JPMI (Jurnal Pendidikan Matematika Indonesia)
Not a member yet
    187 research outputs found

    Improving the Learning Outcomes and Motivation of Junior High School Students Through the Problem Based Learning Model Asissted by Animated Video Media on the Material of Two Variable Linear Equation Systems

    Full text link
    This study aims to describe the Problem Based Learning (PBL) model assisted by animated videos in improving learning outcomes and learning motivation of class VIII students of SMP Negeri 19 Pontianak City on the material of Two Variable Linear Equation Systems (SPLDV). This study was conducted using a classroom action approach. The subjects in this study were all students in class VIII B of SMP Negeri 19 Pontianak City totalling 30 students. Data were obtained through students test results and questionnaires at the pre-cycle, cycle I and cycle II stages. The results showed that there was an increase in learning outcomes and student learning motivation on SPLDV material through the PBL learning model assisted by animated video media. This is evident from the average score obtained by students in the pre-cycle was 61.5 with 43.33% completeness, then in cycle I the score rose to 76.5 with 76.67% completeness and in cycle II the average student score increased to 84.17 with 90% completeness. Apart from that, student learning motivation in the pre-cycle category was 6.25% low, 56.25% medium, and 37.5% high, then in the first cycle it was 25% medium, 18.75% high and 56.25% very high, and in the second cycle it increased to 12.5% high and 87.5% very high. These results can be seen from cycle to cycle experiencing an increase in learning outcomes and motivation and have been able to spur students to be more active especially in learning on SPLDV material with PBL learning assisted by animated video media.Peningkatan Hasil dan Motivasi Belajar Siswa SMP Melalui Model Problem Based Learning Berbantuan Media Video Animasi Pada Materi Sistem Persamaan Linear Dua VariabelABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan model Problem Based Learning (PBL) berbantuan video animasi dalam meningkatkan hasil belajar dan motivasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 19 Kota Pontianak pada materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV). Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan tindakan kelas. Subjek dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik di kelas VIII B SMP Negeri 19 Kota Pontianak yang berjumlah 30 siswa. Data diperoleh melalui hasil tes dan angket siswa pada tahap pra siklus, siklus I, dan siklus II. Hasil penelitian menunjukan bahwa adanya peningkatan hasil belajar dan motivasi belajar siswa pada materi SPLDV melalui model pembelajaran PBL berbantuan media video animasi. Hal ini terbukti dari nilai rata-rata yang diperoleh siswa pada pra siklus adalah 61,5 dengan ketuntasan 43,33% kemudian pada siklus I nilainya naik menjadi 76,5 dengan ketuntasan 76,67% dan pada siklus II rata-rata nilai siswa meningkat menjadi 84,17 dengan ketuntasan 90%. Selain itu, motivasi belajar siswa pada pra siklus dengan kategori rendah sebanyak 6,25%, sedang sebanyak 56,25%, dan tinggi sebanyak 37,5% kemudian pada siklus I dengan kategori sedang 25%, tinggi 18,75%, dan sangat tinggi 56,25% dan siklus II meningkat menjadi kategori tinggi 12,5% dan sangat tinggi 87,5%. Hasil tersebut dapat dilihat dari siklus ke siklus mengalami peningkatan hasil dan motivasi belajar dan telah mampu memacu para siswa untuk lebih aktif khususnya dalam pembelajaran pada materi SPLDV dengan pembelajaran PBL berbantuan media video animasi.Kata Kunci :hasil belajar; motivasi belajar; media video pembelajaran; SPLD

    Correlation between Learning Readiness and Learning Motivation with Mathematics Learning Outcomes in SPLDV Material

