Majalah Obat Tradisional
Not a member yet
    427 research outputs found

    UJI AKTIVITAS ANTIANEMIA EKSTRAK ETANOLIK BIJI Parkia speciosa Hassk

    Get PDF
    Iron deficiency anemia is occurred due to lack of iron within the body, so that the amount of iron for erythropoiesis does not meet the requirement. Petai (Parkia speciosa Hassk) which is widespread in Indonesian archipelago, contain high existence of iron is supposed to be able to increase hemoglobin level in white mouse blood (Rattus norvegicus). The research was carried out by using petai from Wonosari whose made to dry extract by using freezedryer. Petai seed extract (Parkia speciosa Hassk.) injected to Wistar rat (Rattus norvegicus). Data analysis was using One Sample t-Test and ANOVA test in order to find out the effect of the doses towards pharmacological effect. The result showed that petai seed extract (Parkia speciosa Hassk) gave effect towards the enhancement of hemoglobin level (Hb) within white mouse blood (Rattus norvegicus). However, the optimum dosage was not able to be determined yet.Anemia defisiensi besi terjadi karena kurangnya zat besi dalam tubuh, sehingga kebutuhan Fe untuk eritropoesis tidak cukup. Petai (Parkia speciosa Hassk.) merupakan tanaman yangtersebar luas di Nusantara, dengan kadar zat besi yang tinggi diduga dapat meningkatkan kadar hemoglobin dalam darah tikus putih (Rattus norvegicus). Penelitian dilakukan dengan menggunakan petai dari Wonosari dan dibuat menjadi ekstrak kering dengan alat freezedryer. Ekstrak biji petai (Parkia speciosa Hassk.) dipejankan pada tikus putih (Rattus norvegicus) bergalur Wistar. Analisis data menggunakan One Sample t-Test dan uji ANOVA untuk mengetahui pengaruh dosis terhadap efek farmakologis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak biji petai (Parkia speciosa Hassk.) memberikan pengaruh terhadap peningkatan kadarHemoglobin (Hb) dalam darah tikus putih (Rattus norvegicus) namun belum dapat ditentukan dosis ekstrak yang paling optimum.

    UJI EFEKTIVITAS SEDIAAN GEL MINYAK ATSIRI KULIT BUAH JERUK PONTIANAK (Citrus nobilis Lour. Var. microcarpa) TERHADAP Escherichia coli DAN Staphylococcus aureus

    Get PDF
    Essential oil is a natural substance that has been known as antibacterial. This research aimed to examine the effectiveness of antiseptic gel from essential oil which taken from rind Pontianak orange. Essential oil from rind Pontianak orange are formulated into a gel and it tested its effectiveness as an antibacterial to Escherichia coli and Staphylococcus aureus. Based on the result of the study, the effective concentration of essential oil to inhibit Escherichia coli is 0,5%, while Staphylococcus aureus is inhibited at concentration 0,1%, 0,3% and 0,5%. The results of the gel test stabilization showed that the homogenity of gel, pH value and stable adhesion are good. Coverage gel increased during 30 days of storage. One Way Anova test analysis showed that the dispersive power of each gel formula does not differ significantly.Minyak atsiri adalah suatu substansi alami yang telah dikenal memiliki aktivitas antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk melihat efektivitas sediaan gel antiseptik minyak atsiri kulit buah jeruk Pontianak. Minyak atsiri kulit buah jeruk Pontianak kemudian diformulasikan menjadi sediaan gel, kemudian diuji efektivitas sebagai antibakteri pada bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus.Berdasarkan hasil penelitian, konsentrasi minyak atsiri yang efektif menghambat adalah sebesar 0,5 % terhadap bakteri Escherichia coli, sedangkan Staphylococcus aureus dihambat pada konsentrasi 0,1 %; 0,3 % dan 0,5 %. Hasil dari stabilitas sediaan gelnya menunjukkan bahwa gel memiliki homogenitas, nilai pH dan daya lekat yang stabil. Daya sebar gel meningkat selama 30 hari penyimpanan. Uji analisis One Way Anova menunjukkan bahwa daya sebar setiap formula gel tidak berbeda signifikan

