2. TSP 0.2%, 3. TSP 0.4%, 4. TSP 0.6%). Each treatment loaded with 5 replicates the data obtained were analyzed with ANOVA and if significant then further tested by using Duncan C DMRT at 95% confidence level, while the relationship between the effect of concentration (treatment) with the observed parameters analyzed with regression Simple linear. Parameters measured were emerging mycelium first time (hst), mycelium meets media (HST) initial appearance of the fruiting bodies (hst), the time of harvest, the number of fruiting bodies, hoods maximum width, stem length fruiting bodies, and the weight of the fruit.Results indicate that the rice straw media with TSP fertilizer as much as 0.6% on average produce mycelium formed fastest time is 3 DAT (Days After Planting, average fruit weight of 103.74 grams.Compared with sawdust medium with fertilizer TSP as much as 0.6% on average produce mycelium formed fastest time is 7 HST average body weight of 105.64 grams of fruit.Conclusions obtained from the results of the study showed that the rice straw media faster than the appearance of mycelium on sawdust media. But for a number of shoots on media more than the media sawdust rice straw

    Effect of Urea and SP-36 on the Growth of Grafted Rubber Seedling (Hevea brasiliensis Muell.Arg.) Clone PB 260

    Get PDF
    The aim of research to determine the effect of urea and SP-36 fertilizer as well as their interaction on the graftedrubber seedling growth, and to find appropriate doses of urea and SP-36 fertilizers for better growth of grafted rubber seedlings.The research was conducted from February 2015 until May 2015 in the village of Empas, Sub District of Melak, West Kutai Regency, East Kalimantan Province.The study design used was completely randomized design (CRD) in a factorial 4 x 4, and repeat 3 times, which comprises two factors research. The first factor was Urea (N), consisted of four levels, namely: no urea application or control (n0), 2,5g/polybag (n1), 5g/polybag (n2), and 7,5g/polybag (n3).  The second factor was SP-36 fertilizer (P), consisting of 4 levels, namely: no SP-36 fertilizers application or control (p0), 2,5g/polybag (p1), 5g/polybag (p2), and 7,5g/polybag (p3).The results showed that the treatment of urea (N) affects highly significant on the plant height at ages of 2, 3 and 4 months after grafting, number of leaf at 4 months after grafting and stem diameter at 3 and 4 months after grafting. It affected significantly on the number of leaf at 3 months after grafting.  But it did not affect significantly on the number of leaf at 2 months after grafting, and stem diameter at 2 months after grafting.SP-36 fertilizer treatments (P) affected very significantlyon the stem diameter at 3 and 4 months after grafting.  It affected significantly on the plant height at 4 months after grafting. But it did not affect significantly on the seedling height at 2 and 3 months after grafting, number of leaves at 2, 3 and 4 months after grafting, and stem diameter at 2 months after grafting.The interaction treatment (NXP) affected significantly on the stem diameter at 4 months after grafting.  But it did not affect significantly on the seedling height at 2, 3 and 4 months after grafting, number of leaves at 2, 3 and 4 months after grafting, and stem diameter at 2 and 3 months after graftin

    ANALISIS PELUANG USAHA BAGI HASIL HUTAN TANAMAN JENIS Eucalyptus pellita F. Muell DAN Acacia mangium Willd DI KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui riap pertumbuhan, tingkat pengembalian nominal dan kelayakan keuntungan profit sharing pengelolaan hutan tanaman Jenis Eucalyptus pellita F. Muell dan Acacia mangium Willd di Kabupaten Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur. Analisis pertumbuhan riap dan produksi menggunakan metode riap MAI dan CAI pada perhitungan total volume, diameter dan tinggi pohon, serta untuk profit sharing menggunakan analisis kelayakan i (tingkat pengembalian nominal). Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi/pertumbuhan Eucalyptus pellita F. Muell mencapai riap yang optimal pada umur 5 tahun dengan total volume sebesar 156,53 m3/ha, riap MAI mencapai 31,31 m3/ha/thn dan CAI 31,35 m3/ha/thn sedangkan jenis Acacia mangium Willdmencapai riap yang optimal pada umur 5 tahun dengan total volume sebesar 150,22 m3/ha, riap MAI mencapai 30,04 m3/ha/thn dan CAI 30,50 m3/ha/thn. Analisis tingkat pengembalian nominal dan peluang usaha bagi hasil berbasis ekonomi konvensional Eucalyptus pellita F. Muelldengan sistem bagi hasil masing-masing mendapatkan 50% baik untuk investor maupun pengelola menghasilkan tingkat pengembalian nominal sebesar 49,49%. Analisis tingkat pengembalian nominal dan peluang usaha bagi hasil berbasis ekonomi konvensional jenis Acacia mangium Willddengan sistem bagi hasil masing-masing 50% untuk investor dan pengelola menghasilkan tingkat pengembalian nominal sebesar 48,26%.Tanaman jenis Eucalyptus pellita F. Muelldan Acacia mangium Willdsama-sama layak untuk diusahakan karena nilai tingkat pengembalian nominalnya lebih besar daripada tingkat bunga minimal yang diterima oleh investor (MAR)