    Full text link
    This study aims to determine the correlation between learning readiness and learning motivation with students' mathematics learning outcomes in the Two-Variable Linear Equation System (SLSDV) topic. This study used a quantitative approach with a correlational design. The population in this study were all eighth-grade students of SMP Takhassus Al-Qur'an Ngabang. The research sample was selected from classes VIII D and VIII E, totaling 57 students selected using simple random sampling. The instruments used in this study included a learning readiness questionnaire, a learning motivation questionnaire, and a descriptive test on the SLSDV material. Data analysis was performed using SPSS for Windows version 23 using the Pearson Product Moment correlation test and multiple linear regression. The results showed a positive and significant correlation between learning readiness and mathematics learning outcomes with an r value of 0.967, which is classified as very strong. Furthermore, there was a positive and significant correlation between learning motivation and mathematics learning outcomes with an r value of 0.849, which is classified as very strong. Simultaneously, there is a positive and significant correlation between learning readiness and learning motivation with mathematics learning outcomes with an R value = 0.983 which is classified as a very strong category and an Adjusted R2 value = 0.965 which means that 96.4% of mathematics learning outcomes can be explained by learning readiness and learning motivation, while the remaining 3.6% is influenced by other factors.Korelasi antara Kesiapan Belajar dan Motivasi Belajar dengan Hasil Belajar Matematika pada Materi SPLDVABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara kesiapan belajar dan motivasi belajar dengan hasil belajar matematika siswa pada materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Takhassus Al-Qur’an Ngabang. Sampel penelitian dipilih kelas VIII D dan VIII E dengan jumlah sebanyak 57 siswa yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini meliputi angket kesiapan belajar, angket motivasi belajar, dan tes uraian materi SPLDV. Teknik analisis data dilakukan dengan bantuan software SPSS for Windows versi 23 menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment dan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif dan signifikan antara kesiapan belajar dengan hasil belajar matematika dengan nilai r = 0,967 yang tergolong ke dalam kategori sangat kuat. Kemudian, terdapat korelasi positif dan signifikan antara motivasi belajar dengan hasil belajar matematika dengan nilai r = 0,849 yang tergolong ke dalam kategori sangat kuat. Secara simultan, terdapat korelasi positif dan signifikan antara kesiapan belajar dan motivasi belajar dengan hasil belajar matematika dengan nilai R = 0,983 yang tergolong ke dalam kategori sangat kuat serta nilai Adjusted R2 = 0,964 yang berarti bahwa sebesar 96,4% hasil belajar matematika dapat dijelaskan oleh kesiapan belajar dan motivasi belajar, sedangkan 3,6% sisanya dipengaruhi faktor lain.Kata Kunci :Kesiapan belajar; motivasi belajar; hasil belajar matematik

    Implementation of Lesson Study by Dominating Discovery Learning and TGT Models to Increase Student Learning Interest

    Full text link
    This study aims to improve students' interest in learning This study aims to increase students' interest in learning mathematics by implementing Lesson Study that combines Discovery Learning and Teams Games Tournament (TGT) models. The method used in this research is descriptive qualitative, which was conducted on students of class XE MAN 4 Sleman for the academic year 2024/2025. Data were obtained through questionnaires, observation, and documentation. The research was conducted in two cycles which included planning, implementation, and reflection stages. The results showed a significant increase in students' interest in learning. At the end of Cycle I, only 18.18% of students showed very high interest in learning, while at the end of Cycle II, the percentage increased to 51.51%. This increase shows the effectiveness of applying a combination of Discovery Learning and TGT models in increasing students' interest in learning mathematics. In Cycle I, various obstacles were still found, such as low student participation, teacher dominance in learning, and learning outcomes that had not reached the KKM target. Therefore, Cycle II planning focused on empowering student involvement through interesting and collaborative media. After making improvements in Cycle II, there was a significant increase in both student interest and involvement, as well as the achievement of the research success indicators. Thus, the research was stopped at Cycle II because the objectives had been achieved, and Lesson Study can be concluded as an effective strategy to increase students' interest in learning.Penerapan Lesson Study Dengan Mendominasi Model Discovery Learning Dan TGT Untuk Meningkatkan Minat Belajar SiswaABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk meningkatkan minat belajar matematika siswa dengan menerapkan Lesson Study yang menggabungkan model Discovery Learning dan Teams Games Tournament (TGT). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, yang dilaksanakan pada siswa kelas XE MAN 4 Sleman untuk tahun ajaran 2024/2025. Data diperoleh melalui angket, observasi, dan dokumentasi. Penelitian dilakukan dalam dua siklus yang mencakup tahap perencanaan, pelaksanaan, dan refleksi. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam minat belajar siswa. Pada akhir Siklus I, hanya 18,18% siswa yang menunjukkan minat belajar sangat tinggi, sedangkan pada akhir Siklus II, persentase tersebut meningkat menjadi 51,51%. Peningkatan ini menunjukkan efektivitas penerapan kombinasi model Discovery Learning dan TGT dalam meningkatkan minat siswa terhadap pembelajaran matematika. Pada Siklus I, masih ditemukan berbagai kendala, seperti rendahnya partisipasi siswa, dominasi guru dalam pembelajaran, serta hasil belajar yang belum mencapai target KKM. Oleh karena itu, perencanaan Siklus II difokuskan pada pemberdayaan keterlibatan siswa melalui media yang menarik dan kolaboratif. Setelah dilakukan perbaikan pada Siklus II, terjadi peningkatan yang signifikan baik dari segi minat maupun keterlibatan siswa, serta tercapainya indikator keberhasilan penelitian. Dengan demikian, penelitian dihentikan pada Siklus II karena tujuan telah tercapai, dan Lesson Study dapat disimpulkan sebagai strategi yang efektif untuk meningkatkan minat belajar siswa.Kata Kunci:Pendidikan; Lesson study; minat belaja