    EFEK PEMBERIAN FRAKSI YANG MENGANDUNG ALKALOID DARI BUNGA KEMBANG SEPATU (Hibiscus rosa-sinensis L.) VARIETAS MERAH TUNDUK TERHADAP AKTIVITAS MUKOLITIK SECARA IN VITRO

    Get PDF
    Hibiscus flower (Hibiscus rosa-sinensis L.) is efficacious in cough remedies. This flower has many variations , one of which is a red flower with a crown subject.  Ethanolic extract of the hibiscus flower has been studied and shown to have mucolytic activity. Fractionation will be closer in the process of finding active compounds. This study aimed to determine the effect of fractions containing alkaloids of red hibiscus flower varieties subject as mucolytics in vitro and determine the range of concentrations of the fractions equivalent to acetylcysteine effect of 0,1 %. This study included maceration, fractionation by VLC, the identification of fractions containing alkaloids, and mucolytic activity test fractions containing alkaloids. Mucolytic activity assay performed in vitro to decrease the viscosity of mucus cow. Test solutions were made with concentrations of fractions 0,4;0,6; and 0,8 %. Acetylcysteine 0,1 % was used as a positive control. Viscosity values were analyzed statistically using one -way ANOVA test , followed by the LSD test level of 95 % to determine differences between treatment groups. The results showed that the fraction containing alkaloids of hibiscus flower with a concentration of 0,4 % has not shown mucolytic activity, whereas at a concentration of 0,6 % and 0,8 % has been demonstrated in vitro mucolytic activity. Fractions containing alkaloids of hibiscus flower with a concentration of 0,6 % and 0,8 % have mucolytic activity equivalent to 0,1 % acetylcysteine in vitro.Bunga kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.) berkhasiat sebagai obat batuk. Bunga ini memiliki banyak variasi, salah satunya yaitu bunga berwarna merah dengan bentuk mahkota tunduk. Ekstrak etanolik bunga kembang sepatu tersebut telah diteliti dan terbukti memiliki aktivitas mukolitik. Fraksinasi akan lebih mendekatkan dalam proses pencarian senyawa aktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek fraksi yang mengandung alkaloid dari bunga kembang sepatu varietas merah tunduk sebagai mukolitik secara in vitro dan mengetahui kisaran konsentrasi fraksi yang memberikan efek setara dengan efek asetilsistein 0,1%. Penelitian ini meliputi maserasi, fraksinasi dengan KCV, identifikasi fraksi yang mengandung alkaloid, dan uji aktivitas mukolitik fraksi yang mengandung alkaloid. Uji aktivitas mukolitik dilakukan secara in vitro terhadap penurunan viskositas mukus sapi. Larutan uji dibuat dengan konsentrasi fraksi 0,4; 0,6; dan 0,8%. Asetilsistein 0,1% digunakan sebagai kontrol positif. Nilai viskositas yang diperoleh dianalisis statistik menggunakan uji ANAVA satu arah, dilanjutkan uji LSD dengan taraf kepercayaan 95% untuk mengetahui perbedaan antar kelompok perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi yang mengandung alkaloid dari bunga kembang sepatu dengan konsentrasi 0,4% belum menunjukkan aktivitas mukolitik, sedangkan pada konsentrasi 0,6% dan 0,8% telah menunjukkan aktivitas mukolitik secara in vitro. Fraksi yang mengandung alkaloid dari bunga kembang sepatu dengan konsentrasi 0,6% dan 0,8% memiliki aktivitas mukolitik setara dengan asetilsistein 0,1% secara in vitro

