JPMI (Jurnal Pendidikan Matematika Indonesia)
Not a member yet
187 research outputs found
Sort by
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BERBASIS KETERAMPILAN METAKOGNISI DALAM UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN LITERASI MATEMATIS MAHASISWA
Bahan ajar berbasis keterampilan metakognisi adalah bahan ajar yang melibatkan kesadaran penggunanya dalam memikirkan tentang proses berpikir dalam hal melibatkatkan pengetahuan materi ajar sebelumnya sehingga kemampuan menalar, menyelesaikan masalah, representasi, koneksi atau disebut literasi matematis ini muncul. Tujuan penelitian ini adalah 1) mengembangkan bahan ajar berbasis keterampilan metakognisi; 2) mendeskripsikan peningkatan kemampuan literasi matematis mahasiswa. Penelitian ini menggunakan model pengembangan ADDIE. Kemudian teknik pengumpulan data yang digunakan adalah metode tes dan observasi untuk melihat peningkatan kemampuan literasi matematis. Analisis data dilakukan dengan uji gain score. Diperoleh kesimpulan bahwa 1) bahan ajar berbasis keterampilan metakognisi layak untuk digunakan; 2) berdasarkan validasi ahli secara keseluruhan bahan ajar berbasis keterampilan metakognisi dinyatakan layak untuk; 3) Terdapat peningkatan kemampuam literasi matematis mahasiswa sebesar 0,57 dengan kriteria sedan
PENGEMBANGAN MODUL PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan modul matematika dengan pendekatan kontekstual. Dalam penelitian pengembangan ini mengacu pada model pengembangan ADDIE. Pengembangan dilakukan melalui analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Fokus pada tulisan ini adalah memaparkan hasil implementasi dan evaluasinya untuk modul matematika yang telah dikembangkan. Evaluasi yang dilakukan pada implementasi ini adalah untuk melihat kepraktisan dan keefektifan modul. Kepraktisan modul dilihat dari hasil angket respon siswa dan angket respon guru. untuk keefektifan modul dilihat dari hasil posttest siswa. Hasil angket respon siswa diperoleh persentase rata-rata sebesar 79% dengan kriteria “baik”, sedangkan hasil angket respon guru adalah 95% dengan kriteria “sangat baik”, dan hasil posttest siswa mendapat persentase 68% dengan kriteria “baik”. Berdasarkan evaluasi yang dilakukan pada implementasi dapat dikatakan modul memenuhi kriteria “praktis” dan “efektif”
PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA MELALUI PENDEKATAN (SOMATIC, AUDITORY, VISUAL AND INTELLECTUAL)
Pengembangan pemahaman konsep matematika yang baik akan meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa. Pendekatan SAVI menawarkan suatu konsep pembelajaran matematika yang integratif dengan mengintegrasikan banyak aspek. Penelitian ini dirancang dengan desain kuasi eksperimen. Subjek penelitian pada kelas eksperimen berjumlah 36 siswa sedangkan kelas kontrol terdiri dari 35 siswa. Analisis data menggunakan statistic deskriptif. Berdasarkan hasil studi menunjukkan siswa yang diberikan pembelajaran dengan pendekatan SAVI mengalami peningkatan pemahman konsep matematis secara siginifikan. Laporan hasil studi menunjukkan bahwa kemampuan siswa untuk mengkonstruksi masalah melalui pemahaman konsep yang baik. Siswa yang diajarkan oleh pendekan SAVI memiliki kemampuan untuk menganalisis masalah melalui konstruksi konsep matematik
ANALISIS KESULITAN MAHASISWA DALAM PENYUSUNAN PROPOSAL PENELITIAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
Penelitian ini bertujuan untuk untuk menganalisis jenis kesulitan dan faktor-faktor penyebab kesulitan mahasiswa dalam menyusun proposal penelitian pendidikan matematika. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan subjek penelitian adalah mahasiswa program studi pendidikan matematika STKIP Soe yang mengambil matakuliah seminar proposal sejumlah 21 orang. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data mengikuti model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis-jenis kesulitan mahasiswa dalam menyusun proposal penelitian pendidikan matematika adalah kesulitan dalam menuangkan ide ke dalam bentuk tulisan ilmiah, membuat latar belakang masalah, mencari literatur/bahan pustaka, mengkaji keterkaitan teori yang digunakan menentukan metodologi penelitian serta membagi waktu kuliah dengan penyusunan proposal penelitian. Faktor-faktor penyebab kesulitan tersebut berupa faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi masih rendahnya kemampuan mahasiswa dalam memahami setiap konten dalam proposal penelitian, masih terdapat mahasiswa yang belum memiliki komputer atau laptop sendiri serta beberapa mahasiswa kurang termotivasi dalam menyelesaikan proposal penelitiannya. Faktor eksternal meliputi terdapat mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan sosial maupun kerohanian di lingkungan rumahnya, mahasiswa yang sudah berkeluarga sulit berkonsentrasi karena gangguan dari keluarganya serta kesibukan mahasiswa dalam menyelesaikan berbagai tugas di rumah karena tinggal bersama pengampuh/orang tua wali
PROFIL PENALARAN SISWA SMP DALAM PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA TIMSS DITINJAU DARI PERBEDAAN GENDER