    Merdeka Curriculum and the Dimension of Faith: The Influence of Memorizing the Qur'an on Mathematics Learning Outcomes

    Full text link
    The Merdeka Curriculum emphasizes flexible, student-centered learning, incorporating the dimension of Faith, Piety to God Almighty, and Noble Character, which integrates religious values into education. One manifestation of this is memorizing the Qur'an, which not only strengthens spirituality but also enhances memory and cognitive consistency. This study analyzes the relationship between the quantity of Qur'an memorization and mathematics learning outcomes at SIGM As-Sakinah. Data were collected from the final semester tasmi’ assessments for the 2023/2024 academic year and students' average midterm and final exam scores in mathematics. Prerequisite tests confirmed that the data were normally distributed and linear. Simple linear regression and ANOVA tests using SPSS 24 yielded an R value of 0.639 and an R² of 40.8%, indicating that the amount of memorization contributes to mathematics learning outcomes. The ANOVA test produced an F-value of 9.667 with a significance level of 0.008 (p < 0.05), confirming a significant relationship between variables. The regression equation Y=64.119+2.709XY = 64.119 + 2.709XY=64.119+2.709X suggests that each additional juz memorized increases mathematics learning outcomes. These findings affirm that Qur'an memorization positively contributes to students' cognitive development.Kurikulum Merdeka Dan Dimensi Keimanan: Pengaruh Hapalan Al-Qur’an Terhadap Hasil Belajar MatematikaABSTRAKKurikulum Merdeka menekankan pembelajaran fleksibel dan berpusat pada peserta didik, dengan dimensi Beriman, Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia yang mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dalam pendidikan. Salah satu bentuknya adalah menghafal Al-Qur’an, yang tidak hanya memperkuat spiritualitas tetapi juga melatih daya ingat dan konsistensi kognitif. Penelitian ini menganalisis hubungan antara jumlah hafalan Al-Qur’an dengan hasil belajar matematika di SIGM As-Sakinah. Data diperoleh dari hasil tasmi’ hafalan akhir semester ganjil serta nilai rata-rata UTS dan UAS matematika. Uji prasyarat menunjukkan data berdistribusi normal dan linear. Analisis regresi linear sederhana dan uji ANOVA menggunakan SPSS 24 menunjukkan nilai R = 0.639 dan R² = 40.8%, yang berarti jumlah hafalan berkontribusi terhadap hasil belajar matematika. Uji ANOVA menghasilkan nilai F = 9.667 dengan signifikansi 0.008 (p < 0.05), mengonfirmasi hubungan signifikan antara variabel. Persamaan regresi Y=64.119+2.709X menunjukkan bahwa setiap tambahan satu juz hafalan meningkatkan hasil belajar matematika. Temuan ini menegaskan bahwa aktivitas menghafal Al-Qur’an dapat berkontribusi positif terhadap perkembangan kognitif peserta didikKata Kunci :Kurikulum Merdeka; Dimensi beriman; Hafalan Al-Qur’an; Hasil belajar matematika; Regresi linea

    Mathematical Creative Thinking Skills in Problem Posing Viewed from Cognitive Style and Gender