    GRANUL MINYAK SERAI DAPUR SEBAGAI LARVASIDA NYAMUK Aedes aegypti

    Get PDF
    One way to prevent the spread of Haemorrhage Dengue Fever is the use of abate. The use of abate as larvicides often complained causing an unpleasant smell, and can cause resistance. Lemongrass oil is reported to have activity as larvicides, and this study aims to make granules of lemongrass oil preparation, as well as determining the value of LC50, LC90 against larvae of Ae. aegypti instar III. The granules of lemongrass oil preparation are made with lactose filler and binder CMC-Na. Larvicidal activity test using 20 larvae, 5 concentration solution to each granules, and contacted for 24 hours. Measurement of total larvae deaths, and data were analyzed using probit analysis from Finney modification, to determine the LC50 and LC90 values. Results shown that lemongrass oil can be made as granules with lactose filler and CMC-NA binder. The LC50 and LC90 values of granules from lemongrass oil are 38,30ppm and 51,57ppm.Salah satu cara untuk mencegah penyebaran penyakit Demam Berdarah Dengue  adalah dengan abatesasi. Penggunaan abate sebagai larvasida sering dikeluhkan memberi bau yang tidak enak, dan telah ada indikasi menyebabkan resistensi. Minyak serai dilaporkan memiliki aktivitas sebagai larvasida, dan penelitian ini bertujuan untuk membuat sediaan granul minyak  serai dapur, serta menentukan nilai LC50, LC 90 terhadap larva Ae. aegypti instar III.  Sediaan granul minyak serai dapur dibuat dengan menggunakan bahan pengisi laktosa dan pengikat CMC-Na. Uji aktivitas larvasida terhadap larva nyamuk Ae. aegypti instar III dilakukan dengan menggunakan 20 ekor larva untuk masing-masing larutan granul yang dibuat dalam 5 seri konsentrasi, dan dibiarkan terpapar selama 24jam. Jumlah kematian larva dihitung dan dianalisis dengan analisis probit modifikasi Finney untuk menentukan nilai LC50 dan LC90.  Hasil penelitian menunjukkan minyak serai dapur dapat dibuat granul dengan pengisi laktosa dan pengikat larutan CMC-Na, memiliki aktivitas larvasida terhadap larva nyamuk Ae. aegypti instar III dengan nilai LC50 sebesar 38,30 ppm dan LC90 51,57ppm

    PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK DAUN PEGAGAN (Centella asiatica) PADA KETAHANAN MUKOSA LAMBUNG (GASTROPROTEKTIF) TIKUS YANG MENGALAMI STRES IMMOBILISASI

    Get PDF
    One of the traditional medicinal plants are believed to be as anti-ulcer effect is pegagan (Centella asiatica), pegagan extract thought can protect the gastric mucosa exposed to ethanol by increasing the integrity of the mucosal line of defense. This study aimed to determine the effect of Centella asiatica on rats gastric mucosal resistance (gastroprotective) which experience stress immobilizing. This research is experimental in vivo studies, conducted with 5 groups of male wistar rats treated with 6 replications. Group I is the normal diet control group; group II, normal diet control group mixed Centella asiatica 1 g / mm day; group III was a control group of mice that immobilization stress without giving prior pegagan, Group IV and V is the group that previously received pegagan diet for 3 days prior to immobilization stress with gotu kola concentration of 0.5 g / day and 1.0 g mm / dd day. After 2 days of treatment immobilization stress were measured both in the macroscopic parameters of extensive ulceration and bleeding and microscopic scores for parameters of edema, leukocyte infiltration, and necrosis of rat gastric tissue. The results of macroscopic observations showed that the area of ulceration and bleeding scoring groups I, II, III, there are differences in microscopic bemakna and proven for the parameters of edema, leukocyte infiltration and necrosis are also significant differences. As for group III, IV and V at all test parameters no significant difference.Salah satu tanaman obat tradisional yang diyakini efeknya sebagai anti ulkus adalah Pegagan (Centella asiatica), ekstrak pegagan diduga memproteksi mukosa lambung yang terpapar etanol dengan meningkatkan integritas garis pertahanan mukosa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pegagan pada ketahanan mukosa lambung (gastroprotektif) tikus yang mengalami stres immobilisasi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental in vivo, dilakukan dengan 5 kelompok perlakuan tikus wistar jantan dengan 6 ulangan. Kelompok I adalah kelompok kontrol diet normal, kelompok II kelompok kontrol diet normal dicampur pegagan 1 g/bb hari, kelompok III adalah kelompok kontrol tikus yang mengalami stres immobilisasi tanpa pemberian pegagan sebelumnya, Kelompok IV dan V adalah kelompok yang sebelumnya mendapat diet pegagan selama 3 hari sebelum stres immobilisasi dengan konsentrasi pegagan 0,5 g/ bb hari dan 1,0 g/bb hari. Setelah 2 hari perlakuan stress immobilisasi diukur baik secara makroskopik parameter luas ulkus dan skor perdarahan dan secara mikroskopik untuk parameter edema, infiltrasi leukosit, dan nekrosis jaringan lambung tikus. Hasil pengamatan makroskopis menunjukkan bahwa luas ulkus dan skoring perdarahan kelompok I, II, III, terdapat perbedaan yang bemakna dan dibuktikan secara mikroskopik untuk parameter edema, infiltrasi leukosit dan nekrosis juga terdapat perbedaan yang bermakna. Adapun untuk kelompok III, IV dan V pada semua parameter uji tidak ada perbedaan yang bermakna