    The Response of Lettuce (Lactuca sativa L.) to The Types and Application Time of Agroprobiotic Fertilizer

    Get PDF
    The Response of Lettuce (Lactuca sativa L.) to The Types and Application Time of Agroprobiotic Fertilizer. Agroprobiotic fertilizer as an alternative of organic fertilizer is expected to reduce the use of chemical fertilizers.  The aim of the study was to determine:  (1) the best type of agroprobiotic fertilizer; (2) the best application time; (3) interaction between the two factors on the growth and yield of lettuce. The study was conducted from May until July 2018 at  Faculty of Agriculture, Mulawarman University.  The research was 5x2 factorial experiment arranged in Completely Randomized Design with six time replications.  The first factor was the types of agroprobiotic fertilizer, namely: Maknyus; Cimelati; Mayas Putih; Keriting; and Hitam rice. The second factor was the application time of fertilizer, consisted of: in the morning (at 07.00-08.00) and in the afternoon (at 17.00-18.00).  The variables observed consisted of: the increment of plant height and number of leaves increment at 14; 28; 42 days after treatment (DAT); and at harvest time, fresh weight, and leaves area. Data were analyzed by analysis of variance and continued with the Least Significant Difference (LSD) test at 5% level. The results showed that the types of agroprobiotic fertilizer and the interaction between the two factors had no significantly different on the growth and yield of lettuce.  Agroprobiotic fertilizer from Mayas Putih rice showed the better growth and yield than others. The best time for application of fertilizer was in the morning, it showed significantly different on the increment of plant height at harvest time

    ANALISIS KARAKTERISTIK SIFAT KIMIA TANAH PADA LAHAN ORIGINAL PRA TAMBANG DAN LAHAN REVEGETASI PASCA TAMBANG BATU BARA DI PT TRUBAINDO COAL MINING KABUPATEN KUTAI BARAT PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