    Full text link
    This research aims to view the profile of mathematical creative thinking skills viewed form gender and cognitive style. Cognitive styles are focused on field dependent (FD) and field independent (FI) cognitive styles. This reseaech are explanatory sequential mixed method. The instruments used are the cognitive style test (GEFT), the problem-posing questions (TPM), and an interview guideline. The research subjects were categorized into 4 groups: FD male, FD female, FI male, and FI female. The research procedure starts with quantitative phase, then qualitative phase. The results of the study showed that the mathematical creative thinking skills in problem posing in the FD cognitive style, women are superior compared to the male group. This advantage lies in the fluency component. While in the FI cognitive style, men and women show the same pattern. Therefore, teachers should be able to adjust learning to the conditions of the diversity of categories of each group.Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis pada Pengajuan Masalah Ditinjau dari Gaya Kognitif dan GenderABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk melihat profil kemampuan berpikir kreatif matematis dalam pengajuan masalah mateatika ditinjau dari gender dan gaya kognitif. Gaya kognitif difokuskan pada gaya kognitif field dependent (FD) dan field independent (FI). Penelitian ini termasuk dalam penelitian explanatory sequential mixed method. Instrumen yang digunakan adalah tes gaya kognitif (GEFT), tes pengajuan masalah (TPM), dan pedoman wawancara. Subjek penelitian dikelompokkan menjadi 4 yaitu FD laki-laki, FD perempuan FD, FI laki-laki, dan FI perempuan. Prosedur penelitian dilakukan dengan fase kuantitatif dilanjutkan dengan fase kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kreatif matematis pada pengajuan masalah pada gaya kognitif FD, perempuan lebih unggul dibandingkan dengan kelompok laki-laki. Keunggulan tersebut terletak pada komponen kefasihan. Sementara pada gaya kognitif FI, laki-laki maupun perempuan menunjukkan pola yang sama. Oleh karena itu, guru hendaknya dapat menyesuaikan pembelajaran dengan kondisi keberagaman kategori dari masing-masing kelompok.Kata Kunci :Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis; Pengajuan Masalah; Gaya Kognitif; Gende

    The Development of Virtual Reality-Based Learning Media to Enhance University Students’ Motivation and Interest in Studying Non-Euclidean Geometry

    Full text link
    This research aims to develop a Virtual Reality (VR)-based learning media using the Spatial.io platform to enhance the motivation and interest of mathematics education students in understanding Non-Euclidean Geometry. The study employed the Research and Development (R&D) method with the ADDIE model, consisting of five stages: Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation. In the Analysis stage, the learning needs and the difficulties students face in grasping abstract concepts in geometry were identified. The media was then designed and developed using a virtual museum concept hosted on Spatial.io, featuring immersive rooms that visualized complex geometric structures. Expert validation was conducted involving media and material validators, with the results showing that the media was categorized as “very valid,” achieving an average score above 90% across all validation aspects. During the Implementation stage, the VR media was tested on mathematics students, and their affective responses were collected through Likert-scale questionnaires focusing on interest, motivation, practicality, and effectiveness. The evaluation results indicated that the VR-based media was highly practical (average score: 84%) and very effective (average score: 82.4%) in improving learning engagement. Moreover, the affective responses demonstrated a significant increase in both motivation and interest in learning abstract mathematical content. In conclusion, the development of Virtual Reality learning media for Non-Euclidean Geometry effectively supports the learning process by offering immersive, interactive, and contextually meaningful experiences that foster student involvement and emotional connection with the subject. Therefore, VR can be considered a highly relevant and impactful technological innovation to be integrated into mathematics learning at the higher education level.Pengembangan Media Pembelajaran Virtual Reality untuk Meningkatkan Motivasi dan Minat Belajar Mahasiswa pada Materi Geometri Non-EuclidABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran berbasis Virtual Reality (VR) menggunakan platform Spatial.io guna meningkatkan motivasi dan minat belajar mahasiswa pendidikan matematika terhadap materi Geometri Non-Euclid. Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model pengembangan ADDIE yang terdiri dari lima tahap, yaitu: Analisis, Desain, Pengembangan, Implementasi, dan Evaluasi. Pada tahap analisis, diidentifikasi kebutuhan pembelajaran serta kesulitan mahasiswa dalam memahami konsep geometri yang bersifat abstrak. Media kemudian dirancang dan dikembangkan dalam bentuk museum virtual berbasis Spatial.io, yang memvisualisasikan bentuk-bentuk geometri non-konvensional secara imersif dan interaktif. Validasi media dilakukan oleh ahli materi dan ahli media, yang menunjukkan bahwa media yang dikembangkan termasuk dalam kategori “sangat valid” dengan rata-rata skor validasi di atas 90%. Pada tahap implementasi, media diuji coba pada mahasiswa jurusan matematika, dan data afektif dikumpulkan melalui angket skala Likert yang mencakup indikator minat, motivasi, kepraktisan, dan keefektifan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa media VR tergolong sangat praktis dengan skor rata-rata sebesar 84% dan sangat efektif dengan skor rata-rata 82,4% dalam meningkatkan keterlibatan belajar. Selain itu, respon afektif mahasiswa menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam minat dan motivasi belajar terhadap konten matematika yang kompleks. Dengan demikian, media pembelajaran berbasis Virtual Reality ini terbukti mampu mendukung proses pembelajaran dengan menghadirkan pengalaman belajar yang imersif, interaktif, dan bermakna secara kontekstual. Oleh karena itu, media VR sangat relevan untuk diintegrasikan dalam pembelajaran matematika di jenjang pendidikan tinggi.Kata Kunci :Media Pembelajaran; Virtual Reality; Geometri Non-Euclid; Minat Belajar; Motivasi Belaja