    SKRINING IN SILICO SENYAWA AKTIF BENGKOANG (Pachyrrhizus erosus) SEBAGAI ANTITIROSINASE PADA Aspergillus oryzae (STUDI KOMPUTASIONAL DENGAN HOMOLOGY MODELING DAN MOLECULAR DOCKING)

    Get PDF
    Bengkoang has been widely used in the cosmetics industry as a whitening agent. Based on research by Lukitaningsih (2009), bengkoang contains 6 active compounds that  acts as a inhibitors of the Aspergillus oryzae (TyrAo) tyrosinase enzyme. However, the interaction between the active compounds in bengkoang and the enzyme tyrosinase has not been known yet. Interaction between bengkoang's active compounds and TyrAo enzyme can be identified by computational studies (in silico). The interaction is conducted using homology modeling and molecular docking. Homology modeling performed to design a three-dimensional (3D) model of Aspergillus oryzae tyrosinase enzyme (TyrAo) using a template form of known 3D structure of TyrAb enzyme (PDBID: 2Y9X). TyrAo model used as target macromolecules in molecular docking method. Molecular docking method is a method to describe ligand (active compounds) position on the active receptor (TyrAo model). Based on the docking results, it is known that residues interacting on the active site of tyrosinase enzyme were Thr275 and His294 residues. The Thr275 made a hydrogen bonding, while the His294 residue made a hydrophobic interaction on the aromatic ring. Experiments in silico and in vitro have been done; the results exhibited a good correlation of them with R2 value of -0.8366. This correlation indicates that the activity of the active compounds in Bengkoang was similar with the results of them in silico and in vitro studies.Bengkoang telah banyak digunakan dalam industri kosmetika sebagai whitening agent. Berdasarkan penelitian Lukitaningsih (2009), bengkoang mengandung 6 senyawa aktif yang mampu berperan sebagai whitening agent dengan menghambat aktivitas enzim tirosinase dari jamur Aspergillus oryzae (TyrAo). Namun interaksi senyawa aktif bengkoang dalam menghambat enzim tirosinase belum dapat diketahui. Interaksi senyawa-senyawa aktif bengkoang dengan enzim TyrAo dapat diketahui dengan studi komputasional (in silico). Pemodelan interaksi senyawa aktif bengkoang dengan enzim TyrAo dilakukan dengan metode homology modeling dan molecular docking. Homology modeling dilakukan untuk memodelkan struktur tiga dimensi (3D) enzim tirosinase Aspergillus oryzae (TyrAo) melalui template berupa protein homolog yang sudah diketahui struktur 3D-nya yaitu enzim TyrAb (PDBID: 2Y9X). Model TyrAo digunakan sebagai target makromolekul dalam metode molecular docking. Metode molecular docking merupakan metode untuk menggambarkan posisi ligan (senyawa-senyawa aktif bengkoang) pada sisi aktif reseptor (model TyrAo). Berdasarkan docking yang dilakukan diketahui bahwa residu-residu yang banyak berpengaruh pada interaksi ligan pada sisi aktif adalah residu Thr275 yang berinteraksi secara ikatan hidrogen dengan ligan dan residu His294 yang berinteraksi secara hidrofobik pada cincin aromatik ligan. Penelitian in silico dan in vitro yang telah dilakukan memiliki korelasi (R2) sebesar -0,8366. Korelasi ini menandakan bahwa aktivitas senyawa-senyawa aktif pada bengkoang dalam menghambat enzim TyrAo memiliki hasil yang serupa pada penelitian yang  dilakukan secara in silico dan in vitro