    Get PDF
    Tujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui karakteristik sifat kimia tanah pada lahan original pra tambang dan pada lahan revegetasi pasca tambang yang mengalami ketidaknormalan petumbuhan tanaman dan yang pertumbuhannya normal.Metode penelitian menggunakan metode purposive sampling yaitu pengambilan sampel yang didasarkan pada pertimbangan umur pengolahan lahan revegetasi pasca tambang dengan jenis tanaman Jabon (Anthocephalus cadamba). Pengambilan sampel tanah mengikuti metode standar Food and Agriculture Organization (FAO 1976) yaitu pada kedalaman 0-30 dan 30-60 cm pada setiap titik pengamatan, selanjutnya dianalisis sifat kimia tanahnya dan akan dibandingkan. Analisis sifat kimia tanah dilakukan di Laboratorium Tanah Pusat Studi Reboisasi Hutan Tropika Humida (PUSREHUT), Fakultas Kehutanan, Universitas Mulawarman Samarinda.Berdasarkan hasil analisis sifat kimia tanah pada lahan original pra tambang dilokasi penelitian pada umumnya mempunyai nilai pH yang sangat rendah berkisar antara (4,12-3,71 H2O), C-organik sedang hingga sangat rendah berkisar antara (2,42-0,22 %), nitrogen rendah hingga sangat rendah berkisar antara (0,18-0,05 %), fosfor sangat rendah berkisar antara (4,27-0,22 ppm), kalium rendah hingga sangat rendah berkisar antara (0,15-0,07 meq/100 gr), natrium sangat rendah berkisar antara (0,02-0,01 meq/100 gr), magnesium rendah hingga sangat rendah berkisar antara (0,25-0,03 meq/100 gr), kalsium sangat rendah berkisar antaraa (0,14-0,04 meq/100 gr), kapasitas tukar kation sangat rendah berkisar antara (9,96-3,04 meq/100 gr), kejenuhan basa sangat rendah berkisar antara (8,11-2,08 %) dan kejenuhan aluminium yang tinggi hingga sangt tinggi berkisar antar (56,59-72,26 %).Adapun sifat kimia tanah pada lahan revegetasi pasca tambang dilokasi penelitian baikpada tanaman yang mengalami ketidaknormalan pertumbuhan dan yang pertumbuhanya normal tidak memiliki perbedaan yang signifikan kecuali magnesium yang mempunyai nilai tergolong sedang dan kejenuhan basa mempunyai nilai yang tergolong tinggi pada tanaman yang pertumbuhanya normal,berikut rinciannya nilai pH berkisar antara (4,09-4,53 H2O), C-organiK berkisar antara (0,44-1,27 %), nitrogen berkisar antara (0,08-0,10 %), fosforberkisar antara (0,22-2,50 ppm), kalium berkisar antara (0,11-0,15 meq/100 gr), natrium berkisar antara (0,00-0,02 meq/100 gr), magnesium berkisar antara (0,15-1,89 meq/100 gr), kalsium berkisara antara (0,05-1,29 meq/100 gr), KTK berkisar antara (4,50-6,12 meq/100 gr), dan kejenuhan aluminium berkisar antara (23,76-76,83).

    POTENSI TEGAKAN TINGKAT TIANG DAN POHON DI AREAL KHDTK HUTAN DIKLAT LOA HAUR KECAMATAN LOA JANAN KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

    Get PDF
    Kegiatan Penataan Hutan Diklat diperlukan untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai potensi hutan diklat yang akan dikelola. Dari Hasil kegiatan penataan tersebut akan diperoleh potensi mengenai keadaan hutan, topografi, iklim serta keadaan masyarakat yang ada di dalam dan sekitar hutan, yang mana data tersebut nantinya akan dipergunakan sebagai dasar dalam menyusun pengelolaan hutan lebih lanjut sesuai dengan kondisi lapangan dan program diklat yang akan dilaksanakan.Tujuan dari Penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi tegakan tingkat Tiang di areal KHDTK Hutan Diklat Loa Haur Balai Diklat LHK Samarinda, Mengetahui potensi tegakan tingkat Pohon di areal KHDTK Hutan Diklat Loa Haur Balai Diklat LHK Samarinda dan Mengetahui keanekaragaman jenis tegakan yang mendominasi areal KHDTK Hutan Diklat Loa Haur Balai Diklat LHK Samarinda. Metode yang digunakan dalam Penelitian dan pengambilan data di lapangan adalah dengan menggunakan teknik purposive sampling. Adapun metode pengujian Potensi Tegakan dengan menggunakan Rumus Total Volume dalam satuan Kubikasi dimana parameter yang diukur meliputi  Diameter tegakan, Tinggi tegakan dan jumlah Populasi keseluruhan Plot penelitian.Sedangkan untuk nilai keanekaragaman jenis dihitung dengan menggunakan rumus Nilai Indeks Keragaman Shannon-Wiener 1992.Hasil yang didapatkan berdasarkan  rekapitulasi dari 5 plot sampel penelitian seluas 26 Ha dengan Intensitas Sampling sebesar 5% pada Areal KHDTK Hutan Diklat Loa Haur diperoleh hasil bahwa Potensi tegakan tingkat Tiang sebesar 111 m3 dengan jumlah populasi sebanyak 1.159 tegakan atau sama dengan 4,269 m3/ha dengan populasi 45 tegakan/ha. Sedangkan pada tingkat Pohon diperoleh potensi sebesar 189,7 m3 dengan jumlah populasi sebanyak 497 tegakan atau sama dengan 7,30 m3/ha dengan populasi 19 tegakan/ha.Nilai indeks keanekaragaman H’ pada kelompok jenis Meranti tingkat Tiang sebesar 2,14 dan tingkat pohon sebesar 1,72. pada kelompok jenis Rimba Campuran Nilai indeks Keanekaragaman tingkat Tiang sebesar 1,98 dan tingkat Pohon sebesar 2,31. Baik untuk Kelompok Meranti dan Kelompok Rimba Campuran Nilai Indeks Keanekaragaman H’ masih termasuk dalam kategori Sedang. Pada kelompok Kayu Indah nilai indeks Keanekaragaman tingkat Tiang sebesar 1,20 dan tingkat Pohon 0,94 nilai H’ pada kelompok jenis ini nilai indeks keanekaragamannya masih tergolong dalam kategori.Dan berdasarkan hasil penelitian terhadap 5 plot sampel seluas 26 Ha dengan intensitas sampling 5% diketahui bahwa tegakan yang memiliki nilai indeks keanekaragaman tertinggi baik untuk tingkat Tiang dan Pohon adalah jenis Mahang (Macaranga sp), dimana untuk tegakan tingkat Tiang diperoleh jumlah tegakan sebanyak 312 tegakan dengan nilai indeks keanekaragaman 0,153, sedangkan tegakan tingkat Pohon dengan jumlah tegakan sebanyak 94 pohon nilai indeks keanekaragamannya sebesar 0,137, dan nilai indeks keanekaragaman ini masih termasuk dalam kategori