    Mathematics Learning Based on Lesson Study Using the Reciprocal Teaching Model in the Mathematical Statistics Course

    Full text link
    This qualitative descriptive study aims to describe the implementation of mathematics learning based on Lesson Study using the Reciprocal Teaching model in the Mathematical Statistics course at FKIP Untan and ISBI Singkawang. The research focuses on improving students’ ability to write definitions and theorems symbolically through collaborative interactions among lecturers, students, and classroom contexts. The research procedure followed the Lesson Study cycle (plan–do–see), with data collected through interviews, observations, field notes, and assessments. Data were analyzed using the Miles and Huberman model, involving data reduction, presentation, and conclusion drawing. The results show that implementing Lesson Study with Reciprocal Teaching fosters dialogic, collaborative, and continuous learning. In the plan stage, collaborative planning produced a learning design incorporating the strategies of predicting, questioning, clarifying, and summarizing, aligned with students’ characteristics. The do stage revealed active student engagement in group discussions, SPSS practice, and symbolic writing of concepts, although some misconceptions regarding probability, distribution, and variance were still observed. The see stage provided a space for collaborative reflection to identify strengths—such as increased participation, mathematical communication, and conceptual understanding and weaknesses, including uneven participation and limited time allocation. The study concludes that integrating Lesson Study with the Reciprocal Teaching model effectively enhances students’ ability to write definitions and theorems symbolically while strengthening their understanding of Mathematical Statistics concepts. This model is recommended as an innovative strategy for preparing prospective teachers capable of managing reflective, interactive, and meaningful learning.Pembelajaran Matematika Berbasis Lesson Study Dengan Menggunakan Model Reciprocal Teaching Pada Mata Kuliah Statistika MatematikaABSTRAKPenelitian deskriptif kualitatif ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi pembelajaran matematika berbasis Lesson Study dengan menggunakan model Reciprocal Teaching pada mata kuliah Statistika Matematika di FKIP Untan dan ISBI Singkawang. Fokus penelitian diarahkan pada peningkatan kemampuan mahasiswa dalam menuliskan definisi dan teorema secara simbolik melalui interaksi kolaboratif antara dosen, mahasiswa, dan konteks kelas. Prosedur penelitian mengikuti siklus Lesson Study (plan–do–see) dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi, catatan lapangan, dan asesmen. Analisis data dilakukan dengan model Miles dan Huberman melalui reduksi, penyajian, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi Lesson Study dengan Reciprocal Teaching mampu menciptakan pembelajaran yang dialogis, kolaboratif, dan berkesinambungan. Pada tahap plan, perencanaan kolaboratif menghasilkan rancangan pembelajaran dengan strategi predicting, questioning, clarifying, dan summarizing yang sesuai dengan karakteristik mahasiswa. Tahap do memperlihatkan keterlibatan aktif mahasiswa dalam diskusi kelompok, praktik penggunaan SPSS, dan penulisan konsep secara simbolik, meskipun masih ditemukan miskonsepsi terkait peluang, distribusi, dan variansi. Tahap see memberikan ruang refleksi kolaboratif untuk mengidentifikasi kelebihan berupa peningkatan partisipasi, komunikasi matematis, dan pemahaman konseptual, serta kelemahan berupa distribusi partisipasi yang belum merata dan keterbatasan waktu. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa integrasi Lesson Study dengan Reciprocal Teaching efektif meningkatkan kemampuan menulis definisi dan teorema dalam bentuk simbolik, sekaligus memperkuat pemahaman konsep Statistika Matematika. Model ini direkomendasikan sebagai strategi inovatif untuk menyiapkan calon guru yang mampu mengelola pembelajaran reflektif, interaktif, dan bermakna.Kata Kunci :Lesson Study; Model Reciprocal Teaching; Statistika Matematik