    AKTIVITAS AMILUM BENGKUANG (Pachyrrizus erosus (L.) Urban) SEBAGAI TABIR SURYA PADA MENCIT DAN PENGARUH KENAIKAN KADARNYA TERHADAP VISKOSITAS SEDIAAN

    Get PDF
    Yam starch (Pachyrhizus erosus (L.) Urb.) with microparticles of size and had opaque properties could be used as an physical sunscreens. Yam starch was made in creams and lotions formulation and applied topically. This study aimed to determine the effect of yam starch concentration to the increasing of creams and lotions formulation as well as sunscreens activity in mice seen from its Sun Protecting Factor (SPF). Yam starch was obtained by the deposition method, then was done characterization and measurement of particle diameter. The formulation of creams and lotions each in 3 formulas with yam starch concentration of 15%, 20%, and 25%, further the viscosity and physical stability were observed under extreme heat and cold conditions. The observations during storage were colour, odor, homogenity, and viscosity. Sunscreen activity was determined by in vivo method using Swiss Webster female mice strains induced by 8-MOP, and then observation of its SPF value. The viscosity data  in extreme hot and cold conditions was analyzed statistically at significance level of 95%. The results showed that the more increase of  the concentration of yam starch the more  increase of viscosity, while the colour, odor, and homogenity of the formulation did not change during storage. Creams and lotions formulation with starch concentration of 15%, 20%, and 25%, had sunscreen activity in vivo in mice, with SPF value of 1.22; 1.52, and 2.38.Amilum bengkuang (Pachyrhizus erosus (L.) Urb.) dengan ukuran mikropartikel dan mempunyai sifat yang opaque dapat dimanfaatkan sebagai tabir surya fisik. Amilum bengkuang dibuat dalam sediaan krim dan losion dan digunakan secara topikal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kenaikan konsentrasi amilum bengkuang terhadap viskositas sediaan krim dan losion serta aktivitasnya sebagai tabir surya pada mencit yang dilihat dari nilai Sun Protecting Factor (SPF). Amilum bengkuang diperoleh dengan metode pengendapan, selanjutnya dilakukan karakterisasi dan pengukuran diameter partikel. Pembuatan sediaan krim dan losion masing-masing dalam 3 formula dengan konsentrasi amilum bengkuang 15%, 20%, dan 25%, selanjutnya diamati viskositas dan stabilitas fisik dalam kondisi ekstrim panas dan dingin. Pengamatan selama penyimpanan meliputi warna, bau, homogenitas, dan viskositas. Aktivitas tabir surya ditentukan secara in vivo menggunakan mencit betina galur Swiss Webster yang diinduksi dengan 8-MOP selanjutnya dilihat nilai SPF. Data viskositas pada kondisi ekstrim panas dan dingin dianalisis dengan statistik pada taraf kepercayaan 95%. Hasilnya menunjukkan bahwa kenaikan konsentrasi amilum bengkuang menaikkan viskositas, sedangkan warna, bau, dan homogenitas sediaan tidak berubah selama penyimpanan. Sediaan krim dan losion dengan konsentrasi amilum 15%, 20%, dan 25%, memiliki aktivitas tabir surya secara in vivo pada mencit, dengan nilai SPF berturut-turut sebesar 1,22; 1,52; dan 2,38

    ISOLASI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA ANTIOKSIDAN DARI BATANG PAKIS (Alsophila glauca J.Sm) DENGAN METODE DPPH (2,2-DIFENIL-1-PIKRILHIDRAZIL)