    PERTUMBUHAN TANAMAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) DI PEMBIBITAN UTAMA DENGAN PEMBERIAN Trichoderma KOMPOS DAN PUPUK MAJEMUK LENGKAP

    Get PDF
    Tujuan penelitian untuk mengetahui interaksi antara pemberian Trichoderma kompos dan konsentrasi Gandasil D, serta mengetahui perlakuan Trichoderma kompos dan konsentrasi Gandasil D yang memberikan pertumbuhan tanaman kelapa sawit terbaik di pembibitan utama. Penelitian dilaksanakan sejak bulan September 2018 sampai Januari 2019, di Perumahan Universitas Mulawarman, Batu Besaung, Sempaja.Hasil penelitian diperoleh pada variabel pengamatan, yaitu: tinggi tanaman, lingkaran bonggol, jumlah pelepah daun, dan panjang pelepah daun. Interaksi antara Trichoderma kompos dan Konsentrasi Gandasil D menunjukan berbeda tidak nyata terhadap semua variabel pengamatan. Trichoderma kompos menunjukan berbeda sangat nyata terhadap jumlah pelepah daun umur 4 Minggu Setelah Perlakuan (MSP) dan berbeda yang nyata pada umur 12 MSP tetapi berbeda tidak nyata terhadap variabel pengamatan lain. Kompos 500 g tanaman-1 memberikan pertumbuhan terbaik bagi tanaman kelapa sawit. Konsentrasi Gandasil D menunjukan berbeda nyata terhadap jumlah pelepah daun pada  umur 2 dan 6 MSP, berbeda sangat nyata pada umur 4 MSP, tetapi berbeda tidak nyata terhadap variabel pengamatan yang lain Konsentrasi 6 g Gandasil D L-1 air  memberikan pertumbuhan terbaik bagi tanaman kelapa sawi

    ANALISIS REGIONAL SUBSEKTOR PERIKANAN WILAYAH PESISIR KOTA BALIKPAPAN PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