    Mathematic Learning Media with a Split Attention Effect Perpective to Improve Multi-Representasi for Middle School Students

    Full text link
    In mathematics learning, students often experience difficulties that result in low student representation, teachers make learning innovations by developing media that can improve student representation in mathematics learning. This study aims to develop learning media from the perspective of the split attention effect to improve the multi-representation of junior high school students on the Pythagorean theorem material with feasible, practical and effective criteria. This study uses a research and development method that refers to the ADDIE model which consists of five phases, namely Analyze, Design, Develop, Implement, Evaluate. The subjects of the study were grade VIII students at one of the junior high schools in Semarang City. The results of the study obtained were the results of media expert validation on the Intrinsic Cognitive Load aspect of 93.34%, the Extraneous Cognitive Load aspect of 95.00%, the Germane Cognitive Load aspect of 88.00%, and material experts on the Intrinsic Cognitive Load aspect of 95.56%, the Extraneous Cognitive Load aspect of 82.23%, the Germane Cognitive Load aspect of 93.34% with the category of feasible to use. The results of the student response questionnaire in experimental class 1 percentage of 71% and experimental class 2 percentage of 75.8% with the practical category used. While the post-ANOVA test (Scheffe' test) showed that there was a significant difference in student representation before and after the application of split attention effect learning media obtained a mean difference of 1.8333 and a sig value of 0.740 or sig> 0.05. There was an increase in representation based on the N-Gain test in experimental class 1 of 67.06% and experimental class 2 of 70.32%, this shows that split attention effect learning media is effective in mathematics learning. Thus, this study can provide innovation in the teaching and learning process to meet student needs with split attention effect learning media as an effective strategy to improve student representation in learning mathematicsMedia Pembelajaran Matematika Dengan Perspektif Split Attention Effect Untuk Meningkatkan Multi Representasi Siswa SMPABSTRAKDalam pembelajaran matematika siswa sering mengalami kesulitan yang mengakibatkan representasi siswa rendah, guru membuat inovasi pembelajaran dengan pengembangan media yang dapat memingkatkan representasi siswa dalam pembelajaran matematika. Penelitian ini bertujuan mengembangkan media pembelajaran dari perspektif split attention effect untuk meningkatkan multi representasi siswa SMP pada materi teorema pythagoras dengan kriteria layak, praktis dan efektif. Studi ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan yang mengacu pada model ADDIE yang terdiri dari lima fase yaitu Analyze, Design, Develop, Implement, Evaluate. Subjek penelitian ialah siswa kelas VIII disalah satu SMP Kota Semarang. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu hasil validasi ahli media terhadap aspek Intrinsic Cognitive Load sebesar 93,34%, aspek Extraneous Cognitive Load sebesar 95,00%, aspek Germane Cognitive Load sebesar 88,00%, dan ahli materi pada aspek Intrinsic Cognitive Load sebesar 95,56%, aspek Extraneous Cognitive Load sebesar 82,23%, aspek Germane Cognitive Load sebesar 93,34% dengan kategori layak digunakan. Hasil angket respon siswa pada kelas eksperimen 1 persentase 71% dan kelas eksperimen 2 persentase 75,8% dengan kategori praktis digunakan. Sedangkan uji pasca anova (uji scheffe') menunjukkan bahwa adanya perbedaan secara signifikan pada representasi siswa sebelum dan sesudah penerapan media pembelajaran split attention effect yang diperoleh hasil mean difference sebesar 1.8333 dan nilai sig 0.740 atau sig > 0.05. Terjadi peningkatan representasi berdasarkan uji N-Gain pada kelas eksperimen 1 sebesar 67,06% dan kelas eksperimen 2 sebesar 70,32%, hal ini menunjukkan bahwa media pembelajaran split attention effect efektif digunakan dalam pembelajaran matematika. Dengan demikian, penelitian ini dapat memberikan inovasi dalam proses belajar mengajar guna memenuhi kebutuhan siswa dengan media pembelajaran split attention effect sebagai strategi yang efektif untuk meningkatkan representasi siswa dalam belajar matematika.Kata Kunci :Media Pembelajaran; Multi Representas