    Get PDF
    Oxidative stress induced by the radicals have been known to affect the occurrence of various degenerative disease. In order to search natural antioxidant compounds, it had been studied the isolation and identification of antioxidant compounds in fern stems (Alsophila glauca J.Sm) using DPPH method (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl). Fern stem extraction was done by maceration with wasbenzen and metanol. Extracts was obtained by evaporating the wasbenzen solvent with a rotavapor. Material was re-macerated with methanol after wasbenzen evaporation. The same way was done to obtain the metanol extract. These extracts were tested for antioxidant activity using DPPH method with TLC. Active extract was partitioned in 80% methanol. Both 80% methanol soluble and insoluble extract were tested their antioxidant activity using DPPH method (TLC). Active extract was fractionated in vacuum liquid chromatography using a mobile phase with different polarity gradient and different concentrations (wasbenzen:chloroform). Active fraction was isolated by preparative TLC method and purity of obtained compounds was tested by TLC. Antioxidant activity of obtained isolates was tested by DPPH method using spectrophotometry. Compounds known to had antioxidant activity as radical catcher with IC50 178.4µg/mL. Stress oksidatif yang diinduksi oleh radikal bebas diketahui dapat mempengaruhi terjadinya berbagai penyakit degeneratif. Sebagai upaya dalam pencarian senyawa antioksidan alami maka telah dilakukan penelitian isolasi dan identifikasi senyawa  antioksidan dari batang pakis (Alsophila glauca J.Sm) dengan metode DPPH. Penyarian batang pakis dilakukan secara maserasi dengan wasbenzen dan metanol. Ekstrak didapat dengan menguapkan pelarut wasbenzen dengan rotavapor. Setelah semua wasbenzen menguap bahan dimaserasi lagi dengan metanol. Dengan cara yang sama seperti pada wasbenzen hingga didapat ekstrak metanol. Ekstrak ini diuji aktivitas antioksidannya dengan metode DPPH secara KLT. Ekstrak yang aktif kemudian dipartisi dengan metanol 80%. Ekstrak yang larut dan ekstrak yang tidak larut dalam metanol 80% diuji aktivitas antioksidannya dengan metode DPPH (KLT). Ekstrak yang aktif difraksinasi dengan kromatografi cair vakum dengan menggunakan fase gerak dengan gradient kepolaran yang berbeda (wasbenzen : kloroform) dengan berbagai konsentrasi. Fraksi yang aktif diisolasi dengan metode KLT preparatif dan diperoleh senyawa yang kemurniannya diuji secara KLT. Isolat yang diperoleh diuji aktivitas antioksidannya dengan metode DPPH menggunakan alat spektrofotometri. Diketahui mempunyai aktivitas antioksidan penangkap radikal dengan IC50 178,4µg/mL

    SENYAWA ANTIBAKTERI BIS (2-ETILHEKSIL) ESTER DAN TRITERPENOID DALAM EKSTRAK n-HEKSANA DAUN TEMPUYUNG (Sonchus arvensis L.)