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan profil penalaran siswa SMP kelas VIII gender laki-laki dan perempuan dalam pemecahan masalah matematika TIMSS di SMPN 5 Samarinda. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksploratif dengan pendekatan kualitatif. Penggunaan pendekatan kualitatif didasarkan atas pertimbangan karena penelitian ini berlatar alami dan instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri. Analisis dilakukan secara mendalam pada siswa gender laki-laki dan perempuan dalam memecahkan masalah matematika yang diberikan. Tahapan analisis data dalam penelitian ini meliputi tahap klasifikasi data, reduksi data, penyajian data, dan interpretasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek gender laki-laki mampu memahami masalah dengan baik informasi yang diketahui dan kecukupan informasi dari masalah matematika TIMSS, serta dapat melakukan penyelesaian dengan baik dan mengungkapkan bahwa langkah yang dilakukan telah sesuai dengan rencana. Sedangkan penalaran subjek gender perempuan yaitu subjek telah mampu memahami masalah dengan menyebutkan informasi yang diketahui, namun belum mampu menganalisis masalah dengan tepat, sehingga pada tahap melaksanakan pemecahan masalah subjek gender perempuan menunjukkan hasil yang belum baik
THE EFFECTIVENESS OF PROBLEM BASED LEARNING (PBL) APPROACH VIEWED FROM THE STUDENTS’ MATHEMATICAL CREATIVE THINKING ABILITY
Generally, mathematical competence equips students with logical thinking ability. On the other hand, the mathematical competence is expected to equip students with creative thinking ability. Creative thinking ability is used when a person faces a problem or challenge. Nowadays, there has been a lot of developing approaches that can be used to create ideal learning condition to achieve the learning goals, including improving the mathematical creative thinking ability. One of approaches that can be used is Problem Based Learning (PBL). The purpose of this research was to describe the effectiveness of PBL approach in terms of mathematical creative thinking ability. This was a quasi-experimental reseach. A control class used the conventional approach. The results showed that Problem Based Learning (PBL) was an effective appoach viewed from the mathematical creative thinking ability. Meanwhile, the control class was not effective
Profil Kemampuan Guru dalam Merancang Soal/Permasalahan Matematika Ditinjau dari Taksonomi Bloom
Kemampuan guru dalam mendesain soal/permasalahan matematika mempengaruhi kualitas pembelajaran matematika di kelas. Besarnya frekuensi guru dalam memberikan soal tertutup membuat penalaran dan kreatifitas siswa kurang berkembang dengan baik. Akibatnya, jika siswa dihadapkan dengan permasalahan berbeda dari yang mereka sering dapatkan, siswa cenderung menunjukkan sikap bingung dan merasa kesulitan dalam mencari solusi dari permasalahan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan guru dalam merancang soal matematika ditinjau dari level kemampuan berpikir Taksonomi Bloom yang direvisi oleh Krathwohl. Penelitian dengan jenis kualitatif deskriptif ini melibatkan tujuh orang guru matematika SMP/MTs di Kota Mataram. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 14 permasalahan yang dirancang oleh 7 orang guru, 9 diantaranya berada pada level aplikasi, 1 permasalahan pada level pemahaman, 1 permasalahan pada level analisis dan 3 permasalahan pada level evaluasi
COLLEGE STUDENT’S ERROR ANALYSIS BASED ON THEIR MATHEMATICAL CONNECTIONS ON GRAPH REPRESENTATION
This study is investigates the college student’s errors on their graph representations making based on the mathematical connections indicators. Pilot studies were conducted with 4 college students of middle to high ability in Graph Theory class. Data analyze revealed that top 3 subject’s errors are 1) Finding the relations of a representations to it’s concepts and procedures, 2) Applying mathematics in other sciences or real life problems, and 3) Finding relations among procedures of the equivalent representations. Their lack of graph concepts understanding and it’s connections plays the major role in their errors. They failed at recognizing and choosing the suitable properties of graph which able to detect the error of their graph representation. So, in order to decrease college student errors in graph representations, we need to strengthen their basic concepts and its connections
Analisis Kesalahan Siswa dalam Menyelesaikan Soal Logaritma
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa dalam mengerjakan soal logaritma. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan teknik purposive sampling. Subjek pada penelitian ini yaitu 3 siswa SMA kelas X. Analisis kesalahan ini menggunakan teori dari Kastolan. Berdasarkan penelitian ditemukan kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh siswa adalah karena siswa tidak memahami soal yang ada, tidak memahami konsep materi seperti sifat-sifat logaritma, tidak memakai semua data yang ada pada soal bahkan kadang melewatkan data yang penting, ketidaktelitian dan ketidakcermatan saat menghitung karena mengerjakan secara langsung tanpa menggunakan langkah-langkah pengerjaan tetapi ada juga yang menggunakan langkah-langkah dan masih salah karena tidak teliti. Contohnya pada soal perkalian logaritma, ada subjek yang langsung mengerjakan tanpa menggunakan cara, jawabannya hanya kurang tanda minus saja akibat tidak menjabarkan dan menggunakan langkah pengerjaan. Kemudian tidak paham sifat logaritma mana yang harus dipakai dan kekeliruan penggunaan sifat logaritma akibat tidak hafal sifat-sifat logaritma. Contohnya semua subjek tidak tahu akan sifat logaritma yaitu padahal jika subjek mengetahui sifat tersebut maka jawabannya akan sangat mudah dan tidak terjadi kesalahan