    Analysis of Numeracy Literacy Skills in Terms of Self-Efficacy on Flat Shape Material for MTs Students

    Full text link
    Based on interviews with the mathematics teacher at MTs Negeri 1 Demak, it was found that students have difficulty translating word problems into mathematical form. This indicates that they have not yet achieved the first indicator of numeracy literacy. The teacher also observed that students’ self-efficacy affects their participation in learning, although it does not always align with their understanding of the material. This study aims to describe the numeracy literacy skills of eighth-grade students at MTs Negeri 1 Demak based on their level of self-efficacy, particularly on the topic of plane geometry. The research employed a descriptive qualitative method with six purposively selected subjects out of 32 students, representing high and moderate self-efficacy categories. Data were collected through numeracy literacy tests in the form of word problems, self-efficacy questionnaires, and in-depth interviews. The data were analyzed through the stages of data reduction, data display, and conclusion drawing, with method triangulation to ensure data validity. The results show that students with high self-efficacy tend to have better numeracy literacy skills, especially in formulating situations into mathematical models, using appropriate procedures, and evaluating results in context. However, there were also students with high self-efficacy who had low numeracy literacy skills, indicating that confidence does not always correspond to mastery of concepts and procedures. Conversely, students with moderate self-efficacy but high numeracy skills performed well cognitively, although they still showed hesitation in answering questions. These findings highlight the importance of integrating self-efficacy development with conceptual reinforcement in mathematics learning. Stable self-efficacy can encourage students to be more confident, but it must be accompanied by adequate conceptual understanding and contextual practice to improve overall numeracy literacy quality.Analisis Kemampuan Literasi Numerasi Ditinjau dari Self-Efficacy Pada Materi Bangun Datar Siswa MTsABSTRAKBerdasarkan hasil wawancara dengan guru matematika MTs Negeri 1 Demak, ditemukan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam mengubah soal cerita ke dalam bentuk matematika. Di mana hal tersebut menenjukkan bahwa siswa belum memenuhi indikator pertama dari literasi numerasi. Guru juga menemukan bahwa self-efficacy siswa memengaruhi partisipasi dalam pembelajaran, meski tidak selalu sejalan dengan pemahaman materi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan literasi numerasi siswa kelas VIII MTs Negeri 1 Demak berdasarkan tingkat self-efficacy, khususnya pada materi bangun datar. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan enam subjek penelitian yang dipilih secara purposive dari 32 siswa berdasarkan kategori self-efficacy tinggi dan sedang. Pengumpulan data dilakukan melalui tes literasi numerasi berbentuk soal cerita, angket self-efficacy, dan wawancara mendalam. Data dianalisis melalui tahap reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan, dengan triangulasi metode untuk memastikan keabsahan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa dengan self-efficacy tinggi cenderung memiliki kemampuan literasi numerasi yang lebih baik, terutama dalam merumuskan situasi ke dalam bentuk matematika, menggunakan prosedur yang tepat, serta mengevaluasi hasil secara kontekstual. Namun, terdapat pula siswa dengan self-efficacy tinggi yang memiliki kemampuan literasi numerasi rendah, yang menunjukkan bahwa keyakinan diri tidak selalu sejalan dengan penguasaan konsep dan prosedur. Sebaliknya, siswa dengan self-efficacy sedang tetapi kemampuan numerasi tinggi menunjukkan performa baik secara kognitif namun masih diliputi keraguan dalam menjawab soal. Temuan ini menekankan pentingnya integrasi antara pembinaan self-efficacy dan penguatan konsep dalam proses pembelajaran matematika. Self-efficacy yang stabil dapat mendorong siswa lebih percaya diri, tetapi harus dibarengi dengan pemahaman konseptual dan latihan kontekstual yang memadai untuk meningkatkan kualitas literasi numerasi secara menyeluruh.Kata Kunci :Literasi numerasi; self-efficacy; bangun datar