    Get PDF
    Isolation of antibacterial compounds from n-hexane extract of tempuyung leaf (Sonchus Arvensis L.) has been carried out. n-hexane extract (9,15 g) showed  antibacterial inhibition zone of 9 mm on Staphylococcus aureus and 8 mm on Escherichia coli at concentration of 1000 ppm.  Fractionation of n-hexane extract using column chromatography resulted on 5 fractions (F1, F2, F3, F4, and F5). Antibacterial test of the fractions toward Staphylococcus aureus and Escherichia coli showed that fraction F2 and F4 positive toward Staphylococcus aureus and Escherichia coli. Fraction F3 showed just positive toward Escherichia coli while fraction F5 just positive toward Staphylococcus aureus. Further separation using preparative thin layer chromatography (TLC) technical resulted in 3 fractions (F4.1, F4.2 and F4.3 fractions), in which F4.1 fraction indicates the most active inhibition growth test again bacterial with diametric inhibition zone of 9 mm towards Staphylococcus aureus and 11 mm for Escherichia coli within concentration of 100 ppm.   Gas Chromatography–Mass Spectroscopy (GC-MS) was employed in order to identity the F4.1 fraction. From WILEY7 database, it was identified  that isolate are mixture  of 2  compound components namely bis (2-ethylhexyl) ester and possibility of new compound included triterpenoid group  with molecule formula C32H66O6.Telah dilakukan isolasi senyawa antibakteri dari ekstrak kental n-heksana daun tempuyung (Sonchus Arvensis L.). Sebanyak 9,15 g ekstrak kental n-heksana hasil partisi menunjukkan aktif antibakteri dengan diameter zona hambat sebesar 9 mm  terhadap Staphylococcus aureus dan 8 mm terhadap Escherichia coli pada konsentrasi uji 1000 ppm. Pemisahan ekstrak kental n-heksana menggunakan teknik kromatografi kolom diperoleh 5 fraksi dengan pola pemisahan yang berbeda, yaitu fraksi F1, F2, F3, F4, dan F5 yang masing-masing mengandung jumlah komponen senyawa yaitu 6, 5, 4, 2, dan 1 senyawa. Hasil uji kelima fraksi ini terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli menunjukkan bahwa fraksi F2 dan F4, positif menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Fraksi F3 hanya positif menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli sedangkan fraksi F5 hanya positif menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Pemisahan lebih lanjut terhadap fraksi aktif antibakteri (F4) menggunakan teknik kromatografi lapis tipis (KLT) preparatif, menghasilkan 3 fraksi (fraksi F4.1, F4.2, dan F4.3), dimana fraksi F4.1 menunjukkan fraksi yang paling aktif menghambat pertumbuhan bakteri uji dengan diameter zona hambat sebesar 9 mm terhadap Staphylococcus aureus dan 11 mm terhadap Escherichia coli pada konsentrasi uji 100 ppm. Hasil identifikasi terhadap fraksi F4.1 (isolat) menggunakan Kromatografi Gas-Spektroskopi Massa (KG-SM) dan pendekatan ”database” WILEY7 menunjukkan bahwa isolat merupakan campuran 2 komponen senyawa yaitu bis (2-etilheksil) ester dan kemungkinan senyawa baru golongan triterpenoid dengan rumus molekul C32H66O6 . 

    PENGARUH KADAR FENOLIK PADA DAUN TEH Camelia xinensis L. TERHADAP PREFERENSI EMPOASCA SP. (Homoptera : Cicadellidae)

    Get PDF
    Phenolic compounds are secondary metabolites found in all parts of the plants aree.g.:fruits, barks, roots, and leaves of plants serve as chemical defenses as repellent against insects and herbivorous detterent. On tea leaves, the results of research gallocatechin (a derivate of catechin) was functioning known as mechanism of resistance to Empoasca sp. (Homoptera: Cicadelliadae).  The aim of this research was to know the total phenolic content of the young tea leaf  (Camelia sinensis L.) and it was to found out the effect of the phenolic compounds of preference Empoasca sp. The results obtained that the clone of “Pasir Sarongge” (PS) had total phenol content (polyphenol average ± SD) 25,69 ± 0,1 higher than Kiara clone 18,47 ± 0,13.  The higher the polyphenol in the young tea leaf bud could be act as Empoasca sp. Detterent.Golongan senyawa fenolik adalah metabolit sekunder yang terdapat di seluruh bagian tumbuhan yaitu buah, kulit, akar, batang dan daun tumbuhan berfungsi sebagai pertahanan kimia (chemical defence) bersifat repellent dan detterent terhadap serangga herbivora. Golongan flavonoid lainnya yaitu katekin. Katekin dan turunannya (gallokatekin) pada daun teh diketahui berfungsi sebagai mekanisme ketahanan terhadap Empoasca sp. (Homoptera: cicadellidae). Untuk mengetahui kadar fenol pada tanaman teh Camelia sinensis L. klon Kiara dan klon Pasir Sarongge (PS) serta pengaruh golongan senyawa fenolik terhadap preferensi Empoasca sp. Hasil penelitian menunjukkan semakin tinggi polifenol pada pucuk daun teh semakin tidak disukai Empoasca sp

    416

    full texts

    427

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Majalah Obat Tradisional
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