    Get PDF
    Sumber daya perikanan adalah potensi yang membutuhkan pengembangan dalam pengembangan ekonomi regional, terutama di Balikpapan, mengingat wilayah pesisir dan lautnya. Potensi sumber daya perikanan sebagai sumber daya terbarukan dapat menjadi sumber ekonomi alternatif dalam mewujudkan tujuan dan sasaran pembangunan ekonomi di Balikpapan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Basis ekonomi sektor perikanan dalam meningkatkan ekonomi regional Balikpapan; (2) Efek pengganda pendapatan sektor perikanan terhadap peningkatan ekonomi regional Balikpapan; (3) Pindah shift positif dan negatif di sektor perikanan di Kalimantan Timur dan Balikpapan.Penelitian ini dilakukan di wilayah pesisir Balikpapan menggunakan data dari Biro Pusat Statistik Balikpapan dan Departemen Pertanian, Perikanan dan Pangan pada tahun 2010-2017. Data dianalisis dengan menggunakan Location Quotient (LQ) Analysis, Income Multiplier Effects, dan Shift Share Analysis (SSA).Hasil analisis menunjukkan bahwa: 1) Sektor Perikanan di Kota Balikpapan adalah sektor non-basis dengan nilai LQ 0,29 - 0,36 pada 2010 - 2017, (2) Nilai efek pengali adalah -219,70, mencapai 658,59 pada tahun 2016, dan terendah adalah -219,70 pada tahun 2017 (3) Nilai SSA -0,28 menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi sektor perikanan di tingkat Provinsi Kalimantan Timur dikombinasikan dengan sektor perikanan Kota Balikpapan pada periode 2010 - 2017 relatif lambat atau regresif. Sedangkan untuk net shift (Pb), perekonomian Balikpapan dengan nilai Pb = 1,03 menunjukkan bahwa sektor ekonomi dikategorikan sebagai cepat dan kompetitif dengan Kabupaten/Kota lai

    KESESUAIAN TIGA JENIS PADI LOKAL PADA LAHAN PERLADANGAN GILIR BALIK DI DESA SETULANG

    No full text
    Perladangan gilir balik (shifting cultivation) merupakan cara pertanian tertua yang dijumpai di daerah tropis, di mana petani harus berputar dari satu tempat ke tempat lain dan kembali ke tempat semula setelah beberapa tahun. Bagi suku Dayak yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani, kegiatan perladangan padi adalah sebagai sumber pemenuhan kebutuhan pangan yang paling cocok. Penelitian ini dilakukan untuk Mengidentifikasi jenis padi lokal yang sesuai dengan kondisi lahan. Penelitian ini akan dilaksanakan di Desa Setulang Kabupaten Malinau. Metodologi yang digunakan adalah metode purposif sampling yaitu pengambilan sampel secara sengaja. Analisis data menggunakan deskriptif kualitatif dan dimuat dalam bentuk kurva kalibrasi. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa ketiga jenis padi mengalami peningkatan produksi pada tahun ke 10-17 dengan jumlah rata-rata peroduksi berkisar antara 150-250 kg Beras

    Effect of Fertilizer SP-36 and Green Tonic Fertliser Aplication on the Growth and Yield of Been Plant (Phaseolus vulgaris L) Perkasa Variety

    Get PDF
    The aim of this research  is to know  effect of SP-36 fertilizer and  liquid green tonic fertilizer on the growth and yield of green  been plants. The study  was conducted from February 2017 until May 2017. The located of the recearch at Barong Tongkok Village, Subdistrict, Kutai Barat Recency. The receach design used Completely Randomized Design (RAL) in experimental factorial pattern 4 x 4 with 3 replications. Factor I : dosage of SP-36 fertilizer (P), consisting  of 4 levels, namely : No SP-36 aplication or control (p0), SP-36 4 g /polibag (p1), SP-36 6 g/polibag  (p2), and SP-36 8 g/polibag (p3). Factor II : Concentration of Green Tonic Fertilizer (G), consisting of 4 levels, namely : No green tonic fertilizer or control (g0), green tonic 2 ml / polibag (g1), green tonic  4 ml/polibag(g2) , and green tonic 6 ml/ polibag (g3).The result showed that SP-36 fertilizer treatment had no signfiicant effect on the plant length at 10, 20, and 30 days after planting, age of flower emerged, long of fruit , ammount of  fruit,  and fruit weight per crop.The treatment of green tonic fertilizer had  no significant effect on the plant length at 10, 20, and 30 days after planting, age of flower emerged, length of fruit , number of  fruit,  and fruit weight per crop.The interaction treatment had no significant effect on the plant length at 10, 20, and 30 days after planting, age of flower emerged, long of fruit , ammount of  fruit,  and fruit weight per crop

    333

    full texts

    355

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    AGRIFOR
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