    Problem Based Learning Design Based on Culturally Responsive Teaching for Understanding the Concept of Opportunity

    Full text link
    This study aims to develop a mathematics learning design that integrates Problem-Based Learning (PBL) with the Culturally Responsive Teaching (CRT) approach to improve the understanding of probability among Grade XII SMK students. The background of this study is the problem of low student understanding of probability material caused by minimal mathematical reasoning skills, low motivation to learn, and the dominance of conventional methods such as lectures and practice questions. Students also have difficulty solving contextual problems and applying enumeration rules. The CRT approach is considered to make learning more relevant because it links the material to the student's cultural background, while PBL encourages active participation and the development of critical thinking skills through solving real problems. The research method used is the 4D development model, which consists of the Define, Design, Develop, and Disseminate stages. In the Define stage, a needs analysis is conducted through teacher interviews to determine the challenges and readiness to implement PBL-CRT-based learning. The design stage produces a prototype of the learning design, teaching modules, and evaluation tools. The development phase includes a feasibility test by experts, a practical test in the classroom, and an effectiveness test by analyzing students' interests and learning outcomes. The results of the feasibility test showed that the module was feasible to use (Asymp. Sig = 0.004 <0.05), the practicality test obtained a score of 4 and 5 out of 97%, and the effectiveness test showed that the module significantly increased learning interest (Sig. = 0.01 <0.05). The dissemination phase was carried out by distributing the learning products online through the website. The results of the study showed that the learning design combining PBL and CRT can significantly improve students' understanding of mathematical concepts and create a learning atmosphere.Desain Pembelajaran Problem Based Learning Berbasis Culturally Responsive Teaching terhadap Pemahaman Konsep PeluangABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengembangkan desain pembelajaran matematika yang mengintegrasikan Problem Based Learning (PBL) dengan pendekatan Culturally Responsive Teaching (CRT) guna meningkatkan pemahaman konsep peluang pada siswa kelas XII SMK. Latar belakang penelitian ini adalah rendahnya pemahaman siswa terhadap peluang materi, yang disebabkan oleh minimnya keterampilan penalaran matematis, rendahnya motivasi belajar, serta dominasi metode konvensional seperti ceramah dan latihan soal. Siswa juga kesulitan dalam menyelesaikan soal kontekstual dan menerapkan kaidah pencacahan. Pendekatan CRT dinilai mampu menjadikan pembelajaran lebih relevan karena materi terkait dengan latar belakang siswa, sementara PBL mendorong keterlibatan aktif dan pengembangan kemampuan berpikir kritis melalui pemecahan masalah nyata. Metode penelitian yang digunakan adalah model pengembangan 4D, yang terdiri atas tahapan Define, Design, Develop, dan Disseminate. Pada tahap Define, dilakukan analisis kebutuhan melalui wawancara dengan guru untuk mengetahui tantangan dan kesiapan penerapan pembelajaran berbasis PBL-CRT. Tahap Desain menghasilkan prototipe rencana pembelajaran, modul terbuka, dan instrumen evaluasi. Tahap Pengembangan meliputi uji kelayakan oleh para ahli, uji kepraktisan di kelas, serta uji efektivitas melalui analisis minat dan hasil belajar siswa. Hasil uji kelayakan menunjukkan modul layak digunakan (Asymp.Sig = 0.004 < 0.05), uji kepraktisan memperoleh skor 4 dan 5 sebesar 97%, dan uji efektivitas menunjukkan bahwa modul meningkatkan minat belajar secara signifikan (Sig. = 0.01 < 0.05). Tahap Disseminate dilakukan melalui penyebaran produk pembelajaran secara berani melalui website. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain pembelajaran yang menggabungkan PBL dan CRT mampu meningkatkan pemahaman konsep matematika siswa secara signifikan, serta menciptakan suasana belajar yang lebih inklusif, kontekstual, dan relevan dengan pengalaman serta budaya siswaKata Kunci :problem based learning; culturally responsive teaching; peluang; desain pembelajaran; pemahaman konse

    164

    full texts

    187

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    JPMI (Jurnal Pendidikan Matematika Indonesia)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